Senin, 06 Juni 2016

Makna "Prediksi" Para Malaikat Berkenaan Keberadaan "Khalifah Allah" & Hakikat Penciptaan Adam dari "Tanah Liat" dan Penciptaan Iblis dari "Api"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


MAKNA “PREDIKSI” PARA MALAIKAT BERKENAAN KEBERADAAN “KHALIFAH ALLAH” & HAKIKAT PENCIPTAAN ADAM DARI “TANAH LIAT” DAN PENCIPTAAN  IBLIS DARI “API

Bab 61

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   mengenai cetusan hati dari “orang-orang yang berakal”  terhadap seruan Rasul Allah   yang  menyeru umat manusia kepada keimanan yang hakiki,   pada hakikatnya  hal tersebut merupakan bagian dari respons (tanggapan) dari ruh (jiwa) manusia mengenai Tauhid Ilahi  sebagaimana yang dikemukakan dalam  Surah Al-A’rāf ayat 173 sebelumnya: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی  --  Mereka berkata:    “Ya benar, kami menjadi saksi.” 
     Bahkan respons (tanggapan) ruh (jiwa) orang-orang yang mempergunakan akalnya tersebut   berlanjut dengan penyambutan mereka terhadap  seruan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  yang menyeru manusia kepada Tauhid yang hakiki, firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿
“Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡ  --   Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata: مَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا  -- "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman.”  رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan    hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang ber-buat kebajikan. رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ --   Wahai  Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ  --  sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:194-195).
      Urutan antara munculnya berbagai kobaran “api kemurkaan” Allah Swt. yang dilihat oleh “orang-orang yang berakal” dengan berimannya mereka kepada rasul Allah  yang menyeru kepada keimanan (Tauhid Ilahi) yang hakiki tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt. bahwa Dia. tidak pernah  menurunkan azab kepada manusia – bagaimana pun sesatnya mereka -- sebelum terlebih dulu Dia  mengutus rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.6:131-132; QS.7:35-36; QS.11:118; QS.17:16;  QS.26:209-210; QS.28:60) agar manusia tidak memiliki dalih (alasan) untuk menyalahkan Allah Swt., firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا یَاۡتِیۡنَا بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ  تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ  مَا فِی الصُّحُفِ  الۡاُوۡلٰی ﴿﴾   وَ لَوۡ اَنَّـاۤ  اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ  اَرۡسَلۡتَ  اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ  نَّذِلَّ  وَ  نَخۡزٰی  ﴿﴾ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ  اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ  وَ مَنِ  اہۡتَدٰی ﴿﴾٪
Dan mereka berkata: "Mengapakah ia tidak mendatang­kan kepada kami suatu Tanda dari Rabb-nya (Tuhan-nya)?" Bukankah telah datang kepada mereka bukti yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran terdahulu?   وَ لَوۡ اَنَّـاۤ  اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا  --  Dan seandainya Kami membinasakan mereka dengan azab sebelum ini  niscaya mereka akan berkata: رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ  اَرۡسَلۡتَ  اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ  نَّذِلَّ  وَ  نَخۡزٰی  --  "Ya Rabb (Tuhan) kami, me­ngapakah   Engkau tidak mengirimkan kepada kami seorang rasul supaya kami mengikuti Ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan dan dihinakan?"    Katakanlah: "Setiap orang sedang menunggu maka kamu pun  tunggulah, lalu segera kamu akan me-ngetahui siapakah yang ada pada jalan yang lurus dan siapa yang mengikuti petunjuk dan siapa yang tidak. (Thā Hā [20]:135-137).

Pengabulan Allah Swt.

       Kata   dzunub  dalam doa “orang-orang yang berakal”:   رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan    hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang ber-buat kebajikan”   umumnya menunjuk kepada kelemahan-kelemahan serta kesalahan-kesalahan dan kealpaan-kealpaan yang biasa melekat pada diri manusia, dapat melukiskan relung-relung gelap dalam hati, ke tempat itu Nur Ilahi tidak dapat sampai dengan sebaik-baiknya, sedangkan sayyi’at yang secara relatif  merupakan kata yang bobotnya lebih keras, dapat berarti gumpalan-gumpalan awan debu yang menyembunyikan cahaya matahari ruhani dari pemandangan  manusia. Lihat pula ayat-ayat QS.2:82 dan QS.3:17.
      Terhadap doa orang-orang berakal yang  ruhnya (jiwanya)    mengemukakan  respons (tanggapan) positif terhadap seruan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan tesbeut (QS.7:35-17) selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاسۡتَجَابَ لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍتَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Rabb (Tuhan) mereka telah mengabulkan doa mereka seraya berfirman: اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ  --   “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan.  بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ -- Sebagian kamu adalah dari sebagian lain, فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا --   maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku,  yang  berperang  dan  yang terbunuh, لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍتَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  -- niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku  akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai se-bagai ganjaran dari sisi Allah,  وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ --   dan Allah di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran. (Ali ‘Imran [3]:196).
         Pada hakikatnya jawaban Allah Swt. terhadap doa orang-orang yang berakal yang telah beriman kepada Rasul Allah yang dijanjikan tersebut menggambarkan ujian-ujian keimanan  yang senantiasa dialami oleh orang-orang yang menyatakan beriman kepada Rasul Allah,  sekali pun  mereka harus menghadapi ujian-ujian keimanan yang berat di jalan Allah, sebagaimana yang dijanjikan iblis kepada Allah Swt. sebagai tindak-lanjut keingkarannya kepada Adam (khalifah Allah – Rasul Allah),  bahwa iblis  dan para pengikutnya  dengan berbagai cara akan melakukan penghadangan di jalan Allah terhadap  Adam dan para pengikutnya (QS.7:12-19; QS.15:29-34;  QS.17:62-66; QS.18:51-52;  QS.20:117-124; QS.38:72-86).

Hakikat Iblis Diciptakan dari Api  dan Adam Diciptakan dari “Tanah-liat

       Mengisyaratkan kepada penentangan  dan penghadangan  yang dilakukan iblis terhadap Adam (Rasul Allah) dan  orang-orang yang beriman  itulah makna pengakuan iblis bahwa ia telah diciptakan Allah Swt.  dari api, firman-Nya: 
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾  وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk. وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ --  Dan sebelumnya Kami telah menjadikan  jin dari api angin panas.  (Al-Hijr [15]:27-28).
Firman-Nya lagi:
خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾  وَ  خَلَقَ  الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ  مِّنۡ نَّارٍ ﴿ۚ﴾
Dia menciptakan manusia dari tanah liat kering  seperti tembikarوَ  خَلَقَ  الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ  مِّنۡ نَّارٍ   --    dan Dia menciptakan jin-jin dari nyala api. (Ar-Rahmān [55]:15-16). 
  Berulang-ulang kali Al-Quran menyatakan bahwa  sesuai  dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt.  penciptaan  alam semesta dan segala isinya  berlangsung setahap demi setahap (QS.1:2).  Dan ayat-ayat yang sedang dibahas ini hanya menyebutkan tahapan pertama saja dari kejadian manusia, sedangkan tahapan-tahapan lain dalam kejadiannya itu telah disebutkan dalam QS.30:21; QS.35:12; QS.22:6; QS.23:15 dan Qs.40:68.
       Pernyataan Al-Quran bahwa manusia telah diciptakan dari “tanah”   -- yang secara sepintas lalu berarti, bahwa proses kejadiannya yang panjang itu dimulai dengan tanah  -- dikuatkan oleh kenyataan, bahwa bahkan sekarang juga makanan manusia berasal dari tanah, beberapa bagian tertentu dari makanan itu diambil langsung darinya dan beberapa bagian lainnya lagi secara tidak langsung.
       Hal tersebut menunjukkan bahwa zat yang terkandung dalam tanah,  merupakan asal manusia; sebab sekiranya bukan demikian, niscaya ia tidak dapat mengambil gizinya (zat sari makanannya) dari tanah, sebab yang dapat memberikan makanan kepada suatu wujud  hanyalah barang yang darinya telah dibuat wujud itu, karena unsur dari luar tidak akan mampu mengisi apa yang telah menjadi susut.  
     Sebuah ungkapan Al-Quran yang serupa ini ialah manusia dijadikan dari ketergesa-gesaan (QS.21:38) menunjukkan, bahwa ayat yang sedang dalam pembahasan ini berarti  bahwa jin memiliki pembawaan seperti api dan bukan bahwa makhluk jin itu sesungguhnya dibuat dari api. Dengan demikian  makna bahwa “manusia dijadikan   dari tanah liat” mengandung arti  berpembawaan lemah lembut dan suka tunduk, sedangkan “jin dijadikan  dari api” mengandung arti  bertabiat seperti api dan mudah menyala serta bersifat takabbur, seperti    lidah api yang selalu ke atas.

Manfaat Penentang Iblis Terhadap Adam (Khalifah Allah) dan Para Pengikutnya

       Jadi, betapa pentingnya keberadaan  iblis atau syaitan  di dunia ini bagi kemajuan akhlak dan ruhani orang-orang yang beriman kepada Adam (Khalifah Allah  - Rasul Allah) sehingga keadaan struktur keimanan mereka benar-benar menjadi kokoh bagaikan  tanah-liat yang  telah berubah menjadi tembikar yang bernilai tinggi dalam segala seginya,  karena setelah mengalami pembentukan oleh  pengrajin terbikar --  dalam hal  ini Allah Swt.   --  harus mengami proses “pembakaran” oleh kobaran api penentangan yang dilakukan iblis dan para pengikutnya, sehingga jika lulus menghadapi berbagai ujian-ujian keimanan di jalan Allah tersebut maka Allah Swt. akan mengabulkan  doa mereka, firman-Nya:
فَاسۡتَجَابَ لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍتَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Rabb (Tuhan) mereka telah mengabulkan doa mereka seraya berfirman: اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ  --   “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan.  بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ -- Sebagian kamu adalah dari sebagian lain, فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا --   maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku,  yang  berperang  dan  yang terbunuh, لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍتَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  -- niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku  akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai sebagai ganjaran dari sisi Allah,  وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ --   dan Allah di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran. (Ali ‘Imran [3]:196).

Hakikat “Prediksi” Para Malaikat Mengenai Kemunculan Para Penentang Khalifah Allah yang “Haus Darah

      Mengisyaratkan kepada pentingnya keberadaan “kobaran api” ujian keimanan yang dinyalakan oleh iblis dan para pengikutnya itu pulalah jawaban Allah Swt. terhadap “prediksi” para malaikat  ketika menanggapi kehendak Allah Swt. akan menciptakan seorang khalifah Allah di muka bumi  yakni Adam mengenai akan munculnya para pembuat kerusakan di muka bumi dan  yang akan menumpahkan darah,  sebagai bentuk kedengkian mereka kepada Khalifah Allah atau Rasul Allah, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ  اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ 
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada para  malaikat: اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً --  Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?”  قَالَ اِنِّیۡۤ    اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  (Al-Baqarah [2]:31).
       Qāla adalah  perkataan  bahasa Arab yang lazim dan berarti  "ia berkata". Tetapi  kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan bila yang dimaksudkannya bukan pernyataan kata kerja, melainkan  keadaan yang sesuai dengan arti kata kerja itu. Ungkapan, Imtala’a al-haudhu wa qāla qathni (Kolam itu menjadi penuh dan ia berkata: “Aku sudah penuh”) tidak berarti bahwa kolam itu benar-benar berkata demikian, melainkan hanya keadaannya mengandung arti bahwa kolam itu sudah penuh.
       Jadi, percakapan antara Allah Swt.  dan para malaikat tidak perlu diartikan secara harfiah sebagai sungguh-sungguh telah terjadi, karena – sebagaimana telah dijelaskan oleh Masih Mau’ud a.s.  -- bahwa para malaikat itu merupakan instrument pelaksanakan semua kehendak Allah Swt.. (QS.35:2; QS.66:7)
     Seperti dinyatakan sebelumnya kata qāla   kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan, untuk mengemukakan hal yang sebenarnya bukan suatu ungkapan lisan, melainkan hanya keadaan yang sama dengan ungkapan lisan. Maka ayat ini hanya berarti bahwa para malaikat itu dengan  keadaan   mereka  menyiratkan jawaban yang di sini dikaitkan kepada kata-kata yang diucapkan mereka.
      Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya  ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka ditugaskan Allah Swt. mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada  para rasul (nabi) Allah dan pembaharu-pembaharu samawi. (QS.2:98-99; QS.26:193-198).
     Dengan demikian para malaikat tidak mungkin mengemukakan keberatan terhadap rencana Ilahi atau  mengaku diri mereka lebih unggul daripada Adam a.s..   Pertanyaan mereka didorong oleh  pengumuman Allah Swt.   mengenai rencana-Nya untuk mengangkat seorang khalifah dalam rangka menciptakan suatu “tatanan kehidupan yang baru” guna menggantikan “tatanan kehidupan lama” yang sudah rusak,  atau untuk menciptakan “langit baru dan bumi baru” guna menggantikan “tatanan yang lama” (QS.14:49-53).

Pentingnya Keberadaan Wujud “Khalifah Allah

    Wujud khalifah diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan. Keberatan semu para malaikat menyiratkan bahwa akan ada orang-orang di bumi yang akan membuat kerusakan  dan menumpahkan darah karena mereka menganggap keberadaan seorang Khalifah Allah (Rasul Allah)   akan merugian segala kepentingan duniawi mereka yang sudah mapan.
     Karena manusia dianugerahi Allah Swt. kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat, para malaikat menyebut segi gelap tabiat manusia, tetapi Allah Swt. mengetahui bahwa melalui adanya ujian-ujian keimanan  di jalan Allah  manusia dapat mencapai tingkat akhlak yang sangat tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin (bayangan) sifat-sifat Ilahi.  Itulah makna jawaban Allah Swt.: اِنِّیۡۤ    اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  -- "Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,"  Allah Swt. menyebutkan segi terang tabiat manusia  akibat keberadaan penentangan tersebut.
       Jadi, pertanyaan para malaikat  bukan sebagai celaan terhadap perbuatan Allah Swt.   melainkan sekedar mencari ilmu yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah  penciptaan  seorang    khalifah  Allah  tersebut: قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ   -- mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?”   Sementara tasbih dipakai bertalian dengan sifat-sifat Allah Swt.  maka taqdis dipergunakan mengenai tindakan-tindakan-Nya. Jawaban Allah Swt. adalah: قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ   -- “Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Makna Al-Asmā  (Nama-nama) Allah Swt.

     Kelebihan Adam   yang telah mendapat pengajaran langsung dari Allah Swt. mengenai  Al-Asmā-Nya  yang dikemukakan ayat selanjutnya membuat para malaikat benar-benar mengerti mengenai pentingnya keberadaan seorang Khalifah Allah (rasul Allah) dalam upaya menciptakan “langit baru dan bumi baru” guna menggantikan “tatanan yang lama” (QS.14:49-53), firman-Nya:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿ ﴾ قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿ ﴾ قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿ ﴾  
Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya  kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  --  lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.”  قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ --   Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak  memiliki  pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ  --  Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  -- Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi   وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ --  dan mengetahui apa pun yang kamu nya-takan dan apa pun yang    kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:32-34).
       Kata  “semua” dalam ayat:  فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.”    tidak meliputi keseluruhan secara mutlak. Kata itu hanya berarti  semua yang perlu pada masa itu.  Al-Quran memakai kata itu dalam arti ini juga di tempat lain (QS.6:45; QS.27:17, 24; QS.28:58).
    Asmā itu jamak dari ism yang berarti: nama atau sifat; ciri atau tanda sesuatu (Lexicon Lane dan Mufradat). Para ahli tafsir berbeda paham mengenai apa yang dimaksudkan dengan kata asmā (nama-nama) di sini. Sebagian menyangka bahwa Allah Swt.  mengajar Adam a.s.   nama berbagai barang dan benda, yaitu Dia  mengajar beliau dasar-dasar bahasa.
      Tidak diragukan bahwa orang memerlukan bahasa untuk menjadi beradab, dan Allah Swt.   tentu telah mengajari Adam a.s. dasar-dasarnya, tetapi Al-Quran menunjukkan bahwa ada asmā (nama atau sifat) Allah Swt. yang harus dipelajari manusia untuk penyempurnaan akhlaknya, sebagai tujuan utama dari pelaksanaan ibadah kepada Allah Swt. (QS.51:57).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 3 Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar