Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
HUBUNGAN
TIPU-DAYA SYAITAN TERHADAP ADAM
(KHALIFAH ALLAH) DENGAN SURAH AN-NĀS & NUBUATAN
MEREBAKNYA FITNAH DAJJAL DI AKHIR ZAMAN
Bab 73
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
berbagai penderitaan yang dialami
orang-orang yang beriman
kepada Rasul Allah akibat keburukan
yang dikemukakan surah Al-Falaq ayat
5-6: وَ مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ
فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul, وَ مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan
orang yang dengki apabila ia mendengki,” kedengkian itu pulalah yang
diisyaratkan firman-Nya berikut ini:
وَ
مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾
“Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam
terhadap mereka itu melainkan hanya
karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, Yang kepunyaan-Nya
kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah
menjadi Saksi atas segala sesuatu.” (Al-Burūj [85]:9-10).
Sebagai penjagaan terhadap segala macam rintangan,
kesulitan dan bahaya dalam menempuh
jalan hidupnya, orang-orang beriman
diperintahkan agar memohon pertolongan
dan bantuan dari Rabbul-Falāq supaya
memberinya nur, ketika kegelapan mengepung dari semua jurusan
dan supaya melindunginya dari
rencana-rencana jahat tukang-tukang
fitnah: وَ مِنۡ
شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan
orang-orang yang meniupkan ke dalam
buhul,” dan dari persekongkolan jahat
para pendengki: وَ مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan
orang yang dengki apabila ia mendengki”, baik pengulangan kedengkian
iblis terhadap Adam (Khalifah Allah-12-19-26; QS.17:62-66) mau
pun pengulangan kedengkian Kain terhadap saudaranya, Habel (QS.5:28-33) di
kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) yang
merupakan bagian dari Sunnatullah (QS.15:11-13; QS.36:31-33; QS.43:7-9).
Demikianlah hakikat doa mohon perlindungan Allah Swt. dalam surah Al-Falaq terhadap berbagai tindakan
buruk secara fisik yang dilakukan para penentang Tauhid Ilahi dalam surah Al-Ikhlash sebagaimana yang diancamkan iblis ketika
“diusir” Allah Swt. karena tidak mau “sujud” -- yakni beriman
dan patuh-taat – kepada Adam (Khalifah Allah – QS.7:12-10; QS.17:62-66), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ۙ﴿﴾ قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾ مِنۡ شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ
اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ
النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ
حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar, dari
keburukan makhluk yang Dia ciptakan, dan dari keburukan
kegelapan malam apabila meliputi, dan dari keburukan
orang-orang yang meniupkan ke dalam
buhul, dan dari keburukan
orang yang dengki apabila ia mendengki” (Al-Falaq
[113]:1-6).
Perbedaan Doa
Perlindungan Dalam Surah Al-Falaq dengan Sunah An-Nās
Ada pun
surah An-Nās membahas ancaman dari segi ruhani berupa berbagai
bentuk tipu-daya yang menggelincirkan
sebagaimana yang dilakukan syaitan
terhadap Adam dan istrinya dalam “jannah” (kebun),
sehingga Allah Swt. memerintahkan
mereka untuk “hijrah” dari dalamnya karena
keadaannya sudah tidak kondusif lagi untuk jamaah beliau (QS.7:20-26; QS. 20:115-124), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ قُلۡ
اَعُوۡذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾ مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾ اِلٰہِ النَّاسِ ۙ﴿﴾ مِنۡ شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ
فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ ۙ﴿﴾ مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb
(Tuhan) manusia, Māliki
(Raja) manusia, Ilāhi (Sembahan)
manusia, مِنۡ
شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ الۡخَنَّاسِ --
dari keburukan bisikan-bisikan
syaitan yang tersembunyi, الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ
النَّاسِ -- yang membisikkan ke dalam hati manusia, مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ -- dari
jin dan manusia.” (An-Nās [114]:1-7).
Surah ini adalah
Surah kedua dari Al-Muawwidzatan dan merupakan pemekaran masalah yang
dibabas Surah yang mendahuluinya, dan dalam satu segi merupakan pelengkapnya --
karena dalam Surah Al-Falaq
orang-orang beriman diperintahkan
agar memohon perlindungan kepada Allah
Swt. dari kesulitan-kesulitan dan penderitaan-penderitaan dalam kehidupan jasmani -- maka dalam Surah An-Nās dimohonkan perlindungan terhadap segala percobaan
dan aniaya yang merintangi perkembangan ruhani manusia.
Perlindungan Allah Swt. dimintakan bukan hanya dengan doa secara lisan saja, melainkan juga dengan perbuatan dan tindakan
yang kiranya dapat menarik rahmat Ilahi.
Inilah arti sesungguhnya yang terkandung dalam perintah yang disampaikan dengan kata qul (katakanlah),
sebab jika ucapan tersebut tidak
disertai pengamalan akan mendapat
celaan keras Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا لِمَ تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ
اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ
یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ
مَّرۡصُوۡصٌ
﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa
kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan? Adalah sesuatu
yang paling dibenci di sisi Allah bahwa kamu me-ngatakan apa yang tidak kamu kerjakan. اِنَّ اللّٰہَ
یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dalam barisan-barisan,
کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ
مَّرۡصُوۡصٌ -- mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat. (Ash-Shaf
[61]:3-5).
Tiga Sifat Ilahi Menghadapi Bisikan
Jahat (Kewaswasan) Al-Khannās atau Fitnah
Dajjal
Surah terakhir
Al-Quran tepat sekali diberi judul An-Nās,
karena perlindungan telah diminta
dari Rabb,
Mālik
(Raja), dan Ilāhi (Tuhan) seluruh umat manusia (al-nās) terhadap kejahatan pembisik-pembisik (al-khanas) dari antara jin dan manusia (al-nās) yang
membisikkan pikiran-pikiran jahat ke
dalam hati manusia (al-nās). Surah
An-Nās --yang diwahyukan
pada waktu bersamaan dengan Surah Al-Falaq
– merupakan (bersama-sama dengan Surah Al-Falaq)
penutup Al-Quran yang tepat sekali.
Dalam Surah An-Nās tiga sifat Ilahi – Rabb (Tuhan manusia), Mālik (Raja manusia), dan Ilāhi (Sembahan manusia) telah diseru
sebagai penanding satu sifat yakni Rabb
al-Falaq (Tuhan Yang Memiliki fajar) dalam Surah al-Falaq sebelumnya,
sebab sifat Rabb meliputi ketiga
Sifat Allah Swt. dalam surah An-Nās.
Sementara satu Sifat Ilahi “Rabb-al-falaq -- Tuhan Yang
Memiliki fajar” telah diseru
menandingi empat macam kejahatan
dalam surah tersebut (QS.112:3-6) maka dalam Surah An-Nās tiga sifat
Ilahi telah diseru menandingi satu kejahatan saja, yaitu bisikan
si Jahat. Hal itu disebabkan ajakan-ajakan atau bisikan-bisikan syaitan meliputi segala kejahatan: مِنۡ
شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ الۡخَنَّاسِ -- dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi, الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ
النَّاسِ -- yang membisikkan ke
dalam hati manusia, مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ
النَّاسِ -- dari jin dan manusia.”
Ketiga-tiga Sifat Ilahi itu mempunyai perhubungan
yang halus sekali (latif) dengan
keadaan tabiat alami, akhlak, dan ruhani manusia. Perkembangan jasmani
dan akhlak manusia terjadi di bawah Sifat
Rabb; pikiran, perkataan, serta perbuatan disiksa atau diganjar oleh Sifat
Mālik; dan Sifat Ilāh berarti
Tuhan adalah obyek cinta dan pujaannya; Dia adalah tujuan dan cita-citanya.
Sebutan ketiga Sifat Ilahi dalam Surah ini mengandung arti, bahwa semua dosa bersumber pada tiga sebab, yaitu (1) jika seseorang memandang orang lain sebagai majikannya, (2) rajanya, atau (3) tuhan-nya,
yakni bila ia menganggap dia penopang dan pendukung utama hidupnya, atau menghambakan
diri kepada kekuasaan yang bukan
haknya atau menjadikan dia tujuan cinta
dan pujaannya.
Orang beriman
diperintahkan dalam Surah An-Nās
agar hanya menghadapkan
wajah kepada Allah Swt. semata-mata
sebagai Penjamin hidupnya yang
hakiki, agar hanya kepada-Nya belaka
memperlihatkan ketaatan sejati dan tanpa bersyarat dan agar hanya Dia-lah Yang dijadikan tujuan sebenarnya bagi cinta dan pemujaannya.
Atau, ia diperintahkan dalam ayat ini supaya
senantiasa memohon perlindungan
terhadap tindak perampasan hak oleh
kaum kapitalis, penguasa-penguasa zalim dan golongan pemimpin agama yang licik, yang sambil mengambil keuntungan secara tidak wajar dari rakyat
jelata yang polos dan berpikiran sederhana dengan memeras mereka tanpa belas kasihan.
Hubungan Surah An-Nās
Dengan Bujukan Syaitan &
Tipu-daya Syaitan kepada Adam dan “Istrinya”
Makna ayat: مِنۡ
شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ الۡخَنَّاسِ -- dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi, الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ
النَّاسِ -- yang membisikkan ke
dalam hati manusia, مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ
النَّاسِ -- dari jin dan manusia.” Si Jahat membisikkan
pikiran-pikiran jahat ke dalam hati golongan jin (orang-orang besar)
maupun golongan nās (orang-orang awam), tanpa seorang pun terkecuali.
Atau, ayat ini dapat juga berarti bahwa si
pembisik pikiran jahat itu terdapat di antara golongan jin (orang-orang
besar) dan nās
(orang-orang awam).
Demikianlah
kandungan surah An-Nās, yang
sangat erat hubungannya dengan “tipu-daya
syaitan” terhadap “Adam dan istrinya” dalam kisah
monumental “Adam – Malaikat – Iblis”, firman-Nya:
وَ یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ فَکُلَا
مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ
لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا
رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ
اِلَّاۤ اَنۡ تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ
اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ
قَاسَمَہُمَاۤ اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ
النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ﴾ فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ
لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ
ؕ وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ اَلَمۡ
اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ
وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ اِنَّ
الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
“Dan hai Adam, tinggallah engkau
dan istri engkau di dalam kebun ini, lalu makanlah dan minumlah dari mana saja kamu berdua sukai, tetapi
janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,
karena kamu berdua akan termasuk orang-orang
yang zalim.” فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ
لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا -- Lalu syaitan
membisikkan nasihat jahat kepada
keduanya itu supaya ia dapat
menampakkan kepada keduanya itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat mereka وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ
الشَّجَرَۃِ اِلَّاۤ اَنۡ تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ الۡخٰلِدِیۡنَ -- dan ia berkata: “Rabb
(Tuhan) kamu berdua sekali-kali tidak
melarang kamu berdua dari pohon ini melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal.” وَ قَاسَمَہُمَاۤ اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ -- Dan ia
bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang
yang mem-beri nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” فَدَلّٰىہُمَا
بِغُرُوۡرٍ -- Lalu ia,
syaitan, membujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, فَلَمَّا ذَاقَا
الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ
وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ -- maka tatkala
keduanya merasai buah pohon itu tampaklah kepada keduanya aurat mereka berdua dan mulai-lah keduanya menutupi diri
mereka dengan daun-daun kebun itu. وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ
اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ -- Dan keduanya diseru oleh Rabb (Tuhan) mereka: “Bukankah
Aku telah melarang kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah
katakan kepada kamu ber-dua bahwa sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al-A’raf [7]:20-23).
Pohon terlarang dapat juga diartikan perintah-perintah yang menetapkan
beberapa benda tertentu dilarang bagi Adam dan istrinya. “Kalimah
yang baik” diumpamakan sebagai syajarah
thayyibah -- “pohon baik” dalam Al-Quran (QS.14:25) dan “kalimah buruk”
sebagai syajarah khabitsah - “pohon jahat” (QS.14:27). Arti
lain dari kata syajara adalah pertentangan atau perselisihan (QS:4:66).
Hubungan Surah An-Nās
Dengan “Fitnah
Dajjal”
Allah Swt. berfirman: فَوَسۡوَسَ
لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ -- Lalu syaitan
membisikkan nasihat jahat kepada
keduanya itu لِیُبۡدِیَ
لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا -- supaya ia dapat
menampakkan kepada keduanya itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat mereka.” Bandingkan dengan firman-Nya
dalam surah An-Nās agar orang-orang beriman memohon perlindungan Allah Swt.: مِنۡ
شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ الۡخَنَّاسِ --
dari keburukan bisikan-bisikan
syaitan yang tersembunyi, الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ
النَّاسِ -- yang membisikkan ke dalam hati manusia, مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ --
dari jin dan manusia.”
Dengan demikian jelaslah bahwa al-khannās adalah sebutan lain dari syaitan yang senantisa menipu manusia dengan janji-janji dusta yang sangat menggelincirkan manusia
(QS.14:23; QS.17:62-66; QS.25:26-30), sebagaimana bujukan
syaitan terhadap Adam dan istrinya – yakni jama’ahnya
-- yang sangat “menggelincirkan” tersebut, benar-benar merupakan kewaswasan yang dibisikan al-khannās
-- sang “penipu besar”, yang disebut Nabi
Besar Muhammad saw. sebagai “fitnah Dajjal” yang muncul di Akhir Zaman ini, karena mereka meraih
berbagai kesuksesan duniawi,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ
الَّذِیۡنَ قَالُوا
اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ
عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ
کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ
نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ
یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا
جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ
اَحۡسَنُ
عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا
عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Segala
puji bagi Allah Yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab
Al-Quran ini dan Dia
tidak menjadikan padanya kebengkokan. Sebagai penjaga untuk
memberi peringatan mengenai siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya,
dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman
yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang
baik, mereka menetap
di dalamnya se-lama-lamanya, وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا -- Dan supaya
memperingatkan orang-orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak laki-laki. مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ -- Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- Sangat
besar keburukan perkataan yang keluar
dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا -- mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ
نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا -- Maka sangat
mungkin engkau akan membinasakan
diri engkau karena sangat sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا -- Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya
supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mere-ka yang terbaik perbuatannya. وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا -- Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang
ada di atasnya menjadi tanah-rata
yang tandus. (Al-Kahf
[18]:1-9).
Berbagai Penjagaan dan Peringatan Al-Quran & Kasih-sayang Nabi Besar Muhammad Saw.
Al-Quran sebagai qayyim (penjaga)
melakukan tugas ganda: (1) Al-Quran penjaga atas kitab-kitab terdahulu dengan jalan memperbaiki dan menghilangkan
kesalahan-kesalahan yang telah masuk dalam kitab-kitab itu (QS.2:107), dan
Al-Quran penjaga atas generasi-generasi
yang akan datang, sebab dipikulnya kewajiban
untuk memperkembangkan ruhani mereka
serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia yakni untuk hanya beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57-59).
Dalam ayat 3, Al-Quran pertama-tama disebut sebagai "memberi peringatan" kemudian
sebagai "memberi kabar gembira",
dan dalam ayat 5 sekali lagi Al-Quran disebut sebagai “memberi peringatan.” Maknanya bahwa orang-orang kafir dari kalangan Ahli
Kitab telah dua kali diberi peringatan, dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang
beriman telah diberi kabar gembira.
Dua peringatan yang dipisahkan oleh kabar gembira bagi umat Islam itu mengandung tiga
nubuatan:
(a) kekalahan
dan kehancuran lawan-lawan Nabi Besar Muhammad saw. di masa beliau saw. sendiri.
(b) Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan dan kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan,
(c) sesudah
terlepasnya umat Islam dari kejayaan dan kemegahan (QS.32:6) adanya hukuman
yang disediakan bagi bangsa-bangsa
yang mengatakan bahwa "Allah telah
mengambil seorang anak lelaki." (QS.19:89-96).
Mengenai
makna kesedihan Nabi Besar Muhammad
saw. dalam ayat 7: فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا -- “maka sangat
mungkin engkau akan membinasakan
diri engkau karena sangat sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.” Kata bakhi' itu ism fail dari bakha'a
yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan
padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian
dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw. (QS.6:
36; QS.26:4-5), sebab beliau saw. adalah rasul
Allah yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. atas
penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat
Ilahi hampir membuat beliau saw. wafat. Memang begitulah keadaan para utusan (rasul) dan nabi
Allah -- terutama Nabi Besar
Muhammad saw. -- hatinya senantiasa
penuh dengan kasih-sayang terhadap
sesama manusia, firman-Nya:
لَقَدۡ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ
عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا
فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh
benar-benar telah datang kepada kamu رَسُوۡلٌ
مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ -- seorang Rasul dari antara kamu sendiri, عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ
مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ -- berat
terasa olehnya apa yang menyusahkan
kamu, حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ -- ia
sangat mendambakan kesejahteraan
bagi kamu dan بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ --
terhadap orang-orang beriman ia sangat berbelas kasih lagi penyayang. فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ
اللّٰہُ -- Tetapi jika mereka berpaling maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ -- tidak ada Tuhan kecuali Dia, عَلَیۡہِ تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ
الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ --kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung. (At-Taubah [9]:128-129).
Ayat ini boleh dikenakan kepada orang-orang beriman maupun kepada orang-orang kafir -- tetapi terutama kepada orang-orang beriman -- bagian
permulaannya mengenai orang-orang kafir
dan bagian terakhir mengenai orang-orang
beriman. Kepada orang-orang kafir nampaknya ayat tersebut mengatakan: “Nabi Besar Muhammad saw. merasa sedih melihat kamu mendapat
kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan
dan kesusahan, namun hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat
manusia, sehingga tidak ada tindakan yang datang dari pihak kamu dapat
membuatnya menjadi keras hati terhadap kamu dan membuat ia menginginkan
keburukan bagimu. Ia begitu penuh kasih-sayang dan belas kasihan terhadap kamu,
sehingga ia tidak tega hati melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga
mendatangkan kesusahan kepadamu.”
Kepada orang-orang beriman ayat tersebut
berkata: “Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan kecintaan, kasih-sayang,
dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam
menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah
yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu, dengan sangat murah hati dan
kasih-sayang.”
Jadi, betapa para rasul
Allah berseru kepada Allah Swt., menangis
dan berdukacita demi
kepentingan umat manusia. Tetapi manusia tidak tahu bersyukur
sehingga orang-orang itu sendiri -- yang bagi mereka para nabi Allah mempunyai perasaan
yang begitu mendalam -- justru merekalah yang menindas secara zalim para
nabi Allah dan orang-orang
yang beriman serta berusaha untuk membunuh mereka.
Akhir
Tragis Kekuasaan
Duniawi Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) Setelah Meraih Kesuksesan Duniawi
Kembali kepada surah Al-Kahfl, makna ayat selanjutnya: اِنَّا جَعَلۡنَا مَا
عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا -- Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya
supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”
(QS.18:8), semua benda yang tidak terhitung banyaknya yang telah
diciptakan Allah Swt., tidak ada satu
pun yang tidak mempunyai kegunaan
tersendiri yang tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan, semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
Umat Islam
telah dianjurkan untuk senantiasa memberi
perhatian kepada kebenaran agung yang
melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk menyerahkan waktu dan
tenaga mereka guna menggali rahasia-rahasia alam
yang agung dan untuk menyelidiki sifat-sifat yang tidak
terbilang banyaknya yang dimiliki unsur-unsur
alam (QS.15:22; QS.18:110; QS.32:28).
Di Akhir Zaman ini hal tersebut dilakukan oleh bangsa-bangsa Kristen dari barat sehingga – sesuai dengan sifat Rahmāniyat
(Maha Pemurah) Allah Swt. (QS.2:127; QS.55:27-46) – sehingga ayat berikut ini dapat
dikenakan kepada mereka: اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا -- Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya
supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”
Makna ayat
selanjutnya: وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا -- Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang
ada di atasnya menjadi tanah-rata
yang tandus.” Ayat ini
mengandung suatu kabar gaib
(nubuatan) bahwa bangsa-bangsa Kristen dari barat sesudah memperoleh kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan
sesudah mendapat penemuan-penemuan besar
dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) akhirnya akan membuat bumi Allah itu penuh dengan kedosaan
dan keburukan, seperti yang
dituturkan oleh Bible.
Akibatnya kemurkaan
Allah Swt. akan bangkit, -- dan sesuai
dengan nubuatan-nubuatan yang
diucapkan oleh mulut para nabi Allah,
di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru, Al-Quran dan hadits -- berbagai bentuk bencana-bencana (azab Ilahi) akan menimpa bumi secara meluas, serta segala kemajuan duniawi yang tadinya telah dicapai oleh mereka -- dan semua buah tangan mereka, gedung-gedung mereka yang tinggi megah,
keindahan negeri mereka, serta segala kemuliaan, kemegahan, dan keagungan
mereka -- sama sekali akan menjadi hancur berantakan (QS.18:33-45 & 95-102; QS.20:100-108).
Setiap Orang di Hadirat Allah Swt. Akan Mempertanggungjawabkan
Perbuatannya Sendiri
Mengisyaratkan
kepada keberhasilan duniawi yang
diraih oleh bangsa-bangsa Kristen dari
barat -- yang menganut Trinitas dan “penebusan dosa” -- itu pulalah peringatan Allah Swt. kepada
orang-orang beriman dalam firman-Nya
berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا
رَبَّکُمۡ وَ اخۡشَوۡا یَوۡمًا لَّا یَجۡزِیۡ وَالِدٌ عَنۡ وَّلَدِہٖ ۫ وَ لَا
مَوۡلُوۡدٌ ہُوَ جَازٍ عَنۡ وَّالِدِہٖ شَیۡئًا ؕ اِنَّ وَعۡدَ
اللّٰہِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ٝ وَ لَا
یَغُرَّنَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Hai manusia, bertakwalah
kepada Rabb (Tuhan) kamu dan takutlah akan Hari ketika seorang ayah tidak dapat
menolong anaknya dan tidak pula seorang
anak dapat menolong ayahnya sedikitpun. اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ -- Sesungguhnya janji Allah itu benar, فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ
الدُّنۡیَا -- maka janganlah sampai kehidupan dunia
memperdayakan kamu, وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ بِاللّٰہِ
الۡغَرُوۡرُ -- dan jangan pula si penipu itu menipu
kamu mengenai Allah. (Luqman [31]:34).
Nabi Besar Muhammad saw. memaknai ayat فَلَا
تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا -- maka janganlah sampai kehidupan dunia
memperdayakan kamu, وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ بِاللّٰہِ
الۡغَرُوۡرُ -- dan jangan pula si penipu itu menipu
kamu mengenai Allah” sebagai merebaknya fitnah Dajjal di Akhir
Zaman yang menyebar bersama dengan bangkitnya Ya’juj (Gog)
dan Ma’juj (Magog – QS.21:96-101; Wahyu 20:7-10), firman-Nya:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ
وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ
سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ
یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی
اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا
فِیۡہِ ؕ وَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ
اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Maka datang menggantikan sesudah mereka,
suatu generasi peng-ganti
yang mewarisi Kitab Taurat
itu, یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی -- mereka mengambil harta dunia yang rendah ini وَ یَقُوۡلُوۡنَ
سَیُغۡفَرُ لَنَا -- dan mereka mengatakan:
“Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu
lagi mereka akan mengambilnya.
Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka
tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allāh kecuali yang haq, dan mereka telah mempelajari1068 apa
yang tercantum di dalamnya? Padahal kampung akhirat itu
lebih ba-ik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau
mengerti? (Al-A’raf [7]:170).
'Aradha dalam ayat اۡخُذُوۡنَ عَرَضَ
ہٰذَا الۡاَدۡنٰی -- mereka mengambil harta dunia yang rendah ini” artinya: barang yang tidak kekal, barang-barang
duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi
duniawi; benda atau sesuatu (Lexicon
Lane).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar,18 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar