Selasa, 28 Juni 2016

Berbagai "Syahwat" (Keinginan) Manusia & Pentingnya Memohon "Tambahan Ilmu" Mengenai Hakikat Al-Quran Kepada Allah Swt. Agar Tidak Keliru Memahaminya


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


BERBAGAI SYAHWAT (KEINGINAN) MANUSIA & PENTINGNYA MEMOHON  TAMBAHAN ILMU  MENGENAI  HAKIKAT AL-QURAN KEPADA ALLAH SWT. AGAR TIDAK KELIRU   MEMAHAMINYA

Bab 75

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai   upaya syaitan menimbulkan  ketidak-taatan dan perpecahan di kalangan para  pengikut atau jama’ah Nabi Adam a.s. melalui  bisikan-bisikan yang menggiurkan hawa-nafsu, disertai “sumpah dusta” agar lebih meyakinkan.
   Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ  -- Lalu ia, syaitanmembujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا      --  maka tatkala keduanya   merasai buah pohon itu  tampaklah kepada keduanya  aurat  mereka berdua  وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ  -- dan mulailah keduanya  menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu.” (Al-A’rāf [7]:23).
    Nabi Adam a.s.  dan Istrinya atau jemaatnya menyadari bahwa dengan mengikuti ajakan buruk syaitan itu mereka telah membuat kesalahan besar dan telah menjerumuskan diri mereka ke dalam keadaan yang amat sulit.  Dengan demikian makna ayat  فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا --  “lalu  tampak­lah bagi mereka berdua kelemahan-­kelemahan mereka  tidak berarti  bahwa kelemahan mereka telah dimaklumi (diketahui) orang lain, tetapi yang dimaksudkan hanyalah  bahwa Adam a.s. dan istrinya   (jamaahnya)  menjadi sadar akan kelemahan mereka itu  yang sebelumnya tidak mereka ketahui (sadari).

Hakikat Waraq (Daun-daun Surga) Penutup “Aurat” Adam dan Istrinya

   Makna ayat selanjutnya: وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ   -- “dan ke­duanya menutupi tubuh  mereka dengan daun-daun  surga.”    Karena waraq berarti pula tunas-tunas muda suatu jemaat (Lexicon Lane), maka ayat ini bermaksud mengemukakan  bahwa karena syaitan telah berhasil mendatangkan perpecahan di tengah-tengah Jemaat Nabi Adam a.s., dan beberapa anggota yang lemah wataknya  telah keluar dari lingkungannya, maka Nabi Adam a.s.  menghimpun para pemuda dan anggota-anggota jemaat beliau lainnya yang baik serta shalih  dan dengan bantuan mereka beliau menertibkan lagi kaumnya.    Pada umumnya para pemuda  yang   -- karena kebanyakan mereka bebas dari prarasa-prarasa dan prasanga-prasangka – mengikuti dan menolong nabi-nabi Allah (QS.10:84).
    Cara yang sama pula yang dilakukan Thalut   (Gideon)  --  yaitu  dalam rangka memilih pasukannya yang sejati dari kalangan Bani Israil,  -- atas petunjuk Allah Swt.  --     Thalut membawa mereka  melintasi  sebuah  sungai,     firman-Nya:
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوۡتُ بِالۡجُنُوۡدِ  ۙ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ بِنَہَرٍ ۚ فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ فَاِنَّہٗ مِنِّیۡۤ  اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ غُرۡفَۃًۢ بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ فَلَمَّا جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ  ۙ  کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ   اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ﴿﴾ؕ
Maka tatkala Thalut berangkat dengan balatentaranyia berkata: “Sesungguhnya Allah akan mencobai kamu dengan sebuah sungai, lalu barangsiapa  minum darinya maka ia bukan dariku, dan  barangsiapa tidak pernah mencicipinya   maka sesungguhnya ia dariku, kecuali orang yang menciduk seciduk  dengan tangannya.” Tetapi  mereka minum darinya kecuali sedikit dari mereka, lalu tatkala ia dan orang-orang yang beriman besertanya telah menyeberanginya mereka berkata:  قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ  --  “Tidak ada kemampuan pada kami hari ini untuk menghadapi Jalut dan balatentaranya.” قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ  -- Tetapi  orang-orang yang meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan menemui Allah  berkata: کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ -- “Be-rapa banyak golongan yang sedikit  telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ -- dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”   Dan tatkala mereka maju untuk menghadapi Jalut  dan bala-tentaranya, mereka berkata:  رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ   اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ --  “Ya Rabb (Tuhan) kami,  anugerahkanlah  ketabahan atas kami, dan  teguhkanlah langkah-langkah kami, dan  tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:250-251).

Fungsi “Ujian” di  Jalan Allah  Swt.

        Kekecualian mengenai minum  air seciduk tangan itu mengandung dua tujuan:
      (1) memberikan kepada pasukan yang sedang berderap maju itu sedikit kelegaan jasmani dengan mengizinkan mereka membasahi kerongkongan mereka yang kekeringan, tetapi di samping itu mencegah mereka dari minum sebebasnya yang bisa mendinginkan semangat mereka dan menjadikan mereka lengah terhadap musuh.
       (2) membuat cobaan itu lebih menggelitik perasaan, sebab acapkali terjadi   lebih mudah bagi seseorang untuk menjauhkan diri sama sekali dari sesuatu daripada mencicipinya dalam kadar terbatas sekali.
       Mengenai ujian  berupa “sungai” yang dikemukakan Al-Quran tersebut lihat Bible, Hakim-hakim 7:5-6. Kata nahar (sungai) berarti pula “limpah-ruah”.  Dalam pengertian tersebut ayat ini berarti bahwa mereka akan diuji oleh “kelimpah-ruahan”,  mereka yang menyerah kepada godaannya biasanya menjadi tidak mampu melaksanakan pekerjaan Allah Swt.,  tetapi mereka yang menggunakannya dengan mengekang hawa nafsu biasanya meraih kemenangan.
      Ternyata hanya sedikit dari pasukan Thalut  yang lulus ujian melewati “sungai” tersebut,  namun demikian mereka itulah yang benar-benar merupakan  “waraq”  (daun-daun surga) yang   digunakan Nabi Adam a.s. untuk menutupi “aurat”  jama’ah beliau  yang “terbuka” akibat tergoda oleh “bujuk-rayu syaitan” yang merangsang selera hawa-nafsu manusia (QS.3:15-16-18).

Berbagai “Syahwat” (Keinginan) yang Ditanamkan Allah Swt. dalam Fitrat Manusia

        Demikian juga halnya dengan  bujukan  syaitan kepada Adam dan “istrinya”:  وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ    -- dan ia (syaitan) berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali tidak   melarang kamu berdua dari pohon ini اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ   -- melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal.وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ --  Dan ia bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” (Al-A’raf [7]:21-22).
      Berkenaan syahwat (keinginan) yang ditanamkan Allah Swt. dalam fitrat   manusia Dia berfirman:
زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu: perempuan-perempuan, dan  anak-anak, dan kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perakkuda pilihanbinatang ternak dan sawah ladang. ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا  --  Yang demikian itu adalah perlengkapan hidup di dunia, وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ  --  dan Allah, di sisi-Nya-lah  sebaik-baik tempat kembali.  (Ali ‘Imran [3]:15).
 Islam tidak melarang mempergunakan atau mencari barang-barang yang baik dari dunia ini, tetapi tentu saja Islam mencela mereka yang menyibukkan diri dalam urusan duniawi dan menjadikannya satu-satunya tujuan hidup mereka, seakan-akan mereka akan hidup  selamanya di dunia ini,  seperti yang dilakukan Qarun    -- seorang Bani Israil  yang memilih berpihak kepada Fir’aun daripada kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.  (QS.28:77-83).
       Nampak dari Bible dan Al-Quran seperti  Qarun itulah karakter umumnya Bani Israil (QS.2:88-90; QS.5:79-81),  berikut firman Allah Swt. mengenai orang-orang Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَتَجِدَنَّہُمۡ اَحۡرَصَ النَّاسِ عَلٰی حَیٰوۃٍ  ۚۛ وَ مِنَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا  ۚۛ یَوَدُّ  اَحَدُہُمۡ لَوۡ یُعَمَّرُ اَلۡفَ سَنَۃٍ ۚ وَ مَا ہُوَ بِمُزَحۡزِحِہٖ مِنَ الۡعَذَابِ اَنۡ یُّعَمَّرَ ؕ وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan niscaya engkau benar-benar akan mendapati mereka sebagai manusia paling tamak kepada  kehidupan dunia dan bahkan lebih daripada orang-orang musyrik, یَوَدُّ  اَحَدُہُمۡ لَوۡ یُعَمَّرُ اَلۡفَ سَنَۃٍ   -- masing-masing mereka sangat menginginkan diberi umur seribu tahun, وَ مَا ہُوَ بِمُزَحۡزِحِہٖ مِنَ الۡعَذَابِ اَنۡ یُّعَمَّرَ -- padahal diberi umur selama itu  tidak dapat menjauhkannya dari azab, وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ --  dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqarah [2]:97).
       Orang-orang musyrik tidak begitu lekat ikatan mereka kepada kehidupan di dunia ini   dibanding  orang-orang Yahudi karena, sebab   -- beda dari kaum Yahudi  -- orang-orang musyrik  tidak beriman kepada kehidupan sesudah mati dan oleh karena itu tidak punya rasa takut akan siksaan sesudah mati.
      Menyambung ayat sebelumnya mengenai syahwat (keinginan) manusia (QS.3:15), selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ  بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ﴾
Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu  yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Rabb (Tuhan) mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا --  mereka kekal di dalamnya,  dan   jodoh-jodoh suci serta  keridhaan dari Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali ‘Imran [3]:16).

Syaitan yang Membujuk Adam dan Istrinya Adalah Manusia

   Kembali kepada  kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis”, makhluk yang dikemukakan oleh Al-Quran telah menolak sujud  kepada Adam a.s.  disebut iblis (QS.7:12-19), sedang makhluk yang menggodanya disebut syaitan (QS.7:20-23).  Perbedaan ini tidak hanya nampak dalam ayat yang sedang ditafsirkan,  tetapi juga dalam semua ayat yang berhubungan dengan masalah itu dalam seluruh Al-Quran.
   Kenyataan tersebut  menunjukkan bahwa sejauh hal yang menyangkut kisah ini syaitan dan iblis adalah dua pribadi yang berlainan. Pada hakikatnya  kata syaitan tidak hanya digunakan terhadap ruh-ruh jahat saja, tetapi juga terhadap manusia yang disebabkan oleh watak jahat dan amal-amal buruk mereka seolah-olah  mereka menjadi penjelmaan syaitan.
 Syaitan yang menggoda  atau membujuk  Nabi Adam a.s. dan menyebabkan beliau tergelincir itu bukan ruh jahat yang tidak nampak, melainkan manusia yang berdaging dan berdarah, bersifat  jahat, yaitu syaitan dari kalangan manusia, penjelmaan syaitan dan merupakan  tangan-tangan iblis. Ia termasuk satu anggota keluarga yang mengenai keluarga atau  kaum  tersebut Nabi Adam  a.s. telah diperintahkan  Allah Swt. supaya  jangan mendekati  “pohon terlarang”.
  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa nama orang itu Harits (Tirmidzi, bab tafsir), hal itu merupakan satu bukti lagi bahwa syaitan yang memperdayai Nabi Adam a.s. dan “istrinya” adalah  seorang manusia dan bukan ruh jahat, yang juga disebut syaitan (QS.7:28).  Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ  اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ  وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ  اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan keduanya  diseru oleh Rabb (Tuhan) mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu ber-dua  bahwa sesungguhnya  syaitan itu  musuh yang nyata bagi kamu berdua?”  (Al-A’rāf [7]:23).
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata:  ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi.”  (Al-A’rāf [7]:24).

“Pelanggaran” yang Dilakukan Nabi Adam a.sTidak Disengaja

  Nabi Adam a.s.  segera menyadari kekeliruan beliau lalu cepat-cepat kembali rujuk kepada Allah Swt.,  bertaubat. Sesungguhnya kesalahan  yang dilakukan Nabi Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa "manusia syaitan" itu bermaksud baik, sungguhpun Allah Swt. sebelumnya  telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang itu.  Dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
فَوَسۡوَسَ اِلَیۡہِ الشَّیۡطٰنُ قَالَ یٰۤـاٰدَمُ ہَلۡ اَدُلُّکَ عَلٰی شَجَرَۃِ الۡخُلۡدِ وَ مُلۡکٍ لَّا یَبۡلٰی ﴿﴾  فَاَکَلَا مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  ﴿﴾۪ۖ ثُمَّ  اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ  فَتَابَ عَلَیۡہِ  وَ  ہَدٰی ﴿﴾
Maka  syaitan membisik­kan waswas kepadanya. Ia ber­kata: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada engkau pohon kekekalan  dan kerajaan yang tidak akan binasa?"  --  Maka  keduanya makan darinya, فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا --  lalu  tampak­lah bagi mereka berdua kelemahan-­kelemahan mereka,  dan ke­duanya menutupi tubuh mereka dengan daun-daun  surga.  Dan Adam telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya) maka ia menderita. emudian Rabb-nya (Tuhan-nya) memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk. (Thā Hā [20]:121-123).
    Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa  di dunia ini tidak terdapat pohon yang disebut pohon khuld (kekekal­an). "Pohon" (syajarah) seperti yang disebut di sini dan di tempat-tempat lain dalam Al-Quran adalah keluarga atau suku tertentu, dan Nabi Adam a.s. dinasihati agar menjauhkan diri darinya   karena anggota-anggota keluarga atau warga suku itu adalah musuh beliau.
   Sebagai akibat penolakan  Nabi Adam a.s.  terhadap ajakan-ajakan syaitan  yang sangat menggoda hawa-nafsu (syahwat) manusia tersebut (QS.3:15), terjadilah perpecahan di antara kaum beliau, sehingga menyebabkan beliau sangat sedih dan cemas hati, dan dalam upaya  meredam “perselisihan” di kalangan kaumnya tersebut – akibat kurang pengetahuan mengenai keburukan syaitan yang penuh tipu-daya  -- beliau seakan-akan  mengabaikan peringatan Allah Swt. sebelumnya (QS.7:20-26; QS.20:116-122),  padahal sama sekali tidak ada niat  beliau untuk mendurhakai perintah Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa (Thā Hā [20]:116).

Pentingnya Memohon Penyempurnaan Ilmu Kepada Allah Swt.

   Ayat  tersebut menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam a.s. hanyalah disebabkan oleh kekeliruan dalam pertimbangan berkenaan  “tipu-daya” manusia syaitan  yang sangat  “menggelincirkan” sehingga berhasil menimbulkan  ketidak-taatan dan  perselisihan  di kalangan jama’ah beliau, yang secara kiasan disebut “terbukanya  aurat”  keduanya.
  Jadi, kekeliruan yang dilakukan Adam a.s.  tanpa disengaja dan sama sekali tidak dengan suatu niat atau kehendak, karena manusia tidak luput dari kesalahan. Hanya Allah Swt. sajalah yang mengetahui yang gaib, sedangkan manusia – termasuk para nabi Allah – tidak mengetahui yang  gaib, kecuali jika diberitahu Allah Swt. melalui wahyu-Nya (QS.42:52-54; QS.72:27-29).
   Dalam rangka memperingatkan manusia – terutama orang-orang yang beriman  -- agar tidak mengalami “kekeliruan” yang pernah terjadi pada  Nabi Adam a.s. dan jama’ah beliau  dalam  mensikapi  “bujukan syaitan”  yang penuh tipu-daya yang sangat menggelincirkan tersebut, Allah Swt.  berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ    --   Maka  Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ  --  Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau, وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا --  dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”  (Thā Hā [20]:114-115).
  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda: "Carilah ilmu pengetahuan sekalipun mungkin ditemukannya jauh di rantau Cina" (Shagir, jilid I). Di tempat lain dalam Al-Quran telah dilukiskan sebagai "karunia Allah yang sangat besar" (QS.2:270 & QS.4:114). Ilmu itu ada dua macam:
(1)    ilmu yang dianugerahkan kepada manusia dengan perantaraan wahyu dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam wujud Al-Quran (QS.42:52-54; QS.72:27-29).
(2)    ilmu yang didapatkan oleh manusia dengan usaha dan jerih-payahnya sendiri.   
      Ilmu jenis yang kedua  --  karena diberikan secara umum sesuai dengan sifat Rahmaniyat Allah Swt.   --  sering kali menimbulkan ketakaburan pada pemiliknya, seperti yang terjadi pada Qarun  dan kaum-kaum purbakala (QS.28:77-83; QS.39:50-53).

Bukan Merupakan Perbuatan Dosa yang Patut Dihukum

       Dalam  firman-Nya tersebut Allah Swt. mengingatkan Nabi Besar Muhammad saw.  bahwa “pelanggaran” yang dilakukan  Nabi Adam a.s.   adalah  karena beliau  salah-menafsirkan  “bujukan” manusia syaitan yang sangat meyakinkan tetapi  penuh tipu-daya,  hal itu terjadi akibat dari “tergesa-gesa dalam mengambil keputusan”  dan karena kurangnya ilmu  (pengetahuan), firman-Nya: وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ  --  Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau, وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا --  dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
        Namun demikian Allah Swt. tidak menganggap kekeliruan yang dilakukan Nabi Adam a.s. sebagai suatu perbuatan dosa yang patut dihukum, karena beliau sama sekali tidak bermaksud melakukan pelanggaran secara sengaja terhadap perintah atau peringatan Allah Swt. yang telah dipesankan  kepada beliau sebelumnya (QS.7:20-26), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad  untuk berbuat dosa (Thā Hā [20]:116). 

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 22  Juni    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar