Jumat, 10 Juni 2016

"Duel Makar" di Berbagai Masa Kenabian yang Selalu Dimenangkan Allah Swt. & Nubuatan Munculnya "Ya'juj" dan "Ma'juj" Dalam Surah "Al-Lahab" (Kobaran Api)


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


DUEL MAKAR” DI BERBAGAI MASA KENABIAN YANG SELALU DIMENANGKAN ALLAH SWT. &  NUBUATAN   MUNCULNYA YA’JUJ DAN MA’JUJ DALAM SURAH AL-LAHAB (KOBARAN  API)


Bab 64

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah  dijelaskan mengenai “duel makar” antara “makar buruk” yang dilakukan para penentang Rasul Allah dengan “makar tandingan” Allah Swt. yang senantiasa dimenangkan oleh Allah Swt.. Contohnya “duel makar”  dalam hal upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui  penyaliban (QS.3:55)--   dalam upaya  para pemuka Yahudi membuktikan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah nabi palsu, sebab menurut Taurat orang yang matinya tergantung di tiang salib sebagai kematian terkutuk (Ulangan 21:2).
      Demikian pula “duel makar” yang dilakukan para pemimpin Quraisy pimpinan  Abu Jahal   untuk membunuh atau menangkap atau mengusir Nabi Besar Muhammad saw. melalui “penyergapan” pada malam hari (QS.8:31)   – sebagaimana yang pernah dilakukan para pemuka kaum Tsamud terhadap Nabi Shaleh a.s. (QS.27:46-54).

Keunggulan “Makar Tandingan” Allah Swt.

      Namun semua bentuk “makar” buruk” yang dilakukan para penentang Rasul Allah di berberbagai zaman selalu dimenangkan oleh “makar tandingan” Allah Swt., bagaimana pun hebatnya rancangan mereka itu ( QS.14:47-48), karena Allah Swt. adalah Khayrul-mākirīn – Perencana terbaik (QS.8:31).
    Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan. Dan Sunnatullah tersebut terjadi pula di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ ﴿﴾  فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾  یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ ﴿﴾ وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾  سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ ﴿ۙ﴾  لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾  ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Dan  sungguh  mereka telah melakukan makar mereka, tetapi makar mereka ada di sisi Allah, وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ -- dan  jika sekali pun  makar mereka dapat me-mindahkan gunung-gunung. فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ  --  Maka janganlah engkau sama sekali menyangka  bahwa  Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-ra-sul-Nya, اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ  --  sesungguhnya  Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan.  یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ  --  Pada hari ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain, dan begitu pula seluruh langit, dan mereka akan tampil menghadap Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa.  وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ --  Dan  engkau akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat dengan rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ --  Baju mereka dari pelangkin (ter), dan wajah mereka akan tertutup  api. لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ  --  Supaya Allah membalas setiap jiwa  apa yang telah diusahakannya, اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ  --  sesungguhnya penghisaban Allah sangat cepat.   ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ  -- Al-Quran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya dengannya mereka mendapat peringatan, dan supaya mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, dan supaya orang-orang yang berakal memberikan perhatian. (Ibrahim [14]:47-53).
      Dengan jatuhnya Mekkah dan tegaknya Islam di Arabia sebagai satu kekuatan dahsyat, maka seolah-olah terwujudlah satu alam semesta baru dengan langit dan bumi baru. Tertib lama telah dilenyapkan dan diganti oleh tertib  baru, yang sama sekali berbeda dari yang lama.

Duel Makar” di Akhir Zaman & Kedengkian Iblis Terhadap Adam (Khalifah Allah)

     Sunnatullah tersebut akan kembali terulang di Akhir Zaman ini dalam rangka terwujudnya kejayaan Islam Islam  yang kedua kali setelah mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun sejak  3 abad masa kejayaannya yang pertama,   firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
       Kemudian mengenai akan terjadinya kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini  Allah Swt. berfirman:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian dengan cara-cara yang sesuai ajaran Al-Quran, yakni tanpa kekerasan dan paksaan. 
       Dari sekian banyak keburukan sifat iblis  adalah sifat dengki, dan pada hakikatnya sifat dengki itu pulalah yang diperagakannya ketika  iblis  menolak perintah Allah Swt. untuk “sujud” kepada Adam (Khalifah Allah – Rasul Allah) bersama dengan para malaikat,     firman-Nya: 
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ingatlah  ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adam” lalu mereka sujud kecuali  iblis,  ia menolak dan takabur,  dan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir.  Dia  berfirman:  “Apa  yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh sepenuhnya ketika Aku memberi perintah kepada engkau?” Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.” (Al-Baqarah [2]:35-36).
       Pengakuan iblis bahwa dirinya diciptakan Allah Swt. dari “api” dibuktikan oleh perbuatan mereka dalam melakukan penentangan terhadap Adam    -- dan  juga terhadap para Rasul Allah  yang dibangkitkan dari kalangan Bani (keturunan) Adam (QS.7:35-37) -- senantiasa menggunakan berbagai bentuk  “api”, contohnya yang dialami oleh Nabi Ibrahim a.s. dari raja Namrud  dan para pemuka kaumnya (QS.21:52-71;  QS.29:24-25; QS.37:84-99).

Nubuatan Dalam Surah Al-Lahab  

         Sehubungan dengan dengan perbuatan iblis dan para  pengikutnya   berkenaan dengan penggunaan  “api” tersebut, Allah Swt. berfirman mengenai para “pembuat parit api”   yang bahan-bakarnya  (kayu-bakarnya)  atau  penyulut serta pemantiknya adalah berbagai bentuk “fitnah” dan “kedustaan” -- seperti yang dilakukan Umi Jamil, istri Abu Lahab terhadap Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  تَبَّتۡ یَدَاۤ  اَبِیۡ  لَہَبٍ وَّ  تَبَّ ؕ﴿﴾  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنۡہُ  مَالُہٗ  وَ  مَا کَسَبَ ؕ﴿﴾  سَیَصۡلٰی نَارًا ذَاتَ  لَہَبٍ ۚ﴿ۖ﴾   وَّ  امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ  الۡحَطَبِ ۚ﴿﴾   فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayangتَبَّتۡ یَدَاۤ  اَبِیۡ  لَہَبٍ وَّ  تَبَّ --   Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan binasalah dia!   Sekali-kali tidak memberi manfaat kepadanya  hartanya dan apa yang dia usahakan.  Segera  ia akan masuk Api yang menyala-nyala. وَّ  امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ  الۡحَطَبِ --    Dan juga istrinya pemikul kayu bakar. فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ  --   di leher istrinya ada tali  yang dipintal. (Al-Lahab [110]:1-6).  
  Surah ini  walau pun  rujukan peristiwanya adalah berbagai perbuatan buruk yang dilakukan oleh Abu Lahab dan istrinya terhadap misi  suci Nabi Besar Muhammad saw.  selama beliau saw. berada di Mekkah, tetapi sebagai nubuatan  nampaknya surah Al-Lahab pun membahas kaum berwajah merah dan berdarah panas  di Akhir Zaman ini   -- yang memanfaatkan “tenaga api” dalam meraih kemajuan duniawinya  (QS.18:1-9 & 33-45) --    karena itu Surah ini diberi berjudul Al-Lahab yang artinya  “nyala api.”
 Abu Lahab (Bapak Nyala-Api) adalah julukan yang diberikan kepada ‘Abd-al-’Uzza, salah seorang  paman  Nabi Besar Muhammad saw.  dan musuh bebuyutan serta penindas beliau saw.. Abu Lahab adalah salah seorang dari 9 pemimpin kaum kafir Mekkah pimpinan Abu Jahal  sebagaimana  yang terjadi di zaman Nabi Shaleh a.s. (QS.27:49-54).
 Abu Lahab disebut demikian, karena warna muka dan rambutnya kemerah-merahan, atau juga karena ia  berdarah panas atau   pemarah. Surah ini mengingatkan  kepada suatu peristiwa ketika  Nabi Besar Muhammad saw.   mula-mula sekali berda’wah kepada keluarga beliau saw. di Mekkah, setelah diperintahkan Allah Swt. untuk mengumpulkan kaum kerabat beliau dan menyampaikan Amanat Ilahi kepada mereka.
  Pada suatu hari  Nabi Besar Muhammad saw.  berdiri di Bukit Shafa dan memanggil berbagai kabilah Mekkah satu demi satu – kabilah-kabilah Luway, Murah, Kilāb dan Qushay – dan anggota keluarga-dekat beliau saw., dan mengatakan kepada mereka bahwa beliau  saw. adalah utusan Allah, dan bahwa jika mereka tidak menerima seruan beliau saw. serta tidak meninggalkan adat kebiasaan jahat mereka (jahiliyah)  maka hukuman Allah  akan menimpa diri mereka.
   Belum juga  Nabi Besar Muhammad saw.    mengakhiri uraian beliau saw. tiba-tiba   Abu Lahab berdiri seraya berkata: “Binasalah engkau! Untuk inikah engkau memanggil kami berkumpul?” (Bukhari). Terhadap ucapan kasar Abu Lahab tersebut kemudian turun wahyu Al-Quran  surah Al-Lahab, firman-Nya:  تَبَّتۡ یَدَاۤ  اَبِیۡ  لَہَبٍ وَّ  تَبَّ --  Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan binasalah dia!”  

Makna Lain “Abu Lahab” (Bapak Kobaran Api)

   Julukan  Abu Lahab -- “Bapak api yang menyala-nyala”    boleh jadi ditujukan khusus kepada  ‘Abd-al-’Uzza,  atau kepada siapapun dari musuh-musuh Islam yang berwatak  pemarah (berdarah panas), lebih tepat lagi sebutan ini dikenakan kepada bangsa-bangsa Barat di Akhir Zaman ini yang   menolak Tauhid Ilahi    dan mereka itu memiliki dan menguasai senjata-senjata api, atom dan nuklir  -- yang   dalam surah Ar-Rahmān ayat 32-46  disebut golongan jin (penganut Kapitalisme) – suatu kelompok dari mereka  yang disebut golongan ins (penganut Sosialisme) sama sekali menyangkal adanya Tuhan, namun demikian  kedua-duanya sama-sama memusuhi Islam.
     Dalam pengertian ini “kedua tanganAbu Lahab dalam ayat  تَبَّتۡ یَدَاۤ  اَبِیۡ  لَہَبٍ وَّ  تَبَّ --  Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan binasalah dia!”   berarti kedua kelompok itu, dan ayat ini mengandung arti bahwa segala upaya dan persekongkolan rahasia musuh-musuh Islam -- baik di masa Nabi Besar Muhammad saw. mau pun di masa-masa setelah beliau saw. wafat.
     Demikian juga  halnya dengan “makar buruk”  yang dilakukan  “Abu Lahab” (bapak nyala api) di Akhir Zaman yakni    kedua golongan adikuasa Barat dengan satelit- satelitnya, akan gagal sama sekali,  dan semua  makar buruk (rencana jahat) mereka akan menjadi bumerang dan menghantam mereka sendiri; hati mereka akan terbakar oleh amarah demi dilihatnya Islam terus maju melalui perjuangan Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58; (QS.61:10), sedangkan kekuasaan, kekayaan, dan milik mereka sendiri kian menyusut dan binasa juga di hadapan mata kepala mereka sendiri (QS.18:1-9 & 33-45), sesuai nubuatan   dalam  kata dhāllīn dalam  ayat terakhir  Surah Al-Fatihah  yang artinya selain sesat adalah  binasa atau   lenyap.
  Kata “hartanya” dalam ayat selanjutnya: مَاۤ  اَغۡنٰی عَنۡہُ  مَالُہٗ  وَ  مَا کَسَبَ  -- “Sekali-kali tidak memberi manfaat kepadanya  hartanya dan apa yang dia usahakan dapat berarti, kekayaan yang dihasilkan di negeri-negeri mereka sendiri, dan وَ  مَا کَسَبَ    -- “apa yang dia usahakan” dapat diartikan harta kekayaan yang ditimbun mereka dengan memeras bangsa-bangsa yang lebih lemah dan merampas kekayaan sumber-sumber daya alam mereka itu.
  Ungkapan  Abu Lahab  dapat berarti pula orang atau bangsa yang menciptakan barang-barang yang mengeluarkan api serta nyala, atau orang yang dirinya sendiri termakan nyala api. Dalam pengertian terakhir, ayat ini dapat ditafsirkan meramalkan atau menubuatankan mengenai kebinasaan dua blok politik besar di Akhir Zaman, disebabkan oleh “senjata-senjata api” mereka sendiri, seperti bom atom dan senjata nuklir lainnya, firman-Nya:  سَیَصۡلٰی نَارًا ذَاتَ  لَہَبٍ  -- segera  ia akan masuk Api yang menyala-nyala”. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa Hari Perhitungan bagi bangsa-bangsa itu  sudah tidak jauh lagi.

Makna “Istri Abu Lahab” Pembawa “Kayu Bakar” & Munculnya Ya’juj dan Ma’juj  serta Fitnah Dajjal

  Isyarat dalam ayat  وَّ  امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ  الۡحَطَبِ --    Dan juga istrinya pemikul kayu bakar. فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ  --   di leher istrinya ada tali  yang dipintal    nampaknya tertuju kepada istri Abu Lahab, yaitu Ummi Jamil, yang pernah menaburi jalan yang dilalui Nabi Besar Muhammad saw.   dengan duri dan ia  biasa jalan kian kemari menabur-naburkan fitnah terhadap beliau saw.. Hathab (kayu bakar) berarti juga fitnah (Lexicon Lane).
  Ayat  mengenai istri Abu Lahab ini dapat juga dikenakan kepada orang-orang yang menabur-naburkan fitnah dan tuduhan-tuduhan palsu terhadap Islam dan terhadap  Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini   yang disebut beliau saw. sebagai fitnah Dajjal yang sangat berbahaya, sebab pada hakikatnya    Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) dan Dajjal  merupakan “pasangan” (suami-istri).
Makna ayat فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ  --   “di leher istrinya ada tali  yang dipintal. Sekalipun nampaknya merdeka namun bangsa-bangsa atau kedua Blok besar dunia  yang bertentangan tersebut akan demikian amat terikatnya pada ideologi-ideologi dan sistem-sistem politik masing-masing, sehingga mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari belenggu ideologi dan sistem mereka itu.
Atau, seperti Ummi Jamil, yang konon telah tercekik lehernya oleh tali yang justru dengan tali itu pula ia mengikat dan membawa kayu bakar, demikian juga bangsa-bangsa itu akan binasa oleh alat-alatnya sendiri yang dengan alat-alat itu mereka berusaha membinasakan bangsa-bangsa lain, firman-Nya:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَاۤ  اَنَّہُمۡ لَا  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّکُمۡ وَ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ ؕ اَنۡتُمۡ  لَہَا وٰرِدُوۡنَ ﴿﴾  لَوۡ کَانَ ہٰۤؤُلَآءِ اٰلِہَۃً مَّا وَرَدُوۡہَا ؕ وَ کُلٌّ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ  وَّ  ہُمۡ فِیۡہَا لَا یَسۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Dan terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali. حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ  --     Hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian. وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  --  sudah mendekat janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak  mata orang-orang   kafir, mereka  berseru, یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ  --  Aduhai, celaka kami! Sungguh kami dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!”    اِنَّکُمۡ وَ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ ؕ --  Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam, اَنۡتُمۡ  لَہَا وٰرِدُوۡنَ --    kamu akan mendatanginyaلَوۡ کَانَ ہٰۤؤُلَآءِ اٰلِہَۃً مَّا وَرَدُوۡہَا ؕ        -- Seandainya mereka itu tuhan-tuhan,  mereka sekali-kali tidak akan masuk mendatanginya, وَ کُلٌّ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  dan semuanya akan kekal di dalamnya. وَ کُلٌّ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --   Mereka di dalamnya merintih, dan mereka di dalamnya tidak mendengar kabar gembira.   (Al-Anbiya [21]:96-101).

Nubuatan Kehancuran Kejayaan Duniawi   Ya’juj dan Ma’juj  serta Fitnah Dajjal

     Ayat 97 Jika dibaca bersama-sama dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat ini ialah bahwa hukum alam bekerja demikian rupa, sehingga sekali bila suatu kaum — sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya — mengalami kebinasaan dan kehancuran,  mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang itu.
   Demikian  pula  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) pun dengan kejayaan dan kemuliaan besar dalam kebendaan tidak dapat mengelakkan diri dari hukum alam tersebut. Mereka akan jatuh dan tidak akan bangkit kembali untuk selama-lamanya. Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau bangsa-bangsa Kristen barat  di Akhir Zaman ini telah mencapai segala puncak kekuasaan politik dan telah menyebar ke seluruh dunia.  
       Makna ungkapan Al-Quran berarti, ۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ --     mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian” bahwa mereka akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan dan akan menguasai seluruh dunia.    Kekuasaan Ya’juj dan Ma’juj akan diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang membawa bencana di dunia, yang akhirnya akan menyebabkan kejayaan  dan kemenangan Islam   yang kedua kali (QS.61:10) dan menjadi sebab kekuatan-kekuatan kepalsuan dan kebendaan yang menjelma dalam wujud Ya’juj dan Ma’juj  -- serta fitnah Dajjal   - itu musnah.
     Bila sesudah kehancuran Ya’juj dan  Ma’juj secara mutlak, Islam akan memperoleh kembali kejayaan dan kemuliaannya seperti sediakala, mereka yang telah berputus-asa mengenai kebangkitan kembali mata kepala mereka sendiri hampir-hampir tidak dapat mempercayainya, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
        Jadi, penentangan  dan penghadangan  yang dilakukan iblis terhadap Adam (Rasul Allah) dan  orang-orang yang beriman   di berbagai masa kenabian  di kalangan keturunana Adam (QS.7:35-37)   -- termasuk di Akhir Zaman ini   --  sesuai dengan  makna pengakuan iblis bahwa ia telah diciptakan Allah Swt.  dari api, firman-Nya: 
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾  وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk. وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ --  Dan sebelumnya Kami telah menjadikan  jin dari api angin panas.  (Al-Hijr [15]:27-28).
Firman-Nya lagi:
خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾  وَ  خَلَقَ  الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ  مِّنۡ نَّارٍ ﴿ۚ﴾
Dia menciptakan manusia dari tanah liat kering  seperti tembikarوَ  خَلَقَ  الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ  مِّنۡ نَّارٍ   --    dan Dia menciptakan jin-jin dari nyala api. (Ar-Rahmān [55]:15-16). 

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 8 Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar