Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
HUBUNGAN PENENTANGAN IBLIS TERHADAP ADAM
(KHALIFAH ALLAH) DENGAN SURAH AL-FALAQ & EMPAT MACAM BAHAYA SAAT “MALAM KEGELAPAN RUHANI” YANG MENGANCAM TAUHID ILAHI ORANG-ORANG YANG BERIMAN
Bab 68
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan makna
ayat terakhir surah Al-Ikhlash: وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ – “dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya,” firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah
Allah Yang
Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Kemusyrikan di Kalangan
Golongan Ahli Kitab
Ayat وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ menghilangkan
suatu keraguan yang mungkin timbul
dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya, bahwa taruhlah bahwa
Allah itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada
wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti
Dia yang mungkin memiliki semua sifat
yang dimiliki oleh-Nya.
Ayat
ini menghapus kesalah-pahaman itu.
Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud
lain seperti Allah Swt.. Demikian
juga akal
manusia pun menuntut bahwa harus ada
hanya satu Pencipta dan Pengawas
seluruh alam raya. Tata kerja
sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak,
dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan Ke-Esa-an Wujud Sang Pencipta alam semesta, firman-Nya:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi ada
tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, maka Maha
Suci Allah Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala
yang mereka sifatkan. (Al-Anbiya [21]:23).
Benarlah firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.”
ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡ -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ -- Allah
membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka
dan rahib-rahib mereka sebagai
tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ --
padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa.
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Tidak
ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ -- tetapi Allah
menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya,
وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- walau pun orang-orang
kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq
(benar), supaya Dia mengunggulkannya
atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- walau pun orang-orang
musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-32).
Hubungan Pengulangan Penciptaan Khalifah
Allah Dengan Surah Al-Ikhlash
Dengan demikian Surah Al-Ikhlash
benar-benar mencabut akar-akar semua itikad
kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain mengenai kepercayaan
kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak, dan kepercayaan
bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan (Allah Swt.)
Inilah
penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan
dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan,
keluhuran, dan keagungan definisi mengenai “Tuhan
Yang Hakiki” yang diberikan oleh Al-Quran,
khususnya surah Al-Ikhlash.
Jadi, siapa
pun dan apa pun yang “dipertuhankan” dalam agama-agama selain Islam, yang tidak memenuhi “definisi Tuhan Yang Hakiki” dalam Surah Al-Ikhlash
maka bukanlah Al-Khāliq (Tuhan pencipta) melainkan makhluk (yang diciptakan),
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah
Yang Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Pada
hakikatnya Surah Al-Ikhlash seakan-akan merupakan penggambaran misi
utama pengutusan setiap Rasul Allah yaitu memurnikan
dan menegakkan kembali Tauhid Ilahi dari berbagai bentuk “kemusyrikan”, termasuk di Akhir
Zaman ini, seakan-akan merupakan pengulangan kembali Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ
نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman
kepada para malaikat: اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ
خَلِیۡفَۃً -- “Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah
di bumi”, قَالُوۡۤا
اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ
فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ -- mereka
berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan
di dalamnya yakni di bumi orang
yang akan membuat kerusakan di dalamnya
dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ
بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- padahal kami senantiasa bertasbih dengan
pujian Engkau dan kami
senantiasa mensucikan Engkau?”
قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia
berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah
[2]:31).
Nabi Besar Muhammad Saw. “Khalifah
Allah” yang Paling Sempurna & Hubungan Ketakaburan Iblis dengan Surah Al-Falaq
Berbeda dengan sikap para malaikat
yang mengakui keunggulan Adam
-- karena mendapat pengajaran langsung dari Allah Swt. – iblis bersikap takabur dan menolak “sujud”
kepada Adam bersama para malaikat, firman-Nya:
وَ اِذۡ
قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫
وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni
tunduk-patuhlah kamu kepada Adam” lalu mereka sujud kecuali iblis,
ia menolak dan takabur, dan ia
termasuk dari antara orang-orang yang
kafir (Al-Baqarah [2]:35).
Ketakaburan
iblis tersebut untuk yang kesekian kalinya terulang lagi di
zaman Nabi Besar Muhammad saw.— yang
merupakan Khalifah Allah yang paling sempurna -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا
مُّطَہَّرَۃً ۙ﴿﴾ فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ
الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾
وَ
مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ
لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ
یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا
الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ
-- orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik- tidak akan berhenti dari kekafiran
حَتّٰی
تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang kepada mereka
bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ
اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً -- seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci, فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ -- yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ
-- Dan orang-orang
yang diberi Kitab tidak
berpecah-belah kecuali setelah
datang kepada mereka bukti yang nyata. حُنَفَآءَ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا
اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ
-- Padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya
beribadah kepada Allah dengan tulus
ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus, وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ -- serta mendirikan shalat dan membayar
zakat, dan itulah agama yang lurus.
(Al-Bayyinah
[98]:1-6).
Firman Allah Swt. dalam ayat: حُنَفَآءَ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا
اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ
-- Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan
dengan lurus, وَ یُقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ -- serta mendirikan shalat dan membayar
zakat, dan itulah agama yang lurus”
(Al-Bayyinah
[98]:6), identik dengan surah Al-Ikhlash,
sedangkan ayat-ayat sebelumnya: لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ
-- orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik- tidak akan berhenti dari kekafiran
حَتّٰی
تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang kepada mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا
مُّطَہَّرَۃً -- seorang
rasul dari Allah yang membacakan
lembaran-lembaran suci, فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ -- yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ
-- Dan orang-orang
yang diberi Kitab tidak
berpecah-belah kecuali setelah
datang kepada mereka bukti yang nyata” (Al-Bayyinah [98]:1-5),
identik dengan surah Al-Falaq karena sesuai dengan
“prediksi” (tanggapan) para malaikat berkenaan penciptaan seorang Khalifah Allah di muka bumi: قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ -- mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- padahal kami senantiasa bertasbih dengan
pujian Engkau dan kami
senantiasa mensucikan Engkau?”
قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah
[2]:31).
Hubungan Surah
Al-Ikhlash dengan Surah Al-Falaq dan
Surah An-Nās
Agar terhindar
dari berbagai keburukan yang terjadi pada
saat terjadinya penolakan iblis
ketika diperintahkan Allah Swt. untuk “sujud”
kepada Adam -- yang dipilih Allah Swt. untuk
mengajarkan Tauhid Ilahi
hakiki, sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Ikhlash -- maka sebagai padanannya dalam Surah Al-Falaq Allah
Swt. mengajari orang-orang beriman doa meminta perlindungan-Nya
dari 4 macam keburukan, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ قُلۡ
اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾ مِنۡ
شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ
ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb
(Tuhan) Yang Memiliki fajar, مِنۡ
شَرِّ مَا خَلَقَ -- dari
keburukan makhluk yang Dia
ciptakan, وَ مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ
اِذَا وَقَبَ -- dan dari keburukan kegelapan malam apabila meliputi, وَ مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ
فِی الۡعُقَدِ -- dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul, وَ مِنۡ
شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- dan dari
keburukan orang yang dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
Surah
Al-Falaq dan Surah
An-Nās terjalin satu sama lain begitu rapatnya,
sehingga sekalipun kedua-duanya sempurna dalam dirinya masing-masing dan yang
satu tidak tergantung dari yang lain, namun demikian Surah An-Nās
dapat dianggap pelengkap Surah ini. Surah Al-Falaq membahas segi jasmani dari masalah yang sama,
sebab erat hubungannya dengan ancaman iblis
(QS.7:12-19; QS.17:62-66) sedang Surah An-Nās membahas segi ruhani,
yakni tipuan syaitan (QS.7:20-26).
Kedua Surah ini bersama-sama disebut Mu’aw-widzatan,
yang berarti “Si dua sejoli yang memberi perlindungan,” sebab kedua-duanya mulai
dengan ungkapan: قُلۡ اَعُوۡذُ
بِرَبِّ -- “Aku berlindung kepada Rabb
(Tuhan).”
Hubungan kedua Surah ini dengan Al-Ikhlash terletak pada kenyataan,
bahwa dalam Al-Ikhlash orang-orang
beriman diperintahkan agar menyatakan kepada dunia bahwa Tuhan
itu Maha Esa dan Tiada Bertara,
kedudukan-Nya jauh di atas segala sesuatu dan jauh di atas siapapun yang
dijadikan sekutu dalam Ketuhanan-Nya.
Dalam Surah Al-Falaq
dan Surah An-Nās dikatakan kepada orang-orang
beriman, bahwa dalam menjalankan tugas
suci mereka, hendaknya jangan takut
kepada si zalim, diktator, atau penguasa,
dan mereka harus berpegang kepada keyakinan
yang kuat ini, bahwa Tuhan itu Penyelenggara dan Pengawas Tunggal terhadap seluruh
alam raya ini, dan Dia mempunyai kekuasaan melindungi hamba-hamba-Nya dari kerugian
atau kemudaratan apapun yang mungkin
didatangkan kepada mereka oleh kekuatan-kekuatan
kegelapan.
Epilog (kata-kata
Penutup) Al-Quran & Hakikat Doa Dalam Surah Al-Falaq
Kendatipun merupakan bagian tak
terpisahkan dari Al-Quran, kedua Surah tersebut dapat dianggap semacam epilog (kata-kata penutup) Al-Quran. Kerangka utama Al-Quran yakni Tauhid Ilahi berakhir dengan Surah Al-Ikhlash, yang seolah-olah
mengikhtisarkan inti asas-asas ajaran
Al-Quran yang mendasar -- dan
merupakan tugas utama para Rasul Allah
di setiap zaman (QS.7:35-37), terutama Nabi Besar Muhammad saw., yaitu mengajarkan Tauhid Ilahi -- dan dalam
Al-Quran diabadikan berupa kisah
monumental “Adam – Malaikat –
Iblis”.
Dalam surah
Al-Falaq dan surah An-Nās orang-orang
beriman diperintahkan agar memohon perlindungan Ilahi terhadap fitnah-fitnah dan keburukan-keburukan yang timbul sebagai akibat perlawanan terhadap Tauhid
Ilahi -- yang dalam Al-Quran digambarkan
sebagai perlawanan Iblis dan tipu-daya syaitan terhadap “Khalifah Allah” yakni Adam dan “istrinya” (jamaahnya) -- yang
dapat memberi dampak tidak baik kepada kesenangan
jasmani dan perkembangan ruhani orang-orang beriman.
Nabi Besar Muhammad saw. biasa membaca ketiga Surah itu dengan
dawam sebelum tidur, kenyataan tersebut membuktikan bahwa betapa pentingnya ketiga surah penutup Al-Quran
tersebut, sebagaimana kewajiban membaca surah Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalat,
karena dalam keempat surah Al-Quran
tersebut dikemukakan Sifat-sifat utama Tasybihiyah dan Tanzihiyah Allah
Swt..
Dalam
Bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa
saat diutusnya para rasul Allah -- terutama Nabi Besar Muhamad saw. --
bagaikan kegelapan malam yang sangat pekat, sebab
di kalangan umat manusia telah merebak berbagai jenis kerusakan atau kesesatan yang sangat parah, baik
di “lautan” mau pun di “daratan”,
firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ
الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی
النَّاسِ لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ
الَّذِیۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ
کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ
کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya. قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی
الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ -- Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini, کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ -- Kebanyakan
mereka itu orang-orang musyrik. فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ
مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ
لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ -- Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat
dihindarkan, یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ -- pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
Makna Penggunaan Kata Rabb
Penggunaan kata Rabb -- yakni Sifat Tasybihiyah Allah
Swt. yang sering digunakandalam Al-Quran -- terdapat dalam surah Al-Fatihah
ayat 2: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Segala
puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.”
Kata
kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak,
mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan
menjaga. Jadi Rabb berarti:
(a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan);
(b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan;
(c)
Wujud Yang
menyempurnakan, dengan cara se-tingkat demi setingkat (Mufradat dan Laxicon
Lane).
Jika
dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata Rabb dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt., contohnya Nabi Yusuf a.s. menyebut raja Mesir dengan menggunakan kata Rabb
(QS.12:51). Kata falaq dalam ayat: قُلۡ اَعُوۡذُ
بِرَبِّ الۡفَلَقِ berarti: fajar; neraka; seluruh makhluk (Lexicon Lane). Jadi, Allah
Swt. dalam ayat قُلۡ اَعُوۡذُ
بِرَبِّ الۡفَلَقِ -- “Katakanlah:
“Aku
berlindung kepada Rabb
(Tuhan) Yang Memiliki fajar,” memerintahkan orang-orang
Islam agar berdoa:
(1)
bila malam kegelapan yang meliputi Islam telah lewat dan fajar hari depan yang gemilang – yakni
tegaknya Tauhid Ilahi yang hakiki
yang diajarkan rasul Allah -- telah menyingsing, hendaklah mataharinya bersinar terus hingga
mencapai puncaknya pada tengah hari
(QS.97:1-6).
(2) semoga Allah Swt. melindungi “fajar Tauhid Ilahi” dari kejahatan
yang ditimbulkan oleh segala sesuatu
yang telah diciptakan-Nya, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, termasuk pengaruh
buruk turun-temurun, lingkungan jahat, pendidikan tidak sempurna, dan
sebagainya.
(3) supaya Allah Swt. menyelamatkannya dari siksaan neraka di dunia ini maupun di akhirat,
akibat makar-makar buruk yang
dilakukan oleh para penentang
yang bersifat dengki, sebagaimana yang diancamkan
iblis dan dari tipuan syaitan (QS.7:14-18; QS.17:62-66).
Berbagai Bahaya “Malam
Kegelapan Ruhani” yang Mengancam Tauhid
Ilahi Orang-orang Beriman
Ayat وَ مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ
-- “dan dari keburukan kegelapan malam apabila meliputi,”
yang diisyaratkan ayat ini mungkin keburukan-keburukan
masa -- khususnya masa
kemunduran Islam selama 1000 tahun
setelah umat Islam mengalami masa kejayaannya yang pertama
selama 3 abad (QS.32:6) -- ketika cahaya kebenaran Islam secara
berangsur-angsur padam serta kegelapan
dosa dan keburukan tersebar di
seluruh permukaan bumi, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ
فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya(Ar-Rūm
[30]:42).
Atau, boleh jadi ayat وَ مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ
-- “dan dari keburukan kegelapan malam apabila meliputi”
menunjuk kepada keburukan-keburukan saat ketika orang sedang dirundung derita dan kemalangan,
maka hanya kegelapan belaka yang
nampak di sekitarnya serta sinar harapan
terakhir pun menghilang.
Isyarat dalam ayat selanjutnya: وَ مِنۡ
شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ
-- “dan dari keburukan
orang-orang yang meniupkan ke dalam
buhul” erat kaitannya dengan ancaman
iblis untuk menghadang misi suci Adam (Khalifah Allah – QS.7-12-19,
QS.17:62-66), antara lain berupa bahaya dari orang-orang
yang membisik-bisikkan
kisikan-kisikan jahat dan menyebabkan ikatan-ikatan
serta persahabatan-persahabatan yang tulus – yang dibina oleh rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:103-104 & 160; QS.8:64; QS.63:8)
-- jadi berantakan dan
menimbulkan pikiran pada orang-orang semangat melawan kekuasaan yang sah atau
melanggar sumpah kesetia-kawanan,
lalu dengan demikian berusaha menimbulkan
keresahan dan perpecahan
di kalangan umat Islam dan menimbulkan di antara mereka kecenderungan-kecenderungan
pecah belah, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ قُلۡ
اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾ مِنۡ
شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ
ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb
(Tuhan) Yang Memiliki fajar, مِنۡ
شَرِّ مَا خَلَقَ -- dari
keburukan makhluk yang Dia
ciptakan, وَ مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ
اِذَا وَقَبَ -- dan dari keburukan kegelapan malam apabila meliputi, وَ مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ
فِی الۡعُقَدِ -- dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul, وَ مِنۡ
شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- dan dari
keburukan orang yang dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,12 Juni
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar