Minggu, 26 Juni 2016

Penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai "Trinitas" dan "Penebusan Dosa" & Lima "Resep Kesuksesan" Menghadapi "Tipu-daya Syaitan" dan "Fitnah Dajjal" di Akhir Zaman



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


    PENOLAKAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. MENGENAI “TRINITAS” DAN “PENEBUSAN DOSA” & LIMA RESEP KESUKSESAN MENGHADAPI  TIPU-DAYA SYAITAN   DAN FITNAH DAJJAL DI AKHIR ZAMAN

Bab 74

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai  keberhasilan duniawi yang diraih oleh bangsa-bangsa Kristen dari barat  -- yang menganut Trinitas dan “penebusan dosa”   --  yang  untuk itu Allah Swt.  dan Nabi Besar Muhammad saw.  memperingatkan   kepada orang-orang beriman   mengenai   bahaya fitnah Dajjal dalam firman-Nya berikut ini:

یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمۡ  وَ اخۡشَوۡا یَوۡمًا  لَّا یَجۡزِیۡ وَالِدٌ عَنۡ وَّلَدِہٖ ۫ وَ لَا مَوۡلُوۡدٌ  ہُوَ  جَازٍ عَنۡ وَّالِدِہٖ شَیۡئًا ؕ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ٝ وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Hai  manusia, bertakwalah kepada Rabb (Tuhan) kamu dan takutlah akan  Hari  ketika seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan tidak pula seorang anak dapat menolong ayahnya sedikitpun. اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ --  Sesungguhnya janji Allah itu benar, فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا  -- maka janganlah sampai kehidupan dunia memperdayakan kamu, وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ  -- dan jangan pula si penipu itu  menipu kamu mengenai Allah. (Luqman [31]:34).

Penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Berkenaan  “Trinitas” dan “Penebusan Dosa

       Nabi Besar Muhammad saw.  memaknai ayat فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا  -- maka janganlah sampai kehidupan dunia memperdayakan kamu, وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ  -- dan jangan pula si penipu itu  menipu kamu mengenai Allah” sebagai merebaknya  fitnah Dajjal  di Akhir Zaman  yang  menyebar  bersama dengan bangkitnya  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:96-101; Wahyu 20:7-10), sebagaimana firman-Nya:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Maka datang menggantikan sesudah mereka, suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی  -- mereka mengambil harta dunia  yang rendah ini وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا  -- dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq, dan  mereka telah mempelajari  apa yang tercantum di dalamnya? Padahal  kampung  akhirat itu   lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’rāf [7]:170).
       'Aradha  dalam ayat اۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی  -- mereka mengambil harta dunia  yang rendah ini” artinya:  barang yang tidak kekal, barang-barang duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi duniawi; benda atau sesuatu  (Lexicon Lane).
     Makna ucapan mereka dalam ayat selanjutnya:  وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا  -- dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni” mengisyaratkan kepada faham  “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam di atas salib yang mereka percayai dan sebar-luaskan ke seluruh dunia,  padahal bertentangan dengan pengakuan Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. sendiri, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb kamu (Tuhan-kamu).” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,  tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Māidah [5]:117-119).

Peringatan Allah Swt. dan Kabar Gembira   Umat Islam

       Dalam berbagai surah Al-Quran Allah Swt. memperingatkan  umat Islam agar  tidak tertipu oleh kesuksesan duniawi mereka,  sebab kebangkitan  Ya’juj  (Gog) dan  Majuj  (Magog)  tersebut  terjadi pada masa puncak kemunduran umat Islam selama 1000 tahun setelah mengalami masa kejayaannya yang pertama selama 3 abad (QS.17:86-88; QS.32:6), firman-Nya:
لَا یَغُرَّنَّکَ تَقَلُّبُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِی الۡبِلَادِ  ﴿  ﴾ؕ مَتَاعٌ قَلِیۡلٌ ۟ ثُمَّ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ ﴿  ﴾
Janganlah sekali-kali engkau terpedaya  oleh lalu-lalang orang-orang kafir di dalam negeri.  Itu adalah sedikit kesenangan  sementara  kemudian tempat kediaman mereka adalah Jahannam, dan Jahanam itu tempat yang seburuk-buruknya (Āli ‘Imran [3]:197-198).
      Ayat ini -- di samping mempunyai hubungan dengan zaman Nabi Besar Muhammad saw. -- juga kena benar kepada kemajuan secara kebendaan yang menakjubkan di tengah bangsa-bangsa Kristen dalam segala bidang kehidupan duniawi di Akhir Zaman ini.
      Ayat ini pun memperingatkan kaum Muslimin agar jangan tertipu atau terpukau oleh kesilauan kemajuan sementara dan fana ini.  Sebab kesejahteraan bangsa-bangsa Kristen itu hanya untuk sementara saja, sebagaimana dinubuatkan dalam kata dhāllīn dalam surah Al-Fatihah ayat 7  -- yang selain  “sesat” juga artinya “akan hilang/binasa”   -- dan ayat:  ثُمَّ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ  -- “kemudian tempat kediaman mereka adalah Jahannam, dan Jahanam itu tempat yang seburuk-buruknya”  mengisyaratkan kepada hukuman mengerikan yang tersedia bagi mereka dan yang kini sungguh-sungguh telah mulai menimpa mereka. Buktinya adalah Perang Dunia I dan Perang Dunia II, dan Perang Dunia III  atau Perang Nuklir  pun – Insya Allah -- akan terjadi secara tiba-tiba pula.
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai  akhir kehidupan yang baik bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.62:3-5) -- termasuk orang-orang beriman  yang berasal   dari  golongan Ahli Kitab   -- firman-Nya:
لٰکِنِ الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا رَبَّہُمۡ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا نُزُلًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ مَا عِنۡدَ اللّٰہِ خَیۡرٌ  لِّلۡاَبۡرَارِ ﴿﴾   وَ اِنَّ مِنۡ اَہۡلِ  الۡکِتٰبِ لَمَنۡ یُّؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِمۡ خٰشِعِیۡنَ  لِلّٰہِ ۙ لَا  یَشۡتَرُوۡنَ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ ثَمَنًا قَلِیۡلًا ؕ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾  یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya (Tuhan-nya), bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, suatu hidangan dari sisi Allah, dan apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang berbuat kebajikanوَ اِنَّ مِنۡ اَہۡلِ  الۡکِتٰبِ لَمَنۡ یُّؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِمۡ ِ --   Dan sesungguhnya  di antara Ahlul Kitab benar-benar ada yang beriman kepada Allah,  dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu,  dan kepada apa yang diturunkan kepada merekaخٰشِعِیۡنَ  لِلّٰہِ --  mereka berendah hati  di hadapan Allah,  لَا  یَشۡتَرُوۡنَ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ ثَمَنًا قَلِیۡلًا ؕ   -- mereka tidak menjual Ayat-ayat Allah dengan harga murah.  اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ  -- Mereka inilah yang baginya ada ganjarannya di sisi Rabb (Tuhan) mereka. اِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab.    یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟     -- Wahai orang-orang yang  ber-iman bersabarlah, dan tingkatkanlah kesabaran serta  bersiap-siagalah di perbatasan وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ  -- dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berhasil. (Āli ‘Imran [3]:199-201).

Berbagai Makna Nuzul

       Makna  nuzul  dalam ayat:  لٰکِنِ الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا رَبَّہُمۡ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا    -- “Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya (Tuhan-nya), bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal  di dalamnya, نُزُلًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰ   -- suatu hidangan dari sisi Allah,”  nuzul itu ism masdar dari nazala, yang berarti: ia turun; ia tinggal atau menetap di satu tempat; mengandung arti (1) tempat tamu-tamu menginap (2) makanan yang disediakan untuk tamu-tamu (Lexicon Lane).  Jadi  ayat  نُزُلًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ terjemahannya “suatu hidangan dari sisi Allah.“  
      Jadi, penggunaan kata  nuzul dalam Al-Quran  erat kaitannya dengan sesuatu yang sangat penting serta berharga serta mulia (terhormat)  --  bukan hanya berarti “turun dari atas ke bawah”  -- contohnya Allah Swt. menggunakan kata nuzul untuk   pakaian dan besi dan lain-lain (QS.7:27; QS.57:26), padahal semua orang mengetahui bahwa  benda-benda tersebut berasal dari dunia ini.
      Dengan demikian jelaslah  bahwa makna rafa’a (QS.3:56) dan  nuzul  berkenaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun sama sekali tidak ada hubungan dengan tempat (atas dan bawah) melainkan dengan martabat,   yakni para pemuka Yahudi melalui upaya pembunuhan di tiang salib berusaha menjatuhkan kemuliaan martabat beliau   sebagai rasul Allah yang benar menjadi “manusia terkutuk” (Ulangan 21:23), tetapi Allah Swt.  -- melalui  keadaan “mati suri” (pingsan berat - – Matius 27:45-50)  pada peristiwa penyaliban  selama 3 jam yang mengerikan tersebut (Yahya 19:14)  --  telah menghindarkan  beliau dari    kehinaan  yang diupayakan oleh para pemuka agama Yahudi tersebut (QS.4:158-159).  
        Itulah sebabnya  mengenai upaya pembunuhan yang dirancang secara terencana yang dilakukan para penentang terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw.. -- bahkan terhadap para rasul Allah lainnya -- Allah Swt. telah menyebutnya  makar, dalam “duel makar” tersebut senantiasa dimenangkan Allah Swt.  (QS.3:53-55; QS.8:31; QS.14:47-48; QS.27:51-52).
         Kata-kata اِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ – “sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab  (Āli ‘Imran [3]:200),    bila dipakai bertalian dengan orang-orang kafir berarti bahwa  Allah Swt.  itu cepat meminta pertanggung-jawaban dan  memberikan hukuman; tetapi  bila dipakai mengenai orang-orang beriman kata-kata itu berarti bahwa Allah Swt. itu cepat mengadakan perhitungan dan menganugerahkan ganjaran.

Lima Resep Meraih Kesuksesan  & Tipu-daya Syaitan Kepada Adam dan “Istrinya

      Dalam menghadapi  bangkitnya  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)    dan merajalelanya   fitnah Dajjal  yang berhasil meraih kekuasaan dan kekayaan duniawi tersebut   selanjutnya Allah Swt.  memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Wahai orang-orang yang  beriman اصۡبِرُوۡا -- bersabarlah, وَ صَابِرُوۡا --  dan tingkatkanlah kesabaran وَ رَابِطُوۡا  --  serta   bersiap-siagalah  di perbatasan وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ  -- dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berhasil.   (Āli ‘Imran [3]:201).
      Rābithū berarti:  “gigih dalam perlawanan musuh kamu” atau “ikatlah kuda kamu dalam keadaan siap-siaga di tapal batas”; atau “lazimkanlah dirimu tekun dan rajin dalam menjalankan kewajiban terhadap agama kamu”; atau “jagalah waktu shalat” (Lexicon Lane).
       Kelima syarat untuk meraih  kemenangan yang disebut dalam ayat itersebut adalah bahwa orang-orang yang beriman harus:
(1)  memperlihatkan kesabaran dan kegigihan;
(2)  memperlihatkan kesabaran dan keteguhan hati lebih besar daripada musuh;
(3)  melazimkan diri dengan senantiasa tekun dan rajin dalam mengkhidmati agama dan masyarakat;
(4)  senantiasa berjaga-jaga dengan waspada di perbatasan untuk tujuan pertahanan dan serangan;
(5)  menempuh kehidupan yang shalih.
     Ribāth berarti pula hati manusia. Jadi makna lain kata  وَ رَابِطُوۡا  yaitu  orang-orang beriman diperintahkan untuk senantiasa berada dalam keadaan siap-siaga dan berjaga-jaga untuk memerangi musuh-musuh dari dalam dan dari luar, antara lain dengan memohon perlindungan Allah Swt. sebagaimana dikemukakan dalam surah Al-Falaq dan surah An-Nās, agar selamat dari  ancaman Iblis mau pun   tipuan syaitan yang terjadi pada kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis”,  sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah Swt. sebelum ini:
وَ یٰۤاٰدَمُ  اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ فَکُلَا مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ  فَتَکُوۡنَا مِنَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ  اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿﴾  وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ﴾  فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ  اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ  وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ  اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
“Dan  hai Adam, tinggallah engkau dan istri engkau di dalam kebun ini, lalu makanlah dan minumlah dari mana saja kamu berdua sukai, tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,  karena kamu berdua akan termasuk orang-orang  yang  zalim.” فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا --   Lalu   syaitan membisikkan nasihat jahat kepada keduanya itu supaya ia dapat menampakkan kepada keduanya itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat   mereka وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ  اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ -- dan ia berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali tidak   melarang kamu berdua dari pohon ini melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal.وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ --  Dan ia bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang mem-beri nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ  -- Lalu ia, syaitanmembujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ  -- maka tatkala keduanya   merasai buah pohon itu  tampaklah kepada keduanya  aurat  mereka berdua dan mulailah keduanya  menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu. وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ  اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ  وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ  اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ  --  Dan keduanya  diseru oleh Rabb (Tuhan) mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu berdua  bahwa sesungguhnya  syaitan itu  musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al-A’rāf [7]:20-23).

Letak “Jannah” Tempat Tinggal Adam dan “istrinya”   Berada Di  Dunia & Ungkapan Kiasan  “Pohon Terlarang”

        Makna ayat: وَ یٰۤاٰدَمُ  اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ فَکُلَا مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا  -- “Dan  hai Adam, tinggallah engkau dan istri engkau di dalam kebun ini, lalu makanlah dan minumlah dari mana saja kamu berdua sukai” mengisyaratkan bahwa tempat kediaman Nabi Adam a.s. dan istrinya  -- yakni para pengikutnya --  merupakan suatu wilayah subur di dunia ini   --yakni wilayah Mesopotamia di Timur Tengah -- yang  dalam ayat tersebut dinamakan “jannah” (kebun).       
      Karena tempat ketika Nabi Adam a.s. dan para pengikutnya  disuruh tinggal di dunia ini  -- yakni wilayah Mesopotamia  -- digambarkan secara tamsil dalam Al-Quran sebagai “jannah” (kebun),  karena itu dalam gambaran berikutnya tamsil itu dilanjutkan, yakni  Adam a.s.  digambarkan sebagai dilarang mendekati “pohon” tertentu yang bukan pohon dalam arti kata harfiah dan fisik, melainkan suatu keluarga atau suku tertentu yang hidup sezaman dengan Nabi Adam a.s., serta merasa sangat dirugikan dengan  kehadiran Nabi Adam a.s. sebagai “Khalifah Allah” sebagaimana “prediksi” para malaikat (QS.2:31), firman-Nya وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ  فَتَکُوۡنَا مِنَ  الظّٰلِمِیۡنَ -- “tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,  karena kamu berdua akan termasuk orang-orang  yang  zalim.
       Makna larangan Allah Swt. kepada Adam a.s. dan istrinya (pengikutnya)  dalam ayat tersebut   supaya menjauhi keluarga atau suku itu, sebab anggota-anggota keluarga atau suku tersebut adalah musuh beliau dan mereka itu niscaya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencelakakan beliau dan istri  (pengikut) beliau atau  jama’ah beliau.
         Perhatikan kewaswasan   yakni bisikan jahat  yang ditimbulkan oleh syaitan  berupa “sesuatu yang menjadi dambaan manusia” yang diperkuat dengan “sumpah palsu” syaitan, Dia berfirman: وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ    -- dan ia berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali tidak   melarang kamu berdua dari pohon ini اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ   -- melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal.وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ --  Dan ia bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” (Al-A’raf [7]:21-22).
      Dari Bible diketahui bahwa cara syaitan melakukan “tipu-daya” tersebut tidak langsung terhadap Adam,  -- sebab Allah Swt. telah menjamin bahwa beliau pasti tidak akan tertipu  karena sebagai rasul Allah beliau tentu sudah mengalami kebangkitan ruhani yang mapan (QS.15:37; QS.38:80)   -- melainkan melalui “istrinya”  atau para pengikutnya, sehingga timbul suasana “perselisihan” antara yang  menolakbujuk-rayu” (godaan)  syaitan dengan yang “setuju”. Dalam bahasa Arab  “perselisihan” (pertentangan) disebut “syajara”  (QS.4:66) sama dengan syajarah (pohon).

Upaya Syaitan Menimbulkan  Ketidak-taatan dan Perpecahan di Kalangan Pengikut Nabi Adam a.s.

      Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ  -- Lalu ia, syaitanmembujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا      --  maka tatkala keduanya   merasai buah pohon itu  tampaklah kepada keduanya  aurat  mereka berdua  وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ  -- dan mulailah keduanya  menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu.” (Al-A’rāf [7]:23).
    Nabi Adam a.s.  dan Istrinya atau jemaatnya menyadari bahwa dengan mengikuti ajakan buruk syaitan itu mereka telah membuat kesalahan besar dan telah menjerumuskan diri mereka ke dalam keadaan yang amat sulit.  Dengan demikian makna ayat  فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا --  “lalu  tampak­lah bagi mereka berdua kelemahan-­kelemahan mereka  tidak berarti  bahwa kelemahan mereka telah dimaklumi (diketahui) orang lain, tetapi yang dimaksudkan hanyalah  bahwa Adam a.s. dan istrinya   (jamaahnya)  menjadi sadar akan kelemahan mereka itu  yang sebelumnya tidak mereka ketahui (sadari).
       Makna ayat selanjutnya: وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ   -- “dan ke­duanya menutupi tubuh  mereka dengan daun-daun  surgaوَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  --  ”Dan Adam telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya)  maka ia menderita.“ Karena waraq berarti pula tunas-tunas muda suatu jemaat (Lexicon Lane), maka ayat ini bermaksud mengemukakan  bahwa karena syaitan telah berhasil mendatangkan perpecahan di tengah-tengah Jemaat Nabi Adam a.s., dan beberapa anggota yang lemah wataknya  telah keluar dari lingkungannya, maka Nabi Adam a.s.  menghimpun para pemuda dan anggota-anggota jemaat beliau lainnya yang baik serta shalih  dan dengan bantuan mereka beliau menertibkan lagi kaumnya.
        Ayat  tersebut menunjukkan bahwa perbuatan melanggar perintah dari pihak Adam a.s. itu tidak disengaja dan telah terjadi secara kebetulan, sebab pelanggaran yang disengaja tidak mungkin mengakibatkan beliau malah memperoleh kehormatan besar dengan dipilih Allah   Swt.   untuk menerima karunia-­Nya yang istimewa: ثُمَّ  اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ  فَتَابَ عَلَیۡہِ  وَ  ہَدٰی – “Kemudian Rabb-nya (Tuhan-nya) memilihnya    maka Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk” (Thā Hā [20]:123).    
         Bandingkan dengan kisah yang sama dalam Bible, Kitab  Kejadian 3:1-13 bahwa syaitan tidak langsung  membujuk Nabi Adam a.s.  melainkan melalui “istrinya” yakni anggota Jemaatnya, tetapi kemudian  akibat buruknya berimbas kepada Nabi Adam a.s. Sehubungan dengan hal tersebut dalam ayat Al-Quran  dipergunakan dalam artian “aurat” atau “kelemahan”, sebab dalam makna harfiah  tidak ada  aurat manusia yang tersembunyi darinya.
       Jadi makna ayat tersebut bahwa beberapa kelemahan Adam a.s. dan jemaat beliau yang sebelumnya  sungguh tersembunyi dari beliau, tetapi beliau baru menyadari hal itu ketika musuh-musuh  beliau    berhasil membujuk beliau keluar dari kedudukan beliau yang aman, yaitu  ketika syaitan berhasil menimbulkan perselisihan pendapat  dan ketidak-taatan di kalangan jemaat beliau.

(Bersambung)
            
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,20  Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar