Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
“DUEL MAKAR” DI
BERBAGAI MASA KENABIAN YANG SELALU DIMENANGKAN ALLAH SWT. & NUBUATAN MUNCULNYA YA’JUJ DAN MA’JUJ DALAM SURAH AL-LAHAB (KOBARAN API)
Bab 64
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai “duel makar” antara “makar
buruk” yang dilakukan para penentang
Rasul Allah dengan “makar tandingan” Allah Swt. yang senantiasa dimenangkan oleh Allah Swt.. Contohnya “duel makar” dalam hal upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban
(QS.3:55)-- dalam upaya
para pemuka Yahudi membuktikan
bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah nabi
palsu, sebab menurut Taurat orang
yang matinya tergantung di tiang salib sebagai kematian terkutuk (Ulangan
21:2).
Demikian pula “duel makar”
yang dilakukan para pemimpin Quraisy pimpinan
Abu Jahal untuk membunuh atau menangkap atau mengusir
Nabi Besar Muhammad saw. melalui “penyergapan” pada malam hari (QS.8:31) – sebagaimana yang pernah dilakukan para
pemuka kaum Tsamud terhadap Nabi Shaleh a.s. (QS.27:46-54).
Keunggulan “Makar Tandingan” Allah Swt.
Namun semua bentuk “makar” buruk” yang dilakukan para penentang Rasul Allah di berberbagai zaman selalu dimenangkan oleh “makar tandingan” Allah Swt., bagaimana pun
hebatnya rancangan mereka itu (
QS.14:47-48), karena Allah Swt. adalah Khayrul-mākirīn – Perencana terbaik (QS.8:31).
Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan. Dan Sunnatullah
tersebut terjadi pula di Akhir Zaman
ini, firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ
عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ الۡجِبَالُ ﴿﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ
وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾ یَوۡمَ
تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ بَرَزُوۡا
لِلّٰہِ الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ ﴿﴾
وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ
مُّقَرَّنِیۡنَ فِی الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾ سَرَابِیۡلُہُمۡ
مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ
النَّارُ ﴿ۙ﴾ لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ
کُلَّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾ ہٰذَا
بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ
وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ
اِلٰہٌ وَّاحِدٌ وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Dan sungguh mereka
telah melakukan makar mereka, tetapi makar
mereka ada di sisi Allah, وَ
اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ
الۡجِبَالُ -- dan jika sekali pun makar mereka dapat me-mindahkan gunung-gunung.
فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ
وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ -- Maka janganlah
engkau sama sekali menyangka bahwa Allah
akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-ra-sul-Nya,
اِنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ -- sesungguhnya
Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ بَرَزُوۡا
لِلّٰہِ الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ -- Pada hari
ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain, dan begitu pula seluruh langit, dan
mereka akan tampil menghadap Allah, Yang
Maha Esa, Maha Perkasa. وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ
مُّقَرَّنِیۡنَ فِی الۡاَصۡفَادِ -- Dan engkau akan melihat orang-orang yang
berdosa pada hari itu diikat dengan
rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ
مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ
النَّارُ -- Baju mereka dari pelangkin
(ter), dan wajah mereka akan tertutup api. لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ کُلَّ
نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Supaya Allah membalas setiap jiwa apa yang telah
diusahakannya, اِنَّ اللّٰہَ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- sesungguhnya penghisaban Allah sangat cepat.
ہٰذَا
بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ
وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ
اِلٰہٌ وَّاحِدٌ وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- Al-Quran
ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya dengannya mereka mendapat peringatan, dan supaya mereka mengetahui bahwa
sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa,
dan supaya orang-orang yang berakal
memberikan perhatian. (Ibrahim [14]:47-53).
Dengan jatuhnya Mekkah dan tegaknya Islam di Arabia sebagai satu kekuatan dahsyat,
maka seolah-olah terwujudlah satu alam
semesta baru dengan langit dan bumi baru. Tertib lama telah dilenyapkan
dan diganti oleh tertib baru, yang sama sekali berbeda dari yang lama.
“Duel Makar” di Akhir
Zaman & Kedengkian Iblis Terhadap
Adam (Khalifah Allah)
Sunnatullah tersebut akan
kembali terulang di Akhir Zaman ini
dalam rangka terwujudnya kejayaan Islam
Islam yang kedua kali setelah
mengalami masa kemunduran selama 1000
tahun sejak 3 abad masa kejayaannya yang pertama, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ
السَّمَآءِ اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ
یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
Kemudian mengenai akan
terjadinya kejayaan Islam yang kedua
kali di Akhir Zaman ini Allah Swt. berfirman:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat
ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih
Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua
agama muncul dan keunggulan Islam di
atas semua agama akan menjadi
kepastian dengan cara-cara yang sesuai ajaran Al-Quran, yakni tanpa
kekerasan dan paksaan.
Dari
sekian banyak keburukan sifat iblis
adalah sifat dengki, dan pada
hakikatnya sifat dengki itu pulalah
yang diperagakannya ketika iblis menolak
perintah Allah Swt. untuk “sujud”
kepada Adam (Khalifah Allah – Rasul
Allah) bersama dengan para malaikat, firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ
اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ
السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ مَا مَنَعَکَ اَلَّا
تَسۡجُدَ اِذۡ اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ
وَّ خَلَقۡتَہٗ مِنۡ
طِیۡنٍ ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni tunduk-patuhlah kamu
kepada Adam” lalu mereka sujud
kecuali iblis, ia menolak dan takabur, dan ia termasuk dari antara orang-orang yang kafir. Dia berfirman: “Apa
yang telah menghalangi engkau
sehingga engkau tidak bersujud yakni
patuh sepenuhnya ketika Aku memberi
perintah kepada engkau?” Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.” (Al-Baqarah [2]:35-36).
Pengakuan
iblis bahwa dirinya diciptakan Allah Swt. dari “api” dibuktikan oleh perbuatan mereka dalam melakukan penentangan terhadap Adam -- dan
juga terhadap para Rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan Bani (keturunan) Adam (QS.7:35-37) -- senantiasa menggunakan berbagai bentuk “api”,
contohnya yang dialami oleh Nabi Ibrahim
a.s. dari raja Namrud dan para pemuka kaumnya (QS.21:52-71; QS.29:24-25; QS.37:84-99).
Nubuatan Dalam Surah
Al-Lahab
Sehubungan
dengan dengan perbuatan iblis dan
para pengikutnya
berkenaan dengan penggunaan “api”
tersebut, Allah Swt. berfirman mengenai para “pembuat parit api” yang bahan-bakarnya (kayu-bakarnya) atau penyulut serta pemantiknya adalah berbagai bentuk “fitnah” dan “kedustaan”
-- seperti yang dilakukan Umi Jamil,
istri Abu Lahab terhadap Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ تَبَّتۡ یَدَاۤ اَبِیۡ
لَہَبٍ وَّ تَبَّ ؕ﴿﴾ مَاۤ اَغۡنٰی عَنۡہُ مَالُہٗ
وَ مَا کَسَبَ ؕ﴿﴾ سَیَصۡلٰی
نَارًا ذَاتَ لَہَبٍ ۚ﴿ۖ﴾ وَّ امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ الۡحَطَبِ ۚ﴿﴾ فِیۡ
جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. تَبَّتۡ یَدَاۤ اَبِیۡ لَہَبٍ وَّ
تَبَّ -- Binasalah
kedua tangan Abu Lahab dan binasalah
dia! Sekali-kali tidak memberi manfaat kepadanya hartanya
dan apa yang dia usahakan. Segera ia akan masuk Api yang menyala-nyala. وَّ
امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ
الۡحَطَبِ -- Dan juga istrinya pemikul kayu bakar. فِیۡ
جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ -- di leher istrinya ada tali yang dipintal. (Al-Lahab
[110]:1-6).
Surah ini walau pun
rujukan peristiwanya adalah berbagai perbuatan
buruk yang dilakukan oleh Abu Lahab
dan istrinya terhadap misi suci Nabi Besar Muhammad saw. selama beliau saw. berada di Mekkah, tetapi
sebagai nubuatan nampaknya surah Al-Lahab pun membahas kaum
berwajah merah dan berdarah panas di Akhir
Zaman ini -- yang memanfaatkan “tenaga api” dalam meraih kemajuan duniawinya (QS.18:1-9 & 33-45) -- karena itu Surah ini diberi berjudul Al-Lahab yang artinya “nyala
api.”
Abu Lahab (Bapak Nyala-Api) adalah julukan yang diberikan kepada ‘Abd-al-’Uzza, salah seorang paman
Nabi Besar Muhammad saw. dan musuh
bebuyutan serta penindas beliau saw.. Abu Lahab adalah salah seorang dari 9 pemimpin kaum kafir
Mekkah pimpinan Abu Jahal sebagaimana
yang terjadi di zaman Nabi Shaleh a.s. (QS.27:49-54).
Abu Lahab disebut demikian, karena warna muka dan rambutnya kemerah-merahan, atau juga karena ia berdarah
panas atau pemarah. Surah ini mengingatkan kepada suatu peristiwa ketika Nabi Besar
Muhammad saw. mula-mula
sekali berda’wah kepada keluarga beliau saw. di Mekkah, setelah
diperintahkan Allah Swt. untuk mengumpulkan kaum
kerabat beliau dan menyampaikan Amanat
Ilahi kepada mereka.
Pada suatu hari Nabi Besar Muhammad saw. berdiri di Bukit Shafa dan memanggil
berbagai kabilah Mekkah satu demi
satu – kabilah-kabilah Luway, Murah, Kilāb dan Qushay – dan anggota keluarga-dekat beliau saw., dan
mengatakan kepada mereka bahwa beliau saw. adalah utusan Allah, dan bahwa jika mereka tidak menerima seruan beliau saw. serta tidak meninggalkan adat kebiasaan jahat mereka (jahiliyah) maka hukuman
Allah
akan menimpa diri mereka.
Belum juga Nabi Besar Muhammad saw. mengakhiri uraian beliau saw. tiba-tiba Abu Lahab berdiri seraya berkata: “Binasalah engkau! Untuk inikah engkau
memanggil kami berkumpul?” (Bukhari).
Terhadap ucapan kasar Abu Lahab
tersebut kemudian turun wahyu
Al-Quran surah Al-Lahab,
firman-Nya: تَبَّتۡ یَدَاۤ اَبِیۡ
لَہَبٍ وَّ تَبَّ -- Binasalah
kedua tangan Abu Lahab dan binasalah
dia!”
Makna Lain “Abu
Lahab” (Bapak Kobaran Api)
Julukan
Abu Lahab -- “Bapak api
yang menyala-nyala” boleh jadi ditujukan khusus kepada ‘Abd-al-’Uzza,
atau kepada siapapun dari musuh-musuh Islam yang berwatak pemarah (berdarah panas), lebih tepat lagi
sebutan ini dikenakan kepada bangsa-bangsa
Barat di Akhir Zaman ini
yang menolak Tauhid
Ilahi dan mereka itu memiliki dan
menguasai senjata-senjata api, atom dan nuklir -- yang dalam surah Ar-Rahmān ayat 32-46 disebut
golongan jin (penganut Kapitalisme) – suatu kelompok dari mereka yang disebut golongan ins (penganut Sosialisme)
sama sekali menyangkal adanya Tuhan,
namun demikian kedua-duanya sama-sama memusuhi Islam.
Dalam pengertian ini “kedua tangan“
Abu Lahab dalam ayat تَبَّتۡ یَدَاۤ اَبِیۡ لَہَبٍ وَّ
تَبَّ -- Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan
binasalah dia!” berarti kedua kelompok
itu, dan ayat ini mengandung arti bahwa segala upaya dan persekongkolan
rahasia musuh-musuh Islam -- baik
di masa Nabi Besar Muhammad saw. mau
pun di masa-masa setelah beliau saw. wafat.
Demikian juga halnya dengan “makar buruk” yang
dilakukan “Abu Lahab” (bapak nyala api) di Akhir
Zaman yakni kedua
golongan adikuasa Barat dengan satelit-
satelitnya, akan gagal sama
sekali, dan semua makar
buruk (rencana jahat) mereka akan menjadi bumerang dan menghantam
mereka sendiri; hati mereka akan terbakar oleh amarah demi dilihatnya Islam
terus maju melalui perjuangan Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58; (QS.61:10), sedangkan kekuasaan,
kekayaan, dan milik mereka sendiri kian menyusut
dan binasa juga di hadapan mata
kepala mereka sendiri (QS.18:1-9 & 33-45), sesuai nubuatan dalam kata dhāllīn
dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah yang artinya selain sesat adalah binasa atau lenyap.
Kata “hartanya”
dalam ayat selanjutnya: مَاۤ اَغۡنٰی عَنۡہُ مَالُہٗ
وَ مَا کَسَبَ -- “Sekali-kali tidak memberi
manfaat kepadanya hartanya dan apa yang dia usahakan” dapat
berarti, kekayaan yang dihasilkan di
negeri-negeri mereka sendiri, dan وَ
مَا کَسَبَ -- “apa yang dia usahakan” dapat
diartikan harta kekayaan yang ditimbun mereka dengan memeras bangsa-bangsa yang lebih lemah
dan merampas kekayaan sumber-sumber daya alam
mereka itu.
Ungkapan Abu Lahab dapat berarti pula orang atau bangsa yang menciptakan barang-barang yang mengeluarkan
api serta nyala, atau orang yang dirinya sendiri termakan nyala api.
Dalam pengertian terakhir, ayat ini dapat ditafsirkan meramalkan atau menubuatankan
mengenai kebinasaan dua blok politik besar di Akhir Zaman, disebabkan oleh “senjata-senjata api” mereka sendiri,
seperti bom atom dan senjata nuklir lainnya, firman-Nya: سَیَصۡلٰی نَارًا ذَاتَ
لَہَبٍ -- segera ia
akan masuk Api yang menyala-nyala”. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa Hari Perhitungan bagi bangsa-bangsa itu sudah tidak jauh lagi.
Makna “Istri Abu Lahab” Pembawa “Kayu
Bakar” & Munculnya Ya’juj dan
Ma’juj serta Fitnah Dajjal
Isyarat
dalam ayat وَّ امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ الۡحَطَبِ -- Dan juga istrinya pemikul kayu bakar. فِیۡ
جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ -- di leher istrinya ada tali yang dipintal” nampaknya tertuju kepada istri Abu Lahab, yaitu Ummi
Jamil, yang pernah menaburi jalan
yang dilalui Nabi Besar Muhammad saw. dengan duri dan ia biasa jalan kian
kemari menabur-naburkan fitnah
terhadap beliau saw.. Hathab (kayu
bakar) berarti juga fitnah
(Lexicon
Lane).
Ayat mengenai istri
Abu Lahab ini dapat juga dikenakan kepada orang-orang yang menabur-naburkan fitnah dan tuduhan-tuduhan palsu terhadap Islam dan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini yang
disebut beliau saw. sebagai fitnah Dajjal yang sangat berbahaya, sebab pada hakikatnya
Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) dan Dajjal merupakan “pasangan” (suami-istri).
Makna ayat فِیۡ
جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ -- “di leher istrinya ada tali yang dipintal.” Sekalipun
nampaknya merdeka namun bangsa-bangsa atau kedua Blok besar dunia yang bertentangan tersebut akan demikian amat
terikatnya pada ideologi-ideologi dan sistem-sistem
politik masing-masing, sehingga mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari belenggu ideologi dan sistem mereka itu.
Atau, seperti Ummi Jamil, yang konon telah tercekik
lehernya oleh tali yang justru
dengan tali itu pula ia mengikat dan membawa kayu bakar, demikian juga bangsa-bangsa itu akan binasa
oleh alat-alatnya sendiri yang dengan
alat-alat itu mereka berusaha membinasakan bangsa-bangsa lain,
firman-Nya:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَاۤ اَنَّہُمۡ لَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی اِذَا فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ
ہُمۡ مِّنۡ کُلِّ
حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا
قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّکُمۡ
وَ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ ؕ اَنۡتُمۡ لَہَا وٰرِدُوۡنَ ﴿﴾ لَوۡ کَانَ ہٰۤؤُلَآءِ اٰلِہَۃً مَّا وَرَدُوۡہَا
ؕ وَ کُلٌّ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ لَہُمۡ
فِیۡہَا زَفِیۡرٌ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا لَا یَسۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Dan terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin
kembali. حَتّٰۤی
اِذَا فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ
مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ مِّنۡ کُلِّ
حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ -- Hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan Ya’juj dan Ma’juj dan mereka
turun dengan cepat dari setiap ketinggian. وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- sudah
mendekat janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak mata orang-orang kafir, mereka berseru, یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ
غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ -- “Aduhai, celaka kami!
Sungguh kami dalam kelalaian mengenai
hal ini, bahkan kami adalah
orang yang zalim!” اِنَّکُمۡ وَ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ ؕ -- Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu
sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam, اَنۡتُمۡ لَہَا وٰرِدُوۡنَ -- kamu
akan mendatanginya. لَوۡ کَانَ ہٰۤؤُلَآءِ اٰلِہَۃً مَّا
وَرَدُوۡہَا ؕ -- Seandainya
mereka itu tuhan-tuhan, mereka sekali-kali tidak akan masuk
mendatanginya, وَ کُلٌّ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- dan semuanya
akan kekal di dalamnya. وَ کُلٌّ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- Mereka
di dalamnya merintih, dan mereka di
dalamnya tidak mendengar kabar gembira. (Al-Anbiya [21]:96-101).
Nubuatan Kehancuran Kejayaan Duniawi
Ya’juj dan Ma’juj serta Fitnah Dajjal
Ayat 97 Jika dibaca bersama-sama
dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat ini ialah bahwa hukum alam bekerja demikian rupa,
sehingga sekali bila suatu kaum — sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya
— mengalami kebinasaan dan kehancuran, mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang itu.
Demikian pula Ya’juj (Gog)
dan Ma’juj (Magog) pun dengan kejayaan dan kemuliaan besar dalam kebendaan
tidak dapat mengelakkan diri dari hukum
alam tersebut. Mereka akan jatuh
dan tidak akan bangkit kembali untuk
selama-lamanya. Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau bangsa-bangsa Kristen barat di Akhir
Zaman ini telah mencapai segala puncak
kekuasaan politik dan telah menyebar
ke seluruh dunia.
Makna ungkapan Al-Quran berarti, ۡ
مِّنۡ کُلِّ حَدَبٍ
یَّنۡسِلُوۡنَ -- mereka
turun dengan cepat dari setiap ketinggian” bahwa mereka akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan dan akan menguasai seluruh dunia. Kekuasaan Ya’juj
dan Ma’juj akan diikuti oleh
peristiwa-peristiwa yang membawa bencana
di dunia, yang akhirnya akan menyebabkan kejayaan dan kemenangan
Islam yang kedua kali (QS.61:10) dan menjadi sebab kekuatan-kekuatan kepalsuan dan kebendaan yang menjelma dalam wujud Ya’juj dan Ma’juj -- serta fitnah Dajjal - itu musnah.
Bila
sesudah kehancuran Ya’juj dan Ma’juj secara
mutlak, Islam akan memperoleh kembali
kejayaan dan kemuliaannya seperti sediakala, mereka yang telah berputus-asa mengenai kebangkitan kembali mata kepala mereka
sendiri hampir-hampir tidak dapat
mempercayainya, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Jadi, penentangan dan penghadangan yang dilakukan iblis terhadap Adam
(Rasul Allah) dan orang-orang yang beriman di berbagai masa kenabian di kalangan
keturunana Adam (QS.7:35-37) --
termasuk di Akhir Zaman ini -- sesuai dengan makna pengakuan
iblis bahwa ia telah diciptakan
Allah Swt. dari api, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾ وَ
الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk. وَ الۡجَآنَّ
خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ -- Dan sebelumnya Kami telah menjadikan jin
dari api angin panas. (Al-Hijr [15]:27-28).
Firman-Nya
lagi:
خَلَقَ
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾ وَ خَلَقَ الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ نَّارٍ ﴿ۚ﴾
Dia menciptakan manusia dari tanah
liat kering seperti
tembikar, وَ خَلَقَ الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ نَّارٍ -- dan Dia
menciptakan jin-jin dari nyala api.
(Ar-Rahmān [55]:15-16).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 8 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar