Jumat, 24 Juni 2016

Hubungan "Tipu-daya Syaitan" Terhadap "Adam" (Khalifah Allah) Dengan Surah An-Naas & Nubuatan Merebaknya "Fitnah Dajjal" di Akhir Zaman




Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


  HUBUNGAN  TIPU-DAYA SYAITAN  TERHADAP ADAM (KHALIFAH ALLAH) DENGAN  SURAH AN-NĀS  & NUBUATAN MEREBAKNYA FITNAH DAJJAL DI AKHIR ZAMAN

Bab 73

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai  berbagai penderitaan  yang dialami  orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah  akibat keburukan yang dikemukakan surah Al-Falaq ayat 5-6:    وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,    وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki,” kedengkian itu pulalah  yang diisyaratkan firman-Nya berikut ini:
وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾
“Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu.” (Al-Burūj [85]:9-10).
     Sebagai penjagaan terhadap segala macam rintangan, kesulitan dan bahaya dalam menempuh jalan hidupnya, orang-orang beriman diperintahkan agar memohon pertolongan dan bantuan dari Rabbul-Falāq supaya memberinya nur, ketika kegelapan mengepung dari semua jurusan dan supaya melindunginya dari rencana-rencana jahat tukang-tukang fitnah:  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,” dan dari persekongkolan jahat para pendengki:  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki”, baik pengulangan  kedengkian iblis terhadap Adam  (Khalifah Allah-12-19-26; QS.17:62-66) mau pun  pengulangan kedengkian Kain terhadap saudaranya, Habel (QS.5:28-33) di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) yang merupakan bagian dari Sunnatullah  (QS.15:11-13; QS.36:31-33; QS.43:7-9).
     Demikianlah hakikat doa mohon perlindungan Allah Swt. dalam surah Al-Falaq terhadap berbagai tindakan buruk  secara fisik yang dilakukan para penentang Tauhid Ilahi  dalam surah Al-Ikhlash  sebagaimana yang diancamkan iblis ketika “diusir” Allah Swt. karena tidak mau “sujud  -- yakni beriman dan patuh-taat – kepada Adam (Khalifah Allah – QS.7:12-10; QS.17:62-66), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾  مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar, dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan,   dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,    dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki”  (Al-Falaq [113]:1-6).
      
Perbedaan Doa Perlindungan Dalam  Surah Al-Falaq dengan Sunah An-Nās

    Ada pun surah An-Nās membahas  ancaman dari segi ruhani  berupa berbagai bentuk  tipu-daya yang menggelincirkan  sebagaimana yang dilakukan syaitan  terhadap Adam dan istrinya dalam “jannah” (kebun), sehingga Allah Swt. memerintahkan mereka untuk  hijrah” dari dalamnya  karena keadaannya sudah tidak  kondusif lagi untuk jamaah beliau  (QS.7:20-26; QS. 20:115-124), firman-Nya: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قُلۡ  اَعُوۡذُ  بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾  مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  اِلٰہِ  النَّاسِ ۙ﴿﴾  مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) manusia,  Māliki (Raja) manusia,  Ilāhi (Sembahan) manusia,  مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ --  dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi,  الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ -- yang membisikkan ke dalam hati manusia,  مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ  --     dari jin dan manusia.” (An-Nās [114]:1-7).
   Surah ini adalah Surah kedua dari Al-Muawwidzatan dan merupakan pemekaran masalah yang dibabas Surah yang mendahuluinya, dan dalam satu segi merupakan pelengkapnya -- karena dalam Surah Al-Falaq orang-orang beriman diperintahkan agar memohon perlindungan kepada Allah Swt. dari kesulitan-kesulitan dan penderitaan-penderitaan dalam kehidupan jasmani -- maka dalam Surah An-Nās dimohonkan perlindungan terhadap segala percobaan dan aniaya yang merintangi perkembangan ruhani manusia.
   Perlindungan Allah Swt. dimintakan bukan hanya dengan doa secara lisan saja, melainkan juga dengan perbuatan dan tindakan yang kiranya dapat menarik rahmat Ilahi. Inilah arti sesungguhnya yang terkandung dalam perintah yang disampaikan dengan kata qul (katakanlah), sebab jika ucapan tersebut tidak disertai pengamalan  akan mendapat  celaan keras  Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  لِمَ  تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا  تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  کَبُرَ  مَقۡتًا عِنۡدَ  اللّٰہِ  اَنۡ  تَقُوۡلُوۡا مَا  لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ  ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan?  Adalah sesuatu yang paling dibenci di sisi Allah bahwa kamu me-ngatakan apa yang tidak kamu kerjakan.  اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا     Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ -- mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat.  (Ash-Shaf [61]:3-5).

Tiga Sifat Ilahi Menghadapi Bisikan Jahat (Kewaswasan) Al-Khannās  atau Fitnah Dajjal

  Surah terakhir Al-Quran  tepat sekali diberi judul An-Nās, karena perlindungan telah diminta dari Rabb, Mālik (Raja), dan Ilāhi (Tuhan) seluruh umat manusia (al-nās) terhadap kejahatan pembisik-pembisik (al-khanas) dari antara jin dan manusia (al-nās) yang membisikkan pikiran-pikiran jahat ke dalam hati manusia (al-nās). Surah An-Nās   --yang diwahyukan pada waktu bersamaan dengan Surah Al-Falaq – merupakan (bersama-sama dengan Surah Al-Falaq) penutup Al-Quran yang tepat sekali.
   Dalam Surah An-Nās  tiga sifat Ilahi – Rabb (Tuhan manusia), Mālik (Raja manusia), dan Ilāhi (Sembahan manusia)  telah diseru sebagai penanding satu sifat  yakni Rabb al-Falaq (Tuhan Yang Memiliki fajar) dalam Surah al-Falaq sebelumnya, sebab sifat Rabb   meliputi ketiga Sifat Allah Swt. dalam surah  An-Nās.
   Sementara satu Sifat Ilahi  Rabb-al-falaq  -- Tuhan Yang Memiliki fajar” telah diseru menandingi empat macam kejahatan dalam surah tersebut (QS.112:3-6)   maka dalam Surah  An-Nās  tiga sifat Ilahi telah diseru menandingi satu kejahatan saja, yaitu  bisikan si Jahat. Hal itu disebabkan ajakan-ajakan atau bisikan-bisikan syaitan meliputi segala kejahatan:  مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ --  dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi, الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ -- yang membisikkan ke dalam hati manusia,   مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ  -- dari jin dan manusia.”    
  Ketiga-tiga Sifat Ilahi itu mempunyai perhubungan yang halus sekali (latif) dengan keadaan tabiat alami, akhlak, dan ruhani manusia. Perkembangan jasmani dan akhlak manusia terjadi di bawah Sifat Rabb; pikiran, perkataan, serta perbuatan disiksa atau diganjar oleh Sifat Mālik; dan Sifat Ilāh berarti  Tuhan adalah obyek cinta dan pujaannya; Dia adalah tujuan dan cita-citanya.
    Sebutan ketiga Sifat Ilahi dalam Surah ini mengandung arti, bahwa semua dosa bersumber pada tiga sebab, yaitu (1) jika seseorang memandang orang lain sebagai majikannya, (2) rajanya, atau (3) tuhan-nya, yakni  bila ia menganggap dia penopang dan pendukung utama hidupnya, atau menghambakan diri kepada kekuasaan yang bukan haknya atau menjadikan dia tujuan cinta dan pujaannya.
 Orang beriman  diperintahkan dalam Surah An-Nās    agar hanya menghadapkan wajah kepada  Allah Swt.  semata-mata sebagai Penjamin hidupnya yang hakiki, agar hanya kepada-Nya belaka memperlihatkan ketaatan sejati dan tanpa bersyarat dan agar hanya Dia-lah Yang dijadikan tujuan sebenarnya bagi cinta dan pemujaannya.
   Atau, ia diperintahkan dalam ayat ini supaya senantiasa memohon perlindungan terhadap tindak perampasan hak oleh kaum kapitalis, penguasa-penguasa zalim dan golongan pemimpin agama yang licik, yang sambil mengambil keuntungan secara tidak wajar dari rakyat jelata yang polos dan berpikiran sederhana dengan memeras mereka tanpa belas kasihan.

Hubungan Surah An-Nās  Dengan Bujukan Syaitan   &  Tipu-daya Syaitan kepada Adam dan “Istrinya”

  Makna ayat: مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ --  dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi, الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ -- yang membisikkan ke dalam hati manusia,   مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ  -- dari jin dan manusia.”     Si Jahat membisikkan pikiran-pikiran jahat ke dalam hati golongan jin (orang-orang besar) maupun golongan nās (orang-orang awam), tanpa seorang pun terkecuali. Atau, ayat ini dapat juga berarti bahwa si pembisik pikiran jahat itu terdapat di antara golongan jin (orang-orang besar) dan  nās  (orang-orang awam).
  Demikianlah  kandungan surah An-Nās,    yang sangat erat hubungannya dengan “tipu-daya syaitan” terhadap  Adam dan istrinya” dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis”, firman-Nya:
وَ یٰۤاٰدَمُ  اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ فَکُلَا مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ  فَتَکُوۡنَا مِنَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ  اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿﴾  وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ﴾  فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ  اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ  وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ  اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
“Dan  hai Adam, tinggallah engkau dan istri engkau di dalam kebun ini, lalu makanlah dan minumlah dari mana saja kamu berdua sukai, tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,  karena kamu berdua akan termasuk orang-orang  yang  zalim.” فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا --   Lalu   syaitan membisikkan nasihat jahat kepada keduanya itu supaya ia dapat menampakkan kepada keduanya itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat   mereka وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ  اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ -- dan ia berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali tidak   melarang kamu berdua dari pohon ini melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal.وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ --  Dan ia bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang mem-beri nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ  -- Lalu ia, syaitan,  membujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ  -- maka tatkala keduanya   merasai buah pohon itu  tampaklah kepada keduanya  aurat  mereka berdua dan mulai-lah keduanya  menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu. وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ  اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ  وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ  اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ  --  Dan keduanya  diseru oleh Rabb (Tuhan) mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu ber-dua  bahwa sesungguhnya  syaitan itu  musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al-A’raf [7]:20-23).
          Pohon terlarang  dapat juga diartikan perintah-perintah yang menetapkan beberapa benda tertentu dilarang bagi Adam dan istrinya.  Kalimah yang baik” diumpamakan sebagai syajarah thayyibah -- “pohon baik” dalam Al-Quran (QS.14:25) dan “kalimah buruk” sebagai  syajarah khabitsah - “pohon jahat” (QS.14:27).   Arti lain dari  kata syajara  adalah pertentangan atau perselisihan (QS:4:66).

Hubungan Surah An-Nās  Dengan   Fitnah Dajjal

       Allah Swt. berfirman: فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ    --   Lalu   syaitan membisikkan nasihat jahat kepada keduanya itu لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا -- supaya ia dapat menampakkan kepada keduanya itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat   mereka.” Bandingkan dengan firman-Nya dalam surah An-Nās agar  orang-orang beriman memohon perlindungan Allah Swt.: مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ --  dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi, الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ -- yang membisikkan ke dalam hati manusia,   مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ  -- dari jin dan manusia.”
      Dengan demikian jelaslah bahwa al-khannās adalah sebutan lain dari syaitan yang senantisa menipu manusia dengan janji-janji dusta  yang sangat menggelincirkan  manusia (QS.14:23; QS.17:62-66; QS.25:26-30), sebagaimana  bujukan syaitan  terhadap Adam dan istrinya – yakni jama’ahnya --  yang sangat “menggelincirkan” tersebut, benar-benar  merupakan   kewaswasan yang dibisikan  al-khannās  -- sang “penipu besar”, yang disebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “fitnah Dajjal” yang muncul di Akhir Zaman ini, karena mereka meraih berbagai kesuksesan duniawi, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ   ﴿﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾  فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾  اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan. Sebagai penjaga  untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik,   mereka menetap di dalamnya se-lama-lamanya,  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا  --  Dan supaya memperingat­kan orang-orang yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki. مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ   --    Mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.  کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ   --  Sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا --   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا --    Maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا  --  Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mere-ka yang terbaik perbuatannya. وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا    --  Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus.  (Al-Kahf [18]:1-9).

Berbagai Penjagaan dan Peringatan  Al-Quran & Kasih-sayang Nabi Besar Muhammad Saw.

    Al-Quran sebagai qayyim (penjaga) melakukan tugas ganda: (1) Al-Quran   penjaga atas kitab-kitab terdahulu dengan jalan memperbaiki dan menghilang­kan kesalahan-kesalahan yang telah masuk dalam kitab-kitab itu (QS.2:107), dan Al-Quran  penjaga atas generasi-generasi yang akan datang, sebab dipikulnya kewajiban untuk memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia yakni untuk hanya  beribadah kepada Allah Swt.  (QS.51:57-59).
  Dalam ayat 3,  Al-Quran pertama-tama disebut sebagai "memberi peringatan" kemudian sebagai "memberi kabar gembira", dan dalam ayat 5 sekali lagi Al-Quran disebut sebagai   memberi peringatan. Maknanya bahwa orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab telah dua kali diberi peringatan,  dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang beriman telah diberi kabar gembira.
 Dua peringatan yang dipisahkan oleh kabar gembira bagi umat Islam itu mengandung tiga nubuatan:
   (a) kekalahan dan kehancuran lawan-lawan  Nabi Besar Muhammad saw.  di masa beliau saw. sendiri.
   (b) Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan dan kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan,  
   (c) sesudah terlepasnya umat Islam dari kejayaan dan kemegahan (QS.32:6) adanya hukuman yang disediakan bagi bangsa-bangsa yang mengatakan bahwa "Allah telah mengambil seorang anak lelaki." (QS.19:89-96).
   Mengenai makna kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat 7: فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا --    “maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.”  Kata bakhi' itu ism fail dari bakha'a yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan  Nabi Besar Muhammad saw.  mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw.   (QS.6: 36; QS.26:4-5), sebab beliau saw. adalah rasul Allah  yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
   Kesedihan  Nabi Besar Muhammad saw.   atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau saw.  wafat. Memang begitulah keadaan para utusan (rasul)  dan nabi Allah    -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.  -- hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang terhadap sesama manusia, firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ  تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ  -- seorang Rasul dari antara kamu sendiri, عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ  --  berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ   --  ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ  -- terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang. فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ  --   Tetapi jika  mereka berpaling  maka katakanlah: “Cukuplah   Allah bagiku, لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ --  tidak ada Tuhan kecuali Dia, عَلَیۡہِ  تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ  الۡعَظِیۡمِ --kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung. (At-Taubah [9]:128-129).
   Ayat ini boleh dikenakan kepada orang-orang beriman  maupun kepada orang-orang kafir  --  tetapi terutama kepada orang-orang beriman -- bagian permulaannya mengenai orang-orang kafir dan bagian terakhir mengenai orang-orang beriman.  Kepada orang-orang kafir nampaknya ayat tersebut mengatakan: “Nabi Besar Muhammad saw.  merasa sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan, namun hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia, sehingga tidak ada tindakan yang datang dari pihak kamu dapat membuatnya menjadi keras hati terhadap kamu dan membuat ia menginginkan keburukan bagimu. Ia begitu penuh kasih-sayang dan belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak tega hati melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan kepadamu.”
Kepada orang-orang beriman  ayat tersebut berkata: “Nabi Besar Muhammad saw.  penuh dengan kecintaan, kasih-sayang, dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu, dengan sangat murah hati dan kasih-sayang.”
  Jadi, betapa  para rasul Allah berseru  kepada Allah Swt., menangis  dan berdukacita demi kepentingan umat manusia. Tetapi manusia tidak tahu  bersyukur sehingga orang-­orang itu sendiri -- yang bagi mereka para nabi Allah mempunyai perasaan yang begitu mendalam  --  justru merekalah yang menindas secara zalim para nabi Allah  dan orang-orang yang beriman serta  berusaha untuk membunuh mereka.

Akhir Tragis  Kekuasaan Duniawi Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) Setelah Meraih Kesuksesan Duniawi  

    Kembali kepada surah Al-Kahfl, makna ayat selanjutnya: اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا  --  Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (QS.18:8), semua benda yang tidak terhitung banyaknya yang telah diciptakan  Allah Swt., tidak ada satu pun yang tidak mempunyai kegunaan tersendiri yang tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan, semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
   Umat Islam telah dianjurkan untuk senantiasa  memberi perhatian kepada kebenaran agung yang  melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk menyerahkan waktu dan tenaga  mereka guna menggali rahasia­-rahasia alam  yang agung dan untuk menyelidiki sifat-sifat yang tidak terbilang banyaknya  yang  dimiliki unsur-unsur alam (QS.15:22; QS.18:110; QS.32:28).
   Di Akhir Zaman  ini hal tersebut dilakukan oleh bangsa-bangsa Kristen dari  barat sehingga –   sesuai dengan  sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. (QS.2:127; QS.55:27-46) – sehingga ayat berikut ini dapat dikenakan kepada mereka: اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا  --  Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”  
  Makna ayat selanjutnya:  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا    --  Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus.”  Ayat ini mengandung suatu kabar gaib (nubuatan)   bahwa bangsa-bangsa Kristen dari barat sesudah memperoleh kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan sesudah mendapat penemuan-penemuan besar dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) akhirnya akan membuat bumi Allah itu penuh dengan  kedosaan dan keburukan, seperti yang dituturkan oleh Bible.
    Akibatnya kemurkaan Allah Swt.  akan bangkit,  -- dan sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang diucapkan oleh mulut para nabi Allah, di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru, Al-Quran dan hadits  --  berbagai bentuk bencana-bencana (azab Ilahi) akan menimpa bumi secara meluas, serta segala kemajuan duniawi yang tadinya telah dicapai oleh mereka   -- dan semua buah tangan  mereka,  gedung-gedung mereka yang tinggi megah, keindahan negeri mereka, serta segala kemuliaan, kemegahan, dan keagungan mereka   -- sama sekali akan menjadi hancur berantakan (QS.18:33-45 & 95-102; QS.20:100-108).

Setiap Orang di Hadirat Allah Swt.  Akan Mempertanggungjawabkan Perbuatannya Sendiri

 Mengisyaratkan kepada keberhasilan duniawi yang diraih oleh bangsa-bangsa Kristen dari barat  -- yang menganut Trinitas dan “penebusan dosa   --  itu pulalah peringatan Allah Swt.  kepada orang-orang beriman dalam firman-Nya berikut ini:

یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمۡ  وَ اخۡشَوۡا یَوۡمًا  لَّا یَجۡزِیۡ وَالِدٌ عَنۡ وَّلَدِہٖ ۫ وَ لَا مَوۡلُوۡدٌ  ہُوَ  جَازٍ عَنۡ وَّالِدِہٖ شَیۡئًا ؕ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ٝ وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Hai  manusia, bertakwalah kepada Rabb (Tuhan) kamu dan takutlah akan  Hari  ketika seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan tidak pula seorang anak dapat menolong ayahnya sedikitpun. اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ --  Sesungguhnya janji Allah itu benar, فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا  -- maka janganlah sampai kehidupan dunia memperdayakan kamu, وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ  -- dan jangan pula si penipu itu  menipu kamu mengenai Allah. (Luqman [31]:34).
       Nabi Besar Muhammad saw.  memaknai ayat فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا  -- maka janganlah sampai kehidupan dunia memperdayakan kamu, وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ  -- dan jangan pula si penipu itu  menipu kamu mengenai Allah” sebagai merebaknya  fitnah Dajjal  di Akhir Zaman  yang  menyebar  bersama dengan bangkitnya  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:96-101; Wahyu 20:7-10), firman-Nya:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Maka datang menggantikan sesudah mereka, suatu generasi  peng-ganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی  -- mereka mengambil harta dunia  yang rendah ini وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا  -- dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allāh kecuali yang haq, dan  mereka telah mempelajari1068 apa yang tercantum di dalamnya? Padahal kampung  akhirat itu   lebih ba-ik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’raf [7]:170).
   'Aradha  dalam ayat اۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی  -- mereka mengambil harta dunia  yang rendah ini” artinya:  barang yang tidak kekal, barang-barang duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi duniawi; benda atau sesuatu  (Lexicon Lane).

(Bersambung)
            
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,18  Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar