Rabu, 08 Juni 2016

Perbedaan "Iblis" dengan "Syaitan" & Perbuatan "Syaitan" dari Kalangan Manusia Dengan Berbagai Fitnah dan Kedengkian Merintangi Perjuangan Suci Para Rasul Allah


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


  PERBEDAAN IBLIS DENGAN SYAITAN & PERBUATAN  “SYAITAN” DARI KALANGAN MANUSIA     DENGAN BERBAGAI FITNAH DAN KEDENGKIAN MERINTANGI PERJUANGAN SUCI PARA RASUL ALLAH


Bab 63

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    makna  “pemberitahuan al-Asmā  (nama-nama)” yang diajarkan Allah Swt. kepada  Adam  (QS.2:32), firman-Nya:یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ  --   “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  -- Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi   وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ --  dan mengetahui apa pun yang kamu nyatakan dan apa pun yang kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:34).

Keistimewaan  Pembukaan Rahasia Gaib Allah Swt. Kepada   Rasul Allah

     Jadi, diciptakan-Nya Adam – sebagai Khalifah Allah atau Rasul Allah   -- membuktikan perlunya penciptaan suatu wujud yang mendapat kemampuan dari Allah Swt.  untuk berkehendak,  sehingga ia dapat dengan kehendak sendiri memilih jalan kebaikan  dan karena itu dapat menampakkan (memperagakan) kemuliaan serta keagungan Ilahi, firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾  
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,  supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
  Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting,  termasuk  mengenai rahasia-rahasia baru  Al-Asmā (nama-nama/sifat-sifat) Allah Swt., yang disebut makrifat Ilahi yang hakiki.
  Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah  dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa  lainnya.
 Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa  kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang  bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
 Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul  Allah   -- karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi --  keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.

Iblis Bukan dari Kalangan Malaikat Melainkan dari Golongan Jin

      Setelah para malaikat memahami pentingnya keberadaan seorang Khalifah Allah yakni Adam   -- dengan segala keunggulan makrifat Ilahi yang diajarkan Allah Swt. kepadanya --  selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah  ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adam” lalu mereka sujud kecuali  iblis,  ia menolak dan takabur,  dan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:35). 
      Setelah   Adam (Khalifah Allah)  menjadi cerminan (penjelmaan) Sifat-sifat Allah Swt. dan sudah mencapai pangkat nabi, lalu Allah Swt. memerintahkan para malaikat -- yang merupakan instrument pelaksana kehendak Allah Swt. -- untuk mengkhidmatinya secara penuh, yang dalam ayat tersebt disebut “sujud.
      Ungkapan dalam bahasa Arab usjudu tidak berarti “Sujudlah di hadapan Adam” sebab Al-Quran tegas melarang bersujud di hadapan sesuatu selain Allah Swt. (QS.41:38), dan perintah semacam itu tidak mungkin diberikan kepada para malaikat. Perintah itu berarti “bersujudlah di hadapan-Ku sebagai tanda bersyukur karena Aku telah menjadikan Adam.”
     Karena para malaikat merupakan instrument  Allah Swt. yang ditugaskan Allah Swt. untuk menjadi pengendali tatanan alam semesta (QS.35:2-3), adalah sangat wajar jika para malaikat  pun  diperintahkan Allah Swt. untuk mengkhidmati  para Khalifah Allah atau para Rasul Allah  dalam melaksanakan tugas suci mereka pada zaman mereka masing-masing (QS.7:35-37), termasuk terjadinya berbagai  bentuk azab Ilahi  sebagai  bukti pengkidmatan  mereka terhadap rasul Allah (QS.17:16; QS.29:41-45).
      Makna lain perintah Allah Swt. kepada para malaikat untuk “sujud” kepada Adam  yaitu mereka  diperintahkan Allah Swt. untuk  mengiringi para rasul Allah dalam melaksanakan tugas sucinya menyampaikan berbagai rahasia gaib Allah Swt. yang diberitahukan Allah Swt.:   فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ    --  “maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,  supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا  --   dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).

 Mengenai penggunaan kata  illā (kecuali) berkenaan dengan  iblis dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah  ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adam” lalu mereka sujud kecuali  iblis,  ia menolak dan takabur,  dan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:35). 
     Ungkapan  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ -- “kecuali iblis” dipakai untuk memberi arti “kekecualian.” Dalam bahasa Arab istitsna (kekecualian) ada dua macam:
(1)               Istitsna muttashil artinya kekecualian pada saat sesuatu yang dikecualikan itu termasuk golongan atau jenis yang sama dengan golongan atau jenis yang darinya hendak dibuat kekecualian itu;
(2)                Istitsna munqathi, yaitu  kekecualian pada saat sesuatu yang dikecualikan itu termasuk golongan atau jenis lain.
        Dalam ayat ini kata illa menunjuk kepada kekecualian terakhir karena iblis bukan dari kalangan malaikat,  karena iblis bersikap bertentangan dengan sifat malaikat yang senantiasa melaksanakan kehendak Allah Swt. sepenuhnya (QS.66:7), sedang iblis dikatakan: اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ  -- “ia menolak dan takabur,  dan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:35),   dikatakan iblis  berasal dari kalangan jin, firman-Nya:
وَ اِذۡ  قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ مِنَ  الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَ ہُمۡ  لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ بِئۡسَ  لِلظّٰلِمِیۡنَ  بَدَلًا ﴿﴾  
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikatاسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ --  "Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam," maka  sujudlah mereka  kecuali iblis, کَانَ مِنَ  الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ   --  ia adalah dari golongan jin  maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya). Apakah kamu hendak mengambil dia dan keturunannya sebagai sahabat-sahabat selain Aku, padahal mereka itu musuh-musuh kamu? Sangat buruk  bagi orang-orang yang zalim pertukaran itu. (Al-Kahf [18]:51).

Perbedaan Iblis  dengan Syaitan

    Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.  (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
        Jadi, berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.   oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
      Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan   dari kalangan para malaikat, sebab ia dalam Al-Quran  dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swt.,  sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).
       Allah Swt.  telah murka kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s.   tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis, perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga (pengendali) berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
     Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali  luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..   
     Bahwa iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s.  dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang berbeda dari para malaikat   dan  menolak berbakti (sujud) kepada Adam a.s.   maka senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis (QS.12:19), tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam a.s.   harus hijrah dari “kebun” (jannah) maka Al-Quran menyebutnya dengan nama  syaitan (QS.7:20-26). 
       Perbedaan ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran, sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35 & 37; QS.7:12 & 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan ia merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s.  sendiri.

Fungsi Perintang yang Diletakkan Syaitan  

       Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang Allah Swt., firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ  اَبَوَیۡکُمۡ  مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ  لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali membiarkan syaitan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang-tua kamu dari kebun, ia menanggalkan pakaian keduanya itu untuk  menampakkan kepada keduanya  aurat mereka, اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ -- sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihat kamu dari tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya  Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu  sahabat-sahabat bagi orang-orang yang tidak beriman.     (Al-A’rāf [7]:12-13).
  Ruh jahat yang disebut syaitan dan mereka yang sebangsanya, pada umumnya tidak nampak oleh mata. Mereka mempergunakan pengaruh secara tidak nampak dan mencari-cari kelemahan-kelemahan tersembunyi pada diri manusia agar dapat membuatnya tetap mengumbar kelakuan jahatnya.
  Allah Swt.  telah menciptakan syaitan hanya sebagai ujian bagi manusia. Syaitan berlaku sebagai perintang dalam perlombaan ruhani yang sedang dihadapi manusia. Perintang-perintang itu dimaksudkan tidak sebagai penghambat melainkan untuk menciptakan persaingan dalam perlombaan itu dan melipatgandakan upaya mereka.
Mereka yang tidak berhati-hati dan lalai, yaitu mereka yang tergelincir karena rintangan-rintangan itu dan kemudian kalah dalam perlombaan harus menyesali diri mereka sendiri dan jangan menyalahkan  orang atau orang-orang yang menempatkan perintang-perintang di jalan mereka untuk mencoba dan menguji ketabahan  serta keteguhan mereka di jalan Allah Swt..

Syaitan dari Kalangan Manusia

  Sebutan syaitan dalam firman Allah Swt. berikut ini tidak merujuk kepada makhluk halus  melainkan kepada manusia-manusia syaitan yang menentang dan berusaha menggagalkan missi suci para Rasul Allah menegakkan Tauhid Ilahi,  yaitu   dalam rangka menghapuskan berbagai bentuk “kemusyrikan” yang dilakukan kaumnya   (QS.30:31-33 & 42-44), firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ مِنۡ رَّسُوۡلٍ وَّ لَا نَبِیٍّ  اِلَّاۤ  اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ ۚ فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ ؕ وَ  اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿ۙ﴾    لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ  قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿ۙ﴾  وَّ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اِلٰی  صِرَاطٍ  مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Dan Kami tidak pernah mengirim seorang rasul dan tidak pula seorang nabi melainkan apabila ia menginginkan sesuatu اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ  -- maka syaitan meletakkan hambatan pada jalan apa yang diusahakannya, فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ  -- tetapi Allah melenyapkan hambatan yang diletakkan oleh syaitan, ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ ؕ وَ  اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ  --  kemudian Allah meneguhkan Tanda-tanda-Nya, dan Allah itu Maha Tahu, Maha Bijaksanaلِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ  قُلُوۡبُہُمۡ   -- Itu terjadi   supaya Dia menjadikan rintangan yang diletakkan oleh syaitan sebagai ujian bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit  dan mereka yang hatinya keras,  وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ -- dan se-sungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat. وَّ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ --  Dan supaya  diketahui oleh orang-orang yang diberi ilmu  sesungguhnya Al-Quran itu adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau  فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ  -- lalu    mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya, وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اِلٰی  صِرَاطٍ  مُّسۡتَقِیۡمٍ  --  dan sesungguhnya Allah pasti memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus. (Al-Hajj [22]:53-55). Lihat pula QS.6:112-115.
      Arti ayat-ayat ini amat jelas. Ayat 53  bermaksud mengemukakan, bahwa apabila seorang nabi Allah  ingin mencapai tujuannya, yaitu bila ia menyampaikan amanat kebenaran dan menginginkan supaya  Ke-Esa-an Ilahi dapat ditegakkan di muka bumi, lalu  orang-orang yang bersifat syaitan, berusaha menghambat majunya kebenaran, dengan meletakkan segala macam rintangan  -- antara  lain berupa berbagai fitnah keji  serta kedustaan lainnya -- pada jalannya. Mereka ingin melihat misi  Rasul Allah itu  mengalami kegagalan.

Duel Makar” yang Selalu Dimenangkan Allah Swt.

       Tetapi “manusia-manusia syaitan”  itu tidak dapat menghancurkan rencana Ilahi, dan  Allah Swt.   menghilangkan semua hambatan dan membuat tujuan kebenaran itu memperoleh keunggulan dan kemenangan, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.   کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ   --   Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.” اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujadalah [58]:21-22).
 Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan. Dan Sunnatullah tersebut terjadi pula di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ ﴿﴾  فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾  یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ ﴿﴾ وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾  سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ ﴿ۙ﴾  لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾  ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Dan  sungguh  mereka telah melakukan makar mereka, tetapi makar mereka ada di sisi Allah, وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ -- dan  jika sekali pun  makar mereka dapat me-mindahkan gunung-gunung. فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ  --  Maka janganlah engkau sama sekali menyangka  bahwa  Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ  --  sesungguhnya  Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan.  یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ  --  Pada hari ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain, dan begitu pula seluruh langit, dan mereka akan tampil menghadap Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa.  وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ --  Dan  engkau akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat dengan rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ --  Baju mereka dari pelangkin (ter), dan wajah mereka akan tertutup  api. لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ  --  Supaya Allah membalas setiap jiwa  apa yang telah diusahakannya, اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ  --  sesungguhnya penghisaban Allah sangat cepat.   ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ  -- Al-Quran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya dengannya mereka mendapat peringatan, dan supaya mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, dan supaya orang-orang yang berakal memberikan perhatian. (Ibrahim [14]:47-53).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 7 Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar