Rabu, 22 Juni 2016

Hubungan "Nubuatan" Kembalinya Bangsa Yahudi ke Palestina Dengan "Deklarasi Balfour" dan Berdirinya "Negara Israel"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


  HUBUNGAN NUBUATAN KEMBALINYA BANGSA YAHUDI KE PALESTINA DENGAN “DEKLARASI BALFOUR  DAN BERDIRINYA “NEGARA ISRAEL

Bab 72

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai  kembalinya bangsa Yahudi ke Palestina  -- dari  pengembaraan  mereka selama 2000 tahun, sejak  pengusiran mereka oleh serbuan Titus dari kerajaan Romawi  ke Yerusalem  -- adalah bagian dari “hukuman” Allah Swt. kepada umat Islam melalui penyerbuan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.18:95-99; QS.21:96-97), berupa  menyebarnya bangsa-bangsa Kristen dari Barat pada abad ke 17 Masehi, yang berhasil memanfaatkan “energi api”, baik bagi  kekuatan militernya mau pun bagi  sarana transfortasi  mereka,   sehingga  Nabi Besar Muhammad saw. menyebutnya sebagai “keledai Dajjal” yang makanannya “api”, firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  لِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia, Kami berfirman kepada Bani Israil:  اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ --  Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu,  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  -- dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا --    Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.” (Bani Israil [17]:105).

Dua Kali Hukuman Ilahi Kepada Bani Israil dan Bani Isma’il (Umat Islam)

        Kembali kepada   nubuatan dalam surah Bani Israil  mengenai terjadinya dua kali  azab Ilahi yang menimpa  Bani Israil dan Bani Isma’il (umat Islam), Allah Swt. berfirman:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا  --  Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama   dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا  --  Kemudian Kami mengembalikan lagi kepadamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar   dari sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا  --  Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu  dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah me-reka kuasaiعَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا --   Boleh jadi kini Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman   وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا -- dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam  penjara bagi orang-orang kafir” (Bani Israil [17]:5-9).  
     Ayat-ayat surah Bani Israil   tersebut mengandung arti bahwa seperti orang-orang Yahudi demikian juga  umat Islam pun dua kali akan menderita bencana nasional sebagai hukuman Ilahi. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa  yang pertama dari kedua bencana ini menimpa umat Islam ketika kota Baghdad jatuh kepada kekuasaan bangsa Tartar di bawah pimpinan Hulaku Khan.

Terbentuknya “Negara Israel” di Wilayah Palestina

       Mereka di sini diberitahu, bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman, di masa Masih Mau’ud a.s., seperti orang-orang Yahudi mendapat azab Ilahi hukuman di zaman Al-Masih pertama  (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.).   Surah Bani Israil [17] ayat 105   berarti bahwa manakala umat Islam akan dihukum untuk kedua kalinya (QS.17:8)  -- yang berarti sempurnanya “janji mengenai akhir zaman”  -- maka orang-orang Yahudi akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina) dari seluruh  penjuru dunia.
     Nubuatan tersebut  telah menjadi sempurna dengan cara yang luar biasa dengan kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina dengan perantaraan “Balfour Declaration” (Pernyataan Balfour)  dimana pada tahun 1948  di wilayah Palestina  berdiri apa yang dikatakan Negara Israil.
      Jadi,   “janji mengenai akhir zaman” itu  bertalian dengan masa pengutusan Masih Mau’ud a.s. sebagai Rasul Akhir Zaman  (Bayan). Dengan demikian genap pulalah nubuatan dalam Bible berikut ini:
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,    Iblis akan dilepaskan    dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa    pada keempat penjuru bumi,   yaitu Gog dan Magog,   dan mengumpulkan mereka untuk berperang   dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.    20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung   perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi    itu. Tetapi dari langit    turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka,    dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang,   yaitu tempat binatang dan nabi palsu   itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.   (Wahyu 20:7-10).
       Kenyataan sejarah yang menimpa Bani Israil tersebut membuktikan kebenaran firman Allah Swt. dalam lanjutan kisah monumental “Dua anak Adam” sebelum ini   --  mengenai kedengkian Kain terhadap  saudaranya, Habel (QS.5:28-32)  -- dan hal tersebut sesuai hakikat   doa  meminta perlindungan kepada Allah Swt. dalam  surah Al-Falaq, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾   قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾   مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾   وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada  Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar, مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ  --   dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan, وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ --  dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ --   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul, وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ --    dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).

Berbagai Arti Hukuman Allah Swt. Kepada Bani Israil

       Sehubungan kedengkian dalam  kisah monumental “Dua anak Adam” (QS.5:28-32).  selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Sesungguhnya balasan bagi orang-orang  یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا --  yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا     -- ialah mereka dibunuh اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا   --  atau disalib  اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ -- atau pun dipotong tangan dan kakinya disebabkan oleh permusuhan mereka,  اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ -- atau mereka diusir dari negeri. ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا  --   Hal demikian adalah penghinaan bagi mereka di dunia ini, وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ --  dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar.  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ   -- kecuali orang-orang   yang  bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ --  maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Māidah [33-35).
       Ajaran  Islam (Al-Quran) sebagaimana yang disunnahkan Nabi Besar Muhammad saw., tidak pernah  ragu-ragu dalam mengambil tindakan-tindakan yang paling keras  -- berupa hukuman mati   --   bila kepentingan negara atau masyarakat luas menghendaki demikian, untuk membongkar sampai ke akar-akarnya suatu kejahatan yang berbahaya.
     Ajaran Islam menolak tenggang-rasa palsu yang berdasar emosi khayali, namun  pada waktu menjatuhkan hukuman atas pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum, ajaran Islam menggunakan akal dan pertimbangan-pertimbangan yang sehat, sebab  Allah Swt. Sendiri yang menetapkan hukum-hukum tersebut dalam Al-Quran  untuk dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw..

Empat Macam Hukuman

      Hukuman yang ditetapkan  dalam firman-Nya tersebut terdiri atas empat kategori: (1) اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا     -- ialah mereka dibunuh, (2) اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا   --  atau    disalib, (3) اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ -- atau pun dipotong tangan dan kakinya disebabkan oleh permusuhan mereka, (4)  اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ -- atau mereka diusir dari negeri.”
      Bentuk hukuman yang dijatuhkan dalam suatu perkara tertentu akan bergantung pada suasana dan lingkungan.  Dan perlu diketahui bahwa memberikan atau menjatuhkan hukuman adalah menjadi wewenang pemerintah dan bukan wewenang perseorangan. Kata-kata  اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ – “atau mereka diusir dari negeri” menurut Imam Abu Hanifah berarti dipenjarakan.
     Ayat ini dan ayat sebelumnya tidak mengisyaratkan kepada perampok-perampok dan penyamun-penyamun biasa melainkan kepada pemberontak dan penjahat-penjahat yang menyerang negara Islam, sebagaimana jelas dari kata-kata: یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا  الَّذِیۡنَ --  orang-orang  yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini.”
      Kesimpulan demikian selanjutnya ditunjang oleh kenyataan bahwa ayat ini menjanjikan pengampunan kepada pelanggar-pelanggar hukum apabila mereka bertaubat: اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ   -- “kecuali orang-orang   yang  bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka.”
     Tetapi nyata bahwa mereka yang berbuat jahat terhadap perseorangan-perseorangan atau terhadap masyarakat  --  seperti perampok-perampok dan pencuri-pencuri  --  dalam keadaan biasa tidak bisa diampuni oleh negara, sekalipun mereka bertaubat. Mereka tetap harus mengalami hukuman karena perbuatan jahat mereka sesuai dengan ketentuan hukum.
      Sudah   tentu taubat dapat menjamin mendapat ampunan dari Allah Swt., namun  kekuasaan negara dalam hal ini terbatas. Akan tetapi penjahat-penjahat politik bisa dimaafkan jika mereka benar-benar bertaubat dan berhenti dari kegiatan-kegiatan memberontak dan berhenti dari aktivitas-aktivitas lainnya yang mengganggu kebijaksanaan negara.
       Mengenai larangan  melakukan pemberontakan atau melakukan kerusuhan di muka bumi Allah Swt.  berfirman:
وَ لَا تُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِہَا وَ ادۡعُوۡہُ خَوۡفًا وَّ طَمَعًا ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan  di bumi sesudah perbaikannya,  dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap, sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan.   (Al-A’rāf [7]:57 & 86).  

Hubungan “Deklarasi Balfour” dan Berdirinya  “Negara Israel” di Wilayah Palestina

        Pelaksanaan  hukuman  yang ditetapkan Allah Swt. dalam ayat    اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ -- atau mereka diusir dari negeri”  telah dialami dua kali,    baik  oleh Bani Israil mau pun oleh Bani Isma’il  (umat Islam),  yaitu dua kali terusirnya mereka dari “Palestina” – “negeri yang dijanjikan”   sesuai ketetapan Allah Swt. dalam surah Bani Israil ayat 5-9.
         Umat Islam pertama kali kehilangan “negeri yang dijanjikan” (Palestina/Kanaan) dalam  salah satu  rangkaian “Perang Salib”  pada tahun   1099    selama 87 tahun – versi lain selama 92 tahun  -- namun Palestina dapat direbut kembali oleh Sultan Salahudin al-Ayyubi pada tahun 1187.
        Di Akhir Zaman ini  umat Islam kembali kehilangan sebagian Palestina ketika pada tahun 1948  berdiri “negara Israil”   akibat persekongkolan orang-orang Yahudi dengan  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) – yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat   -- melalui “Balfour Declaration” (Deklarasi Balfour) pada tahun (1917) berupa surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania Raya/Inggris; Arthur James Balfour, kepada Lord Rothschild (Walter Rothschild, 2nd Baron Rothschild), pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis.
      Surat itu menyatakan posisi yang disetujui pada rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis membuat “tanah air” bagi orang-orang Yahudi di Palestina, dengan syarat bahwa tak ada hal-hal yang boleh dilakukan yang mungkin merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana.

Departemen Luar Negeri 2 November 1917

Lord Rothschild yang terhormat,
         Saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet.
      "Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya ."
      Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.

Salam,
Arthur James Balfour

       Saat itu, sebagian terbesar wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Utsmani, dan batas-batas yang akan menjadi Palestina telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan Sykes-Picot 16 Mei 1916 antara Inggris dan Prancis. Sebagai balasan untuk komitmen dalam deklarasi itu, komunitas Yahudi akan berusaha meyakinkan Amerika Serikat untuk ikut dalam Perang Dunia I. Itu bukanlah alasan satu-satunya, karena sudah lama di Inggris telah ada dukungan bagi gagasan mengenai “tanah air” Yahudi, dan waktunya tergantung pada kemungkinannya.

Pentingnya Beriman Kepada  “Nabi Itu”  atau “Nabi yang Seperti Musa” yakni Nabi Besar Muhammad Saw. &  Pentingnya  Beriman Kepada Rasul Akhir Zaman

       Apa pun  pun pendapat dan komentar para pengamat politik mau pun pengamat keagamaan mengenai penyebab dan latar-belakang berdirinya “negara Israel” di Palestina, namun yang pasti menurut Allah Swt. dalam Al-Quran hal itu merupakan penggenapan nubuatan dan peringatan Allah Swt. dalam Al-Quran bagi Bani Isma’il atau umat Islam (lihat surah Bani Israil 5-9 sebelumnya) dan penggenapan  firman-Nya mengenai nubuatan  kembalinya  orang-orang Yahudi ke Palestina setelah pengembaraan panjang mereka selama 2000 tahun akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81), firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  لِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia, Kami berfirman kepada Bani Israil:  اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ --  Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu,  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  -- dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا --    Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.” (Bani Israil [17]:105).
      Jadi betapa ketetapan Allah Swt. dalam ayat:  اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ -- atau mereka diusir dari negeri”  sangat erat hubungan dengan ketakaburan dan kedurhakaan terhadap Rasul Allah (QS.17:5-9) yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37; QS.62:3-5), termasuk di Akhir Zaman ini, yakni sebagai pengulangan ketakaburan Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah) dalam kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis” dan pengulangan kedengkian dalam kisah monumental “Dua Anak Adam” (QS.5:28-35).
      Salah satu di antara dosa-dosa besar kaum Yahudi yang membangkitkan kemurkaan Allah Swt.   ialah, mereka tidak melarang satu sama lain, terhadap kejahatan yang begitu merajalela di tengah-tengah mereka, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ  --  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ -- Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang di-kerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakanتَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ  --   Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ --  yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal. وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ  --  Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, dan kepada Nabi ini,  dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ --  mereka sekali-kali  tidak akan mengambil  orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya, وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ -- tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq  (Al-Maidah [5]:79-82).
      Nabi yang dimaksudkan di dalam ayat  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ  --  Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, dan kepada Nabi ini,  dan kepada apa yang diturunkan kepadanya”  adalah Nabi Besar Muhammad saw. atau  “nabi yang seperti Musa”(QS.46:11; Ulangan 18:15-19), sebab manakala dalam Al-Quran kata An-Nabi dipergunakan, kata itu selalu merujuk kepada  beliau saw.   Bahkan Injil pun menunjuk kepada beliau sebagai “Nabi itu” (Yahya 1:21. 25), yakni  nabi yang kedatangannya telah dinubuatkan  dalam Ulangan 18:15-19.

Doa Mohon Perlindungan Allah Swt. Dalam Surah Al-Falaq

     Mengisyaratkan kepada berbagai penderitaan  yang dialami  orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah  akibat keburukan yang dikemukakan surah Al-Falaq ayat 5-6:    وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,    وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki” itu pulalah  yang diisyaratkan firman-Nya berikut ini:
وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾
“Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu.” (Al-Burūj [85]:9-10).
     Sebagai penjagaan terhadap segala macam rintangan, kesulitan dan bahaya dalam menempuh jalan hidupnya, orang-orang yang  beriman kepada Rasul Allah yang dijanjikan diperintahkan agar memohon pertolongan dan bantuan dari Rabbul-Falāq supaya memberinya nur, yaitu ketika kegelapan mengepung dari semua jurusan dan supaya melindunginya dari rencana-rencana jahat tukang-tukang fitnah:  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,” dan dari persekongkolan jahat para pendengkiوَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki”.
     Demikianlah hakikat doa mohon perlindungan Allah Swt. dalam surah Al-Falaq terhadap berbagai tindakan buruk  secara fisik yang dilakukan para penentang Tauhid Ilahi  dalam surah Al-Ikhlash  sebagaimana yang diancamkan iblis ketika “diusir” Allah Swt. karena tidak mau “sujud”  -- yakni beriman dan patuh-taat – kepada Adam (Khalifah Allah – QS.7:12-10; QS.17:62-66), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾  مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah.  Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar, dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan,  dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,    dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki”  (Al-Falaq [113]:1-6).

(Bersambung)
            
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar,17  Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar