Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Kedisiplinan Berbagai Divisi
Pasukan Nabi Sulaiman a.s. dan Komentar
Positif Pemimpin “Kaum Semut” & Kesuksesan Tugas Intelijen
Jenderal “Hud-hud” ke Kerajaan Saba
Bab 8
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai benarnya kedua macam siasat berbeda yang dilakukan Nabi Daud a.s. dan Nabi
Sulaiman a.s., yakni siasat keras yang dilakukan Nabi Daud a.s. dalam menghentikan secara total serbuan-serbuan qabilah-qabilah asing yang biadab yang tinggal di daerah pegunungan
tersebut sesuai dengan Kehendak Allah Swt., demikian juga siasat yang lebih lunak yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. pun sesuai
dengan kehendak Allah Swt.,
firman-Nya:
وَ دَاوٗدَ
وَ سُلَیۡمٰنَ اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی
الۡحَرۡثِ اِذۡ نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ الۡقَوۡمِ ۚ وَ کُنَّا لِحُکۡمِہِمۡ
شٰہِدِیۡنَ﴿٭ۙ﴾ فَفَہَّمۡنٰہَا
سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ کُلًّا اٰتَیۡنَا حُکۡمًا
وَّ عِلۡمًا ۫ وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ
وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾ وَ عَلَّمۡنٰہُ صَنۡعَۃَ
لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ
شٰکِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ
بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ
بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ
شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ
یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan ingatlah
Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan
keputusan mengenai suatu ladang, ketika kambing-kambing
suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami
menjadi saksi atas benarnya keputusan
mereka. Maka Kami
memberikan pengertian kepada
Sulaiman, dan kepada
masing-masing Kami berikan kebijaksanaan dan ilmu. Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih
bersama Daud, dan Kami
Yang mengerja-kannya. Dan Kami
mengajarinya membuat baju besi bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu, maka apakah kamu mau bersyukur? وَ
لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ
وَ کُنَّا بِکُلِّ شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ -- Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin
itu bertiup atas perintahnya ke arah
daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا
دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ -- Dan kalangan
syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan pekerjaan lain selain itu, dan Kami-lah yang menjaga mereka. (Al-Anbiya [21]:79-83).
Firman Allah Swt. tersebut membantah kritikan
terhadap kedua kebijakan (siasat) yang berbeda yang dilaksanakan Nabi Daud a.s.
dan Nabi Sulaiman a.s.. Menurut Allah Swt.
siasat yang tegas
(keras) yang dilaksanakan Nabi Daud a.s. mau pun siasat yang lebih lunak
yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. dalam menundukkan kabilah-kabilah penghuni wilayah pegunungan (al-jibāl) itu -- dengan jalan mengadakan perjanjian-perjanjian persahabatan
dengan mereka – adalah sesuai dengan tuntutan keadaan dan benar adanya, firman-Nya: وَ کُنَّا لِحُکۡمِہِمۡ
شٰہِدِیۡنَ -- dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka. فَفَہَّمۡنٰہَا
سُلَیۡمٰنَ ۚ -- Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman, وَ کُلًّا اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا -- dan kepada
masing-masing Kami berikan kebijaksanaan dan ilmu.”
Kata-kata itu mengandung arti
bahwa siasat lunak dan cari damai yang dijalankan oleh Nabi Sulaiman a.s. itu memang tepat dalam keadaan-keadaan
pada saat itu, dan bahwa tuduhan yang
dilancarkan terhadap beliau oleh beberapa pengarang
Yahudi, bahwa beliau mengikuti suatu siasat
lemah yang mendatangkan keruntuhan
wangsa beliau sekali-kali tidak mempunyai dasar yang sehat.
Tetapi pembelaan
untuk Nabi Sulaiman a.s. tidak
boleh diberi arti bahwa siasat keras
yang dijalankan oleh Nabi Daud a.s. dalam masa beliau sendiri salah.
Suatu kesalah-pahaman yang menjurus
kepada kesimpulan ini telah
dihilangkan oleh anak kalimat dan kepada masing-masing dari mereka Kami
beri kebijaksanaan dan ilmu. Anak
kalimat itu memperjelas bahwa siasat-siasat
yang dijalankan, baik oleh Daud a.s. maupun oleh Sulaiman a.s., itulah yang terbaik dalam keadaan itu dan paling cocok pada peristiwa yang khas
itu.
Makna Ditundukkan-Nya Angin dan Syaitan
Kepada Nabi Sulaiman a.s.
Dalam ayat: وَ
لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ
وَ کُنَّا بِکُلِّ شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ -- Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin
itu bertiup atas perintahnya ke arah
daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Anbiya
[21]:82).
Kata sifat yang dipakai mengenai angin adalah ashifah (kencang/cepat),
sedang dalam QS.38:37 kata sifat itu disebut rukha’ (lembut), yang menunjukkan bahwa sekali pun angin bertiup kencang namun tetap lembut dan tidak mendatangkan kerusakan apa pun kepada kapal-kapal niaga Nabi Sulaiman a.s..
Kemudian makna ayat: وَ مِنَ
الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ
وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ -- “Dan kalangan syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan pekerjaan lain selain itu, dan Kami-lah yang menjaga mereka” (Al-Anbiya [21]:83), karena
syaithan berarti pemberontak
dan penentang, dan juga orang yang ahli dalam sesuatu bidang (QS.2:15), maka ayat ini bermaksud
mengatakan, bahwa bangsa-bangsa
bukan-Israil yang ditaklukkan
oleh Nabi Sulaiman a.s. telah dipekerjakan
pada berbagai pertukangan yang sulit dan berat atas perintah beliau.
Mereka bekerja sebagai tukang kayu,
pandai besi, penyelam, dan sebagainya, yaitu pekerjaan-pekerjaan yang biasa
dilakukan oleh warga bangsa jajahan
(Lihat I Raja-raja 9:21-22).
Kata-kata, yang menyelam untuk dia dapat menunjuk kepada para penyelam dari Bahrain dan Masqat, yang
melakukan pekerjaan menyelam di Teluk
Persia untuk mencari mutiara. Mereka
dipekerjakan oleh Nabi Sulaiman a.s. untuk tujuan itu.
Firman Allah Swt. berikut ini
membuktikan bahwa jin dan syaitan yang dipekerjakan oleh Nabi
Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.
bukanlah golongan makhluk halus melainkan golongan
manusia, firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ اِلَّا دَآبَّۃُ الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا
خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا
لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Maka tatkala Kami menentukan kematiannya,
sekali-kali tidak ada yang menunjukkan kematiannya kepada mereka selain rayap bumi yang memakan
tongkatnya. فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ
لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ -- Lalu tatkala
tongkat itu jatuh, jin-jin mengetahui
dengan jelas bahwa seandainya mereka
mengetahui yang gaib, مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ -- mereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan. (Sabā
[34]:15).
“Tongkat” Nabi Sulaiman a.s.
merupakan kiasan dari kekuasaan atau kerajaan
Nabi Sulaiman a.s.. Putra yang sia-sia sebagai penerus Nabi Sulaiman a.s., Rehoboam; di bawah pemerintahannya yang
lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s.
yang tadinya besar dan
berkuasa telah menjadi berantakan (I Raja-raja, fatsal 12, 13, 14
& Jewish Encyclopaedia di
bawah “Rehoboam”). Kehancuran dan keterpecahbelahan
kerajaan Nabi Sulaiman a.s. mulai berlaku pada masa pemerintahan
Rehoboam, yang dalam Al-Quran diumpamakan sebagai “jasad tak bernyawa” yang duduk di singgasana Nabi Sulaiman a.s (QS.38:3).
Kiasan Mengenai Tiga Macam Divisi Bala-Tentara Nabi Sulaiman
a.s.
Salah satu contoh siasat
lebih lunak yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. dalam menanggulangi infiltrasi
yang dilakukan pihak asing
terhadap wilayah kerajaan Bani Israil adalah
berkenaan dengan kerajaan Saba
yang dipimpin oleh Ratu Saba, yakni
walau pun Nabi Sulaiman a.s. membawa pasukan
tempurnya tetapi beliau lebih mengedepankan
upaya diplomasi terhadap Ratu Saba,firman-Nya:
وَ حُشِرَ
لِسُلَیۡمٰنَ جُنُوۡدُہٗ مِنَ الۡجِنِّ وَ
الۡاِنۡسِ وَ الطَّیۡرِ فَہُمۡ
یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَتَوۡا عَلٰی وَادِ النَّمۡلِ ۙ
قَالَتۡ نَمۡلَۃٌ یّٰۤاَیُّہَا النَّمۡلُ
ادۡخُلُوۡا مَسٰکِنَکُمۡ ۚ لَا یَحۡطِمَنَّکُمۡ
سُلَیۡمٰنُ وَ جُنُوۡدُہٗ ۙ وَ
ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَتَبَسَّمَ ضَاحِکًا مِّنۡ قَوۡلِہَا وَ قَالَ رَبِّ
اَوۡزِعۡنِیۡۤ اَنۡ اَشۡکُرَ نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ
عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ
بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Dan dihimpunkan bagi Sulaiman lasykar-lasykarnya bersama-sama, terdiri dari jin, manusia,
dan burung-burung, lalu mereka
diatur menjadi bagian-bagian yang terpisah. Hingga apabila mereka sampai ke lembah Semut, seorang
dari kaum Semut berkata: “Hai kaum Semut, masuklah kamu ke dalam tempat tinggalmu, supaya Sulaiman dan lasykarnya tidak menghancurkan
kamu sedang mereka tidak menyadari.” Maka ia,
Sulaiman, tersenyum sambil tertawa mendengar perkataannya
dan berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
anugerahkanlah kepadaku taufik
untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada
orang-tuaku, dan untuk ber-buat amal
saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah
aku dengan rahmat Engkau di antara
hamba-hamba Engkau yang saleh.” (An-Naml
[27]:17-20).
Makna manthiq (bahasa) berkenaan dengan burung-burung yang dimengerti oleh Nabi Sulaiman a.s. telah
dijelaskan sebelumnya sehubungan dengan
firman-Nya:
وَ وَرِثَ سُلَیۡمٰنُ دَاوٗدَ وَ قَالَ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ عُلِّمۡنَا
مَنۡطِقَ الطَّیۡرِ وَ اُوۡتِیۡنَا مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ
الۡفَضۡلُ الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, وَ قَالَ
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ عُلِّمۡنَا مَنۡطِقَ الطَّیۡرِ -- dan ia
berkata: “Hai manusia, kami telah diajari bahasa burung, وَ اُوۡتِیۡنَا مِنۡ
کُلِّ شَیۡءٍ -- dan
kami telah diberi segala sesuatu, اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ
الۡفَضۡلُ الۡمُبِیۡنُ -- sesungguhnya
ini benar-benar karunia yang nyata.” (An-Naml [27]:17).
Perlu diketahui bahwa di dalam Al-Quran
berkenaan dengan kisah Nabi Daud a.s. dan
Nabi Sulaiman a.s. banyak digunakan
ungkapan-ungkapan kiasan (perumpamaan) yakni merupakan ayat-ayat yang mutasyabihat (QS.3:8), yang karena tidak
bisa “membacanya” atau tidak memahaminya
sehingga banyak orang yang salah menafsirkannya.
Contohnya yang dimaksud dengan jin dan syaitan sama sekali tidak ada hubungannya dengan makhluk
halus yang disebut jin atau syaitan
berupa “makhluk gaib” (QS.7:27), melainkan merupakan ungkapan kiasan berkenaan bangsa-bangsa asing di
wilayah Timur Tengah yang ditaklukkan oleh Nabi Daud
a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.
(QS.2:247-252; QS.5:21-27), lalu
berbagai keakhlian mereka dimanfaatkan
oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman
a.s. untuk kepentingan kerajaan Bani Israil.
Jadi kata jin dapat diartikan jibāl (gunung)
yakni suku-suku bangsa yang liar
yang tinggal di pegunungan, karena
menjadi salah satu gaya bahasa
Al-Quran penyebutan penduduk suatu kota digambarkan dengan menyebut kotanya
sebagaimana perkataan
saudara Nabi Yusuf a.s. berkenaan dengan Benyamin yang ditahan di Mesir karena dianggap telah mencuri sukatan milik raja Mesir (QS.12:70-81), firman-Nya:
اِرۡجِعُوۡۤا اِلٰۤی اَبِیۡکُمۡ فَقُوۡلُوۡا یٰۤاَبَانَاۤ اِنَّ ابۡنَکَ سَرَقَ ۚ وَ مَا شَہِدۡنَاۤ اِلَّا بِمَا
عَلِمۡنَا وَ مَا کُنَّا لِلۡغَیۡبِ حٰفِظِیۡنَ ﴿﴾ وَ سۡـَٔلِ الۡقَرۡیَۃَ الَّتِیۡ کُنَّا فِیۡہَا وَ الۡعِیۡرَ الَّتِیۡۤ اَقۡبَلۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾
“Kembalilah kamu kepada ayah kamu lalu
katakanlah: “Ya ayah kami, sesungguhnya anak engkau itu telah mencuri, dan kami
sama sekali tidak menyatakan kecuali apa yang telah kami ketahui, dan kami tidak dapat menjadi penjaga atas
hal-hal yang gaib, وَ سۡـَٔلِ الۡقَرۡیَۃَ الَّتِیۡ کُنَّا فِیۡہَا وَ الۡعِیۡرَ الَّتِیۡۤ اَقۡبَلۡنَا فِیۡہَا -- Dan tanyakanlah
kepada warga kota yang kami
berada di dalamnya dan kepada kafilah
yang bersamanya kami datang, وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ -- dan sesungguhnya kami
pasti benar” (Yusuf
[12]:82-83).
Makna qaryah (kota)
dalam ayat: “Dan tanyakanlah kepada warga kota yang kami berada di dalamnya dan kepada kafilah yang bersamanya kami datang”, sesungguhnya berarti ahl al-qaryah
(warga kota) dan ‘īr (kafilah) itu ashhab al-’īr (anggota-anggota
kafilah). Kata-kata ahl dan ashhab telah ditinggalkan untuk
memberikan tekanan kepada pernyataan
yang disebut dalam ayat ini. Demikian juga penggunaan kata al-jibāl maknanya adalah suku-suku liar yang mendiami (penghuni wilayah) pegunungan.
Devisi Kavaleri (Pasukan
berkuda) Lasykar Nabi Sulaiman a.s.
Demikian pula ungkapan mengenai jenis
“pasukan” Nabi Sulaiman a.s. dalam
ayat yang sedang ditafsirkan ini hendaknya dibandingkan dengan ayat-ayat
QS.21:83; QS.34:13 dan QS.38:38. Agaknya
kata itu menunjuk kepada anggota-anggota
balatentara Nabi Sulaiman a.s.. Ketiga kata — jin, ins (manusia) dan
thair (burung-burung) — dapat menggambarkan tiga kesatuan lasykar atau tiga divisi pasukan tempur beliau.
Dalam ayat sekarang dan dalam QS.34:13, kata jin dipergunakan untuk
menggambarkan satu seksi (divisi) tertentu
lasykar itu, sedang dalam QS.21:83
dan QS.38:38 kata syayāthin dipergunakan untuk mengemukakan golongan itu
juga, karena Nabi Sulaiman a.s. telah
menundukkan dan menaklukkan suku bangsa liar yang tinggal di wilayah pegunungan maka itulah arti
kedua kata jin dan syayāthin itu, yang merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari lasykar beliau
dan melakukan berbagai tugas berat
untuk beliau.
Kata thair berarti kuda-kuda yang bergerak cepat, dapat
menggambarkan pasukan berkuda Nabi
Sulaiman a.s.. Arti kata ini dikuatkan dalam QS.38:32-34, di
sana Nabi Sulaiman a.s. dilukiskan
mempunyai kegemaran yang besar
terhadap kuda. Dengan demikian, di
mana jin dan ins (manusia) menggambarkan dua unit pasukan infanteri Nabi Sulaiman a.s., maka thair (burung-burung)
berarti pasukan kavaleri beliau.
Akan tetapi jika thair dapat
dianggap berarti burung-burung yang
sebenarnya, maka kata itu akan berarti burung-burung
yang Nabi Sulaiman a.s. pergunakan untuk mengirimkan pesan-pesan perintah. Oleh karena itu burung-burung
itu pun merupakan pembantu yang
sangat berguna dan perlu sekali bagi lasykar beliau.
Namun ketiga perkataan yang dipergunakan
dalam arti kiasan itu masing-masing
dapat pula diartikan “orang-orang
besar,” “orang-orang biasa,” dan “orang-orang berkeruhanian tinggi.” Jadi,
kata thair kecuali berarti “burung”, secara
kiasan kata tersebut dapat juga
diterapkan kepada binatang-binatang
yang berlari cepat, seperti kuda, dan lain-lain. Thayyar adalah bentuk
kesangatan dari thair, berarti seekor
kuda yang berpancaindera tajam
dan kakinya bergerak cepat; yang
dapat berlari bagaikan terbang (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab).
Makna waza’a
kalimat
فَہُمۡ
یُوۡزَعُوۡنَ dalam ayat: وَ حُشِرَ لِسُلَیۡمٰنَ جُنُوۡدُہٗ
مِنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ وَ
الطَّیۡرِ فَہُمۡ یُوۡزَعُوۡنَ – “Dan dihimpunkan bagi Sulaiman lasykar-lasykarnya bersama-sama, terdiri dari jin, manusia,
dan burung-burung, lalu mereka
diatur menjadi bagian-bagian yang terpisah,“ berarti:
“Ia menghentikan bagian pertama lasykar
itu supaya bagian
terakhir lasykar itu dapat menggabungkan
diri dengan mereka”.
Ungkapan kalimat Huwa
yaza’u aj-jaisya berarti: “Ia tengah mengatur
prajurit-prajurit dengan tertib
dan menempatkan mereka dalam jajaran-jajaran”
(Al-Aqrab-ul-Mawarid).
Ungkapan Al-Quran itu berarti: (1) Mereka dibentuk menjadi kelompok-kelompok terpisah. (2)
Mereka berderap maju seperti
selayaknya lasykar yang teratur dan berdisiplin.
(3) Bagian pertama dihentikan agar supaya bagian terakhir dapat menggabungkan diri dengan mereka.
Jadi, kata-kata
itu menunjukkan bahwa Nabi Sulaiman a.s.
mempunyai angkatan perang terlatih baik serta
disiplin dan mempunyai
beberapa kesatuan (divisi) lain yang terpisah lagi berbeda.
Makna “Kaum Semut”
Makna
ayat selanjutnya berkenaan dengan “Wādi namli” (lembah semut) dan penghuninya, firman-Nya:
حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَتَوۡا عَلٰی وَادِ النَّمۡلِ ۙ
قَالَتۡ نَمۡلَۃٌ یّٰۤاَیُّہَا النَّمۡلُ
ادۡخُلُوۡا مَسٰکِنَکُمۡ ۚ لَا یَحۡطِمَنَّکُمۡ
سُلَیۡمٰنُ وَ جُنُوۡدُہٗ ۙ وَ
ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَتَبَسَّمَ ضَاحِکًا مِّنۡ قَوۡلِہَا وَ قَالَ رَبِّ
اَوۡزِعۡنِیۡۤ اَنۡ اَشۡکُرَ نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ
عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ
بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Hingga
apabila mereka sampai ke lembah Semut,
seorang dari kaum Semut
berkata: “Hai kaum Semut, masuklah kamu ke dalam tempat tinggalmu,
supaya Sulaiman dan lasykarnya tidak
menghancurkan kamu sedang mereka tidak menyadari.” Maka ia,
Sulaiman, tersenyum sambil tertawa mendengar perkataannya
dan berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
anugerahkanlah kepadaku taufik
untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada
orang-tuaku, dan untuk berbuat amal
saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah
aku dengan rahmat Engkau di antara
hamba-hamba Engkau yang saleh.” (An-Naml
[27]:18-20).
Karena kata naml nama benda
maka “Lembah An-Naml” bukan berarti lembah
semut sebagaimana pada umumnya disalah-artikan,
melainkan lembah tempat tinggal suatu suku bangsa bernama Naml. Di dalam “Qamus” kita lihat, al-abriqatu
min miyahil namlati, yakni “Abriqah adalah salah satu mata air kepunyaan
Namlah”. Jadi Naml itu nama
suatu suku bangsa, seperti Mazin (Hamasah)
— artinya telur-telur semut— adalah nama seorang orang Arab.
Di tanah Arab bukanlah sesuatu
yang aneh bahwa suku-suku bangsa diberi nama
hewan dan binatang buas, seperti Banu Asad, Banu Kalb, Banu Naml, dan
sebagainya. Lagi pula, penggunaan kata-kata udkhuluu (masuklah) dan masākinakum
(tempat-tempat tinggalmu) dalam ayat ini memberikan dukungan kuat kepada
pendapat bahwa Naml adalah suatu kabilah atau suku bangsa, karena kata
kerja yang disebut pertama hanya dipergunakan terhadap wujud-wujud yang berakal, dan ungkapan yang kedua (tempat tinggal
kamu) juga telah dipergunakan dalam Al-Quran
khusus untuk tempat-tempat tinggal
manusia (QS.29:39; QS.32:27).
Jadi, Namlah berarti seseorang dari suku An-Naml —
seorang bangsa Naml. Orang Naml tersebut mungkin pemimpin mereka, dan ia telah
memerintahkan kaumnya supaya menghindari jalan yang dilalui balatentara
Nabi Sulaiman a.s. dan memasuki
rumah-rumah mereka: یّٰۤاَیُّہَا النَّمۡلُ ادۡخُلُوۡا مَسٰکِنَکُمۡ ۚ لَا
یَحۡطِمَنَّکُمۡ سُلَیۡمٰنُ وَ جُنُوۡدُہٗ ۙ وَ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- “Hai kaum
Semut, masuklah kamu ke dalam tempat
tinggalmu, supaya Sulaiman dan lasykarnya
tidak menghancurkan kamu sedang mereka tidak menyadari.”
Menurut beberapa sumber lembah itu terletak di antara Jibrin dan
Asqalan, sebuah kota di pantai laut, dan dua belas mil ke sebelah utara Gaz,
dekat Sinai (Taqwin al-Buldan). Jibrin adalah sebuah kota di tepi laut,
terletak di wilayah Damsyiq. Hal ini menunjukkan bahwa lembah Naml terletak dekat pantai laut, berhadapan dengan atau
dekat Yerusalem, pada jalan antara Damsyiq dan Hijaz, kira-kira jarak 100 mil
dari Damsyiq. Bagian negeri ini sampai
masa Nabi Sulaiman a.s. diduduki orang-orang
Arab dan orang-orang Midian.
(Lihat peta-peta Siria pada Palestina kuno dan modern).
Tetapi menurut sumber-sumber
lain, lembah Naml itu terletak di
Yaman. Pandangan terakhir ini agaknya lebih dekat kepada kenyataan. Mengingat
akan kenyataan-kenyataan sejarah ini, hikayat-hikayat yang terjalin sekitar lembah itu hanyalah duga-dugaan semata-mata. Kenyataan sebenarnya ialah agaknya Nabi
Sulaimana.s. sedang dalam
suatu gerakan militer menuju ke
wilayah kerajaan Saba, boleh jadi
beliau melewati lembah tempat tinggal suku bangsa (qabilah) yang disebut Naml (semut) itu.
Komentar
Positif Pemimpin Kaum “Semut”
Mengenai Pasukan Nabi Sulaiman a.s.
& Makna “Kegembiraan” Nabi Sulaiman a.s.
Rupa-rupanya keshalihan dan ketakwaan
prajurit-prajurit Nabi Sulaiman a.s. dahulu kala itu termasyhur
ke mana-mana. Mereka tidak pernah secara
sadar menimbulkan kerugian atau
kemudaratan kepada bangsa lain.
Inilah agaknya kesimpulan dari kata-kata pemimpin “kaum semut”: وَ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- sedang mereka
tidak menyadari.
Perkataan dari pemimpin suku Naml (semut) tersebut sangat menggembirakan
hati Nabi Sulaiman a.s. sebagaimana
jelas nampak dari ayat berikutnya: فَتَبَسَّمَ ضَاحِکًا مِّنۡ قَوۡلِہَا وَ قَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ اَنۡ اَشۡکُرَ
نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ
اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ
الصّٰلِحِیۡنَ -- Maka
ia, Sulaiman, tersenyum sambil tertawa mendengar perkataannya dan berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), anugerahkanlah kepadaku taufik untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada
orang-tuaku, dan untuk berbuat amal
saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah
aku dengan rahmat Engkau di antara
hamba-hamba Engkau yang saleh.” (An-Naml
[27]:20).
Karena dhāhika
maknanya ia merasa kagum atau ia
merasa senang (Lexicon Lane).
Ayat ini mengandung arti bahwa Nabi Sulaiman a.s. kagum
dan senang sekali dengan pendapat baik yang dikemukakan oleh suku bangsa Naml tentang kekuatan dan kesalehan diri beliau dan balatentara
beliau.
Kegembiraan Nabi Sulaiman a.s. yang diungkapkan dalam ucapan beliau: رَبِّ
اَوۡزِعۡنِیۡۤ اَنۡ اَشۡکُرَ نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ
عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ
بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ -- “Ya
Rabb-ku (Tuhan-ku), anugerahkanlah kepadaku taufik untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada
orang-tuaku, dan untuk berbuat amal
saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah
aku dengan rahmat Engkau di antara
hamba-hamba Engkau yang saleh”
mengisyaratkan kepada telah terlaksanakan
perintah Allah Swt. kepada Nabi Daud
a.s. agar semua sarana keberhasilan duniawi yang diraih beliau – antara lain dalam mengembangkan “industri peralatan militer” -- digunakan untuk berbuat amal shaleh, bukan untuk tujuan-tujuan yang merugikan
pihak-pihak lain, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضۡلًا ؕ
یٰجِبَالُ اَوِّبِیۡ مَعَہٗ وَ الطَّیۡرَ ۚ وَ اَلَنَّا لَہُ الۡحَدِیۡدَ ﴿ۙ﴾ اَنِ اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ وَ اعۡمَلُوۡا صَالِحًا ؕ اِنِّیۡ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan
karunia dari Kami kepada Daud
dan berfirman: ”Hai
gunung-gunung dan burung-burung,
bertasbihlah berulang-ulang bersama dia.” وَ اَلَنَّا لَہُ الۡحَدِیۡدَ -- Dan
Kami menjadikan besi lunak baginya. اَنِ اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ -- Berfirman:
“Buatlah baju rantai yang cukup panjang
serta ukurlah cincin-cincinnya
secara tepat, وَ اعۡمَلُوۡا
صَالِحًا -- dan berbuatlah amal
saleh, اِنِّیۡ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ
بَصِیۡرٌ -- sesungguhnya Aku melihat apa pun yang kamu
kerjakan.” (As-Sabā [34]:11-12).
“Jendera Hud-hud”, Komandan Intelijen Pasukan Nabi Sulaiman
a.s.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
tentang pemeriksaan pasukan yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. sebelum
beliau melakukan langkah (tindakan) selanjutnya terhadap kerajaan Saba:
وَ
تَفَقَّدَ الطَّیۡرَ فَقَالَ مَا لِیَ
لَاۤ اَرَی الۡہُدۡہُدَ ۫ۖ اَمۡ
کَانَ مِنَ الۡغَآئِبِیۡنَ ﴿﴾ لَاُعَذِّبَنَّہٗ عَذَابًا شَدِیۡدًا اَوۡ لَاَاذۡبَحَنَّہٗۤ اَوۡ لَیَاۡتِیَنِّیۡ
بِسُلۡطٰنٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ فَمَکَثَ غَیۡرَ
بَعِیۡدٍ فَقَالَ اَحَطۡتُّ بِمَا لَمۡ تُحِطۡ بِہٖ وَ جِئۡتُکَ مِنۡ سَبَاٍۭ
بِنَبَاٍ یَّقِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ia, Sulaiman,
memeriksa burung-burung itu, kemudian ia berkata:
“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud? Ataukah ia sengaja tidak hadir?
Niscaya aku akan menghukumnya dengan azab yang keras, atau niscaya aku
akan menyembelih-nya, atau ia datang
kepadaku dengan alasan yang jelas.” Maka tidak lama ia menunggu Hud-hud pun datang dan berkata: “Aku telah mengetahui apa yang eng-kau belum
mengetahuinya, dan aku datang kepada engkau dari negeri ka-um
Saba dengan kabar yang meyakinkan. (An-Naml
[27]:21-23).
Tafaqqada (ia memeriksa)
diambil dari kata faqada, yakni ia kehilangan sesuatu, sesuatu itu tidak
nampak, atau menjadi tidak nampak kepadanya. Tafaqqada-hu berarti ia mencari sesuatu dengan santai atau berulang-ulang
karena sesuatu itu tidak nampak kepadanya, atau ia berusaha memperoleh pengetahuan tentang sesuatu itu (Al-Mufradat).
Jadi makna ayat: وَ تَفَقَّدَ الطَّیۡرَ فَقَالَ مَا لِیَ
لَاۤ اَرَی الۡہُدۡہُدَ -- “Dan ia, Sulaiman,
memeriksa burung-burung itu, kemudian ia berkata:
“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud? اَمۡ کَانَ
مِنَ الۡغَآئِبِیۡنَ -- Ataukah
ia sengaja tidak hadir?“ Agaknya Nabi Sulaiman
a.s. telah memeriksa balatentaranya, dan Hud-hud, seorang pejabat
negara yang penting — mungkin seorang jenderal—
tidak hadir pada peristiwa penting itu.
Bertentangan dengan kepercayaan umum, yang berdasar pada hikayat dan ceritera khayal, Hud-hud
bukanlah seekor burung yang
dipekerjakan oleh Nabi Sulaiman a.s. sebagai pengemban amanat beliau, karena:
(a) tidaklah sesuai dengan kewibawaan
Nabi Sulaiman a.s. sebagai
seorang raja besar dan seorang nabi Allah untuk begitu gusarnya kepada seekor burung kecil, sehingga berkenan
menjatuhkan hukuman berat kepada burung itu atau bahkan hendak membunuhnya.
(b) Rupa-rupanya Hud-hud, paham benar akan undang-undang
dan keperluan-keperluan negara, dan
juga paham sekali mengenai tauhid
(ayat-ayat 25-26), padahal burung-burung tidak demikian.
(c) Hud-hud, karena bukan seekor burung
pengembara, tidak dapat terbang menempuh jarak jauh, dan oleh sebab itu
tidak dapat dipilih untuk pergi jauh ke negeri Saba dan kembali (ayat 23).
Dari kenyataan ini dapat
disimpulkan, bahwa Hud-hud bukan seekor burung, melainkan seorang manusia, bahkan seorang pembesar yang bertanggung-jawab atau seorang jenderal,
yang telah dipercayakan kepadanya oleh Nabi Sulaiman a.s. mengemban
suatu tugas politik sangat penting
kepada Ratu Saba.
Kebiasaan tukar-menukar
duta agaknya telah lazim di zaman Nabi Sulaiman a.s.. Apalagi telah merupakan kenyataan yang
terkenal bahwa di wilayah Timur Tengah orang disebut dengan nama burung dan binatang lain. Hud-hud
itu suatu nama yang populer di antara kaum Nabi Sulaimana.s..
Kata Hud-hud
itu agaknya bentuk ke-Arab-arab-an
dari Hudad, nama yang ada dalam Bible. Rupa-rupanya nama itu pernah
dipakai oleh beberapa raja Edom.
Seorang putra Nabi Isma’il a.s. pun
memakai nama itu. Seperti itu pula seorang pangeran dari Edom yang melarikan diri ke Mesir karena takut akan pembunuhan
besar-besaran oleh Yoab, terkenal dengan nama itu (I Raja-raja 11:14).
Nama itu ternyata begitu umum dan
begitu sering digunakan dalam Perjanjian Lama, sehingga bila digunakan
tanpa keterangan berarti “seseorang dari keluarga Edom” (Jewish
Encyclopaedia). Hud-hud disebut
juga sebagai nama ayahanda Bilqis,
Ratu Saba (Muntaha al-Irab).
Laporan Pelaksanaan Tugas
Hud-hud Tentang Kerajaan Saba
Nampak
dari ayat ini, bahwa Hud-hud dikirim
untuk menjalankan tugas kenegaraan
penting, dan ia datang membawa berita
penting dari kerajaan Saba. untuk Nabi Sulaiman a.s., tepat pada saat Nabi
Sulaiman a.s. sedang memeriksa pasukan beliau.
Saba dapat disamakan dengan Syeba dari Bible (I Raja-raja bab
10).
Saba adalah
sebuah kota di Yaman terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari kota Shana’
dan merupakan pusat pemerintahan Ratu
Saba. Lagi pula, Saba adalah cabang terkenal dari kabilah Qahthani.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنِّیۡ
وَجَدۡتُّ امۡرَاَۃً تَمۡلِکُہُمۡ وَ
اُوۡتِیَتۡ مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ لَہَا عَرۡشٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ وَجَدۡتُّہَا وَ قَوۡمَہَا یَسۡجُدُوۡنَ لِلشَّمۡسِ
مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ فَصَدَّہُمۡ عَنِ السَّبِیۡلِ فَہُمۡ
لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اَلَّا یَسۡجُدُوۡا
لِلّٰہِ الَّذِیۡ یُخۡرِجُ الۡخَبۡءَ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ
یَعۡلَمُ مَا تُخۡفُوۡنَ وَ مَا تُعۡلِنُوۡنَ ﴿﴾ اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ
رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ٛ ﴾
“Aku mendapati di sana seorang perempuan memerintah
atas mereka dan ia
telah diberi segala sesuatu dan ia
mempunyai singgasana yang besar. Aku
mendapati dia dan kaumnya bersujud
kepada matahari selain Allah, dan syaitan telah me-nampakkan indah bagi
mereka amal-amalnya, maka dia
menghalangi mereka dari jalan yang benar sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. Mereka tidak mau bersujud kepada Allah Yang mengeluarkan yang tersembunyi di seluruh langit dan bumi, dan Yang
Mengetahui apa-apa yang kamu sembunyikan dan apa-apa yang kamu zahirkan. Allah,
tidak ada tuhan kecuali Dia, Tuhan ‘Arasy Yang Maha Agung.” (An-Naml
[27]:24-27).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 24
Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar