Minggu, 20 Maret 2016

Sabda Nabi Besar Muhammad Saw. Tentang "Hikmah" yang Hilang Miliki Orang-orang Beriman & Berbagai Keunggulan Bahasa Arab Dalam Buku "Minan-ur-Rahmaan" Karya Masih Mau'ud a.s.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



   Sabda Nabi Besar Muhammad Saw. Tentang “Hikmah” yang Hilang Milik Orang-orang Beriman  & Berbagai Keunggulan Bahasa Arab  Dalam Buku “Minan-ur-Rahmaan” Karya Masih Mau’ud a.s.

Bab 2


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai sabda Nabi Besar Muhammad saw. tentang bahasa Arab:  “Cintailah bangsa Arab karena aku adalah bangsa Arab, Al-Quran diwahyukan dalam bahasa Arab dan bahasa dalam surga adalah bahasa Arab” (HR.Hakim; Thabrani;    Baihaqi).  
        Sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa “bahasa Arab adalah bahasa para penghuni surga” mengandung  berbagai makna  serta hikmah  yang sangat dalam, karena itu   sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  jangan   diartikan secara harfiah.
       Salah satu hikmahnya adalah bahwa karena  bahasa Arab merupakan induk semua bahasa yang ada di dunia, karena itu  bahasa Arab adalah  bahasa yang diwahyukan Allah Swt.,  yang perkembangannya  menuju puncak  kesempurnaan dalam segala seginya seiring  dengan diciptakan-Nya  manusia  serta sejalan dengan perkembangan ruhaninya,   yang mencapai puncaknya pada  masa diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai Rasul Allah untuk seluruh umat manusia  (QS.7:159; QS.21:108)  yang mengemban syariat terakhir dan tersempurna  (QS.5:4) berupa wahyu Al-Quran dalam bahasa Arab.

Bahasa Bukan Hasil Ciptaan Manusia

       Sehubungan dengan hal tersebut   Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  -- Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s.   -- menjelaskan:
      “Tidak benar jika dikatakan bahwa bahasa adalah hasil ciptaan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penemu dan pencipta bahasa manusia adalah Allah Yang Maha Kuasa, Yang juga telah menciptakan manusia berdasarkan kekuasaan-Nya Yang Maha Sempurna dimana ia (manusia) telah diberi  lidah untuk dapat berbicara.
      Jika benar bahwa bahasa adalah hasil ciptaan manusia maka tidak perlu lagi bayi manusia diajarkan mengenai hal ini,  karena dengan sendirinya ia akan bisa berbicara. Ia akan mencipta sendiri perkataannya sambil ia tumbuh dewasa.
      Nyatanya jika bayi tidak diajar bahasa maka sudah pasti juga ia tidak akan mampu berbicara. Terlepas dari apakah ia dibesarkan di hutan-hutan tanah Yunani, di kepulauan Inggris atau pun di  [wilayah] khatulistiwa, tetap saja seorang bayi harus diajar bahasa karena tanpa pelatihan demikian ia tidak akan mampu berbicara.
      Pandangan yang mengatakan bahwa bahasa mengalami perubahan karena pengaruh manusia sebenarnya adalah suatu ilusi atau khayalan. Perubahan-perubahan yang terjadi bukan karena upaya manusia secara sengaja, serta tidak ada suatu ketentuan atau prinsip yang mengatur bagaimana manusia akan melakukan perubahan dalam bahasa dan kapan  saatnya.
     Perenungan yang mendalam menunjukkan bahwa perubahan linguistik juga terjadi di bawah pengaturan Sang Penyebab dari segala Sebab atau Kausa segala Kausa (Causa Causens),  sama seperti perubahan yang terjadi di langit dan di bumi. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa pada suatu saat tertentu seluruh umat manusia secara kolektif atau pun bagian darinya telah menemukan atau menciptakan berbagai bahasa yang digunakan di dunia.
     Mungkin ada yang membantah dan mengatakan,  misalnya, bahwa sejak awal adanya manusia  bahasa mungkin sudah ada tanpa harus diajarkan Tuhan melalui wahyu. Jawaban untuk itu ialah pada saat awal itu Tuhan  menciptakan segala sesuatu semata-mata hanya berdasar kekuatan-Nya.
     Renungan mengenai langit, bumi, matahari, bulan atau fitrat manusia sendiri mengungkapkan,  bahwa awal dan asal dari segala hal adalah berkat kinerja kekuasaan Ilahi dimana tidak ada digunakan sarana fisik. Apa pun yang diciptakan Tuhan merupakan manifestasi (perwujudan) dari kekuasaan-Nya yang Maha Agung,  yang berada di luar kemampuan pemikiran manusia.
      Keadaan pada hari ini tidak bisa dijadikan preseden  (ibarat/rujukan) dari bagaimana permulaan atau awal dari penciptaan alam. Sebagai contoh, sekarang ini tidak ada anak yang dilahirkan tanpa perantaraan orang-tuanya, tetapi jika di awal hal ini juga berlaku maka tidak akan ada manusia yang bisa mewujud.
        Lagi pula terdapat perbedaan yang besar sekali dalam pengertian tentang perubahan yang terjadi secara alamiah dalam bahasa dengan kelahiran bahasa itu sendiri dari suatu kehampaan sebelumnya. Kedua konsep itu sama sekali berbeda.” (Brahin-i-Ahmadiyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, vol. IV, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 358-404, London, 1984).
 Sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai asal-muasal dan  sumber bahasa serta perkembangannya tersebut selaras dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 2:  “Segala  puji hanya bagi  Allah,  Rabb (Tuhan) seluruh alam”.   

Isyarat Bahwa Sumber Bahasa Adalah Allah Swt.

Kata kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan dengan cara setingkat demi setingkat atau secara bertahap (Al-Mufradat dan Lexicon Lane), firman-Nya:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya  kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.” (Al-Baqarah [2]:32).
      Asmā itu jamak dari ism yang berarti: nama atau sifat; ciri atau tanda sesuatu (Lexicon Lane dan Al-Mufradat). Para ahli tafsir berbeda paham mengenai apa yang dimaksudkan dengan kata asmā (nama-nama) di sini. Sebagian menyangka bahwa Allah Swt. mengajar Adam a.s.  nama berbagai barang dan benda, yaitu Dia  mengajari beliau dasar-dasar bahasa.
     Tidak diragukan bahwa orang memerlukan bahasa untuk menjadi beradab dan Allah Swt.  tentu telah mengajari Nabi Adam a.s. dasar-dasarnya, tetapi Al-Quran menunjukkan bahwa ada asmā (nama atau sifat) yang harus dipelajari manusia untuk penyempurnaan akhlaknya.
      Nama-nama  tersebut  disinggung dalam QS.7:181; QS.17:111), yaitu mengenai Sifat-sifat sempurna Allah Swt. Ini menunjukkan bahwa orang tidak dapat meraih makrifat Ilahi tanpa tanggapan dan pengertian yang tepat mengenai sifat-sifat Allah Swt. dan bahwa sifat-sifat-Nya itu hanya dapat diajarkan oleh Dia Sendiri, karena itu sangat perlu bahwa Allah Swt.   mula-mula memberi Adam (manusia) ilmu (pengetahuan) tentang Sifat-sifat-Nya supaya ia mengetahui dan mengenal-Nya  serta  mencapai kedekatan kepada-Nya  dan jangan melantur jauh dari Dia.
      Menurut Al-Quran, manusia berbeda dari malaikat dalam hal bahwa  manusia dapat menjadi bayangan atau pantulan dari al-Asmā ul-husnā yaitu semua Sifat Allah Swt.  yang sempurna, sedang para malaikat hanya sedikit saja mencerminkan Sifat-sifat itu.
       Para malaikat tidak memiliki kehendak sendiri,  mereka secara pasif menjalankan tugas yang telah diserahkan kepadanya oleh Yang Maha Kuasa (QS.66:7). Sebaliknya, manusia yang dianugerahi kemauan dan kebebasan memilih, berbeda dengan para malaikat dalam hal bahwa manusia mempunyai kemampuan yang menjadikan dia penjelmaan sempurna semua Sifat Ilahi.
   Pendek kata, ayat tersebut menunjukkan bahwa  Allah Swt. mula-mula menanamkan pada Adam a.s. kemauan yang bebas dan kemampuan yang diperlukan untuk memahami berbagai Sifat Ilahi, dan kemudian memberikan ilmu (pengetahuan) mengenai Sifat-sifat itu kepadanya.

Manusia Merupakan Khalifah Allah di Muka Bumi

      Asmā dapat berarti pula sifat-sifat berbagai benda alam, karena manusia harus mempergunakan kekuatan-kekuatan alam maka Allah Swt.  menganugerahkan kepadanya kemampuan dan kekuasaan untuk mengetahui sifat-sifat dan khasiat-khasiatnya, terutama dalam rangka melaksanakan kedudukannya sebagai khalifah Allah (wakil Allah) di bumi, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam,  dan Kami angkut mereka di  daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.  (Bani Israil [17]:71).
      Allah Swt.  telah memberikan kemuliaan yang sama kepada seluruh anak-cucu Adam  dan tidak menganak-emaskan suatu bangsa atau suku bangsa tertentu. Ayat ini melenyapkan segala anggapan bodoh mengenai perasaan lebih mulia atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan. Itulah makna ayat:  وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ -- “Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam.
       Lebih lanjut ayat:  وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ  -- “dan Kami angkut mereka di  daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik,”  ayat ini mengemukakan, bahwa semua saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan tetap terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran itu tidak terbatas kepada perjalanan darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut.
      Diberi tekanan oleh Al-Quran kepada perjalanan laut nampaknya agak aneh. Kenyataan bahwa kitab  Al-Quran yang diwahyukan kepada seorang Arab, lebih-lebih kepada orang Arab seperti  Nabi Besar Muhammad saw.  — yang selama masa hidup beliau tidak pernah mengalami perjalanan laut — telah memberi tekanan yang begitu hebat mengenai pentingnya perjalanan laut, sungguh menunjukkan bahwa Al-Quran itu bukan gubahan beliau saw., sebagaimana dituduhkan pihak lain (QS.16:102-104; QS.25:5-6). Beliau saw. tidak mengetahui, dan ketika itu tidak mungkin mengetahui kemanfaatan-kemanfaatan besar yang dapat diperoleh dari perjalanan laut.
       Makna ayat:  وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- “dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan,”   karena manusia adalah khalifah Allah di permukaan bumi  maka sebagai jenis ia lebih mulia dari semua makhluk yang lain.
 Dari sekian kelebihan manusia dari   makhluk-makhluk  lainnya adalah kemampuan berbicara  atau kemampuan berbahasa dan kemampuan  membaca dalam  makna yang luas, contohnya membaca Tanda-tanda alam dan tanda-tanda zaman (QS.3:191-195; QS.12:110-112; QS.22:46-49).

Bahasa Bukan Hasil Temuan Manusia

    Kembali kepada soal   bahasa yang digunakan manusia dalam berkomunikasi, selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai asal-muasal bahasa yang digunakan manusia  seiring dengan perkembangan berbagai kemampuan manusia sejak awal penciptaan:
    “Beberapa orang Arya yang bodoh memandang bahasa Sanskerta sebagai bahasa dari Permesywar[1], serta menganggap semua bahasa lainnya -- yang mengandung demikian banyak keanehan dan keajaiban Ilahi -- malah sebagai ciptaan manusia. Pandangan demikian sama saja dengan mengatakan bahwa dimana Permesywar hanya menurunkan satu bahasa saja, adapun manusia lain menciptakan berbagai bahasa yang malah lebih baik.
      Kami ingin bertanya kepada kaum Arya, bahwa jika benar bahasa Sanskerta keluar dari mulut Permesywar sedangkan bahasa-bahasa lainnya adalah ciptaan manusia yang tidak terkait dengan Permesywar, lalu apa kelebihan bahasa Sanskerta yang tidak ditemukan dalam bahasa lainnya, karena mestinya perkataan Permesywar tentunya lebih baik daripada ciptaan manusia biasa? Dia disebut Tuhan karena Dia itu tidak ada tandingan dan Maha Agung dalam Wujud, Sifat atau pun hasil karya-Nya.
  Apabila kita mengandaikan bahwa bahasa Sanskerta adalah memang bahasanya Permesywar yang diwahyukan kepada nenek moyang bangsa Hindu, sedangkan bahasa lain diciptakan oleh nenek-moyang bangsa-bangsa lain -- yang nampaknya lebih pandai dan bijak dibanding nenek moyang bangsa Hindu -- lalu bisakah kita mengambil kesimpulan bahwa orang-orang lain itu ternyata lebih unggul dibanding Permesywar karena mereka telah menciptakan ratusan bahasa sedangkan sang Permesywar hanya menciptakan satu bahasa saja?
     Mereka yang secara fitratnya menganut polytheisme, menganggap Permesywar sebagai wujud yang setara dengan diri mereka dalam banyak hal. Mungkin karena mereka menganggap dirinya bukan sebagai makhluk ciptaan dan karena itu merasa dirinya setara dan sekutu dari dewa mereka.
   Pandangan mereka yang mempertanyakan:  “Mengapa Tuhan tidak cukup dengan menciptakan satu bahasa saja?”, muncul karena kurangnya perenungan mengenai hal itu.   Seorang yang bijak akan melihat bagaimana beranekanya corak dan temperamen orang di berbagai negeri, dari sana ia akan memahami bahwa tidak mungkin satu bahasa memadai bagi mereka semua.
     Beberapa bangsa mudah sekali melafazkan beberapa huruf atau kata tertentu, yang pada bangsa lain menjadi kesulitan mengucapkannya. Karena itu bagaimana mungkin Yang Maha Bijaksana dengan mencintai satu bahasa saja lalu melupakan prinsip “meletakkan segala sesuatu di tempatnya yang sesuai” dan meninggalkan prinsip “yang mengakomodasi perbedaan temperamen.”
    Apakah pantas bahwa Dia lalu membatasi manusia dengan berbagai tabiat itu dalam kerangkeng sempit dari satu bahasa saja? Lagi pula terciptanya berbagai bahasa itu sendiri menjadi bukti dari keragaman kekuasaan Allah Swt.. Pujian Tuhan yang dipersembahkan para hamba-Nya yang lemah  di dalam berbagai bahasa justru merupakan suatu pertunjukan yang menarik.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, vol. IV, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  447-456, London, 1984).

Keragaman Bahasa Sejalan dengan Keragaman Ras Manusia &  Sabda Nabi Besar Muhammad saw. Tentang Hikmah   

   Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai keaneka-ragamaan bahasa yang diciptakan Allah Swt. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al-Quran berikut ini:
وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖ خَلۡقُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافُ اَلۡسِنَتِکُمۡ وَ اَلۡوَانِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّلۡعٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan dari antara Tanda-tanda-Nya adalah penciptaan seluruh langit dan bumi  وَ اخۡتِلَافُ اَلۡسِنَتِکُمۡ وَ اَلۡوَانِکُمۡ  -- serta perbedaan bahasa kamu dan warna kulit kamu.  اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّلۡعٰلِمِیۡنَ  -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi mereka yang berilmu. (Ar-Rūm [30]:23).
    Kemajuan manusia sangat erat hubungannya dengan adanya perbedaan-perbedaan dalam bahasa dan warna kulit. Dan perbedaan-perbedaan itu mengisyaratkan kepada adanya suatu perencanaan dan suatu Perencana. Sang Perencana itu ialah Sang Pencipta seluruh langit dan bumi, yakni Allah Swt..
     Di balik perbedaan bahasa dan warna kulit, yang mengakibatkan bercorak-ragamnya peradaban dan kebudayaan ada kesatuan yakni kesatuan umat manusia. Dan kesatuan umat manusia itu menjurus kepada kesimpulan yang tidak dapat dihindarkan  yaitu Ke-Maha-Esa-an Sang Pencipta-nya, yaitu   Rabb (Tuhan) seluruh alam (QS.1:2). Allah Swt. berfirman:
 یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ  مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan,  جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ --  dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku  لِتَعَارَفُوۡا -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ   --  Sesungguhnya  yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ --  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurat [49]:14).
   Syu’ub itu jamak dari sya’b, yang berarti: suku bangsa besar, induk suku-suku bangsa disebut qabilah, tempat mereka berasal dan yang meliputi mereka; suku bangsa (Lexicon Lane).  Karena manusia merupakan makhluk sosial  maka guna berinteraksi satu sama lain  maka manusia memerlukan sarana komunikasi, salah satunya adalah bahasa, sehingga manusia  dapat    mewujudkan lita’ārafu  (supaya saling mengenal), yakni saling mengambil manfaat dari kelebihan  masing-masing dalam berbagai hal positif.
    Mengisyaratkan kepada lita’ārafu  (supaya saling mengenal) itu pulalah sabda   Nabi Besar Muhammad saw. mengenai hikmah:
Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya  maka ambillah.” (HR. Tirmidzi).

Buku “Minanur Rahmān”

    Sehubungan dengan keaneka-ragamaan bahasa di kalangan umat manusia tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda berkenaan  buku karya beliau mengenai kesempurnaan  bahasa Arab yang diberi judul Minanur Rahmān:
   “Buku yang diberi nama Minanur Rahmān adalah hasil karya indah yang diilhami oleh beberapa ayat Al-Quran yang penuh dengan kandungan kebijaksanaan. Salah satu karunia Al-Quran adalah pandangan tentang filosofi hakiki berkenaan dengan keaneka-ragaman bahasa, dimana kami telah diberi tahu tentang kebijakan yang mendasari Sumber dari segala bahasa. Dari sana kami juga mengetahui betapa kelirunya orang-orang yang tidak mau mengakui bahwa bahasa berkembang di bawah pengarahan Ilahi.
    Dalam buku tersebut dikemukakan bahwa Al-Quran diturunkan dalam bahasa yang merupakan ibu dan sumber dari segala bahasa lainnya. Merupakan kenyataan yang tidak bisa dibantah bahwa keindahan dan superioritas   Kitab Samawi adalah karena sempurna polanya dan disusun dalam bahasa yang berasal dari firman Tuhan serta memiliki mutu yang lebih tinggi disbanding [bahasa-bahasa] yang lainnya.
   Kalau kita menyadari bahwa mutu dari suatu bahasa yang berada di luar kemampuan manusia dan tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa lainnya, ditambah lagi fitrat bahasa itu yang tidak mungkin merupakan hasil fikiran manusia karena hanya mungkin berasal dari pengetahuan Tuhan yang hakiki dan abadi, maka kita harus mengakui bahwa bahasa seperti itu hanya mungkin berasal dari Allah Yang Maha Agung. Penelitian kami secara mendalam menunjukkan bahwa bahasa yang memenuhi kriteria demikian hanyalah bahasa Arab.
    Banyak sudah orang yang menghabiskan umurnya dalam penelitian seperti itu guna mencari yang manakah dari sekian banyak [bahasa]  itu yang merupakan ibu dari segala bahasa, namun karena upaya mereka tidak mendapat petunjuk yang benar serta tidak memperoleh kemampuan yang relevan dari Allah Swt. maka mereka tidak pernah berhasil.
   Alasan lainnya adalah juga karena mereka memiliki prasangka terhadap bahasa Arab dan tidak cukup memberikan perhatian, karena itulah mereka tidak pernah berhasil dalam usahanya.  Kami sendiri melalui bimbingan firman Allah Swt. -- yaitu Al-Quran -- telah ditunjukkan bahwa ibu segala bahasa adalah bahasa Arab dan bukan bahasa Parsi, Iberani atau Arya sebagaimana pengakuan mereka.

Berbagai Fakta  Mengapa Bahasa Arab Lebih Unggul

     Berbeda dengan perkataan dalam bahasa Arab, kata-kata dari bahasa-bahasa yang disebutkan itu terdengar lemah, cacat, buta, tuli, buruk rupa dan sama sekali tidak mengandung pola alamiah. Kosa-kata bahasa-bahasa tersebut miskin akarnya dan tidak memenuhi syarat sebagai bahasa yang sempurna.
      Jika ada dari kaum Arya atau para lawan lainnya yang tidak meyakini hasil penelitian ini, berikut kami sampaikan rincian pertimbangan yang menjadikan bahasa Arab lebih superior, sempurna dan unggul dibanding [bahasa-bahasa] yang lainnya: 
1. Akar kata bahasa Arab memiliki pola yang sempurna 
2. Bahasa Arab mempunyai konotasi intelektual yang amat tinggi.   
3. Sistem dari kata-kata dasar dalam bahasa Arab amat lengkap dan sempurna.
4. Dalam idiom bahasa Arab, beberapa kata saja bisa memiliki pengertian yang ekstensif.  
5. Bahasa Arab memiliki kemampuan penuh untuk pengungkapan semua perasaan dan fikiran manusia.
    Setelah penerbitan buku kami itu, setiap orang dipersilakan, kalau mampu, membuktikan bahwa sifat-sifat itu juga terdapat dalam bahasa Sanskerta atau pun bahasa lainnya.” (Dhiaul Haqq, Qadian, Ziaul Islam Press, 1895; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm. 320-321, London, 1984).
      Erat hubungannya dengan sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman mengapa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) diwahyukan   kepada Nabi Besar Muhammad saw.   --   yang berkebangsaan Arab  --  dalam bahasa Arab, firman-Nya:
وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ ؕ  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya  Al-Quran dalam bahasa asing  niscaya mereka berkata:  لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ  -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.” Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh.  (Hā MāmAs-Sajdah [41]:45).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 17 Maret  2016




[1] Di antara umat Hindu, nama Tuhan berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain. Di Benggala disebut sebagai Hari. Di antara kalangan rakyat jelata digunakan nama-nama Permatma, Permeshwar, Eshwar dan lain-lain. Dalam kitab-kitab mereka disebut sebagai Brahma, Wisynu dan Syiwa sebagai indikasi dari ketiga sifat utama yaitu penciptaan, pemeliharaan dan penghancuran . (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar