Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
PERBEDAAN IBLIS
DENGAN SYAITAN & PERBUATAN “SYAITAN”
DARI KALANGAN MANUSIA DENGAN
BERBAGAI FITNAH DAN KEDENGKIAN MERINTANGI PERJUANGAN SUCI PARA RASUL ALLAH
Bab 63
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan makna “pemberitahuan al-Asmā (nama-nama)” yang
diajarkan Allah Swt. kepada Adam (QS.2:32),
firman-Nya:یٰۤاٰدَمُ
اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ
-- “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka
nama-nama mereka itu”, maka tatkala
diberitahukannya kepada mereka nama-nama
mereka itu, قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ -- Dia
berfirman: “Bukankah telah Aku katakan
kepada kamu bahwa sesungguhnya
Aku mengetahui rahasia seluruh langit
dan bumi وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا
کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ -- dan mengetahui
apa pun yang kamu nyatakan dan apa
pun yang kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:34).
Keistimewaan
Pembukaan
Rahasia Gaib Allah Swt. Kepada Rasul Allah
Jadi, diciptakan-Nya Adam – sebagai Khalifah Allah
atau Rasul Allah -- membuktikan perlunya penciptaan suatu wujud
yang mendapat kemampuan dari Allah Swt.
untuk berkehendak, sehingga ia dapat dengan kehendak sendiri memilih jalan
kebaikan dan karena itu dapat menampakkan (memperagakan) kemuliaan serta keagungan Ilahi, firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada
Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya
Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia
gaib bertalian dengan dan mengenai
peristiwa dan kejadian yang
sangat penting, termasuk mengenai rahasia-rahasia
baru Al-Asmā
(nama-nama/sifat-sifat) Allah Swt., yang disebut makrifat Ilahi yang hakiki.
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna
membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada seorang rasul
Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya
pada kenyataan bahwa kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas
yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah -- karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi -- keadaannya aman
dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang
bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
Iblis Bukan dari Kalangan Malaikat Melainkan dari Golongan Jin
Setelah para malaikat
memahami pentingnya keberadaan
seorang Khalifah Allah yakni Adam
-- dengan segala keunggulan
makrifat Ilahi yang diajarkan
Allah Swt. kepadanya -- selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫
وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni tunduk-patuhlah kamu
kepada Adam” lalu mereka sujud
kecuali iblis, ia menolak dan takabur, dan ia termasuk dari antara orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah [2]:35).
Setelah Adam (Khalifah Allah) menjadi cerminan (penjelmaan) Sifat-sifat
Allah Swt. dan sudah mencapai pangkat nabi, lalu Allah Swt. memerintahkan
para malaikat -- yang merupakan instrument pelaksana kehendak
Allah Swt. -- untuk mengkhidmatinya
secara penuh, yang dalam ayat tersebt disebut “sujud.”
Ungkapan dalam bahasa Arab usjudu tidak
berarti “Sujudlah di hadapan Adam”
sebab Al-Quran tegas melarang bersujud
di hadapan sesuatu selain Allah Swt. (QS.41:38), dan perintah semacam itu tidak mungkin diberikan kepada para malaikat. Perintah itu berarti “bersujudlah di hadapan-Ku sebagai tanda
bersyukur karena Aku telah menjadikan Adam.”
Karena para malaikat merupakan
instrument Allah Swt. yang ditugaskan Allah Swt. untuk menjadi pengendali tatanan alam
semesta (QS.35:2-3), adalah sangat wajar jika para malaikat pun diperintahkan
Allah Swt. untuk mengkhidmati para Khalifah
Allah atau para Rasul Allah dalam melaksanakan tugas suci mereka pada zaman mereka masing-masing (QS.7:35-37),
termasuk terjadinya berbagai bentuk azab Ilahi sebagai
bukti pengkidmatan mereka terhadap rasul Allah (QS.17:16; QS.29:41-45).
Makna lain perintah Allah Swt. kepada para malaikat
untuk “sujud” kepada Adam
yaitu mereka diperintahkan Allah Swt. untuk
mengiringi para rasul Allah dalam melaksanakan tugas sucinya menyampaikan berbagai rahasia gaib Allah Swt. yang diberitahukan Allah Swt.: فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ -- “maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya
Dia mengetahui bahwa sungguh mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb
(Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا -- dan
Dia meliputi semua yang ada pada mereka
dan Dia membuat perhitungan mengenai
segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
Mengenai penggunaan kata illā (kecuali) berkenaan dengan iblis
dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫
وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni tunduk-patuhlah kamu
kepada Adam” lalu mereka sujud
kecuali iblis, ia menolak dan takabur, dan ia termasuk dari antara orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah [2]:35).
Ungkapan اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ -- “kecuali iblis” dipakai untuk memberi
arti “kekecualian.” Dalam bahasa Arab istitsna (kekecualian) ada dua
macam:
(1) Istitsna muttashil artinya kekecualian
pada saat sesuatu yang dikecualikan
itu termasuk golongan atau jenis yang sama dengan golongan atau jenis yang darinya hendak dibuat kekecualian itu;
(2)
Istitsna munqathi, yaitu kekecualian pada saat sesuatu yang dikecualikan itu termasuk
golongan atau jenis lain.
Dalam
ayat ini kata illa menunjuk kepada kekecualian
terakhir karena iblis bukan dari kalangan malaikat, karena iblis bersikap bertentangan dengan sifat
malaikat yang senantiasa melaksanakan
kehendak Allah Swt. sepenuhnya (QS.66:7), sedang iblis dikatakan: اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ
کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ -- “ia menolak
dan takabur, dan ia termasuk
dari antara orang-orang yang kafir.
(Al-Baqarah
[2]:35), dikatakan iblis berasal dari kalangan jin, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ مِنَ
الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ
دُوۡنِیۡ وَ ہُمۡ لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ
بِئۡسَ لِلظّٰلِمِیۡنَ
بَدَلًا ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ -- "Sujudlah
yakni patuhlah kepada Adam," maka sujudlah
mereka kecuali iblis, کَانَ مِنَ الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ -- ia
adalah dari golongan jin maka ia
mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya). Apakah kamu hendak mengambil dia dan keturunannya
sebagai sahabat-sahabat selain Aku,
padahal mereka itu musuh-musuh kamu?
Sangat buruk bagi orang-orang
yang zalim pertukaran itu. (Al-Kahf [18]:51).
Perbedaan Iblis dengan Syaitan
Kata iblis
berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya
berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan
atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. (3) telah patah semangat; (4) telah bingung
dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
Jadi, berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis
itu adalah suatu wujud yang sedikit
sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu
melihat jalannya.
Iblis seringkali
dianggap sama dengan syaitan, tetapi
dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan dari
kalangan para malaikat, sebab ia dalam Al-Quran dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swt.,
sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).
Allah Swt.
telah murka kepada iblis karena
ia pun diperintahkan mengkhidmati
Adam a.s. tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan
pula, sekalipun jika tiada perintah
tersendiri bagi iblis, perintah
kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga (pengendali) berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
Seperti dinyatakan di atas, iblis
sesungguhnya nama sifat yang
diberikan atas dasar arti akar kata
itu (ablasa) kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat.
Diberi nama demikian karena ia mempunyai
sifat-sifat buruk seperti dirinci
di atas, terutama bahwa ia sama sekali
luput dari kebaikan dan telah
dibiarkan kebingungan dalam
langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..
Bahwa iblis bukanlah syaitan
— yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja
riwayat Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana
dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran
membicarakan makhluk yang berbeda dari para malaikat dan menolak
berbakti (sujud) kepada Adam a.s. maka senantiasa Al-Quran menyebutnya
dengan nama iblis (QS.12:19), tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam a.s. harus
hijrah dari “kebun” (jannah) maka
Al-Quran menyebutnya dengan nama syaitan
(QS.7:20-26).
Perbedaan ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam
Al-Quran, sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35 & 37; QS.7:12 & 21;
QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan
bahwa iblis berbeda dari syaitan
yang menipu Adam a.s. dan
ia merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri.
Fungsi Perintang yang
Diletakkan Syaitan
Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati
atau menentang Allah Swt.,
firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ اَبَوَیۡکُمۡ
مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا
سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا
تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali membiarkan syaitan
menggoda kamu sebagaimana ia telah
mengeluarkan kedua orang-tua kamu dari kebun, ia menanggalkan pakaian keduanya itu untuk menampakkan
kepada keduanya aurat mereka, اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ
حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ -- sesungguhnya ia dan
suku bangsanya melihat kamu dari
tempat yang kamu tidak dapat melihat
mereka. Sesungguhnya Kami
telah menjadikan syaitan-syaitan itu
sahabat-sahabat bagi orang-orang
yang tidak beriman. (Al-A’rāf [7]:12-13).
Ruh
jahat yang disebut syaitan dan mereka yang sebangsanya, pada umumnya
tidak nampak oleh mata. Mereka mempergunakan pengaruh secara tidak nampak
dan mencari-cari kelemahan-kelemahan
tersembunyi pada diri manusia agar dapat membuatnya tetap mengumbar kelakuan jahatnya.
Allah Swt.
telah menciptakan syaitan hanya sebagai ujian bagi manusia. Syaitan berlaku sebagai perintang
dalam perlombaan ruhani yang sedang
dihadapi manusia. Perintang-perintang itu
dimaksudkan tidak sebagai penghambat
melainkan untuk menciptakan persaingan
dalam perlombaan itu dan melipatgandakan upaya mereka.
Mereka yang tidak
berhati-hati dan lalai, yaitu
mereka yang tergelincir karena rintangan-rintangan itu dan kemudian kalah dalam perlombaan harus menyesali
diri mereka sendiri dan jangan menyalahkan orang atau orang-orang yang menempatkan perintang-perintang di jalan mereka
untuk mencoba dan menguji ketabahan serta keteguhan
mereka di jalan Allah Swt..
Syaitan dari Kalangan Manusia
Sebutan syaitan
dalam firman Allah Swt. berikut ini tidak merujuk kepada makhluk halus melainkan
kepada manusia-manusia syaitan yang menentang dan berusaha menggagalkan missi suci para Rasul Allah
menegakkan Tauhid Ilahi, yaitu dalam rangka menghapuskan berbagai bentuk “kemusyrikan”
yang dilakukan kaumnya (QS.30:31-33 & 42-44), firman-Nya:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ مِنۡ رَّسُوۡلٍ وَّ
لَا نَبِیٍّ اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ
اُمۡنِیَّتِہٖ ۚ فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ یُحۡکِمُ
اللّٰہُ اٰیٰتِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً
لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ
شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿ۙ﴾ وَّ
لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ
فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہَادِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِلٰی صِرَاطٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Dan Kami tidak pernah mengirim seorang rasul
dan tidak pula seorang nabi
melainkan apabila ia menginginkan
sesuatu اَلۡقَی
الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ -- maka syaitan meletakkan hambatan pada jalan apa yang diusahakannya,
فَیَنۡسَخُ
اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ
یُحۡکِمُ اللّٰہُ اٰیٰتِہٖ -- tetapi Allah melenyapkan hambatan yang diletakkan oleh syaitan, ثُمَّ یُحۡکِمُ
اللّٰہُ اٰیٰتِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ -- kemudian Allah
meneguhkan Tanda-tanda-Nya, dan Allah
itu Maha Tahu, Maha Bijaksana. لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ
فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ قُلُوۡبُہُمۡ -- Itu
terjadi supaya
Dia menjadikan rintangan yang diletakkan oleh syaitan sebagai ujian bagi orang-orang yang dalam hatinya
ada penyakit dan mereka yang hatinya keras, وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ شِقَاقٍۭ
بَعِیۡدٍ -- dan se-sungguhnya
orang-orang yang zalim itu benar-benar
dalam permusuhan yang sangat. وَّ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ -- Dan supaya diketahui
oleh orang-orang yang diberi ilmu
sesungguhnya Al-Quran itu
adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ
فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ -- lalu mereka
beriman kepadanya dan hati mereka
tunduk kepadanya, وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِلٰی
صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- dan sesungguhnya
Allah pasti memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus. (Al-Hajj [22]:53-55).
Lihat pula QS.6:112-115.
Arti ayat-ayat ini amat
jelas. Ayat 53 bermaksud mengemukakan,
bahwa apabila seorang nabi Allah ingin mencapai tujuannya, yaitu bila ia menyampaikan amanat kebenaran dan menginginkan supaya Ke-Esa-an
Ilahi dapat ditegakkan di muka bumi, lalu orang-orang
yang bersifat syaitan, berusaha menghambat majunya kebenaran, dengan
meletakkan segala macam rintangan -- antara
lain berupa berbagai fitnah keji serta kedustaan
lainnya -- pada jalannya. Mereka ingin melihat misi Rasul Allah itu mengalami kegagalan.
“Duel Makar” yang Selalu
Dimenangkan Allah Swt.
Tetapi “manusia-manusia syaitan” itu tidak dapat menghancurkan rencana Ilahi, dan Allah Swt. menghilangkan
semua hambatan dan membuat tujuan kebenaran itu memperoleh keunggulan dan kemenangan, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی
الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾ کَتَبَ
اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ اَنَا وَ
رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.
کَتَبَ اللّٰہُ
لَاَغۡلِبَنَّ اَنَا وَ رُسُلِیۡ -- Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang.” اِنَّ
اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha
Perkasa. (Al-Mujadalah [58]:21-22).
Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran
sejarah bahwa kebenaran
senantiasa menang terhadap kepalsuan. Dan Sunnatullah tersebut terjadi pula di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ
عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ الۡجِبَالُ ﴿﴾ فَلَا
تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ
رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ
ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾ یَوۡمَ
تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ بَرَزُوۡا
لِلّٰہِ الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ ﴿﴾ وَ تَـرَی
الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی
الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾ سَرَابِیۡلُہُمۡ
مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ
النَّارُ ﴿ۙ﴾ لِیَجۡزِیَ
اللّٰہُ کُلَّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾ ہٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ
لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ اِلٰہٌ
وَّاحِدٌ وَّ لِیَذَّکَّرَ
اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Dan sungguh mereka
telah melakukan makar mereka, tetapi makar
mereka ada di sisi Allah, وَ
اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ
الۡجِبَالُ -- dan jika
sekali pun makar mereka dapat
me-mindahkan gunung-gunung. فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ -- Maka janganlah
engkau sama sekali menyangka bahwa Allah
akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya,
اِنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ -- sesungguhnya
Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ بَرَزُوۡا
لِلّٰہِ الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ -- Pada hari
ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain, dan begitu pula seluruh langit, dan
mereka akan tampil menghadap Allah, Yang
Maha Esa, Maha Perkasa. وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ
مُّقَرَّنِیۡنَ فِی الۡاَصۡفَادِ -- Dan engkau akan melihat orang-orang yang
berdosa pada hari itu diikat dengan
rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ
مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ
النَّارُ -- Baju mereka dari pelangkin (ter), dan wajah
mereka akan tertutup api.
لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ کُلَّ
نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Supaya Allah membalas setiap jiwa apa yang telah
diusahakannya, اِنَّ اللّٰہَ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- sesungguhnya penghisaban Allah sangat cepat.
ہٰذَا
بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ
وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ
اِلٰہٌ وَّاحِدٌ وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- Al-Quran ini adalah penjelasan yang
cukup bagi manusia, dan supaya
dengannya mereka mendapat peringatan, dan supaya mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, dan supaya orang-orang yang berakal memberikan perhatian. (Ibrahim
[14]:47-53).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 7 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar