Senin, 13 Juni 2016

Kedatangan Kedua Kali "Rasul-rasul Allah" dan "Kaumnya"di Akhir Zaman & Hubungan Pengutusan Rasul Allah Dengan Surah Al-Ikhlash


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


 KEDATANGAN KEDUA KALI   "RASUL-RASUL ALLAH"  DAN "KAUMNYA"DI AKHIR ZAMAN & HUBUNGAN PENGUTUSAN   RASUL ALLAH DENGAN SURAH AL-IKHLASH


Bab 67

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    makna  ayat   قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ  -- Binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ  --   -yaitu api yang dinyalakan dengan bahan bakar“    dianggap menunjuk kepada pembakaran sampai mati beberapa orang Kristen oleh raja Yahudi, Dzu Nawas, dari Yaman. Menurut sebagian lain, ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa pelemparan beberapa pemimpin Bani Israil ke dalam tanur-tanur (tungku-tungku api) yang sedang menyala-nyala, dilakukan oleh Raja Nebukadnezar dari Babil (Daniel 3:19-22).
    Tetapi ayat ini lebih tepat dapat ditujukan kepada musuh-musuh kebenaran yang di masa setiap mushlih rabbani (rasul Allah) yang  menentang keras dan menganiaya orang-orang yang beriman. Ayat ini tidaklah dimaksudkan di sini untuk menunjuk kepada suatu kejadian di masa lampau yang kebenarannya meragukan.
   Dalam ayat ke-3 Allah Swt. bersumpah dengan “Hari yang dijanjikan”. Dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya, nampaknya diisyaratkan bahwa para pengikut Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini   – Jemaat Muslim Ahmadiyah   --   harus menghadapi kesulitan-kesulitan berat pada hari besar  yang dijanjikan itu dari para penentang mereka yang zalim.
  Dalam ayat 5-9 disebutkan mengenai musuh-musuh kebenaran yang menyalakan api penganiayaan terhadap orang-orang beriman yang bertakwa  di tiap kurun zaman serta membiarkannya tetap bernyala. Kesudahan mereka dinubuatkan dalam ayat 11.

Parit Api” yang “Bahan Bakarnya” Fitnah dan Kedustaan & Ancaman Allah Swt. Kepada Para Pembuat “Parit Api” 

  Musuh-musuh kebenaran itu mengetahui dalam lubuk hati mereka bahwa perlawanan dari pihak mereka itu kejam dan tidak dapat dibenarkan dan bahwa korban sasaran penganiayaan mereka itu tidak berdosa, firman-Nya:
وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾  
“Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu.” (Al-Burūj [85]:9-10).
  Ayat ini penuh dengan perasaan pilu hati yang amat sangat. Ayat ini menanyakan  bahwa apakah  kebenaran keimanan kepada Allah Swt. yang diajarkan rasul Allah itu seakan-akan merupakan perbuatan yang sangat  jahat, sehingga para penganutnya harus diperlakukan sekejam itu?
     Akibat dari kezaliman  yang mereka  lakukan maka Allah Swt. akan menuntut balas kepada mereka, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman  laki-laki dan  perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar.  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ --   Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar   (Al-Burāj [85]:1-12).
   Allah Swt. akan  menghukum orang-orang yang berlaku zalim terhadap orang-orang beriman di dunia dan juga di akhirat, sebagaimana yang terjadi dengan kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang secara zalim para rasul Allah  yang dibangkitkan di kalangan mereka,   firman-Nya:
اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾  اِنَّہٗ  ہُوَ  یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ ﴿ۚ﴾   وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ ﴿ۙ﴾  ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ ﴿ۙ﴾  فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ ﴿ۙ﴾  فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾  بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ ﴿ۙ﴾  وَّ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ ﴿ۚ﴾  بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ ﴿ۙ﴾  فِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya  cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat keras.   Sesungguhnya Dia-lah  Yang memulai penciptaan dan mengulanginya. Dan Dia Maha Pengampun, Maha Pencinta.   Pemilik ‘Arasy, Yang Maha Mulia,   Yang melakukan apa yang Dia kehendaki.  ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ --  Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ  --  Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ --  Bahkan orang-orang  kafir selalu mendustakan, وَّ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ  --  padahal Allah mengepung mereka   dari belakang mereka. بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ  --   Bahkan yang didustakan ia adalah Al-Quran yang sangat mulia, فِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ  --           Yang tersimpan  dalam  papan yang terjaga. (Al-Burūj [85]:13-23).

Hubungan Rasul Akhir Zaman    Dengan  Kedatangan Kedua Kali  Para Rasul Allah “
  
        Makna ayat  ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ  --   bahkan yang didustakan ia adalah Al-Quran yang sangat mulia, فِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ  --   Yang tersimpan  dalam  papan yang terjaga,” ayat  ini mengandung suatu nubuatan yang bernadakan tantangan bahwa Al-Quran dijaga terhadap segala macam campur tangan dan upaya pemutarbalikkan oleh manusia dan semua  ketentuannya (hukum-hukumnya) senantiasa berlaku dan akan terjadi berulang kali, termasuk menghukum para pennetang Rasul Allah, firman-Nya:
وَ  اِذَا  الرُّسُلُ  اُقِّتَتۡ ﴿ؕ﴾   لِاَیِّ  یَوۡمٍ اُجِّلَتۡ ﴿ؕ﴾  لِیَوۡمِ  الۡفَصۡلِ ﴿ۚ﴾  وَ  مَاۤ   اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ ﴿ؕ﴾  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾  اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾   ثُمَّ  نُتۡبِعُہُمُ   الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾  کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Dan apabila rasul-rasul didatangkan pada waktu yang ditentukan. Hingga hari apakah ditangguhkan?  لِیَوۡمِ  الۡفَصۡلِ  --  Hingga Hari Keputusan. وَ  مَاۤ   اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ  --            Dan apa yang engkau ketahui mengenai Hari Keputusan itu? وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ --   Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakanاَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ -- Tidakkah Kami telah  membinasakan kaum-kaum dahulu?  ثُمَّ  نُتۡبِعُہُمُ   الۡاٰخِرِیۡنَ  --  Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian. کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ --  Demikianlah perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa. وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ  --Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.  (Al-Mursalat [77]:12-20).
     Makna ayat:  وَ  اِذَا  الرُّسُلُ  اُقِّتَتۡ  -- “Dan apabila rasul-rasul didatangkan  pada waktu yang ditentukan,” adalah ketika seorang pembaharu samawi  di Akhir Zaman ini datang dengan kekuatan dan jiwa rasul-rasul Allah serta seolah-olah memakai “jubah-jubah kenabian” mereka, sebagaimana yang ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama di Akhir Zaman ini  dengan nama yang berlainan, padahal merujuk kepada Rasul Allah yang sama, yaitu Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s..
        Itulah makna sabda Nabi Besar Muhammad saw. Lā mahdiy illā ‘Isa  yakni Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s. orangnya sama, yakni Rasul Allah yang dibangkitkan Allah Swt. dari kalangan umat Islam yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, sebagai bukti kebenaran firman  Allah Swt. berikut ini mengenai buah ketaatan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini   فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ  -- maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ --  nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,   -- dan mereka  itulah sahabat yang sejati. (An-Nisā[4]:70-71).

Kebersamaan Dalam Derajat Ruhani

     Kata depan ma-'a menunjukkan adanya dua orang atau lebih, bersama pada suatu tempat atau pada satu saat, kedudukan, pangkat atau keadaan. Kata itu mengandung arti bantuan, seperti tercantum dalam QS.9:40 (Mufradat). Kata itu dipergunakan pada beberapa tempat dalam Al-Quran dengan artian artinya “di antara”  (QS.3:194; QS.4: 147).
       Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian —   nabi-nabi,  shiddiq-shiddiq,   syuhada (saksi-saksi) dan   shalih (orang-orang saleh) — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32).
      Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi  Nabi Besar Muhammad saw.  semata. Tidak ada nabi Allah  lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ruhani ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan syuhada (saksi-saksi) di sisi  Rabb (Tuhan) mereka” (QS.57: 20).
      Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut  Nabi Besar Muhammad saw.  dapat naik ke martabat nabi Allah juga, yakni nabi Allah yang tidak membawa syariat baru.
      Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”

Penentangan Terhadap  Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

     Namun sudah merupakan Sunnatullah yang berlaku terhadap para rasul Allah yang diutus sebelumnya – termasuk Nabi besar Muuhammad saw.   – bahwa kisah monumental “Adam – malaikat – iblis” pun kembali  berulang di Akhir Zaman ini terhadap Masih Mau’ud a.s. dan orang-orang yang beriman kepada beliau a.s., sebagaimana firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan   terhadapnya,   dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah.   (Az-Zukhruf [43]:58-59).
    Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan    (Aqrab-ul-Mawarid). Sebagaimana  halnya makna kedatangan Al-Masih a.s. di kalangan Bani Israil merupakan tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya, demikian pula halnya dengan kedatangan Masih Mau’ud  a.s. di kalangan  umat Islam merupakan as-Sā’ah (tanda saat) bagi Bani Ismail akibat  terjadinya ketidak-bersyukuran  mereka (QS.5:55-57; QS.8:54; QS.13:12; QS.14:8; QS.4:148)
      Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum  Nabi Besar Muhammad saw.   — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain  yang seperti dan merupakan rekan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan dibangkitkan di antara mereka, untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka  mereka bukannya bergembira atas kabar gembira itu  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ --  “tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan   terhadapnya,” yakni mereka  malah  berteriak  mengajukan protes. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   untuk kedua kalinya dalam wujud misal  beliau dari kalangan umat Islam.
     Tugas utama pengutusan Rasul Akhir Zaman dari kalangan umat Islam   -- yang pada hakikatnya merupakan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. yang kedua kali (QS.62:3-4)  -- tersebut adalah untuk memurnikan serta menegakkan kembali Tauhid Ilahi  (QS.98:1-9), sebagaimana dikemukakan dalam surah Al-Ikhlash.

 Penegakkan Kembali  Tauhid Ilahi    & Korban “Fitnah Dajjal” di Akhir Zaman

       Mengapa demikian? Sebab di Akhir Zaman ini – akibat fitnah Dajjal yang dibawa Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)   -- banyak di kalangan umat Islam pun yang seakan-akan telah “mempertuhankan” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan mereka itu justru menjadi penentang paling depan terhadap perjuangan suci misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali (QS.61:10)  sebagaimana yang terjadi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
 Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  “Dia-lah  Allah    Yang Maha Esa.   Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.      Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,   dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
  Karena  Surah  Al-Ikhlash membahas akidah pokok ajaran  Islam (Al-Quran)  – yaitu  Tauhid Ilahi – maka Surah ini mempunyai kehormatan disebut oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai surah terbesar di antara semua surah Al-Quran (Ruh-ul-Ma’ani).  Dalam hadits  lain dikatakan bahwa surah Al-Ikhlash  adalah dengan 1/3 Al-Quran. Siti ‘Aisyah r.a.  diriwayatkan pernah mengatakan bahwa sebelum tidur, Nabi Besar Muhammad saw.   biasa membaca surah  Al-Ikhlash ini bersama dua surah yang terakhir (Al-Falaq dan An-Nās)  paling sedikit tiga kali (Dawud).
 Surah ini dinamakan Al-Ikhlash sebab dengan membaca Surah ini dan merenungkan isinya, pasti akan menimbulkan dalam hati si pembaca suatu pertautan mendalam dengan Tuhan yang Hakiki yakni  Allah Swt.. Dan yang menambah amat pentingnya bobot Surah ini ialah kenyataan bahwa sementara  surah Al-Fatihah dianggap sebagai ikhtisar seluruh Al-Quran, surah sekarang ini bersama-sama dengan dua surah berikutnya mengulangi lagi isi yang terkandung dalam Al-Fatihah.
 Surah  Al-Ikhlash    membahas keempat Sifat Tanzihiyah Allah  Swt. yang utama – yang merupakan kriteria Tuhan yang Hakiki  -- dan membawahi semua Sifat  Allah Swt. lainnya, sedang Surah Al-Fatihah membahas keempat sifat Tasybihiyah Allah yang pokok, yang sampai batas tertentu dapat dimiliki pula oleh makhluk-Nya, terutama  manusia.    
   Kata qul (katakan) dalam ayat:  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ    -- “Katakanlah:  “Dia-lah  Allah    Yang Maha Esa”  mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa”,  baik dalam Dzat-Nya mau pun dalam Sifat-sifat-Nya.
 Kata  Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti  “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173-175; QS.30:31-33).
  Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata Allah itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.  
Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua Sifat  sempurna (Al-Asmā-ul-Husna – QS.7:181; QS.59:23-25) dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab  lafaz Allah  tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun.
      Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu.  Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain semuanya nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan   lafaz   Allah  tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
     Lafaz  Allah  adalah  ism zat (nama zat),   bukan  ism musytak, yakni  tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada  lafaz lain yang sepadan maka  lafaz  Allah  dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Quran. Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat  lafaz    Allah   adalah nama Wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, Pemilik segala Sifat  sempurna, dan huruf al  tidak terpisahkan dari lafaz Allah (Lexicon Lane).

Ke-Maha-Esa-an dan Kemandirian Allah Swt.  

   Kata  Ahad  dalam ayat قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ    -- “Katakanlah:  “Dia-lah  Allah    Yang Maha Esa”  adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane).
    Sementara Ahad berarti Ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya –  sehingga gagasan adanya wujud kedua dans eterusnya tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya. Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wahidun akan berarti  bahwa  Tuhan itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk; dan Allāhu Ahadun berarti bahwa “Tuhan itu Dzat Yang Esa dan Tunggal dalam arti, bahwa bila kita memikirkan Dia maka hilanglah dari pikiran  gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
  Jadi, Allah Swt.  bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata rantai terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran dalam Surah Al-Ikhlash.
  Kata Shamad  dalam ayat: اَللّٰہُ  الصَّمَدُ -- “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya”  berarti: Wujud yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia  tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
    Karena Ash-Shamad  merupakan salah satu Sifat  Allah Swt., berarti:  Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
    Dalam ayat yang mendahuluinya telah dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat sekarang ini mendukung pernyataan itu. Ayat اَللّٰہُ  الصَّمَدُ -- “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya” ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan kepada Allah Swt., tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
  Allah Swt.  tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Hanya Allah Swt. sajalah   satu-satunya Wujud Tuhan Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.

Menolak “Trinitas” &  Tidak Ada  Sesuatu Pun yang Seperti Allah Swt.

  Makna ayat:  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --  “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.” Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pemyataan, bahwa Allah Swt. itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan   dalam ayat لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ      sifat “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan), sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran bahwa Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yakni anak, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati -- Subhanallāh --  sebab semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain  tunduk kepada hukum kematian.
    Secara tegas Allah Swt. berfirman: لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --  “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.” Yakni  Allah Swt. tidak menggantikan siapapun sebab sebab Dia tidak dilahirkan siapa pun,  dan Dia tidak akan diganti   siapapun sebab Dia tidak melahirkan siapa pun; Allah Swt. sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak.   
  Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai Dzat-Nya:  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ  – “dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” Ayat ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya, bahwa taruhlah bahwa Allah itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
     Ayat وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ  – “dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah Swt., sebab  akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya.
   Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak, dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan Ke-Esa-an Wujud Sang Pencipta alam semesta, firman-Nya:
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya,  maka Maha Suci Allah  Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. (Al-Anbiya [21]:23).

Surah Al-Ikhlash Mencabut Akar-akar Kemusyrikan

    Dengan demikian Surah Al-Ikhlash benar-benar  mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain  mengenai  kepercayaan kepada Tuhandua Tuhan atau tiga Tuhan atau lebih banyak  -- dan  kepercayaan  bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
  Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi mengenai “Tuhan Yang Hakiki” yang diberikan oleh Al-Quran.
    Jadi, siapa pun dan apa pun yang “dipertuhankan”  dalam agama-agama selain Islam, yang tidak memenuhi “definisi Tuhan Yang Hakiki” dalam Surah Al-Ikhlash maka bukanlah  Al-Khāliq (Tuhan pencipta) melainkan makhluk  (yang diciptakan), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
 Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  “Dia-lah  Allah    Yang Maha Esa.   Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.      Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,       dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar,11  Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar