Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
KEDATANGAN KEDUA
KALI "RASUL-RASUL ALLAH" DAN "KAUMNYA"DI AKHIR ZAMAN & HUBUNGAN PENGUTUSAN RASUL ALLAH DENGAN SURAH AL-IKHLASH
Bab 67
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan makna
ayat قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ -- Binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ -- -yaitu api yang dinyalakan dengan bahan bakar“ dianggap menunjuk kepada pembakaran sampai mati beberapa orang Kristen oleh raja Yahudi,
Dzu Nawas, dari Yaman. Menurut sebagian lain, ayat ini mengisyaratkan kepada
peristiwa pelemparan beberapa pemimpin Bani Israil ke dalam tanur-tanur (tungku-tungku api) yang
sedang menyala-nyala, dilakukan oleh Raja
Nebukadnezar dari Babil (Daniel 3:19-22).
Tetapi ayat ini lebih
tepat dapat ditujukan kepada musuh-musuh
kebenaran yang di masa setiap mushlih
rabbani (rasul Allah) yang menentang keras dan menganiaya orang-orang yang beriman.
Ayat ini tidaklah dimaksudkan di sini untuk menunjuk kepada suatu kejadian di
masa lampau yang kebenarannya meragukan.
Dalam ayat ke-3 Allah Swt.
bersumpah dengan “Hari yang dijanjikan”. Dalam ayat ini
dan dalam beberapa ayat berikutnya, nampaknya diisyaratkan bahwa para pengikut Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini – Jemaat
Muslim Ahmadiyah -- harus
menghadapi kesulitan-kesulitan berat
pada hari besar yang dijanjikan
itu dari para penentang mereka
yang zalim.
Dalam ayat 5-9 disebutkan mengenai musuh-musuh kebenaran yang menyalakan api penganiayaan
terhadap orang-orang beriman yang bertakwa
di tiap kurun zaman serta membiarkannya tetap bernyala. Kesudahan mereka dinubuatkan dalam ayat 11.
“Parit
Api” yang “Bahan Bakarnya” Fitnah dan Kedustaan & Ancaman Allah Swt. Kepada Para Pembuat “Parit Api”
Musuh-musuh kebenaran itu mengetahui dalam lubuk
hati mereka bahwa perlawanan dari
pihak mereka itu kejam dan tidak dapat dibenarkan dan bahwa korban sasaran penganiayaan mereka itu
tidak berdosa, firman-Nya:
وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ
اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ
الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾
“Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam
terhadap mereka itu melainkan hanya
karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, Yang kepunyaan-Nya
kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah
menjadi Saksi atas segala sesuatu.” (Al-Burūj [85]:9-10).
Ayat ini penuh dengan perasaan pilu hati yang amat sangat.
Ayat ini menanyakan bahwa apakah kebenaran
keimanan kepada Allah Swt. yang diajarkan rasul Allah itu seakan-akan merupakan perbuatan yang sangat jahat, sehingga para penganutnya harus diperlakukan
sekejam itu?
Akibat dari kezaliman yang mereka lakukan maka Allah Swt. akan menuntut balas kepada mereka,
firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ
وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang menyiksa orang-orang
beriman laki-laki dan perempuan
kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi
mereka azab Jahannam dan bagi mereka
azab yang membakar. اِنَّ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ
الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal
saleh bagi mereka ada kebun-kebun
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
yang demikian itu merupakan keberhasilan
besar (Al-Burāj [85]:1-12).
Allah Swt. akan menghukum
orang-orang yang berlaku zalim terhadap
orang-orang beriman di dunia dan juga di akhirat, sebagaimana yang terjadi dengan kaum-kaum purbakala yang mendustakan
dan menentang secara zalim para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka, firman-Nya:
اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ ہُوَ یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ ﴿ۚ﴾ وَ
ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ ﴿ۙ﴾ ذُو
الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ ﴿ۙ﴾ فَعَّالٌ
لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ
اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ ﴿ۙ﴾ فِرۡعَوۡنَ
وَ ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ بَلِ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ ﴿ۙ﴾ وَّ
اللّٰہُ مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ
مُّحِیۡطٌ ﴿ۚ﴾ بَلۡ
ہُوَ قُرۡاٰنٌ مَّجِیۡدٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
cengkraman Rabb (Tuhan)
engkau sangat keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang memulai penciptaan dan mengulanginya. Dan Dia Maha Pengampun, Maha Pencinta. Pemilik ‘Arasy, Yang Maha Mulia, Yang
melakukan apa yang Dia kehendaki. ہَلۡ
اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ -- Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ
-- Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ -- Bahkan orang-orang
kafir selalu mendustakan, وَّ اللّٰہُ مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ
مُّحِیۡطٌ -- padahal Allah
mengepung mereka dari belakang mereka. بَلۡ
ہُوَ قُرۡاٰنٌ مَّجِیۡدٌ
-- Bahkan yang
didustakan ia adalah Al-Quran yang
sangat mulia, فِیۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ
-- Yang tersimpan dalam papan
yang terjaga. (Al-Burūj [85]:13-23).
Hubungan Rasul
Akhir Zaman Dengan Kedatangan
Kedua Kali Para Rasul Allah “
Makna
ayat ہُوَ قُرۡاٰنٌ مَّجِیۡدٌ
-- bahkan yang didustakan ia adalah Al-Quran yang sangat mulia, فِیۡ
لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang tersimpan dalam papan
yang terjaga,” ayat ini
mengandung suatu nubuatan yang
bernadakan tantangan bahwa Al-Quran dijaga terhadap segala macam campur tangan dan upaya pemutarbalikkan oleh manusia dan semua ketentuannya
(hukum-hukumnya) senantiasa berlaku
dan akan terjadi berulang kali,
termasuk menghukum para pennetang
Rasul Allah, firman-Nya:
وَ
اِذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتۡ ﴿ؕ﴾ لِاَیِّ یَوۡمٍ اُجِّلَتۡ ﴿ؕ﴾ لِیَوۡمِ الۡفَصۡلِ ﴿ۚ﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ ﴿ؕ﴾ وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ
لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾ اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ نُتۡبِعُہُمُ
الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾ کَذٰلِکَ
نَفۡعَلُ بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Dan apabila rasul-rasul
didatangkan pada waktu yang
ditentukan. Hingga hari apakah
ditangguhkan? لِیَوۡمِ الۡفَصۡلِ -- Hingga Hari
Keputusan. وَ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ --
Dan apa yang engkau ketahui mengenai
Hari Keputusan itu? وَیۡلٌ
یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- Celakalah
pada hari itu bagi orang-orang yang
mendustakan. اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ -- Tidakkah Kami telah membinasakan
kaum-kaum dahulu? ثُمَّ نُتۡبِعُہُمُ
الۡاٰخِرِیۡنَ -- Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian. کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah
perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa. وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ
لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ --Celakalah
pada hari itu bagi orang-orang yang
mendustakan. (Al-Mursalat [77]:12-20).
Makna ayat:
وَ اِذَا
الرُّسُلُ اُقِّتَتۡ -- “Dan apabila
rasul-rasul didatangkan pada
waktu yang ditentukan,” adalah ketika seorang pembaharu samawi di Akhir Zaman ini datang dengan kekuatan dan jiwa rasul-rasul Allah serta seolah-olah memakai “jubah-jubah kenabian” mereka,
sebagaimana yang ditunggu-tunggu oleh
semua umat beragama di Akhir Zaman ini dengan nama
yang berlainan, padahal merujuk kepada Rasul
Allah yang sama, yaitu Imam Mahdi a.s.
atau Masih Mau’ud a.s..
Itulah makna sabda Nabi Besar Muhammad saw. Lā mahdiy illā ‘Isa yakni Imam
Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s.
orangnya sama, yakni Rasul Allah yang dibangkitkan Allah Swt. dari kalangan umat Islam yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah, sebagai bukti kebenaran
firman Allah Swt. berikut ini mengenai buah ketaatan kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ
الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ -- maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syahid-syahid, dan orang-orang shalih, -- dan mereka
itulah sahabat yang sejati. (An-Nisā[4]:70-71).
Kebersamaan Dalam Derajat Ruhani
Kata depan ma-'a menunjukkan adanya dua orang atau lebih, bersama pada suatu tempat atau pada satu saat,
kedudukan, pangkat atau keadaan.
Kata itu mengandung arti bantuan,
seperti tercantum dalam QS.9:40 (Mufradat).
Kata itu dipergunakan pada beberapa tempat dalam Al-Quran dengan artian fī artinya
“di antara” (QS.3:194; QS.4: 147).
Ayat
ini sangat penting sebab ia menerangkan semua
jalur kemajuan ruhani yang terbuka
bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syuhada (saksi-saksi) dan shalih (orang-orang saleh) — kini
semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32).
Hal ini merupakan kehormatan
khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw. semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ruhani ini. Kesimpulan itu lebih
lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka
adalah orang-orang shiddiq dan syuhada (saksi-saksi) di sisi Rabb
(Tuhan) mereka” (QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca
bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan
tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi Allah juga, yakni nabi Allah yang tidak membawa syariat baru.
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman dalam empat golongan dalam ayat ini, dan
telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih
rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar
jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus.
Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat
dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
Penentangan Terhadap Misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Namun sudah merupakan Sunnatullah yang berlaku terhadap para rasul Allah yang diutus sebelumnya – termasuk Nabi besar
Muuhammad saw. – bahwa kisah monumental “Adam – malaikat –
iblis” pun kembali berulang di Akhir Zaman ini terhadap Masih Mau’ud a.s. dan orang-orang yang beriman kepada beliau
a.s., sebagaimana firman-Nya:
وَ
لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ
مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ
مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ
اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا
لِّبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai
misal tiba-tiba kaum engkau
meneriakkan penentangan terhadapnya, dan
mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan
kami lebih baik ataukah dia?"
Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada
engkau melainkan perbantahan
semata. Bahkan mereka adalah kaum yang
biasa berbantah. (Az-Zukhruf
[43]:58-59).
Shadda (yashuddu) berarti:
ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (Aqrab-ul-Mawarid).
Sebagaimana halnya makna kedatangan Al-Masih a.s. di kalangan Bani Israil merupakan tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan
dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk
selama-lamanya, demikian pula halnya dengan kedatangan Masih Mau’ud a.s. di
kalangan umat Islam merupakan as-Sā’ah
(tanda saat) bagi Bani Ismail
akibat terjadinya ketidak-bersyukuran mereka
(QS.5:55-57; QS.8:54; QS.13:12; QS.14:8; QS.4:148)
Karena matsal
berarti sesuatu yang semacam
dengan atau sejenis dengan yang lain
(QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti
bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw.
— yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain yang seperti
dan merupakan rekan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. akan dibangkitkan di antara mereka, untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka
yang telah hilang, maka mereka bukannya bergembira atas kabar gembira itu اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ
یَصِدُّوۡنَ -- “tiba-tiba
kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya,” yakni mereka malah berteriak mengajukan protes. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada
kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
untuk kedua kalinya dalam wujud misal beliau dari kalangan umat Islam.
Tugas utama pengutusan Rasul Akhir Zaman dari kalangan umat
Islam -- yang pada hakikatnya
merupakan pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw. yang kedua kali (QS.62:3-4) --
tersebut adalah untuk memurnikan
serta menegakkan kembali Tauhid Ilahi (QS.98:1-9), sebagaimana dikemukakan
dalam surah Al-Ikhlash.
Penegakkan Kembali Tauhid
Ilahi & Korban “Fitnah Dajjal” di Akhir Zaman
Mengapa demikian? Sebab di Akhir Zaman ini – akibat fitnah Dajjal yang dibawa Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) -- banyak di
kalangan umat Islam pun yang
seakan-akan telah “mempertuhankan”
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan mereka itu justru menjadi penentang paling depan terhadap perjuangan suci misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58),
yang akan mewujudkan kejayaan Islam
yang kedua kali (QS.61:10) sebagaimana
yang terjadi di zaman Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah
Yang Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Karena Surah Al-Ikhlash membahas akidah pokok
ajaran Islam (Al-Quran) – yaitu Tauhid
Ilahi – maka Surah ini mempunyai kehormatan
disebut oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai surah terbesar di antara semua surah Al-Quran (Ruh-ul-Ma’ani). Dalam
hadits lain dikatakan bahwa surah Al-Ikhlash adalah dengan 1/3 Al-Quran. Siti ‘Aisyah r.a.
diriwayatkan pernah mengatakan
bahwa sebelum tidur, Nabi Besar Muhammad saw. biasa membaca surah Al-Ikhlash ini bersama dua surah
yang terakhir (Al-Falaq dan An-Nās) paling sedikit tiga kali (Dawud).
Surah ini dinamakan Al-Ikhlash sebab dengan membaca Surah
ini dan merenungkan isinya, pasti akan menimbulkan dalam hati si pembaca suatu pertautan mendalam dengan Tuhan yang Hakiki yakni Allah Swt.. Dan yang menambah amat
pentingnya bobot Surah ini ialah kenyataan bahwa sementara surah Al-Fatihah
dianggap sebagai ikhtisar seluruh Al-Quran, surah sekarang ini bersama-sama dengan dua surah berikutnya mengulangi
lagi isi yang terkandung dalam Al-Fatihah.
Surah Al-Ikhlash membahas keempat Sifat Tanzihiyah Allah
Swt. yang utama – yang merupakan kriteria Tuhan yang Hakiki -- dan membawahi semua Sifat Allah Swt. lainnya,
sedang Surah Al-Fatihah membahas
keempat sifat Tasybihiyah Allah yang pokok, yang sampai batas tertentu
dapat dimiliki pula oleh makhluk-Nya, terutama manusia.
Kata qul (katakan) dalam ayat: قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ -- “Katakanlah: “Dia-lah Allah
Yang Maha Esa” mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan
bahwa “Tuhan itu Maha Esa”, baik dalam Dzat-Nya mau pun dalam Sifat-sifat-Nya.
Kata Huwa
(Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama
yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti
“Yang benar adalah ini,” dan
menunjukkan bahwa kebenaran telah
tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri
(QS.7:173-175; QS.30:31-33).
Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran
untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata Allah itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama
mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.
Allah adalah nama Zat Maha
Agung, Pemilik Tunggal semua Sifat sempurna (Al-Asmā-ul-Husna
– QS.7:181; QS.59:23-25) dan sama sekali bebas
dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab lafaz Allah tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun.
Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama
tertentu atau nama khusus untuk Dzat
Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain semuanya
nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali
dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan
lafaz Allah tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
Lafaz Allah adalah ism
zat (nama zat), bukan ism musytak, yakni tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah
dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada lafaz
lain yang sepadan maka lafaz Allah
dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Quran. Pandangan ini
didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling
tepat lafaz Allah adalah nama Wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya
Sendiri, Pemilik segala Sifat sempurna, dan huruf al tidak terpisahkan dari lafaz Allah (Lexicon Lane).
Ke-Maha-Esa-an dan Kemandirian Allah Swt.
Kata Ahad
dalam ayat قُلۡ ہُوَ
اللّٰہُ اَحَدٌ -- “Katakanlah: “Dia-lah Allah
Yang Maha Esa” adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud
lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane).
Sementara Ahad berarti Ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – sehingga gagasan adanya wujud kedua dans
eterusnya tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya.
Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wahidun akan berarti bahwa Tuhan itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal
serta Sumber Yang dari-Nya telah
lahir segala jenis makhIuk; dan Allāhu
Ahadun berarti bahwa “Tuhan itu Dzat Yang Esa dan Tunggal dalam arti, bahwa bila kita memikirkan Dia maka hilanglah
dari pikiran gagasan adanya suatu wujud atau benda
lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
Jadi, Allah Swt. bukan mata
rantai pertama suatu rangkaian mata
rantai, dan bukan pula mata rantai
terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah
hakikat Allah menurut paham yang
dikemukakan oleh Al-Quran dalam Surah
Al-Ikhlash.
Kata Shamad dalam ayat: اَللّٰہُ الصَّمَدُ -- “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya” berarti:
Wujud yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan
ketaatan; yang tanpa dia tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang
atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
Karena Ash-Shamad
merupakan salah satu Sifat Allah Swt., berarti: Wujud
tertinggi, Yang menjadi tempat
memenuhi segala keperluan; Yang tidak
bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya
segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya;
Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud
lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
Dalam ayat yang mendahuluinya telah dinyatakan
bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat sekarang ini mendukung pernyataan itu. Ayat اَللّٰہُ الصَّمَدُ -- “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya” ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan
kepada Allah Swt., tetapi Dia Sendiri Mandiri
dan segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
Allah Swt. tidak memerlukan wujud atau zat apapun
guna menciptakan alam raya; pada
hakikatnya tiada sesuatu di alam raya
ini sempurna dalam dirinya sendiri
(berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk
kehidupannya. Hanya Allah Swt.
sajalah satu-satunya Wujud Tuhan Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda
apapun; Dia jauh dari jangkauan daya
khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.
Menolak “Trinitas” & Tidak Ada Sesuatu
Pun yang Seperti Allah Swt.
Makna
ayat: لَمۡ
یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ -- “Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan.” Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan
tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk
mengukuhkan pemyataan, bahwa Allah Swt.
itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan dalam
ayat لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ sifat “Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan),
sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran bahwa Dia memerlukan bantuan dari seorang
orang lain, yakni anak, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati -- Subhanallāh -- sebab semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan
wujud lain tunduk kepada hukum kematian.
Secara tegas Allah Swt. berfirman: لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ -- “Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan.” Yakni Allah Swt. tidak menggantikan siapapun sebab sebab Dia tidak dilahirkan siapa pun, dan Dia
tidak akan diganti siapapun sebab Dia tidak melahirkan siapa pun; Allah Swt. sempurna dalam semua Sifat-Nya
dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak.
Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai
Dzat-Nya: وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ – “dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
Ayat ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh
jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya, bahwa taruhlah bahwa Allah itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada
wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti
Dia yang mungkin memiliki semua sifat
yang dimiliki oleh-Nya.
Ayat
وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ – “dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” menghapus
kesalah-pahaman itu. Ayat ini
mengatakan bahwa tidak ada wujud lain
seperti Allah Swt., sebab akal
manusia pun menuntut bahwa harus ada
hanya satu Pencipta dan Pengawas
seluruh alam raya.
Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun
kepada kesimpulan yang tidak dapat
dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam
harus tegak, dan kesatuan serta keseragaman
hukum dan polanya membuktikan
serta menyatakan Ke-Esa-an Wujud Sang Pencipta
alam semesta, firman-Nya:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi ada
tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, maka Maha
Suci Allah Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala
yang mereka sifatkan. (Al-Anbiya [21]:23).
Surah Al-Ikhlash Mencabut Akar-akar
Kemusyrikan
Dengan demikian Surah Al-Ikhlash
benar-benar mencabut akar-akar semua itikad
kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain mengenai kepercayaan
kepada Tuhan – dua Tuhan atau tiga Tuhan atau lebih banyak -- dan kepercayaan
bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
Inilah
penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan
dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan,
keluhuran, dan keagungan definisi mengenai “Tuhan
Yang Hakiki” yang diberikan oleh Al-Quran.
Jadi, siapa
pun dan apa pun yang “dipertuhankan” dalam agama-agama selain Islam, yang tidak memenuhi “definisi Tuhan Yang Hakiki” dalam Surah Al-Ikhlash
maka bukanlah Al-Khāliq (Tuhan pencipta) melainkan makhluk (yang diciptakan),
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah
Yang Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar,11 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar