Selasa, 21 Juni 2016

Dua Kali "Azab Ilahi" yang Menimpa Bani Israil Merupakan "Nubuatan" dan "Peringatan" Allah Swt. Kepada Bani Isma'il (Umat Islam) Karena Melakukan Kesalahan yang Sama Dengan Bani Israil

Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


DUA KALI AZAB ILAHI YANG MENIMPA BANI ISRAIL MERUPAKAN NUBUATAN DAN PERINGATAN ALLAH SWT. BAGI BANI ISMA’IL (UMAT ISLAM) KARENA MELAKUKAN KESALAHAN YANG SAMA  DENGAN BANI ISRAIL

Bab 71

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    dua hukuman Ilahi yang menimpa  Bani Israil.  Kutukan Nabi Daud a.s.  mengakibatkan   Bani Israil dihukum oleh raja Nebukadnezar dari Babilonia, yang menghancurluluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi (QS.2:60; QS.17:5-6),  sedangkan akibat kutukan Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat  ketika  Titus dari kerajaan Romawi yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi  membinasakan kota Yerusalem dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu (QS.17:7-8; Matius QS.23:37-39 & 24:15-22).
       Walau pun kedua orang penyerang tersebut merupakan orang-orang musyrik, tetapi Allah Swt. menyebut keduanya  dengan sebutan “hamba-hamba Kami”: بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ  --   Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat.” Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ   فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali,  dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا --  Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu, بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ  --   Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyatفَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ --  maka mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا  -- dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا    --  Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar   dari sebelumnya. (Bani Israil [17]:5-7).

Kutukan Nabi Daud a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s.

     Dua kedurhakaan besar Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam ayat tersebut.  Sebagaimana telah dikemukaan sebelumnya,  orang-orang  Bani Israil yang tidak beriman telah dua kali dikutuk  yaitu oleh Nabi Daud  a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81), dan sebagai akibatnya mereka telah dihukum Allah Swt.  pula dua kali, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ --  yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal. وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ  --  Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, dan kepada Nabi ini   dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ --  mereka sekali-kali  tidak akan mengambil  orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya, وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ -- tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq  (Al-Maidah [5]:79-82).
 Azab Ilahi yang pertama menimpa Bani Israil sesudah Nabi Daud a.s. (QS.2:260) dan yang kedua sesudah upaya pembunuhan melalui penyaliban terhadap  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.4:156-159).
       Nampak dari Bible bahwa    setelah Bani Israil terlunta-lunta di gurun pasir selama 40 tahun   --akibat menolak ajakan Nabi Musa a.s. bersama Nabi Harun a.s.  untuk memasuki  “negeri yang dijanjikan” kepada mereka   (QS.5:21-27)  --  Bnai Israil dibawah pimpinan Thalut (Gideon)  Bani Israil   telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat, dan mencapai  puncak kejayaannya di masa pemerintahan  Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.  (QS.2:244-253).
      Tetapi setelah Nabi Sulaiman a.s. wafat  kerajaan Bani Israil itu menjadi sasaran kemunduran yang berangsur-angsur, karena dipimpin oleh para penerus yang digambarkan Al-Quran sebagai “jasad tak bernyawa yang duduk di atas singgasananya   (QS.38:35) dan munculnya “rayap bumi”  yakni para pendurhaka (QS.34:15; I Raja-raja fs 12, 13, 14 & Jewish Encyclopaedia di bawah Rehoboam). 
   Akibatnya sekitar 733 s.M. Samaria ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang mencaplok seluruh daerah Israil di sebelah utara Yezreel. Pada tahun 608 s.M., Palestina telah dilanda oleh satu lasykar Mesir di bawah Fir’aun Necho, dan Bani Israil takluk kepada kekuasaan Mesir (Yewish  Encyclopaedia, Jilid 6, halaman 665).
     Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi Bani Israil  serta kehancuran dan ketelantaran mereka tidak mendorong mereka untuk memperbaiki cara-cara mereka. Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara buruk mereka yang lama. Nabi Yermiah a.s. telah  memperingatkan mereka supaya meninggalkan cara-cara buruk mereka, sebab kemurkaan Allah tidak lama lagi akan menimpa mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan-peringatan Nabi Yermiah a.s. . tersebut.
       Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar dari Babilonia melancarkan serbuan pertamanya ke Palestina dan membawa pulang perkakas rumah peribadatan, tetapi ketika itu kota Yerusalem sendiri selamat dari kekejaman akibat pengepungan. Pada tahun 597 s.M. pun kota itu kembali dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan yang sangat keras.
       Tetapi pemberontakan raja Zedekia membawa akibat adanya serbuan kedua oleh Nebukadnezar pada tahun 587 s.M., dan sesudah masa pengepungan yang berlangsung satu tahun setengah, kota itu ditaklukkan dengan serangan cepat laksana halilintar. Putra-putranya dibunuh dan matanya sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babil. Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish Encyclopaedia, Jilid 6, hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”).

Hubungan Nabi Yehezkiel a.s.  Dengan   “Kebangkitan” Kembali Kota Yerusalem yang Hancur

        Kehancuran kota Yerusalem tersebut dalam Al-Quran digambarkan  dalam firman-Nya berikut ini:
اَوۡ کَالَّذِیۡ مَرَّ عَلٰی قَرۡیَۃٍ وَّ ہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا ۚ قَالَ اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ  اللّٰہُ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ۚ فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ ؕ قَالَ کَمۡ لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ مِائَۃَ عَامٍ فَانۡظُرۡ  اِلٰی طَعَامِکَ وَ شَرَابِکَ لَمۡ یَتَسَنَّہۡ ۚ وَ انۡظُرۡ اِلٰی حِمَارِکَ وَ لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ انۡظُرۡ اِلَی الۡعِظَامِ کَیۡفَ نُنۡشِزُہَا ثُمَّ نَکۡسُوۡہَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَہٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ  اَنَّ اللّٰہَ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Atau  seperti perumpamaan orang yang melalui suatu kota  yang  dinding-dindingnya telah runtuh    atas atap-atapnya, kemudian ia berkata: “Kapankah Allah akan menghidupkan kembali kota ini sesudah  kematian  yakni kehancurannya?” Lalu Allah mematikannya seratus tahun  lamanya, kemudian Dia membangkitkannya lagi dan berfirman: “Berapa lama-kah engkau tinggal dalam keadaan seperti ini?” Ia berkata: “Aku tinggal sehari atau sebagian hari. Dia berfirman:  “Tidak, bahkan engkau telah tinggal seratus tahun  lamanya. Tetapi lihatlah makanan engkau dan minuman engkau, itu sekali-kali tidak membusuk, dan lihat pulalah keledai engkau, وَ لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ  -- dan Kami melakukan demikian itu supaya Kami menjadikan engkau sebagai Tanda bagi manusia. Dan  lihatlah tulang-belulang itu bagaimana Kami menatanya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala kenyataan ini menjadi jelas baginya ia berkata: “Aku mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah berkuasa atas segala se-suatu.  (Al-Baqarah [2]:260).
     Kota hancur yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah Yerusalem, dibinasakan oleh Nebukadnezar, Raja Babilonia (Babel), pada tahun 599 sebelum Masehi. Nabi Yehezkiel a.s. ada di antara orang-orang Yahudi yang diboyong balatentara Nebukadnezar sebagai tawanan perang ke Babil dan diharuskan melalui kota yang telah dibinasakan itu dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.
      Nabi Yehezkiel a.s. tentu  sangat terkejut melihat pemandangan menyedihkan itu dan berdoa kepada Allah Swt. dengan kata-kata yang penuh keharuan luar biasa, kapan kiranya kota yang hancur itu akan dihidupkan (dibangun) kembali. Doa Nabi Yehezkiel a.s. makbul dan kepada beliau diperlihatkan kasyaf (penglihatan ruhani) bahwa pembangunan kembali kota yang dimintakan dalam doa beliau itu akan terjadi dalam waktu 1000 tahun.
       Ayat itu tidak mengandung arti bahwa Nabi Yehezkiel a.s. sungguh-sungguh mati selama 100 tahun. Beliau hanya melihat kasyaf (penglihatan gaib dalam keadaan bangun; vision) bahwa beliau mati dan tetap dalam keadaan mati selama 100 tahun dan kemudian hidup kembali. Al-Quran kadang-kadang menyebut pemandangan-pemandangan dalam kasyaf seolah-olah sungguh-sungguh terjadi tanpa menyatakan bahwa penglihatan-penglihatan itu disaksikan dalam kasyaf atau mimpi (QS.12:5).
     Kasyaf itu menunjukkan  -- dan Nabi Yehezkiel a.s.  pun   paham akan artinya  -- bahwa Bani Israil selama kira-kira 100 tahun akan tetap dalam keadaan tawanan dan keadaan kemunduran nasional secara total, maka sesudah itu mereka akan mendapat kehidupan baru dan akan kembali ke kota suci mereka. Dan ini sungguh-sungguh telah terjadi seperti Nabi Yehezkiel a.s.  telah melihatnya dalam mimpi (kasyaf).

Nabi Yehezkiel a.s. Sebagai Simbul  Kebangkitan  Orang-orang Yahudi

     Yerusalem direbut oleh Nebukadnezar pada tahun 599 sebelum Masehi (2 Raja-raja 24: 10). Nabi Yehezkiel a.s. mungkin melihat kasyaf pada tahun 586 sebelum Masehi. Kota itu didirikan kembali kira-kira seabad sesudah  kehancurannya. Pembangunannya kembali dimulai pada 537 sebelum Masehi dengan izin dan bantuan Cyrus (Koresy) Raja Persia dan Midia  -- Al-Quran menyebutnya Dzulqarnain (QS.18:84-99 -- dan selesai pada tahun 515 sebelum Masehi. Orang-orang Bani Israil masih memerlukan 15 tahun lagi untuk menghuninya dan dengan  demikian pada hakikatnya seabad telah lewat antara hancurnya Yerusalem dan dihidupkannya kembali.
     Adalah pendapat kekanak-kanakan   jika  ayat tersebut diartikan  bahwa Allah Swt.  sungguh-sungguh mematikan dan membiarkan Nabi Yehezkiel a.s. mati selama 100 tahun dan kemudian menghidupkan beliau kembali, sebab hal itu niscaya tidak akan merupakan jawaban atas doanya yang bukan mengenai kematian dan kebangkitan kembali seseorang tertentu melainkan mengenai sebuah kota   -- yakni Yerusalem --  yang menampilkan suatu kaum seutuhnya (Matius 23:37-39).
      Jadi,  Nabi Yehezkiel a.s.  menampilkan dalam diri beliau seluruh bangsa Yahudi dan wafatnya secara simbolis 100 tahun melukiskan keruntuhan nasional mereka dan kesedihan selama dalam tawanan, sebab itulah masa yang sesudahnya  orang-orang Yahudi  bangkit kembali. Itulah sebabnya mengapa Nabi Yehezkiel a.s.   disebut “menjadi suatu Tanda.”:    وَ لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ  -- d”an Kami melakukan demikian itu supaya Kami menjadikan engkau sebagai Tanda bagi manusia”.  Lihat pula Kitab Yehezkiel, fasal 37.
      Orang-orang Yahudi menyesuaikan diri mereka dengan keadaan baru di masa pembuangan. Kebanyakan di antara mereka telah dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan umum di Babil Tengah, dan banyak dari mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan dan mencapai kedudukan yang berpengaruh. Keyakinan dan pengabdian mereka kepada agama telah bangkit kembali; kepustakaan kerajaan dipelajari, diterbitkan kembali, dan disesuaikan dengan keperluan kaum yang sedang hidup kembali itu, serta harapan untuk mereka kembali ke Palestina telah dikobarkan dan dipupuk.
        Kira-kira pada tahun 545 s.M., cita-cita ini memperoleh bentuk lebih jelas. Kaum Yahudi membuat suatu perjanjian rahasia dengan Cyrus, raja Media dan Persia, dan membantu beliau menaklukkan Babil (lihat kisah Harut dan Marut  dalam QS.2:103). Kota itu dalam bulan Juli tahun 539 s.M. jatuh kepada tentaranya tanpa perlawanan.
Sebagai ganjaran atas jasa-jasa mereka, Cyrus mengizinkan orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan juga membantu mereka membangun kembali rumah peribadatan mereka (Historians’ History of the World, jilid II, hlm. 126; Jewish Encyclopaedia, jilid 7, pada kata “Cyrus”, dan 2 Tawarikh 36:22, 23).
     Syesybazzar (seorang gubernur Cyrus) yang berasal dari Yudea, membawa kembali ke rumah peribadatan itu alat-alat  dan perkakas yang telah dirampas oleh Nebukadnezar dan merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini dengan membelanjakan uang kerajaan. Sejumlah besar orang buangan kembali ke Yerusalem (Ezra, 1:3-5).
      Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan di Yerusalem berangsur-angsur maju terus dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian ini dan kejayaan serta kesejahteraan orang-orang Yahudi berikutnya itulah yang diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi semuanya itu telah dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s.  jauh sebelum hal itu sungguh-sungguh terjadi (Ulangan 30:1-5).

Hukuman Ilahi yang Kedua Kali Kepada Bani Israil

      Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. selanjutnya dalam surah Bani Israil yang sedang  membahas  2 kali hukuman Allah Swt. kepada Bani Israil:
اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri.  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ   -- Lalu apabila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu  dan supaya mereka memasuki masjid کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ  -- Boleh jadi kini Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا  -- Kami telah jadikan Jahannam sebagai penjara bagi orang-orang kafir   (Bani Israil [17]:8-9).
   Ayat ini membicarakan jatuhnya kembali orang-orang Yahudi ke lembah keburukan, dan tentang azab yang menimpa mereka sebagai akibatnya. Mereka menentang dan menganiaya Nabi Isa ibnu Maryam a.s serta berusaha membunuh beliau pada palang salib dan memusnahkan pergerakan beliau. Oleh sebab itu  Allah Swt. kembali  menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras, ketika pada tahun 70 M. pasukan-pasukan Romawi di bawah pimpinan Titus melanda negeri itu, dan di tengah-tengah kejadian-kejadian mengerikan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah itu, kota Yerusalem telah dihancurkan dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman dibumihanguskan (Encyclopaedia Biblica pada kata “Yerusalem”). Malapetaka itu terjadi ketika Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. masih hidup di Kasymir (QS.23:51).  Hal ini pun dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. (Ulangan 32: 18-26).

Nubuatan dan Peringatan Bagi Umat Islam

     Perlu pula dicatat di sini, bahwa nubuatan mengenai azab kedua kali itu telah disebut dalam Bible sesudah adanya nubuatan yang membicarakan hukuman pertama (Ulangan Bab 28). Lebih dari itu, bahkan nubuatan ini disebut sesudah nubuatan mengenai kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem (Ulangan 30:1-5). Hal ini menunjukkan, bahwa nubuatan ini (Ulangan 32:18-26) menunjuk kepada azab yang kedua, yang telah disinggung dalam Al-Quran, yaitu  لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  --  “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan  besar di muka bumi ini dua kali.” (QS.17:5), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali,  dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” (Bani Israil [17]:5).
Firman Allah Swt.  dalam surah  Bani Israil [17]:8-9   mengandung peringatan bagi umat Islam, bahwa seperti orang Yahudi mereka pun akan dihukum Allah Swt.  dua kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Tetapi  umat Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk; dan oleh karena itu telah dihukum dua kali.
     Hukuman Ilahi  yang pertama  menimpa mereka, ketika kota Baghdad jatuh pada tahun 1258 M. Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang  biadab itu sama sekali memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang agung itu, dan konon kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu. Tetapi dari malapetaka yang mengerikan itu akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk agama Islam.
     Hukuman Ilahi kedua telah ditakdirkan  Allah Swt. akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman ini berupa penyebaran  bangsa-bangsa Kristen dari Barat -- yang disebut Al-Quran dan Bible sebagai penyebaran  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog- QS.21:96-97) atau “pelepasan Iblis” dari  pemenjaraannya selama 1000 tahun (Wahyu 20:7-10),  dan mereka    menyerbu ke wilayah-wilayah kekuasaan umat Islam, termasuk ke  wilayah Nusantara dan bercokol selama 350 tahun.

Berdirinya “Negara Israel” di Wilayah Palestina

      Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakikatnya kembalinya bangsa Yahudi ke Palestina  -- dari  pengembaraan  mereka selama 2000 tahun, sejak  pengusiran mereka oleh serbuan Titus ke Yerusalem  -- adalah bagian dari “hukuman” Allah Swt. kepada umat Islam melalui penyerbuan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.18:95-99; QS.21:96-97), berupa  menyebarnya bangsa-bangsa Kristen dari Barat pada abad ke 17 Masehi, yang berhasil memanfaatkan “energi api”, baik bagi  kekuatan militernya mau pun bagi  sarana transfortasi  mereka,   sehingga  Nabi Besar Muhammad saw. menyebutnya sebagai “makanan” keledai Dajjal,    sebagai hasil dari “Revolusi Industri”, firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  لِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia, Kami berfirman kepada Bani Israil:  اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ --  Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu,  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  -- dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا --    Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.” (Bani Israil [17]:105).
       Kembali kepada   surah Bani Israil [17]:8-9, ayat-ayat  ini mengandung arti bahwa seperti orang-orang Yahudi demikian juga  umat Islam pun dua kali akan menderita bencana nasional sebagai hukuman Ilahi. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa  yang pertama dari kedua bencana ini menimpa umat Islam ketika kota Baghdad jatuh kepada kekuasaan bangsa Tartar di bawah pimpinan Hulaku Khan.
       Mereka di sini diberitahu, bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman, di masa Masih Mau’ud a.s., seperti orang-orang Yahudi diberi hukuman di zaman Al-Masih pertama - Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..  Ayat ini berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum untuk kedua kalinya, yang berarti sempurnanya “janji mengenai akhir zaman”, maka orang-orang Yahudi akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina) dari semua penjuru dunia.
     Nubuatan ini telah menjadi sempurna dengan cara yang luar biasa dengan kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina dengan perantaraan “Balfour Declaration” (Pernyataan Balfour) pada tahun 1948 dan dengan didirikannya apa yang dikatakan Negara Israil. “Janji mengenai akhir zaman” itu, bertalian dengan masa Masih Mau’ud a.s.  (Bayan). Dengan demikian genap pulalah nubuatan dalam Bible berikut ini:
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,    Iblis akan dilepaskan    dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa    pada keempat penjuru bumi,   yaitu Gog dan Magog,   dan mengumpulkan mereka untuk berperang   dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.    20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung   perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi    itu. Tetapi dari langit    turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka,    dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang,   yaitu tempat binatang dan nabi palsu   itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.   (Wahyu 20:7-10).

(Bersambung)
            
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 16  Juni    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar