Rabu, 30 Maret 2016

Suku-suku Bangsa Liar Penghuni Wilayah Kanaan yang Ditakuti Bani Israil Penyebab Penolakkan Mereka Memasuki "Negeri yang Dijanjikan" Bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



   Suku-suku Bangsa Liar  Penghuni Wilayah “Kanaan”  yang   Ditakuti Bani Israil  Penyebab Penolakan Mereka Memasuki “Negeri yang Dijanjikan” Bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.    

Bab 10


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai     makna kata    ’Ifrit  dan   Tharf dalam firman-Nya:
قَالَ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَیُّکُمۡ یَاۡتِیۡنِیۡ بِعَرۡشِہَا قَبۡلَ  اَنۡ یَّاۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ  لَقَوِیٌّ  اَمِیۡنٌ ﴿﴾   قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ  عِلۡمٌ  مِّنَ  الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ طَرۡفُکَ ؕ فَلَمَّا رَاٰہُ  مُسۡتَقِرًّا عِنۡدَہٗ  قَالَ ہٰذَا مِنۡ فَضۡلِ رَبِّیۡ ۟ۖ لِیَبۡلُوَنِیۡۤ  ءَاَشۡکُرُ اَمۡ  اَکۡفُرُ ؕ وَ مَنۡ شَکَرَ فَاِنَّمَا یَشۡکُرُ  لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  کَفَرَ  فَاِنَّ رَبِّیۡ غَنِیٌّ  کَرِیۡمٌ ﴿﴾
Ia (Sulaiman) berkata: “Hai para pembesar, siapakah dari antara kamu akan membawa kepadaku singgasananya  sebelum mereka datang kepadaku ber-serah  diri?”   Seorang hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit)  dari kalangan  para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau, dan sesungguhnya atas itu aku memiliki  kekuatan lagi terpercaya.”  Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata:  “Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan kembali kepada engkau.” Maka tatkala ia, Sulaiman, melihatnya telah ada di hadapannya  ia berkata: “Ini adalah dari karunia Rabb-ku (Tuhan-ku) supaya Dia mengujiku apakah aku bersyukur ataukah tidak bersyukur. Dan barangsiapa yang bersyukur  maka sesungguhnya ia bersyukur untuk manfaat dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur maka sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Mahacukup, Mahamulia.”  (An-Naml [27]:39-41).
       Arti kata  ‘ifrit dalam ayat:  َالَ عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ  لَقَوِیٌّ  اَمِیۡنٌ  -- “Seorang hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit)  dari kalangan  para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau, dan sesungguhnya atas itu aku memiliki  kekuatan lagi terpercaya,”   berasal dari kata ‘afara yang berarti  “ia melemparkan dia ke tanah” atau “ia menghina dia”, yaitu suatu kata yang digunakan baik untuk manusia ataupun untuk jin, dan berarti: (1) seorang yang kuat dan gagah-perkasa; (2) tajam, gesit, dan efektif dalam menghadapi sesuatu urusan, melewati batas-batas biasa dalam urusan itu dengan kecerdasan dan kecerdikan; (3) seorang kepala, dan lain-lain (Lexicon Lane).
       Kata-kata itu menunjukkan bahwa ‘ifrit tersebut adalah seorang pembesar dalam kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang sangat tinggi kedudukannya serta mempunyai wewenang besar, dan karena itu sangat percaya   diri  untuk dapat melaksanakan perintah atasannya dengan memuaskan dalam batas waktu yang diberikan kepadanya.
     Kalimat maqāmika dalam ayat:  اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ   --  “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau”,   mengandung arti  tempat Nabi Sulaiman a.s.  berkemah dalam perjalanan beliau ke Saba dan beliau sedang menantikan duta beliau kembali dengan membawa jawaban atas surat yang beliau kirim kepada Ratu Saba.
    Kemudian mengenai  makna kata tharf  -- sehubungan kesanggupan yang dikemukakan pejabat yang lain --  dalam ayat  selanjutnya:  قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ  عِلۡمٌ  مِّنَ  الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ طَرۡفُکَ   -- “Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata:  “Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan   kembali kepada engkau,”   tharf berarti: sekilas pandang; seorang bangsawan; penghasilan pajak pemerintah; seorang utusan dari Yaman (Lexicon Lane).
     Ungkapan itu dapat diartikan: (1) “sebelum duta engkau dari Yaman kembali kepada engkau”; (2) “dalam sekejap mata”; (3) “sebelum pajak pendapatan pemerintah disetor kepada perbendaharaan negara”. Dalam arti yang tersebut belakangan (3) ungkapan itu akan berarti:  “Aku tidak perlu lagi uang; uang yang sudah ada dalam khazanah pemerintah sudah cukup memenuhi perongkosan mendirikan singgasana bagi Sang Ratu.”
      Ungkapan “yang mempunyai pengetahuan mengenai buku,” agaknya menunjuk kepada seseorang pejabat tinggi yang mengetahui seluk-beluk keuangan. Mungkin juga ia menteri keuangan Nabi Sulaiman a.s..

Pengerahan SDM (Sumber Daya Manusia) Untuk Membuat “Singgasana” Penyambutan Ratu Saba

    Dalam ayat  dan dalam ayat sebelumnya (An-Naml [27]:39-41), dua buah penawaran untuk menyiapkan pengadaan  singgasana bagi Nabi Sulaiman a.s. telah disebutkan, pertama diajukan oleh ifrit yang menyediakan diri untuk menyiapkan singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman a.s.   mengemasi kemah dan berangkat kembali; dan yang lainnya oleh “orang yang mempunyai pengetahuan  tentang buku.”  
     Walau pun kedua pejabat tersebut sama-sama menawarkan  dalam hal “kecepatan kerja” (pelaksanaan tugas), nampaknya pejabat yang disebut terakhir memberikan penawaran yang lebih baik untuk menyelesaikan pembuatan singgasana itu sebelum duta Nabi Sulaiman a.s.  kembali dengan jawaban atas surat beliau kepada Ratu Saba.
    Hubungan kalimat itu menunjukkan, bahwa Nabi Sulaiman a.s.  menerima penawaran yang kedua, sebab beliau menghendaki agar pembuatan  singgasana itu selesai sebelum Ratu Saba datang mengadakan kunjungan kehormatan kepada beliau dan beliau dapat tinggal di tempat itu sampai Ratu Saba datang dan seluruh upacara penyambutan selesai.
      Ayat   An-Naml [27]:39-41     mengandung arti juga bahwa segala macam orang dipekerjakan oleh Nabi Sulaiman a.s. — orang-orang yang berilmu-pengetahuan dan berpengalaman, pekerja-pekerja terampil dan buruh-buruh kasar, tukang-tukang dan ahli-ahli teknik, sehingga sangat wajar jika pembuatan singasana untuk menyambut kedatangan Ratu Saba tersebut cepat selesai.
      Mengisyaratkan kepada  pemanfaatan sepenuhnya seluruh SDM (sumber daya manusia) dan SDA (sumber daya alam) yang dianugerahkan  Allah Swt. kepada Nabi Daud a.s. dan nabi Sulaiman a.s.   itu pulalah  firman  Allah Swt. mengenai telah  makna “ditundukkan-Nya jin dan syaitan”  -- yakni bangsa-bangsa asing   -- oleh Allah Swt. kepada Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s., dimana  sebelumnya bangsa-bangsa  asing tersebut senantiasa menyerang Bani Israil  tetapi dapat ditaklukkan oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.  serta  berbagai keahlian mereka  dimanfaatkan   oleh kedua raja yang juga rasul Allah   (QS.2:247-253; QS.21:79-82), sebagaimana firman-Nya:
وَ دَاوٗدَ  وَ سُلَیۡمٰنَ  اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی الۡحَرۡثِ  اِذۡ  نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ  الۡقَوۡمِ ۚ وَ کُنَّا  لِحُکۡمِہِمۡ  شٰہِدِیۡنَ ﴿٭ۙ﴾  فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ کُلًّا  اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا ۫ وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾  وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ ﴿﴾  وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan ingatlah Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan keputusan mengenai suatu ladang, ketika kambing-kambing suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka.  Maka Kami memberikan pengertian  kepada Sulaiman, dan kepada masing-masing  Kami  berikan kebijaksanaan dan ilmu. وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ  --  Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud, وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ --  dan Kami-lah Yang mengerjakannya. وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ  --  Dan Kami mengajarinya  membuat baju besi  bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuran kamu, maka apakah kamu mau bersyukur?  وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ -- Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin itu bertiup atas perintahnya ke arah daerah yang telah Kami berkati di dalamnya.  Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ  --  Dan  kalangan   syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan  pekerjaan lain selain itu,  وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ --  dan Kami-lah yang menjaga  mereka. (Al-Anbiya [21]:79-83). Lihat pula    QS.34:13-15; QS.38:37-39.
      Dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya telah dipergunakan bahasa kiasan untuk menambah indahnya ungkapan. Al-harts dapat menunjuk kepada negeri asal Nabi Sulaiman a.s.  dan kata ghanam al-qaum kepada kabilah-kabilah tetangga yang buas dan suka merampok serta mengadakan serbuan-serbuan ke negeri Nabi Sulaiman a.s.. Itulah makna  ayat: وَ دَاوٗدَ  وَ سُلَیۡمٰنَ  اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی الۡحَرۡثِ  اِذۡ  نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ  الۡقَوۡمِ  -- “Dan ingatlah Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan keputusan mengenai suatu ladang, ketika kambing-kambing suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka.“

Dua Siasat yang Berbeda yang Dilakukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. Keduanya Mendapat Dukungan Allah Swt.

    Sebagaimana telah dijelaskan  bahwa isyarat itu tertuju kepada dua siasat (kebijakan) berbeda yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s.  dan Nabi Sulaiman a.s. dalam menanggulangi gangguan dari  kabilah-kabilah biadab yang  suka melakukan  perampokan tersebut.
      Nabi Daud a.s.  adalah seorang ahli perang ulung, dan oleh karena itu beliau memilih  menjalankan siasat keras, tetapi Nabi Sulaiman a.s. melakukan mengikuti siasat (kebijakan) yang lebih lunak lagi dalam upaya  menundukkan kabilah-kabilah itu antara lain dengan cara mengadakan perjanjian-perjanjian persahabatan dengan mereka.
      Siasat yang berbeda dari  Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. tersebut mirip dengan perbedaan  masalah hukum antara  ajaran Taurat yang  diwahyukan kepada Nabi Musa a.s. yang lebih menekankan kepada “hukum pembalasan” dengan ajaran Injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa Ibnu  Maryam a.s. yang lebih menekankan masalah “pemaafan” (pengampunan).
     Menurut Allah Swt.  yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. keduanya sesuai dengan  tuntutan situasi dan kondisi para masa penerintahan keduanya. Jadi, kata-kata:  وَ کُنَّا  لِحُکۡمِہِمۡ  شٰہِدِیۡنَ  -- dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka.  فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ  --  “Maka Kami memberikan pengertian  kepada Sulaiman,”    ayat itu mengandung arti  bahwa siasat lunak dan cari damai yang dijalankan oleh  Nabi Sulaiman a.s.  itu memang tepat dalam keadaan-keadaan pada saat itu, dan bahwa tuduhan yang dilancarkan terhadap beliau oleh beberapa pengarang Yahudi, bahwa Nabi Sulaiman a.s. mengikuti suatu siasat lemah yang mendatangkan keruntuhan wangsa beliau sekali-kali tidak mempunyai dasar yang sehat.
     Tetapi pembelaan Allah Swt.  mengenai siasat lunak yang dilakukan  Nabi Sulaiman a.s.  tidak boleh diberi arti bahwa siasat keras yang dijalankan oleh Nabi Daud a.s. dalam masa beliau sendiri adalah salah.   Suatu kesalah-pahaman yang menjurus kepada kesimpulan ini telah dihilangkan oleh anak kalimat:   وَ کُلًّا  اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا  -- dan kepada masing-masing  Kami  berikan kebijaksanaan dan ilmu.”   Anak kalimat itu memperjelas bahwa siasat-siasat yang dijalankan, baik oleh Nabi Daud a.s. maupun oleh Nabi Sulaiman a.s., itulah  kebijakan yang terbaik dalam keadaan itu dan paling cocok pada peristiwa yang khas itu.
      Kata-kata, وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ --  “Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud telah diberi arti harfiah, bahwa gunung-gunung dan burung-burung berada di bawah kekuasaan Nabi Daud a.s., dan ketika beliau mendendangkan sanjungan-sanjungan kepada Allah Swt. mereka benar-benar ikut-serta dengan beliau dalam amal saleh itu.
     Padahal kata-kata kiasan itu sesungguhnya hanya berarti bahwa orang-orang besar (aljibal) dan ruhaniawan-ruhaniawan yang bermartabat tinggi (ath-thair), memuliakan Allah Swt. dan mendendangkan sanjungan-sanjungan Ilahi bersama-sama dengan Nabi Daud a.s..
       Kata jibāl dapat pula berarti, “orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan,” sebab adakalanya nama suatu tempat dipakai juga untuk orang yang mendiaminya (QS.12:83). Jadi  bahwa “gunung” ditundukkan untuk berkhidmat kepada Nabi Daud a.s.  dapat mengandung arti  bahwa  dengan izin dan pertolongan Allah Swt. beliau menaklukkan dan menguasai kabilah-kabilah liar serta biadab yang mendiami daerah pegunungan.  Nabi Daud a.s. adalah  seorang penakluk agung dan pengendali suku-suku bangsa pegunungan yang buas itu.  Bible pun menunjuk kepada penundukan suku-suku pegunungan oleh Nabi Daud a.s.  (Samuel, bab 5).

Pengembangan Industri Milter di Zaman Pemerintahan Nabi Daud a.s.

   Dalam rangka melaksanakan penaklukan bangsa-bangsa liar  di wilayah pengunungan itulah   Allah Swt. telah berfirman  mengenai Nabi Daud a.s.:  وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ -- “Dan Kami mengajarinya  membuat baju besi  bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuran kamu, maka apakah kamu mau bersyukur?” (Al-Anbiya [21]:81). Dalam Surah lain ungkapan kiasan yang digunakan  mengenai industri militer  yang dikembangkan Nabi Daud a.s. dalam pemerintahannya adalah “besi dilunakkan” oleh Allah Swt., sehingga memungkinkan Nabi Daud a.s. mengembangkan industri militer guna menaklukkan kaum-kaum lainnya  yang sebelumnya selalu menyerang suku-suku Bani Israil, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ  مِنَّا فَضۡلًا ؕ یٰجِبَالُ اَوِّبِیۡ  مَعَہٗ  وَ الطَّیۡرَ ۚ وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ ﴿ۙ﴾  اَنِ اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ وَ اعۡمَلُوۡا صَالِحًا ؕ اِنِّیۡ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ  ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan karunia dari Kami kepada Daud  dan berfirman:  ”Hai  gunung-gunung  dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama dia.” وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ --    Dan Kami menjadikan besi lunak baginya.   Berfirman: “Buatlah baju rantai yang  cukup panjang serta ukurlah cincin-cincinnya secara tepat, dan berbuatlah amal saleh, sesungguhnya Aku melihat   apa pun yang kamu kerjakan.” (Sabā[34]:11-12).
    Ungkapan وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ  --  “Dan Kami menjadikan besi lunak baginya,” menunjukkan, bahwa teknik pembuatan alat-alat perang dari besi sudah sangat dikembangkan oleh Nabi Daud a.s.  dan beliau dengan mudah dapat memfaedahkannya untuk membuat baju-baju rantai (zirah) sebagaimana ditampakkan oleh ayat berikutnya.  
      Jadi, yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah kekuatan militer Nabi Daud a.s. dan tentang keahlian beliau yang besar dalam membuat alat-alat perang dan baju-baju besi. Nabi Daud a.s. menemukan serta mengembangkan berbagai macam, alat  senjata yang dengan mempergunakan alat-alat itu beliau memperoleh kemenangan-kemenangan besar atas kaum-kaum liar yang selama itu menyerang  suku-suku Bani Israil.  Di masa pemerintahan beliau kerajaan Bani Israil mencapai puncak kekuasaannya. Masa itu merupakan zaman keemasan dalam sejarah Bani Israil.
       Mengisyaratkan kepada suku-suku  biadab yang tinggal di daerah pegunungan di wilayah Kanaan     -- yakni  al-jibāl  (gununggunung) dan jin  --  itu pulalah yang ditakuti oleh Bani Israil,  ketika mereka menolak perintah Nabi Musa a.s. untuk memasuki negeri Kanaan (Palestina),  setelah mereka   keluar dari Mesir dengan menyebrangi lautan, firman-Nya:
یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ  کَتَبَ اللّٰہُ لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ ٭ۖ وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا ۚ فَاِنۡ  یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ ﴿﴾ 
Hai kaumku, masukilah Tanah yang disucikan  yang telah ditetapkan Allah bagi kamu,  dan janganlah kamu berbalik ke belakangmu lalu kamu kembali menjadi orang-orang yang rugi.” قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ  --   Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam, وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا  --   dan sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya  hingga mereka keluar sendiri darinya, فَاِنۡ  یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ --  lalu  jika mereka keluar darinya maka kami   akan memasukinya.”  (Al-Maidah [5]:22-23).
       Makna ucapan mereka dalam ayat:  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ  --   Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam,”  berarti bahwa riwayat kaum-kaum itu dikenal oleh bangsa Bani Israil, yakni bangsa Amaliki dan suku-suku bangsa Arab liar menghuni Tanah suci (Kanaan) pada zaman itu dan orang-orang Bani Israil sangat takut kepada mereka. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ  الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ  فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ  فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Dua orang laki-laki  dari antara mereka yang takut kepada Allah dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya berkata: “Masuklah melalui pintu gerbang mereka,  lalu apa-bila kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu  bertawakkal jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.”  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ --    Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami  tidak akan pernah memasuki negeri itu selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, lalu berperanglah engkau berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!”  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ --   Musa berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali terhadap diriku dan saudara laki-lakiku, maka bedakanlah antara kami dengan  kaum yang fasik itu.” قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka  sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka akan bertualang kebingungan di muka bumi maka janganlah engkau bersedih atas kaum yang fasik itu.” (Al-Maidah [5]:24-27).

“Dua Orang Laki-laki” Pemberani di Kalangan Bani Israil  &  Pengangkatan  Thalut  Sebagai Raja Bani Israil

      “Dua orang laki-laki” yang disebut di sini biasanya diduga adalah Yusak bin Nun dan Kaleb bin Yefuna (Bilangan 14:6). Akan tetapi, dari letak kalimat nampak lebih mendekati kemungkinan bahwa Nabi Musa a.s.   dan Nabi Harun a.s. yang dipanggil dengan kata-kata “dua orang laki-laki” di sini. Kata rajul (laki-laki) mencerminkan citra kejantanan dan keberanian.
    Bahwa kedua laki-laki yang gagah-berani  itu adalah Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sendiri, dapat pula ditarik kesimpulan dari kenyataan bahwa Nabi Musa a.s.   mendoa bagi beliau sendiri dan bagi saudara beliau, Harun a.s. (QS.5:26). Dalam ayat tersebut Allah Swt.  tidak menyebut nama-nama beliau melainkan hanya mengatakan “dua orang laki-laki” sebagai pujian atas keperwiraan dan keberanian kedua beliau dan dengan sendirinya mencela nyali kecil (kepengecutan) orang-orang Bani Israil lainnya yang menyertai Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s..
      Ketika orang-orang Bani Israil bertingkah bagai orang-orang pengecut, Allah Swt. menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun agar kehidupan keras padang pasir akan menempa mereka dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa baru dan akan memperkokoh moral mereka. Dalam masa itu generasi tua boleh dikatakan  telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan yang cukup untuk menaklukkan Tanah Yang Dijanjikan, sebagaimana yang dikemukakan dalam QS.2:247-252 mengenai perjuangan  Thalut.
     Mengenai “kaum-kaum” yang dikemukakan dalam ayat:    قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ -- “Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam,”   berarti bahwa riwayat kaum itu dikenal oleh  Bani Israil. Kaum-kaum itu adalah bangsa Amaliki (Amalek) dan suku-suku bangsa Arab liar yang menghuni  Kanaan  pada zaman itu, yang orang-orang Bani Israil sangat takut kepada mereka. Kaum-kaum yang liar itulah    -- yang   digambarkan sebagai Jalut dan balatentaranya --  pada zaman Thalut (Gideon)  dapat dikalahkan, tetapi Nabi Daud a.s.  berhasil ditaklukkan sepenuhnya, firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ  اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ اِذۡ  قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ  اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا ؕ قَالُوۡا وَ مَا لَنَاۤ  اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا ؕ فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ  بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ  اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا  اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ  اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اٰیَۃَ مُلۡکِہٖۤ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ التَّابُوۡتُ فِیۡہِ سَکِیۡنَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ بَقِیَّۃٌ   مِّمَّا تَرَکَ اٰلُ مُوۡسٰی وَ اٰلُ ہٰرُوۡنَ تَحۡمِلُہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾٪  فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوۡتُ بِالۡجُنُوۡدِ  ۙ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ بِنَہَرٍ ۚ فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ فَاِنَّہٗ مِنِّیۡۤ  اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ غُرۡفَۃًۢ بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ فَلَمَّا جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ  ۙ  کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ  اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ؕ فَہَزَمُوۡہُمۡ  بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak  melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: “Angkatlah bagi kami seorang raja, supaya kami dapat berperang di jalan Allah.” قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ  اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا  -- Ia berkata:  Mungkin saja kamu tidak akan berperang jika berperang itu diwajibkan atas kamu?”  قَالُوۡا وَ مَا لَنَاۤ  اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا  --Mereka berkata: “Mengapa kami tidak akan berperang  di jalan Allah padahal sungguh  kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?” فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ   --  Tetapi tatkala berperang ditetapkan atas mereka,  mereka berpaling  kecuali sedikit  dari mereka, وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ  بِالظّٰلِمِیۡنَ  --  dan Allah Maha Mengetahui orang-orang  yang zalim. وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ  اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا  --   Dan  nabi mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja bagi kamu.” قَالُوۡۤا  اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ   -- Mereka berkata:  “Bagaimana ia bisa memiliki  kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak memiliki kedaulatan  daripadanya, karena ia tidak pernah diberi harta yang berlimpah-ruah?”  قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ  اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ   --  Ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya sebagai raja atas kamu dan melebihkannya dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.”  وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Dan  Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اٰیَۃَ مُلۡکِہٖۤ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ التَّابُوۡتُ فِیۡہِ سَکِیۡنَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ بَقِیَّۃٌ   مِّمَّا تَرَکَ اٰلُ مُوۡسٰی وَ اٰلُ ہٰرُوۡنَ تَحۡمِلُہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ  --  Dan  nabi mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya tanda kedaulatannya ialah bahwa akan datang kepada kamu suatu Tabut, yang di dalamnya mengandung ketenteraman dari Rabb (Tuhan) kamu dan  pusaka  peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dipikul oleh malaikat-malaikat, sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda bagi kamu, jika kamu sungguh orang-orang yang  beriman.” فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوۡتُ بِالۡجُنُوۡدِ  ۙ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ بِنَہَرٍ ۚ فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ فَاِنَّہٗ مِنِّیۡۤ  اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ غُرۡفَۃًۢ بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ   ---  Maka tatkala Thalut berangkat dengan balatentaranya  ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan mencobai kamu dengan sebuah sungai, lalu barangsiapa  minum darinya maka ia bukan dariku, dan  barangsiapa tidak pernah mencicipinya maka sesungguhnya ia dariku, kecuali orang yang menciduk seciduk dengan tangannya.” Tetapi  mereka minum darinya kecuali sedikit dari mereka,  فَلَمَّا جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ -- lalu tatkala ia dan orang-orang yang beriman besertanya telah menyeberanginya mereka berkata: “Tidak ada kemampuan pada kami hari ini untuk menghadapi Jalut dan balatentaranya.” قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ    --  Tetapi  orang-orang yang meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan menemui Allah berkata:   کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ --  “Berapa banyak golongan yang sedikit  telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ  -- dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ  اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ  --   Dan tatkala mereka maju untuk menghadapi Jalut dan bala-tentaranya, mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami,  anugerahkanlah  ketabahan atas kami,  dan teguhkanlah langkah-langkah kami, dan  tolonglah kami terhadap kaum kafir.”  فَہَزَمُوۡہُمۡ  بِاِذۡنِ اللّٰہِ --  Maka mereka mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ  -- dan Dawud membunuh Jalut, dan  Allah memberinya kerajaan dan kebijaksanaan dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki.   وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ  --  Dan seandainya Allah tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan, tetapi Allah memiliki karunia atas seluruh alam.  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ --  Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan sesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari antara orang-orang yang diutus.  (Al-Baqarah [2]:247-253). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 28 Maret  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar