Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
DUA KALI AZAB ILAHI YANG
MENIMPA BANI ISRAIL MERUPAKAN NUBUATAN DAN PERINGATAN ALLAH SWT. BAGI
BANI ISMA’IL (UMAT ISLAM) KARENA
MELAKUKAN KESALAHAN YANG SAMA DENGAN BANI
ISRAIL
Bab 71
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan dua hukuman
Ilahi yang menimpa Bani Israil. Kutukan
Nabi Daud a.s. mengakibatkan Bani
Israil dihukum oleh raja Nebukadnezar dari Babilonia, yang
menghancurluluhkan Yerusalem dan
membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan
pada tahun 556 sebelum Masehi (QS.2:60; QS.17:5-6), sedangkan akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat ketika Titus dari kerajaan Romawi yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi membinasakan kota Yerusalem dan menodai
rumah-ibadah dengan jalan menyembelih
babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah
itu (QS.17:7-8; Matius QS.23:37-39
& 24:15-22).
Walau pun kedua orang penyerang tersebut merupakan orang-orang musyrik, tetapi Allah Swt.
menyebut keduanya dengan sebutan “hamba-hamba Kami”: بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan
tempur yang dahsyat.” Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri
dengan kesombongan yang sangat besar.”
فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا -- Apabila datang
saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua janji itu, بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan
tempur yang dahsyat, فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ -- maka mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,
وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- dan
itu merupakan suatu janji yang pasti
terlaksana. ثُمَّ رَدَدۡنَا
لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ
اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا -- Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. (Bani Israil
[17]:5-7).
Kutukan Nabi
Daud a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s.
Dua kedurhakaan besar Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan
28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam ayat tersebut. Sebagaimana telah dikemukaan sebelumnya, orang-orang
Bani Israil yang tidak beriman telah dua kali dikutuk
yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81), dan sebagai akibatnya mereka telah
dihukum Allah Swt. pula dua kali, firman-Nya:
لُعِنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا
یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ
ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ
النَّبِیِّ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا
اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ
کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari
kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,
hal demikian itu karena mereka
senantiasa durhaka dan melampaui
batas. Mereka tidak pernah saling mencegah dari kemungkaran
yang dikerjakannya, benar-benar sangat buruk apa yang
senantiasa mereka kerjakan. Engkau
melihat kebanyakan dari mereka
menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung,
dan benar-benar sangat buruk apa yang
telah mereka dahulukan bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, dan di dalam azab
inilah mereka akan kekal. وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ
النَّبِیِّ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ -- Dan seandainya mereka beriman kepada Allah, dan kepada Nabi ini dan kepada
apa yang diturunkan kepadanya, مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ -- mereka
sekali-kali tidak akan mengambil orang-orang
itu sebagai pelindung-pelindungnya, وَ لٰکِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq (Al-Maidah [5]:79-82).
Azab Ilahi yang pertama menimpa Bani Israil sesudah Nabi Daud a.s.
(QS.2:260) dan yang kedua sesudah upaya pembunuhan melalui penyaliban
terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.4:156-159).
Nampak dari Bible bahwa setelah Bani
Israil terlunta-lunta di gurun pasir selama 40 tahun --akibat menolak ajakan Nabi Musa a.s. bersama Nabi Harun a.s. untuk memasuki “negeri
yang dijanjikan” kepada mereka (QS.5:21-27) -- Bnai
Israil dibawah pimpinan Thalut
(Gideon) Bani Israil telah menjadi
suatu bangsa yang amat kuat, dan mencapai puncak
kejayaannya di masa pemerintahan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. (QS.2:244-253).
Tetapi setelah Nabi Sulaiman a.s. wafat kerajaan Bani
Israil itu menjadi sasaran kemunduran
yang berangsur-angsur, karena dipimpin oleh para penerus yang digambarkan Al-Quran sebagai “jasad tak bernyawa yang duduk di atas singgasananya (QS.38:35) dan munculnya “rayap bumi” yakni para pendurhaka (QS.34:15; I Raja-raja fs 12, 13, 14 & Jewish
Encyclopaedia di bawah Rehoboam).
Akibatnya sekitar 733 s.M. Samaria
ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang
mencaplok seluruh daerah Israil di
sebelah utara Yezreel. Pada tahun 608 s.M., Palestina
telah dilanda oleh satu lasykar Mesir di bawah Fir’aun Necho, dan Bani Israil
takluk kepada kekuasaan Mesir (Yewish
Encyclopaedia, Jilid 6,
halaman 665).
Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi Bani Israil serta kehancuran
dan ketelantaran mereka tidak
mendorong mereka untuk memperbaiki
cara-cara mereka. Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara buruk mereka yang lama. Nabi Yermiah a.s. telah memperingatkan mereka supaya
meninggalkan cara-cara buruk mereka,
sebab kemurkaan Allah tidak lama lagi
akan menimpa mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan-peringatan Nabi Yermiah a.s. .
tersebut.
Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar
dari Babilonia melancarkan serbuan pertamanya ke Palestina dan membawa pulang
perkakas rumah peribadatan, tetapi ketika itu kota Yerusalem sendiri selamat dari kekejaman akibat pengepungan.
Pada tahun 597 s.M. pun kota itu kembali dikepung dan penduduknya mengalami
kelaparan yang sangat keras.
Tetapi pemberontakan raja Zedekia
membawa akibat adanya serbuan kedua oleh Nebukadnezar pada tahun 587 s.M., dan
sesudah masa pengepungan yang berlangsung satu tahun setengah, kota itu
ditaklukkan dengan serangan cepat laksana halilintar. Putra-putranya dibunuh
dan matanya sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babil.
Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem
dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah
besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish
Encyclopaedia, Jilid 6, hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada
kata “Yerusalem”).
Hubungan Nabi Yehezkiel a.s.
Dengan “Kebangkitan” Kembali Kota Yerusalem yang Hancur
Kehancuran kota Yerusalem tersebut dalam Al-Quran digambarkan dalam firman-Nya berikut ini:
اَوۡ
کَالَّذِیۡ مَرَّ عَلٰی قَرۡیَۃٍ وَّ ہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا ۚ قَالَ
اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ اللّٰہُ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ۚ فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ ؕ قَالَ کَمۡ
لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ
مِائَۃَ عَامٍ فَانۡظُرۡ اِلٰی طَعَامِکَ
وَ شَرَابِکَ لَمۡ یَتَسَنَّہۡ ۚ وَ انۡظُرۡ اِلٰی حِمَارِکَ وَ لِنَجۡعَلَکَ
اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ انۡظُرۡ اِلَی الۡعِظَامِ کَیۡفَ نُنۡشِزُہَا ثُمَّ
نَکۡسُوۡہَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَہٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Atau seperti
perumpamaan orang yang melalui suatu
kota yang dinding-dindingnya telah runtuh atas atap-atapnya, kemudian ia
berkata: “Kapankah Allah akan menghidupkan kembali kota ini sesudah
kematian yakni kehancurannya?”
Lalu Allah mematikannya seratus tahun
lamanya, kemudian Dia membangkitkannya lagi
dan berfirman: “Berapa lama-kah engkau
tinggal dalam keadaan seperti ini?” Ia berkata: “Aku tinggal sehari atau sebagian hari. Dia
berfirman: “Tidak, bahkan engkau telah tinggal
seratus tahun lamanya.
Tetapi lihatlah makanan engkau
dan minuman engkau, itu sekali-kali tidak membusuk, dan lihat pulalah
keledai engkau, وَ لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ -- dan Kami melakukan demikian itu supaya Kami menjadikan engkau sebagai
Tanda bagi manusia. Dan lihatlah tulang-belulang itu bagaimana Kami menatanya kembali,
kemudian Kami membalutnya dengan daging.”
Maka tatkala kenyataan ini menjadi jelas baginya ia berkata: “Aku mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah
berkuasa atas segala se-suatu.” (Al-Baqarah [2]:260).
Kota hancur yang dimaksudkan
dalam ayat ini ialah Yerusalem,
dibinasakan oleh Nebukadnezar, Raja
Babilonia (Babel), pada tahun 599 sebelum Masehi. Nabi Yehezkiel a.s. ada di antara orang-orang Yahudi yang diboyong
balatentara Nebukadnezar sebagai tawanan perang ke Babil dan diharuskan melalui
kota yang telah dibinasakan itu dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.
Nabi
Yehezkiel a.s. tentu sangat terkejut
melihat pemandangan menyedihkan itu dan berdoa kepada Allah Swt. dengan
kata-kata yang penuh keharuan luar biasa, kapan kiranya kota yang hancur itu akan dihidupkan
(dibangun) kembali. Doa Nabi Yehezkiel a.s. makbul dan kepada beliau
diperlihatkan kasyaf (penglihatan
ruhani) bahwa pembangunan kembali
kota yang dimintakan dalam doa beliau
itu akan terjadi dalam waktu 1000 tahun.
Ayat itu tidak mengandung arti bahwa Nabi Yehezkiel a.s. sungguh-sungguh
mati selama 100 tahun. Beliau hanya melihat kasyaf
(penglihatan gaib dalam keadaan bangun; vision) bahwa beliau mati dan tetap dalam keadaan mati selama
100 tahun dan kemudian hidup kembali.
Al-Quran kadang-kadang menyebut pemandangan-pemandangan
dalam kasyaf seolah-olah
sungguh-sungguh terjadi tanpa menyatakan bahwa penglihatan-penglihatan itu disaksikan dalam kasyaf atau mimpi
(QS.12:5).
Kasyaf itu
menunjukkan -- dan Nabi Yehezkiel a.s. pun paham
akan artinya -- bahwa Bani Israil selama kira-kira 100 tahun akan tetap dalam keadaan tawanan dan keadaan kemunduran nasional secara total, maka sesudah itu mereka akan
mendapat kehidupan baru dan akan
kembali ke kota suci mereka. Dan ini
sungguh-sungguh telah terjadi seperti Nabi
Yehezkiel a.s. telah
melihatnya dalam mimpi (kasyaf).
Nabi Yehezkiel a.s. Sebagai Simbul Kebangkitan Orang-orang Yahudi
Yerusalem direbut oleh
Nebukadnezar pada tahun 599 sebelum Masehi (2 Raja-raja 24: 10). Nabi
Yehezkiel a.s. mungkin melihat kasyaf
pada tahun 586 sebelum Masehi. Kota itu didirikan kembali kira-kira seabad
sesudah kehancurannya. Pembangunannya
kembali dimulai pada 537 sebelum Masehi dengan izin dan bantuan Cyrus (Koresy) Raja Persia dan Midia -- Al-Quran menyebutnya Dzulqarnain (QS.18:84-99 -- dan selesai pada tahun 515 sebelum
Masehi. Orang-orang Bani Israil masih memerlukan 15 tahun lagi untuk
menghuninya dan dengan demikian pada hakikatnya
seabad telah lewat antara hancurnya Yerusalem dan dihidupkannya kembali.
Adalah pendapat kekanak-kanakan jika ayat tersebut diartikan bahwa Allah Swt. sungguh-sungguh mematikan dan membiarkan Nabi Yehezkiel a.s. mati selama 100 tahun dan
kemudian menghidupkan beliau kembali,
sebab hal itu niscaya tidak akan merupakan jawaban
atas doanya yang bukan mengenai kematian dan kebangkitan kembali seseorang
tertentu melainkan mengenai sebuah kota
-- yakni Yerusalem -- yang
menampilkan suatu kaum seutuhnya (Matius 23:37-39).
Jadi, Nabi Yehezkiel a.s. menampilkan dalam diri beliau seluruh bangsa Yahudi dan wafatnya secara simbolis 100
tahun melukiskan keruntuhan nasional
mereka dan kesedihan selama dalam
tawanan, sebab itulah masa yang sesudahnya orang-orang
Yahudi bangkit kembali. Itulah
sebabnya mengapa Nabi Yehezkiel a.s. disebut “menjadi suatu Tanda.”: وَ
لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ -- d”an Kami melakukan demikian itu supaya Kami menjadikan engkau sebagai
Tanda bagi manusia”. Lihat pula
Kitab Yehezkiel, fasal 37.
Orang-orang Yahudi menyesuaikan diri mereka
dengan keadaan baru di masa pembuangan. Kebanyakan di antara mereka telah
dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan umum di Babil Tengah, dan banyak dari
mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan
dan mencapai kedudukan yang
berpengaruh. Keyakinan dan pengabdian mereka kepada agama telah bangkit kembali;
kepustakaan kerajaan dipelajari, diterbitkan kembali, dan disesuaikan dengan
keperluan kaum yang sedang hidup kembali itu, serta harapan untuk
mereka kembali ke Palestina telah
dikobarkan dan dipupuk.
Kira-kira pada tahun 545 s.M., cita-cita ini memperoleh bentuk lebih
jelas. Kaum Yahudi membuat suatu perjanjian
rahasia dengan Cyrus, raja Media dan Persia, dan membantu beliau menaklukkan Babil (lihat kisah Harut
dan Marut dalam QS.2:103). Kota itu dalam bulan Juli
tahun 539 s.M. jatuh kepada tentaranya tanpa perlawanan.
Sebagai ganjaran atas jasa-jasa
mereka, Cyrus mengizinkan orang-orang
Yahudi kembali ke Yerusalem dan juga
membantu mereka membangun kembali rumah
peribadatan mereka (Historians’
History of the World, jilid II, hlm. 126; Jewish Encyclopaedia, jilid 7, pada kata “Cyrus”, dan
2 Tawarikh 36:22, 23).
Syesybazzar (seorang gubernur Cyrus) yang
berasal dari Yudea, membawa kembali ke rumah peribadatan itu alat-alat dan perkakas yang telah dirampas oleh
Nebukadnezar dan merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini dengan
membelanjakan uang kerajaan. Sejumlah besar orang buangan kembali ke Yerusalem
(Ezra, 1:3-5).
Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan di Yerusalem berangsur-angsur maju terus
dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian ini dan kejayaan serta
kesejahteraan orang-orang Yahudi
berikutnya itulah yang diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi
semuanya itu telah dinubuatkan oleh
Nabi Musa a.s. jauh sebelum
hal itu sungguh-sungguh terjadi (Ulangan 30:1-5).
Hukuman
Ilahi yang Kedua Kali Kepada Bani
Israil
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. selanjutnya
dalam surah Bani Israil yang
sedang membahas 2 kali
hukuman Allah Swt. kepada Bani Israil:
اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا
عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ
اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ
عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا
جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿﴾
Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu untuk
dirimu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ -- Lalu apabila datang saat
sempurnanya janji yang kedua
itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin
kamu dan supaya mereka memasuki masjid کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- seperti
pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. عَسٰی رَبُّکُمۡ
اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ -- Boleh
jadi kini Rabb (Tuhan) kamu akan
menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika
kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا -- Kami telah jadikan Jahannam sebagai
penjara bagi orang-orang kafir (Bani Israil [17]:8-9).
Ayat
ini membicarakan jatuhnya kembali orang-orang
Yahudi ke lembah keburukan, dan tentang azab
yang menimpa mereka sebagai akibatnya. Mereka menentang dan menganiaya Nabi Isa ibnu Maryam a.s serta
berusaha membunuh beliau pada palang salib dan memusnahkan pergerakan
beliau. Oleh sebab itu Allah Swt.
kembali menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras, ketika pada
tahun 70 M. pasukan-pasukan Romawi di
bawah pimpinan Titus melanda negeri itu, dan di tengah-tengah
kejadian-kejadian mengerikan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah itu,
kota Yerusalem telah dihancurkan dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman dibumihanguskan (Encyclopaedia Biblica pada kata “Yerusalem”). Malapetaka itu terjadi ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. masih hidup di Kasymir
(QS.23:51). Hal ini pun dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. (Ulangan
32: 18-26).
Nubuatan dan Peringatan Bagi
Umat Islam
Perlu pula dicatat di sini, bahwa
nubuatan mengenai azab kedua kali itu telah disebut dalam Bible sesudah adanya nubuatan yang membicarakan hukuman
pertama (Ulangan Bab 28). Lebih dari itu, bahkan nubuatan ini disebut sesudah nubuatan mengenai kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem (Ulangan
30:1-5). Hal ini menunjukkan, bahwa nubuatan
ini (Ulangan 32:18-26) menunjuk kepada azab yang kedua, yang telah disinggung dalam Al-Quran, yaitu لَتُفۡسِدُنَّ
فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ -- “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan besar di muka bumi ini dua kali.”
(QS.17:5), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی
الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini
dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri
dengan kesombongan yang sangat besar.”
(Bani
Israil [17]:5).
Firman Allah Swt. dalam surah Bani Israil [17]:8-9 mengandung peringatan bagi umat Islam, bahwa seperti orang Yahudi mereka pun akan dihukum Allah Swt. dua kali, jika mereka tidak mau
meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk
mereka. Tetapi umat Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan yang
tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk; dan oleh karena itu telah dihukum dua kali.
Hukuman Ilahi yang pertama menimpa mereka, ketika kota Baghdad jatuh pada
tahun 1258 M. Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang biadab itu sama sekali memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang agung itu,
dan konon kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu. Tetapi
dari malapetaka yang mengerikan itu akhirnya Islam keluar sebagai pemenang.
Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk
agama Islam.
Hukuman Ilahi kedua telah ditakdirkan
Allah Swt. akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman ini berupa penyebaran bangsa-bangsa
Kristen dari Barat -- yang disebut Al-Quran
dan Bible sebagai penyebaran Ya’juj (Gog)
dan Ma’juj (Magog- QS.21:96-97) atau
“pelepasan Iblis” dari pemenjaraannya
selama 1000 tahun (Wahyu 20:7-10), dan mereka
menyerbu ke wilayah-wilayah
kekuasaan umat Islam, termasuk
ke wilayah Nusantara dan bercokol selama 350 tahun.
Berdirinya “Negara Israel”
di Wilayah Palestina
Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakikatnya
kembalinya bangsa Yahudi ke Palestina -- dari
pengembaraan mereka selama 2000 tahun, sejak pengusiran
mereka oleh serbuan Titus ke Yerusalem -- adalah bagian dari “hukuman” Allah Swt. kepada umat
Islam melalui penyerbuan Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog –
QS.18:95-99; QS.21:96-97), berupa
menyebarnya bangsa-bangsa Kristen
dari Barat pada abad ke 17 Masehi, yang berhasil memanfaatkan “energi api”, baik bagi kekuatan
militernya mau pun bagi sarana transfortasi mereka,
sehingga Nabi Besar Muhammad saw. menyebutnya sebagai
“makanan” keledai Dajjal, sebagai hasil dari “Revolusi Industri”, firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah
dia, Kami berfirman kepada Bani Israil:
اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ -- ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ -- dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا -- Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.”
(Bani Israil [17]:105).
Kembali kepada surah Bani
Israil [17]:8-9, ayat-ayat ini mengandung arti bahwa seperti orang-orang Yahudi demikian juga umat
Islam pun dua kali akan menderita bencana
nasional sebagai hukuman Ilahi.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa
yang pertama dari kedua bencana
ini menimpa umat Islam ketika kota Baghdad
jatuh kepada kekuasaan bangsa Tartar di
bawah pimpinan Hulaku Khan.
Mereka di sini diberitahu, bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman, di masa Masih Mau’ud a.s., seperti orang-orang
Yahudi diberi hukuman di zaman Al-Masih pertama - Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s.. Ayat ini berarti, bahwa
manakala umat Islam akan dihukum untuk kedua kalinya, yang
berarti sempurnanya “janji mengenai akhir zaman”, maka orang-orang Yahudi akan dihimpun kembali di tanah suci
(Palestina) dari semua penjuru dunia.
Nubuatan ini telah menjadi
sempurna dengan cara yang luar biasa dengan kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina
dengan perantaraan “Balfour Declaration” (Pernyataan Balfour) pada tahun
1948 dan dengan didirikannya apa yang dikatakan Negara Israil. “Janji
mengenai akhir zaman” itu, bertalian dengan masa Masih Mau’ud a.s. (Bayan). Dengan demikian genap
pulalah nubuatan dalam Bible berikut ini:
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,
Iblis
akan dilepaskan
dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi,
yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan
mereka untuk berperang dan jumlah
mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. 20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi,
lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan
ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi
palsu itu, dan mereka
disiksa siang malam sampai selama-lamanya. (Wahyu
20:7-10).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 16 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar