Selasa, 14 Juni 2016

Hubungan "Penentangan Iblis" Terhadap Adam (Khalifah Allah) Dengan Surah Al-Falaq & Empat Macam Bahaya Saat "Malam Kegelapan RuhanI" yang mengancam "Tauhid Ilahi" Orang-orang yang Beriman


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


  HUBUNGAN PENENTANGAN IBLIS TERHADAP ADAM (KHALIFAH ALLAH) DENGAN  SURAH AL-FALAQ  & EMPAT MACAM BAHAYA  SAAT “MALAM KEGELAPAN RUHANI” YANG MENGANCAM TAUHID ILAHI ORANG-ORANG YANG BERIMAN

Bab 68

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    makna  ayat  terakhir surah Al-Ikhlashوَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ  – “dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya,”  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
 Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  Dia-lah  Allah    Yang Maha Esa.   Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.      Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,       dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).

Kemusyrikan di Kalangan  Golongan Ahli Kitab

        Ayat  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ    menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya, bahwa taruhlah bahwa Allah itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
     Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah Swt.. Demikian juga  akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya.  Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak, dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan Ke-Esa-an Wujud Sang Pencipta alam semesta, firman-Nya:
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya,  maka Maha Suci Allah  Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. (Al-Anbiya [21]:23).
Benarlah firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.”  ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡ --  Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ --  Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?    اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ --  Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ  -- padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ --  Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ     --    Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut merekaوَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ    --  tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nyaوَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ --  walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ    --     Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ --  walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya.  (At-Taubah [9]:30-32).  

Hubungan Pengulangan Penciptaan   Khalifah Allah  Dengan Surah Al-Ikhlash

    Dengan demikian Surah Al-Ikhlash benar-benar  mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain mengenai  kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak, dan  kepercayaan  bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan (Allah Swt.)
  Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi mengenai “Tuhan Yang Hakiki” yang diberikan oleh Al-Quran, khususnya surah Al-Ikhlash.
    Jadi, siapa pun dan apa pun yang “dipertuhankan”  dalam agama-agama selain Islam, yang tidak memenuhi “definisi Tuhan Yang Hakiki” dalam Surah Al-Ikhlash maka bukanlah  Al-Khāliq (Tuhan pencipta) melainkan makhluk  (yang diciptakan), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
 Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  “Dia-lah  Allah    Yang Maha Esa.   Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.      Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,       dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
     Pada hakikatnya Surah Al-Ikhlash   seakan-akan merupakan penggambaran  misi utama pengutusan setiap Rasul Allah  yaitu memurnikan dan menegakkan kembali  Tauhid Ilahi  dari berbagai bentuk “kemusyrikan”, termasuk di Akhir Zaman ini, seakan-akan merupakan pengulangan kembali Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”, firman-Nya: 
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ  اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ 
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada para  malaikat: اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً --  Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah di bumi”,  قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ --  mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ --  padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?”  قَالَ اِنِّیۡۤ    اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  (Al-Baqarah [2]:31).

Nabi Besar Muhammad Saw.  “Khalifah Allah” yang Paling Sempurna & Hubungan Ketakaburan Iblis dengan Surah Al-Falaq

       Berbeda dengan sikap  para malaikat yang mengakui keunggulan  Adam   --  karena mendapat pengajaran langsung dari Allah Swt. – iblis bersikap  takabur  dan  menolak “sujud” kepada Adam  bersama para malaikat, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah  ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah  yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adam” lalu mereka sujud kecuali  iblis,  ia menolak dan takabur,  dan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir (Al-Baqarah [2]:35).
      Ketakaburan iblis tersebut  untuk yang kesekian kalinya terulang lagi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.— yang merupakan    Khalifah Allah  yang paling sempurna  --  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾  رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً  ۙ﴿﴾  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾  وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾
وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ  -- orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik- tidak akan berhenti dari kekafiran حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang kepada   mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً --  seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci,  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ --     yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ  --  Dan  orang-orang yang diberi Kitab  tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. حُنَفَآءَ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ  --   Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus,   وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ --  serta mendirikan shalat dan membayar zakat, dan itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah [98]:1-6).
       Firman Allah Swt. dalam ayat:  حُنَفَآءَ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ  --   Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas    dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus,   وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ --  serta mendirikan shalat dan membayar zakat, dan itulah agama yang lurus” (Al-Bayyinah [98]:6), identik dengan surah Al-Ikhlash, sedangkan ayat-ayat sebelumnya:  لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ  -- orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik- tidak akan berhenti dari kekafiran حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang kepada   mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً --  seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci,  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ --    yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ  --  Dan  orang-orang yang diberi Kitab  tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata” (Al-Bayyinah [98]:1-5), identik dengan surah Al-Falaq  karena sesuai dengan “prediksi” (tanggapan) para malaikat  berkenaan penciptaan seorang Khalifah Allah di muka bumi: قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ --  mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ --  padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?”  قَالَ اِنِّیۡۤ    اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  (Al-Baqarah [2]:31). 

Hubungan Surah Al-Ikhlash dengan Surah Al-Falaq dan Surah An-Nās

      Agar  terhindar dari berbagai  keburukan yang terjadi pada  saat terjadinya penolakan iblis  ketika diperintahkan Allah Swt. untuk  “sujud” kepada Adam -- yang dipilih Allah Swt.  untuk  mengajarkan Tauhid Ilahi hakiki,    sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Ikhlash --  maka sebagai padanannya dalam  Surah  Al-Falaq   Allah Swt. mengajari orang-orang beriman  doa  meminta perlindungan-Nya   dari  4 macam keburukan,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾   قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾   مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾   وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada  Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar, مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ  --   dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan, وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ --  dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ --   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul, وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ --    dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
      Surah Al-Falaq  dan Surah   An-Nās   terjalin satu sama lain begitu rapatnya, sehingga sekalipun kedua-duanya sempurna dalam dirinya masing-masing dan yang satu tidak tergantung dari yang lain, namun demikian Surah  An-Nās dapat dianggap pelengkap Surah ini. Surah Al-Falaq  membahas   segi jasmani dari masalah yang sama, sebab erat hubungannya dengan ancaman iblis (QS.7:12-19; QS.17:62-66)   sedang Surah An-Nās membahas segi ruhani, yakni tipuan syaitan  (QS.7:20-26).
     Kedua Surah ini bersama-sama disebut Mu’aw-widzatan, yang berarti  “Si dua sejoli yang memberi perlindungan,” sebab kedua-duanya mulai dengan ungkapan:  قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ --  “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan).”
     Hubungan kedua Surah ini dengan Al-Ikhlash terletak pada kenyataan, bahwa dalam Al-Ikhlash orang-orang beriman diperintahkan agar menyatakan kepada dunia  bahwa Tuhan itu Maha Esa dan Tiada Bertara, kedudukan-Nya jauh di atas segala sesuatu dan jauh di atas siapapun yang dijadikan sekutu dalam Ketuhanan-Nya.
      Dalam   Surah Al-Falaq  dan Surah  An-Nās dikatakan kepada orang-orang beriman, bahwa dalam menjalankan tugas suci mereka, hendaknya jangan takut kepada si zalim, diktator, atau penguasa, dan mereka harus berpegang kepada keyakinan yang kuat ini, bahwa Tuhan itu Penyelenggara dan Pengawas Tunggal terhadap seluruh alam raya ini, dan Dia mempunyai kekuasaan melindungi hamba-hamba-Nya dari kerugian atau kemudaratan apapun yang mungkin didatangkan kepada mereka oleh kekuatan-kekuatan kegelapan.

Epilog (kata-kata Penutup) Al-Quran & Hakikat  Doa Dalam Surah Al-Falaq

      Kendatipun merupakan bagian tak terpisahkan dari Al-Quran, kedua Surah tersebut dapat dianggap semacam epilog (kata-kata penutup) Al-Quran. Kerangka utama Al-Quran   yakni Tauhid Ilahi     berakhir dengan Surah Al-Ikhlash, yang seolah-olah  mengikhtisarkan inti asas-asas ajaran Al-Quran yang mendasar  --  dan  merupakan tugas utama para Rasul Allah di setiap zaman (QS.7:35-37), terutama Nabi Besar Muhammad saw., yaitu  mengajarkan Tauhid Ilahi  --  dan  dalam Al-Quran   diabadikan   berupa kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis”.      
      Dalam  surah Al-Falaq dan  surah  An-Nās  orang-orang beriman diperintahkan agar memohon perlindungan Ilahi terhadap fitnah-fitnah dan keburukan-keburukan yang timbul sebagai akibat perlawanan terhadap Tauhid Ilahi    -- yang dalam Al-Quran digambarkan sebagai perlawanan Iblis dan tipu-daya syaitan terhadap “Khalifah Allah” yakni Adam dan “istrinya” (jamaahnya)  -- yang  dapat memberi dampak tidak baik kepada kesenangan jasmani dan perkembangan ruhani  orang-orang beriman.
     Nabi Besar Muhammad saw.   biasa membaca ketiga Surah itu dengan dawam sebelum tidur, kenyataan tersebut membuktikan bahwa betapa pentingnya ketiga surah penutup Al-Quran tersebut,  sebagaimana kewajiban  membaca surah Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalat, karena dalam keempat surah Al-Quran  tersebut dikemukakan Sifat-sifat utama Tasybihiyah dan Tanzihiyah Allah Swt..
       Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan  bahwa saat diutusnya para rasul Allah  -- terutama Nabi Besar Muhamad saw.  --  bagaikan kegelapan malam yang sangat pekat,  sebab  di kalangan umat manusia telah merebak berbagai jenis kerusakan  atau kesesatan yang sangat parah,  baik  di “lautan”  mau pun di “daratan”, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya.  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ  --   Katakanlah:  Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu iniکَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ --  Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik. فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ  --   Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan, یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ --  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).

Makna Penggunaan Kata Rabb

   Penggunaan kata Rabb   -- yakni Sifat Tasybihiyah Allah Swt.  yang sering digunakandalam Al-Quran   -- terdapat dalam surah Al-Fatihah ayat 2:   اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ   -- “Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh  alam.”    Kata kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti:
(a)  Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan);
(b)  Wujud Yang memelihara dan mengembangkan;
(c)   Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara se-tingkat demi setingkat (Mufradat dan Laxicon Lane).
       Jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata Rabb  dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt., contohnya Nabi Yusuf a.s. menyebut raja Mesir dengan menggunakan kata  Rabb (QS.12:51).   Kata falaq  dalam ayat: قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ berarti: fajar; neraka; seluruh makhluk (Lexicon Lane). Jadi,    Allah Swt. dalam ayat  قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ  -- “Katakanlah: “Aku berlindung kepada  Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar,”  memerintahkan    orang-orang Islam    agar berdoa:
      (1) bila malam kegelapan yang meliputi Islam telah lewat dan fajar hari depan yang gemilang – yakni tegaknya Tauhid Ilahi yang hakiki yang diajarkan rasul Allah  -- telah menyingsing, hendaklah mataharinya bersinar terus hingga mencapai puncaknya pada tengah hari (QS.97:1-6).
   (2) semoga  Allah Swt. melindungi “fajar Tauhid Ilahi” dari kejahatan yang ditimbulkan oleh segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, termasuk pengaruh buruk turun-temurun, lingkungan jahat, pendidikan tidak sempurna, dan sebagainya.  
      (3) supaya Allah Swt. menyelamatkannya dari siksaan neraka di dunia ini maupun di akhirat, akibat  makar-makar buruk   yang dilakukan oleh  para  penentang  yang bersifat dengki, sebagaimana yang diancamkan iblis  dan dari tipuan syaitan (QS.7:14-18; QS.17:62-66).

Berbagai Bahaya  “Malam Kegelapan Ruhani” yang Mengancam Tauhid Ilahi Orang-orang Beriman   

    Ayat وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ  --  “dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,” yang diisyaratkan ayat ini mungkin   keburukan-keburukan masa   -- khususnya  masa kemunduran Islam selama 1000 tahun setelah umat Islam mengalami masa kejayaannya yang pertama selama  3 abad (QS.32:6)  -- ketika cahaya kebenaran Islam secara berangsur-angsur  padam  serta kegelapan dosa dan keburukan tersebar di seluruh permukaan bumi, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya(Ar-Rūm [30]:42).
      Atau, boleh jadi ayat  وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ  --  “dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi”  menunjuk kepada keburukan-keburukan saat ketika orang sedang dirundung derita dan kemalangan, maka hanya kegelapan belaka yang nampak di sekitarnya serta sinar harapan terakhir pun menghilang.
      Isyarat dalam ayat selanjutnya: وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ  -- “dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul” erat kaitannya dengan  ancaman  iblis  untuk menghadang misi suci Adam (Khalifah Allah – QS.7-12-19, QS.17:62-66), antara lain berupa bahaya dari  orang-orang yang membisik-bisikkan kisikan-kisikan jahat dan menyebabkan ikatan-ikatan serta persahabatan-persahabatan yang tulus – yang dibina oleh rasul Allah,  terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:103-104 & 160; QS.8:64; QS.63:8)  -- jadi berantakan dan menimbulkan pikiran pada orang-orang semangat melawan kekuasaan yang sah atau melanggar sumpah kesetia-kawanan, lalu dengan demikian berusaha menimbulkan keresahan dan perpecahan di kalangan umat Islam dan menimbulkan di antara mereka kecenderungan-kecenderungan pecah belah, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾   قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾   مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾   وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada  Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar, مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ  --   dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan, وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ --  dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ --   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul, وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ --    dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).

(Bersambung)
            
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,12  Juni    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar