Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
MAKNA “PREDIKSI” PARA MALAIKAT BERKENAAN KEBERADAAN “KHALIFAH ALLAH” & HAKIKAT PENCIPTAAN
ADAM DARI “TANAH LIAT” DAN PENCIPTAAN IBLIS DARI “API”
Bab 61
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai cetusan
hati dari “orang-orang yang berakal” terhadap seruan Rasul Allah yang menyeru umat manusia kepada keimanan yang hakiki, pada hakikatnya hal tersebut merupakan bagian dari respons (tanggapan) dari ruh (jiwa) manusia mengenai Tauhid Ilahi sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah Al-A’rāf
ayat 173 sebelumnya: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی -- Mereka berkata: “Ya benar,
kami menjadi saksi.”
Bahkan respons (tanggapan) ruh
(jiwa) orang-orang yang mempergunakan
akalnya tersebut berlanjut dengan penyambutan mereka terhadap seruan
Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan yang menyeru
manusia kepada Tauhid yang
hakiki, firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ
النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا
یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا
ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا
وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ
ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿ ﴾
“Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam
Api maka sungguh Engkau telah
menghinakannya, dan sekali-kali
tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا
سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami
kepada keimanan seraya berkata: مَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا -- "Berimanlah
kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu"
maka kami telah beriman.” رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا
وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,
dan hapuskanlah
dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama
orang-orang yang ber-buat kebajikan. رَبَّنَا وَ اٰتِنَا
مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, karena itu berikanlah
kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari
Kiamat, اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:194-195).
Urutan antara munculnya berbagai kobaran
“api kemurkaan” Allah Swt. yang dilihat oleh “orang-orang yang berakal” dengan berimannya mereka kepada rasul
Allah yang menyeru kepada keimanan
(Tauhid Ilahi) yang hakiki tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt.
bahwa Dia. tidak pernah menurunkan azab kepada manusia –
bagaimana pun sesatnya mereka --
sebelum terlebih dulu Dia mengutus rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.6:131-132; QS.7:35-36; QS.11:118; QS.17:16; QS.26:209-210; QS.28:60) agar manusia tidak
memiliki dalih (alasan) untuk menyalahkan Allah Swt., firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا یَاۡتِیۡنَا
بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ
تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ مَا فِی
الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿﴾ وَ لَوۡ اَنَّـاۤ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ
لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ
اَرۡسَلۡتَ اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا
فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
نَّذِلَّ وَ نَخۡزٰی ﴿﴾ قُلۡ کُلٌّ
مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ وَ مَنِ
اہۡتَدٰی ﴿﴾٪
Dan
mereka berkata: "Mengapakah ia tidak
mendatangkan kepada kami suatu Tanda dari Rabb-nya (Tuhan-nya)?" Bukankah telah datang kepada mereka bukti yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran terdahulu?
وَ لَوۡ
اَنَّـاۤ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ
قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا -- Dan seandainya
Kami membinasakan mereka dengan azab sebelum
ini niscaya mereka akan berkata: رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ اَرۡسَلۡتَ
اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّذِلَّ
وَ نَخۡزٰی
-- "Ya Rabb (Tuhan) kami, mengapakah Engkau tidak mengirimkan kepada kami seorang
rasul supaya kami mengikuti
Ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan
dan dihinakan?" Katakanlah: "Setiap orang sedang menunggu maka kamu pun tunggulah, lalu segera kamu akan me-ngetahui siapakah yang
ada pada jalan yang lurus dan siapa
yang mengikuti petunjuk dan siapa yang tidak. (Thā Hā [20]:135-137).
Pengabulan Allah Swt.
Kata dzunub dalam doa “orang-orang yang
berakal”: رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,
dan hapuskanlah
dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama
orang-orang yang ber-buat kebajikan” umumnya
menunjuk kepada kelemahan-kelemahan
serta kesalahan-kesalahan dan kealpaan-kealpaan yang biasa melekat pada diri manusia, dapat
melukiskan relung-relung gelap dalam hati, ke tempat itu Nur Ilahi tidak dapat sampai dengan sebaik-baiknya, sedangkan sayyi’at
yang secara relatif merupakan kata
yang bobotnya lebih keras, dapat berarti gumpalan-gumpalan
awan debu yang menyembunyikan cahaya
matahari ruhani dari pemandangan manusia. Lihat pula ayat-ayat QS.2:82 dan
QS.3:17.
Terhadap doa
orang-orang berakal yang ruhnya (jiwanya) mengemukakan respons
(tanggapan) positif terhadap seruan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan tesbeut (QS.7:35-17)
selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاسۡتَجَابَ لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ
لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡضٍ ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا
وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ
قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ
جَنّٰتٍتَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Rabb (Tuhan) mereka telah mengabulkan doa mereka seraya berfirman: اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ
مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ -- “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan.
بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍ -- Sebagian kamu adalah
dari sebagian lain, فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ
دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا -- maka orang-orang
yang berhijrah, yang diusir dari
rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan
yang terbunuh, لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ
لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍتَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ -- niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka
keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku
akan memasukkan mereka
ke dalam kebun-kebun yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai se-bagai ganjaran dari sisi Allah, وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ -- dan Allah di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran.
(Ali
‘Imran [3]:196).
Pada hakikatnya jawaban Allah Swt. terhadap doa
orang-orang yang berakal yang telah beriman
kepada Rasul Allah yang dijanjikan tersebut menggambarkan ujian-ujian keimanan yang senantiasa dialami oleh orang-orang
yang menyatakan beriman kepada Rasul Allah, sekali pun mereka harus menghadapi ujian-ujian keimanan yang
berat di jalan Allah, sebagaimana
yang dijanjikan iblis kepada Allah Swt. sebagai tindak-lanjut
keingkarannya kepada Adam
(khalifah Allah – Rasul Allah), bahwa iblis dan para pengikutnya dengan berbagai cara akan melakukan penghadangan
di jalan Allah terhadap Adam dan para pengikutnya (QS.7:12-19; QS.15:29-34; QS.17:62-66; QS.18:51-52; QS.20:117-124; QS.38:72-86).
Hakikat Iblis Diciptakan dari Api dan Adam
Diciptakan dari “Tanah-liat”
Mengisyaratkan kepada penentangan dan penghadangan yang dilakukan iblis terhadap Adam
(Rasul Allah) dan orang-orang yang beriman itulah makna pengakuan iblis bahwa ia telah diciptakan
Allah Swt. dari api, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾ وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk. وَ الۡجَآنَّ
خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ -- Dan sebelumnya Kami telah menjadikan jin
dari api angin panas. (Al-Hijr [15]:27-28).
Firman-Nya
lagi:
خَلَقَ
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾ وَ خَلَقَ
الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ
نَّارٍ ﴿ۚ﴾
Dia menciptakan manusia dari tanah
liat kering seperti
tembikar, وَ خَلَقَ الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ نَّارٍ -- dan Dia
menciptakan jin-jin dari nyala api.
(Ar-Rahmān [55]:15-16).
Berulang-ulang kali Al-Quran menyatakan bahwa sesuai dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. penciptaan
alam semesta dan segala isinya
berlangsung setahap demi setahap (QS.1:2). Dan ayat-ayat yang sedang dibahas ini hanya
menyebutkan tahapan pertama saja dari
kejadian manusia, sedangkan tahapan-tahapan lain dalam kejadiannya
itu telah disebutkan dalam QS.30:21; QS.35:12; QS.22:6; QS.23:15 dan Qs.40:68.
Pernyataan Al-Quran bahwa manusia telah diciptakan dari “tanah” -- yang secara sepintas lalu berarti, bahwa proses kejadiannya yang panjang itu
dimulai dengan tanah -- dikuatkan oleh kenyataan, bahwa bahkan
sekarang juga makanan manusia berasal
dari tanah, beberapa bagian tertentu
dari makanan itu diambil langsung
darinya dan beberapa bagian lainnya lagi secara tidak langsung.
Hal tersebut menunjukkan bahwa zat yang terkandung dalam tanah, merupakan asal manusia; sebab sekiranya bukan
demikian, niscaya ia tidak dapat mengambil gizinya
(zat sari makanannya) dari tanah,
sebab yang dapat memberikan makanan
kepada suatu wujud hanyalah barang
yang darinya telah dibuat wujud itu, karena unsur dari luar tidak akan mampu mengisi apa yang telah menjadi susut.
Sebuah
ungkapan Al-Quran yang serupa ini
ialah manusia dijadikan dari ketergesa-gesaan (QS.21:38) menunjukkan,
bahwa ayat yang sedang dalam pembahasan ini berarti bahwa jin
memiliki pembawaan seperti api dan bukan bahwa makhluk jin itu sesungguhnya dibuat
dari api. Dengan demikian makna
bahwa “manusia dijadikan dari tanah liat” mengandung arti berpembawaan
lemah lembut dan suka tunduk,
sedangkan “jin dijadikan dari api”
mengandung arti bertabiat seperti api dan
mudah menyala serta bersifat takabbur, seperti lidah
api yang selalu ke atas.
Manfaat Penentang Iblis
Terhadap Adam (Khalifah Allah) dan
Para Pengikutnya
Jadi, betapa pentingnya
keberadaan iblis atau syaitan di dunia ini bagi kemajuan akhlak dan ruhani
orang-orang yang beriman kepada Adam (Khalifah Allah - Rasul Allah) sehingga keadaan struktur keimanan mereka benar-benar
menjadi kokoh bagaikan
tanah-liat yang telah berubah
menjadi tembikar yang bernilai tinggi dalam segala
seginya, karena setelah mengalami pembentukan oleh pengrajin
terbikar -- dalam hal
ini Allah Swt. -- harus mengami proses “pembakaran” oleh kobaran api
penentangan yang dilakukan iblis
dan para pengikutnya, sehingga jika lulus menghadapi berbagai ujian-ujian keimanan di jalan Allah tersebut maka Allah Swt.
akan mengabulkan doa mereka, firman-Nya:
فَاسۡتَجَابَ لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ
لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡضٍ ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا
وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ
قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ
جَنّٰتٍتَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Rabb (Tuhan) mereka telah mengabulkan doa mereka seraya berfirman: اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ
مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ -- “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan.
بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍ -- Sebagian kamu adalah
dari sebagian lain, فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ
دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا -- maka orang-orang
yang berhijrah, yang diusir dari
rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan
yang terbunuh, لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ
لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍتَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ -- niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka
keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku
akan memasukkan mereka
ke dalam kebun-kebun yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai sebagai ganjaran dari sisi Allah, وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ -- dan Allah di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran.
(Ali
‘Imran [3]:196).
Hakikat “Prediksi” Para Malaikat
Mengenai Kemunculan Para Penentang Khalifah Allah yang “Haus Darah”
Mengisyaratkan kepada pentingnya
keberadaan “kobaran api” ujian keimanan
yang dinyalakan oleh iblis dan para pengikutnya itu pulalah jawaban Allah Swt. terhadap “prediksi” para malaikat ketika menanggapi kehendak Allah Swt. akan menciptakan seorang
khalifah Allah di muka bumi yakni Adam
mengenai akan munculnya para pembuat kerusakan di muka bumi dan yang akan menumpahkan
darah, sebagai bentuk kedengkian mereka kepada Khalifah Allah atau Rasul Allah, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ
نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman
kepada para malaikat: اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ
خَلِیۡفَۃً -- “Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah
di bumi”, mereka berkata: “Apakah
Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan
pujian Engkau dan kami
senantiasa mensucikan Engkau?”
قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia
berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah
[2]:31).
Qāla adalah perkataan
bahasa Arab yang lazim dan berarti
"ia berkata". Tetapi
kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan bila yang dimaksudkannya bukan
pernyataan kata kerja, melainkan keadaan
yang sesuai dengan arti kata kerja itu. Ungkapan, Imtala’a al-haudhu wa qāla
qathni (Kolam itu menjadi penuh dan ia berkata: “Aku sudah penuh”) tidak
berarti bahwa kolam itu benar-benar berkata demikian, melainkan hanya keadaannya mengandung arti bahwa kolam itu sudah penuh.
Jadi, percakapan antara Allah Swt.
dan para malaikat tidak perlu diartikan
secara harfiah sebagai sungguh-sungguh telah terjadi, karena – sebagaimana
telah dijelaskan oleh Masih Mau’ud a.s. -- bahwa para malaikat itu merupakan instrument
pelaksanakan semua kehendak Allah
Swt.. (QS.35:2; QS.66:7)
Seperti dinyatakan sebelumnya kata qāla kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan, untuk mengemukakan hal yang
sebenarnya bukan suatu ungkapan lisan, melainkan hanya keadaan
yang sama dengan ungkapan lisan. Maka
ayat ini hanya berarti bahwa para malaikat
itu dengan keadaan mereka
menyiratkan jawaban yang di
sini dikaitkan kepada kata-kata yang diucapkan mereka.
Malā’ikah (malaikat-malaikat)
yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti:
ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka ditugaskan Allah Swt. mengendalikan
kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa
wahyu Ilahi kepada para rasul (nabi) Allah dan pembaharu-pembaharu
samawi. (QS.2:98-99; QS.26:193-198).
Dengan demikian para malaikat
tidak mungkin mengemukakan keberatan
terhadap rencana Ilahi atau mengaku
diri mereka lebih unggul daripada
Adam a.s.. Pertanyaan
mereka didorong oleh pengumuman Allah Swt. mengenai rencana-Nya untuk mengangkat seorang khalifah dalam rangka
menciptakan suatu “tatanan kehidupan yang
baru” guna menggantikan “tatanan
kehidupan lama” yang sudah rusak, atau untuk menciptakan “langit baru dan bumi baru”
guna menggantikan “tatanan yang lama”
(QS.14:49-53).
Pentingnya Keberadaan
Wujud “Khalifah Allah”
Wujud khalifah diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum
harus dilaksanakan. Keberatan semu
para malaikat menyiratkan bahwa akan
ada orang-orang di bumi yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan
darah karena mereka menganggap keberadaan
seorang Khalifah Allah (Rasul Allah) akan
merugian segala kepentingan duniawi
mereka yang sudah mapan.
Karena manusia dianugerahi Allah
Swt. kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat, para malaikat
menyebut segi gelap tabiat manusia, tetapi
Allah Swt. mengetahui bahwa
melalui adanya ujian-ujian keimanan di jalan
Allah manusia dapat mencapai tingkat akhlak yang sangat tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin (bayangan) sifat-sifat
Ilahi. Itulah makna jawaban Allah Swt.: اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- "Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui," Allah Swt. menyebutkan
segi terang tabiat manusia akibat
keberadaan penentangan tersebut.
Jadi, pertanyaan
para malaikat bukan sebagai celaan terhadap perbuatan
Allah Swt. melainkan sekedar mencari ilmu yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah penciptaan seorang khalifah Allah tersebut: قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- mereka berkata:
“Apakah Engkau akan menjadikan di
dalamnya yakni di bumi orang
yang akan membuat kerusakan di dalamnya
dan akan menumpahkan darah, padahal
kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan
kami senantiasa mensucikan Engkau?”
Sementara tasbih dipakai bertalian dengan sifat-sifat Allah Swt. maka taqdis
dipergunakan mengenai tindakan-tindakan-Nya.
Jawaban Allah Swt. adalah: قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- “Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Makna Al-Asmā (Nama-nama) Allah
Swt.
Kelebihan Adam yang telah mendapat pengajaran langsung dari Allah Swt. mengenai Al-Asmā-Nya
yang dikemukakan ayat selanjutnya
membuat para malaikat benar-benar
mengerti mengenai pentingnya keberadaan
seorang Khalifah Allah (rasul Allah)
dalam upaya menciptakan “langit baru
dan bumi baru” guna menggantikan “tatanan yang lama” (QS.14:49-53),
firman-Nya:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ
کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ
بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿ ﴾
قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا
عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿ ﴾
قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ
فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ
اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا
تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿ ﴾
Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama itu semuanya
kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ
بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang benar.” قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا
عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ -- Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami
tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” قَالَ یٰۤاٰدَمُ
اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ
-- Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka
tatkala diberitahukannya kepada
mereka nama-nama mereka itu, قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ
لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ
اَعۡلَمُ
غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا
کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ -- dan mengetahui
apa pun yang kamu nya-takan dan apa
pun yang kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah
[2]:32-34).
Kata “semua”
dalam ayat: فَقَالَ
اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang benar.” tidak meliputi keseluruhan secara mutlak. Kata itu hanya berarti semua
yang perlu pada masa itu. Al-Quran
memakai kata itu dalam arti ini juga di tempat lain (QS.6:45; QS.27:17, 24;
QS.28:58).
Asmā
itu jamak dari ism yang berarti: nama
atau sifat; ciri atau tanda sesuatu (Lexicon Lane dan Mufradat). Para ahli tafsir
berbeda paham mengenai apa yang dimaksudkan dengan kata asmā (nama-nama)
di sini. Sebagian menyangka bahwa Allah Swt. mengajar
Adam a.s. nama berbagai barang dan benda, yaitu Dia
mengajar beliau dasar-dasar bahasa.
Tidak diragukan bahwa orang memerlukan bahasa untuk menjadi beradab, dan Allah Swt. tentu telah mengajari Adam a.s. dasar-dasarnya,
tetapi Al-Quran menunjukkan bahwa ada asmā (nama atau sifat) Allah Swt. yang harus dipelajari manusia untuk penyempurnaan akhlaknya, sebagai tujuan utama dari pelaksanaan ibadah kepada Allah Swt. (QS.51:57).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 3 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar