Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
PENOLAKAN NABI
ISA IBNU MARYAM A.S. MENGENAI “TRINITAS”
DAN “PENEBUSAN DOSA” & LIMA RESEP KESUKSESAN MENGHADAPI TIPU-DAYA SYAITAN DAN FITNAH DAJJAL DI AKHIR ZAMAN
Bab 74
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya
telah dikemukakan mengenai keberhasilan
duniawi yang diraih oleh bangsa-bangsa
Kristen dari barat -- yang menganut Trinitas dan “penebusan dosa” -- yang
untuk itu Allah Swt. dan Nabi
Besar Muhammad saw. memperingatkan kepada orang-orang beriman mengenai
bahaya fitnah Dajjal dalam
firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا
رَبَّکُمۡ وَ اخۡشَوۡا یَوۡمًا لَّا یَجۡزِیۡ وَالِدٌ عَنۡ وَّلَدِہٖ ۫ وَ لَا
مَوۡلُوۡدٌ ہُوَ جَازٍ عَنۡ وَّالِدِہٖ شَیۡئًا ؕ اِنَّ وَعۡدَ
اللّٰہِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ٝ وَ لَا
یَغُرَّنَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Hai manusia, bertakwalah
kepada Rabb (Tuhan) kamu dan takutlah akan Hari ketika seorang ayah tidak dapat
menolong anaknya dan tidak pula seorang
anak dapat menolong ayahnya sedikitpun. اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ -- Sesungguhnya janji Allah itu benar, فَلَا
تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا -- maka janganlah
sampai kehidupan dunia memperdayakan kamu, وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ -- dan jangan
pula si penipu itu menipu kamu mengenai Allah. (Luqman
[31]:34).
Penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Berkenaan “Trinitas”
dan “Penebusan Dosa”
Nabi Besar Muhammad saw. memaknai ayat فَلَا
تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا -- maka janganlah
sampai kehidupan dunia memperdayakan kamu, وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ -- dan jangan
pula si penipu itu menipu kamu mengenai Allah” sebagai merebaknya fitnah Dajjal di Akhir
Zaman yang menyebar bersama dengan bangkitnya Ya’juj (Gog)
dan Ma’juj (Magog – QS.21:96-101; Wahyu 20:7-10), sebagaimana firman-Nya:
فَخَلَفَ مِنۡۢ
بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ
یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ
یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا
یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا
الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ ؕ وَ
الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Maka datang menggantikan sesudah mereka,
suatu generasi pengganti
yang mewarisi Kitab Taurat
itu, یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی -- mereka mengambil
harta dunia yang rendah ini
وَ
یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا -- dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu
lagi mereka akan mengambilnya.
Bukankah telah diambil perjanjian dari
mereka dalam Kitab bahwa mereka
tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq, dan mereka
telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya? Padahal kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’rāf [7]:170).
'Aradha dalam ayat اۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی -- mereka mengambil
harta dunia yang rendah ini”
artinya: barang yang tidak kekal,
barang-barang duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau
komoditi-komoditi duniawi; benda atau sesuatu
(Lexicon Lane).
Makna ucapan mereka dalam ayat
selanjutnya: وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا -- dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni”
mengisyaratkan kepada faham “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui “kematian
terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam di
atas salib yang mereka percayai
dan sebar-luaskan ke seluruh dunia, padahal bertentangan dengan pengakuan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. sendiri, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ
وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ
تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata kepada
manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai
dua tuhan selain Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam
diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku
sekali-kali tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang telah
Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb kamu (Tuhan-kamu).”
Dan aku menjadi saksi atas mereka
selama aku berada di antara mereka,
tetapi tatkala Engkau
telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:117-119).
Peringatan Allah Swt. dan Kabar Gembira Umat Islam
Dalam berbagai surah Al-Quran Allah Swt.
memperingatkan umat
Islam agar tidak tertipu oleh kesuksesan
duniawi mereka, sebab
kebangkitan Ya’juj (Gog) dan Majuj (Magog)
tersebut terjadi pada masa puncak
kemunduran umat Islam selama 1000 tahun setelah mengalami masa kejayaannya yang pertama selama 3 abad (QS.17:86-88; QS.32:6), firman-Nya:
لَا یَغُرَّنَّکَ تَقَلُّبُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِی الۡبِلَادِ ﴿ ﴾ؕ مَتَاعٌ قَلِیۡلٌ ۟ ثُمَّ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ
﴿ ﴾
Janganlah
sekali-kali engkau terpedaya oleh lalu-lalang
orang-orang kafir di dalam negeri.
Itu adalah sedikit kesenangan sementara kemudian tempat
kediaman mereka adalah Jahannam, dan Jahanam itu tempat yang seburuk-buruknya (Āli ‘Imran [3]:197-198).
Ayat ini -- di samping mempunyai hubungan
dengan zaman Nabi Besar Muhammad saw. --
juga kena benar kepada kemajuan
secara kebendaan yang menakjubkan di tengah bangsa-bangsa Kristen dalam segala
bidang kehidupan duniawi di Akhir Zaman ini.
Ayat
ini pun memperingatkan kaum Muslimin agar jangan tertipu atau terpukau oleh kesilauan kemajuan
sementara dan fana ini. Sebab kesejahteraan
bangsa-bangsa Kristen itu hanya untuk sementara
saja, sebagaimana dinubuatkan dalam
kata dhāllīn dalam surah Al-Fatihah ayat 7 -- yang selain “sesat” juga artinya “akan
hilang/binasa” -- dan ayat: ثُمَّ
مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ
بِئۡسَ الۡمِہَادُ -- “kemudian
tempat kediaman mereka adalah Jahannam,
dan Jahanam itu tempat yang
seburuk-buruknya” mengisyaratkan
kepada hukuman mengerikan yang
tersedia bagi mereka dan yang kini sungguh-sungguh telah mulai menimpa mereka.
Buktinya adalah Perang Dunia I dan Perang Dunia II, dan Perang Dunia III atau Perang Nuklir pun – Insya
Allah -- akan terjadi secara tiba-tiba
pula.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai akhir
kehidupan yang baik bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.62:3-5) -- termasuk orang-orang beriman yang berasal
dari golongan Ahli Kitab -- firman-Nya:
لٰکِنِ الَّذِیۡنَ
اتَّقَوۡا رَبَّہُمۡ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا نُزُلًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ مَا عِنۡدَ اللّٰہِ
خَیۡرٌ لِّلۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ وَ اِنَّ مِنۡ اَہۡلِ
الۡکِتٰبِ لَمَنۡ یُّؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ وَ
مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِمۡ خٰشِعِیۡنَ لِلّٰہِ ۙ لَا
یَشۡتَرُوۡنَ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ ثَمَنًا قَلِیۡلًا ؕ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ
صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya (Tuhan-nya), bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, suatu hidangan
dari sisi Allah, dan apa yang
ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang berbuat kebajikan.
وَ اِنَّ مِنۡ اَہۡلِ
الۡکِتٰبِ لَمَنۡ یُّؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ وَ
مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِمۡ ِ -- Dan sesungguhnya di
antara Ahlul Kitab benar-benar ada
yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan kepada
apa yang diturunkan kepada mereka, خٰشِعِیۡنَ لِلّٰہِ -- mereka berendah hati di hadapan Allah, لَا یَشۡتَرُوۡنَ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ ثَمَنًا
قَلِیۡلًا ؕ -- mereka
tidak menjual Ayat-ayat Allah dengan
harga murah. اُولٰٓئِکَ
لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ -- Mereka
inilah yang baginya ada ganjarannya di
sisi Rabb (Tuhan) mereka. اِنَّ
اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟ -- Wahai orang-orang yang ber-iman bersabarlah, dan tingkatkanlah
kesabaran serta bersiap-siagalah di perbatasan
وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ -- dan bertakwalah
kepada Allah supaya kamu berhasil.
(Āli
‘Imran [3]:199-201).
Berbagai Makna Nuzul
Makna nuzul
dalam ayat: لٰکِنِ
الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا رَبَّہُمۡ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا
الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا -- “Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya (Tuhan-nya), bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, نُزُلًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰ -- suatu hidangan dari sisi Allah,” nuzul
itu ism masdar dari nazala, yang berarti: ia turun; ia tinggal atau
menetap di satu tempat; mengandung arti (1) tempat tamu-tamu menginap (2) makanan
yang disediakan untuk tamu-tamu (Lexicon
Lane). Jadi ayat نُزُلًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ
terjemahannya “suatu hidangan dari
sisi Allah.“
Jadi, penggunaan kata nuzul
dalam Al-Quran erat kaitannya dengan
sesuatu yang sangat penting serta berharga serta mulia (terhormat) -- bukan hanya berarti “turun dari atas ke bawah” -- contohnya Allah Swt. menggunakan kata nuzul untuk pakaian
dan besi dan lain-lain (QS.7:27;
QS.57:26), padahal semua orang mengetahui bahwa
benda-benda tersebut berasal dari dunia ini.
Dengan
demikian jelaslah bahwa makna rafa’a (QS.3:56) dan nuzul berkenaan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. pun sama sekali tidak ada hubungan dengan tempat (atas dan bawah) melainkan
dengan martabat, yakni para pemuka Yahudi melalui upaya pembunuhan
di tiang salib berusaha menjatuhkan kemuliaan martabat beliau
sebagai rasul Allah yang benar
menjadi “manusia terkutuk” (Ulangan
21:23), tetapi Allah Swt. -- melalui keadaan “mati
suri” (pingsan berat - – Matius 27:45-50) pada peristiwa penyaliban selama 3 jam yang
mengerikan tersebut (Yahya 19:14) -- telah menghindarkan
beliau dari kehinaan yang diupayakan oleh para pemuka agama Yahudi
tersebut (QS.4:158-159).
Itulah
sebabnya mengenai upaya pembunuhan yang dirancang
secara terencana yang dilakukan para penentang terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi
Besar Muhammad saw.. -- bahkan terhadap para rasul Allah lainnya -- Allah Swt. telah menyebutnya makar,
dalam “duel makar” tersebut
senantiasa dimenangkan Allah Swt. (QS.3:53-55; QS.8:31; QS.14:47-48;
QS.27:51-52).
Kata-kata اِنَّ
اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ – “sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab” (Āli ‘Imran [3]:200), bila
dipakai bertalian dengan orang-orang
kafir berarti bahwa Allah Swt. itu cepat
meminta pertanggung-jawaban dan memberikan hukuman;
tetapi bila dipakai mengenai orang-orang beriman kata-kata itu
berarti bahwa Allah Swt. itu cepat
mengadakan perhitungan dan menganugerahkan
ganjaran.
Lima Resep Meraih Kesuksesan & Tipu-daya
Syaitan Kepada Adam dan “Istrinya”
Dalam menghadapi bangkitnya
Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) dan merajalelanya fitnah
Dajjal yang berhasil meraih kekuasaan dan kekayaan duniawi tersebut selanjutnya Allah Swt. memberi petunjuk
kepada orang-orang yang beriman:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟ وَ اتَّقُوا
اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Wahai
orang-orang yang beriman اصۡبِرُوۡا -- bersabarlah,
وَ صَابِرُوۡا -- dan tingkatkanlah kesabaran وَ رَابِطُوۡا -- serta bersiap-siagalah di
perbatasan وَ اتَّقُوا اللّٰہَ
لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ -- dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berhasil. (Āli
‘Imran [3]:201).
Rābithū
berarti: “gigih dalam perlawanan musuh kamu” atau “ikatlah kuda kamu dalam keadaan siap-siaga di tapal batas”; atau “lazimkanlah
dirimu tekun dan rajin dalam menjalankan kewajiban terhadap agama kamu”; atau “jagalah
waktu shalat” (Lexicon Lane).
Kelima
syarat untuk meraih kemenangan yang disebut dalam ayat itersebut adalah bahwa orang-orang yang beriman harus:
(1)
memperlihatkan
kesabaran dan kegigihan;
(2)
memperlihatkan
kesabaran dan keteguhan hati lebih besar daripada musuh;
(3)
melazimkan
diri dengan senantiasa tekun dan rajin dalam mengkhidmati agama dan masyarakat;
(4)
senantiasa berjaga-jaga dengan waspada di perbatasan
untuk tujuan pertahanan dan serangan;
(5)
menempuh kehidupan yang shalih.
Ribāth berarti pula hati manusia. Jadi makna lain kata وَ
رَابِطُوۡا
yaitu orang-orang beriman diperintahkan untuk senantiasa berada dalam
keadaan siap-siaga dan berjaga-jaga untuk memerangi musuh-musuh dari
dalam dan dari luar, antara lain dengan memohon
perlindungan Allah Swt. sebagaimana dikemukakan dalam surah Al-Falaq dan surah An-Nās, agar selamat dari ancaman Iblis mau pun tipuan syaitan yang terjadi pada kisah monumental “Adam – Malaikat –
Iblis”, sebagaimana dikemukakan dalam firman
Allah Swt. sebelum ini:
وَ یٰۤاٰدَمُ
اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ فَکُلَا مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَ
لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ
فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ
عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ
الشَّجَرَۃِ اِلَّاۤ اَنۡ تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ
قَاسَمَہُمَاۤ اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ
النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ﴾ فَدَلّٰىہُمَا
بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ
طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا
رَبُّہُمَاۤ اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ
تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ وَ اَقُلۡ
لَّکُمَاۤ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا
عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
“Dan hai Adam, tinggallah engkau
dan istri engkau di dalam kebun ini, lalu makanlah dan minumlah dari mana saja kamu berdua sukai, tetapi
janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,
karena kamu berdua akan termasuk orang-orang
yang zalim.” فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ
لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا -- Lalu syaitan
membisikkan nasihat jahat kepada
keduanya itu supaya ia dapat
menampakkan kepada keduanya itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat mereka وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ
الشَّجَرَۃِ اِلَّاۤ اَنۡ تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ الۡخٰلِدِیۡنَ -- dan ia berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali tidak melarang kamu berdua dari pohon ini
melainkan agar kamu berdua jangan
menjadi malaikat atau menjadi di
antara orang-orang yang hidup kekal.” وَ قَاسَمَہُمَاۤ اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ -- Dan ia
bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang
yang mem-beri nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” فَدَلّٰىہُمَا
بِغُرُوۡرٍ -- Lalu ia, syaitan, membujuk
kedua mereka itu dengan tipu-daya,
فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ
لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ -- maka tatkala
keduanya merasai buah pohon itu tampaklah kepada keduanya aurat mereka berdua dan mulailah keduanya menutupi diri
mereka dengan daun-daun kebun itu. وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ
اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ -- Dan keduanya diseru oleh Rabb (Tuhan) mereka: “Bukankah
Aku telah melarang kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah
katakan kepada kamu berdua bahwa sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al-A’rāf [7]:20-23).
Letak “Jannah”
Tempat Tinggal Adam dan “istrinya” Berada Di Dunia & Ungkapan Kiasan “Pohon
Terlarang”
Makna
ayat: وَ یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ فَکُلَا
مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا -- “Dan hai Adam, tinggallah engkau
dan istri engkau di dalam kebun ini, lalu makanlah dan minumlah dari mana saja kamu berdua sukai”
mengisyaratkan bahwa tempat kediaman
Nabi Adam a.s. dan istrinya -- yakni para pengikutnya -- merupakan
suatu wilayah subur di dunia ini --yakni wilayah Mesopotamia di Timur Tengah -- yang
dalam ayat tersebut dinamakan “jannah”
(kebun).
Karena tempat ketika Nabi Adam
a.s. dan para pengikutnya disuruh tinggal di dunia ini -- yakni wilayah Mesopotamia -- digambarkan
secara tamsil dalam Al-Quran sebagai
“jannah” (kebun), karena itu dalam gambaran berikutnya tamsil itu dilanjutkan, yakni Adam a.s. digambarkan sebagai dilarang mendekati “pohon”
tertentu yang bukan pohon dalam arti
kata harfiah dan fisik, melainkan suatu keluarga
atau suku tertentu yang hidup sezaman dengan Nabi Adam a.s.,
serta merasa sangat dirugikan
dengan kehadiran Nabi Adam a.s. sebagai “Khalifah
Allah” sebagaimana “prediksi” para malaikat
(QS.2:31), firman-Nya وَ لَا
تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا
مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ -- “tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,
karena kamu berdua akan termasuk orang-orang
yang zalim.”
Makna larangan Allah Swt. kepada Adam
a.s. dan istrinya (pengikutnya) dalam ayat tersebut supaya
menjauhi keluarga atau suku itu, sebab anggota-anggota keluarga atau suku
tersebut adalah musuh beliau dan
mereka itu niscaya tidak akan
menyia-nyiakan kesempatan untuk mencelakakan
beliau dan istri (pengikut) beliau atau jama’ah
beliau.
Perhatikan kewaswasan yakni bisikan jahat yang ditimbulkan oleh syaitan berupa “sesuatu yang menjadi dambaan manusia”
yang diperkuat dengan “sumpah palsu”
syaitan, Dia berfirman: وَ قَالَ مَا
نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ
-- dan ia berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua
sekali-kali tidak melarang kamu berdua dari pohon ini اِلَّاۤ اَنۡ
تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ
الۡخٰلِدِیۡنَ -- melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau
menjadi di antara orang-orang yang hidup
kekal.” وَ
قَاسَمَہُمَاۤ اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ
النّٰصِحِیۡنَ -- Dan ia bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat yang
tulus bagi kamu berdua.” (Al-A’raf
[7]:21-22).
Dari Bible diketahui bahwa cara syaitan
melakukan “tipu-daya” tersebut tidak langsung
terhadap Adam, -- sebab Allah Swt. telah menjamin bahwa
beliau pasti tidak akan tertipu karena
sebagai rasul Allah beliau tentu sudah mengalami kebangkitan ruhani yang mapan (QS.15:37; QS.38:80) -- melainkan melalui “istrinya” atau para pengikutnya, sehingga timbul suasana “perselisihan” antara yang menolak
“bujuk-rayu” (godaan) syaitan
dengan yang “setuju”. Dalam bahasa
Arab “perselisihan” (pertentangan) disebut “syajara” (QS.4:66) sama
dengan syajarah (pohon).
Upaya Syaitan
Menimbulkan Ketidak-taatan dan Perpecahan
di Kalangan Pengikut Nabi Adam a.s.
Sehubungan dengan hal tersebut
selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ
-- Lalu ia, syaitan, membujuk
kedua mereka itu dengan tipu-daya,
فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ
لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا -- maka
tatkala keduanya merasai buah pohon itu tampaklah kepada keduanya aurat mereka berdua وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ -- dan mulailah
keduanya menutupi diri mereka dengan
daun-daun kebun itu.” (Al-A’rāf [7]:23).
Nabi Adam a.s. dan Istrinya
atau jemaatnya menyadari bahwa dengan
mengikuti ajakan buruk syaitan itu mereka telah membuat kesalahan besar dan telah menjerumuskan diri mereka ke dalam keadaan yang amat sulit. Dengan demikian
makna ayat فَبَدَتۡ لَہُمَا
سَوۡاٰتُہُمَا -- “lalu tampaklah
bagi mereka berdua kelemahan-kelemahan mereka” tidak berarti
bahwa kelemahan mereka telah
dimaklumi (diketahui) orang lain, tetapi yang dimaksudkan hanyalah bahwa Adam
a.s. dan istrinya (jamaahnya) menjadi sadar
akan kelemahan mereka itu yang sebelumnya tidak mereka ketahui (sadari).
Makna ayat selanjutnya: وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ
عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ
-- “dan keduanya menutupi tubuh mereka dengan daun-daun surga.
وَ عَصٰۤی اٰدَمُ رَبَّہٗ
فَغَوٰی -- ”Dan Adam
telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya)
maka ia menderita.“ Karena waraq
berarti pula tunas-tunas muda suatu jemaat (Lexicon Lane), maka ayat ini bermaksud mengemukakan bahwa karena syaitan telah berhasil mendatangkan perpecahan di tengah-tengah Jemaat
Nabi Adam a.s., dan beberapa anggota
yang lemah wataknya telah keluar
dari lingkungannya, maka Nabi Adam a.s. menghimpun
para pemuda dan anggota-anggota jemaat beliau lainnya yang baik serta shalih dan dengan bantuan mereka beliau menertibkan lagi kaumnya.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa perbuatan melanggar perintah dari pihak Adam a.s. itu tidak disengaja dan telah terjadi secara kebetulan, sebab pelanggaran
yang disengaja tidak mungkin
mengakibatkan beliau malah memperoleh kehormatan besar dengan dipilih Allah Swt. untuk menerima karunia-Nya yang istimewa: ثُمَّ
اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ فَتَابَ
عَلَیۡہِ وَ ہَدٰی – “Kemudian Rabb-nya (Tuhan-nya) memilihnya
maka Dia menerima taubatnya dan memberi
petunjuk” (Thā Hā [20]:123).
Bandingkan dengan kisah yang sama dalam Bible,
Kitab Kejadian 3:1-13 bahwa syaitan tidak langsung membujuk Nabi Adam a.s. melainkan melalui “istrinya” yakni anggota Jemaatnya, tetapi kemudian akibat
buruknya berimbas kepada Nabi Adam a.s. Sehubungan dengan hal tersebut dalam ayat Al-Quran dipergunakan
dalam artian “aurat” atau “kelemahan”, sebab dalam makna harfiah tidak ada aurat manusia yang tersembunyi darinya.
Jadi makna ayat tersebut bahwa beberapa
kelemahan Adam a.s. dan jemaat beliau yang sebelumnya sungguh tersembunyi dari beliau, tetapi beliau baru menyadari hal itu ketika musuh-musuh
beliau
berhasil membujuk
beliau keluar dari kedudukan beliau yang aman, yaitu ketika syaitan
berhasil menimbulkan perselisihan pendapat dan ketidak-taatan
di kalangan jemaat beliau.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar,20 Juni
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar