Minggu, 12 Juni 2016

Pengulangan "Zaman Jahiliyah" & Para Pembuat "Parit Api" di Akhir Zaman yang Dinyalakan "Bahan Bakar Kedengkian dan Fitnah" Kepada Rasul Akhir Zaman


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


PENGULANGAN ZAMAN JAHILIYAH &  PARA   PEMBUAT “PARIT API” DI AKHIR ZAMAN YANG DINYALAKAN  “BAHAN BAKAR  KEDENGKIAN DAN FITNAH" KEPADA RASUL AKHIR ZAMAN


Bab 66

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah  dijelaskan     mengenai makna   ayat   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  “dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”  dalam firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
       Sesuai dengan keterangan Nabi Besar Muhammad saw. yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. ayat    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  “dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”  mengisyaratkan kepada pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani di Akhir Zaman ini  -- dalam wujud Masih  Mau’ud a.s.  -- dengan tugas yang sama seperti yang dikemukakan ayat sebelumnya yaitu:  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ   -- yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah,  وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.”
     Tugas Masih Mau’ud a.s.  melakukan misi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw.  di Akhir Zaman ini sepenuhnya merupakan karunia Allah Swt., firman-Nya: ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:5).

Pengulangan Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”

  Dengan demikian jelaslah bahwa   pengutusan Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman  ini selain menggenapi Sunatullah kesinambungan pengutusan  rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), juga guna melaksanakan misi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw.  yang kedua kali sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108), yang pada hakikatnya merupakan pengulangan kisah monumentalAdammalaikat dan iblis”, sebab demikianlah Sunnatullah  penciptaan “langit baru dan bumi baru” guna menggantikan  “langit lama dan bumi lama” (QS.14:45-49-53) yang digambarkan dalam  firman-Nya: وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata”  (QS.62:3), sesuai dengan firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhkaannya.   Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ  --  Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ --   Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44). 
     Dalam ayat sekarang ini kita diberi tahu, bahwa bila kegelapan   (kesesatan) menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Allah Swt. serta  menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka Allah Swt. membangkitkan seorang khalifah Allah atau nabi Allah   untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat keharibaan Majikan-nya yang hakiki, yaitu   Allah Swt..
    “Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s.  di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan, sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
       Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu Nabi Besar Muhammad saw.   --  Guru umat manusia terbesar  (QS.33:22) -- muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab  syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan, menampakkan diri telah menjadi mapan.
   Kata-kata “daratan dan lautan” dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau.

Pengulangan Zaman Jahiliyah  di Akhir Zaman

       Jadi,  menurut ayat ini  bahwa semua bangsa di dunia telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki. Dan  menurut Allah Swt. dalam  keadaan yang sangat buruk tersebut kembali terulang di Akhir Zaman ini: 
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).

Cara Allah Swt. Menghidupkan “Bumi yang telah Mati” Melalui Pengutusan Rasul Allah

      Penyebab terjadinya  kembali kerusakan yang melanda “daratan” dan “lautan” tersebut  karena umat manusia  di Akhir Zaman ini  -- termasuk umat Islam – telah terpisah jauh dari masa   kenabian Nabi Besar Muhammad saw. yang penuh berkat, firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ  -- maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras,  --  dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا --  Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepadamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
       Dengan demikian jelaslah bahwa pada  hakikatnya kedatangan Rasul Akhir Zaman  -- yakni Masih Mau’ud a.s., yang pada hakikatnya merupakan pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw di Akhir Zaman ini  QS.62:3-4) --  merupakan penggenapan ayat:  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا --  Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya.”

Pengulangan  Kedengkian Iblis Kepada Adam (Khalifah Allah)

    Karena di Akhir Zaman ini  kisah monumentalAdammalaikat dan iblis” kembali terulang, maka penentangan  dan penghadangan  yang dilakukan iblis terhadap Adam (Rasul Allah) dan  orang-orang yang beriman   di berbagai masa kenabian  di kalangan keturunan (bani)   Adam (QS.7:35-37)   kembali terulang terhadap Masih Mau’ud a.s. dan  para  pengikut beliau a.s. dari kalangan Jemaat Muslim Ahmadiyah, yaitu   sesuai dengan  “prediksi” para malaikat  mengenai akan munculnya orang-orang dengki yang akan  berbuat kerusahakan dan menumpahkan darah, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada  malaikat-malaikatاِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً --   “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah di bumi”,  قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ   -- mereka berkata: “Apakah Eng-kau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ --    padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa men-sucikan  Engkau?” قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  --  Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  (Al-Baqarah [2]:31).
     Jadi,  sehubungan dengan pembangkangan dan  ketakaburan  iblis     -- yang berasal dari golongan  jin   (QS.18:51)  dan  tidak mau “sujud” kepada Adam (Khalifah Allah) karena merasa dirinya lebih mulia daripada Adam   (QS.2:32-35)   --  dengan alasan  karena ia diciptakan Allah Swt. dari api  sedangkan Adam dari “tanah liat” (QS.7:12-13-19), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾  وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk. وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ --  Dan sebelumnya Kami telah menjadikan  jin dari api angin panas.  (Al-Hijr [15]:27-28).
Firman-Nya lagi:
خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾  وَ  خَلَقَ  الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ  مِّنۡ نَّارٍ ﴿ۚ﴾
Dia menciptakan manusia dari tanah liat kering  seperti tembikarوَ  خَلَقَ  الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ  مِّنۡ نَّارٍ   --    dan Dia menciptakan jin-jin dari nyala api. (Ar-Rahmān [55]:15-16). 
     
Parit Api” Berbahan Bakar Kedengkian dan Fitnah  yang Dinyalakan  Para Penentang Rasul Allah

     Jadi,  selaras dengan ketakaburan iblis yang mengaku diciptakan dari  api,  demikian pula  julukan Abu Lahab (bapak nyala api) terhadap  Abdul ‘Uzza  yang “berdarah panas” pun bukan suatu yang kebetulan, sebab ia dan Abu Jahal serta tujuh orang pemuka kaum kafir Quraisy lainnya  pada hakikatnya  merupakan  pengulangan  ketakaburan Iblis   yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi (QS.27:49-54).
    Sehubungan dengan  makna  “Abu Lahab” (bapak kobaran api), Allah Swt. berfirman mengenai para pembuat  “parit api” yang “bahan bakarnya” adalah fitnah dan kedustaan  mengenai para rasul Allah  -- termasuk terhadap Rasul Akhir Zaman dan para pengikutnya -- sebagaimana yang dilakukan Umi Jamil, istri Abu Lahab pembawa “kayu bakar” terhadap Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾    وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾   وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾  وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾  قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾  النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾  اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾  وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ  ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang,  dan demi Hari yang dijanjikan,  dan demi saksi  dan yang disaksikan. قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ  -- Binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ  --   -yaitu api yang dinyalakan dengan bahan bakar,    اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ  --  ketika mereka duduk di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ    --  dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang beriman. (Al-Burūj [85]:1-8).
   Makna ayat  وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  --  “Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang”  mengisyaratkan kepada mujaddid-mujaddid atau 12  gugusan bintang di cakrawala ruhani Islam, yang akan membuat cahaya Islam berkilauan terus sesudah matahari ruhani  Nabi Besar Muhammad saw. terbenam, yaitu  sesudah 3 abad masa kejayaan  Islam yang paling baik berlalu (QS.32:6), sehingga membawa akibat tersebarnya kegelapan ruhani di seluruh dunia.
   Para mujaddid Islam itu akan memberikan kesaksian mengenai kebesaran Islam, kebenaran Al-Quran dan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw., sebab pada hakikatnya mereka itu para pemantul cahaya ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  yang muncul di setiap abad, sebagaimana yang sabdakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kedatangan  mujaddid di kalangan umat Islam  di setiap abad,   merupakan pelaksanaan dari janji pemeliharaan Allah Swt. terhadap Al-Quran, firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini  dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.   (Al-Hijr [15]:10).

Berbagai Makna “Hari yang Dijanjikan” &  Terulangnya Kejayaan Islam di Akhir Zaman

   Makna ayat:  وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- “dan demi Hari yang dijanjikan,”  pada hakikatnya banyak  hari       semacam itu dalam sejarah Islam yang dapat disebut “Hari yang dijanjikan”, seperti hari Pertempuran Badar – yang juga disebut  “Hari Pembeda”  (QS.8:42); hari ketika Pertempuran Khandak (perang Ahzab) yang berujung  kejayaan besar, karena  orang-orang kafir Mekkah tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan  Nabi Besar Muhammad saw.; dan hari jatuhnya Mekkah (Fathah Mekkah), sebagai hasil dari “Perjanjian Hudaibiyah” (QS.48:1-6).
  Ada pun yang dimaksud dengan وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- “hari yang dijanjikan” itu dapat berarti   “Hari yang dijanjikan” yang paripurna, ketika  pada abad 14 Hijrah Allah Swt. akan membangkitkan  Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s.    – yang pada hakikatnya merupakan pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman (QS.62:3-4) --   guna mewujudkan kejayaan Islam yang  kedua kali di Akhir Zaman (QS.61:10),  setelah umat Islam mengalami kemunduran selama 1000 tahun sehingga seakan-akan zaman jahiliyah kembali terulang, firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ --   Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
     Sehubungan dengan ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka”   Allah Swt. berfirman mengenai terwujudnya kejayaan Islam yang  kedua kali di Akhir Zaman melalui  pengutusan Rasul  Allah:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,10  Juni    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar