Selasa, 22 Maret 2016

Pencabutan "Ruh" Al-Quran Bersifat Sementara Setelah "Masa Kejayaannya" yang Pertama Seperti Pencabutan "Ruh" Manusia Ketika Tidur



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



Pencabutan “Ruh” Al-Quran Bersifat Sementara Setelah Masa Kejayaannya yang Pertama Seperti  PencabutanRuh” Manusia Ketika Tidur

Bab 4


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai firman Allah Swt. sehubungan pencabutan kembali “ruh” Al-Quran secara bertahap setelah 3 abad masa kejayaan umat Islam yang  pertama, akibat ketidak-bersyukuran umat Islam (QS.14:8), firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
     Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa umat Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
   Nabi Besar Muhammad saw.   diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
     Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”

Pencabutan “Ruh” Al-Quran atau “Terbangnya Iman ke Bintang Tsurayya

     Dalam hadits lain  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa “Iman akan terbang ke Bintang Suraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi” (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir Surah Al-Jumu’ah). Dengan kedatangan  Masih Mau’ud a.s.  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotannya telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk  Masih yang dijanjikan (Masih Mu’ud a.s.), sebab di zaman beliau   -- yakni di Akhir Zaman ini   -- semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.
   Mengisyaratkan kepada ditarik-Nya lagi “ruh” Al-Quran dalam kurun waktu 1000 tahun itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini mengenai  pertanyaan masalah ruh:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾   وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا ﴿﴾  قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا ﴿﴾    
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali  ti-dak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.”  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا --  Dan jika Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengam-bil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau   kemudian engkau tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا  --   Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau.  قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا  --   Katakanlah: “Jika  manusia dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini, walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:86-89).

Kemunculan Para Ahli Kebatinan di Kalangan Umat Beragama  & Dua Macam Cara Allah Swt. Melakukan  Penciptaan

      Dalam masa kemunduran dan kejatuhan ruhani mereka nampaknya orang-orang Yahudi asyik berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik (occult) atau ilmu kebatinan  seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi Hindu.
       Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw.   pun beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa ketika orang-orang musyrik Mekkah mencari bantuan orang-orang Yahudi untuk membungkam Nabi Besar Muhammad saw, dan  mereka memberi saran supaya orang-orang musyrik Mekkah itu mengajukan pertanyaan   kepada beliau saw.  mengenai   hakikat ruh manusia: وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ  -- “Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh.“
     Dalam ayat yang sedang dibahas ini Al-Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan: قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا -- “katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.”  Yakni bahwa ruh memperoleh daya kekuatannya dari perintah Ilahi, dan apa pun yang menurut kepercayaan orang dapat diperoleh dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan batin dan ilmu sihir adalah semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka.
     Menurut riwayat pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh manusia pertama-tama diajukan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   di kota Mekkah oleh orang-orang musyrik Quraisy,  dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.    oleh orang-orang Yahudi di Medinah.
      Di sini ruh disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah langsung dari  Allah Swt. Menurut Al-Quran semua penciptaan terdiri dari dua jenis:
     (1) Kejadian permulaan yang dilaksanakan tanpa mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan sebelumnya.
     (2) Kejadian selanjutnya yang dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan sebelumnya.
      Kejadian macam pertama termasuk jenis amr (arti harfiahnya ialah perintah – “Kun  fayakun – Jadilah, maka terjadi)  lihat QS.2:118, dan kejadian yang kedua  disebut khalq (arti harfiahnya ialah menciptakan). Ruh manusia termasuk jenis penciptaan pertama (amr). Kata ruh itu berarti juga wahyu Ilahi (Lexicon Lane), letaknya kata  ruh  dalam ayat tersebut    mendukung arti demikian (QS.42:52-54; QS.58:23).
        Ayat selanjutnya:  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا --  Dan jika Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali  apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau kemudian engkau tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu” nampaknya mengandung nubuatan bahwa akan datang suatu saat ketika ilmu (ruh) Al-Quran akan lenyap dari bumi.

Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. Mengenai  Kemunduran Umat Islam  dan Kejayaannya yang kedua Kali

     Nubuatan  Nabi Besar Muhammad saw. serupa itu telah diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah, ketika ruh dan jiwa ajaran Al-Quran akan hilang lenyap dari bumi, dan semua  orang yang dikenal sebagai ahli-ahli mistik dan para sufi yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa — seperti pula diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi dahulu kala yang sifatnya serupa dengan mereka — tidak akan berhasil mengembalikan jiwa ajaran (ruh) Al-Quran dengan usaha mereka bersama-sama:
Dari Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.; "Sudah hampir sampai suatu masa di mana tidak tinggal lagi dari  Islam ini kecuali hanya namanya, dan tidak tinggal dari  Al-Quran itu kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka tersergam indah, tetapi ia kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk yang ada di bawah kolong (naungan) langit. Dari mereka merebak fitnah  dan kepada mereka fitnah ini akan kembali". (Riwayat Baihaqi).
       Terhadap situasi di masa kemunduran Islam selama 1000 tahun   -- setelah masa kejayaan Islam  yang pertama selama 3 abad  -- itulah tantangan Allah Swt. dalam ayat selanjutnya: قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا  --   Katakanlah: “Jika  manusia dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini,  walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (QS.17:89).
     Tantangan Allah Swt. tersebut pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan klenik atau kebatinan  supaya mereka meminta pertolongan ruh-ruh gaib, yang darinya orang-orang ahli kebatinan itu —  menurut pengakuannya sendiri — menerima ilmu ruhani. Tantangan Allah Swt. ini berlaku pula untuk semua orang yang menolak Al-Quran bersumber dari Allah Swt., dan tantangan tersebut berlaku untuk sepanjang masa.
       Makna pernyataan Allah Swt. sebelumnya: اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا  --    ”kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau”  mengandung nubuatan   berisi kabar gembira,  bahwa walau pun  benar – akibat ketidak-bersyukuran umat Islam sendiri  (QS.14:8; QS.8:53-55; QS.13:12)   --   Allah Swt. secara bertahap akan “mencabut ruh” Al-Quran dari kalangan umat Islam  setelah    mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6), tetapi karena Allah Swt. telah berjanji akan senantiasa memelihara Al-Quran (QS.15:10) maka pencabutan “ruh” Al-Quran tersebut   hanya bersifat sementara  dan akan mengembalikan “ruh” Al-Quran  kepada umat Islam melalui Rasul Akhir Zaman,  yang sekaligus beliau akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini  yakni Masih Mau’ud a.s., firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).

Ajal (Jangka Waktu) Manusia Dapat Diperpanjangan dan Diperpendek

       Jadi, “pencabutan ruhAl-Quran dari kalangan umat Islam yang bersifat sementara waktu tersebut bagaikan pencabutan ruh manusia ketika dalam keadaan tidur,  karena itu Allah Swt. akan mengembalikan lagi  “ruh” manusia  yang sedang tidur tersebut  sehingga manusia bangun dari tidurnya yang lelap, firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ بِالَّیۡلِ وَ یَعۡلَمُ مَا جَرَحۡتُمۡ بِالنَّہَارِ ثُمَّ یَبۡعَثُکُمۡ فِیۡہِ لِیُقۡضٰۤی  اَجَلٌ مُّسَمًّی ۚ ثُمَّ  اِلَیۡہِ مَرۡجِعُکُمۡ  ثُمَّ یُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Dia-lah Yang mewafatkan (mencabut ruh) kamu di waktu malam,  dan Dia mengetahui apa pun yang kamu perbuat pada waktu siang, kemudian Dia membangkitkan kamu di dalamnya, supaya menjadi genap jangka waktu  yang telah ditetapkan, kemudian kepada-Nya kamu akan dikembalikan, lalu Dia akan memberitahukan kepada kamu mengenai apa pun yang senantiasa kamu kerjakan. (Al-An’ām [6]:61).
  “Yatawaffakum bil lail” berarti “mengambil ruh di waktu malam”. Hanya Allah Swt. Sendiri mengetahui keadaan manusia di waktu malam dan perbuatan-perbuatannya di waktu siang, dan semua waktu ada di bawah pengawasan-Nya. Oleh karena itu hanya Allah Swt. Sendiri juga yang mengetahui tabiat sebenarnya orang yang saleh dan  orang yang jahat. Maka sebagai akibatnya hanya Dia Sendiri pula Yang berwenang menghukum.
  “Jangka waktu” yang dikatakan dalam ayat ini  ditetapkan oleh kemampuan-kemampuan dan kekuatan-kekuatan yang dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia semenjak ia dilahirkan, dan “jangka waktu” tersebut dapat diperpanjang atau diperpendek menurut benar atau salahnya ia menggunakan kemampuan-kemampuan dan kekuatan-kekuatan itu (QS.4:148; QS.14:8). Di sini tidak disebutkan mengenai kearifan Allah Swt.   yang kekal-abadi.
      Masih sehubungan dengan “pencabutan ruh manusia” ketika  dalam keadaan tidur   serta  cara   memperpanjang atau memperpendek ajal (jangka waktu) manusia, dalam Surah lain  Allah Swt. berfirman:
اِنَّاۤ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ لِلنَّاسِ بِالۡحَقِّ ۚ فَمَنِ اہۡتَدٰی فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ  فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا  ۚ وَ  مَاۤ  اَنۡتَ عَلَیۡہِمۡ  بِوَکِیۡلٍ ﴿٪﴾  اَللّٰہُ  یَتَوَفَّی الۡاَنۡفُسَ حِیۡنَ مَوۡتِہَا وَ الَّتِیۡ لَمۡ تَمُتۡ فِیۡ مَنَامِہَا ۚ فَیُمۡسِکُ الَّتِیۡ قَضٰی عَلَیۡہَا الۡمَوۡتَ وَ یُرۡسِلُ الۡاُخۡرٰۤی  اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab (Al-Quran) ini dengan haq  (kebenaran) untuk manfaat manusia, lalu   barangsiapa mendapat petunjuk maka untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa sesat maka kesesatannya untuk dirinya sendiri,  dan engkau sekali-kali  bukanlah penjaga atas mereka. اَللّٰہُ  یَتَوَفَّی الۡاَنۡفُسَ حِیۡنَ مَوۡتِہَا وَ الَّتِیۡ لَمۡ تَمُتۡ فِیۡ مَنَامِہَا  --   Allah mencabut jiwa manusia pada waktu matinya, dan yang belum mati di dalam tidurnya. فَیُمۡسِکُ الَّتِیۡ قَضٰی عَلَیۡہَا الۡمَوۡتَ وَ یُرۡسِلُ الۡاُخۡرٰۤی  اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی   -- Maka Dia menahan jiwa yang Dia menetapkan kematian  atasnya  dan mengirimkan yang lain sampai jangka waktu  yang telah ditetapkan. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ --  Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi kaum yang merenungkan. (Az-Zumar [39]:42-43).
   Makna ayat 42 bahwa manusia sendirilah yang merupakan arsitek bagi nasibnya sendiri -- yang baik atau pun buruk – firman-Nya: اِنَّاۤ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ لِلنَّاسِ بِالۡحَقِّ       --  Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab (Al-Quran) ini dengan haq  (kebenaran) untuk manfaat manusia, فَمَنِ اہۡتَدٰی فَلِنَفۡسِہٖ --  lalu   barangsiapa mendapat petunjuk maka untuk dirinya sendiri, وَ مَنۡ ضَلَّ  فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا  -- dan barangsiapa sesat maka kesesatannya untuk dirinya sendiri, اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ --   dan engkau sekali-kali  bukanlah penjaga atas mereka.”
   Ayat selanjutnya Allah Swt. menyatakan bahwa dengan mengalami kematian  keadaan  jiwa (ruh) manusia tidak mati atau hancur, melainkan hanya  dicabut dari jasad kasarnya dan disimpan di alam lain (di akhirat) untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya pada waktunya pada Hari Penghisaban amal.
   Jadi, pada hakikatnya  terjadinya “pencabutan ruh” Al-Quran di kalangan umat Islam  --  terutama umat Islam dari  kalangan Bani  Ismail  -- tersebut sesuai dengan Sunnatullah  yang ditetapkan Allah Swt. bagi seluruh Bani Adam, karena menurut Al-Quran setiap “umat”  dari kalangan Bani Adam telah ditetapkan Allah Swt. ajal (jangka waktu) mereka masing-masing, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannyaیٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  --   Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
   Bila ajal (jangka waktu) yang ditetapkan  Allah  Swt. untuk menghukum suatu kaum (umat) tiba, maka waktu itu tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda, itulah makna ayat: وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ  --  “Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu,   فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ -- maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.
 Penggunaan kata  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ    -- Ya Bani Adam dalam ayat selanjutnya    patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32), seruan Allah Swt. dengan kata-kata  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ    -- Hai anak-cucu Adam ditujukan kepada umat di zaman Nabi Besar Muhammad Saw.  dan kepada generasi-generasi manusia yang akan lahir, bukan kepada umat yang hidup di masa  silam dan yang datang tak lama sesudah masa Nabi Adam a.s..
  Dengan demikian  firman Allah Swt. dalam  ayat 36 menubuatkan kesinambungan   pengutusan Rasul Allah  di kalangan Bani Adam, termasuk di kalangan umat manusia (Bani Adam)  yang  lahir setelah masa Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  --   Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ --  maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (QS.7:36).
  Pernyataan Allah Swt. dalam ayat selanjutnya:  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- mereka kekal di dalamnya”, peringatan Allah Swt. tersebut berarti bahwa mereka yang mendustakan dan menentang  para Rasul Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka.
 Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang  para rasul Allah tersebut, termasuk di Akhir zaman ini,  berupa  berkecamuknya berbagai macam azab Ilahi yang berkesinambungan, sebab sudah merupakan Sunnah-Nya Allah Swt. tidak pernah mengazab manusia (Bani Adam) sebelum terlebih dulu diutus Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.17:16;  QS.20:134-136; QS.28:59).
 Penolakan terhadap Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. di kalangan Bani Adam tersebut (QS.7:35-36) adalah seperti  orang-orang yang mati  atau  orang-orang yang  tidur lelap  menolak pengembalian “ruh” mereka oleh Allah Swt., sehingga akibatnya   berbagai bentuk  kemunduran  dan kerugian akan menimpa mereka.
  Mengapa demikian? Sebab   orang-orang yang mati dan orang-orang yang tidur lelap  keadaannya sama yakni “tidak berdaya”, karena akibat  ketiadaan ruh mereka  telah menyebabkan  seluruh  kesadaran dan kemampuan mereka pun  hilang,  termasuk kemampuan  semua inderanya-inderanya.
   Suatu kaum  yang keadaannya dari segi   ruhani   telah “mati” atau dalam keadaan “tidur lelap” seperti itu,  ketika Allah Swt. berkehendak “menghidupkan” atau “membangunkan”  kembali  melalui pengutusan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  -- yang digambarkan sebagai peniupan nafiri (terompet)  --   mereka itu bukannya bersyukur kepada Allah Swt. dengan menyambut gembira kedatangan Rasul Allah tersebut tapi malah  marah besar karena   merasa sangat  terganggu dengan kehadiran rasul Allah tersebut, firman-Nya:
وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَاِذَا ہُمۡ مِّنَ الۡاَجۡدَاثِ  اِلٰی  رَبِّہِمۡ  یَنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰوَیۡلَنَا مَنۡۢ بَعَثَنَا مِنۡ مَّرۡقَدِنَا ٜۘؐ ہٰذَا  مَا  وَعَدَ  الرَّحۡمٰنُ وَ صَدَقَ الۡمُرۡسَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan nafiri akan ditiup maka tiba-tiba mereka akan segera keluar dari kuburan kepada  Rabb (Tuhan) mereka.  Mereka akan berkata: ”Aduh  celakalah kami! Siapakah yang telah membangkitkan kami dari tempat tidur kami?” Inilah apa yang telah dijanjikan Tuhan Yang Maha Pemurah, dan benarlah  rasul-rasul itu. (Yā Sīn [36]:52-53).
     Kata-kata, “nafiri  akan ditiup,” di samping yang dimaksud ialah “peniupan terompet” pada Hari Pembalasan, dapat pula berarti kedatangan seorang Mushlih Rabbani yakni Rasul Allah, yang karena “seruan da’wahnya”  mereka yang secara ruhani telah mati itu bangkit dari kuburan (keadaan kematian ruhani) mereka dan segera mendengarkan dan menyambut panggilan Ilahi (QS.3:131-135).
     Bila pada Hari Kiamat orang-orang akan dibangkitkan dan kepada orang-orang kafir akan dihadapkan perbuatan-perbuatan jahat mereka, dan azab  Ilahi akan mengancam mereka, mereka akan dicekam rasa putus-asa dan akan menjerit dalam kegemparan:  یٰوَیۡلَنَا مَنۡۢ بَعَثَنَا مِنۡ مَّرۡقَدِنَا --  “Aduh celaka  kami! Siapakah yang telah membangkitkan kami dari tempat tidur kami?”
      Tetapi untuk melanjutkan kiasan ayat sebelum ini, ayat ini  mengisyaratkan kepada orang-orang yang pada saat seorang nabi Allah datang  tetapi  mereka tidak mau mendengar seruan Ilahi dan lebih menyukai tetap tinggal dalam keadaan mati ruhani  atau “tidur lelap” itu, ketika mendengar seruan Ilahi yang dikemukakan Rasul Allah itu mereka menyahut dengan penuh kemarahan:
"Mengapakah dia harus mengganggu jalan hidup kami yang tenang, dan menimbulkan keributan dan kegelisahan di antara kami dengan mengajak kami mengikuti dia dan menganut cara hidup baru?”
         Demikian pula tuduhan yang dikemukakan para pemuka kaum-kaum purbakala mulai  dari  pemuka kaum Nabi Adam a.s.  – yang dalam Al-Quran disebut iblis  (QS.2:31-40; QS.7:12-26; QS.15:27-45; QS.17:62-66; QS.18:51; QS.20:117-123; QS.38:72-86) --   sampai dengan  tuduhan para pemuka  kaum Quraisy Mekkah pimpinan Abu Jahal terhadap pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw., yakni  mereka telah menuduh para Rasul Allah  sebagai penyebab terjadinya perpecahan kaum atau perpecahan umat,   karena menurut para pemuka kaum tersebut  sebelum kedatangan para Rasul Allah tersebut  “kaum mereka”  itu merupakan  “satu umat”, firman-Nya:
کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ  ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ  الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ  یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Manusia dahulunya merupakan satu umat,   lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan  haq supaya Dia menghakimi di antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan,  dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkan-nya255  kecuali orang-orang yang dibe-ri Alkitab itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, karena  kedengkian di antara mereka. Lalu Allāh dengan izin-Nya telah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang mere-ka perselisihkan itu, dan Allāh mem-beri petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.   (Al-Baqarah [2]:214)
      Makna ayat:  کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً  --   “Manusia dahulunya merupakan satu umat,”  yaitu sebelum kedatangan seorang nabi Allah semua orang adalah laksana satu umat (kaum), dalam arti bahwa mereka semua orang-orang kafir. Tetapi bila seorang nabi Allah muncul, mereka itu walau pun satu sama lain berbeda mereka merupakan satu barisan dalam melakukan perlawanan kepada msi suci Rasul Allah tersebut.
      Ungkapan    “umat manusia adalah satu umat” atau kata-kata yang serupa dipakai pada tujuh tempat dalam Al-Quran selain dalam ayat ini. Dalam  QS.10:20, QS.21:93 dan QS.23:53 ungkapan itu berarti “kesatuan nasional”, dan dalam QS.5:49; QS.16:94; QS.42:9; QS.43:34 dan dalam ayat ini berarti “mempunyai  identitas yang sama dalam pikiran.”
     “Perselisihan” yang tersebut dalam ayat ini pada dua tempat terpisah menunjukkan dua macam ketidaksepahaman yang berlain-lainan. Sebelum kedatangan seorang nabi Allah, orang-orang berselisih di antara mereka sendiri mengenai perbuatan musyrik mereka:  وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ  الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ -- “dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan  haq supaya Dia menghakimi di antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan.”
      Tetapi sesudah nabi Allah itu muncul mereka mulai berselisih mengenai dakwahnya: وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ   -- “dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkannya   kecuali orang-orang yang dibe-ri Alkitab itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, karena  kedengkian di antara mereka.“
      Nabi Allah itu tidak menimbulkan perselisihan dan bukan pula menjadi penyebab terjadinya “perselisihan umat”  sebagaimana tuduhan keji  para pemuka kaum  -- termasuk di Akhir Zaman ini terhadap Rasul Akhir Zaman  --   karena sebenarnya perselisihan tersebut telah ada  di kalangan mereka  hanya saja sesudah kedatangan rasul Allah  perselisihan di kalangan  mereka itu   mengambil bentuk baru.
     Sebelum seorang nabi  Allah datang,  orang-orang meskipun berselisih  paham antara satu sama lain tetapi mereka  nampaknya seperti satu kaum, tetapi ketika rasul Allah diutus memutuskan perselisihan di kalangan mereka  maka mereka mulai terpisah menjadi dua blok yang sangat berbeda — yakni  menjadi blok orang-orang yang beriman kepada rasul Allah dan blok  orang-orang kafir  yang menentang rasul Allah.      
      Dipandang secara kolektif ayat ini menggambarkan lima tingkat berlainan yang telah dilalui umat manusia.Mula-mula ada kesatuan di antara manusia semuanya merupakan satu umat. Dengan bertambahnya penduduk dan meluasnya kepentingan mereka dan kian ruwetnya masalah-masalah yang dihadapi mereka, mereka mulai berselisih antara satu sama lain. Kemudian, Allah Swt.   membangkitkan nabi-nabi dan mewahyukan kehendak-Nya.
        Setiap wahyu-baru dijadikan sebab kekacauan dan pertikaian, terutama oleh kaum yang kepadanya Amanat Ilahi dialamatkan. Allah Swt. akhirnya membangkitkan Nabi Besar Muhammad saw.  dengan Kitab-Nya yang terakhir beserta ajaran yang universal, berseru kepada seluruh umat manusia untuk berkumpul di sekitar panjinya. Dengan demikian lingkaran telah bertemu dan dunia yang mulai dengan kesatuan ditakdirkan untuk berakhir dalam kesatuan.

Empat Tugas  Mulia Nabi Besar Muhammad Saw. &  Pengutusan Kedua Kali Beliau Saw. di Akhir Zaman

  Jadi, kembali kepada masalah “pencabutan ruh” Al-Quran yang bersifat sementara  selama 1000 tahun  -- setelah mengalami masa kejayaan  yang pertama selama 3 abad  -- tersebut (QS.17:86-89; QS.32:6), umat Islam  mengalami  puncak  “kelelapan tidurnya”  atau mengelami  puncak kemunduran  dalam berbagai bidang kehidupannya    pada abad 14 Hijriyah.
    Pada abad 14 Hijriyah itu pulalah Allah Swt. mengembalikan “ruh” Al-Quran yang  dicabut-Nya  dengan perantaraan pengutusan Rasul Akhir Zaman  (QS.61:10; QS.62:3-5). Dengan demikian genap pulalah nubuatan Al-Quran mengenai kedatangan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw.   di Akhir Zaman ini  dari kalangan umat Islam “golongan akhir” di dalam wujud Al-Masih Mau’ud a.s., firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksanaذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ --    Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  -- Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
   Ayat 3 mengisyaratkan kepada empat macam tugas suci Nabi Besar Muhammad saw.    meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s., telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika  -- dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s  -- Nabi Ibrahim a.s. mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130).
   Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu (  mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain.
   Didikan yang  Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau  saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat 3:  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ -- “yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada me-reka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.“

Pengutusan Kedua Kali Nabi Besar Muhammad Saw. di Akhir Zaman

  Makna ayat selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,”  bahwa  ajaran Nabi Besar Muhammad saw.    ditujukan bukan hanya  kepada bangsa Arab belaka -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan  --  melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga Hari  Kiamat.  
  Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. akan dibangkitkan lagi di antara kaum Muslim yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di da-lam hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau saw. untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud a.s.  di Akhir Zaman ini.
 Sehubungan dengan ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,”  Abu Hurairah  r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.  ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?”Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
  Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari). Hadits Nabi  Besar Muhammad saw.  ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.
    Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s.   --  pendiri Jemaat Ahmadiyah -- adalah dari keturunan Parsi. Hadits Nabi Besar Muhammad saw.  lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika “Tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali  Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini  dalam wujud  Masih Mau’ud a.s..

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 20 Maret  2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar