Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
HUBUNGAN
NUBUATAN KEMBALINYA BANGSA YAHUDI KE PALESTINA DENGAN “DEKLARASI
BALFOUR” DAN BERDIRINYA “NEGARA ISRAEL”
Bab 72
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai
kembalinya bangsa Yahudi ke Palestina -- dari
pengembaraan mereka selama 2000 tahun, sejak pengusiran
mereka oleh serbuan Titus dari
kerajaan Romawi ke Yerusalem -- adalah bagian
dari “hukuman” Allah Swt. kepada umat Islam melalui penyerbuan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.18:95-99; QS.21:96-97), berupa menyebarnya bangsa-bangsa Kristen dari Barat pada abad ke 17 Masehi, yang
berhasil memanfaatkan “energi api”,
baik bagi kekuatan militernya mau pun bagi
sarana transfortasi mereka,
sehingga Nabi Besar Muhammad saw.
menyebutnya sebagai “keledai Dajjal”
yang makanannya “api”, firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah
dia, Kami berfirman kepada Bani Israil:
اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ -- ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ -- dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا -- Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.”
(Bani Israil [17]:105).
Dua
Kali Hukuman Ilahi Kepada Bani Israil dan Bani Isma’il
(Umat Islam)
Kembali kepada nubuatan dalam surah Bani Israil mengenai terjadinya dua kali azab Ilahi yang menimpa Bani Israil dan Bani Isma’il
(umat Islam), Allah Swt. berfirman:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی
الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا
عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ
عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا
جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya kamu akan
menyombongkan diri dengan kesombongan
yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- Apabila datang
saat sempurnanya janji yang
pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan
tempur yang dahsyat, dan mereka
menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا -- Kemudian Kami mengembalikan lagi kepadamu kekuatan
untuk melawan mereka, dan Kami
membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan Kami
menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- Jika kamu berbuat
ihsan, kamu berbuat ihsan bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu
untuk dirimu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah
mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah me-reka kuasai. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا -- Boleh jadi kini Rabb (Tuhan) kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika
kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا -- dan ingatlah, Kami
telah jadikan Jahannam penjara bagi orang-orang kafir” (Bani
Israil [17]:5-9).
Ayat-ayat
surah Bani Israil tersebut mengandung arti bahwa seperti orang-orang Yahudi demikian juga umat
Islam pun dua kali akan menderita bencana
nasional sebagai hukuman Ilahi.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa
yang pertama dari kedua bencana
ini menimpa umat Islam ketika kota Baghdad jatuh kepada kekuasaan bangsa Tartar di bawah
pimpinan Hulaku Khan.
Terbentuknya “Negara Israel” di Wilayah Palestina
Mereka di sini diberitahu, bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman, di masa Masih Mau’ud a.s., seperti orang-orang
Yahudi mendapat azab Ilahi hukuman di zaman Al-Masih pertama (Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s.). Surah
Bani Israil [17] ayat
105 berarti bahwa manakala umat Islam akan dihukum
untuk kedua kalinya (QS.17:8) -- yang berarti sempurnanya “janji mengenai
akhir zaman” -- maka orang-orang Yahudi akan dihimpun kembali di tanah suci
(Palestina) dari seluruh penjuru dunia.
Nubuatan tersebut telah menjadi sempurna dengan cara yang luar
biasa dengan kembalinya orang-orang
Yahudi ke Palestina dengan
perantaraan “Balfour Declaration” (Pernyataan Balfour) dimana pada tahun 1948 di wilayah Palestina
berdiri apa yang dikatakan Negara Israil.
Jadi, “janji mengenai akhir zaman” itu bertalian dengan masa pengutusan Masih Mau’ud a.s. sebagai Rasul Akhir Zaman (Bayan).
Dengan demikian genap pulalah nubuatan
dalam Bible berikut ini:
20:7 Dan setelah
masa seribu tahun itu berakhir, Iblis
akan dilepaskan dari penjaranya, 20:8 dan ia akan
pergi menyesatkan bangsa-bangsa
pada keempat penjuru
bumi, yaitu Gog
dan Magog, dan mengumpulkan
mereka untuk berperang dan jumlah
mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. 20:9 Maka naiklah
mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan
mereka, dilemparkan
ke dalam lautan api dan belerang,
yaitu tempat binatang dan
nabi palsu itu, dan mereka
disiksa siang malam sampai selama-lamanya. (Wahyu
20:7-10).
Kenyataan sejarah
yang menimpa Bani Israil tersebut
membuktikan kebenaran firman Allah
Swt. dalam lanjutan kisah monumental
“Dua anak Adam” sebelum ini -- mengenai kedengkian
Kain terhadap saudaranya, Habel (QS.5:28-32) -- dan
hal tersebut sesuai hakikat doa meminta perlindungan kepada Allah Swt. dalam surah Al-Falaq, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ قُلۡ
اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾ مِنۡ
شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ
ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb
(Tuhan) Yang Memiliki fajar, مِنۡ
شَرِّ مَا خَلَقَ -- dari
keburukan makhluk yang Dia
ciptakan, وَ مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ
اِذَا وَقَبَ -- dan dari keburukan kegelapan malam apabila meliputi, وَ مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ
فِی الۡعُقَدِ -- dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul, وَ مِنۡ
شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- dan dari
keburukan orang yang dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
Berbagai Arti Hukuman
Allah Swt. Kepada Bani Israil
Sehubungan
kedengkian dalam kisah
monumental “Dua anak Adam” (QS.5:28-32). selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ
یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ
یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ
مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ
الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی
الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ
فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Sesungguhnya balasan bagi orang-orang یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ
یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا -- yang memerangi
Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi
ini اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا -- ialah
mereka dibunuh اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا -- atau disalib اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ -- atau pun dipotong
tangan dan kakinya disebabkan oleh permusuhan
mereka, اَوۡ یُنۡفَوۡا
مِنَ الۡاَرۡضِ -- atau mereka diusir dari negeri. ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا --
Hal demikian adalah penghinaan bagi mereka di dunia ini, وَ لَہُمۡ فِی
الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ -- dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab
yang besar. اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ -- kecuali orang-orang yang
bertaubat sebelum kamu
berkuasa atas mereka, فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- maka ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun,
Maha Penyayang. (Al-Māidah [33-35).
Ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang disunnahkan Nabi Besar Muhammad saw., tidak
pernah ragu-ragu dalam mengambil tindakan-tindakan
yang paling keras -- berupa hukuman mati -- bila kepentingan
negara atau masyarakat luas
menghendaki demikian, untuk membongkar
sampai ke akar-akarnya suatu kejahatan
yang berbahaya.
Ajaran Islam menolak tenggang-rasa palsu yang berdasar emosi khayali, namun pada
waktu menjatuhkan hukuman atas pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum, ajaran Islam menggunakan akal
dan pertimbangan-pertimbangan yang sehat, sebab Allah
Swt. Sendiri yang menetapkan hukum-hukum
tersebut dalam Al-Quran untuk dilaksanakan
oleh Nabi Besar Muhammad saw..
Empat Macam Hukuman
Hukuman yang ditetapkan dalam firman-Nya tersebut terdiri atas empat kategori: (1) اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا
-- ialah
mereka dibunuh, (2) اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا -- atau disalib, (3) اَوۡ تُقَطَّعَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ -- atau pun dipotong tangan dan kakinya disebabkan oleh permusuhan mereka, (4) اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ الۡاَرۡضِ -- atau mereka diusir dari negeri.”
Bentuk hukuman yang dijatuhkan dalam suatu perkara tertentu akan bergantung pada suasana dan lingkungan. Dan perlu
diketahui bahwa memberikan atau menjatuhkan hukuman adalah menjadi wewenang
pemerintah dan bukan wewenang
perseorangan. Kata-kata اَوۡ یُنۡفَوۡا
مِنَ الۡاَرۡضِ – “atau mereka diusir dari negeri” menurut Imam Abu Hanifah berarti dipenjarakan.
Ayat ini dan ayat sebelumnya tidak
mengisyaratkan kepada perampok-perampok
dan penyamun-penyamun biasa melainkan
kepada pemberontak dan penjahat-penjahat yang menyerang negara Islam, sebagaimana
jelas dari kata-kata: یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا الَّذِیۡنَ -- orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini.”
Kesimpulan demikian selanjutnya ditunjang oleh
kenyataan bahwa ayat ini menjanjikan pengampunan
kepada pelanggar-pelanggar hukum
apabila mereka bertaubat: اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ -- “kecuali orang-orang yang
bertaubat sebelum kamu
berkuasa atas mereka.”
Tetapi nyata bahwa mereka yang berbuat jahat terhadap perseorangan-perseorangan atau terhadap masyarakat -- seperti perampok-perampok
dan pencuri-pencuri -- dalam keadaan biasa tidak bisa diampuni oleh negara, sekalipun mereka bertaubat. Mereka tetap harus mengalami hukuman karena perbuatan jahat mereka sesuai dengan ketentuan hukum.
Sudah
tentu taubat dapat menjamin
mendapat ampunan dari Allah Swt.,
namun kekuasaan negara dalam hal ini terbatas.
Akan tetapi penjahat-penjahat politik
bisa dimaafkan jika mereka benar-benar
bertaubat dan berhenti dari kegiatan-kegiatan
memberontak dan berhenti dari aktivitas-aktivitas lainnya yang
mengganggu kebijaksanaan negara.
Mengenai larangan melakukan pemberontakan atau melakukan kerusuhan di muka bumi Allah Swt. berfirman:
وَ لَا تُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِہَا وَ ادۡعُوۡہُ خَوۡفًا
وَّ طَمَعًا ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan
di bumi sesudah perbaikannya,
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap, sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-A’rāf [7]:57 & 86).
Hubungan “Deklarasi
Balfour” dan Berdirinya “Negara Israel” di Wilayah Palestina
Pelaksanaan hukuman yang ditetapkan
Allah Swt. dalam ayat اَوۡ یُنۡفَوۡا
مِنَ الۡاَرۡضِ -- atau mereka diusir dari negeri” telah dialami dua kali, baik
oleh Bani Israil mau pun oleh Bani Isma’il (umat Islam),
yaitu dua kali terusirnya
mereka dari “Palestina” – “negeri yang dijanjikan” sesuai ketetapan Allah Swt. dalam surah Bani Israil ayat 5-9.
Umat Islam pertama kali kehilangan “negeri yang dijanjikan”
(Palestina/Kanaan) dalam salah satu rangkaian “Perang Salib” pada
tahun 1099 selama
87 tahun – versi lain selama 92 tahun --
namun Palestina dapat direbut kembali oleh Sultan Salahudin al-Ayyubi pada tahun
1187.
Di
Akhir Zaman ini umat
Islam kembali kehilangan sebagian Palestina
ketika pada tahun 1948 berdiri “negara Israil” akibat persekongkolan orang-orang Yahudi
dengan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj
(Magog) – yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat -- melalui “Balfour Declaration” (Deklarasi Balfour) pada tahun (1917) berupa surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri
Luar Negeri Britania Raya/Inggris; Arthur James Balfour, kepada Lord Rothschild (Walter Rothschild,
2nd Baron Rothschild), pemimpin komunitas
Yahudi Inggris, untuk
dikirimkan kepada Federasi Zionis.
Surat itu menyatakan posisi yang disetujui pada rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah
Inggris mendukung rencana-rencana Zionis
membuat “tanah air” bagi orang-orang Yahudi di Palestina, dengan syarat bahwa tak ada hal-hal yang boleh
dilakukan yang mungkin merugikan
hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana.
Departemen Luar Negeri 2 November 1917
Lord Rothschild yang terhormat,
Saya sangat senang
dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan
simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan
disetujui oleh Kabinet.
"Pemerintahan Sri
Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi,
dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya
tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan
yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas
non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang
dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya ."
Saya sangat berterima
kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi
Zionis.
Salam,
Arthur James Balfour
Arthur James Balfour
Saat itu, sebagian terbesar
wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Utsmani,
dan batas-batas yang akan menjadi Palestina
telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan
Sykes-Picot 16 Mei 1916 antara Inggris dan Prancis. Sebagai balasan
untuk komitmen dalam deklarasi itu, komunitas Yahudi akan
berusaha meyakinkan Amerika Serikat
untuk ikut dalam Perang Dunia I. Itu
bukanlah alasan satu-satunya, karena sudah lama di Inggris telah ada dukungan
bagi gagasan mengenai “tanah air” Yahudi,
dan waktunya tergantung pada kemungkinannya.
Pentingnya Beriman
Kepada “Nabi Itu” atau “Nabi yang Seperti Musa” yakni Nabi Besar
Muhammad Saw. & Pentingnya Beriman
Kepada Rasul Akhir Zaman
Apa
pun pun pendapat dan komentar para
pengamat politik mau pun pengamat keagamaan mengenai penyebab dan latar-belakang berdirinya “negara
Israel” di Palestina, namun yang pasti menurut
Allah Swt. dalam Al-Quran hal itu
merupakan penggenapan nubuatan dan peringatan Allah Swt. dalam Al-Quran
bagi Bani Isma’il atau umat Islam (lihat surah Bani Israil 5-9 sebelumnya) dan penggenapan firman-Nya mengenai nubuatan kembalinya orang-orang
Yahudi ke Palestina setelah pengembaraan
panjang mereka selama 2000 tahun
akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.5:79-81), firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah
dia, Kami berfirman kepada Bani Israil:
اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ -- ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ -- dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا -- Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.”
(Bani Israil [17]:105).
Jadi betapa ketetapan Allah Swt. dalam ayat: اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ الۡاَرۡضِ -- atau mereka diusir dari negeri” sangat
erat hubungan dengan ketakaburan dan kedurhakaan terhadap Rasul Allah (QS.17:5-9) yang
kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37;
QS.62:3-5), termasuk di Akhir Zaman
ini, yakni sebagai pengulangan ketakaburan Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah) dalam kisah Monumental “Adam – Malaikat –
Iblis” dan pengulangan kedengkian
dalam kisah monumental “Dua Anak
Adam” (QS.5:28-35).
Salah
satu di antara dosa-dosa besar kaum
Yahudi yang membangkitkan kemurkaan
Allah Swt. ialah, mereka tidak melarang satu sama lain, terhadap kejahatan yang begitu merajalela
di tengah-tengah mereka, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ
دَاوٗدَ وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ
ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ
ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ
النَّبِیِّ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا
اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ
کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari
kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,
ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ -- hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. کَانُوۡا لَا
یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ -- Mereka tidak pernah saling mencegah dari kemungkaran
yang di-kerjakannya, benar-benar sangat buruk apa yang
senantiasa mereka kerjakan. تَرٰی
کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ
لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ
-- Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai
pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang
telah mereka dahulukan bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, dan di dalam azab
inilah mereka akan kekal. وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ
النَّبِیِّ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ -- Dan seandainya mereka beriman kepada Allah, dan kepada Nabi ini, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ
اَوۡلِیَآءَ -- mereka sekali-kali tidak
akan mengambil orang-orang itu
sebagai pelindung-pelindungnya, وَ لٰکِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq (Al-Maidah [5]:79-82).
Nabi
yang dimaksudkan di dalam ayat وَ لَوۡ کَانُوۡا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ وَ
مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ -- Dan seandainya mereka beriman kepada Allah, dan kepada Nabi ini, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya” adalah Nabi
Besar Muhammad saw. atau “nabi yang seperti Musa”(QS.46:11; Ulangan 18:15-19), sebab manakala dalam
Al-Quran kata An-Nabi dipergunakan, kata itu selalu merujuk kepada beliau saw. Bahkan Injil
pun menunjuk kepada beliau sebagai “Nabi itu” (Yahya 1:21. 25), yakni nabi
yang kedatangannya telah dinubuatkan dalam Ulangan 18:15-19.
Doa Mohon
Perlindungan Allah Swt. Dalam Surah Al-Falaq
Mengisyaratkan kepada berbagai penderitaan yang
dialami orang-orang yang beriman kepada Rasul
Allah akibat keburukan yang dikemukakan surah Al-Falaq ayat 5-6: وَ مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ
فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan
orang-orang yang meniupkan ke dalam
buhul, وَ مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan orang yang dengki
apabila ia mendengki” itu
pulalah yang diisyaratkan firman-Nya
berikut ini:
وَ
مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾
“Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam
terhadap mereka itu melainkan hanya
karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, Yang kepunyaan-Nya
kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah
menjadi Saksi atas segala sesuatu.” (Al-Burūj [85]:9-10).
Sebagai penjagaan terhadap segala macam rintangan,
kesulitan dan bahaya dalam menempuh
jalan hidupnya, orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah yang dijanjikan
diperintahkan agar memohon pertolongan
dan bantuan dari Rabbul-Falāq supaya
memberinya nur, yaitu ketika kegelapan mengepung dari semua jurusan
dan supaya melindunginya dari
rencana-rencana jahat tukang-tukang
fitnah: وَ مِنۡ
شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan orang-orang yang meniupkan
ke dalam buhul,” dan dari persekongkolan
jahat para pendengki: وَ مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan orang yang dengki
apabila ia mendengki”.
Demikianlah hakikat doa mohon perlindungan Allah Swt. dalam surah Al-Falaq terhadap berbagai tindakan
buruk secara fisik yang dilakukan para penentang Tauhid Ilahi dalam surah Al-Ikhlash sebagaimana yang diancamkan iblis ketika
“diusir” Allah Swt. karena tidak mau “sujud” -- yakni beriman
dan patuh-taat – kepada Adam (Khalifah Allah – QS.7:12-10; QS.17:62-66), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ۙ﴿﴾ قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾ مِنۡ شَرِّ
مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ
غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ
حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) Yang
Memiliki fajar, dari keburukan
makhluk yang Dia ciptakan, dan dari keburukan
kegelapan malam apabila meliputi, dan dari keburukan
orang-orang yang meniupkan ke dalam
buhul, dan dari keburukan
orang yang dengki apabila ia mendengki” (Al-Falaq
[113]:1-6).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar,17 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar