Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
PERBEDAAN KETIDAK-PATUHAN
MANUSIA DENGAN KETIDAK-PATUHAN IBLIS
(SYAITAN) & SAMBUTAN RUH MANUSIA TERHADAP TAUHID ILAHI YANG DISERUKAN
RASUL ALLAH
Bab 60
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai peran
atau fungsi syaitan dan para malaikat
bagi manusia, Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Beberapa
orang bodoh mengemukakan keberatan atas eksistensi (keberadaan) syaitan,
sepertinya Tuhan Sendiri
menginginkan manusia menjadi sesat. Tidak demikian keadaannya.
Setiap orang yang berfikir bisa memahami bahwa setiap manusia memiliki dua
fitrat, yaitu yang satu disebut sebagai sentuhan syaitan dan yang lainnya sentuhan malaikat.
Dengan kata
lain, fitrat manusia memperlihatkan bahwa tanpa diketahui penyebabnya
terkadang muncul fikiran baik
dalam kalbunya yang membawanya kepada perbuatan-perbuatan bermanfaat, tetapi juga terkadang muncul fikiran
buruk yang menyeretnya kepada perbuatan keji dan dosa. Kekuatan yang
menjadi sumber fikiran jahat menurut
ajaran Al-Quran disebut sebagai syaitan dan kekuatan yang menjadi sumber
fikiran baik adalah malaikat.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 435, London, 1984).
Tidak Ada Paksaan
Dalam Agama dan Beragama
Sehubungan dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt.
berfirman:
وَ نَفۡسٍ وَّ
مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Dan demi jiwa dan penyempurnaannya, maka Dia
mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya. Sungguh
beruntunglah orang yang
mensucikannya, dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya. (Asy-Syams [91]:8-11).
Allah Swt.
telah menanamkan dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian
mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi
apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik.
Dengan kata lain Allah Swt. telah memberi kebebasan memilih kepada manusia untuk menentukan pilihan bagi jalan hidupnya,
namun demikian manusia tidak akan
dapat membebaskan diri dari akibat
baik atau akibat buruk dari pilihannya tersebut, sebagaimana firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟
فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ
شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ
سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ
یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ
سَآءَتۡ
مُرۡتَفَقًا ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِیۡعُ
اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ
عَمَلًا ﴿ۚ﴾ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہِمُ
الۡاَنۡہٰرُ یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ
مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ
سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ مُّتَّکِئِیۡنَ
فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ ؕ نِعۡمَ
الثَّوَابُ ؕ وَ حَسُنَتۡ
مُرۡتَفَقًا ﴿٪﴾
Dan
katakanlah: ”Inilah haq dari Rabb (Tuhan) kamu karena itu فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ -- barangsiapa
menghendaki maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki maka
kafirlah”, اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا -- sesungguhnya
Kami telah menyediakan bagi orang-orang
yang zalim itu api yang dinding-dindingnya mengepung mereka, وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ -- dan jika
mereka berteriak meminta tolong, mereka akan ditolong dengan air seperti lebur-an timah, yang akan menghanguskan wajah-wajah, بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ
مُرۡتَفَقًا -- sangat buruk minuman itu dan sangat buruk tempat tinggal itu! اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal
saleh, sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi
orang-orang yang mengerjakan amal baik. اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ -- Mereka itulah orang-orang yang bagi mereka ada kebun-kebun abadi
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.
یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ -- Mereka di
dalamnya akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian dari sutera halus berwarna hijau dan
sutera tebal, مُّتَّکِئِیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ -- mereka di dalamnya duduk bersandar pada dipan-dipan
yang indah, نِعۡمَ الثَّوَابُ ؕ وَ حَسُنَتۡ
مُرۡتَفَقًا -- Itulah
ganjaran yang sebaik-baiknya, dan tempat
istirahat yang indah. (Al-Kahf
[18]:30-32).
Oleh
karena "gelang-gelang emas" merupakan lambang
kerajaan, maka ayat یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ -- “Mereka di
dalamnya akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian dari sutera halus berwarna hijau dan
sutera tebal,” dapat
berarti bahwa orang-orang Islam akan menjadi penguasa
kerajaan-kerajaan yang luas dan kuat, serta akan menikmati kekuasaan, kehormatan, dan kemuliaan besar;
dan bahwa perempuan-perempuan mereka
akan mengenakan pakaian terbuat dari sutera halus dan kain sutera tebal terjalin dengan tenunan benang emas.
Nubuatan dalam ayat ini menjadi sempurna
ketika khazanah-khazanah dari kerajaan Parsi dan kerajaan Romawi telah diletakkan pada kaki orang-orang Arab ummi (buta huruf) yang biasanya mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit-kulit kasar dan dari bulu-bulu binatang.
Perbedaan Ketidak-patuhan Syaitan dengan Ketidakpatuhan
Manusia.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan hakikat
perbedaan ketidak-patuhan syaitan dan ketidak-patuhan
manusia kepada Allah Swt.:
“Ada
yang bertanya, mengapa syaitan tidak mematuhi Tuhan padahal ia mengimani eksistensi (keberadaan) dan Ketauhidan-Nya? Jawaban untuk itu ialah
ketidak-patuhannya itu tidak sama dengan bentuk ketidak-patuhan manusia, karena syaitan itu diciptakan sebagai cobaan
bagi manusia. Hal ini masih merupakan misteri yang seluk-beluknya belum diungkapkan kepada
manusia.
Sudah menjadi karakter manusia bahwa pada umumnya ia akan dibimbing ke jalan yang benar
jika memiliki pengetahuan tentang Tuhan-nya dengan baik, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:
اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ
الۡعُلَمٰٓؤُا
“Sesungguhnya
dari antara hamba-hamba Allah, hanya
mereka yang dilimpahi ilmu, takut kepada Allah” (Al-Fāthir [35]:29), sedangkan mereka
yang memiliki karakter syaitan
berada di luar ketentuan ini.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine
Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XXII, hlm. 122,
London, 1984).
Sebagaimana halnya fungsi
dan posisi para malaikat ibarat instrument pelaksana semua kehendak
Allah Swt. karena itu para malaikat tidak memiliki hasrat atau keinginan
(QS.66:7), demikian pula halnya dengan syaitan
(setan), yang telah ditetapkan Allah Swt. sebagai “instrument perintang” di jalan
Allah Swt. bagi manusia, yang tujuan
keberadaannya bukan untuk menjerumuskan manusia ke dalam pelanggaran dan dosa, melainkan
untuk meningkatkan berbagai “potensi akhlak dan ruhani”
manusia melalui pelaksanaan (pengamalan) perintah
Allah Swt. berupa syariat (aturan agama) sebagaimana yang dicontohkan oleh para Rasul
Allah, terutama Nabi Besar Muhammad
saw. (QS.3:32; QS.33:22).
Itulah sebabnya apabila manusia tersandung atau tergelincir dalam perjalanan
hidupnya oleh rintangan syaitan tidak bisa
menyalahkan pihak mana pun selain
dirinya, sebagaimana firman-Nya berikut ini berkenaan dengan fungsi syaitan:
وَ قَالَ الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ
اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا
کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ
اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ
فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ
مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ
بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu
janji yang benar, dan aku pun
menjanjikan kepada kamu tetapi aku
telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ
لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ
اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ
فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ -- dan aku
sekali-kali tidak
memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا
اَنۡفُسَکُمۡ -- Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri. مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ
وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ -- Aku
sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu
pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ -- Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya,
اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ
عَذَابٌ اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim
[14]:23). Lihat pula QS.15:43; QS.16:99-101;
QS.17:64-66.
Perintang Dalam Perlombaan
di Jalan Allah & Kisah Monumental
“Adam – Malaikat – Iblis”
Jadi, satu-satunya tugas syaitan yang telah
ditetapkan Allah Swt. adalah berusaha menggelincirkan
atau menyesatkan manusia dari jalan Allah Swt. sebagaimana tergambar
dalam “dialog” dalam kisah monumental “Adam – malaikat –
iblis” berikut ini, firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ
اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ
السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ مَا مَنَعَکَ اَلَّا
تَسۡجُدَ اِذۡ اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ
وَّ خَلَقۡتَہٗ مِنۡ
طِیۡنٍ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian Kami
memberi kamu bentuk, lalu Kami
berfirman kepada para malaikat: اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya kamu
kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ
السّٰجِدِیۡنَ -- maka mereka
bersujud kecuali iblis, ia
tidak termasuk orang-orang yang bersujud. قَالَ
مَا مَنَعَکَ اَلَّا تَسۡجُدَ
اِذۡ اَمَرۡتُکَ -- Dia berfirman: “Apa yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh
sepenuhnya ketika Aku memberi
perintah kepada engkau?” قَالَ اَنَا
خَیۡرٌ مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ
نَّارٍ وَّ خَلَقۡتَہٗ
مِنۡ طِیۡنٍ -- Ia
(Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada
dia, Engkau menciptakan aku dari api
dan Engkau menciptakan dia dari
tanah liat.” (Al-A’rāf [7]:12-13).
Makna manusia
diciptakan dari thīn (tanah-liat)
bahwa manusia dapat menuangkan wujud
akhlaknya ke dalam berbagai bentuk,
sebagaimana tanah liat mudah diberi bentuk apa pun oleh para pengrajin tembikar, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾ وَ
الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk. Dan sebelumnya Kami telah menjadikan jin dari api angin panas. (Al-Hijr
[15]:27-28).
Firman-Nya
lagi:
خَلَقَ
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾ وَ خَلَقَ الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ نَّارٍ ﴿ۚ﴾
Dia menciptakan manusia dari tanah
liat kering seperti
tembikar, dan Dia
menciptakan jin-jin dari nyala api.
(Ar-Rahmān [55]:15-16).
Ketiga surah Al-Quran tersebut menelaskan obyek yang sama, yaitu tentang asal
penciptaan manusia dan jin
-- yang darinya iblis berasal
(QS.18:51) – tetapi dengan rincian dan penggunaan istilah yang berbeda guna
saling memperkuat maknanya yang dimaksudkan oleh Allah Swt.. Jadi, dalam hal tersebut
tidak ada istilah ayat-ayat tersebut saling
bertentangan melainkan saling
memperkuat.
Makna “Shalshal” & Kemampuan “Berbicara”
Kejadian
manusia dari shalshal yakni tanah
liat yang kering mendenting kal-fakhkhār (seperti
tembikar) dapat diartikan bahwa manusia telah diciptakan dari zat yang di dalamnya tersembunyi kemampuan dan khasiat bicara. Seperti shalshal
mengeluarkan bunyi hanya bila dipukul oleh sesuatu dari luar, kata itu
dipergunakan di sini guna mengisyaratkan bahwa daya tanggap manusia adalah kemampuannya
menerima seruan Ilahi (QS.7:173-175).
Tiga bentuk perkataan (istilah)
telah dipergunakan dalam Al-Quran untuk menyatakan berbagai tingkat kejadian dan perkembangan ruhani manusia:
Tingkat pertama dinyatakan dengan kata-kata “Dia menciptakannya dari tanah kering”
(QS.3:60).
Tingkat kedua digambarkan dengan ungkapan “Dia-lah Yang telah
menciptakan kamu dari tanah liat” (QS.6:3), yang berarti bahwa sesudah
menerima percikan kalam Ilahi manusia
mendapat kekuatan (kemampuan) membedakan, yang dengan kekuatan (kemampuan) itu ia dapat memperbedakan antara benar
dan salah (QS.91:8-11).
Tingkat ketiga, yang telah disebut tingkat fakhar (tembikar) manusia diuji
dan dicoba serta diharuskan melewati api percobaan dan kesengsaraan, yang dalam kisah
monumental “Adam – malaikat – iblis” digambarkan berupakan penentangan yang dilakukan iblis dan para pengikutnya, yang menolak “sujud” kepada Adam (khalifah Allah)
ketika Allah Swt. memerintahkannya kepada para malaikat, sebab iblis
-- yang dijadikan dari api --menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam yang diciptakan dari “tanah liat”
Sesudah manusia menjalani berbagai ujian keimanan para tingkat ketiga tersebut dan
lulus dengan gemilang dari semua percobaan dan mencapai taraf kedewasaan ruhani, kemudian barulah ia
diterima di hadirat Ilahi,
sebagaimana halnya barang-barang tembikar
yang lulus dari proses pembakaran dalam tungku api yang dibuat pembuat tembikar serta akan mengalami
berbagai proses finishing selanjutnya yang akan membuatnya menjadi benda-benda
yang bernilai seni tinggi dan memiliki nilai jual yang jauh
berbeda dengan keadaan asalnya.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa diciptakannya manusia
(insan) dari shalshal (tanah
liat kering-denting) mengandung arti, bahwa ia telah diciptakan
dari zat yang di dalamnya terkandung
kemampuan dan sifat-sifat yang latent (tersembunyi) untuk berbicara.
Ada pun yang dimaksud dengan “berbicara” bukan dalam makna bicara secara lisan sebagaimana manusia umumnya, melainkan makna
“berbicara” adalah bahwa manusia dalam melaksanakan kewajiban mereka untuk beribadah
kepada Allah Swt. (QS.51:57) telah dianugerahi kekuatan (kemampuan) untuk menyambut suara dari langit yakni seruan
Ilahi yang dibawa oleh para Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
Allah Swt. kepada mereka (QS.3:191-196; QS.7:35-37).
Akan tetapi karena shalshal itu
mengeluarkan suara hanya apabila terkena sentuhan atau pukulan (benturan)
oleh sesuatu benda dari luar, maka
kata itu mengisyaratkan, bahwa kekuatan
manusia untuk menyambut itu
bergantung pada penerimaan dia
terhadap seruan Ilahi. Kemampuan manusia ini ini membuktikan
keunggulannya dari seluruh makhluk.
Kata hamā’ dalam ayat: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ
صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ -- “dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk” mengandung arti, bahwa manusia telah diciptakan
dari lumpur hitam, yakni campuran tanah (turab) dan air, ada pun falsafahnya adalah tanah
(turab) merupakan sumber tubuh jasmani,
dan air merupakan sumber
ruh. Itulah sebabnya manusia
merupakan perpaduan antara tubuh jasmani dengan ruhnya yang dibentuk dalam rahim ibu (QS.23:15).
Di lain tempat Al-Quran menyebutkan “tanah” (turab) dan “air”
secara terpisah sebagai benda-benda
yang darinya manusia telah diciptakan (QS.3:60; QS.21:31). Dengan
menggabungkan kata shalshal (tanah liat kering-denting) kepada kata hamā’
(lumpur hitam), Al-Quran bermaksud menunjukkan, bahwa di mana makhluk-makhluk bernyawa lainnya diciptakan dari hamā’ (lumpur hitam)
saja, yaitu dari tanah dan air — sebab mereka pun memiliki semacam ruh tertentu, tetapi tidak berkembang dengan sempurna — maka
sebaliknya manusia (insan) diciptakan
dari hamā’ (lumpur hitam) dipadukan dengan shalshal (tanah liat
kering denting), yang menunjukkan sifat
berbicara. Ia pun masnun, yakni diberi
bentuk yang sempurna (QS. 95:5).
Ayat وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ
صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ -- “dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk” tidak
berarti bahwa lumpur itu sekaligus
memperoleh bentuk suatu wujud yang hidup tatkala Allah Swt. menghembuskan
ruh ke dalamnya.
Sambutan “Ruh” Manusia Terhadap Tauhid
Firman Allah Swt. tersebut
menjelaskan perbedaan antara ruh yang dimiliki makhluk-makhluk
bernyawa lainnya dengan ruh manusia yang diberi kemampuan oleh Allah Swt. untuk “menyambut” (merespons) suara Ilahi atau Tauhid Ilahi, itulah
sebabnya Allah Swt. dalam ayat-ayat tersebut telah menyebut penciptaan insan (manusia) shalshalin
kalfakhkhār (tembikar bakaran) yang
telah diberi bentuk (QS.15:27; QS.55:27).
Firman Allah Swt. berikut ini mengisyaratkan mengenai “respons” ruh manusia terhadap seruan
Allah Swt.:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ
اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ
اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil
kesaksian dari bani
Adam yakni dari sulbi keturunan mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya
sendiri sambil berfirman: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی -- Mereka berkata: “Ya benar,
kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ
-- Hal itu
supaya kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- “Sesungguhnya
kami benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ
تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah
Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya
mereka kembali kepada yang haq. (Al-A’rāf
[7]:173-175).
Ayat 173
menunjukkan kepada kesaksian
yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam serta mengendalikannya (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk
kepada kemunculan para nabi Allah (QS.7:35-37) yang menunjuki jalan menuju Allah Swt. setelah manusia terjerumus ke dalam berbagai bentuk kemusyrikan (QS.30:31-33).
Ungkapan
ungkapan “dari sulbi bani Adam”
maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus (QS.7:35-37). Pada
hakikatnya keadaan tiap-tiap kedatangan rasul Allah yang dijanjikan itulah
yang mendorong timbulnya pertanyaan Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- “Bukankah Aku Rabb
(Tuhan) kamu?”
Pertanyaan Allah Swt. kepada “ruh” manusia tersebut berarti
bahwa jika Allah Swt. telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan
demikian pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian,
maka betapa manusia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.
Sesungguhnya karena menolak nabi Allah yang
kerdatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka mereka (QS.7:35-37)
maka manusia menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih
(alasan) bahwa mereka tidak mengetahui Allah Swt. atau tidak mengetahui syariat-Nya atau Hari
Pembalasan.
Tanggapan “Orang-orang Berakal” Terhadap Seruan
Rasul Allah
Ayat
174-175 menjelaskan bahwa kemunculan
seorang nabi Allah juga menghambat kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat
173 di atas, sebab pada saat itulah haq
(kebenaran) dibuat nyata berbeda
dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan terang benderang dicela, sebab -- sebagaimana
telah dijelaskan mengenai makna kata shalshalin
kalfakhkhār -- Allah Swt. telah
memberikan kemampuan kepada setiap ruh (jiwa) untuk merespons (menyambut) Tauhid
Ilahi yang disuarakan oleh para rasul Allah, terutama Nabi Besar
Muhammad saw., -- yang bahkan
bukti-bukti mengenai Tauhid Ilahi tersebut tanda-tandanya terdapat pada tatanan alam
semesta -- firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ
یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ
قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ ﴿﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta pertukaran
malam dan siang benar-benar
terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan
seluruh langit dan bumi seraya berkata: رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا -- “Ya
Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- Maha
Suci Engkau dari
perbuatan sia-sia maka peliharalah
kami dari azab Api.” (Ali
‘Imran [3]:191-192).
Pelajaran yang terkandung dalam penciptaan seluruh langit dan bumi dan dalam pergantian
malam dan siang ialah manusia
diciptakan untuk mencapai kemajuan ruhani
dan jasmani. Bila ia berbuat amal saleh maka masa kegelapannya dan masa
kesedihannya pasti akan diikuti
oleh masa terang benderang dan kebahagiaan.
Ayat 192 menjelaskan bahwa tatanan
agung yang dibayangkan pada ayat-ayat sebelumnya tidak mungkin terwujud tanpa suatu tujuan tertentu, dan karena seluruh alam ini telah dijadikan untuk menghidmati manusia, tentu saja kejadian manusia sendiri mempunyai tujuan yang agung dan mulia pula, yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57).
Bila orang merenungkan
tentang kandungan arti keruhanian
yang diserap dari gejala-gejala fisik
di dalam penciptaan seluruh alam dengan
tatanan sempurna yang melingkupinya
itu, ia akan begitu terkesan dengan
mendalam oleh kebijakan luhur Sang Al-Khāliq-nya
(Maha Pencipta-nya) lalu dengan serta-merta terlontar dari dasar lubuk hatinya seruan: رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا -- “Ya Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah
Engkau menciptakan semua ini sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- Maha
Suci Engkau dari
perbuatan sia-sia maka peliharalah
kami dari azab Api.”
Cetusan hati dari “orang-orang yang berakal” itu pun pada hakikatnya merupakan respons (tanggapan) dari ruh (jiwa) manusia mengenai Tauhid Ilahi sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah Al-A’rāf
ayat 173 sebelumnya: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی -- Mereka berkata: “Ya benar,
kami menjadi saksi.”
Bahkan respons (tanggapan) ruh
(jiwa) orang-orang yang mempergunakan
akalnya tersebut berlanjut dengan penyambutan mereka terhadap seruan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan yang menyeru
manusia kepada Tauhid yang
hakiki, firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ
النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا
یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا
ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی
رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ
الۡمِیۡعَادَ ﴿ ﴾
“Wahai Rabb
(Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa
yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh
Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali
tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا
سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, sesung-guhnya kami telah
mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada keimanan
seraya berkata: مَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا -- "Berimanlah
kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu"
maka kami telah beriman.” رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا
وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah
bagi kami dosa-dosa kami, dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami, dan wafatkanlah kami
bersama orang-orang yang ber-buat
kebajikan. رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا
تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, karena itu berikanlah
kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari
Kiamat, اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:194-195).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 2 Juni 2016
The Best Slots | Casino Roll
BalasHapusThe best slots at Casino Roll. If you https://tricktactoe.com/ love table https://access777.com/ games, poormansguidetocasinogambling.com to play blackjack, you have to bet twice for goyangfc.com the 바카라 사이트 dealer to win. The dealer must