Sabtu, 11 Juni 2016

Bahaya "Fitnah Dajjal" yang Diperingatkan Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Umat Islam di Akhir Zaman & Hubungan Pewarisan "Negeri yang Dijanjikan" Kepada Umat Islam Dengan Pengutusan "Rasul Akhir Zaman"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


BAHAYA “FITNAH DAJJAL” YANG DIPERINGATKAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. KEPADA UMAT ISLAM DI AKHIR ZAMAN &  HUBUNGAN  PEWARISAN “NEGERI YANG DIJANJIKAN” KEPADA UMAT ISLAM  PENGUTUSAN  MASIH MAU’UD A.S.  


Bab 65

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah  dijelaskan   nubuatan dalam Surah Al-Lahab mengenai makna ayat فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ  --   “di leher istrinya ada tali  yang dipintal.” (Al-Lahab [111]:6).  Sekalipun nampaknya merdeka namun bangsa-bangsa atau kedua Blok besar dunia  yang bertentangan tersebut akan demikian amat terikatnya pada ideologi-ideologi dan sistem-sistem politik masing-masing, sehingga mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari belenggu ideologi dan sistem mereka itu.
 Atau, seperti Ummi Jamil, yang konon telah tercekik lehernya oleh tali yang justru dengan tali itu pula ia mengikat dan membawa kayu bakar, demikian juga bangsa-bangsa itu akan binasa oleh alat-alatnya sendiri yang dengan alat-alat itu mereka berusaha membinasakan bangsa-bangsa lain, sebagaimana  firman-Nya mengenai Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) yang akan mengalami nasib tragis yang sama:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَاۤ  اَنَّہُمۡ لَا  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّکُمۡ وَ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ ؕ اَنۡتُمۡ  لَہَا وٰرِدُوۡنَ ﴿﴾  لَوۡ کَانَ ہٰۤؤُلَآءِ اٰلِہَۃً مَّا وَرَدُوۡہَا ؕ وَ کُلٌّ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ  وَّ  ہُمۡ فِیۡہَا لَا یَسۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Dan terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali. حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ  --     Hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian. وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  --     sudah mendekat janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak  mata orang-orang   kafir, mereka  berseru, یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ  --  Aduhai, celaka kami! Sungguh kami dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!”    اِنَّکُمۡ وَ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ ؕ -- Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam, اَنۡتُمۡ  لَہَا وٰرِدُوۡنَ --    kamu akan mendatanginyaلَوۡ کَانَ ہٰۤؤُلَآءِ اٰلِہَۃً مَّا وَرَدُوۡہَا ؕ        -- Seandainya mereka itu tuhan-tuhan, mereka sekali-kali tidak akan masuk mendatanginya, وَ کُلٌّ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  dan semuanya akan kekal di dalamnya. وَ کُلٌّ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --   Mereka di dalamnya merintih, dan mereka di dalamnya tidak mendengar kabar gembira.   (Al-Anbiya [21]:96-101).

Nubuatan Kehancuran Kejayaan Duniawi   Ya’juj dan Ma’juj  serta Bahaya  Fitnah Dajjal

     Ayat 97 Jika dibaca bersama-sama dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat ini ialah bahwa hukum alam bekerja demikian rupa, sehingga sekali bila suatu kaum — sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya — mengalami kebinasaan dan kehancuran,  mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang itu.
    Demikian  pula  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) pun dengan kejayaan dan kemuliaan besar dalam kebendaan tidak dapat mengelakkan diri dari hukum alam tersebut. Mereka akan jatuh dan tidak akan bangkit kembali untuk selama-lamanya. Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau bangsa-bangsa Kristen barat  di Akhir Zaman ini telah mencapai segala puncak kekuasaan politik dan telah menyebar ke seluruh dunia.  
      Makna ungkapan Al-Quran  ۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ --     mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian” berarti bahwa  bangsa-bangsa Kristen dari barat di Akhir Zaman akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan dan akan menguasai seluruh dunia serta memberikan pengaruh buruk dalam berbagai segi kehidupan manusia  – termasuk umat Islam --  yang disebut fitnah Dajjal, sehingga genaplah nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai  akan terjadinya  persamaan antara  umat Islam dengan umat Yahudi dan Nasrani (Kristen) seperti  persamaan sepasang sepatu. Berikut ini beberapa hadits yang dimaksud: 
      Abdullah ibnu Umar r.a. berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Pasti akan datang pada umatku sebagaimana yang telah terjadi pada Umat Bani Israil seperti sepasang sepatu, hingga kalau umat Bani Israil berzina dengan ibunya secara terang-terangan maka umatku juga akanberbuat demikian. Ketahuilah bahwa Umat Bani Israel akan pecah belah hingga 72 firqah dan umatku akan berpecah belah hingga 73 firqah.Kesemuanya akan menjadi bahan api neraka terkecuali satu  firqah”. Sahabat-sahabat bertanya: “Firqah  yang manakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab dengan bersabda: “Firqah  ialah yang mengamalkan apa yang aku dan sahabat-sahabatku amalkan" (Tirmidzi, Kitabul Iman).
      Sayidina Ali r.a. berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Suatu zaman akan datang dimana dimana Islam hanya tinggal nama saja, dan Al-Quran tinggal tulisan saja, masjid-masjid akan penuh dengan penghuninya tetapi kosong dari orang-orang dapat petunjuk. Ulama-Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk di bawah kolong langit dan mereka akan membuat fitnah dan kemudian fitnah itu akan kembali kep;ada diri mereka sendiri”   (Baihaqi, Misykat hal, 38).

   Abu Hurairah berkata:  Rasulullah saw. bersabda:  “Demi Allah Yang menggenggam nyawaku, tidak syak lagi bahwa Al-Masih ibnu Maryam akan datang di antara kamu merupakan hakim yang adil. Dia akan memecahkan salib   dan akan membunuh babi  (Bukhari Kitabul Anbiya' 1:490).

Makna “Memecahkan Salib” dan “Membunuh Babi

      Makna memecahkan salib   adalah  bahwa  Al-Masih Mau’ud a.s. dengan dalil-dalil  Al-Quran mau pun Bible   menunjukkan kekeliruan keyakinan Kristen tentang kematian terkutuk Yesus di tiang salib  untuk menebus dosa manusia (QS.458-159).  Ada pun makna  akan membunuh babi   bahwa Masih Mau’ud a.s. melalui quat qudsiyahnya (daya pensucian ruhaninya) akan membersihkan perangai  umat yang berkelakuan buruk seperti  babi, firman-Nya:
قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ ہَلۡ تَنۡقِمُوۡنَ مِنَّاۤ اِلَّاۤ اَنۡ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡنَا وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اَنَّ  اَکۡثَرَکُمۡ  فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ بِشَرٍّ مِّنۡ ذٰلِکَ مَثُوۡبَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ مَنۡ لَّعَنَہُ اللّٰہُ وَ غَضِبَ عَلَیۡہِ وَ جَعَلَ مِنۡہُمُ الۡقِرَدَۃَ  وَ الۡخَنَازِیۡرَ وَ عَبَدَ الطَّاغُوۡتَ ؕ اُولٰٓئِکَ شَرٌّ مَّکَانًا وَّ  اَضَلُّ  عَنۡ  سَوَآءِ السَّبِیۡلِ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu  membenci serta mencela kami  hanya karena kami telah beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelum ini,  padahal sesungguhnya kebanyakan kamu orang-orang durhaka?”   Katakanlah: “Maukah  aku be-ritahukan kepada kamu yang lebih buruk daripada itu  mengenai pem-balasan dari sisi Allahمَنۡ لَّعَنَہُ اللّٰہُ وَ غَضِبَ عَلَیۡہِ وَ جَعَلَ مِنۡہُمُ الۡقِرَدَۃَ  وَ الۡخَنَازِیۡرَ وَ عَبَدَ الطَّاغُوۡتَ --  Yaitu orang-orang yang dilaknati Allah, kepadanya Dia  murka dan menjadikan sebagian dari mereka kera-kera, dan babi-babi  serta yang menyembah  syaitan. اُولٰٓئِکَ شَرٌّ مَّکَانًا وَّ  اَضَلُّ  عَنۡ  سَوَآءِ السَّبِیۡلِ  --  Mereka itu berada di tempat yang buruk dan   tersesat jauh dari jalan lurus.  (Al-Māidah [5]:60-61). Lihat pula QS.2:66; QS.7:167.
     Kata-kata “kera” dan “babi” telah dipergunakan di sini dalam artian kiasan. Kebiasaan tertentu merupakan ciri khas binatang-binatang tertentu pula. Ciri-ciri khas itu tidak dapat digambarkan sepenuhnya kalau binatang yang  mempunyai kebiasaan itu tidak disebut namanya dengan jelas.
       Kera terkenal karena sifat penirunya dan babi ditandai oleh kebiasaan-kebiasaan kotor dan tidak bermalu dan juga oleh kebodohannya. Ungkapan وَ عَبَدَ الطَّاغُوۡتَ -- “dan yang menyembah kepada syaitan,” menunjukkan bahwa kata-kata “kera” dan “babi” telah dipergunakan di sini secara kiasan.
   Kata “kera”  dipakai secara kiasan, artinya akibat berulang kali melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para rasul Allah (QS.88-89) orang-orang Bani Israil menjadi nista dan hina seperti kera. Perubahannya tidak dalam wujud dan bentuk melainkan  dalam watak dan jiwa. “Mereka tidak sungguh-sungguh diubah menjadi kera, hanya hatinya yang diubah” (Mujahid). “Allah Swt. telah memakai ungkapan itu secara kiasan” (Tafsir Ibnu Katsir).

Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

       Bila Al-Quran memaksudkan perubahan wujudnya menjadi kera maka kata yang biasa dipergunakan adalah khashi'ah, bukan khasi’in, yang dipakai untuk wujud-wujud berakal. Penggunaan kata khasi’in itu dimaksudkan untuk menegaskan bahwa sebagaimana kera itu binatang hina, begitu pula orang-orang Bani Israil senantiasa akan dihinakan di dunia ini akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ  --  Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung,    dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ  --    yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal.  (Al-Māidah [5]:79-81). Lihat pula  QS.17:5-10.
      Akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka untuk yang kedua kalinya   mereka  kehilangan  tanah-air mereka (Kanaan/Palestina) selama 2000 tahun, dan mereka  di berbagai zaman senantiasa menjadi   sasaran kezaliman pihak-pihak yang membenci mereka (QS.2:62; QS.7:168), di antaranya pemimpin kaum Nazi Jerman, Adolf Hitler.
      Jadi, sungguh pun mereka mempunyai sumber-sumber daya besar dalam harta dan pendidikan, mereka tidak akan memiliki suatu kubu pertahanan di bumi secara permanen, arti akar kata الۡقِرَدَۃَ    menunjukkan kenistaan dan kehinaan dan pula kerendahan martabat.
     Kembalinya orang-orang Yahudi ke wilayah Palestina di Akhir Zaman ini  pun  -- dan mendirikan negara Israel  -- pada hakikatnya sebagai penggenapan nubuatan dalam Al-Quran, firman-Nya: 
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  لِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia, Kami berfirman kepada Bani Israil:  Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا  -- dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba  Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bang-sa.” (Bani Israil [17]:105).

Peringatan Kepada Umat Islam &  Kembalinya Orang-orang Yahudi   ke  “Negeri yang Dijanjikan” di Akhir Zaman

       Ayat ini mengandung arti bahwa seperti orang-orang Yahudi, demikian pula umat Islam pun dua kali akan menderita bencana nasional (QS.17:5-10). Yang pertama dari kedua bencana ini menimpa umat Islam ketika kota Bagdad jatuh kepada kekuasaan bangsa  Mongol dan Tartar di bawah pimpinan Hulaku Khan, cucu Jenghis Khan.
       Umat Islam di sini diberitahu  bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman melalui serbuan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) – yakni bangsa-bangsa Kristen dari barat (QS.18:98-102; QS.21:96-97) --  di masa Masih Mau’ud a.s.,  seperti orang-orang Yahudi diberi hukuman di zaman Masih pertama - Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s.  -- melalui serbuan  Titus dari kerajaan Romawi  (Matius 24:15-22).
       Jadi ayat ini berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum oleh Allah Swt. untuk kedua kalinya  -- yang berarti sempurnanya “janji mengenai Akhir Zaman”  -- maka orang-orang Yahudi yang tercerai-berai di luar wilayah Palestina selama 2000 tahun, mereka akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina) dari semua penjuru dunia melalui pertolongan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Ma’juj).
       Nubuatan Al-Quran tersebut  telah menjadi sempurna dengan cara yang luar biasa dengan kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina dengan perantaraan “Balfour Declaration” (Pernyataan Balfour) yang dirancang Perdana Menteri Inggris, Lord Balfour, dan dengan didirikannya apa yang dikatakan Negara Israil. Jadi, “Janji mengenai Akhir Zaman”  dalam  QS.17:105 tersebut   bertalian dengan masa Masih Mau’ud a.s.  (Bayan).
       Tetapi    kekuasaan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) -tersebut akan diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang membawa bencana di dunia, yang akhirnya akan menyebabkan kejayaan  dan kemenangan Islam   yang kedua kali (QS.61:10) dan menjadi sebab kekuatan-kekuatan kepalsuan dan kebendaan   --  yang menjelma dalam wujud Ya’juj dan Ma’juj    yakni  fitnah Dajjal  --- itu musnah.

Rasul Akhir Zaman dan Kejayaan Islam  Kedua Kali

        Bila sesudah kehancuran Ya’juj (Gog) dan  Ma’juj  (Magog) secara mutlak, Islam melalui perjuangan Rasul Akhir Zaman akan memperoleh kembali kejayaan dan kemuliaannya seperti sediakala, mereka yang telah berputus-asa mengenai kebangkitan kembali mata kepala mereka sendiri hampir-hampir tidak dapat mempercayainya, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10). 
        Bukti kebenaran  pernyataan Allah Swt. mengenai  kesuksesan perjuangan suci Masih Mau’ud a.s.  tersebut akan berlanjut dengan “pewarisan  negeri yang dijanjikan” kepada umat Islam sesuai janji-Nya, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ  وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu,  اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ  -- bahwa negeri itu   akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ --  Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  --  Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.  (Al-Anbiya [21]:106-108).
      Yang dimaksud dengan “bumi itu” dalam ayat 106 adalah Palestina. Para pujangga Kristen menafsirkan juga kata-kata “bumi itu akan diwarisi” atau “tanah itu akan diwarisi” dalam Mazmur dalam artian mewarisi Kanaan menurut “janji dalam perjanjian Tuhan".   Isyarat dalam kata-kata  فِی الزَّبُوۡرِ --  “dalam kitab Daud” ditujukan kepada Mazmur 37:9, 11, 22, dan 29. Terdapat pula suatu nubuatan dalam Kitab Ulangan (28:11 dan 34:4) bahwa negeri Palestina akan diberikan kepada Bani Israil, walau pun pewarisan tersebut  pada masa Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sempat ditangguhkan akibat kedurhakaan Bani Israil (QS.5:21-27).
       Palestina (Kanaan) tetap di tangan kekuasaan bangsa Kristen (kerajaan Romawi Timur), hingga orang Islam menaklukkannya di masa khilafat   Umar bin Khththab r.a., Khalifah ke-II  Nabi Besar Muhammad saw.. Nubuatan yang terkandung dalam ayat ini, rupanya menunjuk kepada penaklukan Palestina tersebut oleh lasykar Islam.
Palestina tetap berada di bawah kekuasaan umat Islam selama kira-kira 1350 tahun - kecuali satu masa pendek yang lamanya 92 tahun, ketika di zaman peperangan salib kekuasaan atas Palestina telah berpindah-tangan — hingga dalam masa kita ini,  sebagai akibat rencana-rencana buruk dari beberapa kekuasaan barat yang disebut demokrasi, negeri bernama Palestina itu sama sekali tidak berwujud dan di atas puing-puingnya didirikan negara Israel.

Janji “Pewarisan Palestina” Kepada “Hamba-hamba Allah” yang Hakiki

       Orang-orang Yahudi kembali setelah mengembara selama hampir 2000 tahun. Tetapi peristiwa sejarah yang besar ini telah terjadi sebagai pemenuhan suatu nubuatan Al-Quran , firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  لِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia, Kami berfirman kepada Bani Israil:  Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا  -- dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba  Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bang-sa.” (Bani Israil [17]:105).
    Tetapi berdirinnya “negara Israel” tersebut  hanya merupakan satu babak sementara saja, karena orang-orang Islam – melalui perjuangan suci Masih Mau’ud a.s. yang dilakukan tanpa paksaan  dan kekerasan -- telah ditakdirkan  Allah Swt. akan menguasainya kembali.
       Cepat atau lambat — malahan lebih cepat daripada lambat - Palestina akan kembali menjadi milik Islam. Hal ini merupakan keputusan Allah Swt. dan tidak ada seorang pun dapat mengubah keputusan Tuhan. Namun  syaratnya adalah umat Islam harus memenuhi  kriteria “hamba-hamba hakiki” Allah Swt., sebagaimana dikemukakan   firman Allah Swt. selanjutnya:   اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ --  Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah,” sebab mengenai misi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. selanjutnya berfirman: وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  --   ”dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam”.  
      Nabi Besar Muhammad saw.  adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia   -- baik pada pengutusan beliau saw. di masa awal mau pun pengutusan beliau saw.  yang kedua kali di Akhir zaman ini dalam wujud  Masih Mau’ud a.s. (QS.62:3-5)   --  sebab amanat  Nabi Besar Muhammad saw.  tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu.

Misi Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw. “Rahmat bagi Seluruh Alam

Dengan perantaraan Nabi Besar Muhammad saw.  bangsa-bangsa dunia telah dan akan  diberkati seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu, firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
     Ayat   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  “dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” sesuai dengan keterangan Nabi Besar Muhammad saw. yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. mengisyaratkan kepada pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani di Akhir Zaman ini  -- dalam wujud Masih  Mau’ud a.s.  -- dengan tugas yang sama seperti yang dikemukakan ayat sebelumnya yaitu:  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ   -- yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah,  وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.”
        Tugas Masih Mau’ud a.s.  melakukan misi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw.  di Akhir Zaman ini sepenuhnya merupakan karunia Allah Swt., firman-Nya: ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:5).

Pengulangan Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”

  Dengan demikian jelaslah bahwa pengutusan Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman  ini  guna melaksanakan misi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw.  yang kedua kali sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108) pada hakikatnya merupakan pengulangan kisah monumentalAdammalaikat dan iblis”, sebab demikianlah Sunnatullah  penciptaan “langit baru dan bumi baru” guna menggantikan  “langit lama dan bumi lama” (QS.14:45-49-53) yang digambarkan dalam  firman-Nya: وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata”  (QS.62:3), sesuai dengan firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurh-kaannya.   Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ  --  Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ --   Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allāh hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 9 Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar