Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Berbagai Karya
Tulis Monumental Masih Mau’ud a.s. Dalam Bahasa Arab yang Sangat Fasih & Kesempurnaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa yang Diwahyukan Allah Swt. Mengungguli Bahasa-bahasa
Lainnya
Bab 5
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai pengutusan kedua kali
Nabi Besar Muhammad Saw. secara ruhani di Akhir
Zaman, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ
فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah
walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ -- Itulah karunia
Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Dan Allah
mempunyai karunia yang besar.” (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Makna ayat selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,” bahwa ajaran Nabi Besar Muhammad saw. ditujukan
bukan hanya kepada bangsa Arab belaka -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw.,
melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang
hingga Hari Kiamat.
Ayat selanjutnya وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,” ayat ini dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan dibangkitkan lagi di antara kaum Muslim yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw..
Isyarat di dalam ayat ini
dan di dalam hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang termasyhur, tertuju kepada
pengutusan beliau saw. untuk kedua
kali dalam wujud Masih Mau’ud a.s. di Akhir
Zaman ini. Sehubungan dengan ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,” Abu Hurairah r.a. berkata:
“Pada suatu hari kami sedang
duduk-duduk bersama Rasulullah saw. ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta
keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh
kata-kata Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang
belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi)
sedang duduk di antara kami. Setelah
saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan
tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang
Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Besar Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan
kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi. Dan Mirza
Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud
a.s. -- pendiri Jemaat Ahmadiyah -- adalah dari keturunan Parsi. Hadits Nabi Besar
Muhammad saw. lainnya:
Dari
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.; "Sudah hampir sampai suatu masa di mana tidak tinggal lagi dari Islam ini kecuali hanya namanya, dan tidak tinggal dari Al-Quran
itu kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka tersergam indah,
tetapi ia kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk yang ada di bawah
kolong (naungan) langit. Dari
mereka merebak fitnah dan kepada
mereka fitnah ini akan kembali". (Riwayat Baihaqi).
Jadi, Al-Quran dan hadits
kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi
Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini dalam wujud Masih
Mau’ud a.s..
Berbagai Karya Tulis Monumental Masih Mau’ud a.s. Dalam Bahasa Arab & Diajari Allah
Swt. 40.000 Akar kata Bahasa Arab
Dalam Semalam
Jadi, kembali kepada
ayat: وَ لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ -- Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah
seorang di antara orang yang
bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ -- lalu ia
membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ فِیۡ
قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu
dalam hati orang-orang yang
berdosa. (Asy-Syu’arā [26]:199-201).
Jika dalam kenyataannya Nabi Besar Muhammad saw. -- yang
walau pun beliau saw. benar-benar
bangsa Arab asli, tetapi
pendakwaan kenabian beliau
saw. mendapat penentangan keras dari
para pemuka kaum bangsa Arab pimpinan
Abu Jahal, maka terlebih lagi
pendakwaan Masih Mau’ud a.s. sebagai Rasul
Akhir Zaman yang ditugaskan Allah
Swt. untuk mewujudkan kejayaan Islam
yang kedua kali (S.61:10) di Akhir Zaman
ini pun mendapat penentangan keras yang sama seperti yang dialami Panutan beliau, Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya: کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah
Kami telah memasukkan hal itu dalam hati orang-orang yang berdosa. (Asy-Syu’arā
[26]:201).
Masih Mau’ud a.s. yang mendapat tugas suci dari Allah Swt. untuk
mewujudkan kejayaan Islam yang kedua
kali di Akhir Zaman ini atas
agama-agama lainnya (QS.61:10) beliau telah menulis buku lebih dari 84 macam buku tentang kesempurnaan
agama Islam (Al-Quran) yang merupakan khazanah-khazanah ruhani baru Al-Quran
yang dibukakan Allah Swt. kepada
beliau saw. (QS.72:27-29), sekitar 20
buah buku di antaranya ditulis dalam bahasa
Arab yang sangat fasih, yang bahkan melebihi kefasihan kemampuan berbahasa Arab bangsa Arab
yang paling cendekia sekali pun.
Di antara buku-buku berbahasa Arab karya Masih Mau’ud a.s. adalah mengenai tafsir
Surah Al-Fatihah dalam buku ‘Izāzul-Masīh
(Mukjizat Al-Masih), sebanyak 204 halaman, dimana beliau telah menantang para ahli Tafsir Al-Quran -- di
antaranya ‘ulama Mesir terkenal, Rasyid
Ridha -- untuk menulis tandingan tafsir Surah
Al-Fatihah karya beliau, dan hingga
saat ini tidak ada yang mampu menjawab
tantangan Masih Mau’ud a.s. tersebut, walau pun beliau telah menyediakan hadiah sebesar RS 10.000 bagi
siapa pun yang mau dan mampu menjawab tantangan
beliau tersebut.
Buku-buku
berbahasa Arab karya Masih Mau’ud a.s. lainnya adalah Karamatush Shadiqīn; Hamamatul-Busyra; Tuhfatu Baghdad; Khutbah Ilhamiyah, yang
merupakan penulisan dari khutbah Jum’ah
yang beliau lakukan langsung dalam bahasa
Arab yang diilhamkan Allah Swt.
kepada beliau.
Dalam buku beliau “Minan-ur-Rahmān”
sebanyak 120 halaman, Masih Mau’ud
a.s. membuktikan bahwa ibu
(induk) berbagai bahasa di dunia adalah bahasa
Arab, disertai contoh-contoh kata-kata
dalam berbagai bahasa tersebut yang
berasal dari bahasa Arab. Dalam buku tersebut beliau menulis bahwa Allah
Swt. telah mengajari beliau 40.000 akar
kata bahasa Arab hanya dalam satu
malam.
Dengan demikian pendakwaan
Masih Mau’ud a.s. sebagai Rasul
Akhir Zaman yang dibangkitkan di
kalangan umat Islam (QS.62:3-4)
menggenapi nubuatan dalam firman Allah Swt. sebelum ini: وَ لَوۡ
نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ -- Dan seandainya
Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا
کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ -- lalu
ia membacakannya kepada mereka,
mereka sekali-kali tidak akan beriman
kepadanya. کَذٰلِکَ
سَلَکۡنٰہُ فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah
Kami telah memasukkan hal itu dalam hati orang-orang yang berdosa. (Asy-Syu’arā
[26]:199-201), itulah sebabnya Allah
Swt. telah mengajari secara khusus kelengkapan
dan kefasihan
bahasa Arab kepada Masih Mau’ud a.s. agar menggenapi
firman Allah Swt. berikut ini:
وَ لَوۡ
جَعَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا
لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ
اٰیٰتُہٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ
ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa asing niscaya mereka berkata: لَوۡ
لَا فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ
شِفَآءٌ -- Apakah
patut Al-Quran dalam bahasa asing
sedang rasulnya orang Arab?”
Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang
yang beriman sebagai petunjuk
dan penyembuh.” وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ
فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی -- Dan
orang-orang yang tidak beriman dalam
telinga mereka ada sumbatan, dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. اُولٰٓئِکَ
یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Mereka
akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh. (Hā Mīm – As-Sajdah [41]:45).
Karakteristik Al-Quran
& Buku “Minan-ur-Rahmān”
Makna
kalimat: لَوۡ لَا
فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ -- ”Mengapa
Ayat-ayatnya tidak dijelaskan?”
bahwa dari seluruh bahasa yang
ada di dunia ini bahasa Arab adalah yang paling lengkap
dan sempurna dalam segala sesuatunya,
termasuk kelengkapan makna-makna akar-katanya. Mengenai hal tersebut selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi:
”Kitab
Suci Al-Quran adalah permata merah delima yang cemerlang dan matahari yang gemilang,
sehingga nur kebenaran serta kilatan yang mengindikasikan Sumber Ilahiah, tidak saja dikemukakan
dalam satu tetapi dalam ribuan aspek.
Tambah kuat usaha para lawan Islam
guna memadamkan nur Ilahi ini, tambah nyata manifestasinya dan tambah kuat daya-tariknya bagi kalbu
mereka yang berwawasan,
yang menyadari kecantikan dan keindahannya. Bahkan dalam zaman kegelapan seperti sekarang,
ketika para missionaris Kristen dan kaum Arya berlomba-lomba mencoba mengecilkan arti dan melecehkannya dimana -- karena kebutaan mata hati -- mereka itu
mencoba menyerang Nur tersebut
dengan segala cara yang hanya
mungkin keluar dari fikiran orang-orang fanatik dan bodoh, nyatanya Nur abadi itu tetap saja telah membuktikan
asalnya dari Tuhan.
Salah satu karakteristik agungnya
adalah pengakuan Kitab tersebut
tentang kandungan petunjuk dan sifat-sifatnya yang luhur dimana Kitab itu sendiri memberikan
bukti-bukti mengenai pengakuannya
itu. Karakteristik agung seperti ini
tidak dimiliki oleh Kitab-kitab Samawi lainnya.
Dari antara alasan dan bukti-bukti
yang dikemukakan sebagai tanda bahwa Kitab itu berasal dari Tuhan
dan memiliki keunggulan yang lebih, salah satunya adalah rincian pengungkapan sebagaimana yang
telah kami kompilasi (himpun) dalam buku ini.
Hal seperti itu hanya bisa merupakan produk dari Sumber mata air suci ibu segala bahasa
yang tampilannya bersinar seperti bintang-bintang atau seperti air yang memuaskan dahaga mereka yang mencari
pemahaman serta mengikis lumpur
keraguan dan kecurigaan. Tidak
ada dari Kitab-kitab Samawi
terdahulu yang mengemukakan bukti yang
sama guna mendukung kebenaran
dirinya.
Kalau Kitab Veda atau yang lainnya ada yang mampu memberikan bukti seperti itu, dipersilakan penganutnya mengemukakan bukti-bukti
itu dalam bahasa Kitab bersangkutan.
Tujuan dari pembuktian demikian adalah untuk menunjukkan bahwa penelitian
komparatif (menyeluruh) dari berbagai
bahasa akan menunjukkan bahwa semua
bahasa itu saling terkait satu
sama lain.
Penelitian
yang lebih mendalam mengukuhkan
pandangan bahwa induk dari segala bahasa yang saling berkait itu adalah bahasa
Arab, yang merupakan sumber asal semua bahasa-bahasa tersebut. Penelitian
yang sempurna dan komprehensif menunjukkan kalau sifat-sifatnya tersebut membawa kita
kepada pengakuan bahwa selain
merupakan induk dari segala bahasa, nyatanya juga [bahasa
Arab] merupakan bahasa yang diwahyukan Allah Swt. berdasar rencana-Nya yang khusus kepada manusia
pertama, atau dengan kata lain bukan
hasil ciptaan manusia semata.
Semua itu mengarah kepada konklusi
(kesimpulan) bahwa hanya bahasa Arab
yang tepat bagi wahyu Ilahi, karenanya adalah suatu kewajaran kalau Kitab Ilahi
yang diwahyukan sebagai petunjuk
bagi seluruh umat manusia adalah
juga dalam bahasa yang merupakan ibu segala bahasa lainnya, sehingga melalui cara itu lalu Kitab
tersebut akan membawa berkat
sebagaimana halnya dengan segala sesuatu
yang diwahyukan dan berasal dari Tangan Allah Yang Maha Kuasa.
Namun perlu diperhatikan, bahwa karena semua bahasa lain juga bukan merupakan ciptaan manusia secara sengaja, dan karena pengarahan Ilahi telah muncul dari bahasa yang suci (bahasa Arab) ini, dimana meskipun kemudian ada yang mengalami kerusakan tetapi
tetap saja merupakan keturunan dari bahasa induk, maka wajar pula jika petunjuk bagi suatu bangsa diwahyukan dalam bahasanya sendiri. Hanya saja dengan sendirinya maka Kitab yang paling sempurna dan luhur
harus diwahyukan dalam bahasa Arab karena bahasa ini adalah induk segala bahasa lain serta merupakan bahasa yang diwahyukan yang turun dari “Mulut”
Yang Maha Kuasa Sendiri.
Mengingat bukti demikian hanya dikemukakan oleh Al-Quran, dan hanya Kitab
ini yang mengklaim dirinya berasal dari Tuhan, sedangkan kitab
bahasa Arab lainnya tidak ada yang mengajukan klaim seperti itu, kami harus mengakui bahwa Al-Quran memang nyata berasal
dari Tuhan dan berfungsi sebagai penjaga atas Kitab-kitab Samawi lainnya. Karena itulah aku telah mengkompilasi (menyusun) buku ini agar, insya-Allah, aku bisa menegaskan saling keterkaitan antar bahasa, dan dari sana membuktikan kalau bahasa Arab itu merupakan ibu segala bahasa dan benar merupakan bahasa yang diwahyukan.
Setelah itu berdasarkan kekhasan bahwa bahasa
tersebut saja yang paling sempurna, suci dan diwahyukan, aku akan mengemukakan bukti-bukti nyata dan konklusif
bahwa dari sekian banyak Kitab Samawi,
hanya Al-Quran saja yang merupakan
yang tertinggi, paling luhur, terlengkap
dan Khātamal Kutub dimana
hanya Kitab ini saja yang dapat dianggap sebagai ibu atau induk segala Kitab
lainnya sebagaimana juga bahasa Arab
adalah induk segala bahasa.
Proyek penelitian ini harus melalui tiga
tahapan sebagai berikut: Tahapan pertama: Pembuktian bahwa semua bahasa
saling terkait. Tahapan kedua: Pembuktian
bahwa bahasa Arab adalah ibu segala bahasa. Tahapan ketiga: Pembuktian bahwa berdasar sifatnya yang luar biasa maka bahasa Arab adalah bahasa yang diwahyukan.
Sifat saling terkait antar bahasa
telah dikemukakan secara jelas dalam buku ini sehingga sulit membayangkan penelitian macam apa lagi yang
diperlukan. Masalah kedua, adalah bahwa dari
sekian banyak bahasa yang saling
berkait hanya bahasa Arab yang dapat dikatakan sebagai ibu segala bahasa, dimana bukti-buktinya
telah diberikan secara rinci. Dari hal itu kami
memastikan bahwa salah satu dari sifat-sifat
khas bahasa Arab adalah karena bahasa
ini memiliki pola alamiah dan
memperlihatkan keindahan ciri hasil
karya Ilahi sebagaimana halnya terdapat pada ciptaan Tuhan lainnya.
Kami juga telah mengungkapkan bahwa bahasa-bahasa lain merupakan gambaran bahasa Arab yang terdistorsi (tercampur-aduk). Sejauh mana bahasa yang diberkati ini masih terpelihara di dalam bahasa
lain dalam wujudnya yang benar,
menggambarkan setingkat itu juga keindahan
yang menarik hati dari bahasa
bersangkutan. Sebaliknya, sejauh mana suatu bahasa telah melenceng jauh maka setingkat itu pula kecantikan dan daya-tariknya
menjadi berkurang.
Adalah suatu kenyataan yang jelas bahwa sesuatu
yang berasal dari Tangan Tuhan akan tetap memperlihatkan karakteristik luar biasanya sepanjang
masih mempertahankan bentuk asalnya,
disamping bahwa manusia tidak akan
sanggup menciptakan padanannya.
Namun saat mulai meninggalkan kondisi
asalnya maka bentuk dan keindahannya
akan memudar.
Bahasa
Arab berfungsi mirip sebagai seorang
bijak yang berfikiran demikian
terinci dimana melalui bahasa
ini suatu pengertian dapat disampaikan dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, seorang yang cerdas bisa
menyampaikan pesan hanya dengan cara gerakan alis mata, hidung atau tangan tentang sesuatu
yang biasanya harus dijelaskan dalam
kata-kata, atau dengan kata lain ia
bisa menjelaskan sesuatu pengertian
melalui nuansa-nuansa yang halus.
Metoda
ini juga digunakan oleh bahasa Arab. Terkadang dengan
menggunakan satu kata saja bahasa
ini dapat menyampaikan suatu maksud
yang membutuhkan beberapa perkataan
dalam bahasa-bahasa lain. Tekanan pada pengucapan suatu huruf hidup
(vowel) terkadang mampu menyampaikan pesan, yang dalam bahasa lain memerlukan kalimat-kalimat panjang.
Beberapa kata
pendek bahkan bisa memiliki konotasi
yang amat dalam, seperti kata arazto yang mengandung arti: “Aku
telah mengunjungi Makkah dan Madinah serta daerah sekitarnya”, dan tahfalto yang berarti:
“Aku terbiasa makan roti dari
gandum murni dan tidak mau makan jenis lainnya.”
Salah satu karakteristik bahasa Arab ialah bahwa segala sifat yang terdapat dalam bahasa lainnya ada terangkum di dalam bahasa ini. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa mengingat bahasa Arab mengandung semua
sifat-sifat dari bahasa-bahasa
lainnya secara komprehensif
(lengkap), maka harus diakui kalau bahasa
lain itu merupakan cabang-cabang
dari bahasa Arab.
Ada beberapa orang yang berkeberatan atas pandangan di atas dan menyatakan bahwa jika benar satu bahasa dianggap sebagai akar dari semua bahasa lainnya, maka sulit mencerna dalam fikiran bahwa dalam
jangka waktu 3 atau 4000 tahun bahasa-bahasa yang muncul dari akar yang satu itu menjadi demikian beragam.
Keberatan ini berlandaskan falasi (kesalahpahaman) di atas falasi lainnya. Pertama, belum ada
kepastian yang tegas bahwa umur bumi
hanya berusia baru 4 atau 5000 tahun, dan bahwa langit dan bumi tidak
ada sebelumnya. Sebaliknya, ada indikasi
kuat bahwa bumi ini telah dihuni manusia sudah lama sekali[1]. Disamping itu jarak tempat dan waktu bukan satu-satunya
penyebab timbulnya keanekaan
dalam bahasa.
Salah satu penyebab dari perbedaan tersebut ialah karena setiap daerah di bumi amat mempengaruhi secara
khas tenggorokan, nada dan cara pengucapan penduduk di daerah
tersebut, sebagai akibat dari pengaruh
lintang dan bujur bumi,
kedekatannya dengan planet-planet
lain atau mungkin faktor lain yang
belum diketahui, dimana faktor-faktor
itu menghasilkan cara bicara yang spesifik. Itulah sebabnya ada beberapa bangsa yang tidak bisa mengucapkan huruf ‘z’ atau ‘r’
secara benar.
Karena warna kulit, rentang umur rata-rata, perilaku, akhlak dan kesehatan setiap bangsa berbeda dari satu
ke lain negeri, begitu jugalah bahasa
pun menjadi berbeda karena perbedaan-perbedaan tersebut, juga mempengaruhi
bahasa yang digunakan dimana tingkat
perbedaannya ditentukan oleh tingkat
penyebabnya.
Perbedaan
ini bukan suatu yang dipaksakan
tetapi ditentukan oleh norma-norma fisika. Dengan demikian setiap perubahan yang terjadi pada resam tubuh, perilaku, akhlak atau
pun cara berfikir manusia di bawah pengaruh kausa (sebab) langit atau bumi, akan juga mempengaruhi
cara bicara dan bahasanya.
Dalam hal ada perkataan bahasa asing
yang diserap masuk, pengucapannya
pun terkadang mengalami perubahan.
Semua itu menjadi bukti nyata bahwa cara
bicara manusia dipengaruhi oleh kausa-kausa
(sebab-sebab) bumi atau langit. Umat Yahudi dan Kristiani
mestinya mengakui bahwa bahasa Arab
adalah induk dari segala bahasa, karena Kitab Taurat secara tegas menyatakan
bahwa hanya ada satu bahasa pada awalnya.
Beberapa orang mengemukakan sanggahan bahwa hubungan beberapa bahasa
dengan bahasa Arab -- seperti
misalnya bahasa Iberani -- adalah lebih banyak
kemiripannya dibanding bahasa-bahasa
lain seperti Sanskerta dan bahasa-bahasa Eropa.
Jawaban atas hal itu ialah meskipun
terdapat perbedaan namun dapat
dipastikan bahwa kata-kata dasar dan
istilah-istilah bahasa tersebut
merupakan derivasi (perubahan) dari
bahasa Arab, yang kemudian berkembang
sejalan dengan perubahan-perubahan
alamiah.
Karakteristik Khusus Bahasa
Arab
Terdapat lima karakteristik khas bahasa
Arab yang membuktikan secara konklusif
kalau bahasa ini adalah bahasa yang diwahyukan, yang semuanya
akan kami uraikan secara rinci di tempatnya yang sesuai. Yang dimaksud dengan karakteristik itu adalah:
a. Bahasa
Arab memiliki pola akar kata
yang sempurna yang sejalan dengan kebutuhan manusia. Bahasa lain tidak memiliki pola ini.
b. Nama-nama
bagi Tuhan, benda-benda langit, flora, fauna, benda padat dan anggota tubuh
manusia dalam bahasa Arab mengandung makna kebijakan
yang dalam. Bahasa-bahasa lainnya
tidak ada yang mampu menandingi mengenai hal ini.
c. Sistem
kata-kata dasar dalam bahasa Arab
bersifat sempurna, yang terdiri dari
semua kata benda dan kata kerja dari akar yang sama.
Pengaturan kata-kata itu dalam pola yang baik akan menggambarkan saling keterkaitannya. Karakteristik seperti ini tidak dijumpai secara sempurna dalam bahasa-bahasa lainnya.
d. Langgam
(idiom) dalam bahasa Arab mengandung
pengertian yang amat luas. Bahasa Arab mampu menyampaikan konotasi yang ekstensif melalui penggunaan artikel
tertentu, tekanan pengucapan atau
pun urutannya, dimana bahasa lainnya harus menggunakan beberapa kalimat dan istilah guna mengemukakan hal
yang sama.
e. Bahasa
Arab memiliki akar kata dan langgam yang menjadi sarana sempurna untuk mengekspresikan pandangan dan renungan fikiran manusia yang paling halus sekali pun.
Karena kami telah memulai upaya guna membuktikan dan menggambarkan semua karakteristik bahasa Arab tersebut, perlu
kiranya hal itu dilakukan dalam bahasa
Arab juga dan dengan cara itu
bisa diberikan ilustrasi mengenai
hal ini dalam bahasa tersebut. Kalau
karena itu ada yang mengklaim bahwa
ada bahasa lain yang juga mengaku
sebagai bahasa yang diwahyukan atau
dianggap menjadi induk dari segala bahasa maka sepatutnya yang
bersangkutan mengemukakan pola
pandangannya dengan cara yang sama.
Jika kemudian kami terbukti telah
berdusta dalam pernyataan kami bahwa bahasa
Arab memiliki kelima karakteristik
khas tersebut, dimana ada cendekiawan
bahasa Sanskerta atau bahasa
lainnya dapat membuktikan kalau karakteristik itu juga terdapat di dalam bahasa mereka atau bahkan lebih baik dari bahasa Arab,
kami berjanji dengan sesungguhnya bahwa kami
akan segera memberinya hadiah sebesar 5000 rupees.
Apa yang kami minta dari para pembela bahasa-bahasa lainnya ialah
agar mereka mampu membuktikan kalau bahasa mereka juga mempunyai sifat-sifat sebagaimana yang telah
dijelaskan berkaitan dengan bahasa Arab.
Sebagai contoh, adalah merupakan persyaratan
bagi suatu bahasa yang dikatakan
sebagai diwahyukan dan ibu segala bahasa, untuk memiliki semua akar kata yang mampu mengalihkan fikiran manusia ke dalam kata-kata sedemikian rupa, sehingga
jika ada yang ingin menguraikan secara terinci
-- seperti misalnya tentang Ketauhidan
Ilahi dan polytheisme, hak-hak Allah dan hak manusia, akidah agama
dan alasan yang mendukung, kecintaan dan hubungan antar manusia, kebencian
dan dendam, puji-pujian dan nama-nama
suci Allah, penolakan akidah agama
palsu dan dongeng-dongeng, petunjuk dan ancaman penghukuman, akhirat,
pedagangan dan pertanian, astrologi dan
astronomi, fisika dan logika, pengobatan dan lain-lainnya -- maka akar
kata bahasa bersangkutan harus mampu membantunya
sedemikian rupa dimana setiap konsep
pemikiran ditopang oleh akar kata
yang sejalan. Dengan cara demikian
dapat ditegakkan keyakinan bahwa Wujud Yang Maha Sempurna yang telah menciptakan manusia, juga sejak awal telah menciptakan akar kata yang mampu mengekspresikan konsep-konsep pemikiran
manusia.
Fitrat
rasa keadilan akan mendorong kami harus mengakui jika karakteristik seperti
itu terdapat juga dalam suatu bahasa
selain bahasa Arab, yaitu mengandung
pola indah dari akar kata yang selaras dengan struktur
alamiah konsep pemikiran manusia serta mampu mengemukakan dalam kata-kata
ilustrasi dari setiap perbedaan
halus berbagai tindakan.
Bila ternyata akar katanya memang memadai
untuk memenuhi semua keperluan guna pengungkapan konsep-konsep pemikiran,
maka tidak diragukan lagi kalau bahasa
itu memang diwahyukan, karena yang
seperti itu hanya mungkin merupakan hasil
ciptaan Allah Swt., dimana setelah membekali
manusia dengan kapasitas
(kemampuan) untuk mengekspresikan dalam
kata-kata berbagai konsep yang kompleks maka sewajarnya juga Dia membekali
manusia dengan sarana akar kata
verbal yang selaras dengan konsep pemikirannya, dengan demikian
maka firman dan tindakan Allah Swt. akan saling
terkait secara selaras.
Hanya saja kapasitas pemanfaatan akar kata dalam suatu formasi khusus untuk pengungkapan
suatu konsep bukanlah suatu hal yang terdapat
merata dalam semua bahasa.
Banyak bahasa yang berkekurangan dalam hal ini dan terpaksa harus menggunakan kata-kata majemuk sebagai pengganti suatu kata dasar, dimana hal ini membuktikan
kalau kata majemuk itu baru tercipta saat diperlukan oleh mereka yang menggunakan
bahasa tersebut guna penyampaian ide
pemikiran mereka.
Karena itu, bahasa yang tidak memiliki
kekurangan terhadap kelemahan
demikian serta mempunyai kapasitas
untuk memenuhi kebutuhannya dengan akar kata dan kata dasarnya, dimana kata-katanya
sejalan dengan kinerja Tuhan --
yaitu kemampuan pengungkapan konsep
pemikiran pada tingkatnya yang sesuai -- tanpa diragukan lagi disebut sebagai bahasa yang diwahyukan selaras dengan fitrat Ilahiah.
Sejujurnya patut diakui, bahwa bahasa
yang berciri khas sebagai sesuatu
yang keluar dari Mulut Allah Yang Maha Kuasa dan
mempunyai sifat-sifat luar biasa
serta menjadi ibu segala bahasa,
adalah satu-satunya bahasa yang tepat bagi penyampaian wahyu yang paling
sempurna. Wahyu-wahyu lainnya
hanyalah merupakan cabang-cabang
dari wahyu induk tersebut
sebagaimana juga bahasa-bahasa lain
merupakan cabang-cabang dari bahasa induk tersebut.
Berdasarkan hal ini, nanti akan kami
jelaskan pernyataan bahwa hanya Al-Quran
saja yang mengandung wahyu hakiki
yang sempurna dan lengkap. Kami juga akan mengembangkan thesis bahwa dengan
mengakui bahasa Arab sebagai bahasa yang diwahyukan dan ibu dari segala bahasa, tidak saja kita harus mengakui bahwa Al-Quran
adalah firman Tuhan, tetapi juga hanya Al-Quran saja yang merupakan wahyu hakiki yang sempurna yang karenanya patut diberi nama Khātamal Kutub.” (Minanur
Rahmān, Manager Book Depot, Qadian, Talifo Ishaat, 1922, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. IX, hlm. 128-142, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 21 Maret 2016
[1] Menurut para ahli, umur bumi diperkirakan 5 milyar tahun (bahkan ada
yang menghitung 2 sampai 18 milyar tahun), dan mahluk hidup yang berjalan di
daratan baru muncul sekitar 500 juta tahun yang lalu sedangkan wujud manusia
seperti sekarang ini baru muncul sekitar 1 (satu) juta tahun yang lalu. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar