Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
BAHAYA “FITNAH DAJJAL”
YANG DIPERINGATKAN NABI BESAR
MUHAMMAD SAW. KEPADA UMAT ISLAM DI
AKHIR ZAMAN & HUBUNGAN PEWARISAN “NEGERI
YANG DIJANJIKAN” KEPADA UMAT ISLAM PENGUTUSAN MASIH
MAU’UD A.S.
Bab 65
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dijelaskan nubuatan
dalam Surah Al-Lahab mengenai makna ayat فِیۡ جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ -- “di leher istrinya ada tali yang dipintal.” (Al-Lahab [111]:6). Sekalipun nampaknya merdeka namun bangsa-bangsa
atau kedua Blok besar dunia yang bertentangan
tersebut akan demikian amat terikatnya
pada ideologi-ideologi dan sistem-sistem politik masing-masing,
sehingga mereka tidak akan dapat melepaskan
diri dari belenggu ideologi dan sistem mereka itu.
Atau, seperti Ummi Jamil, yang konon telah tercekik
lehernya oleh tali yang justru
dengan tali itu pula ia mengikat dan membawa kayu bakar, demikian juga bangsa-bangsa itu akan binasa
oleh alat-alatnya sendiri yang dengan
alat-alat itu mereka berusaha membinasakan bangsa-bangsa lain,
sebagaimana firman-Nya mengenai Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) yang akan mengalami nasib tragis yang sama:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَاۤ اَنَّہُمۡ لَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی اِذَا
فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ مِّنۡ
کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا
قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّکُمۡ وَ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ
ؕ اَنۡتُمۡ لَہَا وٰرِدُوۡنَ ﴿﴾ لَوۡ کَانَ ہٰۤؤُلَآءِ اٰلِہَۃً مَّا وَرَدُوۡہَا ؕ وَ کُلٌّ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ لَہُمۡ
فِیۡہَا زَفِیۡرٌ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا لَا یَسۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Dan terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin
kembali. حَتّٰۤی
اِذَا فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ
مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ مِّنۡ کُلِّ
حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ -- Hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan Ya’juj dan Ma’juj dan mereka
turun dengan cepat dari setiap ketinggian. وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- sudah
mendekat janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak mata orang-orang kafir, mereka berseru, یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ
غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ -- “Aduhai, celaka kami! Sungguh kami dalam kelalaian mengenai hal ini,
bahkan kami adalah orang yang zalim!”
اِنَّکُمۡ وَ مَا
تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ ؕ -- Sesungguhnya
kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah
adalah bahan bakar Jahannam, اَنۡتُمۡ لَہَا وٰرِدُوۡنَ -- kamu
akan mendatanginya. لَوۡ کَانَ ہٰۤؤُلَآءِ اٰلِہَۃً مَّا
وَرَدُوۡہَا ؕ -- Seandainya
mereka itu tuhan-tuhan, mereka sekali-kali tidak akan masuk
mendatanginya, وَ کُلٌّ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- dan semuanya
akan kekal di dalamnya. وَ کُلٌّ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- Mereka
di dalamnya merintih, dan mereka di
dalamnya tidak mendengar kabar gembira. (Al-Anbiya [21]:96-101).
Nubuatan Kehancuran Kejayaan Duniawi
Ya’juj dan Ma’juj serta Bahaya Fitnah Dajjal
Ayat 97 Jika dibaca
bersama-sama dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat ini ialah bahwa hukum alam bekerja demikian rupa,
sehingga sekali bila suatu kaum — sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya
— mengalami kebinasaan dan kehancuran, mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang itu.
Demikian pula Ya’juj (Gog)
dan Ma’juj (Magog) pun dengan kejayaan dan kemuliaan besar dalam kebendaan
tidak dapat mengelakkan diri dari hukum
alam tersebut. Mereka akan jatuh
dan tidak akan bangkit kembali untuk
selama-lamanya. Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau bangsa-bangsa Kristen barat di Akhir
Zaman ini telah mencapai segala puncak
kekuasaan politik dan telah menyebar
ke seluruh dunia.
Makna ungkapan Al-Quran ۡ مِّنۡ
کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ -- mereka
turun dengan cepat dari setiap ketinggian” berarti bahwa bangsa-bangsa
Kristen dari barat di Akhir Zaman akan menempati
setiap ujung yang membawa keuntungan
dan akan menguasai seluruh dunia
serta memberikan pengaruh buruk dalam
berbagai segi kehidupan manusia –
termasuk umat Islam -- yang disebut fitnah Dajjal, sehingga genaplah nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai akan terjadinya persamaan antara umat
Islam dengan umat Yahudi dan Nasrani (Kristen) seperti persamaan
sepasang sepatu. Berikut ini beberapa hadits yang dimaksud:
Abdullah ibnu Umar r.a. berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Pasti
akan datang pada umatku sebagaimana yang telah terjadi pada Umat Bani Israil seperti
sepasang sepatu, hingga kalau umat
Bani Israil berzina dengan ibunya secara
terang-terangan maka umatku juga
akanberbuat demikian. Ketahuilah bahwa Umat
Bani Israel akan pecah belah hingga 72 firqah dan umatku akan berpecah belah hingga 73 firqah.Kesemuanya akan menjadi bahan api neraka terkecuali satu
firqah”. Sahabat-sahabat bertanya: “Firqah yang manakah itu wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab dengan bersabda: “Firqah ialah yang mengamalkan apa yang aku dan sahabat-sahabatku amalkan" (Tirmidzi, Kitabul Iman).
Sayidina Ali r.a. berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Suatu
zaman akan datang dimana dimana Islam
hanya tinggal nama saja, dan Al-Quran
tinggal tulisan saja, masjid-masjid
akan penuh dengan penghuninya tetapi kosong
dari orang-orang dapat petunjuk. Ulama-Ulama
mereka adalah sejahat-jahat makhluk di bawah kolong langit dan mereka akan membuat fitnah dan kemudian fitnah itu akan kembali kep;ada
diri mereka sendiri” (Baihaqi, Misykat hal,
38).
Abu Hurairah berkata: Rasulullah
saw. bersabda: “Demi Allah Yang menggenggam
nyawaku, tidak syak lagi bahwa Al-Masih ibnu Maryam akan datang di antara
kamu merupakan hakim yang adil.
Dia akan memecahkan salib dan
akan membunuh babi (Bukhari Kitabul Anbiya' 1:490).
Makna “Memecahkan Salib”
dan “Membunuh Babi”
Makna memecahkan salib adalah
bahwa Al-Masih Mau’ud a.s. dengan dalil-dalil Al-Quran
mau pun Bible menunjukkan kekeliruan keyakinan Kristen tentang kematian terkutuk Yesus di tiang salib
untuk menebus dosa manusia (QS.458-159). Ada pun makna akan membunuh babi bahwa Masih Mau’ud a.s. melalui quat qudsiyahnya (daya pensucian
ruhaninya) akan membersihkan perangai umat yang berkelakuan buruk seperti babi, firman-Nya:
قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ ہَلۡ
تَنۡقِمُوۡنَ مِنَّاۤ اِلَّاۤ اَنۡ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اَنَّ اَکۡثَرَکُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ بِشَرٍّ مِّنۡ ذٰلِکَ مَثُوۡبَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ مَنۡ
لَّعَنَہُ اللّٰہُ وَ غَضِبَ عَلَیۡہِ وَ جَعَلَ مِنۡہُمُ الۡقِرَدَۃَ وَ الۡخَنَازِیۡرَ وَ عَبَدَ الطَّاغُوۡتَ ؕ
اُولٰٓئِکَ شَرٌّ مَّکَانًا وَّ
اَضَلُّ عَنۡ سَوَآءِ السَّبِیۡلِ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu membenci serta mencela kami hanya karena kami telah beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelum ini, padahal sesungguhnya kebanyakan kamu orang-orang durhaka?” Katakanlah: “Maukah aku be-ritahukan kepada
kamu yang lebih buruk daripada
itu mengenai pem-balasan dari sisi Allah? مَنۡ لَّعَنَہُ اللّٰہُ وَ غَضِبَ عَلَیۡہِ وَ جَعَلَ مِنۡہُمُ
الۡقِرَدَۃَ وَ الۡخَنَازِیۡرَ وَ عَبَدَ
الطَّاغُوۡتَ -- Yaitu
orang-orang yang dilaknati Allah,
kepadanya Dia murka dan menjadikan sebagian dari mereka kera-kera, dan babi-babi serta yang menyembah syaitan. اُولٰٓئِکَ شَرٌّ مَّکَانًا وَّ اَضَلُّ
عَنۡ سَوَآءِ السَّبِیۡلِ -- Mereka
itu berada di tempat yang buruk dan
tersesat jauh dari jalan lurus. (Al-Māidah [5]:60-61). Lihat pula
QS.2:66; QS.7:167.
Kata-kata “kera” dan
“babi” telah dipergunakan di sini dalam artian kiasan. Kebiasaan tertentu merupakan ciri khas binatang-binatang tertentu pula. Ciri-ciri khas itu tidak dapat digambarkan sepenuhnya kalau binatang
yang mempunyai kebiasaan itu tidak disebut namanya dengan jelas.
Kera terkenal
karena sifat penirunya dan babi ditandai oleh kebiasaan-kebiasaan kotor dan tidak
bermalu dan juga oleh kebodohannya.
Ungkapan وَ
عَبَدَ الطَّاغُوۡتَ -- “dan yang menyembah kepada syaitan,”
menunjukkan bahwa kata-kata “kera”
dan “babi” telah dipergunakan di sini
secara kiasan.
Kata “kera” dipakai secara kiasan, artinya akibat berulang kali melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para rasul Allah (QS.88-89) orang-orang Bani Israil menjadi nista
dan hina seperti kera. Perubahannya tidak dalam wujud
dan bentuk melainkan dalam watak
dan jiwa. “Mereka tidak sungguh-sungguh diubah menjadi kera, hanya hatinya yang
diubah” (Mujahid). “Allah Swt. telah memakai ungkapan
itu secara kiasan” (Tafsir Ibnu
Katsir).
Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Bila Al-Quran memaksudkan perubahan
wujudnya menjadi kera maka kata yang biasa dipergunakan adalah khashi'ah,
bukan khasi’in, yang dipakai untuk wujud-wujud
berakal. Penggunaan kata khasi’in itu dimaksudkan untuk menegaskan
bahwa sebagaimana kera itu binatang hina, begitu pula orang-orang Bani Israil senantiasa akan
dihinakan di dunia ini akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s., firman-Nya:
لُعِنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ
بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا
لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا
یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی
کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ
لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,
hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak pernah saling mencegah dari kemungkaran
yang dikerjakannya, benar-benar sangat buruk apa yang
senantiasa mereka kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ -- Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan
orang-orang kafir sebagai pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang telah
mereka dahulukan bagi diri mereka
اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی
الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- yaitu bahwa
Allah murka kepada
mereka, dan di dalam azab inilah mereka
akan kekal. (Al-Māidah [5]:79-81).
Lihat pula QS.17:5-10.
Akibat kutukan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka untuk yang kedua kalinya mereka kehilangan
tanah-air mereka
(Kanaan/Palestina) selama 2000 tahun, dan mereka di berbagai zaman senantiasa menjadi sasaran kezaliman
pihak-pihak yang membenci mereka
(QS.2:62; QS.7:168), di antaranya pemimpin kaum Nazi Jerman, Adolf Hitler.
Jadi, sungguh pun mereka mempunyai sumber-sumber daya besar dalam harta dan pendidikan, mereka tidak akan memiliki suatu kubu pertahanan di bumi secara permanen,
arti akar kata الۡقِرَدَۃَ
menunjukkan
kenistaan dan kehinaan dan pula kerendahan
martabat.
Kembalinya orang-orang Yahudi ke wilayah Palestina
di Akhir Zaman ini pun --
dan mendirikan negara Israel -- pada hakikatnya sebagai penggenapan nubuatan dalam Al-Quran,
firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا
جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا
بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah
dia, Kami berfirman kepada Bani Israil: ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا -- dan apabila
janji mengenai akhir zaman tiba Kami akan menghimpun kamu semuanya dari
antara berbagai bang-sa.” (Bani Israil [17]:105).
Peringatan Kepada Umat Islam & Kembalinya Orang-orang Yahudi ke “Negeri yang Dijanjikan” di Akhir Zaman
Ayat
ini mengandung arti bahwa seperti orang-orang
Yahudi, demikian pula umat Islam
pun dua kali akan menderita bencana nasional (QS.17:5-10). Yang pertama dari kedua bencana ini menimpa umat
Islam ketika kota Bagdad jatuh
kepada kekuasaan bangsa Mongol dan Tartar
di bawah pimpinan Hulaku Khan, cucu Jenghis Khan.
Umat Islam di sini diberitahu bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman melalui serbuan Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog) – yakni bangsa-bangsa Kristen dari barat
(QS.18:98-102; QS.21:96-97) -- di masa Masih
Mau’ud a.s., seperti orang-orang Yahudi diberi hukuman di zaman Masih pertama - Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
-- melalui serbuan Titus dari kerajaan Romawi (Matius 24:15-22).
Jadi ayat ini berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum oleh
Allah Swt. untuk kedua kalinya -- yang
berarti sempurnanya “janji mengenai Akhir Zaman” -- maka orang-orang Yahudi yang tercerai-berai
di luar wilayah Palestina selama 2000 tahun, mereka akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina)
dari semua penjuru dunia melalui pertolongan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj
(Ma’juj).
Nubuatan Al-Quran tersebut telah menjadi sempurna dengan cara yang luar
biasa dengan kembalinya orang-orang
Yahudi ke Palestina dengan
perantaraan “Balfour Declaration” (Pernyataan Balfour) yang dirancang Perdana Menteri Inggris, Lord
Balfour, dan dengan didirikannya apa yang dikatakan Negara Israil. Jadi, “Janji
mengenai Akhir Zaman” dalam QS.17:105 tersebut bertalian dengan masa Masih Mau’ud a.s. (Bayan).
Tetapi kekuasaan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)
-tersebut akan diikuti oleh peristiwa-peristiwa
yang membawa bencana di dunia, yang
akhirnya akan menyebabkan kejayaan dan kemenangan
Islam yang kedua kali (QS.61:10) dan menjadi sebab kekuatan-kekuatan kepalsuan dan kebendaan -- yang
menjelma dalam wujud Ya’juj dan Ma’juj yakni fitnah
Dajjal --- itu musnah.
Rasul Akhir
Zaman dan Kejayaan Islam Kedua Kali
Bila
sesudah kehancuran Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) secara mutlak, Islam melalui perjuangan Rasul Akhir Zaman akan memperoleh
kembali kejayaan dan kemuliaannya seperti sediakala, mereka
yang telah berputus-asa mengenai kebangkitan kembali mata kepala mereka
sendiri hampir-hampir tidak dapat
mempercayainya, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ
رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ
دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ
الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Bukti
kebenaran pernyataan Allah Swt.
mengenai kesuksesan perjuangan suci Masih
Mau’ud a.s. tersebut akan berlanjut
dengan “pewarisan negeri yang dijanjikan” kepada umat
Islam sesuai janji-Nya,
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ
بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ
یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ وَ
مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menuliskan dalam
Kitab Zabur sesudah pemberi
peringatan itu, اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ -- bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang
shalih. اِنَّ
فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ -- Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ
اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan
Kami sekali-kali tidak mengutus
engkau melainkan sebagai rahmat bagi
seluruh alam. (Al-Anbiya [21]:106-108).
Yang
dimaksud dengan “bumi itu” dalam ayat 106 adalah Palestina. Para pujangga Kristen menafsirkan juga kata-kata “bumi itu akan diwarisi” atau “tanah itu akan diwarisi” dalam Mazmur
dalam artian mewarisi Kanaan menurut
“janji dalam perjanjian Tuhan". Isyarat dalam kata-kata فِی الزَّبُوۡرِ -- “dalam kitab Daud” ditujukan kepada Mazmur 37:9, 11, 22, dan
29. Terdapat pula suatu nubuatan
dalam Kitab Ulangan (28:11 dan 34:4) bahwa negeri Palestina akan diberikan kepada Bani Israil, walau pun pewarisan
tersebut pada masa Nabi Musa a.s. dan
Nabi Harun a.s. sempat ditangguhkan
akibat kedurhakaan Bani Israil
(QS.5:21-27).
Palestina
(Kanaan) tetap di tangan kekuasaan bangsa
Kristen (kerajaan Romawi Timur), hingga orang
Islam menaklukkannya di masa khilafat
Umar
bin Khththab r.a., Khalifah ke-II Nabi Besar Muhammad saw.. Nubuatan yang terkandung dalam ayat ini, rupanya menunjuk kepada penaklukan Palestina tersebut oleh lasykar Islam.
Palestina tetap berada di bawah kekuasaan umat Islam selama kira-kira
1350 tahun - kecuali satu masa pendek yang lamanya 92 tahun, ketika di zaman peperangan salib kekuasaan atas Palestina telah berpindah-tangan —
hingga dalam masa kita ini, sebagai
akibat rencana-rencana buruk dari
beberapa kekuasaan barat yang disebut
demokrasi, negeri bernama Palestina itu sama sekali tidak berwujud
dan di atas puing-puingnya didirikan negara
Israel.
Janji “Pewarisan Palestina”
Kepada “Hamba-hamba Allah” yang
Hakiki
Orang-orang Yahudi kembali setelah mengembara selama hampir 2000 tahun.
Tetapi peristiwa sejarah yang besar ini telah terjadi sebagai pemenuhan suatu nubuatan Al-Quran , firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا
جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah
dia, Kami berfirman kepada Bani Israil: ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا -- dan apabila
janji mengenai akhir zaman tiba Kami akan menghimpun kamu semuanya dari
antara berbagai bang-sa.” (Bani Israil [17]:105).
Tetapi berdirinnya “negara Israel” tersebut hanya merupakan satu babak sementara saja, karena orang-orang Islam – melalui
perjuangan suci Masih Mau’ud a.s. yang
dilakukan tanpa paksaan dan kekerasan
-- telah ditakdirkan Allah Swt. akan menguasainya kembali.
Cepat atau lambat — malahan lebih cepat
daripada lambat - Palestina akan
kembali menjadi milik Islam. Hal ini
merupakan keputusan Allah Swt. dan
tidak ada seorang pun dapat mengubah
keputusan Tuhan. Namun syaratnya adalah umat Islam harus
memenuhi kriteria “hamba-hamba hakiki” Allah Swt., sebagaimana dikemukakan firman Allah Swt. selanjutnya: اِنَّ فِیۡ
ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ -- Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum
yang beribadah,” sebab mengenai misi
kerasulan Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. selanjutnya berfirman: وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ
اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ -- ”dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam”.
Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh
umat manusia -- baik pada
pengutusan beliau saw. di masa awal
mau pun pengutusan beliau saw. yang
kedua kali di Akhir zaman ini dalam
wujud Masih Mau’ud a.s. (QS.62:3-5)
-- sebab amanat Nabi Besar Muhammad
saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu.
Misi Kerasulan Nabi
Besar Muhammad Saw. “Rahmat bagi Seluruh
Alam”
Dengan perantaraan Nabi Besar
Muhammad saw. bangsa-bangsa dunia telah dan akan diberkati
seperti belum pernah mereka diberkati
sebelum itu, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari
antara mereka, yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun
sebelumnya mereka berada dalam
ke-sesatan yang nyata وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan
juga akan membangkitkan-nya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” sesuai dengan
keterangan Nabi Besar Muhammad saw.
yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a.
mengisyaratkan kepada pengutusan kedua
kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani
di Akhir Zaman ini -- dalam wujud Masih Mau’ud a.s. -- dengan tugas
yang sama seperti yang dikemukakan ayat sebelumnya yaitu: یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ
اٰیٰتِہٖ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada mereka
Kitab dan Hikmah, وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata.”
Tugas Masih Mau’ud a.s. melakukan misi kerasulan Nabi Besar Muhammad
saw. di Akhir Zaman ini sepenuhnya merupakan karunia Allah Swt., firman-Nya: ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[62]:5).
Pengulangan Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”
Dengan
demikian jelaslah bahwa pengutusan Masih
Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini
guna melaksanakan misi kerasulan
Nabi Besar Muhammad saw. yang kedua kali
sebagai “rahmat bagi seluruh alam”
(QS.21:108) pada hakikatnya merupakan pengulangan kisah monumental “Adam – malaikat dan iblis”,
sebab demikianlah Sunnatullah penciptaan “langit baru dan bumi baru” guna menggantikan
“langit lama dan bumi lama” (QS.14:45-49-53) yang
digambarkan dalam firman-Nya: وَ
اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ
مُّبِیۡنٍ -- walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata” (QS.62:3), sesuai dengan
firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ
بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ
عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ
اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ
یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat sebagian
perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka
kembali dari kedurh-kaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruknya akibat
bagi orang-orang sebelum kamu ini. کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ
مُّشۡرِکِیۡنَ -- Kebanyakan
mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ
یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ -- Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allāh hari yang tidak dapat
dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 9 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar