Rabu, 29 Juni 2016

Peringatan Allah Swt. Kepada "Bani Adam" Mengenai "Tiptu-Daya Syaitan" & "Dajjal" Penyebar "Fitnah" Merupakan "Pohon Terlarang" yang Muncul di Akhir Zaman




Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


PERINGATAN ALLAH SWT. KEPADA BANI ADAM  MENGENAI TIPU-DAYA SYAITAN   &    DAJJAL PENYEBAR FITNAH MERUPAKAN “POHON TERLARANG” YANG MUNCUL DI AKHIR ZAMAN

Bab 76

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai  firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.  agar tidak mengalami “kekeliruan” yang pernah terjadi pada  Nabi Adam a.s. dan jama’ah beliau  dalam  mensikapi  bujukan syaitan  yang penuh tipu-daya yang sangat menggelincirka,   Allah Swt.  berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ    --   Maka  Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ  --  Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau, وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا --  dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”  (Thā Hā [20]:114-115).

Pentingnya Terus Menerus Menyempurnakan Ilmu & Peringatan Allah Swt. Untuk Bani Adam

       Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda: "Carilah ilmu pengetahuan sekalipun mungkin ditemukannya jauh di rantau Cina" (Shagir, jilid I). Di tempat lain dalam Al-Quran telah dilukiskan sebagai "karunia Allah yang sangat besar" (QS.2:270 & QS.4:114). Ilmu itu ada dua macam:
(1)    ilmu yang dianugerahkan kepada manusia dengan perantaraan wahyu dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam wujud Al-Quran (QS.42:52-54; QS.72:27-29).
(2)    ilmu yang didapatkan oleh manusia dengan usaha dan jerih-payahnya sendiri.   
       Ilmu jenis yang kedua  --  karena diberikan secara umum sesuai dengan sifat Rahmaniyat Allah Swt.   --  sering kali menimbulkan ketakaburan pada pemiliknya, seperti yang terjadi pada Qarun  dan kaum-kaum purbakala (QS.28:77-83; QS.39:50-53).
       Dalam rangka menegaskan pentingnya melaksanakan perintah Allah Swt.   – agar tidak keliru dalam menafsirkan Al-Quran   -- kemudian Allah Swt. mengingatkan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai  kealfaan yang dilakukan  Nabi Adam a.s.  ketika  salah-menafsirkan     “bujukan” manusia syaitan yang sangat meyakinkan tetapi  penuh tipu-daya firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad  untuk berbuat dosa (Thā Hā [20]:116).

Peringatan Allah Swt. Kepada Bani Adam Mengenai  Tipu-daya Syaitan  & Fungsi Keberadaan Iblis dan Syaitan  

      Pengalaman yang terjadi pada zaman Nabi Adam a.s. dan para pengikut beliau tersebut – guna kewaspadaan keturunan beliau (Bani Adam) di masa mendatang – telah diabadikan Allah Swt. dalam Al-Quran sebagai peringatan – sekali gus sebagai nubuatan  --  firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  قَدۡ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ  لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  لَعَلَّہُمۡ  یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ  اَبَوَیۡکُمۡ  مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ  لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam,  sungguh  Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan sebagai  perhiasan, وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی -- dan pakaian takwa  itulah yang terbaik, yang demikian itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah, supaya  mereka mendapat nasihat.  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ  اَبَوَیۡکُمۡ  مِّنَ الۡجَنَّۃِ  --   Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali membiarkan syaitan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang-tua kamu dari kebun,  یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا -- ia menanggalkan pakaian keduanya itu untuk  menampakkan kepada keduanya  aurat mereka, اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ   -- sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihat kamu dari tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.  اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ  لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ --   Sesungguhnya  Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu  sahabat-sahabat bagi orang-orang yang tidak beriman   (Al-A’rāf [7]:28). 
  Ruh jahat yang disebut syaitan dan mereka yang sebangsanya, pada umumnya tidak terlihat oleh mata jasmani. Mereka mempergunakan pengaruh secara tidak nampak dan mencari-cari kelemahan-kelemahan tersembunyi pada diri manusia agar dapat membuatnya tetap mengumbar kelakuan jahatnya. Allah Swt.  telah menciptakan syaitan hanya sebagai ujian bagi manusia.
  Syaitan berlaku sebagai perintang dalam perlombaan ruhani yang sedang dihadapi manusia. Keberadaan perintang-perintang itu dimaksudkan tidak sebagai penghambat melainkan untuk menciptakan persaingan dalam perlombaan itu dan melipatgandakan upaya mereka.
  Mereka yang tidak berhati-hati dan lalai    -- yaitu mereka yang tergelincir karena rintangan-rintangan  berupa tipu-daya syaitan itu   -- dan kemudian kalah dalam perlombaan harus menyesali diri mereka sendiri dan jangan menyalahkan  orang atau orang-orang yang menempatkan perintang-perintang di jalan mereka untuk mencoba dan menguji ketabahan mereka.

Perbantahan di Antara Sesama Pengikut Iblis dan Syaitan

   Sehubungan keberadaan “manusia-manusia syaitan” seperti itu Allah Swt. berfirman mengenai “perbantahan sengit   di akhirat  antara para pemimpin kekafiran dengan para pengikutnya yang taqlid buta terhadap mereka, firman-Nya:
وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ جَمِیۡعًا فَقَالَ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ قَالُوۡا لَوۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ  لَہَدَیۡنٰکُمۡ ؕ سَوَآءٌ  عَلَیۡنَاۤ  اَجَزِعۡنَاۤ  اَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِنۡ  مَّحِیۡصٍ  ﴿٪﴾ وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan mereka itu semua akan tampil di hadapan Allah,   maka akan berkata orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang takabur:  اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ -- “Sesungguhnya kami dahulu pengikut-pengikut kamu, lalu  tidak dapatkah kamu mengelakkan kami dari azab Allah sedikit pun?” قَالُوۡا لَوۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ  لَہَدَیۡنٰکُمۡ ؕ سَوَآءٌ  عَلَیۡنَاۤ  اَجَزِعۡنَاۤ  اَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِنۡ  مَّحِیۡصٍ    -- Mereka berkata: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, pasti kami pun telah memberi petunjuk kepada kamu. Adalah sama saja bagi kita, apakah kita  berkeluh-kesah atau kita bersabar, sekali-kali tidak ada bagi kita jalan untuk melepaskan diri.” وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ        --   Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ   --  dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ    --  dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ   -- melainkan aku telah mengajak kamu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ   -- Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah diri kamu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  --  Aku sama sekali tidak dapat menolong kamu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ  -- Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya, اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ  -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:22-23).

Penyesalan yang Terlambat

 Ayat 27 menerangkan perbantahan  yang terjadi di akhirat antara para pemimpin kaum orang-orang kafir dengan para pengikut fanatik mereka dalam melakukan penentangan terhadap para rasul Allah, ternyata akibatnya mereka harus memasuki “neraka jahannam”, firman-Nya:
یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ یَقُوۡلُوۡنَ یٰلَیۡتَنَاۤ  اَطَعۡنَا اللّٰہَ  وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا ﴿﴾ وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اِنَّاۤ  اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا  فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا ﴿﴾  رَبَّنَاۤ  اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ  لَعۡنًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Pada hari itu ketika  para pemuka mereka akan dibolak-balikkan  di dalam api dan mereka akan berkata: یٰلَیۡتَنَاۤ  اَطَعۡنَا اللّٰہَ  وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا  -- Alangkah baiknya seandainya kami  mentaati Allah dan menaati Rasul.” وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اِنَّاۤ  اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا    --   Dan mereka akan berkata: “Wahai  Rabb Tuhan kami, kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا --  lalu mereka menyesatkan kami dari jalan lurus.  رَبَّنَاۤ  اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ  لَعۡنًا کَبِیۡرًا --  “Wahai Rabb (Tuhan) kami, datangkanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar” (Al-Ahzab [33]:67-69).
  Dalam ayat   67  disinggung tentang para pemimpin kaum kafir, sebab wujuh berarti juga para pemimpin. Dalam ayat tersebut  disebutkan pemimpin-pemimpin tingkat bawah, sedangkan dalam ayat 68 adalah para pemimpin kaum tingkat  atas.
  Merupakan fitrat manusia suka berusaha melemparkan noda perbuatan-perbuatan buruknya sendiri kepada orang lain, sehingga kedua belah tersebut yang tadinya bekerja-sama dalam melakukan penentangan  terhadap para rasul Allah,  tetapi ketika makar-makar buruk mereka mengalami kegagalan kemudian mereka berbalik  saling menyalahkan bahkan saling mengutuk (QS.7:39; QS.28:64; QS.34:32-33; QS.40:48:49), firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ  یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی  یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾  یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا ﴿﴾  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu  milik Yang Maha Pemurah, dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras.   Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya   lalu berkata: یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا  --  ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا   --  Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat. لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ  --  Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- Dan syaitan selalu menelantarkan manusia. وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا  --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.” وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ --  Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا --  dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:27-32).

Dajjal” Merupakan “Pohon terlarang” di Akhir Zaman & Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Dajjal

   Dari penjelasan berbagai ayat Al-Quran tersebut jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “syaitan” yang membujuk Adam a.s. dan “istrinya” agar melanggar perintah Allah Swt. yang melarang mereka mendekati “pohon terlarang” dalam “jannah” (QS.7:12-26), bukan   makhluk halus melainkan dari kalangan  manusia, yaitu orang-orang  kafir yang menghembuskan  kewaswasan  yang disebut khannās  sebagaimana yang dikemukakan Allah Swt. dalam surah An-Nās,   -- yang di Akhir Zaman ini mengambil wujud “fitnah Dajjal  -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قُلۡ  اَعُوۡذُ  بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾  مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  اِلٰہِ  النَّاسِ ۙ﴿﴾   مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) manusia,   Raja manusia,     Sembahan manusia, مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ --   “Dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi,   الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ --  yang membisikkan ke dalam hati manusia,  مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ  --   dari kalangan jin dan manusia.” (An-Nās [114]:1-7). 
   Berikut ini beberapa  sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai  gambaran kiasan  mengenai kesuksesan duniawi yang diraih segolongan manusia atau suatu  bangsa  di Akhir Zaman ini yang disebut “Dajjal” atau Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog):
      Dari Anas radhiallahu `anhu berkata bahwa Rasulullah sallallāhu `alaihi wasallam bersabda: Tidak ada seorang nabi pun melainkan telah memperingatkan kepada umatnya terhadap si buta sebelah yang sangat pendusta.  Ingatlah bahwasanya Dajjal itu buta sebelah, dan sesungguhnya Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Agung itu tidaklah buta sebelah.  Dan di antara dua mata Dajjal itu ada tulisan ”ka fa ra” (kafir)” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
       Alasan mengapa Dajjal serta “fitnah Dajjal” yang sangat berbahaya bagi Tauhid Ilahi orang-orang yang lemah iman disebut “si pendusta besar”, dijelaskan oleh Nabi Besar Muhammad saw.:
      Dari Rib`iy bin Hirasy berkata: “Saya pergi bersama Abu Mas`ud al-Ansari  ke tempat Huzdaifah bin Al-Yaman  radhi Allahu `anhum, kemudian Abu Mas`ud berkata kepada Hudzaifah, “Ceritakanlah kepadaku berita tentang Dajjal yang engkau dengar dari Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam. ”Hudzaifah berkata, “Sesungguhnya Dajjal itu akan keluar dengan membawa air dan api.  Adapun apa yang terlihat air oleh manusia maka itu sebenarnya adalah api yang membakar.  Sedangkan apa yang terlihat api oleh manusia maka itu sebenarnya adalah air yang dingin dan segar.”  Barangsiapa di antara kamu sekalian berjumpa dengan Dajjal, maka hendaklah ia membuat keputusan memilih pada apa yang terlihat sebagai api kerana sesungguhnya itu adalah air yang segar dan baik.”  Kemudian Abu Mas`ud berkata, “Saya pun telah mendengar berita yang seperti itu” (HR Al-Bukhari dan Muslim).     
        Dari Abu Hurairah radhiallāhu `anhu berkata, bahwa Rasulullah sallallāhu `alaihi wasallam bersabda: “Sukakah aku jelaskan kepada kamu tentang Dajjal yang belum pernah dijelaskan oleh seorang nabi kepada umatnya.  Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah dan sesungguhnya ia akan muncul dengan membawa semacam surga dan neraka.  Sesuatu yang dikatakan  surga oleh Dajjal itu sebenarnya adalah neraka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
       Kemudian mengenai keadaan al-Masih Dajjal  yang sangat rajin menyesatkan manusia dari Tauhid Ilahi  digambarkan  Nabi Besar Muhammad saw. secara kiasan:
       Dari Ibnu `Umar radhiallāhu `anhuma bahawasanya Rasulullah sallallāhu `alaihi wasallam menyebut-nyebut Dajjal di tengah-tengah manusia, di mana Baginda bersabda: “Sesungguhnya ALLAH itu tidaklah buta sebelah.  Ingatlah bahwasanya al-Masih Dajjal itu mata sebelah kanannya buta, matanya itu seperti buah anggur yang menonjol keluar.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
      Dari Anas radhiallāhu `anhu berkata bahwa Rasulullah sallallāhu `alaihi wasallam telah bersabda: “Tiada suatu negeri pun melainkan akan diinjak oleh Dajjal kecuali Makkah dan Madinah, tiada suatu jalan pada kedua-dua negeri itu melainkan di situ pasti ada malaikat yang berbaris menjaganya.  Maka berhentilah Dajjal pada tempat yang gersang berdekatan Madinah, kemudian kota Madinah digoncangkan di mana Allah bermaksud untuk mengeluarkan setiap orang kafir dan munafik dari Madinah” (HR Muslim).    
      Dari Anas radhiallāhu `anhu bahawasanya Rasulullah sallallāhu `alaihi wasallam telah bersabda: “Orang Yahudi Isbahan  sebanyak 70,000 yang lengkap dengan pakaian seragamnya   akan selalu mengikuti Dajjal.” (HR Muslim).
     Dari Ummu Syarik   radhiallāhu `anha bahwasanya dia mendengar Rasulullah sallallāhu `alaihi wasallam bersabda: “Sungguh manusia melarikan diri dari Dajjal sampai di atas gunung.” (HR Muslim).
     Dari `Imran bin Husain   radhiallāhu `anhuma berkata, saya mendengar Rasulullah sallallāhu `alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada perkara sejak kejadian Adam sallallāhu `alaihi wasallam hingga Hari Kiamat lebih besar daripada perkara mengenai Dajjal” (HR Muslim).
      Dari Abu Hurairah  radhiallāhu `anhu, dari Nabi sallallāhu `alaihi wasallam  beliau bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah. (HR. Muslim).

Adanya Para Pendakwa yang Palsu Membuktikan Keberadaan Pendakwa  yang Asli

   Merupakan ketentuan umum bahwa munculnya barang-barang palsu mengindikasikan keberadaan  barang yang asli,  demikian pula hanya  berkenaan dengan  kedatangan Rasul Akhir Zaman  dari kalangan Bani Adam  (QS.7:35-37; QS.61:10; QS.62:3-4; QS.pun pasti akan muncul para pendakwa palsu  --  yang merupakan bagian dari hadangan Iblis dan tipu-daya syaitan  di “jalan Allah”, sebagaimana yang  diancamkan iblis   kepada Allah Swt. berkenaan dengan Adam (Khalifah Allah)   dan para pengikutnya (QS.7:12-19; QS.15:29-45;  QS.17:62-66; QS.38:72-86), firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ مِنۡ رَّسُوۡلٍ وَّ لَا نَبِیٍّ  اِلَّاۤ  اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ ۚ فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ ؕ وَ  اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿ۙ﴾
Dan Kami tidak pernah mengirim seorang rasul dan tidak pula seorang nabi اِلَّاۤ  اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ   -- melainkan apabila ia menginginkan sesuatu maka syaitan meletakkan hambatan pada keinginannya, فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ ؕ  --  tetapi Allah melenyapkan hambatan yang diletakkan oleh syaitan,  وَ  اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ --  dan Allah  Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.  (Al-Hajj [22]:53). Lihat pula QS.6:112-114.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,23  Juni    2016

1 komentar:

  1. New Vegas Resort Casino & Spa Reviews - KTNV
    As the hotel 경기도 출장샵 gets 전라남도 출장샵 larger, the rooms will be much smaller, 계룡 출장안마 and the communitykhabar rooms are bigger. For me, the rooms are smaller. For 상주 출장안마 me, they are larger, more spacious. Rating: 4 · ‎3,624 votes

    BalasHapus