Rabu, 23 Maret 2016

Berbagai Karya Tulis Monumental Masih Mau'ud a.s. Dalam Bahasa Arab yang Sangat Fasih & Kesempurnaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa yang "Diwahyukan" Allah Swt. Mengungguli Bahasa-bahasa Lainnya



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



Berbagai Karya Tulis Monumental Masih Mau’ud a.s. Dalam Bahasa Arab yang Sangat Fasih &    Kesempurnaan Bahasa Arab  Sebagai Bahasa yang Diwahyukan Allah Swt. Mengungguli Bahasa-bahasa Lainnya  

Bab 5


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad Saw. secara ruhani di Akhir Zaman, firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksanaذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ --    Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  -- Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
   Makna ayat selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,”  bahwa  ajaran  Nabi Besar Muhammad saw.    ditujukan bukan hanya  kepada bangsa Arab belaka -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan  --  melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga Hari  Kiamat.  
   Ayat selanjutnya وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,”  ayat   ini dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. akan dibangkitkan lagi di antara kaum Muslim yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw..
   Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau saw. untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud a.s.  di Akhir Zaman ini.  Sehubungan dengan ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,”  Abu Hurairah  r.a. berkata:
Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.   ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.  Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
    Hadits Nabi  Besar Muhammad saw.  ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi. Dan   Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s.   --  pendiri Jemaat Ahmadiyah -- adalah dari keturunan Parsi. Hadits Nabi Besar Muhammad saw.  lainnya:
Dari Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.; "Sudah hampir sampai suatu masa di mana tidak tinggal lagi dari  Islam ini kecuali hanya namanya, dan tidak tinggal dari  Al-Quran itu kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka tersergam indah, tetapi ia kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk yang ada di bawah kolong (naungan) langit. Dari mereka merebak fitnah  dan kepada mereka fitnah ini akan kembali". (Riwayat Baihaqi).
   Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali  Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini  dalam wujud  Masih Mau’ud a.s..

Berbagai Karya Tulis Monumental Masih Mau’ud a.s. Dalam Bahasa Arab  & Diajari  Allah Swt. 40.000 Akar kata Bahasa Arab Dalam Semalam

   Jadi, kembali kepada ayat: وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ  --   Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ  --  lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ --   Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati  orang-orang yang berdosa. (Asy-Syu’arā [26]:199-201). 
   Jika dalam kenyataannya Nabi Besar Muhammad saw.   -- yang  walau pun beliau saw. benar-benar   bangsa  Arab asli,  tetapi  pendakwaan kenabian beliau saw. mendapat penentangan keras dari para pemuka kaum bangsa Arab pimpinan Abu Jahal, maka terlebih lagi pendakwaan   Masih Mau’ud a.s.  sebagai Rasul Akhir Zaman  yang ditugaskan Allah Swt. untuk mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali (S.61:10) di Akhir Zaman ini pun mendapat penentangan keras  yang sama seperti yang dialami Panutan beliau, Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:   کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ --   Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati  orang-orang yang berdosa. (Asy-Syu’arā [26]:201). 
   Masih Mau’ud a.s. yang mendapat tugas suci dari Allah Swt. untuk mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali  di Akhir Zaman ini  atas agama-agama lainnya (QS.61:10) beliau telah menulis buku  lebih dari 84 macam buku tentang kesempurnaan agama Islam (Al-Quran)  yang merupakan khazanah-khazanah ruhani baru Al-Quran yang dibukakan Allah Swt. kepada beliau saw. (QS.72:27-29), sekitar 20 buah buku di antaranya ditulis dalam bahasa Arab   yang sangat fasih, yang bahkan melebihi kefasihan kemampuan berbahasa  Arab bangsa Arab yang paling cendekia sekali pun.
  Di antara buku-buku berbahasa Arab karya  Masih Mau’ud a.s. adalah mengenai  tafsir Surah Al-Fatihah dalam buku ‘Izāzul-Masīh (Mukjizat Al-Masih), sebanyak 204 halaman, dimana beliau telah menantang para ahli Tafsir Al-Quran  -- di antaranya ‘ulama Mesir terkenal, Rasyid Ridha -- untuk  menulis tandingan  tafsir Surah Al-Fatihah  karya beliau, dan hingga saat ini tidak  ada yang mampu  menjawab tantangan Masih Mau’ud a.s. tersebut, walau pun beliau telah menyediakan hadiah  sebesar RS 10.000  bagi  siapa pun yang  mau dan mampu menjawab tantangan beliau tersebut.  
   Buku-buku berbahasa Arab karya Masih Mau’ud a.s. lainnya adalah Karamatush Shadiqīn;  Hamamatul-Busyra;  Tuhfatu Baghdad; Khutbah Ilhamiyah, yang merupakan penulisan dari khutbah Jum’ah yang beliau lakukan langsung dalam bahasa Arab yang diilhamkan Allah Swt. kepada beliau.
   Dalam buku beliau  “Minan-ur-Rahmān”  sebanyak 120 halaman,  Masih Mau’ud a.s. membuktikan bahwa ibu (induk)  berbagai bahasa di dunia adalah bahasa Arab, disertai contoh-contoh kata-kata dalam berbagai bahasa tersebut yang berasal dari bahasa Arab. Dalam buku tersebut beliau menulis bahwa Allah Swt. telah mengajari beliau 40.000 akar kata bahasa Arab hanya dalam satu malam.
  Dengan demikian  pendakwaan  Masih Mau’ud a.s.  sebagai Rasul Akhir Zaman yang dibangkitkan di kalangan umat Islam (QS.62:3-4) menggenapi nubuatan  dalam firman Allah Swt. sebelum ini: وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ  --   Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ  --  lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ --   Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati  orang-orang yang berdosa. (Asy-Syu’arā [26]:199-201),  itulah sebabnya   Allah Swt. telah mengajari secara khusus kelengkapan dan  kefasihan bahasa Arab  kepada Masih Mau’ud a.s.  agar menggenapi firman Allah Swt. berikut ini:
وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ ؕ  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya  Al-Quran dalam bahasa asing  niscaya mereka berkata:  لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ  -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ  -- Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.” وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی  --  Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh.  (Hā MīmAs-Sajdah [41]:45).

Karakteristik Al-Quran & Buku “Minan-ur-Rahmān

       Makna kalimat: لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ  -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan?”   bahwa dari seluruh bahasa yang ada di dunia ini   bahasa Arab adalah yang paling lengkap dan sempurna dalam segala sesuatunya, termasuk  kelengkapan makna-makna  akar-katanya. Mengenai hal tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi:
      ”Kitab Suci Al-Quran adalah permata merah delima yang cemerlang dan matahari yang gemilang, sehingga nur kebenaran serta kilatan yang mengindikasikan Sumber Ilahiah, tidak saja dikemukakan dalam satu tetapi dalam ribuan aspek.
      Tambah kuat usaha para lawan Islam guna memadamkan nur Ilahi ini, tambah nyata manifestasinya dan tambah kuat daya-tariknya bagi kalbu  mereka yang berwawasan, yang menyadari kecantikan dan keindahannya. Bahkan dalam zaman kegelapan seperti sekarang, ketika para missionaris Kristen dan kaum Arya berlomba-lomba mencoba mengecilkan arti dan melecehkannya dimana -- karena kebutaan mata hati -- mereka itu mencoba menyerang Nur tersebut dengan segala cara yang hanya mungkin keluar dari fikiran orang-orang fanatik dan bodoh, nyatanya Nur abadi itu tetap saja telah membuktikan asalnya dari Tuhan.
       Salah satu karakteristik agungnya adalah pengakuan Kitab tersebut tentang kandungan petunjuk dan sifat-sifatnya yang luhur dimana Kitab itu sendiri memberikan bukti-bukti mengenai pengakuannya itu. Karakteristik agung seperti ini tidak dimiliki oleh Kitab-kitab Samawi lainnya.
       Dari antara alasan dan bukti-bukti yang dikemukakan sebagai  tanda bahwa Kitab itu berasal dari Tuhan dan memiliki keunggulan yang lebih, salah satunya adalah rincian pengungkapan sebagaimana yang telah kami kompilasi (himpun) dalam buku ini.
      Hal seperti itu hanya bisa merupakan produk dari Sumber mata air suci ibu segala bahasa yang tampilannya bersinar seperti bintang-bintang atau seperti air yang memuaskan dahaga mereka yang mencari pemahaman serta mengikis lumpur keraguan dan kecurigaan. Tidak ada dari Kitab-kitab Samawi terdahulu yang mengemukakan bukti yang sama guna mendukung kebenaran dirinya.
       Kalau Kitab Veda atau yang lainnya ada yang mampu memberikan bukti seperti itu, dipersilakan penganutnya mengemukakan bukti-bukti itu dalam bahasa Kitab bersangkutan. Tujuan dari pembuktian demikian adalah untuk menunjukkan bahwa penelitian komparatif (menyeluruh) dari berbagai bahasa akan menunjukkan bahwa semua bahasa itu saling terkait satu sama lain.
      Penelitian yang lebih mendalam mengukuhkan pandangan bahwa induk dari segala bahasa yang saling berkait itu adalah bahasa Arab,  yang merupakan sumber asal semua bahasa-bahasa tersebut. Penelitian yang sempurna dan komprehensif menunjukkan kalau sifat-sifatnya tersebut membawa kita kepada pengakuan bahwa selain merupakan induk dari segala bahasa, nyatanya juga [bahasa Arab] merupakan bahasa yang diwahyukan Allah Swt. berdasar rencana-Nya yang khusus kepada manusia pertama, atau dengan kata lain bukan hasil ciptaan manusia semata.
     Semua itu mengarah kepada konklusi (kesimpulan) bahwa hanya bahasa Arab yang tepat bagi wahyu Ilahi, karenanya adalah suatu kewajaran kalau Kitab Ilahi yang diwahyukan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia adalah juga dalam bahasa yang merupakan ibu segala bahasa lainnya,  sehingga melalui cara itu lalu Kitab tersebut akan membawa berkat sebagaimana halnya dengan segala sesuatu yang diwahyukan dan berasal dari Tangan Allah Yang Maha Kuasa.
      Namun perlu diperhatikan,  bahwa karena semua bahasa lain juga bukan merupakan ciptaan manusia secara sengaja,  dan karena pengarahan Ilahi telah muncul dari bahasa yang suci (bahasa Arab) ini, dimana meskipun kemudian ada yang mengalami kerusakan tetapi tetap saja merupakan keturunan dari bahasa induk, maka wajar pula jika petunjuk bagi suatu bangsa diwahyukan dalam bahasanya sendiri. Hanya saja dengan sendirinya maka Kitab yang paling sempurna dan luhur harus diwahyukan dalam bahasa Arab karena bahasa ini adalah induk segala bahasa lain serta merupakan bahasa yang diwahyukan yang turun dari “Mulut” Yang Maha Kuasa Sendiri.
      Mengingat bukti demikian hanya dikemukakan oleh Al-Quran, dan hanya Kitab ini yang mengklaim dirinya berasal dari Tuhan, sedangkan kitab bahasa Arab lainnya tidak ada yang mengajukan klaim seperti itu, kami harus mengakui bahwa Al-Quran memang nyata berasal dari Tuhan dan berfungsi sebagai penjaga atas Kitab-kitab Samawi lainnya. Karena itulah aku telah mengkompilasi (menyusun) buku ini agar,  insya-Allah, aku bisa menegaskan saling keterkaitan antar bahasa,  dan dari sana membuktikan kalau bahasa Arab itu merupakan ibu segala bahasa dan benar merupakan bahasa yang diwahyukan.
      Setelah itu berdasarkan kekhasan bahwa bahasa tersebut saja yang paling sempurna, suci dan diwahyukan, aku akan mengemukakan bukti-bukti nyata dan konklusif bahwa dari sekian banyak Kitab Samawi, hanya Al-Quran saja yang merupakan yang tertinggi, paling luhur, terlengkap dan Khātamal Kutub dimana hanya Kitab ini saja yang dapat dianggap sebagai ibu atau induk segala Kitab lainnya sebagaimana juga bahasa Arab adalah induk segala bahasa.
      Proyek penelitian ini harus melalui tiga tahapan sebagai berikut: Tahapan pertama: Pembuktian bahwa semua bahasa saling terkait. Tahapan kedua: Pembuktian bahwa bahasa Arab adalah ibu segala bahasa. Tahapan ketiga: Pembuktian bahwa berdasar sifatnya yang luar biasa maka bahasa Arab adalah bahasa yang diwahyukan.
       Sifat saling terkait antar bahasa telah dikemukakan secara jelas dalam buku ini sehingga sulit membayangkan penelitian macam apa lagi yang diperlukan. Masalah kedua, adalah bahwa dari sekian banyak bahasa yang saling berkait  hanya bahasa Arab yang dapat dikatakan sebagai ibu segala bahasa, dimana bukti-buktinya telah diberikan secara rinci. Dari hal itu kami memastikan bahwa salah satu dari sifat-sifat khas bahasa Arab adalah karena bahasa ini memiliki pola alamiah dan memperlihatkan keindahan ciri hasil karya Ilahi sebagaimana halnya terdapat pada ciptaan Tuhan lainnya.
      Kami juga telah mengungkapkan bahwa bahasa-bahasa lain merupakan gambaran bahasa Arab yang terdistorsi (tercampur-aduk). Sejauh mana bahasa yang diberkati ini masih terpelihara di dalam bahasa lain dalam wujudnya yang benar, menggambarkan setingkat itu juga keindahan yang menarik hati dari bahasa bersangkutan.  Sebaliknya, sejauh mana suatu bahasa telah melenceng jauh maka setingkat itu pula kecantikan dan daya-tariknya menjadi berkurang.
      Adalah suatu kenyataan yang jelas bahwa sesuatu yang berasal dari Tangan Tuhan akan tetap memperlihatkan karakteristik luar biasanya sepanjang masih mempertahankan bentuk asalnya, disamping bahwa manusia tidak akan sanggup menciptakan padanannya. Namun saat mulai meninggalkan kondisi asalnya  maka bentuk dan keindahannya akan memudar.
      Bahasa Arab berfungsi mirip sebagai seorang bijak yang berfikiran demikian terinci dimana melalui bahasa ini suatu pengertian dapat disampaikan dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, seorang yang cerdas bisa menyampaikan pesan hanya dengan cara gerakan alis mata, hidung atau tangan tentang sesuatu yang biasanya harus dijelaskan dalam kata-kata, atau dengan kata lain ia bisa menjelaskan sesuatu pengertian melalui nuansa-nuansa yang halus.
    Metoda ini juga digunakan oleh bahasa Arab. Terkadang dengan menggunakan satu kata saja  bahasa ini dapat menyampaikan suatu maksud yang membutuhkan beberapa perkataan dalam bahasa-bahasa lain. Tekanan pada pengucapan suatu huruf hidup (vowel) terkadang mampu menyampaikan pesan, yang dalam bahasa lain memerlukan kalimat-kalimat panjang.
     Beberapa kata pendek bahkan bisa memiliki konotasi yang amat dalam, seperti kata  arazto  yang mengandung arti:  “Aku telah mengunjungi Makkah dan Madinah serta daerah sekitarnya”, dan  tahfalto  yang berarti:  “Aku terbiasa makan roti dari gandum murni dan tidak mau makan jenis lainnya.”
      Salah satu karakteristik bahasa Arab ialah bahwa segala sifat yang terdapat dalam bahasa lainnya ada terangkum di dalam bahasa ini. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa mengingat bahasa Arab mengandung semua sifat-sifat dari bahasa-bahasa lainnya secara komprehensif (lengkap), maka harus diakui kalau bahasa lain itu merupakan cabang-cabang dari bahasa Arab.
     Ada beberapa orang yang berkeberatan atas pandangan di atas dan menyatakan bahwa jika benar satu bahasa dianggap sebagai akar dari semua bahasa lainnya, maka sulit mencerna dalam fikiran bahwa dalam jangka waktu 3 atau 4000 tahun  bahasa-bahasa yang muncul dari akar yang satu itu menjadi demikian beragam.
      Keberatan ini berlandaskan falasi (kesalahpahaman) di atas falasi lainnya. Pertama, belum ada kepastian yang tegas bahwa umur bumi hanya berusia baru 4 atau 5000 tahun, dan bahwa langit dan bumi tidak ada sebelumnya. Sebaliknya, ada indikasi kuat bahwa bumi ini telah dihuni manusia sudah lama sekali[1]. Disamping itu jarak tempat dan waktu bukan satu-satunya penyebab timbulnya keanekaan dalam bahasa.
      Salah satu penyebab dari perbedaan tersebut ialah karena setiap daerah di bumi amat mempengaruhi secara khas tenggorokan, nada dan cara pengucapan penduduk di daerah tersebut, sebagai akibat dari pengaruh lintang dan bujur bumi, kedekatannya dengan planet-planet lain atau mungkin faktor lain yang belum diketahui, dimana faktor-faktor itu menghasilkan cara bicara yang spesifik. Itulah sebabnya ada beberapa bangsa yang tidak bisa  mengucapkan huruf ‘z’ atau ‘r’ secara benar.
       Karena warna kulit, rentang umur rata-rata, perilaku, akhlak dan kesehatan setiap bangsa berbeda dari satu ke lain negeri, begitu jugalah bahasa pun menjadi berbeda karena perbedaan-perbedaan tersebut,  juga mempengaruhi bahasa yang digunakan dimana tingkat perbedaannya ditentukan oleh tingkat penyebabnya.
      Perbedaan ini bukan suatu yang dipaksakan tetapi ditentukan oleh norma-norma fisika. Dengan demikian setiap perubahan yang terjadi pada resam tubuh, perilaku, akhlak atau pun cara berfikir manusia di bawah pengaruh kausa (sebab) langit atau bumi, akan juga mempengaruhi cara bicara dan bahasanya.
       Dalam hal ada perkataan bahasa asing yang diserap masuk, pengucapannya pun terkadang mengalami perubahan. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa cara bicara manusia dipengaruhi oleh kausa-kausa (sebab-sebab) bumi atau langit. Umat Yahudi dan Kristiani mestinya mengakui bahwa bahasa Arab adalah induk dari segala bahasa, karena Kitab Taurat secara tegas menyatakan bahwa hanya ada satu bahasa pada awalnya.
      Beberapa orang mengemukakan sanggahan bahwa hubungan beberapa bahasa dengan bahasa Arab -- seperti misalnya bahasa Iberani -- adalah lebih banyak kemiripannya dibanding bahasa-bahasa lain seperti Sanskerta dan bahasa-bahasa Eropa.
      Jawaban atas hal itu ialah meskipun terdapat perbedaan namun dapat dipastikan bahwa kata-kata dasar dan istilah-istilah bahasa tersebut merupakan derivasi (perubahan) dari bahasa Arab, yang kemudian berkembang sejalan dengan perubahan-perubahan alamiah.

Karakteristik Khusus Bahasa Arab

     Terdapat lima karakteristik khas   bahasa Arab yang membuktikan secara konklusif kalau bahasa ini adalah bahasa yang diwahyukan, yang semuanya akan kami uraikan secara rinci di tempatnya yang sesuai. Yang dimaksud dengan karakteristik itu adalah:
      a. Bahasa Arab memiliki pola akar kata yang sempurna yang sejalan dengan kebutuhan manusia. Bahasa lain tidak memiliki pola ini.
      b. Nama-nama bagi Tuhan, benda-benda langit, flora, fauna, benda padat dan anggota tubuh manusia dalam bahasa Arab mengandung makna kebijakan yang dalam. Bahasa-bahasa lainnya tidak ada yang mampu menandingi mengenai hal ini.
      c. Sistem kata-kata dasar dalam bahasa Arab bersifat sempurna, yang terdiri dari semua kata benda dan kata kerja dari akar yang sama. Pengaturan kata-kata itu dalam pola yang baik akan menggambarkan saling keterkaitannya. Karakteristik seperti ini tidak dijumpai secara sempurna dalam bahasa-bahasa lainnya.
      d. Langgam (idiom) dalam bahasa Arab mengandung pengertian yang amat luas. Bahasa Arab mampu menyampaikan konotasi yang ekstensif melalui penggunaan artikel tertentu, tekanan pengucapan atau pun urutannya, dimana bahasa lainnya harus menggunakan beberapa kalimat dan istilah guna mengemukakan hal yang sama.
       e. Bahasa Arab memiliki akar kata dan langgam yang menjadi sarana sempurna untuk mengekspresikan pandangan dan renungan fikiran manusia yang paling halus sekali pun.
       Karena kami telah memulai upaya guna membuktikan dan menggambarkan semua karakteristik bahasa Arab tersebut, perlu kiranya hal itu dilakukan dalam bahasa Arab juga dan dengan cara itu bisa diberikan ilustrasi mengenai hal ini dalam bahasa tersebut. Kalau karena itu ada yang mengklaim bahwa ada bahasa lain yang juga mengaku sebagai bahasa yang diwahyukan atau dianggap menjadi induk dari segala bahasa maka sepatutnya yang bersangkutan mengemukakan pola pandangannya dengan cara yang sama.
       Jika kemudian kami terbukti telah berdusta dalam pernyataan kami bahwa bahasa Arab memiliki kelima karakteristik khas tersebut, dimana ada cendekiawan bahasa Sanskerta atau bahasa lainnya dapat membuktikan kalau karakteristik itu juga terdapat di dalam bahasa mereka atau bahkan lebih baik dari bahasa Arab, kami berjanji dengan sesungguhnya bahwa kami akan segera memberinya hadiah sebesar 5000  rupees.
       Apa yang kami minta dari para pembela bahasa-bahasa lainnya ialah agar mereka mampu membuktikan kalau bahasa mereka juga mempunyai sifat-sifat sebagaimana yang telah dijelaskan berkaitan dengan bahasa Arab. Sebagai contoh, adalah merupakan persyaratan bagi suatu bahasa yang dikatakan sebagai diwahyukan dan ibu segala bahasa, untuk memiliki semua akar kata yang mampu mengalihkan fikiran manusia ke dalam kata-kata sedemikian rupa, sehingga jika ada yang ingin menguraikan secara terinci  -- seperti misalnya tentang Ketauhidan Ilahi dan polytheisme, hak-hak Allah dan hak manusia, akidah agama dan alasan yang mendukung, kecintaan dan hubungan antar manusia, kebencian dan dendam, puji-pujian dan nama-nama suci Allah, penolakan akidah agama palsu dan dongeng-dongeng, petunjuk dan ancaman penghukuman, akhirat, pedagangan dan pertanian, astrologi dan astronomi, fisika dan logika, pengobatan dan lain-lainnya --  maka akar kata bahasa bersangkutan harus mampu membantunya sedemikian rupa dimana setiap konsep pemikiran ditopang oleh akar kata yang sejalan. Dengan cara demikian dapat ditegakkan keyakinan bahwa Wujud Yang Maha Sempurna yang telah menciptakan manusia, juga sejak awal telah menciptakan akar kata yang mampu mengekspresikan konsep-konsep pemikiran manusia.
     Fitrat rasa keadilan akan mendorong kami harus mengakui jika karakteristik seperti itu terdapat juga dalam suatu bahasa selain bahasa Arab, yaitu mengandung pola indah dari akar kata yang selaras dengan struktur alamiah konsep pemikiran manusia serta mampu mengemukakan dalam kata-kata  ilustrasi dari setiap perbedaan halus berbagai tindakan.
      Bila ternyata akar katanya memang memadai untuk memenuhi semua keperluan guna pengungkapan konsep-konsep pemikiran, maka tidak diragukan lagi kalau bahasa itu memang diwahyukan, karena yang seperti itu hanya mungkin merupakan hasil ciptaan Allah Swt., dimana setelah membekali manusia dengan kapasitas (kemampuan) untuk mengekspresikan dalam kata-kata berbagai konsep yang kompleks maka sewajarnya juga Dia membekali manusia dengan sarana akar kata verbal yang selaras dengan konsep pemikirannya, dengan demikian maka firman dan tindakan Allah Swt. akan saling terkait secara selaras.
      Hanya saja kapasitas pemanfaatan akar kata dalam suatu formasi khusus untuk pengungkapan suatu konsep bukanlah suatu hal yang terdapat merata dalam semua bahasa. Banyak bahasa yang berkekurangan dalam hal ini dan terpaksa harus menggunakan kata-kata majemuk sebagai pengganti suatu kata dasar, dimana hal ini membuktikan kalau kata majemuk itu baru tercipta saat diperlukan oleh mereka yang menggunakan bahasa tersebut guna penyampaian ide pemikiran mereka.
      Karena itu, bahasa yang tidak memiliki kekurangan terhadap kelemahan demikian serta mempunyai kapasitas untuk memenuhi kebutuhannya dengan akar kata dan kata dasarnya,  dimana kata-katanya sejalan dengan kinerja Tuhan -- yaitu kemampuan pengungkapan konsep pemikiran pada tingkatnya yang sesuai --  tanpa diragukan lagi disebut sebagai bahasa yang diwahyukan selaras dengan fitrat Ilahiah.
       Sejujurnya patut diakui,  bahwa bahasa yang berciri khas sebagai sesuatu yang keluar dari Mulut Allah Yang Maha Kuasa dan mempunyai sifat-sifat luar biasa serta menjadi ibu segala bahasa, adalah satu-satunya bahasa yang tepat bagi penyampaian wahyu yang paling sempurna. Wahyu-wahyu lainnya hanyalah merupakan cabang-cabang dari wahyu induk tersebut sebagaimana juga bahasa-bahasa lain merupakan cabang-cabang dari bahasa induk tersebut.
       Berdasarkan hal ini, nanti akan kami jelaskan pernyataan bahwa hanya Al-Quran saja yang mengandung wahyu hakiki yang sempurna dan lengkap. Kami juga akan mengembangkan thesis bahwa dengan mengakui bahasa Arab sebagai bahasa yang diwahyukan dan ibu dari segala bahasa, tidak saja kita harus mengakui bahwa Al-Quran adalah firman Tuhan, tetapi juga hanya Al-Quran saja yang merupakan wahyu hakiki yang sempurna yang karenanya patut diberi nama Khātamal Kutub.” (Minanur Rahmān, Manager Book Depot, Qadian, Talifo Ishaat, 1922, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm.  128-142, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 21 Maret  2016



[1] Menurut para ahli, umur bumi diperkirakan 5 milyar tahun (bahkan ada yang menghitung 2 sampai 18 milyar tahun), dan mahluk hidup yang berjalan di daratan baru muncul sekitar 500 juta tahun yang lalu sedangkan wujud manusia seperti sekarang ini baru muncul sekitar 1 (satu) juta tahun yang lalu. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar