Selasa, 07 Juni 2016

Agama yang Diwahyukan Allah Swt. Disebut "Shibghatullaah" (Celupan Allah) dan Hubungannya Dengan Sebutan "Umat Terbaik" Terhadap Umat Islam di Zaman Nabi Besar Muhammad Saw.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


   AGAMA YANG DIWAHYUKAN ALLAH SWT. DISEBUT “SHIBGHATULLĀH” (CELUPAN ALLAH)  DAN HUBUNGANNYA DENGAN SEBUTAN   “UMAT TERBAIK” TERHADAP UMAT ISLAM DI MASA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.


Bab 62

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  kelebihan Adam   yang telah mendapat pengajaran langsung dari Allah Swt. mengenai  Al-Asmā-Nya sebagaimana yang  dikemukakan  firman Allah Swt. berikut ini, sehingga  membuat para malaikat benar-benar mengerti   pentingnya keberadaan seorang Khalifah Allah (rasul Allah) -- yaitu dalam upaya menciptakan “langit baru dan bumi baru” guna menggantikan “tatanan yang lama” (QS.14:49-53)  -- firman-Nya:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿ ﴾ قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿ ﴾ قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿ ﴾  
Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya  kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.”  قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ --   Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak  memiliki  pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ  --  Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  -- Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi   وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ --  dan mengetahui apa pun yang kamu nya-takan dan apa pun yang    kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:32-34).
      Kata  “semuanya” dalam ayat: وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ   -- ” Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya  kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat,”  kata kullahā itu   tidak meliputi keseluruhan secara mutlak. Kata itu hanya berarti  semua yang perlu pada masa itu.  Al-Quran memakai kata “semua”   dalam arti ini juga di tempat lain (QS.6:45; QS.27:17, 24; QS.28:58).
     Asmā itu jamak dari ism yang berarti: nama atau sifat; ciri atau tanda sesuatu (Lexicon Lane dan Mufradat). Para ahli tafsir berbeda paham mengenai apa yang dimaksudkan dengan kata asmā (nama-nama) di sini. Sebagian menyangka bahwa Allah Swt.  mengajar Adam a.s.   nama berbagai barang dan benda, yaitu Dia  mengajar beliau dasar-dasar bahasa.

Makna Lain “Khalifah” (Wakil) Allah  & “Shibghat Allah” (Agama Allah)

     Tidak diragukan bahwa orang memerlukan bahasa untuk menjadi beradab, dan Allah Swt.   tentu telah mengajari Adam a.s. dasar-dasarnya, tetapi Al-Quran menunjukkan bahwa ada asmā (nama atau sifat) Allah Swt. yang harus dipelajari manusia untuk penyempurnaan akhlaknya, sebagai tujuan utama dari pelaksanaan ibadah kepada Allah Swt. (QS.51:57).
     Nama-nama (al-Asmā)   tersebut  disinggung dalam QS.7:181. Ini menunjukkan bahwa orang tidak dapat meraih makrifat Ilahi tanpa tanggapan dan pengertian yang tepat mengenai Sifat-sifat  serta kekuasaan-kekuasaan Allah Swt.  dan bahwa sifat-sifat-Nya itu hanya dapat diajarkan oleh Dia Sendiri, karena itu sangat perlu bahwa Allah Swt.  mula-mula memberi Adam (manusia) ilmu (pengetahuan) tentang Sifat-sifat-Nya supaya ia mengetahui dan mengenal-Nya  serta  mencapai kedekatan kepada-Nya  dan jangan melantur jauh dari Dia, sebab tanpa memiliki makrifat Ilahi yang hakiki  mustahil manusia dapat disebut “khalifah Allah”, karena antara “wakil” yang Dzat yang diwakilinya – yakni Allah Swt.   – harus ada keserupaan dalam Sifat-sifat-Nya. Itulah sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran menyebut  syariat (agama) dengan istilah  shibghatullāh, firman-Nya:
صِبۡغَۃَ اللّٰہِ ۚ وَ مَنۡ اَحۡسَنُ مِنَ اللّٰہِ صِبۡغَۃً  ۫ وَّ نَحۡنُ لَہٗ عٰبِدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Kami menganut agama  Allah, dan siapakah yang lebih baik daripada Allah dalam mengajarkan agama, dan kepada-Nya kami beribadah.” (Al-Baqarah [2]:139).
     Shibghah berarti: celup atau warna; macam atau ragam atau sifat sesuatu; agama; peraturan hukum; pembaptisan. Jadi  shibghatallāh berarti: agama Allah; sifat yang dianugerahkan Allah Swt.  kepada manusia (Aqrab-ul-Mawarid). Agama itu disebut demikian karena agama mewarnai manusia seperti celup atau warna mewarnai sesuatu.
     Shibghah dipakai di sini sebagai pelengkap kata kerja yang mahzuf (tidak disebut karena telah diketahui). Menurut tata bahasa Arab, kadang-kadang bila ada satu kehendak keras untuk membujuk seseorang melakukan sesuatu pekerjaan tertentu, maka kata kerjanya ditinggalkan dan hanya tujuannya saja yang disebut.
       Jadi kata-kata seperti na’khudzu (kami telah mengambil) atau nattabi’u (kami telah mengikuti) dapat dianggap sudah diketahui dan anak kalimat  صِبۡغَۃَ اللّٰہِ  itu akan berarti: “kami telah menerima atau kami telah menganut agama sebagaimana Allah menghendaki supaya kami menerima atau mengikutinya.”

Umat yang Terbaik” Bagi Manfaat Umat Manusia

     Kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) – sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS/33:22)  -- benar-benar merupakan shibghatullāh  karena telah “mewarnai” bangsa Arab Jahiliyah dengan warna Sifat-sifat sempurna  Allah Swt. sebagaimana yang amalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., sehingga mereka menjadi “umat terbaik” yang dijadikan untuk manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab serta Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata (Al-Jumu’ah [62]:3).
Firman-Nya lagi:
وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ  اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً  اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan demikianlah  Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia supaya kamu senantiasa menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga  kamu. Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan  kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang ber-paling di atas kedua tumitnya.  Dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan iman kamu, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia. (Al-Baqarah [2]:144).
     Dalam surah lain Allah Swt. berfirman mengenai salah satu ciri mengapa umat Islam disebut “umat terbaik”:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ ؕ وَ لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ  الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia,  kamu menyuruh berbuat makruf, dan melarang dari berbuat munkar,  dan beriman kepada Allah. وَ لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ  الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ -- Dan seandainya Ahlul Kitab beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka. مِنۡہُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ  --  Di antara mereka ada yang beriman tetapi kebanyakan mereka orang-orang fasik. (Āli ‘Imran [3]:111).
      Ayat ini bukan saja mencanangkan bahwa kaum Muslimin itu kaum  yang terbaik — sungguh suatu proklamasi besar — melainkan menyebutkan pula sebab-sebabnya:
(1)   Mereka telah dibangkitkan untuk kepentingan umat manusia seluruhnya;
(2) telah menjadi kewajiban mereka menganjurkan berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan serta beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kemuliaan kaum Muslimin bergantung pada dan ditentukan oleh kedua syarat tersebut, sebab    Nabi Besar Muhammad saw. adalah rasul Allah yang diutus Allah Swt. sebagai “rahmat bagi seluruh alam”, firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiyā [21]:108).
      Nabi Besar Muhammad saw.  adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat atau risalah beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu. Dengan perantaraan beliau saw. bangsa-bangsa dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu.

Khalifah Allah Penting Memiliki Makrifat Ilahi yang Hakiki

       Jadi, kembali kepada kisah monumental “Adam – malaikat -  iblis” dalam  surah Al-Baqarah [2]:32-35, menurut Al-Quran, manusia berbeda dari malaikat dalam hal bahwa  manusia dapat menjadi bayangan atau pantulan  atau “khalifah” dari al-Asmā ul-husnā yaitu semua Sifat Allah Swt. yang sempurna  (QS.33:22) - terutama sekali Nabi Besar Muhammad saw., Khalifah Allah yang hakiki  (QS.33:22)  --  sedang para malaikat hanya sedikit saja mencerminkan sifat-sifat itu.
      Para malaikat tidak memiliki kehendak sendiri,  mereka secara pasif menjalankan tugas yang telah diserahkan kepada mereka oleh Allah Yang Maha Kuasa (QS.66:7). Sebaliknya, manusia yang dianugerahi kemauan dan kebebasan memilih, berbeda dengan para malaikat dalam hal bahwa manusia mempunyai kemampuan yang menjadikan dia penjelmaan sempurna semua Sifat Ilahi.  Itulah makna lain jawaban Allah Swt. terhadap “keberatan” para malaikat: قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ   -- “Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”           
      Pendek kata, Al-Baqarah ayat 31-35  menunjukkan bahwa  Allah Swt.  mula-mula menanamkan pada Adam a.s. – yakni Khalifah Allah (Rasul Allah)   -- kemauan yang bebas dan kemampuan yang diperlukan untuk memahami berbagai Sifat Ilahi (QS.3:180; QS.72:27-29) dan kemudian memberikan ilmu (pengetahuan) mengenai Sifat-sifat-Nya itu kepadanya.
     Asmā dapat berarti pula sifat-sifat berbagai benda alam. Karena manusia harus mempergunakan kekuatan-kekuatan alam maka Allah Swt.   menganugerahkan kepadanya kemampuan dan kekuasaan untuk mengetahui sifat-sifat dan khasiat-khasiatnya (QS.15:20-22; QS.40:14; QS.18:110; QS.31:28).
      Kata pengganti hum (mereka) dalam ayat:  فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  --  lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar,”   menunjukkan bahwa apa-apa yang disebut di sini bukan benda-benda tidak-bernyawa, sebab dalam bahasa Arab kata pengganti dalam bentuk ini (hum)   hanya dipakai untuk wujud-wujud berakal saja.
      Jadi arti ungkapan itu akan berarti bahwa Allah Swt.  menganugerahkan kepada para malaikat kemampuan melihat siapa yang menonjol ketakwaannya dari antara keturunan Adam a.s atau di kalangan Bani Adam   kelak yang akan menjadi penjelmaan Sifat-sifat Ilahi terutama para Rasul Allah (QS.7:35-37).
      Kemudian para malaikat ditanya Allah Swt. apakah mereka sendiri dapat menjelmakan Sifat-sifat Ilahi seperti mereka yang akan muncul  di berbagai zaman dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37),   itulah yang dimaksud dengan  makna kalimat “beritahukanlah kepada-Ku” dalam firman-Nya:  فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  --  lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar”  (QS.2:32).
       Atas pertanyaan Allah Swt. tersebut itu mereka menyatakan ketidakmampuan, karena para malaikat menyadari batas-batas pembawaan alami mereka, dan mereka mengakui dengan terus-terang bahwa mereka tidak mampu mencerminkan (memperagakan) semua Sifat Allah  Swt.  seperti dicerminkan (diperagakan) oleh manusia   dalam hal ini Adam yakni Khalifah Allah atau   Rasul Allah.
      Jadi, para malaikat  hanya dapat mencerminkan Sifat-sifat Ilahi yang untuk itu Allah Swt., sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang kekal-abadi, telah menganugerahkan kepada para malaikat   kekuatan mencerminkan (memperagakannya): قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ --   “mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak  memiliki  pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ  -- sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Al-Baqarah [2]:33).
      Ketika para malaikat mengakui ketidakmampuan mereka untuk menjelmakan dalam diri mereka sendiri semua Sifat Ilahi yang dapat diperagakan Adam a.s., maka Adam a.s. dengan patuh kepada kehendak Ilahi menjelmakan berbagai kemampuan tabi’i (alami) yang telah tertanam dalam dirinya dan menampakkannya kepada para malaikat  akhlak dan ruhani atau makrifat Ilahi  mereka yang luas,  Allah Swt. berfirman:  یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ  --   “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  -- Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi   وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ --  dan mengetahui apa pun yang kamu nyatakan dan apa pun yang    kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:32-34).

Pembukaan Rahasia Gaib Allah Swt. Kepada   Rasul Allah

 Jadi, diciptakan-Nya Adam – sebagai Khalifah Allah atau Rasul Allah   -- membuktikan perlunya penciptaan suatu wujud yang mendapat kemampuan dari Allah Swt.  untuk berkehendak,  sehingga ia dapat dengan kehendak sendiri memilih jalan kebaikan  dan karena itu dapat menampakkan (memperagakan) kemuliaan serta keagungan Ilahi, firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾  
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,  supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
  Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting,  termasuk  mengenai rahasia-rahasia baru  Al-Asmā (nama-nama/sifat-sifat) Allah Swt.  
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah  dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa  lainnya.
  Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa  kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang  bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
 Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul  Allah   -- karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi --  keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 5 Juni    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar