Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
HUBUNGAN SIFAT RAHMĀNIYAT (MAHA PEMURAH) ALLAH
SWT. DENGAN KESUKSESAN DUNIAWI ORANG-ORANG KAFIR & FUNGSI RUHUL-KUDUS (MALAIKAT) DAN SYAITAN
Bab 59
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai sabda
Masih Mau’ud a.s. tentang hubungan upaya yang dilakukan manusia dengan kinerja para malaikat:
“Ada
yang bertanya, kalau benar para malaikat
menjadi regulator (pengatur) dan distributor (penyalur) dari segala hal, lalu mengapa tujuan kita bisa berhasil dengan upaya sesuai dengan rancangan dan perencanaan
kita sendiri? Jawaban untuk itu
ialah bahwa semua proyek dan perencanaan kita tidak terlepas dari mediasi,
sugesti dan pengungkapan atau wahyu
para malaikat. Fungsi yang diemban para malaikat
sejalan dengan perintah Tuhan, dilaksanakan
melalui manusia yang mempunyai kecenderungan menerima sugesti
para malaikat.
Sebagai contoh,
jika malaikat bermaksud menurunkan hujan di atas sebuah ladang, desa atau negeri atas perintah Tuhan, mereka sendiri tidak bisa lalu berubah menjadi air atau
pun membuat api untuk melaksanakan fungsi air. Caranya adalah
mereka membimbing awan ke sasaran bersangkutan, dan sebagai regulator menyebabkan hujan turun sebanyak dan sampai
dengan batas yang telah ditentukan.
Awan
itu sendiri memiliki semua kemampuan
tersebut dalam karakter unsur-unsurnya
sebagai suatu benda tak bernyawa
yang tidak memiliki hasrat atau akal.
Adalah fungsi malaikat untuk bertindak selaku distributor dan regulator.
Sugesti dan penampakan atau wahyu
yang dikomunikasikan para malaikat sejalan dengan fitrat
manusia bersangkutan. Wahyu yang
mereka komunikasikan kepada para hamba pilihan Tuhan tidak akan dikomunikasikan kepada yang lainnya,
malah mereka tidak mempedulikan yang
lain sama sekali. Setiap manusia menerima
rahmat sugesti dari para malaikat
sepadan dengan kapasitas
diri mereka. Bantuan malaikat
diterima dalam segala hal yang
menjadi kecenderungan manusia
seperti ilmu atau pun seni.
Sebagai contoh, jika memang merupakan takdir Ilahi bahwa sembelit seseorang harus diatasi
dengan pengobatan, maka ada malaikat yang memberikan sugesti kepada dokter
untuk memberikan obat apa. Dokter itu meresepkan
obatnya dan dengan bantuan malaikat
maka diciptakan sistem reaksi dalam tubuh pasien untuk menerima obat tersebut dan benda
tak diingini yang ada dalam tubuh bisa
dibuang dengan perkenan (izin) Tuhan.
Berdasarkan keluasan Kebijakan dan Kekuatan-Nya, Allah Yang Maha Kuasa tidak
akan membiarkan sistem seni dan pengetahuan
eksternal menjadi sia-sia, dan juga
Dia tidak melepaskan kendali dan kepemilikan-Nya atas segala hal. Jika Tuhan tidak mempunyai kendali terinci atas segala kondisi makhluk ciptaan-Nya atas kelanjutan hidup dan kehancuran
mereka, maka Dia tidak bisa disebut sebagai Tuhan dan Ketauhidan-Nya
juga tidak bisa ditegakkan.
Hanya saja benar adanya bahwa Tuhan
tidak menginginkan semua misteri ini menjadi
nyata dan kasat mata bagi umat
manusia, karena jika semuanya nyata
maka tidak ada nilainya lagi bagi keimanan manusia.” (Ayena
Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam
Ruhani Khazain, jld. V, hlm.
185-188, London, 1984).
Dengan demikian jelaslah bahwa mengapa beriman
kepada para malaikat merupakan bagian keimanan yang ditetapkan dalam Rukun Iman dalam ajaran Islam
(Al-Quran), firman-Nya:
لِلّٰہِ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ
تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ
تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ
لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ ﴿﴾ اٰمَنَ
الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ
رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا
سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫
غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Milik Allah-lah apa pun yang ada
di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di
dalam hatimu atau kamu
menyembunyikannya Allah akan menghisabmu mengenainya,
maka Dia akan mengampuni siapa yang Dia
kehendaki dan akan mengazab siapa
yang Dia kehendaki, dan Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu. Rasul ini beriman kepada apa yang
diturunkan kepadanya dari Rabb-nya (Tuhan-nya),
dan begitu pula orang-orang beriman, semuanya
beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, mereka berkata: c”Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”, dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat. Kami
mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan)
kami, dan kepada Engkau-lah kami kembali.”
(Al-Baqarah
[2]:285:286).
Kata bihī dalam ayat: وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ اللّٰہُ -- “dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di
dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya Allah akan menghisabmu mengenainya”
berarti: (a) dengan jalan atau atas dasar itu; (b) untuk atau karena itu; dan
anak kalimat itu akan berarti “Allah akan
menuntut kamu atas dasar itu atau karena itu,” yakni tidak ada pikiran
atau perbuatan manusia – yang telah “dicatat” oleh para malaikat -- akan
lepas dari tuntutan
(pertangungjawaban), bagaimana pun tersembunyinya
perbuatan itu, dan akan dihukum atau dimaafkan menurut kehendak
Ilahi.
Ungkapan بِہِ اللّٰہُ -- “kehendak
Allah” agaknya menunjukkan adanya hukum
alam (QS.7:157), akan tetapi karena kehendak
Allah-lah yang menjadi hukum-Nya -- yang pelaksanaannya
dilakukan oleh para malaikat -- maka Al-Quran telah mempergunakan ungkapan
itu untuk menunjukkan bahwa: (1) Allah Swt. itu Pemegang wewenang terakhir di alam semesta; dan (2) kehendak-Nya itu hukum, dan (3) kehendak-Nya
dizahirkan dengan cara yang adil
serta murah hati, sebab Dia Pemilik Sifat-sifat yang sempurna
(QS.17:111).
Makna
ayat: اٰمَنَ
الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ
اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ
مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ -- “Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula orang-orang
beriman, semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya.” Memang benar bahwa amal-amal baik memang merupakan cara
utama untuk mencapai kesucian ruhani,
tetapi amal-amal baik itu bersumber
pada kesucian hati yang dapat dicapai
hanya dengan berpegang pada itikad-itikad yang benar.
Sehubungan dengan hal tersebut ayat ini
merinci dasar-dasar kepercayaan yang
telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu beriman kepada Allah Swt., para malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya menurut urutan atau
tertib yang wajar, selain beriman
kepada Hari
Kiamat (akhirat) dan beriman kepada takdir yang baik dan buruk.
Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. Berlaku Umum
Dari empat utama Tasybihiyah
Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah diantaranya adalah Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah) dan Al-Rahīm (Maha Penyayang). Sifat Al-Rahmān Allah Swt. berlaku secara umum bagi seluruh makhluk yang bernyawa, termasuk
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Swt., sebagaimana jawaban Allah Swt. terhadap doa Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:127),
sedangkan Sifat Al-Rahīm (Maha
Pemurah) hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. karena erat hubungannya dengan kehidupan akhirat.
Oleh karena itu jika dalam kenyataaan kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah sangat membanggakan
keberhasilan mereka dalam bidang kekuasaan dan kekayaan
duniawi -- termasuk Qarun (QS. [28]:77-79; QS.39:50) --
karena upaya duniawi mereka sesuai
dengan ketetapan Sifat Rahmāniyat Allah Swt. yang berlaku
secara umum.
Namun demikian, jika mereka dalam kesuksesan
duniawinya semakin durhaka kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān), maka akhir
kehidupan orang-orang atau kaum-kaum yang membangga-banggakan kesuksesan
duniawinya tersebut benar-benar sangat
tragis dan hina, firman-Nya:
اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ
فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ کَانُوۡۤا
اَکۡثَرَ مِنۡہُمۡ وَ اَشَدَّ
قُوَّۃً وَّ اٰثَارًا فِی الۡاَرۡضِ فَمَاۤ
اَغۡنٰی عَنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا
جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ فَرِحُوۡا بِمَا عِنۡدَہُمۡ
مِّنَ الۡعِلۡمِ وَ حَاقَ بِہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ
یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا رَاَوۡا
بَاۡسَنَا قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَحۡدَہٗ وَ کَفَرۡنَا بِمَا کُنَّا بِہٖ مُشۡرِکِیۡنَ
﴿﴾ فَلَمۡ یَکُ یَنۡفَعُہُمۡ اِیۡمَانُہُمۡ
لَمَّا رَاَوۡا بَاۡسَنَا ؕ سُنَّتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ قَدۡ خَلَتۡ فِیۡ
عِبَادِہٖ ۚ وَ خَسِرَ ہُنَالِکَ
الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di bumi
lalu mereka dapat melihat bagaimana kesudahan
orang-orang sebelum mereka? Mereka
itu lebih banyak daripada mereka dan lebih
hebat kekuatannya dan lebih hebat
bekas-bekas mereka di bumi, maka tidak berguna kepada mereka apa pun
yang telah mereka usahakan. Maka tatkala
datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan Tanda-tanda yang nyata, فَرِحُوۡا بِمَا عِنۡدَہُمۡ مِّنَ
الۡعِلۡمِ -- mereka
merasa senang dengan ilmu yang ada pada mereka, وَ
حَاقَ بِہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ -- dan mereka dikepung
oleh apa yakni azab yang
selalu mereka perolok-olokkan. Maka tatkala mereka melihat azab Kami
mereka berkata: “Kami beriman kepada Allah
Yang Esa dan kami mengingkari apa
yang pernah kami persekutukan dengan Dia.” فَلَمۡ یَکُ یَنۡفَعُہُمۡ اِیۡمَانُہُمۡ
لَمَّا رَاَوۡا بَاۡسَنَا -- Maka tidak bermanfaat bagi mereka iman mereka tatkala mereka
melihat azab Kami. سُنَّتَ اللّٰہِ
الَّتِیۡ قَدۡ خَلَتۡ فِیۡ عِبَادِہٖ -- Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya, وَ خَسِرَ
ہُنَالِکَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- dan binasalah
ketika itu orang-orang kafir. (Al-Mu’min [40]:83-86)
Jadi, jika kejahatan orang-orang kafir sudah melampaui batas, dan takdir
Ilahi — yang memutuskan bahwa
mereka itu harus diazab — mulai
berlaku, maka pengakuan iman mereka tidak akan berguna lagi, dan taubat pun pada saat itu terlambatlah sudah.
Terbukti bahwa kekuasaan dan kekayaan
duniawi mereka tidak mampu memberikan perlindungan
kepada mereka dari azab Ilahi, benar-benar keadaannya sangat lemah bagaikan sarang laba-laba, firman-Nya:
وَ قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ
۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ مُّوۡسٰی
بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾ فَکُلًّا اَخَذۡنَا
بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا
بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ
اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡۤا
اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ
کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ
ۘ لَوۡ
کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami membinasakan Qarun,
Fir’aun dan Haman. Dan sungguh Musa
benar-benar telah da-tang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata tetapi mereka
berlaku sombong di bumi dan mereka
se-kali-kali tidak dapat melepaskan diri dari azab Kami. Maka setiap
orang dari mereka Kami
tangkap karena dosanya, di antara
mereka ada yang Kami kirim kepadanya
badai pasir, di antara mereka ada
yang disambar oleh petir, di antara
mereka ada yang Kami benamkan di bumi,
di antara mereka ada yang Kami
tenggelamkan, وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ
کَانُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ -- dan
Allah sekali-kali tidak berbuat zalim
terhadap mereka, tetapi mereka menzalimi
diri mereka sendiri. مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا -- Perumpamaan
orang-orang yang mengambil penolong-penolong selain Allah adalah
seperti perumpa-maan laba-laba yang
membuat rumah, وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ
ۘ لَوۡ
کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ -- dan sesungguhnya selemah-lemah rumah
pasti rumah laba-laba, seandai-nya mereka
itu mengetahui. (Al-Ankabūt [29]:40-42).
Fungsi Ruhul Kudus dan Syaitan
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjawab pertanyaan atau kritikan yang diajukan berkenaan dengan peran syaitan dan para malaikat sehubungan dengan manusia:
“Salah satu pertanyaan yang dikemukakan ialah: Jika memang sudah ada Ruhul
Kudus yang ditugaskan untuk menahan manusia melakukan tindakan buruk, lalu mengapa manusia masih melakukan dosa dan kenapa ia menjadi kafir dan durhaka?’
Jawabannya
ialah, karena Tuhan dengan maksud menguji
manusia, telah menetapkan 2 bentuk
penyeru keruhanian, yang satu menyeru
kepada kebaikan dan namanya adalah Ruhul Kudus, sedangkan yang lainnya menyeru kepada kejahatan dan namanya adalah syaitan
atau iblis. Kedua penyeru ini hanya mengajak kepada kebaikan
atau kejahatan tetapi mereka tidak
bisa memaksakan kepada manusia sebagaimana diindikasikan ayat:
فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا
“Dia mengilhamkan kepadanya jalan-jalan kejahatan dan jalan-jalan ketakwaan” (Asy-Syams
[91]:9).
Sarana untuk mengungkapkan segala yang buruk adalah syaitan yang memberikan sugesti-sugesti jahat, sedangkan sarana guna mengungkapkan kebaikan adalah Ruhul Kudus yang menyesapkan
fikiran-fikiran suci ke dalam kalbu
manusia.
Mengingat Tuhan
adalah Kausa (Sebab) dari segala kausa maka Dia mengatribusikan (menisbahkan) kedua bentuk ilham tersebut kepada Diri-Nya Sendiri, karena semua
sistem ditegakkan oleh-Nya. Jika tidak demikian halnya apa kekuatan syaitan untuk memberikan pengaruh buruk ke hati manusia, dan kekuatan
apa yang dimiliki Ruhul Kudus
guna membimbing orang di jalan ketakwaan?
Para lawan kita dari golongan
Arya, Brahma dan umat Kristen karena kecupatan pandangan, mengajukan keberatan terhadap ajaran
Al-Quran, karena dikatakan bahwa Tuhan
Sendiri Yang melepaskan syaitan di antara manusia dan dengan demikian
secara sengaja telah menyesatkan
umat manusia.
Hal itu tidak benar adanya. Mereka seharusnya
mengetahui bahwa Al-Quran tidak ada
mengajarkan kalau syaitan itu memiliki kekuatan memaksa untuk menyesatkan manusia. Begitu juga tidak ada ajaran yang menyatakan bahwa syaitan ditugaskan dengan tujuan
menarik manusia kepada dosa. Yang diajarkan adalah bahwa hal itu merupakan cobaan dan ujian.
Manusia pada dasarnya diberkati -- baik dengan sentuhan malaikat mau pun dengan sentuhan syaitan -- dimana di satu sisi
membawanya kepada kebaikan dan sisi lain mengajak kepada dosa, dan melalui sarana
ini manusia diuji dan dari sana
memperoleh nilai lebih yang luhur atau
malah akan mendapat hukuman.
Fungsi Rintangan
Dalam Perlombaan
Jika
hanya satu pengaruh saja yang
disediakan -- misalnya semua emosi
eksternal dan internal manusia
hanya tertarik kepada kebaikan semata, atau fitratnya
hanya mampu melakukan hal-hal yang baik
saja -- maka tidak ada gunanya ia
diberikan derajat kedekatan kepada Tuhan sebagai hasil dari amalan baiknya, mengingat dari awal ia memang tidak memiliki nafsu buruk melakukan kejahatan.
Bila demikian
keadaannya, apa gunanya yang
bersangkutan diberi nilai lebih
karena telah berhasil mengatasi godaan
dosa? Sebagai contoh, misal ada seorang yang sejak awal tidak mempunyai gairah seks dan tidak menyukai wanita, kemudian ia mengatakan bahwa dirinya pernah bersama-sama dengan seorang
wanita muda yang cantik tetapi karena kesalehan
dirinya dan takut kepada Tuhan ia tidak
memandang atau pun menyentuh wanita
itu maka tidak diragukan jika ia akan jadi bahan tertawaan orang. Mereka akan mempertanyakan
apa hebatnya yang bersangkutan jika sejak awal diketahui ia tidak memiliki kekuatan gairah seks
yang perlu dikendalikan.
Kita perlu menyadari kalau dalam tahapan awal dan menengah, harapan seorang pencari
kebenaran memperoleh pahala
adalah melalui penekanan nafsu dan emosi negatif. Jika dalam tahapan seperti itu, ia memang tidak bisa
melakukan dosa maka tidak sepantasnya ia mendapat penghargaan demikian.
Sebagai contoh,
sistem tubuh manusia tidak bisa mengeluarkan racun seperti halnya kalajengking atau ular. Karena itu kita tidak bisa mengharapkan pahala dari Tuhan bahwa kita telah menahan diri tidak menimbulkan kemudharatan sebagai akibat menyengat orang.
Penyebab Diberikan-Nya Pahala
Berarti bahwa keberhasilan menekan emosi-emosi negatif
yang menarik orang ke arah dosa akan
merupakan pahala bagi yang
bersangkutan. Kalau karena takut
kepada Tuhan lalu ia
menekan emosi-emosi seperti itu
barulah ia termasuk ke dalam mereka yang patut mendapat perhatian Tuhan dan memperoleh ridha-Nya.
Dengan cara itu ia mencapai titik ekstrim kebaikan yang bebas sama sekali dari segala emosi negatif, seolah-olah syaitannya telah menjadi Muslim, dan patut baginya pahala, karena ia telah melewati tahapan ujian dengan keberanian
luar biasa. Seorang bertakwa
yang sejak mudanya telah menghasilkan
kinerja akbar akan tetap meraih pahalanya sampai di usia tuanya.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 80-85, London, 1984).
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai syaitan (setan) sebelumnya: “…Hal itu tidak benar adanya.
Mereka seharusnya mengetahui bahwa Al-Quran
tidak ada mengajarkan kalau syaitan
itu memiliki kekuatan memaksa untuk menyesatkan manusia. Begitu juga tidak ada ajaran yang menyatakan bahwa syaitan ditugaskan dengan tujuan
menarik manusia kepada dosa. Yang diajarkan adalah bahwa hal itu merupakan cobaan dan ujian.”
Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt.
berfirman mengenai ketidak-berdayaan
syaitan seandainya manusia tidak merespon godaannya, firman-Nya:
وَ قَالَ الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ
اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا
کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ
اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ
فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ
مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ
بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan
syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah
telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ
سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ -- dan aku
sekali-kali tidak
memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا
اَنۡفُسَکُمۡ -- Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecam-lah dirimu sendiri. مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ
وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ -- Aku sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ
قَبۡلُ -- Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan dengan-ku sebelumnya,
اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ
عَذَابٌ اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya
orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim
[14]:23). Lihat pula QS.15:43; QS.16:99-101;
QS.17:64-66.
Masih sehubungan peran atau fungsi syaitan
dan para malaikat bagi manusia,
Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Beberapa
orang bodoh mengemukakan keberatan atas eksistensi (keberadaan) syaitan,
sepertinya Tuhan Sendiri
menginginkan manusia menjadi sesat. Tidak demikian keadaannya.
Setiap orang yang berfikir bisa memahami bahwa setiap manusia memiliki dua
fitrat, yaitu yang satu disebut sebagai sentuhan syaitan dan yang lainnya sentuhan malaikat.
Dengan kata
lain, fitrat manusia memperlihatkan bahwa tanpa diketahui penyebabnya
terkadang muncul fikiran baik
dalam kalbunya yang membawanya kepada perbuatan-perbuatan bermanfaat, tetapi juga terkadang muncul fikiran
buruk yang menyeretnya kepada perbuatan keji dan dosa. Kekuatan yang
menjadi sumber fikiran jahat menurut
ajaran Al-Quran disebut sebagai syaitan dan kekuatan yang menjadi sumber
fikiran baik adalah malaikat.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 435, London, 1984).
Tidak Ada Paksaan
Dalam Agama dan Beragama
Sehubungan dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt.
berfirman:
وَ نَفۡسٍ وَّ
مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ فَاَلۡہَمَہَا
فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Dan demi jiwa dan penyempurnaannya, maka Dia
mengilhamkan kepa-danya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya. Sungguh
beruntunglah orang yang
mensucikannya, dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya. (Asy-Syams [91]:8-11).
Allah Swt.
telah menanamkan dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian
mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi
apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik.
Dengan kata lain Allah Swt. telah memberi kebebasan memilih kepada manusia untuk menentukan pilihan bagi jalan hidupnya,
namun demikian manusa tidak akan dapat membebaskan
diri dari akibat baik atau akibat buruk
dari pilihannya tersebut, sebagaimana
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟
فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ
شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ
سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ
یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ
سَآءَتۡ
مُرۡتَفَقًا ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِیۡعُ
اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ
عَمَلًا ﴿ۚ﴾ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہِمُ
الۡاَنۡہٰرُ یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ
مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ
سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ مُّتَّکِئِیۡنَ
فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ ؕ نِعۡمَ
الثَّوَابُ ؕ وَ حَسُنَتۡ
مُرۡتَفَقًا ﴿٪﴾
Dan
katakanlah: ”Inilah haq dari Rabb (Tuhan) kamu karena itu فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ -- barangsiapa menghendaki maka berimanlah,
dan barangsiapa menghendaki maka kafirlah”, اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا
-- sesungguhnya
Kami telah menyediakan bagi orang-orang
yang zalim itu api yang dinding-dindingnya mengepung mereka, وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ
-- dan jika mereka berteriak
meminta tolong, mereka akan ditolong
dengan air seperti lebur-an timah, yang akan menghanguskan wajah-wajah, بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا -- sangat buruk minuman itu dan sangat buruk tempat tinggal itu! اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا
-- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sesungguhnya Kami
tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang mengerjakan amal
baik. اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ -- Mereka itulah orang-orang yang bagi mereka ada kebun-kebun abadi
yang di bawahnya mengalir su-ngai-sungai.
یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ
-- Mereka di dalamnya akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian dari sutera
halus berwarna hijau dan sutera
tebal, مُّتَّکِئِیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ -- mereka di dalamnya duduk bersandar pada dipan-dipan
yang indah, نِعۡمَ الثَّوَابُ ؕ وَ حَسُنَتۡ
مُرۡتَفَقًا -- Itulah
ganjaran yang sebaik-baiknya, dan tempat
istirahat yang indah. (Al-Kahf
[18]:30-32).
Oleh
karena "gelang-gelang emas" merupakan lambang
kerajaan, maka ayat یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ
-- “Mereka di dalamnya akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian dari sutera
halus berwarna hijau dan sutera
tebal,” dapat berarti
bahwa orang-orang Islam akan
menjadi penguasa kerajaan-kerajaan
yang luas dan kuat, serta akan menikmati kekuasaan,
kehormatan, dan kemuliaan besar; dan bahwa perempuan-perempuan
mereka akan mengenakan pakaian
terbuat dari sutera halus dan kain sutera tebal terjalin dengan tenunan benang emas.
Nubuatan dalam
ayat ini menjadi sempurna ketika khazanah-khazanah
dari kerajaan Parsi dan kerajaan Romawi telah diletakkan pada
kaki orang-orang Arab ummi (buta
huruf) yang biasanya mengenakan pakaian
yang terbuat dari kulit-kulit kasar
dan dari bulu-bulu binatang.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 1 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar