Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Sabda Nabi Besar Muhammad Saw. Tentang “Hikmah” yang Hilang Milik Orang-orang
Beriman & Berbagai Keunggulan Bahasa Arab Dalam Buku “Minan-ur-Rahmaan” Karya Masih Mau’ud a.s.
Bab 2
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai sabda Nabi
Besar Muhammad saw. tentang bahasa Arab:
“Cintailah
bangsa Arab karena aku adalah bangsa Arab, Al-Quran diwahyukan
dalam bahasa Arab dan bahasa dalam surga adalah bahasa Arab”
(HR.Hakim; Thabrani; Baihaqi).
Sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa “bahasa Arab adalah bahasa para penghuni surga”
mengandung berbagai makna serta hikmah yang sangat dalam, karena itu sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut jangan
diartikan secara harfiah.
Salah satu hikmahnya adalah bahwa karena
bahasa Arab merupakan induk semua bahasa yang ada di dunia,
karena itu bahasa Arab adalah bahasa yang diwahyukan Allah Swt., yang perkembangannya menuju puncak
kesempurnaan dalam segala
seginya seiring dengan diciptakan-Nya manusia serta sejalan dengan perkembangan ruhaninya, yang mencapai puncaknya pada masa diutus-Nya
Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul
Allah untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108) yang mengemban syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) berupa wahyu Al-Quran dalam bahasa
Arab.
Bahasa Bukan Hasil Ciptaan
Manusia
Sehubungan dengan hal tersebut Pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah -- Mirza
Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s. -- menjelaskan:
“Tidak benar jika dikatakan bahwa bahasa adalah
hasil ciptaan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penemu dan pencipta bahasa manusia adalah Allah
Yang Maha Kuasa, Yang juga telah
menciptakan manusia berdasarkan kekuasaan-Nya Yang Maha Sempurna dimana ia (manusia) telah diberi lidah
untuk dapat berbicara.
Jika benar bahwa bahasa adalah hasil ciptaan
manusia maka tidak perlu lagi bayi manusia diajarkan mengenai hal ini,
karena dengan sendirinya ia akan
bisa berbicara. Ia akan mencipta
sendiri perkataannya sambil ia
tumbuh dewasa.
Nyatanya jika bayi tidak diajar bahasa
maka sudah pasti juga ia tidak akan
mampu berbicara. Terlepas dari apakah ia
dibesarkan di hutan-hutan tanah Yunani, di kepulauan Inggris atau pun di [wilayah] khatulistiwa,
tetap saja seorang bayi harus diajar
bahasa karena tanpa pelatihan
demikian ia tidak akan mampu berbicara.
Pandangan
yang mengatakan bahwa bahasa mengalami
perubahan karena pengaruh manusia
sebenarnya adalah suatu ilusi atau khayalan. Perubahan-perubahan yang
terjadi bukan karena upaya manusia
secara sengaja, serta tidak ada
suatu ketentuan atau prinsip
yang mengatur bagaimana manusia akan
melakukan perubahan dalam bahasa dan kapan saatnya.
Perenungan
yang mendalam menunjukkan bahwa perubahan linguistik juga terjadi di bawah
pengaturan Sang Penyebab dari segala Sebab atau Kausa segala Kausa (Causa
Causens), sama seperti perubahan yang terjadi di langit dan di bumi. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa pada suatu saat tertentu seluruh umat manusia secara
kolektif atau pun bagian darinya telah menemukan atau menciptakan
berbagai bahasa yang digunakan
di dunia.
Mungkin ada yang membantah dan mengatakan, misalnya, bahwa sejak awal adanya manusia bahasa
mungkin sudah ada tanpa harus diajarkan Tuhan melalui wahyu. Jawaban untuk itu ialah pada saat awal itu Tuhan menciptakan segala sesuatu
semata-mata hanya berdasar
kekuatan-Nya.
Renungan
mengenai langit, bumi, matahari, bulan atau fitrat manusia sendiri mengungkapkan, bahwa awal
dan asal dari segala hal adalah berkat
kinerja kekuasaan Ilahi dimana tidak
ada digunakan sarana fisik. Apa
pun yang diciptakan Tuhan merupakan manifestasi (perwujudan) dari kekuasaan-Nya yang Maha Agung, yang berada di luar kemampuan pemikiran manusia.
Keadaan
pada hari ini tidak bisa dijadikan preseden (ibarat/rujukan) dari bagaimana permulaan atau awal
dari penciptaan alam. Sebagai contoh, sekarang ini tidak ada anak yang dilahirkan tanpa perantaraan orang-tuanya, tetapi jika di awal hal ini juga berlaku maka tidak akan ada manusia yang bisa mewujud.
Lagi pula terdapat perbedaan yang besar sekali dalam pengertian tentang perubahan
yang terjadi secara alamiah dalam bahasa
dengan kelahiran bahasa itu sendiri
dari suatu kehampaan sebelumnya.
Kedua konsep itu sama sekali berbeda.” (Brahin-i-Ahmadiyah,
Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, vol. IV, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal.
358-404, London, 1984).
Sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai asal-muasal
dan sumber
bahasa serta perkembangannya tersebut selaras
dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt.
dalam Surah Al-Fatihah ayat 2: “Segala puji hanya bagi Allah, Rabb
(Tuhan) seluruh alam”.
Isyarat Bahwa Sumber Bahasa Adalah Allah Swt.
Kata kerja rabba berarti: ia
mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan
melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti:
(a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan;
(c) Wujud Yang menyempurnakan dengan
cara setingkat demi setingkat atau secara bertahap (Al-Mufradat
dan Lexicon Lane),
firman-Nya:
وَ عَلَّمَ
اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ
اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama
itu semuanya kemudian Dia
mengemukakan mereka itu kepada
para malaikat lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah
kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu
memang benar.” (Al-Baqarah
[2]:32).
Asmā itu jamak dari ism yang
berarti: nama atau sifat; ciri atau tanda sesuatu (Lexicon Lane dan Al-Mufradat).
Para ahli tafsir berbeda paham
mengenai apa yang dimaksudkan dengan kata asmā (nama-nama) di sini.
Sebagian menyangka bahwa Allah Swt. mengajar Adam a.s. nama berbagai barang dan benda, yaitu
Dia mengajari
beliau dasar-dasar bahasa.
Tidak diragukan bahwa orang memerlukan bahasa untuk menjadi beradab dan Allah Swt. tentu telah mengajari Nabi Adam a.s.
dasar-dasarnya, tetapi Al-Quran menunjukkan bahwa ada asmā (nama atau
sifat) yang harus dipelajari manusia
untuk penyempurnaan akhlaknya.
Nama-nama tersebut disinggung dalam QS.7:181; QS.17:111), yaitu
mengenai Sifat-sifat sempurna Allah
Swt. Ini menunjukkan bahwa orang tidak dapat meraih makrifat Ilahi tanpa
tanggapan dan pengertian yang tepat mengenai sifat-sifat Allah Swt.
dan bahwa sifat-sifat-Nya itu hanya dapat diajarkan oleh Dia Sendiri, karena itu sangat perlu bahwa Allah
Swt. mula-mula memberi Adam (manusia) ilmu (pengetahuan) tentang Sifat-sifat-Nya
supaya ia mengetahui dan mengenal-Nya serta
mencapai kedekatan kepada-Nya dan jangan melantur jauh dari Dia.
Menurut Al-Quran, manusia berbeda dari malaikat dalam hal bahwa manusia
dapat menjadi bayangan atau pantulan dari al-Asmā ul-husnā yaitu
semua Sifat Allah Swt. yang sempurna, sedang para malaikat hanya sedikit saja mencerminkan
Sifat-sifat itu.
Para malaikat tidak memiliki kehendak sendiri, mereka secara pasif menjalankan tugas
yang telah diserahkan kepadanya oleh Yang Maha Kuasa (QS.66:7). Sebaliknya, manusia yang dianugerahi kemauan dan kebebasan memilih,
berbeda dengan para malaikat dalam
hal bahwa manusia mempunyai kemampuan yang menjadikan dia penjelmaan sempurna semua Sifat Ilahi.
Pendek kata, ayat tersebut menunjukkan
bahwa Allah Swt. mula-mula menanamkan pada Adam a.s. kemauan
yang bebas dan kemampuan yang diperlukan untuk memahami berbagai Sifat Ilahi,
dan kemudian memberikan ilmu (pengetahuan)
mengenai Sifat-sifat itu kepadanya.
Manusia Merupakan Khalifah
Allah di Muka Bumi
Asmā dapat berarti pula sifat-sifat berbagai benda alam, karena manusia harus mempergunakan kekuatan-kekuatan
alam maka Allah Swt. menganugerahkan
kepadanya kemampuan dan kekuasaan untuk mengetahui sifat-sifat dan khasiat-khasiatnya, terutama dalam rangka melaksanakan kedudukannya
sebagai khalifah Allah (wakil Allah) di
bumi, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ
مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا
تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah memuliakan
keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan
Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan atas kebanyakan
dari yang telah Kami ciptakan. (Bani Israil [17]:71).
Allah Swt. telah memberikan kemuliaan yang sama
kepada seluruh anak-cucu Adam dan tidak
menganak-emaskan suatu bangsa
atau suku bangsa tertentu. Ayat ini
melenyapkan segala anggapan bodoh
mengenai perasaan lebih mulia atas
dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan. Itulah makna ayat:
وَ لَقَدۡ
کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ اٰدَمَ -- “Dan sungguh Kami
benar-benar telah memuliakan keturunan Adam.”
Lebih lanjut ayat: وَ حَمَلۡنٰہُمۡ فِی
الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ -- “dan Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami
beri mereka rezeki yang baik-baik,” ayat
ini mengemukakan, bahwa semua saluran
untuk kemajuan dan kesejahteraan tetap terbuka untuk semua orang,
dan bahwa saluran-saluran itu tidak
terbatas kepada perjalanan darat,
tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut.
Diberi
tekanan oleh Al-Quran kepada perjalanan
laut nampaknya agak aneh. Kenyataan bahwa kitab Al-Quran yang diwahyukan kepada seorang Arab, lebih-lebih kepada orang Arab seperti Nabi Besar Muhammad saw. — yang selama masa hidup beliau tidak
pernah mengalami perjalanan laut —
telah memberi tekanan yang begitu hebat mengenai pentingnya perjalanan laut, sungguh menunjukkan
bahwa Al-Quran itu bukan gubahan beliau saw., sebagaimana dituduhkan pihak lain (QS.16:102-104;
QS.25:5-6). Beliau saw. tidak mengetahui, dan ketika itu tidak mungkin
mengetahui kemanfaatan-kemanfaatan besar
yang dapat diperoleh dari perjalanan laut.
Makna ayat:
وَ
فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- “dan Kami melebihkan
mereka dengan suatu keutamaan
atas kebanyakan dari yang telah Kami
ciptakan,” karena manusia adalah khalifah Allah di permukaan bumi
maka sebagai jenis ia lebih mulia dari semua makhluk yang lain.
Dari sekian kelebihan manusia dari makhluk-makhluk
lainnya adalah kemampuan berbicara atau kemampuan berbahasa dan kemampuan membaca dalam makna yang luas, contohnya membaca Tanda-tanda alam dan tanda-tanda zaman (QS.3:191-195; QS.12:110-112;
QS.22:46-49).
Bahasa Bukan Hasil Temuan
Manusia
Kembali
kepada soal bahasa yang digunakan manusia dalam berkomunikasi, selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. bersabda mengenai asal-muasal
bahasa yang digunakan manusia seiring dengan perkembangan berbagai kemampuan
manusia sejak awal penciptaan:
“Beberapa orang Arya yang bodoh
memandang bahasa Sanskerta sebagai bahasa dari Permesywar[1], serta menganggap semua bahasa lainnya -- yang
mengandung demikian banyak keanehan
dan keajaiban Ilahi -- malah sebagai
ciptaan manusia. Pandangan demikian
sama saja dengan mengatakan bahwa dimana Permesywar
hanya menurunkan satu bahasa saja,
adapun manusia lain menciptakan berbagai
bahasa yang malah lebih baik.
Kami ingin bertanya kepada kaum Arya, bahwa jika benar bahasa Sanskerta keluar dari mulut Permesywar sedangkan bahasa-bahasa lainnya adalah ciptaan manusia yang tidak terkait dengan Permesywar, lalu apa kelebihan bahasa Sanskerta yang tidak ditemukan dalam bahasa lainnya, karena mestinya perkataan Permesywar tentunya lebih baik daripada ciptaan manusia biasa? Dia disebut Tuhan karena Dia itu tidak ada tandingan dan Maha Agung dalam Wujud, Sifat atau pun hasil karya-Nya.
Apabila kita mengandaikan bahwa bahasa
Sanskerta adalah memang bahasanya
Permesywar yang diwahyukan
kepada nenek moyang bangsa Hindu,
sedangkan bahasa lain diciptakan
oleh nenek-moyang bangsa-bangsa lain
-- yang nampaknya lebih pandai dan bijak dibanding nenek moyang bangsa Hindu -- lalu bisakah kita mengambil kesimpulan bahwa orang-orang lain itu ternyata lebih
unggul dibanding Permesywar
karena mereka telah menciptakan ratusan
bahasa sedangkan sang Permesywar
hanya menciptakan satu bahasa saja?
Mereka yang secara fitratnya menganut polytheisme,
menganggap Permesywar sebagai wujud yang setara dengan diri mereka dalam banyak hal. Mungkin
karena mereka menganggap dirinya
bukan sebagai makhluk ciptaan dan karena itu merasa dirinya setara dan sekutu dari dewa mereka.
Pandangan mereka yang mempertanyakan: “Mengapa Tuhan
tidak cukup dengan menciptakan satu
bahasa saja?”, muncul karena kurangnya
perenungan mengenai hal itu. Seorang yang bijak akan melihat bagaimana beranekanya
corak dan temperamen orang di
berbagai negeri, dari sana ia akan memahami bahwa tidak mungkin satu bahasa memadai bagi mereka semua.
Beberapa bangsa mudah sekali melafazkan beberapa huruf atau kata tertentu, yang pada
bangsa lain menjadi kesulitan mengucapkannya. Karena itu bagaimana mungkin Yang Maha Bijaksana
dengan mencintai satu bahasa saja
lalu melupakan prinsip “meletakkan segala sesuatu di tempatnya yang
sesuai” dan meninggalkan prinsip
“yang mengakomodasi perbedaan temperamen.”
Apakah pantas bahwa Dia lalu
membatasi manusia dengan berbagai
tabiat itu dalam kerangkeng sempit
dari satu bahasa saja? Lagi pula terciptanya berbagai bahasa itu sendiri
menjadi bukti dari keragaman kekuasaan Allah Swt.. Pujian Tuhan yang dipersembahkan para hamba-Nya yang lemah di dalam berbagai bahasa justru merupakan suatu pertunjukan yang menarik.” (Brahin-i-
Ahmadiyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, vol. IV, sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld. I,
hlm. 447-456, London, 1984).
Keragaman Bahasa Sejalan dengan Keragaman Ras Manusia & Sabda Nabi Besar Muhammad saw. Tentang Hikmah
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai keaneka-ragamaan bahasa yang diciptakan
Allah Swt. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al-Quran berikut ini:
وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖ خَلۡقُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافُ
اَلۡسِنَتِکُمۡ وَ اَلۡوَانِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ
لِّلۡعٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan dari antara
Tanda-tanda-Nya adalah penciptaan
seluruh langit dan bumi وَ اخۡتِلَافُ اَلۡسِنَتِکُمۡ وَ
اَلۡوَانِکُمۡ -- serta perbedaan bahasa kamu dan warna kulit kamu. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ
لِّلۡعٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda
bagi mereka yang berilmu. (Ar-Rūm
[30]:23).
Kemajuan manusia
sangat erat hubungannya dengan adanya
perbedaan-perbedaan dalam bahasa
dan warna kulit. Dan perbedaan-perbedaan itu mengisyaratkan
kepada adanya suatu perencanaan dan suatu Perencana.
Sang Perencana
itu ialah Sang Pencipta seluruh
langit dan bumi, yakni Allah
Swt..
Di balik perbedaan bahasa dan warna
kulit, yang mengakibatkan bercorak-ragamnya
peradaban dan kebudayaan ada kesatuan yakni kesatuan umat manusia. Dan kesatuan
umat manusia itu menjurus kepada kesimpulan
yang tidak dapat dihindarkan yaitu Ke-Maha-Esa-an Sang Pencipta-nya,
yaitu Rabb (Tuhan) seluruh alam (QS.1:2). Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ
اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ
وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ
اِنَّ اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ
﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami
telah menciptakan kamu dari laki-laki
dan perempuan, جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ
قَبَآئِلَ -- dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku لِتَعَارَفُوۡا -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ -- Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha
Waspada. (Al-Hujurat [49]:14).
Syu’ub itu jamak
dari sya’b, yang berarti: suku bangsa besar, induk suku-suku bangsa
disebut qabilah, tempat mereka berasal dan yang meliputi mereka; suku
bangsa (Lexicon Lane). Karena manusia
merupakan makhluk sosial
maka guna berinteraksi satu
sama lain maka manusia memerlukan sarana
komunikasi, salah satunya adalah bahasa,
sehingga manusia dapat mewujudkan lita’ārafu
(supaya saling mengenal), yakni
saling mengambil manfaat dari kelebihan masing-masing dalam berbagai hal positif.
Mengisyaratkan kepada lita’ārafu (supaya saling mengenal) itu pulalah
sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai hikmah:
“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya maka ambillah.”
(HR. Tirmidzi).
Buku “Minanur
Rahmān”
Sehubungan dengan keaneka-ragamaan bahasa di kalangan umat manusia tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda berkenaan buku
karya beliau mengenai kesempurnaan bahasa Arab yang diberi judul Minanur Rahmān:
“Buku yang diberi nama Minanur Rahmān adalah hasil karya
indah yang diilhami oleh beberapa ayat Al-Quran yang penuh
dengan kandungan kebijaksanaan.
Salah satu karunia Al-Quran adalah
pandangan tentang filosofi hakiki
berkenaan dengan keaneka-ragaman bahasa,
dimana kami telah diberi tahu tentang
kebijakan yang mendasari Sumber
dari segala bahasa. Dari sana kami
juga mengetahui betapa kelirunya
orang-orang yang tidak mau mengakui
bahwa bahasa berkembang di bawah
pengarahan Ilahi.
Dalam buku tersebut dikemukakan bahwa Al-Quran diturunkan dalam bahasa yang merupakan ibu dan sumber
dari segala bahasa lainnya.
Merupakan kenyataan yang tidak bisa
dibantah bahwa keindahan dan superioritas Kitab Samawi adalah karena sempurna polanya dan disusun dalam bahasa yang berasal dari firman Tuhan serta memiliki mutu yang lebih tinggi disbanding [bahasa-bahasa] yang lainnya.
Kalau kita menyadari bahwa mutu
dari suatu bahasa yang berada di luar kemampuan manusia dan tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa lainnya, ditambah lagi fitrat bahasa itu yang tidak mungkin merupakan hasil fikiran
manusia karena hanya mungkin berasal
dari pengetahuan Tuhan yang hakiki dan abadi, maka kita harus
mengakui bahwa bahasa seperti itu
hanya mungkin berasal dari Allah Yang Maha Agung. Penelitian kami secara mendalam
menunjukkan bahwa bahasa yang
memenuhi kriteria demikian hanyalah bahasa Arab.
Banyak sudah orang yang menghabiskan umurnya dalam penelitian seperti itu guna mencari
yang manakah dari sekian banyak
[bahasa] itu yang merupakan ibu dari segala
bahasa, namun karena upaya mereka
tidak mendapat petunjuk yang benar
serta tidak memperoleh kemampuan
yang relevan dari Allah Swt. maka mereka tidak pernah berhasil.
Alasan lainnya adalah juga karena mereka memiliki prasangka terhadap bahasa Arab dan tidak cukup memberikan perhatian, karena itulah mereka tidak pernah berhasil dalam usahanya. Kami sendiri melalui bimbingan firman Allah Swt. -- yaitu Al-Quran -- telah ditunjukkan
bahwa ibu segala bahasa adalah bahasa Arab dan bukan bahasa Parsi, Iberani atau Arya
sebagaimana pengakuan mereka.
Berbagai Fakta Mengapa Bahasa
Arab Lebih Unggul
Berbeda dengan perkataan dalam bahasa Arab,
kata-kata dari bahasa-bahasa yang
disebutkan itu terdengar lemah, cacat, buta, tuli, buruk rupa dan sama sekali tidak mengandung pola alamiah. Kosa-kata bahasa-bahasa tersebut miskin akarnya dan tidak memenuhi syarat sebagai bahasa
yang sempurna.
Jika ada dari kaum Arya atau para lawan
lainnya yang tidak meyakini hasil
penelitian ini, berikut kami sampaikan rincian
pertimbangan yang menjadikan bahasa
Arab lebih superior, sempurna dan unggul dibanding [bahasa-bahasa] yang lainnya:
1. Akar kata bahasa Arab memiliki pola
yang sempurna.
2. Bahasa Arab mempunyai konotasi intelektual yang amat tinggi.
3. Sistem dari kata-kata dasar dalam bahasa
Arab amat lengkap dan sempurna.
4. Dalam idiom bahasa Arab, beberapa kata saja bisa memiliki pengertian yang ekstensif.
4. Dalam idiom bahasa Arab, beberapa kata saja bisa memiliki pengertian yang ekstensif.
5. Bahasa Arab memiliki kemampuan penuh untuk pengungkapan semua perasaan dan fikiran manusia.
Setelah penerbitan buku kami itu, setiap orang dipersilakan,
kalau mampu, membuktikan bahwa sifat-sifat itu juga terdapat dalam bahasa Sanskerta atau pun bahasa lainnya.” (Dhiaul Haqq,
Qadian, Ziaul Islam Press, 1895; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm. 320-321, London, 1984).
Erat
hubungannya dengan sabda Masih Mau’ud
a.s. tersebut Allah Swt. berfirman mengapa syariat terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. --
yang berkebangsaan Arab -- dalam bahasa
Arab, firman-Nya:
وَ لَوۡ
جَعَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا
لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ
اٰیٰتُہٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ
ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa asing niscaya mereka berkata: لَوۡ
لَا فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? Apakah patut Al-Quran dalam
bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” Katakanlah: ”Al-Quran itu
bagi orang-orang yang beriman
sebagai petunjuk dan penyembuh.” Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,
dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh. (Hā Mām – As-Sajdah [41]:45).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 17 Maret 2016
[1]
Di
antara umat Hindu, nama Tuhan
berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain. Di Benggala disebut sebagai Hari. Di antara kalangan
rakyat jelata digunakan nama-nama Permatma,
Permeshwar, Eshwar dan lain-lain. Dalam kitab-kitab mereka disebut sebagai Brahma, Wisynu dan Syiwa
sebagai indikasi dari ketiga sifat utama yaitu penciptaan, pemeliharaan dan
penghancuran . (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar