Sabtu, 04 Juni 2016

Perbedaan "Ketidak-patuhan" Manusia Dengan "Ketidak-patuhan" Iblis (Syaitan) & Sambutan "Ruh" Manusia Terhadap "Tauhid Ilahi" yang Diserukan Rasul Allah



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


PERBEDAAN KETIDAK-PATUHAN MANUSIA DENGAN KETIDAK-PATUHAN IBLIS (SYAITAN) &  SAMBUTAN RUH  MANUSIA TERHADAP TAUHID ILAHI YANG DISERUKAN RASUL ALLAH

Bab 60

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai peran atau fungsi syaitan dan para malaikat  bagi manusia, Masih  Mau’ud a.s. bersabda:
     “Beberapa orang bodoh mengemukakan keberatan atas eksistensi (keberadaan) syaitan, sepertinya Tuhan Sendiri menginginkan manusia menjadi sesat. Tidak demikian keadaannya. Setiap orang yang berfikir bisa memahami bahwa setiap manusia memiliki dua fitrat, yaitu yang satu disebut sebagai sentuhan syaitan dan yang lainnya sentuhan malaikat.
    Dengan kata lain, fitrat manusia  memperlihatkan bahwa tanpa diketahui penyebabnya  terkadang muncul fikiran baik dalam kalbunya yang membawanya kepada perbuatan-perbuatan bermanfaat, tetapi juga terkadang muncul fikiran buruk yang menyeretnya kepada perbuatan keji dan dosa. Kekuatan yang menjadi sumber fikiran jahat menurut ajaran Al-Quran disebut sebagai syaitan dan kekuatan yang menjadi sumber fikiran baik adalah malaikat.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  435, London, 1984).

Tidak Ada Paksaan Dalam Agama dan Beragama

        Sehubungan dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾   فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾   قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Dan demi jiwa dan penyempurnaannya,  maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya.   Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya,    dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya.   (Asy-Syams [91]:8-11).
  Allah Swt.  telah menanamkan  dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik.
  Dengan kata lain Allah Swt. telah memberi kebebasan memilih kepada manusia untuk menentukan pilihan bagi jalan hidupnya, namun demikian manusia tidak akan dapat membebaskan diri  dari akibat baik atau akibat buruk dari pilihannya tersebut, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟ فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ  فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ  مُرۡتَفَقًا ﴿﴾  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا  لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا ﴿ۚ﴾  اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ   یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ مُّتَّکِئِیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ ؕ نِعۡمَ الثَّوَابُ ؕ وَ حَسُنَتۡ  مُرۡتَفَقًا ﴿٪﴾
Dan katakanlah:  ”Inilah haq dari Rabb (Tuhan) kamu karena itu فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ  فَلۡیَکۡفُرۡ  --  barang­siapa menghendaki  maka beriman­lah, dan barangsiapa menghendaki  maka kafirlah”,  اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا   --    sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zalim itu api yang dinding-dindingnya me­ngepung mereka, وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ  -- dan jika mereka berteriak meminta tolong, mereka akan ditolong dengan air seperti lebur-an timah, yang akan menghanguskan wajah-wajah, بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ  مُرۡتَفَقًا  --  sangat buruk minum­an itu dan sangat buruk tempat tinggal itu!  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا  لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا  --  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sesungguhnya  Kami tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang mengerjakan amal  baik. اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ   --  Mereka itulah orang-orang yang bagi mereka ada kebun-kebun abadi yang di bawahnya mengalir sungai­-sungai. یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ  --  Mereka di dalamnya akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian dari sutera halus berwarna hijau dan sutera tebal,  مُّتَّکِئِیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ -- mereka di dalamnya  duduk bersandar pada dipan-dipan yang indahنِعۡمَ الثَّوَابُ ؕ وَ حَسُنَتۡ  مُرۡتَفَقًا --   Itulah ganjaran yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.  (Al-Kahf [18]:30-32).
   Oleh karena "gelang-gelang emas"  merupakan lambang kerajaan, maka ayat  یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ  --  “Mereka di dalamnya akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian dari sutera halus berwarna hijau dan sutera tebal,”   dapat berarti  bahwa orang-orang Islam akan menjadi penguasa kerajaan-kerajaan yang luas dan kuat, serta akan menikmati kekuasaan, kehormatan, dan kemuliaan besar; dan bahwa perempuan-perempuan mereka akan mengenakan pakaian terbuat dari sutera halus dan kain sutera tebal terjalin dengan tenunan benang emas.
  Nubuatan dalam ayat ini menjadi sempurna ketika khazanah-­khazanah dari kerajaan Parsi dan kerajaan Romawi telah diletakkan pada kaki orang-orang Arab ummi (buta huruf) yang biasanya mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit-kulit kasar dan dari bulu-bulu binatang.

Perbedaan Ketidak-patuhan Syaitan dengan Ketidakpatuhan Manusia.

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan   hakikat perbedaan ketidak-patuhan syaitan  dan ketidak-patuhan manusia kepada Allah Swt.:
    “Ada yang bertanya, mengapa syaitan tidak mematuhi Tuhan padahal ia mengimani eksistensi (keberadaan) dan Ketauhidan-Nya? Jawaban untuk itu ialah ketidak-patuhannya itu tidak sama dengan bentuk ketidak-patuhan manusia, karena syaitan itu diciptakan sebagai cobaan bagi manusia. Hal ini masih merupakan misteri yang seluk-beluknya belum diungkapkan kepada manusia.
     Sudah menjadi karakter manusia bahwa pada umumnya ia akan dibimbing ke jalan yang benar jika memiliki pengetahuan tentang Tuhan-nya dengan baik,  sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:
اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا
“Sesungguhnya dari antara hamba-hamba Allah, hanya mereka yang dilimpahi ilmu, takut kepada Allah” (Al-Fāthir [35]:29), sedangkan mereka yang memiliki karakter syaitan berada di luar ketentuan ini.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm.  122, London, 1984).
      Sebagaimana halnya  fungsi dan posisi para malaikat  ibarat instrument pelaksana  semua kehendak Allah Swt.   karena itu para malaikat tidak memiliki hasrat atau  keinginan  (QS.66:7),  demikian pula halnya dengan  syaitan (setan), yang telah ditetapkan Allah Swt. sebagai “instrument perintang” di jalan Allah Swt. bagi manusia, yang tujuan keberadaannya  bukan untuk menjerumuskan manusia ke dalam pelanggaran  dan dosa,  melainkan  untuk meningkatkan berbagai “potensi akhlak dan ruhani” manusia  melalui pelaksanaan (pengamalan) perintah Allah Swt. berupa  syariat (aturan agama) sebagaimana yang dicontohkan oleh para Rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22).
      Itulah sebabnya apabila manusia tersandung atau tergelincir dalam perjalanan hidupnya  oleh rintangan syaitan  tidak bisa menyalahkan pihak mana pun selain dirinya, sebagaimana firman-Nya berikut ini berkenaan dengan fungsi syaitan:
وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ   --  dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ   --  Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  -- Aku sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ  --  Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya,  اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ  -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23). Lihat pula QS.15:43;  QS.16:99-101; QS.17:64-66.

Perintang Dalam  Perlombaan di Jalan Allah & Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”

      Jadi, satu-satunya tugas syaitan  yang telah ditetapkan Allah Swt. adalah berusaha menggelincirkan atau menyesatkan manusia dari jalan Allah Swt. sebagaimana tergambar dalam “dialog” dalam kisah monumental “Adam – malaikat – iblis” berikut ini, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ ﴿﴾  
Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk, lalu Kami berfirman kepada para malaikat: اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ --  Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ -- maka mereka bersujud kecuali iblis,  ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ --  Dia  berfirman:  Apa  yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh sepenuhnya ketika Aku memberi perintah kepada engkau?”  قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ  -- Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.”   (Al-A’rāf [7]:12-13).
 Makna manusia diciptakan dari thīn (tanah-liat) bahwa manusia dapat menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah liat mudah diberi bentuk apa pun oleh para pengrajin tembikar, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾  وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk. Dan sebelumnya Kami telah menjadikan  jin dari api angin panas.  (Al-Hijr [15]:27-28).
Firman-Nya lagi:
خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾  وَ  خَلَقَ  الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ  مِّنۡ نَّارٍ ﴿ۚ﴾
Dia menciptakan manusia dari tanah liat kering  seperti tembikar,     dan Dia menciptakan jin-jin dari nyala api. (Ar-Rahmān [55]:15-16). 
   Ketiga surah Al-Quran tersebut menelaskan obyek yang sama, yaitu tentang asal penciptaan manusia dan jin   -- yang darinya iblis berasal (QS.18:51) – tetapi dengan rincian  dan penggunaan istilah yang   berbeda guna saling memperkuat maknanya  yang dimaksudkan  oleh Allah Swt.. Jadi, dalam hal tersebut tidak ada istilah ayat-ayat tersebut saling bertentangan   melainkan saling memperkuat.

Makna “Shalshal” & Kemampuan “Berbicara

   Kejadian manusia dari  shalshal yakni  tanah liat yang kering mendenting   kal-fakhkhār   (seperti tembikar) dapat diartikan bahwa manusia telah diciptakan dari zat yang di dalamnya tersembunyi kemampuan dan khasiat bicara. Seperti shalshal mengeluarkan bunyi hanya bila dipukul oleh sesuatu dari luar, kata itu dipergunakan di sini guna mengisyaratkan bahwa daya tanggap manusia adalah kemampuannya menerima seruan Ilahi (QS.7:173-175).
 Tiga bentuk perkataan (istilah) telah dipergunakan dalam Al-Quran untuk menyatakan berbagai tingkat kejadian dan perkembangan ruhani manusia:    
   Tingkat pertama dinyatakan dengan kata-kata  “Dia menciptakannya dari tanah kering” (QS.3:60).
   Tingkat kedua digambarkan dengan ungkapan “Dia-lah Yang telah menciptakan kamu dari tanah liat” (QS.6:3), yang berarti bahwa sesudah menerima percikan kalam Ilahi manusia mendapat kekuatan (kemampuan) membedakan, yang dengan kekuatan (kemampuan)  itu ia dapat memperbedakan antara benar dan salah (QS.91:8-11).
   Tingkat ketiga, yang telah disebut tingkat  fakhar (tembikar)  manusia diuji dan dicoba serta diharuskan melewati api percobaan dan kesengsaraan, yang dalam kisah monumental “Adam – malaikat – iblis”  digambarkan berupakan penentangan  yang dilakukan iblis dan para pengikutnya, yang menolak “sujud” kepada Adam (khalifah Allah) ketika Allah Swt. memerintahkannya kepada para malaikat, sebab iblis  -- yang dijadikan dari api   --menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam yang diciptakan dari “tanah liat
  Sesudah manusia  menjalani berbagai ujian keimanan  para  tingkat ketiga tersebut    dan lulus  dengan gemilang dari semua percobaan dan mencapai taraf kedewasaan ruhani, kemudian barulah ia diterima di hadirat Ilahi, sebagaimana halnya barang-barang tembikar yang lulus dari proses pembakaran  dalam tungku api yang dibuat pembuat tembikar serta akan mengalami berbagai proses finishing  selanjutnya yang akan membuatnya menjadi  benda-benda yang bernilai seni   tinggi dan memiliki nilai jual  yang jauh berbeda dengan keadaan asalnya.
    Sebagaimana telah dikemukakan bahwa diciptakannya  manusia (insan) dari shalshal (tanah liat  kering-denting)  mengandung arti, bahwa ia telah diciptakan dari zat yang di dalamnya terkandung kemampuan dan sifat-sifat yang latent (tersembunyi) untuk berbicara.
       Ada pun yang dimaksud dengan  “berbicara” bukan  dalam makna bicara secara lisan  sebagaimana manusia umumnya, melainkan makna “berbicara” adalah bahwa manusia  dalam melaksanakan kewajiban mereka untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57)  telah dianugerahi kekuatan (kemampuan) untuk menyambut suara dari langit  yakni seruan Ilahi yang dibawa oleh para Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka (QS.3:191-196; QS.7:35-37).
 Akan tetapi karena shalshal itu mengeluarkan suara hanya apabila terkena sentuhan atau pukulan (benturan) oleh sesuatu benda dari luar, maka kata itu mengisyaratkan, bahwa kekuatan manusia untuk menyambut itu bergantung pada penerimaan dia terhadap seruan Ilahi.   Kemampuan manusia ini ini membuktikan keunggulannya dari seluruh makhluk.
      Kata hamā’ dalam ayat:  وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ  -- “dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk”   mengandung arti, bahwa manusia telah diciptakan dari lumpur hitam, yakni campuran  tanah (turab) dan air, ada pun falsafahnya adalah  tanah (turab) merupakan sumber tubuh jasmani, dan air  merupakan  sumber ruh. Itulah sebabnya manusia merupakan perpaduan antara tubuh jasmani dengan ruhnya yang dibentuk dalam rahim ibu (QS.23:15).
      Di lain tempat Al-Quran menyebutkan “tanah” (turab)  dan “air” secara terpisah sebagai benda-benda yang darinya manusia telah diciptakan (QS.3:60; QS.21:31). Dengan menggabungkan kata shalshal (tanah liat kering-denting) kepada kata hamā’ (lumpur hitam), Al-Quran bermaksud menunjukkan, bahwa di mana makhluk-makhluk bernyawa lainnya   diciptakan dari hamā’ (lumpur hitam) saja, yaitu dari tanah dan air — sebab mereka pun memiliki semacam ruh tertentu, tetapi tidak berkembang dengan sempurna — maka sebaliknya manusia (insan) diciptakan dari hamā’ (lumpur hitam) dipadukan dengan shalshal (tanah liat kering denting), yang menunjukkan sifat berbicara. Ia pun masnun, yakni diberi bentuk yang sempurna (QS. 95:5). Ayat  وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ  -- “dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk”    tidak berarti bahwa lumpur itu sekaligus memperoleh bentuk suatu wujud yang hidup tatkala Allah Swt.   menghembuskan ruh ke dalamnya.

Sambutan “Ruh”  Manusia Terhadap Tauhid

     Firman Allah Swt. tersebut menjelaskan perbedaan antara ruh yang dimiliki  makhluk-makhluk bernyawa lainnya  dengan ruh manusia yang diberi kemampuan oleh Allah Swt. untuk “menyambut” (merespons) suara Ilahi atau Tauhid Ilahi,  itulah sebabnya Allah Swt. dalam ayat-ayat tersebut telah menyebut  penciptaan insan  (manusia)   shalshalin kalfakhkhār  (tembikar bakaran) yang telah diberi bentuk (QS.15:27; QS.55:27). 
      Firman Allah Swt. berikut ini mengisyaratkan  mengenai “respons” ruh manusia terhadap seruan Allah Swt.:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ  اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika  Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam  yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی  --  Mereka berkata:    “Ya benar, kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ     --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  --  “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ  -- Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ --  Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?”    وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ  --  Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu  dan supaya mereka kembali kepada yang haq. (Al-A’rāf [7]:173-175).
    Ayat 173  menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah  (QS.7:35-37) yang menunjuki jalan menuju Allah Swt. setelah manusia terjerumus ke dalam berbagai bentuk kemusyrikan  (QS.30:31-33).
   Ungkapan ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus (QS.7:35-37). Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap  kedatangan rasul Allah   yang dijanjikan   itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan  Ilahi:   اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ    -- “Bukankah  Aku Rabb (Tuhan) kamu?”
  Pertanyaan  Allah Swt. kepada “ruh” manusia  tersebut berarti bahwa jika Allah Swt.   telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan demikian  pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian, maka betapa manusia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.
Sesungguhnya karena menolak nabi Allah  yang kerdatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka  mereka  (QS.7:35-37) maka manusia menjadi saksi terhadap diri  mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih (alasan) bahwa  mereka tidak mengetahui Allah Swt. atau  tidak mengetahui syariat-Nya atau Hari Pembalasan.

Tanggapan “Orang-orang Berakal” Terhadap Seruan Rasul Allah

 Ayat 174-175 menjelaskan bahwa kemunculan seorang nabi Allah juga menghambat kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat 173 di atas, sebab pada saat itulah  haq   (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan  terang benderang dicela, sebab  -- sebagaimana telah dijelaskan mengenai makna kata shalshalin kalfakhkhār  -- Allah Swt. telah memberikan kemampuan kepada setiap ruh (jiwa) untuk merespons (menyambut) Tauhid Ilahi yang disuarakan  oleh para rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw.,  -- yang bahkan bukti-bukti  mengenai Tauhid Ilahi tersebut tanda-tandanya terdapat pada  tatanan alam semesta   --  firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,  yaitu orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  seraya berkata: رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا  --  “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-siaسُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.”  (Ali ‘Imran [3]:191-192).
       Pelajaran yang terkandung dalam penciptaan seluruh  langit dan bumi dan dalam pergantian malam dan siang ialah  manusia diciptakan untuk mencapai kemajuan ruhani dan jasmani. Bila ia berbuat amal saleh maka masa kegelapannya dan masa kesedihannya pasti akan diikuti oleh masa terang benderang dan kebahagiaan.
     Ayat 192 menjelaskan bahwa tatanan agung yang dibayangkan pada ayat-ayat sebelumnya tidak mungkin terwujud tanpa suatu tujuan tertentu, dan karena seluruh alam ini telah dijadikan untuk menghidmati manusia, tentu saja kejadian manusia sendiri mempunyai tujuan yang agung dan mulia pula, yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57).
    Bila orang merenungkan tentang kandungan arti keruhanian yang diserap dari gejala-gejala fisik di dalam penciptaan seluruh alam dengan tatanan sempurna yang melingkupinya itu, ia akan begitu terkesan dengan mendalam oleh kebijakan luhur Sang Al-Khāliq-nya (Maha Pencipta-nya) lalu dengan serta-merta terlontar dari dasar lubuk hatinya seruan:  رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا  --  “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-siaسُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.”  
Cetusan hati dari “orang-orang yang berakal”  itu pun pada hakikatnya merupakan respons (tanggapan) dari ruh (jiwa) manusia mengenai Tauhid Ilahi  sebagaimana yang dikemukakan dalam  Surah Al-A’rāf ayat 173 sebelumnya: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی  --  Mereka berkata:    “Ya benar, kami menjadi saksi.” 
     Bahkan respons (tanggapan) ruh (jiwa) orang-orang yang mempergunakan akalnya tersebut   berlanjut dengan penyambutan mereka terhadap  seruan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  yang menyeru manusia kepada Tauhid yang hakiki, firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿
“Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡ  --   Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesung-guhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata: مَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا  -- "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman.”  رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan    hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang ber-buat kebajikan. رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ --   Wahai  Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ  --  sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:194-195).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 2 Juni    2016



1 komentar:

  1. The Best Slots | Casino Roll
    The best slots at Casino Roll. If you https://tricktactoe.com/ love table https://access777.com/ games, poormansguidetocasinogambling.com to play blackjack, you have to bet twice for goyangfc.com the 바카라 사이트 dealer to win. The dealer must

    BalasHapus