Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
PENGULANGAN ZAMAN JAHILIYAH
& PARA PEMBUAT “PARIT
API” DI AKHIR ZAMAN YANG DINYALAKAN “BAHAN BAKAR KEDENGKIAN DAN FITNAH" KEPADA RASUL AKHIR
ZAMAN
Bab 66
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dijelaskan
mengenai makna ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “dan
juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” dalam firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ
فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari
antara mereka, yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun
sebelumnya mereka berada dalam
ke-sesatan yang nyata وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan
juga akan membangkitkan-nya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Sesuai dengan keterangan Nabi Besar Muhammad saw. yang
diriwayatkan Abu Hurairah r.a. ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ
-- “dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana” mengisyaratkan kepada pengutusan kedua kali Nabi Besar
Muhammad saw. secara ruhani di Akhir Zaman ini -- dalam wujud Masih Mau’ud a.s. -- dengan tugas
yang sama seperti yang dikemukakan ayat sebelumnya yaitu: یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ
اٰیٰتِہٖ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah, وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.”
Tugas Masih Mau’ud a.s. melakukan misi kerasulan Nabi Besar Muhammad
saw. di Akhir Zaman ini sepenuhnya merupakan karunia Allah Swt., firman-Nya: ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[62]:5).
Pengulangan Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”
Dengan demikian jelaslah bahwa pengutusan
Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini selain menggenapi Sunatullah kesinambungan pengutusan
rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), juga guna
melaksanakan misi kerasulan Nabi
Besar Muhammad saw. yang kedua kali
sebagai “rahmat bagi seluruh alam”
(QS.21:108), yang pada hakikatnya merupakan pengulangan kisah monumental “Adam – malaikat dan iblis”,
sebab demikianlah Sunnatullah penciptaan “langit baru dan bumi baru”
guna menggantikan “langit lama dan bumi lama”
(QS.14:45-49-53) yang digambarkan dalam
firman-Nya: وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata” (QS.62:3), sesuai dengan
firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ
الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی
النَّاسِ لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ
الَّذِیۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ
﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا
کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ
قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ
مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ
وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا
مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ
یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat sebagian
perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka
kembali dari kedurhkaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruknya akibat
bagi orang-orang sebelum kamu ini. کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ
مُّشۡرِکِیۡنَ -- Kebanyakan
mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ
یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ -- Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat
dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
Dalam ayat sekarang ini
kita diberi tahu, bahwa bila kegelapan (kesesatan) menyelimuti muka bumi dan manusia
melupakan Allah Swt. serta menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka Allah Swt. membangkitkan seorang khalifah Allah atau nabi
Allah untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat
keharibaan Majikan-nya yang hakiki,
yaitu Allah Swt..
“Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan
agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya
semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia
sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci
yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s. di dalam aliran darah manusia telah
padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang
kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun
lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban
laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya
telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan,
sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan
pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu Nabi Besar
Muhammad saw. -- Guru
umat manusia terbesar (QS.33:22) -- muncul pada pentas dunia, dan
tatkala syariat yang paling sempurna
dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab syariat
yang sempurna hanya dapat diturunkan
bila semua atau kebanyakan keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan, menampakkan diri telah menjadi mapan.
Kata-kata “daratan dan lautan”
dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa
yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar
pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa
yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau.
Pengulangan Zaman Jahiliyah di Akhir Zaman
Jadi,
menurut ayat ini bahwa semua bangsa di dunia telah menjadi rusak
sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki.
Dan menurut Allah Swt. dalam keadaan
yang sangat buruk tersebut kembali terulang
di Akhir Zaman ini:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari
antara mereka, yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun
sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan
yang nyata وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Cara Allah Swt. Menghidupkan
“Bumi yang telah Mati” Melalui Pengutusan Rasul
Allah
Penyebab terjadinya kembali kerusakan
yang melanda “daratan” dan “lautan” tersebut karena umat
manusia di Akhir Zaman ini -- termasuk umat Islam – telah terpisah jauh dari masa kenabian Nabi Besar Muhammad saw. yang penuh berkat, firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ
الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat
kebenaran yang telah turun kepada
mereka, dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ -- maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, -- dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ
الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا -- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ
-- Sungguh Kami telah menjelaskan
Tanda-tanda kepadamu supaya kamu
mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakikatnya kedatangan Rasul Akhir Zaman -- yakni Masih Mau’ud a.s., yang pada hakikatnya merupakan pengutusan kedua kali Nabi
Besar Muhammad saw di Akhir Zaman ini QS.62:3-4) -- merupakan penggenapan ayat: اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ
الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا -- Ketahuilah, bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya.”
Pengulangan Kedengkian Iblis Kepada Adam (Khalifah Allah)
Karena di Akhir Zaman ini kisah monumental “Adam – malaikat dan iblis” kembali terulang,
maka penentangan dan penghadangan yang dilakukan iblis terhadap Adam
(Rasul Allah) dan orang-orang yang beriman di
berbagai masa kenabian di kalangan keturunan (bani) Adam (QS.7:35-37) kembali
terulang terhadap Masih
Mau’ud a.s. dan para pengikut beliau a.s. dari kalangan Jemaat
Muslim Ahmadiyah, yaitu sesuai
dengan “prediksi” para malaikat mengenai akan munculnya orang-orang dengki yang akan
berbuat kerusahakan dan menumpahkan darah, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ
خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ
نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada malaikat-malaikat: اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً -- “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”, قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ -- mereka berkata: “Apakah Eng-kau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi
orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan
kami senantiasa men-sucikan Engkau?” قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia
berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah [2]:31).
Jadi,
sehubungan dengan pembangkangan
dan ketakaburan iblis -- yang berasal dari golongan jin (QS.18:51) dan tidak
mau “sujud” kepada Adam (Khalifah Allah) karena merasa
dirinya lebih mulia daripada Adam (QS.2:32-35)
-- dengan alasan karena ia diciptakan
Allah Swt. dari api sedangkan Adam dari “tanah liat” (QS.7:12-13-19), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾ وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk. وَ الۡجَآنَّ
خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ -- Dan sebelumnya Kami telah menjadikan jin
dari api angin panas. (Al-Hijr [15]:27-28).
Firman-Nya
lagi:
خَلَقَ
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾ وَ خَلَقَ
الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ
نَّارٍ ﴿ۚ﴾
Dia menciptakan manusia dari tanah
liat kering seperti
tembikar, وَ خَلَقَ الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ نَّارٍ
-- dan Dia
menciptakan jin-jin dari nyala api.
(Ar-Rahmān [55]:15-16).
“Parit
Api” Berbahan Bakar Kedengkian dan
Fitnah yang Dinyalakan Para Penentang
Rasul Allah
Jadi,
selaras dengan ketakaburan iblis
yang mengaku diciptakan dari api, demikian
pula julukan Abu Lahab (bapak nyala api) terhadap Abdul
‘Uzza yang “berdarah panas” pun bukan suatu yang kebetulan, sebab ia dan Abu Jahal serta tujuh orang pemuka kaum kafir Quraisy lainnya pada hakikatnya merupakan pengulangan
ketakaburan Iblis yang berbuat kerusakan dan menumpahkan
darah di muka bumi (QS.27:49-54).
Sehubungan dengan makna “Abu Lahab” (bapak kobaran api), Allah
Swt. berfirman mengenai para pembuat “parit api” yang “bahan bakarnya” adalah fitnah
dan kedustaan mengenai para rasul Allah -- termasuk
terhadap Rasul Akhir Zaman dan para pengikutnya -- sebagaimana yang
dilakukan Umi Jamil, istri Abu Lahab pembawa “kayu bakar” terhadap Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾ وَ
الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾ وَ
شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾ قُتِلَ
اَصۡحٰبُ
الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾ اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ ؕ﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Demi langit
yang memiliki gugusan-gugusan bintang, dan demi Hari
yang dijanjikan, dan demi
saksi dan yang
disaksikan. قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ
-- Binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ -- -yaitu api yang dinyalakan dengan bahan bakar, اِذۡ ہُمۡ
عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ -- ketika mereka
duduk di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ -- dan
mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang
beriman. (Al-Burūj [85]:1-8).
Makna ayat وَ
السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ -- “Demi langit
yang memiliki gugusan-gugusan bintang” mengisyaratkan kepada mujaddid-mujaddid atau 12 gugusan bintang di cakrawala ruhani Islam, yang akan membuat cahaya Islam berkilauan terus sesudah matahari ruhani Nabi Besar
Muhammad saw. terbenam, yaitu sesudah 3
abad masa kejayaan Islam yang paling baik berlalu (QS.32:6), sehingga membawa akibat tersebarnya kegelapan ruhani di seluruh dunia.
Para mujaddid
Islam itu akan memberikan kesaksian
mengenai kebesaran Islam, kebenaran Al-Quran dan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw.,
sebab pada hakikatnya mereka itu para pemantul
cahaya ruhani Nabi Besar Muhammad saw.
yang muncul di setiap abad,
sebagaimana yang sabdakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. mengenai
kedatangan mujaddid di kalangan umat
Islam di setiap abad, merupakan pelaksanaan dari janji pemeliharaan Allah Swt. terhadap Al-Quran, firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ
نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ اِنَّا
لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami-lah Yang menurunkan peringatan ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya. (Al-Hijr [15]:10).
Berbagai Makna “Hari yang Dijanjikan” & Terulangnya Kejayaan Islam di Akhir Zaman
Makna ayat: وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- “dan demi Hari yang
dijanjikan,” pada hakikatnya banyak hari
semacam
itu dalam sejarah Islam yang dapat
disebut “Hari yang dijanjikan”,
seperti hari Pertempuran Badar – yang juga disebut “Hari
Pembeda” (QS.8:42); hari ketika Pertempuran Khandak (perang Ahzab)
yang berujung kejayaan besar, karena orang-orang kafir Mekkah tidak lagi
memiliki kekuatan untuk melawan
Nabi Besar Muhammad saw.; dan hari
jatuhnya Mekkah (Fathah Mekkah), sebagai hasil dari “Perjanjian Hudaibiyah” (QS.48:1-6).
Ada pun yang dimaksud
dengan وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- “hari yang dijanjikan” itu dapat berarti “Hari
yang dijanjikan” yang paripurna,
ketika pada abad 14 Hijrah Allah Swt. akan membangkitkan Imam
Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. – yang pada hakikatnya merupakan pengutusan kedua kali Nabi Besar
Muhammad saw. di Akhir Zaman
(QS.62:3-4) -- guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua
kali di Akhir Zaman (QS.61:10), setelah umat Islam mengalami kemunduran selama 1000 tahun sehingga seakan-akan zaman jahiliyah kembali terulang, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ
فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ -- walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah
karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Sehubungan dengan ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka” Allah Swt. berfirman
mengenai terwujudnya kejayaan Islam
yang kedua kali di Akhir Zaman melalui
pengutusan Rasul Allah:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar,10 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar