Senin, 28 Maret 2016

Kedispinan Berbagai Divisi Pasukan Nabi Sulaiman a.s. dan Komentar Positif Pemimpin "Kaum Semut" & Kesuksesan Tugas "Intelijen" Jenderal "Hud-hud" ke Kerajaan Saba



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



    Kedisiplinan Berbagai Divisi Pasukan Nabi Sulaiman a.s.  dan  Komentar Positif   Pemimpin “Kaum Semut  &  Kesuksesan Tugas Intelijen  Jenderal “Hud-hud” ke Kerajaan Saba

Bab 8


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai   benarnya kedua macam siasat berbeda yang dilakukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s., yakni  siasat keras  yang dilakukan Nabi Daud a.s. dalam menghentikan  secara total serbuan-serbuan qabilah-qabilah asing yang biadab yang tinggal di daerah pegunungan tersebut  sesuai dengan Kehendak  Allah Swt., demikian juga siasat yang lebih lunak   yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s.  pun sesuai dengan kehendak Allah Swt., firman-Nya: 
  وَ دَاوٗدَ  وَ سُلَیۡمٰنَ  اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی الۡحَرۡثِ  اِذۡ  نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ  الۡقَوۡمِ ۚ وَ کُنَّا  لِحُکۡمِہِمۡ  شٰہِدِیۡنَ﴿٭ۙ﴾  فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ کُلًّا  اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا ۫ وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾  وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ ﴿﴾  وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan ingatlah Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan keputusan mengenai suatu ladang,  ketika kambing-kambing suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka.   Maka Kami memberikan pengertian  kepada Sulaiman, dan kepada masing-masing  Kami  berikan kebijaksanaan dan ilmu.  Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud,  dan Kami Yang mengerja-kannya.    Dan Kami mengajarinya  membuat baju besi  bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu, maka apakah kamu mau bersyukur? وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ --   Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin itu bertiup atas perintahnya ke arah daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ --  Dan  kalangan   syaitan-syaitan  ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan  pekerjaan lain selain itu, dan Kami-lah yang menjaga  mereka. (Al-Anbiya [21]:79-83).
       Firman Allah Swt. tersebut membantah kritikan  terhadap kedua  kebijakan (siasat) yang berbeda yang dilaksanakan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.. Menurut Allah Swt.  siasat  yang tegas (keras) yang dilaksanakan Nabi Daud a.s. mau pun siasat yang lebih lunak yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. dalam menundukkan  kabilah-kabilah  penghuni wilayah pegunungan (al-jibāl) itu -- dengan jalan mengadakan perjanjian-perjanjian persahabatan dengan mereka – adalah sesuai dengan tuntutan  keadaan dan benar adanya, firman-Nya:  وَ کُنَّا  لِحُکۡمِہِمۡ  شٰہِدِیۡنَ  -- dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka. فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ --  Maka Kami memberikan pengertian  kepada Sulaiman, وَ کُلًّا  اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا --  dan kepada masing-masing  Kami  berikan kebijaksanaan dan ilmu.”  
      Kata-kata itu mengandung arti  bahwa siasat lunak dan cari damai yang dijalankan oleh  Nabi Sulaiman a.s.  itu memang tepat dalam keadaan-keadaan pada saat itu, dan bahwa tuduhan yang dilancarkan terhadap beliau oleh beberapa pengarang Yahudi, bahwa beliau mengikuti suatu siasat lemah yang mendatangkan keruntuhan wangsa beliau sekali-kali tidak mempunyai dasar yang sehat.
      Tetapi pembelaan untuk Nabi Sulaiman a.s.  tidak boleh diberi arti bahwa siasat keras yang dijalankan oleh Nabi Daud a.s.  dalam masa beliau sendiri  salah. Suatu kesalah-pahaman yang menjurus kepada kesimpulan ini telah dihilangkan oleh anak kalimat dan kepada masing-masing dari mereka Kami beri  kebijaksanaan dan ilmu. Anak kalimat itu memperjelas bahwa siasat-siasat yang dijalankan, baik oleh Daud a.s. maupun oleh Sulaiman a.s., itulah yang terbaik dalam keadaan itu dan paling cocok pada peristiwa yang khas itu.

Makna  Ditundukkan-Nya  Angin   dan  Syaitan  Kepada Nabi Sulaiman a.s.

       Dalam ayat: وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ --   Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin itu bertiup atas perintahnya ke arah daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Anbiya [21]:82).  
      Kata sifat yang dipakai mengenai angin adalah ashifah (kencang/cepat), sedang dalam QS.38:37 kata sifat itu disebut rukha’ (lembut), yang menunjukkan bahwa sekali pun angin bertiup kencang namun tetap lembut dan tidak mendatangkan kerusakan apa pun kepada kapal-kapal niaga Nabi Sulaiman a.s..
       Kemudian makna ayat: وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ -- “Dan  kalangan   syaitan-syaitan  ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan  pekerjaan lain selain itu, dan Kami-lah yang menjaga  mereka” (Al-Anbiya [21]:83), karena syaithan berarti pemberontak dan penentang, dan juga orang yang ahli dalam sesuatu  bidang (QS.2:15), maka ayat ini bermaksud mengatakan, bahwa bangsa-bangsa bukan-Israil yang ditaklukkan oleh Nabi Sulaiman a.s. telah dipekerjakan pada berbagai pertukangan yang sulit dan berat atas perintah beliau.
        Mereka bekerja sebagai tukang kayu, pandai besi, penyelam, dan sebagainya, yaitu pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh warga bangsa jajahan (Lihat I Raja-raja 9:21-22). Kata-kata, yang menyelam untuk dia dapat menunjuk kepada para penyelam dari Bahrain dan Masqat, yang melakukan pekerjaan menyelam di Teluk Persia untuk mencari mutiara. Mereka dipekerjakan oleh Nabi Sulaiman a.s. untuk tujuan itu.
     Firman Allah Swt. berikut ini membuktikan  bahwa jin dan syaitan  yang dipekerjakan  oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. bukanlah  golongan makhluk halus  melainkan  golongan  manusia, firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ  الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ  اِلَّا دَآبَّۃُ  الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Maka tatkala Kami menentukan kematiannya, sekali-kali tidak ada  yang menunjukkan kematiannya kepada mereka selain rayap bumi  yang memakan tongkatnya.  فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ  -- Lalu tatkala tongkat itu jatuh, jin-jin  mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib,   مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ -- mereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan. (Sabā [34]:15).
      “Tongkat” Nabi Sulaiman a.s. merupakan kiasan dari kekuasaan atau  kerajaan Nabi Sulaiman a.s.. Putra yang sia-sia sebagai penerus Nabi Sulaiman a.s., Rehoboam; di bawah pemerintahannya yang lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s.  yang tadinya besar dan berkuasa telah menjadi berantakan (I  Raja-raja, fatsal 12, 13, 14 & Jewish Encyclopaedia di bawah “Rehoboam”). Kehancuran dan keterpecahbelahan kerajaan Nabi Sulaiman a.s. mulai berlaku pada masa pemerintahan Rehoboam, yang dalam Al-Quran diumpamakan sebagai “jasad tak bernyawa” yang duduk di singgasana Nabi Sulaiman a.s (QS.38:3).

Kiasan Mengenai Tiga  Macam Divisi Bala-Tentara Nabi Sulaiman a.s.

     Salah satu contoh  siasat lebih lunak yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. dalam menanggulangi infiltrasi  yang dilakukan pihak asing terhadap wilayah  kerajaan Bani Israil  adalah   berkenaan dengan kerajaan Saba yang dipimpin oleh Ratu Saba, yakni walau pun Nabi Sulaiman a.s. membawa pasukan tempurnya tetapi beliau lebih mengedepankan  upaya diplomasi terhadap Ratu Saba,firman-Nya:
وَ حُشِرَ لِسُلَیۡمٰنَ جُنُوۡدُہٗ  مِنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  وَ الطَّیۡرِ  فَہُمۡ  یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَاۤ  اَتَوۡا عَلٰی وَادِ  النَّمۡلِ ۙ قَالَتۡ نَمۡلَۃٌ  یّٰۤاَیُّہَا النَّمۡلُ ادۡخُلُوۡا مَسٰکِنَکُمۡ ۚ لَا یَحۡطِمَنَّکُمۡ  سُلَیۡمٰنُ  وَ جُنُوۡدُہٗ ۙ وَ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  فَتَبَسَّمَ ضَاحِکًا مِّنۡ قَوۡلِہَا وَ قَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ  اَنۡ اَشۡکُرَ  نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Dan dihimpunkan bagi Sulaiman lasykar-lasykarnya bersama-sama, terdiri dari jin, manusia, dan burung-burung,  lalu mereka  diatur menjadi bagian-bagian yang terpisah.  Hingga apabila mereka sampai ke lembah Semut, seorang dari kaum Semut berkata: “Hai kaum Semut, masuklah kamu ke dalam tempat tinggalmu, supaya Sulaiman dan lasykarnya tidak menghancurkan kamu  sedang mereka tidak menyadari.” Maka ia, Sulaiman, tersenyum sambil tertawa mendengar perkataannya dan berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), anugerahkanlah kepadaku taufik untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang-tuaku, dan untuk ber-buat amal saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat Engkau di antara hamba-hamba Engkau yang saleh.”  (An-Naml [27]:17-20).
       Makna  manthiq   (bahasa) berkenaan dengan burung-burung  yang dimengerti oleh Nabi Sulaiman a.s. telah dijelaskan sebelumnya sehubungan dengan  firman-Nya:
وَ وَرِثَ سُلَیۡمٰنُ دَاوٗدَ وَ قَالَ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ عُلِّمۡنَا مَنۡطِقَ الطَّیۡرِ وَ اُوۡتِیۡنَا مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud,  وَ قَالَ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ عُلِّمۡنَا مَنۡطِقَ الطَّیۡرِ -- dan ia berkata: “Hai manusia, kami telah diajari bahasa burung, وَ اُوۡتِیۡنَا مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ  -- dan kami telah diberi segala sesuatu, اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡمُبِیۡنُ -- sesungguhnya ini benar-benar karunia yang nyata.” (An-Naml [27]:17).
        Perlu diketahui bahwa di dalam Al-Quran berkenaan dengan kisah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. banyak digunakan ungkapan-ungkapan kiasan (perumpamaan)  yakni merupakan ayat-ayat yang mutasyabihat (QS.3:8), yang karena tidak bisa “membacanya” atau tidak memahaminya sehingga banyak orang yang salah menafsirkannya.
     Contohnya yang dimaksud dengan  jin    dan syaitan  sama sekali tidak ada hubungannya  dengan makhluk halus yang disebut jin atau syaitan   berupa “makhluk gaib” (QS.7:27), melainkan merupakan ungkapan kiasan berkenaan bangsa-bangsa asing  di wilayah Timur  Tengah yang ditaklukkan oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. (QS.2:247-252; QS.5:21-27), lalu  berbagai keakhlian mereka  dimanfaatkan  oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. untuk kepentingan kerajaan  Bani Israil.
      Jadi kata jin dapat diartikan jibāl (gunung) yakni  suku-suku bangsa yang liar yang tinggal di pegunungan, karena menjadi salah satu gaya bahasa Al-Quran penyebutan  penduduk suatu kota  digambarkan dengan menyebut  kotanya sebagaimana  perkataan saudara Nabi Yusuf a.s. berkenaan dengan Benyamin    yang ditahan di Mesir karena dianggap telah mencuri sukatan milik raja Mesir (QS.12:70-81), firman-Nya:
اِرۡجِعُوۡۤا اِلٰۤی اَبِیۡکُمۡ  فَقُوۡلُوۡا یٰۤاَبَانَاۤ  اِنَّ ابۡنَکَ سَرَقَ ۚ وَ مَا شَہِدۡنَاۤ اِلَّا بِمَا عَلِمۡنَا وَ مَا کُنَّا لِلۡغَیۡبِ حٰفِظِیۡنَ ﴿﴾  وَ سۡـَٔلِ الۡقَرۡیَۃَ  الَّتِیۡ  کُنَّا فِیۡہَا وَ الۡعِیۡرَ الَّتِیۡۤ  اَقۡبَلۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾
Kembalilah kamu kepada ayah kamu  lalu  katakanlah:  “Ya ayah kami, sesungguhnya anak engkau itu telah mencuri, dan kami sama sekali tidak   menyatakan kecuali apa yang telah kami ketahui, dan kami tidak dapat menjadi penjaga atas hal-hal yang gaib, وَ سۡـَٔلِ الۡقَرۡیَۃَ  الَّتِیۡ  کُنَّا فِیۡہَا وَ الۡعِیۡرَ الَّتِیۡۤ  اَقۡبَلۡنَا فِیۡہَا --  Dan tanyakanlah kepada warga kota  yang kami berada di dalamnya dan kepada kafilah yang bersamanya kami datang, وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ  -- dan sesungguhnya kami  pasti benar” (Yusuf [12]:82-83).
       Makna    qaryah (kota) dalam ayat:  “Dan tanyakanlah kepada warga kota   yang kami berada di dalamnya dan kepada kafilah yang bersamanya kami datang”, sesungguhnya berarti ahl al-qaryah (warga kota) dan ‘īr (kafilah) itu ashhab al-’īr (anggota-anggota kafilah). Kata-kata ahl dan ashhab telah ditinggalkan untuk memberikan tekanan kepada pernyataan yang disebut dalam ayat ini. Demikian juga penggunaan kata al-jibāl maknanya adalah   suku-suku liar  yang mendiami (penghuni wilayah) pegunungan.

Devisi Kavaleri (Pasukan berkuda) Lasykar Nabi Sulaiman a.s.

      Demikian pula ungkapan  mengenai jenis  “pasukan” Nabi Sulaiman a.s. dalam ayat yang sedang ditafsirkan ini hendaknya dibandingkan dengan ayat-ayat QS.21:83;  QS.34:13 dan QS.38:38. Agaknya kata itu menunjuk kepada anggota-anggota balatentara Nabi Sulaiman a.s.. Ketiga kata — jin, ins (manusia) dan thair (burung-burung) — dapat menggambarkan tiga kesatuan lasykar  atau tiga divisi pasukan tempur  beliau.
   Dalam ayat sekarang dan dalam  QS.34:13, kata jin dipergunakan untuk menggambarkan satu seksi (divisi) tertentu lasykar itu, sedang dalam QS.21:83 dan QS.38:38 kata syayāthin dipergunakan untuk mengemukakan golongan itu juga, karena Nabi Sulaiman a.s.  telah menundukkan dan menaklukkan suku bangsa  liar yang tinggal di wilayah pegunungan maka itulah   arti kedua kata jin dan syayāthin itu, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lasykar beliau dan melakukan berbagai tugas berat untuk beliau.
     Kata thair berarti kuda-kuda yang bergerak cepat, dapat menggambarkan pasukan berkuda Nabi Sulaiman a.s..    Arti kata ini dikuatkan dalam QS.38:32-34, di sana Nabi Sulaiman a.s.  dilukiskan mempunyai kegemaran yang besar terhadap kuda. Dengan demikian, di mana jin dan ins (manusia) menggambarkan dua unit pasukan infanteri Nabi Sulaiman a.s., maka thair (burung-burung) berarti pasukan kavaleri beliau.
    Akan tetapi jika thair dapat dianggap berarti burung-burung yang sebenarnya, maka kata itu akan berarti burung-burung yang Nabi Sulaiman a.s. pergunakan untuk mengirimkan pesan-pesan perintah. Oleh karena itu burung-burung itu pun merupakan pembantu yang sangat berguna dan perlu sekali bagi lasykar beliau.
    Namun ketiga perkataan yang dipergunakan dalam arti kiasan itu masing-masing dapat pula diartikan  “orang-orang besar,” “orang-orang biasa,” dan “orang-orang berkeruhanian tinggi.” Jadi, kata   thair kecuali berarti “burung”, secara kiasan kata tersebut  dapat juga diterapkan kepada binatang-binatang yang berlari cepat, seperti kuda, dan lain-lain. Thayyar adalah bentuk kesangatan dari thair, berarti seekor kuda yang berpancaindera tajam dan kakinya bergerak cepat; yang dapat berlari bagaikan terbang (Lexicon Lane;  Lisan-ul-‘Arab).
       Makna waza’a  kalimat  فَہُمۡ  یُوۡزَعُوۡنَ  dalam ayat: وَ حُشِرَ لِسُلَیۡمٰنَ جُنُوۡدُہٗ  مِنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  وَ الطَّیۡرِ  فَہُمۡ  یُوۡزَعُوۡنَ – “Dan dihimpunkan bagi Sulaiman lasykar-lasykarnya bersama-sama, terdiri dari jin,  manusia, dan burung-burung,  lalu mereka  diatur menjadi bagian-bagian yang terpisah,“ berarti: “Ia menghentikan bagian pertama lasykar itu  supaya bagian terakhir lasykar itu dapat menggabungkan diri dengan mereka”.
        Ungkapan kalimat   Huwa yaza’u aj-jaisya berarti: “Ia tengah mengatur prajurit-prajurit dengan tertib dan menempatkan mereka dalam jajaran-jajaran” (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Ungkapan Al-Quran itu berarti: (1) Mereka dibentuk menjadi kelompok-kelompok terpisah. (2) Mereka berderap maju seperti selayaknya lasykar yang teratur  dan berdisiplin. (3) Bagian pertama dihentikan  agar supaya bagian terakhir dapat menggabungkan diri dengan mereka. 
       Jadi,  kata-kata itu menunjukkan  bahwa Nabi Sulaiman a.s.  mempunyai angkatan perang terlatih baik serta  disiplin dan mempunyai beberapa kesatuan (divisi) lain yang terpisah lagi berbeda.

Makna “Kaum Semut

     Makna ayat selanjutnya berkenaan dengan    “Wādi namli” (lembah semut) dan penghuninya, firman-Nya:
حَتّٰۤی  اِذَاۤ  اَتَوۡا عَلٰی وَادِ  النَّمۡلِ ۙ قَالَتۡ نَمۡلَۃٌ  یّٰۤاَیُّہَا النَّمۡلُ ادۡخُلُوۡا مَسٰکِنَکُمۡ ۚ لَا یَحۡطِمَنَّکُمۡ  سُلَیۡمٰنُ  وَ جُنُوۡدُہٗ ۙ وَ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  فَتَبَسَّمَ ضَاحِکًا مِّنۡ قَوۡلِہَا وَ قَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ  اَنۡ اَشۡکُرَ  نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Hingga apabila mereka sampai ke lembah Semut, seorang dari kaum Semut berkata: “Hai kaum Semut, masuklah kamu ke dalam tempat tinggalmu, supaya Sulaiman dan lasykarnya tidak menghancurkan kamu  sedang mereka tidak menyadari.” Maka ia, Sulaiman, tersenyum sambil tertawa mendengar perkataannya dan berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), anugerahkanlah kepadaku taufik untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang-tuaku, dan untuk berbuat amal saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat Engkau di antara hamba-hamba Engkau yang saleh.”  (An-Naml [27]:18-20).
       Karena kata naml nama benda maka “Lembah An-Naml” bukan berarti lembah semut sebagaimana pada umumnya disalah-artikan, melainkan lembah  tempat tinggal suatu suku bangsa bernama Naml. Di dalam “Qamus” kita lihat, al-abriqatu min miyahil namlati, yakni  “Abriqah adalah salah satu mata air kepunyaan Namlah”. Jadi Naml itu nama suatu suku bangsa, seperti Mazin (Hamasah) — artinya telur-telur semut— adalah nama seorang orang Arab.
       Di tanah Arab bukanlah sesuatu yang aneh  bahwa suku-suku bangsa diberi nama hewan dan binatang buas, seperti Banu Asad, Banu Kalb, Banu Naml, dan sebagainya. Lagi pula, penggunaan kata-kata udkhuluu (masuklah) dan masākinakum (tempat-tempat tinggalmu) dalam ayat ini memberikan dukungan kuat kepada pendapat  bahwa Naml adalah suatu kabilah atau suku bangsa, karena kata kerja yang disebut pertama hanya dipergunakan terhadap wujud-wujud yang berakal, dan ungkapan yang kedua (tempat tinggal kamu) juga telah dipergunakan dalam Al-Quran khusus untuk tempat-tempat tinggal manusia (QS.29:39; QS.32:27).
      Jadi, Namlah berarti seseorang dari suku An-Naml — seorang bangsa Naml. Orang Naml tersebut mungkin pemimpin mereka, dan ia telah memerintahkan kaumnya  supaya menghindari jalan  yang dilalui  balatentara Nabi Sulaiman a.s.  dan memasuki rumah-rumah mereka:    یّٰۤاَیُّہَا    النَّمۡلُ ادۡخُلُوۡا مَسٰکِنَکُمۡ ۚ لَا یَحۡطِمَنَّکُمۡ  سُلَیۡمٰنُ  وَ جُنُوۡدُہٗ ۙ وَ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ --   “Hai kaum Semut, masuklah kamu ke dalam tempat tinggalmu, supaya Sulaiman dan lasykarnya tidak menghancurkan kamu  sedang mereka tidak menyadari.”    
       Menurut beberapa sumber lembah itu terletak di antara Jibrin dan Asqalan, sebuah kota di pantai laut, dan dua belas mil ke sebelah utara Gaz, dekat Sinai (Taqwin al-Buldan). Jibrin adalah sebuah kota di tepi laut, terletak di wilayah Damsyiq. Hal ini menunjukkan bahwa lembah Naml terletak dekat pantai laut, berhadapan dengan atau dekat Yerusalem, pada jalan antara Damsyiq dan Hijaz, kira-kira jarak 100 mil dari Damsyiq. Bagian negeri ini  sampai masa Nabi Sulaiman a.s. diduduki orang-orang Arab dan orang-orang Midian. (Lihat peta-peta Siria pada Palestina kuno dan modern).
      Tetapi menurut sumber-sumber lain, lembah Naml itu terletak di Yaman. Pandangan terakhir ini agaknya lebih dekat kepada kenyataan. Mengingat akan kenyataan-kenyataan sejarah ini, hikayat-hikayat yang terjalin sekitar lembah itu hanyalah duga-dugaan semata-mata. Kenyataan sebenarnya ialah agaknya Nabi Sulaimana.s.  sedang dalam suatu gerakan militer menuju ke wilayah kerajaan Saba, boleh jadi beliau melewati lembah  tempat tinggal suku bangsa (qabilah) yang disebut Naml (semut) itu.

Komentar Positif  Pemimpin Kaum “Semut” Mengenai Pasukan Nabi Sulaiman a.s. &  Makna “Kegembiraan” Nabi Sulaiman a.s.

     Rupa-rupanya keshalihan dan ketakwaan prajurit-prajurit Nabi Sulaiman a.s. dahulu kala itu  termasyhur ke mana-mana. Mereka tidak pernah secara sadar menimbulkan kerugian atau kemudaratan kepada bangsa lain. Inilah agaknya kesimpulan dari kata-kata pemimpin “kaum semut”: وَ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ --  sedang mereka tidak menyadari.
       Perkataan dari pemimpin suku Naml (semut)  tersebut sangat  menggembirakan hati Nabi Sulaiman a.s.  sebagaimana jelas nampak dari ayat berikutnya:  فَتَبَسَّمَ ضَاحِکًا مِّنۡ قَوۡلِہَا وَ قَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ  اَنۡ اَشۡکُرَ  نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ  -- Maka ia, Sulaiman, tersenyum sambil tertawa mendengar perkataannya dan berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), anugerahkanlah kepadaku taufik untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang-tuaku, dan untuk berbuat amal saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat Engkau di antara hamba-hamba Engkau yang saleh.”  (An-Naml [27]:20).
      Karena dhāhika maknanya  ia merasa kagum atau ia merasa senang (Lexicon Lane). Ayat ini mengandung arti bahwa Nabi Sulaiman a.s.  kagum dan senang sekali dengan pendapat baik yang dikemukakan oleh suku bangsa Naml tentang kekuatan dan kesalehan diri beliau dan balatentara beliau.
      Kegembiraan  Nabi Sulaiman a.s.   yang diungkapkan dalam ucapan beliau:  رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ  اَنۡ اَشۡکُرَ  نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ    --  “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), anugerahkanlah kepadaku taufik untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang-tuaku, dan untuk berbuat amal saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat Engkau di antara hamba-hamba Engkau yang saleh”  mengisyaratkan kepada telah terlaksanakan perintah Allah Swt. kepada Nabi Daud a.s.  agar semua sarana keberhasilan  duniawi yang diraih beliau  – antara lain dalam mengembangkan “industri peralatan militer”   -- digunakan untuk berbuat amal shaleh, bukan untuk tujuan-tujuan  yang merugikan pihak-pihak lain, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ  مِنَّا فَضۡلًا ؕ یٰجِبَالُ اَوِّبِیۡ  مَعَہٗ  وَ الطَّیۡرَ ۚ وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ ﴿ۙ﴾  اَنِ اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ  وَ اعۡمَلُوۡا صَالِحًا ؕ اِنِّیۡ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ  ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan karunia dari Kami kepada Daud  dan berfirman:   ”Hai  gunung-gunung  dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama dia.” وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ  --    Dan Kami menjadikan besi lunak baginya. اَنِ اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ    --   Berfirman: “Buatlah baju rantai yang  cukup panjang serta ukurlah cincin-cincinnya secara tepat, وَ اعۡمَلُوۡا صَالِحًا -- dan berbuatlah amal saleh, اِنِّیۡ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ    -- sesungguhnya Aku melihat   apa pun yang kamu kerjakan.” (As-Sabā [34]:11-12). 

“Jendera Hud-hud”, Komandan Intelijen Pasukan Nabi Sulaiman a.s.

       Selanjutnya Allah Swt. berfirman tentang  pemeriksaan pasukan yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. sebelum beliau melakukan langkah (tindakan) selanjutnya terhadap kerajaan Saba: 
وَ تَفَقَّدَ الطَّیۡرَ فَقَالَ مَا لِیَ  لَاۤ  اَرَی الۡہُدۡہُدَ ۫ۖ اَمۡ کَانَ مِنَ الۡغَآئِبِیۡنَ ﴿﴾  لَاُعَذِّبَنَّہٗ  عَذَابًا شَدِیۡدًا  اَوۡ لَاَاذۡبَحَنَّہٗۤ اَوۡ لَیَاۡتِیَنِّیۡ بِسُلۡطٰنٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾  فَمَکَثَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ فَقَالَ اَحَطۡتُّ بِمَا لَمۡ تُحِطۡ بِہٖ وَ جِئۡتُکَ مِنۡ سَبَاٍۭ بِنَبَاٍ یَّقِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ia, Sulaiman, memeriksa  burung-burung itu, kemudian ia berkata: “Mengapa aku tidak melihat  Hud-hud? Ataukah ia sengaja tidak hadir?   Niscaya aku akan menghukumnya dengan azab yang keras, atau niscaya aku akan menyembelih-nya, atau ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.”    Maka tidak lama ia menunggu Hud-hud pun datang dan berkata: “Aku telah mengetahui apa yang eng-kau belum mengetahuinya, dan aku  datang kepada engkau dari negeri ka-um Saba dengan kabar yang  meyakinkan.  (An-Naml [27]:21-23).
      Tafaqqada (ia memeriksa) diambil dari kata faqada, yakni ia kehilangan sesuatu, sesuatu itu tidak nampak, atau menjadi tidak nampak kepadanya. Tafaqqada-hu berarti  ia mencari sesuatu dengan santai atau berulang-ulang karena sesuatu itu tidak nampak kepadanya, atau ia berusaha memperoleh pengetahuan tentang sesuatu itu (Al-Mufradat).
       Jadi makna ayat: وَ تَفَقَّدَ الطَّیۡرَ فَقَالَ مَا لِیَ  لَاۤ  اَرَی الۡہُدۡہُدَ   -- “Dan ia, Sulaiman, memeriksa  burung-burung itu, kemudian ia berkata: “Mengapa aku tidak melihat  Hud-hudاَمۡ کَانَ مِنَ الۡغَآئِبِیۡنَ --  Ataukah ia sengaja tidak hadir?“ Agaknya Nabi Sulaiman a.s.  telah memeriksa balatentaranya, dan Hud-hud, seorang pejabat negara yang penting — mungkin seorang jenderal— tidak hadir pada peristiwa penting itu.
      Bertentangan dengan kepercayaan umum, yang berdasar pada hikayat dan ceritera khayal, Hud-hud bukanlah seekor burung yang dipekerjakan oleh Nabi Sulaiman a.s.  sebagai pengemban amanat beliau, karena:
     (a) tidaklah sesuai dengan kewibawaan Nabi Sulaiman a.s.  sebagai seorang raja besar dan seorang nabi Allah untuk begitu gusarnya kepada seekor burung kecil, sehingga berkenan menjatuhkan hukuman berat kepada burung itu atau bahkan hendak membunuhnya.
     (b) Rupa-rupanya Hud-hud, paham benar akan undang-undang dan keperluan-keperluan negara, dan juga paham sekali mengenai tauhid (ayat-ayat 25-26), padahal burung-burung tidak demikian.
     (c) Hud-hud, karena bukan seekor burung pengembara, tidak dapat terbang menempuh jarak jauh, dan oleh sebab itu tidak dapat dipilih untuk pergi jauh ke negeri Saba dan kembali (ayat 23).
     Dari kenyataan ini dapat disimpulkan, bahwa Hud-hud bukan seekor burung, melainkan seorang manusia, bahkan seorang pembesar yang bertanggung-jawab atau seorang jenderal, yang telah dipercayakan kepadanya oleh Nabi Sulaiman a.s. mengemban suatu tugas politik sangat penting kepada Ratu Saba.
       Kebiasaan tukar-menukar duta agaknya telah lazim di zaman Nabi Sulaiman a.s.. Apalagi telah merupakan kenyataan yang terkenal bahwa di wilayah Timur Tengah orang disebut dengan nama burung dan binatang lain. Hud-hud itu suatu nama yang populer di antara kaum Nabi Sulaimana.s..
       Kata Hud-hud itu agaknya bentuk ke-Arab-arab-an dari Hudad, nama yang ada dalam Bible. Rupa-rupanya nama itu pernah dipakai oleh beberapa raja Edom. Seorang putra Nabi Isma’il a.s.  pun memakai nama itu. Seperti itu pula seorang pangeran dari Edom yang melarikan diri ke Mesir karena takut akan pembunuhan besar-besaran oleh Yoab, terkenal dengan nama itu (I Raja-raja 11:14).
       Nama itu ternyata begitu umum dan begitu sering digunakan dalam Perjanjian Lama, sehingga bila digunakan tanpa keterangan  berarti “seseorang dari keluarga Edom” (Jewish Encyclopaedia). Hud-hud disebut juga sebagai nama ayahanda Bilqis, Ratu Saba (Muntaha al-Irab).

Laporan Pelaksanaan Tugas    Hud-hud  Tentang Kerajaan Saba

      Nampak dari ayat ini, bahwa Hud-hud dikirim untuk menjalankan tugas kenegaraan penting, dan ia datang membawa berita penting dari kerajaan Saba.  untuk Nabi Sulaiman a.s., tepat pada saat Nabi Sulaiman a.s. sedang memeriksa pasukan beliau. Saba dapat disamakan dengan Syeba dari Bible (I Raja-raja bab 10).
Saba adalah sebuah kota di Yaman terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari kota Shana’ dan merupakan pusat pemerintahan Ratu Saba. Lagi pula, Saba adalah cabang terkenal dari kabilah Qahthani. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنِّیۡ وَجَدۡتُّ امۡرَاَۃً  تَمۡلِکُہُمۡ وَ اُوۡتِیَتۡ مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ لَہَا عَرۡشٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾  وَجَدۡتُّہَا وَ قَوۡمَہَا یَسۡجُدُوۡنَ لِلشَّمۡسِ مِنۡ  دُوۡنِ اللّٰہِ  وَ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ  اَعۡمَالَہُمۡ فَصَدَّہُمۡ عَنِ السَّبِیۡلِ  فَہُمۡ   لَا  یَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اَلَّا یَسۡجُدُوۡا  لِلّٰہِ الَّذِیۡ یُخۡرِجُ الۡخَبۡءَ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ یَعۡلَمُ مَا تُخۡفُوۡنَ  وَ مَا  تُعۡلِنُوۡنَ ﴿﴾  اَللّٰہُ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ   رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ٛ ﴾
Aku mendapati di sana seorang perempuan memerintah atas mereka  dan ia telah diberi  segala sesuatu  dan ia mempunyai singgasana yang besar.   Aku mendapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari  selain Allah, dan  syaitan telah me-nampakkan indah bagi mereka amal-amalnya, maka dia menghalangi mereka dari jalan yang benar sehingga mereka tidak mendapat petunjuk.    Mereka tidak mau bersujud kepada Allah Yang mengeluarkan yang tersembunyi di seluruh langit dan bumi, dan  Yang Mengetahui apa-apa yang kamu sembunyikan dan apa-apa yang kamu zahirkan.    Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia, Tuhan ‘Arasy Yang Maha Agung.” (An-Naml [27]:24-27).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 24 Maret  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar