Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
BERBAGAI SYAHWAT
(KEINGINAN) MANUSIA & PENTINGNYA MEMOHON
TAMBAHAN ILMU MENGENAI HAKIKAT AL-QURAN
KEPADA ALLAH SWT. AGAR TIDAK KELIRU MEMAHAMINYA
Bab 75
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
upaya syaitan menimbulkan ketidak-taatan dan perpecahan di kalangan para pengikut atau jama’ah Nabi Adam a.s. melalui
bisikan-bisikan yang
menggiurkan hawa-nafsu, disertai “sumpah dusta” agar lebih meyakinkan.
Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya
Allah Swt. berfirman: فَدَلّٰىہُمَا
بِغُرُوۡرٍ -- Lalu ia, syaitan, membujuk
kedua mereka itu dengan tipu-daya,
فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ
لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا -- maka
tatkala keduanya merasai buah pohon itu tampaklah kepada keduanya aurat mereka berdua وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ -- dan mulailah
keduanya menutupi diri mereka dengan
daun-daun kebun itu.” (Al-A’rāf [7]:23).
Nabi Adam a.s. dan Istrinya
atau jemaatnya menyadari bahwa dengan
mengikuti ajakan buruk syaitan itu mereka telah membuat kesalahan besar dan telah menjerumuskan diri mereka ke dalam keadaan yang amat sulit. Dengan demikian
makna ayat فَبَدَتۡ لَہُمَا
سَوۡاٰتُہُمَا -- “lalu tampaklah
bagi mereka berdua kelemahan-kelemahan mereka” tidak berarti
bahwa kelemahan mereka telah
dimaklumi (diketahui) orang lain, tetapi yang dimaksudkan hanyalah bahwa Adam
a.s. dan istrinya (jamaahnya) menjadi sadar
akan kelemahan mereka itu yang sebelumnya tidak mereka ketahui (sadari).
Hakikat Waraq
(Daun-daun Surga) Penutup “Aurat” Adam
dan Istrinya
Makna ayat selanjutnya: وَ طَفِقَا
یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ
-- “dan keduanya menutupi tubuh mereka dengan daun-daun surga.”
Karena waraq berarti pula tunas-tunas muda suatu jemaat (Lexicon Lane), maka ayat ini bermaksud mengemukakan bahwa karena syaitan telah berhasil mendatangkan perpecahan di tengah-tengah Jemaat
Nabi Adam a.s., dan beberapa anggota
yang lemah wataknya telah keluar
dari lingkungannya, maka Nabi Adam a.s. menghimpun
para pemuda dan anggota-anggota jemaat beliau lainnya yang baik serta shalih dan dengan bantuan mereka beliau menertibkan lagi kaumnya. Pada umumnya para pemuda yang -- karena kebanyakan mereka bebas dari prarasa-prarasa dan prasanga-prasangka – mengikuti dan menolong nabi-nabi Allah (QS.10:84).
Cara yang sama pula yang dilakukan Thalut (Gideon)
-- yaitu dalam rangka memilih pasukannya yang sejati dari kalangan Bani Israil, -- atas petunjuk Allah Swt. -- Thalut
membawa mereka melintasi sebuah sungai, firman-Nya:
فَلَمَّا
فَصَلَ طَالُوۡتُ بِالۡجُنُوۡدِ ۙ
قَالَ اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ
بِنَہَرٍ ۚ فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ
فَاِنَّہٗ مِنِّیۡۤ اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ
غُرۡفَۃًۢ بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ فَلَمَّا
جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ
ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ ؕ قَالَ
الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ ۙ کَمۡ
مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً
کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ
قَالُوۡا رَبَّنَاۤ اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا
صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ
انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ﴿﴾ؕ
Maka tatkala
Thalut berangkat dengan balatentaranya ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan mencobai kamu dengan sebuah sungai, lalu barangsiapa
minum darinya maka ia bukan
dariku, dan barangsiapa tidak pernah mencicipinya
maka sesungguhnya ia dariku, kecuali orang yang menciduk seciduk dengan tangannya.” Tetapi mereka
minum darinya kecuali sedikit dari
mereka, lalu tatkala ia dan
orang-orang yang beriman besertanya telah menyeberanginya mereka berkata: قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ
بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ -- “Tidak ada kemampuan pada kami hari ini
untuk menghadapi Jalut dan
balatentaranya.” قَالَ الَّذِیۡنَ
یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ -- Tetapi orang-orang yang meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan menemui Allah berkata: کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ
قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً کَثِیۡرَۃًۢ
بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- “Be-rapa banyak golongan yang sedikit telah mengalahkan
golongan yang banyak dengan izin Allah, وَ اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ -- dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Dan tatkala mereka maju untuk menghadapi
Jalut dan bala-tentaranya,
mereka berkata: رَبَّنَاۤ اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ
الۡکٰفِرِیۡنَ --
“Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah ketabahan atas kami, dan teguhkanlah
langkah-langkah kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:250-251).
Fungsi “Ujian” di Jalan Allah Swt.
Kekecualian
mengenai minum air
seciduk tangan itu mengandung dua tujuan:
(1) memberikan kepada pasukan
yang sedang berderap maju itu sedikit kelegaan
jasmani dengan mengizinkan mereka membasahi
kerongkongan mereka yang kekeringan,
tetapi di samping itu mencegah mereka dari minum
sebebasnya yang bisa mendinginkan
semangat mereka dan menjadikan mereka lengah
terhadap musuh.
(2) membuat cobaan itu lebih menggelitik perasaan, sebab acapkali terjadi lebih
mudah bagi seseorang untuk menjauhkan
diri sama sekali dari sesuatu daripada mencicipinya
dalam kadar terbatas sekali.
Mengenai ujian berupa “sungai”
yang dikemukakan Al-Quran tersebut lihat Bible,
Hakim-hakim 7:5-6. Kata nahar
(sungai) berarti pula “limpah-ruah”. Dalam pengertian tersebut ayat ini berarti
bahwa mereka akan diuji oleh “kelimpah-ruahan”, mereka yang menyerah kepada godaannya biasanya menjadi tidak mampu melaksanakan pekerjaan Allah Swt., tetapi
mereka yang menggunakannya dengan mengekang
hawa nafsu biasanya meraih kemenangan.
Ternyata hanya sedikit dari pasukan Thalut yang lulus
ujian melewati “sungai”
tersebut, namun demikian mereka itulah
yang benar-benar merupakan “waraq”
(daun-daun surga) yang digunakan Nabi Adam a.s. untuk menutupi
“aurat” jama’ah beliau yang
“terbuka” akibat tergoda oleh “bujuk-rayu syaitan” yang merangsang selera hawa-nafsu manusia (QS.3:15-16-18).
Berbagai “Syahwat” (Keinginan) yang Ditanamkan Allah
Swt. dalam Fitrat Manusia
Demikian juga halnya dengan bujukan
syaitan kepada Adam dan “istrinya”: وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ
الشَّجَرَۃِ -- dan ia (syaitan) berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali tidak melarang kamu berdua dari pohon ini اِلَّاۤ اَنۡ
تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ
الۡخٰلِدِیۡنَ --
melainkan agar kamu berdua jangan
menjadi malaikat atau menjadi di antara
orang-orang yang hidup kekal.” وَ قَاسَمَہُمَاۤ اِنِّیۡ
لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ -- Dan ia
bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang
yang memberi nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” (Al-A’raf [7]:21-22).
Berkenaan syahwat (keinginan) yang
ditanamkan Allah Swt. dalam fitrat manusia Dia berfirman:
زُیِّنَ
لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ
الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ
وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini
yaitu: perempuan-perempuan, dan
anak-anak,
dan kekayaan yang berlimpah berupa emas dan
perak, kuda
pilihan, binatang ternak dan sawah
ladang. ذٰلِکَ مَتَاعُ
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- Yang demikian itu adalah perlengkapan hidup di dunia,
وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ -- dan Allah,
di sisi-Nya-lah sebaik-baik tempat kembali. (Ali ‘Imran [3]:15).
Islam tidak
melarang mempergunakan atau mencari barang-barang
yang baik dari dunia ini, tetapi tentu saja Islam mencela mereka yang menyibukkan
diri dalam urusan duniawi dan
menjadikannya satu-satunya tujuan hidup
mereka, seakan-akan mereka akan hidup selamanya di dunia ini, seperti yang dilakukan Qarun -- seorang Bani Israil yang memilih berpihak kepada Fir’aun daripada kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. (QS.28:77-83).
Nampak dari Bible dan Al-Quran seperti Qarun
itulah karakter umumnya Bani Israil
(QS.2:88-90; QS.5:79-81), berikut firman
Allah Swt. mengenai orang-orang Yahudi
di zaman Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ
لَتَجِدَنَّہُمۡ اَحۡرَصَ النَّاسِ عَلٰی حَیٰوۃٍ
ۚۛ وَ مِنَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا
ۚۛ یَوَدُّ اَحَدُہُمۡ لَوۡ
یُعَمَّرُ اَلۡفَ سَنَۃٍ ۚ وَ مَا ہُوَ بِمُزَحۡزِحِہٖ مِنَ الۡعَذَابِ اَنۡ
یُّعَمَّرَ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِمَا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan niscaya engkau benar-benar akan mendapati mereka sebagai manusia paling tamak kepada kehidupan
dunia dan bahkan lebih daripada orang-orang musyrik, یَوَدُّ
اَحَدُہُمۡ لَوۡ یُعَمَّرُ اَلۡفَ سَنَۃٍ -- masing-masing mereka sangat menginginkan diberi umur seribu
tahun, وَ مَا ہُوَ بِمُزَحۡزِحِہٖ مِنَ الۡعَذَابِ اَنۡ
یُّعَمَّرَ -- padahal diberi umur selama itu tidak dapat menjauhkannya dari azab,
وَ اللّٰہُ
بَصِیۡرٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ -- dan Allah
Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqarah [2]:97).
Orang-orang
musyrik tidak begitu lekat ikatan
mereka kepada kehidupan di dunia ini dibanding orang-orang
Yahudi karena, sebab -- beda dari
kaum Yahudi -- orang-orang musyrik tidak
beriman kepada kehidupan sesudah mati
dan oleh karena itu tidak punya rasa
takut akan siksaan sesudah mati.
Menyambung ayat sebelumnya mengenai syahwat (keinginan) manusia (QS.3:15), selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
قُلۡ
اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ
رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ﴾
Katakanlah:
“Maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Rabb (Tuhan) mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai, خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا -- mereka kekal di dalamnya, dan jodoh-jodoh
suci serta keridhaan dari Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
(Ali
‘Imran [3]:16).
Syaitan yang Membujuk Adam dan Istrinya Adalah Manusia
Kembali kepada kisah
monumental “Adam – Malaikat – Iblis”, makhluk
yang dikemukakan oleh Al-Quran telah menolak
sujud kepada Adam a.s. disebut iblis (QS.7:12-19),
sedang makhluk yang menggodanya disebut syaitan
(QS.7:20-23). Perbedaan ini tidak hanya
nampak dalam ayat yang sedang ditafsirkan,
tetapi juga dalam semua ayat yang berhubungan dengan masalah itu dalam
seluruh Al-Quran.
Kenyataan
tersebut menunjukkan bahwa sejauh hal
yang menyangkut kisah ini syaitan dan iblis adalah dua pribadi yang berlainan. Pada
hakikatnya kata syaitan tidak
hanya digunakan terhadap ruh-ruh jahat
saja, tetapi juga terhadap manusia
yang disebabkan oleh watak jahat dan amal-amal buruk mereka seolah-olah mereka menjadi penjelmaan syaitan.
Syaitan yang menggoda atau membujuk Nabi Adam a.s. dan menyebabkan
beliau tergelincir itu bukan ruh jahat yang tidak nampak, melainkan manusia yang berdaging dan berdarah,
bersifat jahat, yaitu syaitan dari kalangan manusia, penjelmaan syaitan dan merupakan tangan-tangan iblis. Ia termasuk satu anggota
keluarga yang mengenai keluarga atau kaum tersebut Nabi Adam a.s. telah diperintahkan Allah Swt. supaya
jangan mendekati “pohon terlarang”.
Nabi
Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda bahwa nama orang itu Harits (Tirmidzi, bab tafsir), hal itu merupakan satu bukti lagi
bahwa syaitan yang memperdayai Nabi Adam a.s. dan
“istrinya” adalah seorang manusia dan bukan ruh
jahat, yang juga disebut syaitan
(QS.7:28). Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ اَلَمۡ
اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ
وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ
لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan keduanya diseru
oleh Rabb (Tuhan) mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari
mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu ber-dua bahwa sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al-A’rāf [7]:23).
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ
اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا
لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami
telah berlaku zalim terhadap diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A’rāf [7]:24).
“Pelanggaran” yang Dilakukan Nabi Adam a.s. Tidak Disengaja
Nabi Adam a.s. segera menyadari kekeliruan beliau lalu cepat-cepat kembali rujuk kepada Allah Swt., bertaubat.
Sesungguhnya kesalahan yang dilakukan Nabi Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa "manusia syaitan" itu bermaksud baik, sungguhpun Allah Swt.
sebelumnya telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang itu. Dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
فَوَسۡوَسَ اِلَیۡہِ الشَّیۡطٰنُ قَالَ یٰۤـاٰدَمُ ہَلۡ اَدُلُّکَ عَلٰی
شَجَرَۃِ الۡخُلۡدِ وَ مُلۡکٍ لَّا یَبۡلٰی ﴿﴾ فَاَکَلَا مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ
طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی اٰدَمُ
رَبَّہٗ فَغَوٰی ﴿﴾۪ۖ ثُمَّ اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ فَتَابَ عَلَیۡہِ وَ
ہَدٰی ﴿﴾
Maka syaitan
membisikkan waswas kepadanya. Ia berkata: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan
kepada engkau pohon kekekalan dan kerajaan
yang tidak akan binasa?" -- Maka
keduanya makan darinya, فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا -- lalu tampaklah bagi mereka berdua kelemahan-kelemahan
mereka, dan keduanya menutupi tubuh mereka dengan
daun-daun surga. Dan Adam
telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya) maka ia menderita. emudian Rabb-nya
(Tuhan-nya) memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberi
petunjuk. (Thā Hā [20]:121-123).
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya
bahwa di dunia ini tidak terdapat pohon yang disebut pohon khuld
(kekekalan). "Pohon" (syajarah)
seperti yang disebut di sini dan di tempat-tempat lain dalam Al-Quran adalah keluarga atau suku tertentu, dan Nabi Adam a.s. dinasihati agar menjauhkan
diri darinya karena anggota-anggota keluarga atau warga suku itu adalah musuh beliau.
Sebagai akibat penolakan Nabi Adam a.s.
terhadap ajakan-ajakan syaitan yang
sangat menggoda hawa-nafsu (syahwat)
manusia tersebut (QS.3:15), terjadilah perpecahan
di antara kaum beliau, sehingga menyebabkan beliau
sangat sedih dan cemas hati, dan
dalam upaya meredam “perselisihan” di kalangan kaumnya
tersebut – akibat kurang pengetahuan
mengenai keburukan syaitan yang penuh
tipu-daya -- beliau seakan-akan mengabaikan peringatan Allah Swt. sebelumnya (QS.7:20-26; QS.20:116-122), padahal sama sekali tidak ada niat
beliau untuk mendurhakai perintah
Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ
مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ وَ لَمۡ
نَجِدۡ لَہٗ عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan sungguh
Kami benar-benar telah membuat
perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak
mendapatkan padanya tekad untuk berbuat
dosa (Thā Hā [20]:116).
Pentingnya Memohon Penyempurnaan
Ilmu Kepada Allah Swt.
Ayat tersebut
menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam
a.s. hanyalah disebabkan oleh kekeliruan
dalam pertimbangan berkenaan “tipu-daya”
manusia syaitan yang sangat
“menggelincirkan” sehingga berhasil menimbulkan ketidak-taatan
dan perselisihan
di kalangan jama’ah beliau, yang secara kiasan
disebut “terbukanya aurat” keduanya.
Jadi, kekeliruan
yang dilakukan Adam a.s. tanpa disengaja dan sama sekali tidak
dengan suatu niat atau kehendak, karena manusia tidak luput
dari kesalahan. Hanya Allah Swt.
sajalah yang mengetahui yang gaib,
sedangkan manusia – termasuk para nabi
Allah – tidak mengetahui yang gaib,
kecuali jika diberitahu Allah Swt. melalui wahyu-Nya (QS.42:52-54; QS.72:27-29).
Dalam rangka memperingatkan manusia – terutama orang-orang yang beriman -- agar tidak mengalami “kekeliruan” yang pernah terjadi pada Nabi
Adam a.s. dan jama’ah beliau dalam
mensikapi “bujukan syaitan” yang penuh tipu-daya yang sangat menggelincirkan tersebut, Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ کَذٰلِکَ
اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ
صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ یُحۡدِثُ
لَہُمۡ ذِکۡرًا ﴿﴾ فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ
قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمًا ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ
فَنَسِیَ وَ لَمۡ
نَجِدۡ لَہٗ عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan demikianlah Kami
telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa
Arab dan Kami telah menerangkan
berulang-ulang di dalamnya berbagai
macam ancaman supaya mereka bertakwa
atau supaya perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ -- Maka Mahatinggi
Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ
بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ
-- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau,
وَ قُلۡ
رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah
kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thā Hā
[20]:114-115).
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda: "Carilah ilmu pengetahuan sekalipun mungkin
ditemukannya jauh di rantau Cina" (Shagir, jilid I). Di tempat lain dalam Al-Quran telah dilukiskan sebagai "karunia Allah yang sangat besar" (QS.2:270 & QS.4:114). Ilmu itu ada dua macam:
(1)
ilmu yang
dianugerahkan kepada manusia dengan perantaraan wahyu dan yang telah mencapai kesempurnaan
dalam wujud Al-Quran (QS.42:52-54;
QS.72:27-29).
(2)
ilmu yang
didapatkan oleh manusia dengan usaha
dan jerih-payahnya sendiri.
Ilmu jenis yang kedua --
karena diberikan secara umum sesuai dengan sifat Rahmaniyat Allah Swt.
-- sering kali menimbulkan ketakaburan pada pemiliknya, seperti
yang terjadi pada Qarun dan kaum-kaum
purbakala (QS.28:77-83; QS.39:50-53).
Bukan Merupakan Perbuatan
Dosa yang Patut Dihukum
Dalam firman-Nya tersebut Allah Swt. mengingatkan Nabi Besar Muhammad saw. bahwa “pelanggaran”
yang dilakukan Nabi Adam a.s. adalah
karena beliau salah-menafsirkan “bujukan” manusia
syaitan yang sangat meyakinkan tetapi penuh tipu-daya, hal itu terjadi akibat dari “tergesa-gesa dalam mengambil keputusan” dan karena kurangnya ilmu
(pengetahuan), firman-Nya: وَ لَا تَعۡجَلۡ
بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ
-- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau,
وَ قُلۡ
رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah
kepadaku ilmu pengetahuan.”
Namun demikian Allah Swt. tidak menganggap kekeliruan yang
dilakukan Nabi Adam a.s. sebagai suatu perbuatan dosa yang patut dihukum, karena
beliau sama sekali tidak bermaksud melakukan
pelanggaran secara sengaja terhadap perintah atau peringatan
Allah Swt. yang telah dipesankan kepada
beliau sebelumnya (QS.7:20-26), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ وَ
لَمۡ نَجِدۡ لَہٗ
عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan sungguh
Kami benar-benar telah membuat
perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak
mendapatkan padanya tekad untuk berbuat
dosa (Thā Hā [20]:116).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 22 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar