Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
AGAMA
YANG DIWAHYUKAN ALLAH SWT. DISEBUT “SHIBGHATULLĀH” (CELUPAN ALLAH) DAN HUBUNGANNYA DENGAN SEBUTAN “UMAT
TERBAIK” TERHADAP UMAT ISLAM DI
MASA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bab 62
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan kelebihan Adam yang telah mendapat pengajaran langsung dari Allah Swt.
mengenai Al-Asmā-Nya sebagaimana yang dikemukakan
firman Allah Swt. berikut ini, sehingga membuat para malaikat benar-benar mengerti
pentingnya keberadaan seorang Khalifah Allah (rasul Allah) -- yaitu
dalam upaya menciptakan “langit baru
dan bumi baru” guna menggantikan “tatanan yang lama” (QS.14:49-53) -- firman-Nya:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ
کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ
بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿ ﴾
قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا
عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿ ﴾
قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ
اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ
اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ
غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ
تَکۡتُمُوۡنَ ﴿ ﴾
Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama itu semuanya
kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat فَقَالَ
اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka
ini jika kamu memang benar.” قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا
عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ -- Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami
tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” قَالَ یٰۤاٰدَمُ
اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ
-- Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka
tatkala diberitahukannya kepada
mereka nama-nama mereka itu, قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ
لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ
اَعۡلَمُ
غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا
کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ -- dan mengetahui
apa pun yang kamu nya-takan dan apa
pun yang kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah
[2]:32-34).
Kata “semuanya” dalam ayat: وَ عَلَّمَ اٰدَمَ
الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ -- ” Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama itu semuanya
kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat,” kata kullahā
itu tidak meliputi keseluruhan secara mutlak. Kata itu hanya berarti semua
yang perlu pada masa itu. Al-Quran
memakai kata “semua” dalam
arti ini juga di tempat lain (QS.6:45; QS.27:17, 24; QS.28:58).
Asmā
itu jamak dari ism yang berarti: nama
atau sifat; ciri atau tanda sesuatu (Lexicon Lane dan Mufradat). Para ahli tafsir
berbeda paham mengenai apa yang dimaksudkan dengan kata asmā (nama-nama)
di sini. Sebagian menyangka bahwa Allah Swt. mengajar
Adam a.s. nama berbagai barang dan benda, yaitu Dia
mengajar beliau dasar-dasar bahasa.
Makna Lain “Khalifah”
(Wakil) Allah & “Shibghat Allah” (Agama Allah)
Tidak diragukan bahwa orang memerlukan bahasa untuk menjadi beradab, dan Allah Swt. tentu telah mengajari Adam a.s. dasar-dasarnya,
tetapi Al-Quran menunjukkan bahwa ada asmā (nama atau sifat) Allah Swt. yang harus dipelajari manusia untuk penyempurnaan akhlaknya, sebagai tujuan utama dari pelaksanaan ibadah kepada Allah Swt. (QS.51:57).
Nama-nama (al-Asmā) tersebut disinggung dalam QS.7:181. Ini menunjukkan
bahwa orang tidak dapat meraih makrifat Ilahi tanpa tanggapan dan pengertian
yang tepat mengenai Sifat-sifat serta kekuasaan-kekuasaan
Allah Swt. dan bahwa sifat-sifat-Nya
itu hanya dapat diajarkan oleh
Dia Sendiri, karena itu sangat perlu
bahwa Allah Swt. mula-mula memberi Adam (manusia) ilmu (pengetahuan) tentang Sifat-sifat-Nya supaya ia mengetahui dan mengenal-Nya serta mencapai kedekatan
kepada-Nya dan jangan melantur jauh dari Dia, sebab tanpa
memiliki makrifat Ilahi yang hakiki mustahil manusia
dapat disebut “khalifah Allah”,
karena antara “wakil” yang Dzat yang diwakilinya – yakni Allah Swt. – harus ada keserupaan dalam Sifat-sifat-Nya.
Itulah sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran menyebut syariat
(agama) dengan istilah shibghatullāh, firman-Nya:
صِبۡغَۃَ اللّٰہِ ۚ وَ
مَنۡ اَحۡسَنُ مِنَ اللّٰہِ صِبۡغَۃً ۫ وَّ نَحۡنُ لَہٗ عٰبِدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Kami menganut agama Allah, dan siapakah yang lebih baik daripada Allah dalam mengajarkan
agama, dan kepada-Nya kami beribadah.”
(Al-Baqarah
[2]:139).
Shibghah berarti: celup atau warna; macam atau ragam atau sifat sesuatu; agama;
peraturan hukum; pembaptisan. Jadi shibghatallāh
berarti: agama Allah; sifat yang dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia (Aqrab-ul-Mawarid).
Agama itu disebut demikian karena agama mewarnai manusia seperti celup atau warna mewarnai sesuatu.
Shibghah dipakai di sini sebagai
pelengkap kata kerja yang mahzuf (tidak disebut karena telah diketahui).
Menurut tata bahasa Arab, kadang-kadang bila ada satu kehendak keras untuk
membujuk seseorang melakukan sesuatu pekerjaan tertentu, maka kata kerjanya ditinggalkan dan hanya tujuannya saja yang disebut.
Jadi kata-kata seperti na’khudzu (kami
telah mengambil) atau nattabi’u (kami telah mengikuti) dapat dianggap
sudah diketahui dan anak kalimat صِبۡغَۃَ
اللّٰہِ itu
akan berarti: “kami telah menerima atau
kami telah menganut agama
sebagaimana Allah menghendaki supaya
kami menerima atau mengikutinya.”
“Umat yang Terbaik” Bagi
Manfaat Umat Manusia
Kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) – sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS/33:22) -- benar-benar merupakan shibghatullāh karena telah
“mewarnai” bangsa Arab Jahiliyah
dengan warna Sifat-sifat sempurna Allah Swt. sebagaimana yang amalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., sehingga mereka menjadi “umat terbaik” yang dijadikan untuk manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ فِی
الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا
مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada mereka
Kitab serta Hikmah walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata (Al-Jumu’ah [62]:3).
Firman-Nya lagi:
وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً
وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ
عَلَیۡہَاۤ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ
الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ
لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ
ہَدَی اللّٰہُ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan
demikianlah Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia
supaya kamu senantiasa menjadi
penjaga manusia dan supaya Rasul itu
senantiasa menjadi penjaga kamu. Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat
melainkan supaya Kami mengetahui orang
yang mengikuti Rasul dari orang yang
ber-paling di atas kedua tumitnya. Dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah
menyia-nyiakan iman kamu, sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Pengasih, Maha
Penyayang terhadap manusia. (Al-Baqarah [2]:144).
Dalam surah lain Allah Swt. berfirman
mengenai salah satu ciri mengapa umat Islam disebut “umat terbaik”:
کُنۡتُمۡ
خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ
وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ
وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ ؕ وَ
لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا
لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ
الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia, kamu menyuruh berbuat makruf, dan melarang
dari berbuat munkar, dan beriman kepada Allah. وَ لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ
الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ -- Dan seandainya
Ahlul Kitab beriman, niscaya akan
lebih baik bagi mereka. مِنۡہُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ -- Di antara mereka ada yang beriman tetapi
kebanyakan mereka orang-orang fasik.
(Āli
‘Imran [3]:111).
Ayat ini bukan saja
mencanangkan bahwa kaum Muslimin itu kaum
yang terbaik — sungguh suatu proklamasi
besar — melainkan menyebutkan pula sebab-sebabnya:
(1) Mereka telah
dibangkitkan untuk kepentingan umat
manusia seluruhnya;
(2) telah
menjadi kewajiban mereka menganjurkan
berbuat kebaikan dan melarang berbuat
keburukan serta beriman kepada Tuhan
Yang Maha Esa.
Kemuliaan kaum Muslimin bergantung pada dan ditentukan oleh kedua syarat tersebut,
sebab Nabi Besar Muhammad saw. adalah rasul
Allah yang diutus Allah Swt. sebagai “rahmat
bagi seluruh alam”, firman-Nya:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan Kami sekali-kali tidak mengutus engkau
melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiyā [21]:108).
Nabi
Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat atau risalah beliau
saw. tidak terbatas kepada suatu negeri
atau kaum tertentu. Dengan
perantaraan beliau saw. bangsa-bangsa dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu.
Khalifah
Allah Penting Memiliki Makrifat
Ilahi yang Hakiki
Jadi, kembali kepada kisah monumental “Adam – malaikat -
iblis” dalam surah Al-Baqarah [2]:32-35, menurut Al-Quran, manusia berbeda dari malaikat dalam hal bahwa manusia
dapat menjadi bayangan atau pantulan atau “khalifah”
dari al-Asmā ul-husnā yaitu semua Sifat
Allah Swt. yang sempurna
(QS.33:22) - terutama sekali Nabi Besar Muhammad saw., Khalifah Allah yang hakiki (QS.33:22)
-- sedang para malaikat hanya sedikit saja mencerminkan
sifat-sifat itu.
Para malaikat
tidak memiliki kehendak sendiri, mereka secara pasif menjalankan tugas
yang telah diserahkan kepada mereka
oleh Allah Yang Maha Kuasa (QS.66:7).
Sebaliknya, manusia yang dianugerahi kemauan dan kebebasan memilih, berbeda dengan para malaikat dalam hal bahwa manusia
mempunyai kemampuan yang menjadikan dia penjelmaan sempurna semua Sifat Ilahi. Itulah makna lain jawaban Allah Swt. terhadap “keberatan”
para malaikat: قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ
-- “Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui.”
Pendek kata, Al-Baqarah ayat 31-35 menunjukkan
bahwa Allah Swt. mula-mula menanamkan pada Adam a.s.
– yakni Khalifah Allah (Rasul
Allah) -- kemauan yang bebas dan
kemampuan yang diperlukan untuk memahami
berbagai Sifat Ilahi (QS.3:180;
QS.72:27-29) dan kemudian memberikan ilmu
(pengetahuan) mengenai Sifat-sifat-Nya
itu kepadanya.
Asmā dapat berarti pula sifat-sifat berbagai benda alam. Karena manusia harus
mempergunakan kekuatan-kekuatan alam
maka Allah Swt. menganugerahkan
kepadanya kemampuan dan kekuasaan untuk mengetahui sifat-sifat dan khasiat-khasiatnya (QS.15:20-22; QS.40:14; QS.18:110; QS.31:28).
Kata
pengganti hum (mereka) dalam ayat:
فَقَالَ
اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka
ini jika kamu memang benar,” menunjukkan bahwa apa-apa yang disebut di sini bukan benda-benda tidak-bernyawa, sebab dalam bahasa Arab kata pengganti
dalam bentuk ini (hum) hanya dipakai untuk wujud-wujud berakal saja.
Jadi
arti ungkapan itu akan berarti bahwa Allah Swt. menganugerahkan kepada para malaikat kemampuan melihat siapa yang menonjol ketakwaannya dari antara keturunan Adam a.s atau di kalangan Bani Adam kelak yang akan menjadi penjelmaan Sifat-sifat Ilahi terutama para Rasul Allah (QS.7:35-37).
Kemudian para malaikat ditanya Allah
Swt. apakah mereka sendiri dapat
menjelmakan Sifat-sifat Ilahi seperti mereka yang akan muncul di berbagai zaman dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), itulah yang dimaksud dengan makna kalimat “beritahukanlah kepada-Ku” dalam firman-Nya: فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ
ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang benar” (QS.2:32).
Atas pertanyaan
Allah Swt. tersebut itu mereka menyatakan ketidakmampuan,
karena para malaikat menyadari batas-batas pembawaan alami mereka, dan mereka
mengakui dengan terus-terang bahwa
mereka tidak mampu mencerminkan (memperagakan)
semua Sifat Allah Swt. seperti dicerminkan (diperagakan) oleh manusia dalam
hal ini Adam yakni Khalifah Allah atau Rasul Allah.
Jadi, para malaikat hanya dapat
mencerminkan Sifat-sifat Ilahi yang
untuk itu Allah Swt., sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang kekal-abadi, telah menganugerahkan kepada para malaikat kekuatan mencerminkan
(memperagakannya): قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا
مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ -- “mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami
tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ -- sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Al-Baqarah [2]:33).
Ketika
para malaikat mengakui ketidakmampuan mereka untuk menjelmakan dalam diri mereka sendiri
semua Sifat Ilahi yang dapat
diperagakan Adam a.s., maka Adam a.s. dengan patuh kepada kehendak Ilahi
menjelmakan berbagai kemampuan tabi’i (alami) yang telah tertanam dalam dirinya dan menampakkannya kepada para malaikat akhlak
dan ruhani atau makrifat Ilahi mereka yang luas, Allah Swt. berfirman: یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ
بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ
-- “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka
nama-nama mereka itu”, maka tatkala
diberitahukannya kepada mereka nama-nama
mereka itu, قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ -- Dia
berfirman: “Bukankah telah Aku katakan
kepada kamu bahwa sesungguhnya
Aku mengetahui rahasia seluruh langit
dan bumi وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا
کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ -- dan mengetahui
apa pun yang kamu nyatakan dan apa
pun yang kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah
[2]:32-34).
Pembukaan Rahasia Gaib
Allah Swt. Kepada Rasul
Allah
Jadi, diciptakan-Nya Adam – sebagai Khalifah Allah
atau Rasul Allah -- membuktikan perlunya penciptaan suatu wujud
yang mendapat kemampuan dari Allah Swt.
untuk berkehendak, sehingga ia dapat dengan kehendak sendiri memilih jalan
kebaikan dan karena itu dapat menampakkan (memperagakan) kemuliaan serta keagungan Ilahi, firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada
Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya
Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia
gaib bertalian dengan dan mengenai
peristiwa dan kejadian yang
sangat penting, termasuk mengenai rahasia-rahasia
baru Al-Asmā
(nama-nama/sifat-sifat) Allah Swt.
Ayat ini merupakan ukuran
yang tiada tara bandingannya guna membedakan
antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada seorang rasul
Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya
pada kenyataan bahwa kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas
yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah
-- karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi -- keadaannya aman
dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa
lainnya tidak begitu terpelihara.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 5 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar