Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Pencabutan
“Ruh” Al-Quran Bersifat
Sementara Setelah Masa Kejayaannya
yang Pertama Seperti Pencabutan “Ruh” Manusia Ketika Tidur
Bab 4
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai firman Allah Swt.
sehubungan pencabutan kembali “ruh” Al-Quran secara bertahap setelah 3 abad
masa kejayaan umat Islam yang pertama,
akibat ketidak-bersyukuran umat Islam (QS.14:8),
firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari,
yang hitungan lamanya seribu tahun
dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa umat Islam dalam perkembangannya yang
penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam mulai
mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada
henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000
tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “Kemudian perintah itu akan naik
kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
Pencabutan “Ruh”
Al-Quran atau “Terbangnya Iman ke Bintang
Tsurayya”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa “Iman akan terbang ke Bintang Suraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi” (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir Surah Al-Jumu’ah). Dengan kedatangan Masih Mau’ud a.s. dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotannya telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ
الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai.
(Ash-Shaf
[61]:10).
Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Masih
yang dijanjikan (Masih Mu’ud a.s.), sebab di zaman beliau -- yakni di Akhir Zaman ini -- semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama
akan menjadi kepastian.
Mengisyaratkan kepada ditarik-Nya lagi “ruh” Al-Quran dalam kurun waktu 1000 tahun itu pulalah firman Allah
Swt. berikut ini mengenai pertanyaan
masalah ruh:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ
قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ
مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ
اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾ وَ
لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾ قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ
یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ
بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali ti-dak diberi ilmu mengenai itu melainkan
sedikit.” وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ
بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا -- Dan jika
Kami benar-benar menghendaki,
niscaya Kami mengam-bil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau
kemudian engkau
tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau. قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ
یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ
بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا -- Katakanlah: “Jika manusia
dan jin benar-benar berhimpun
untuk mendatangkan yang semisal
Al-Quran ini, mereka tidak akan
sanggup mendatangkan yang sama seperti ini, walaupun sebagian
mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:86-89).
Kemunculan Para Ahli Kebatinan
di Kalangan Umat Beragama & Dua Macam Cara Allah Swt. Melakukan Penciptaan
Dalam masa kemunduran
dan kejatuhan ruhani mereka nampaknya
orang-orang Yahudi asyik berkecimpung
dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik
(occult) atau ilmu kebatinan seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi
Hindu.
Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw. pun
beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah sebabnya
mengapa ketika orang-orang musyrik Mekkah
mencari bantuan orang-orang Yahudi
untuk membungkam Nabi Besar Muhammad saw, dan mereka memberi saran supaya orang-orang
musyrik Mekkah itu mengajukan pertanyaan
kepada beliau saw. mengenai hakikat ruh manusia: وَ
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ -- “Dan mereka
bertanya kepada engkau mengenai ruh.“
Dalam ayat yang sedang dibahas
ini Al-Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan: قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا -- “katakanlah:
“Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali tidak
diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.” Yakni bahwa ruh memperoleh daya kekuatannya dari perintah
Ilahi, dan apa pun yang menurut kepercayaan
orang dapat diperoleh dengan perantaraan
apa yang dikatakan latihan-latihan batin
dan ilmu sihir adalah semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka.
Menurut riwayat pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh manusia pertama-tama diajukan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. di kota Mekkah oleh orang-orang musyrik Quraisy, dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.
oleh orang-orang Yahudi di Medinah.
Di sini ruh
disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah
langsung dari Allah Swt. Menurut
Al-Quran semua penciptaan terdiri
dari dua jenis:
(1) Kejadian permulaan yang
dilaksanakan tanpa mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan sebelumnya.
(2) Kejadian selanjutnya yang
dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan
sebelumnya.
Kejadian macam pertama termasuk jenis amr
(arti harfiahnya ialah perintah – “Kun fayakun – Jadilah, maka terjadi) lihat QS.2:118, dan kejadian yang kedua disebut khalq (arti harfiahnya ialah menciptakan). Ruh manusia termasuk jenis penciptaan pertama (amr). Kata ruh itu
berarti juga wahyu Ilahi (Lexicon Lane), letaknya kata ruh dalam ayat tersebut mendukung arti
demikian (QS.42:52-54; QS.58:23).
Ayat selanjutnya: وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ
بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا -- Dan jika Kami benar-benar menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau
kemudian engkau tidak akan memperoleh
penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu” nampaknya mengandung nubuatan bahwa akan datang suatu saat ketika ilmu (ruh) Al-Quran akan
lenyap dari bumi.
Nubuatan Nabi Besar Muhammad
saw. Mengenai Kemunduran Umat Islam dan Kejayaannya yang kedua Kali
Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. serupa itu
telah diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah, ketika ruh dan
jiwa ajaran Al-Quran akan hilang lenyap
dari bumi, dan semua orang yang dikenal
sebagai ahli-ahli mistik dan para sufi yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa — seperti pula
diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi
dahulu kala yang sifatnya serupa
dengan mereka — tidak akan berhasil mengembalikan
jiwa ajaran (ruh) Al-Quran dengan
usaha mereka bersama-sama:
Dari
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.; "Sudah hampir sampai suatu masa di mana tidak tinggal lagi dari Islam ini kecuali hanya namanya, dan tidak tinggal dari Al-Quran
itu kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka tersergam indah,
tetapi ia kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk yang ada di bawah
kolong (naungan) langit. Dari
mereka merebak fitnah dan kepada
mereka fitnah ini akan kembali". (Riwayat Baihaqi).
Terhadap
situasi di masa kemunduran Islam
selama 1000 tahun -- setelah masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad -- itulah tantangan Allah Swt. dalam ayat
selanjutnya: قُلۡ لَّئِنِ
اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا -- Katakanlah: “Jika manusia
dan jin benar-benar berhimpun
untuk mendatangkan yang semisal
Al-Quran ini, mereka tidak akan
sanggup mendatangkan yang sama seperti ini, walaupun
sebagian mereka membantu sebagian
yang lain.” (QS.17:89).
Tantangan
Allah Swt. tersebut pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan klenik atau kebatinan supaya mereka meminta pertolongan ruh-ruh gaib, yang darinya orang-orang ahli kebatinan itu — menurut pengakuannya
sendiri — menerima ilmu ruhani. Tantangan Allah Swt. ini berlaku pula
untuk semua orang yang menolak Al-Quran bersumber dari Allah Swt., dan tantangan tersebut berlaku untuk sepanjang masa.
Makna pernyataan Allah Swt.
sebelumnya: اِلَّا
رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- ”kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau” mengandung nubuatan berisi kabar
gembira, bahwa walau pun benar – akibat ketidak-bersyukuran umat Islam sendiri (QS.14:8; QS.8:53-55; QS.13:12) -- Allah
Swt. secara bertahap akan “mencabut ruh” Al-Quran dari kalangan umat
Islam setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3
abad (QS.32:6), tetapi karena Allah Swt. telah berjanji akan senantiasa memelihara
Al-Quran (QS.15:10) maka pencabutan
“ruh” Al-Quran tersebut hanya bersifat
sementara dan akan mengembalikan “ruh” Al-Quran kepada umat
Islam melalui Rasul Akhir Zaman, yang sekaligus beliau akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini yakni Masih
Mau’ud a.s., firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai.
(Ash-Shaf
[61]:10).
Ajal (Jangka
Waktu) Manusia Dapat Diperpanjangan dan Diperpendek
Jadi, “pencabutan ruh” Al-Quran dari
kalangan umat Islam yang bersifat sementara waktu tersebut bagaikan pencabutan ruh manusia ketika dalam
keadaan tidur, karena itu Allah Swt. akan mengembalikan lagi “ruh” manusia
yang sedang tidur tersebut sehingga manusia bangun dari tidurnya yang
lelap, firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ
بِالَّیۡلِ وَ یَعۡلَمُ مَا جَرَحۡتُمۡ بِالنَّہَارِ ثُمَّ یَبۡعَثُکُمۡ فِیۡہِ
لِیُقۡضٰۤی اَجَلٌ مُّسَمًّی ۚ ثُمَّ اِلَیۡہِ مَرۡجِعُکُمۡ ثُمَّ یُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ
تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Dia-lah
Yang mewafatkan (mencabut ruh) kamu
di waktu malam, dan Dia mengetahui apa pun yang kamu perbuat
pada waktu siang, kemudian Dia
membangkitkan kamu di dalamnya, supaya menjadi
genap jangka waktu yang telah
ditetapkan, kemudian kepada-Nya kamu
akan dikembalikan, lalu Dia akan
memberitahukan kepada kamu mengenai apa
pun yang senantiasa kamu kerjakan. (Al-An’ām [6]:61).
“Yatawaffakum bil lail” berarti “mengambil ruh di waktu malam”. Hanya Allah
Swt. Sendiri mengetahui keadaan
manusia di waktu malam dan perbuatan-perbuatannya di waktu siang, dan semua waktu ada di bawah pengawasan-Nya.
Oleh karena itu hanya Allah Swt. Sendiri
juga yang mengetahui tabiat sebenarnya
orang yang saleh dan orang yang
jahat. Maka sebagai akibatnya hanya
Dia Sendiri pula Yang berwenang menghukum.
“Jangka
waktu” yang dikatakan dalam ayat ini ditetapkan oleh kemampuan-kemampuan dan kekuatan-kekuatan
yang dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia
semenjak ia dilahirkan, dan “jangka
waktu” tersebut dapat diperpanjang
atau diperpendek menurut benar atau salahnya ia menggunakan
kemampuan-kemampuan dan kekuatan-kekuatan
itu (QS.4:148; QS.14:8). Di sini tidak disebutkan mengenai kearifan Allah Swt. yang
kekal-abadi.
Masih
sehubungan dengan “pencabutan ruh
manusia” ketika dalam keadaan tidur
serta cara memperpanjang atau
memperpendek ajal (jangka waktu)
manusia, dalam Surah lain Allah Swt.
berfirman:
اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ لِلنَّاسِ
بِالۡحَقِّ ۚ فَمَنِ اہۡتَدٰی فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا ۚ وَ
مَاۤ اَنۡتَ عَلَیۡہِمۡ بِوَکِیۡلٍ ﴿٪﴾ اَللّٰہُ یَتَوَفَّی الۡاَنۡفُسَ حِیۡنَ مَوۡتِہَا وَ
الَّتِیۡ لَمۡ تَمُتۡ فِیۡ مَنَامِہَا ۚ فَیُمۡسِکُ الَّتِیۡ قَضٰی عَلَیۡہَا
الۡمَوۡتَ وَ یُرۡسِلُ الۡاُخۡرٰۤی اِلٰۤی
اَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ
لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami telah menurunkan kepada engkau
Kitab (Al-Quran) ini dengan haq (kebenaran) untuk manfaat manusia, lalu barangsiapa
mendapat petunjuk maka untuk dirinya
sendiri, dan barangsiapa sesat
maka kesesatannya untuk dirinya sendiri,
dan engkau sekali-kali bukanlah
penjaga atas mereka. اَللّٰہُ
یَتَوَفَّی الۡاَنۡفُسَ حِیۡنَ مَوۡتِہَا وَ الَّتِیۡ لَمۡ تَمُتۡ فِیۡ
مَنَامِہَا -- Allah
mencabut jiwa manusia pada waktu matinya, dan yang belum mati
di dalam tidurnya. فَیُمۡسِکُ الَّتِیۡ قَضٰی عَلَیۡہَا الۡمَوۡتَ
وَ یُرۡسِلُ الۡاُخۡرٰۤی اِلٰۤی اَجَلٍ
مُّسَمًّی -- Maka
Dia menahan jiwa yang Dia menetapkan kematian atasnya dan mengirimkan
yang lain sampai jangka waktu yang telah ditetapkan. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ
یَّتَفَکَّرُوۡنَ -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi kaum
yang merenungkan. (Az-Zumar [39]:42-43).
Makna ayat 42 bahwa manusia sendirilah yang merupakan arsitek bagi nasibnya
sendiri -- yang baik atau pun buruk – firman-Nya: اِنَّاۤ
اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ لِلنَّاسِ بِالۡحَقِّ -- Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab (Al-Quran) ini dengan haq (kebenaran) untuk manfaat manusia, فَمَنِ اہۡتَدٰی فَلِنَفۡسِہٖ -- lalu barangsiapa
mendapat petunjuk maka untuk dirinya
sendiri, وَ مَنۡ
ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا -- dan barangsiapa sesat maka kesesatannya untuk dirinya sendiri, اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ
یَّتَفَکَّرُوۡنَ -- dan engkau
sekali-kali bukanlah penjaga atas mereka.”
Ayat selanjutnya Allah Swt. menyatakan bahwa dengan
mengalami kematian keadaan jiwa
(ruh) manusia tidak mati atau hancur, melainkan hanya dicabut
dari jasad kasarnya dan disimpan di alam lain (di akhirat) untuk mempertanggungjawabkan
semua amal perbuatannya pada waktunya
pada Hari Penghisaban amal.
Jadi, pada hakikatnya terjadinya “pencabutan ruh” Al-Quran di kalangan umat
Islam -- terutama umat
Islam dari kalangan Bani Ismail -- tersebut sesuai dengan Sunnatullah yang ditetapkan Allah Swt. bagi seluruh Bani Adam, karena menurut Al-Quran setiap “umat” dari kalangan Bani Adam telah ditetapkan
Allah Swt. ajal (jangka waktu) mereka masing-masing, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu
yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu,
فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا
خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa
bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ -- Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka kekal di dalamnya.
(Al-A’rāf
[7]:35-37).
Bila ajal (jangka waktu) yang ditetapkan Allah
Swt. untuk menghukum suatu kaum (umat) tiba, maka waktu itu tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur,
atau ditunda-tunda, itulah makna ayat: وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ -- “Dan
bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ -- maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.”
Penggunaan
kata یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ -- Ya Bani
Adam dalam ayat selanjutnya patut
mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni
QS.7:27, 28 & 32), seruan Allah
Swt. dengan kata-kata یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ -- Hai anak-cucu Adam ditujukan kepada umat di zaman Nabi Besar Muhammad Saw. dan kepada generasi-generasi manusia yang akan
lahir, bukan kepada umat yang
hidup di masa silam
dan yang datang tak lama sesudah masa Nabi Adam a.s..
Dengan demikian
firman Allah Swt. dalam ayat 36
menubuatkan kesinambungan pengutusan Rasul
Allah di kalangan Bani Adam, termasuk di kalangan umat manusia (Bani Adam) yang
lahir setelah masa Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya: یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu
yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu,
فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا
خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa
bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih hati.” (QS.7:36).
Pernyataan Allah Swt. dalam ayat
selanjutnya: وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ -- Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka kekal di dalamnya”,
peringatan Allah Swt. tersebut berarti bahwa mereka yang mendustakan dan menentang para Rasul
Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka.
Mereka akan
merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang para rasul
Allah tersebut, termasuk di Akhir
zaman ini, berupa berkecamuknya berbagai macam azab Ilahi yang berkesinambungan, sebab sudah merupakan Sunnah-Nya Allah Swt. tidak pernah mengazab manusia (Bani Adam) sebelum terlebih dulu diutus Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka (QS.17:16; QS.20:134-136;
QS.28:59).
Penolakan
terhadap Rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan Allah Swt.
di kalangan Bani Adam tersebut
(QS.7:35-36) adalah seperti orang-orang yang mati atau orang-orang yang tidur
lelap menolak pengembalian “ruh” mereka oleh Allah Swt., sehingga akibatnya berbagai bentuk kemunduran
dan kerugian
akan menimpa mereka.
Mengapa
demikian? Sebab orang-orang yang mati dan orang-orang yang tidur lelap keadaannya sama yakni
“tidak berdaya”, karena akibat ketiadaan
ruh mereka telah menyebabkan seluruh kesadaran
dan kemampuan mereka pun hilang,
termasuk kemampuan
semua inderanya-inderanya.
Suatu kaum
yang keadaannya dari segi ruhani
telah “mati” atau dalam keadaan “tidur
lelap” seperti itu, ketika Allah
Swt. berkehendak “menghidupkan” atau
“membangunkan” kembali melalui pengutusan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan -- yang digambarkan sebagai peniupan nafiri (terompet) -- mereka itu bukannya bersyukur kepada Allah Swt. dengan menyambut gembira kedatangan Rasul
Allah tersebut tapi malah marah besar karena merasa sangat
terganggu
dengan kehadiran rasul Allah
tersebut, firman-Nya:
وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَاِذَا ہُمۡ
مِّنَ الۡاَجۡدَاثِ اِلٰی رَبِّہِمۡ
یَنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا
یٰوَیۡلَنَا مَنۡۢ بَعَثَنَا مِنۡ مَّرۡقَدِنَا ٜۘؐ ہٰذَا
مَا وَعَدَ الرَّحۡمٰنُ وَ صَدَقَ الۡمُرۡسَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan nafiri akan ditiup maka tiba-tiba mereka akan segera keluar
dari kuburan kepada Rabb
(Tuhan) mereka. Mereka akan berkata:
”Aduh celakalah kami! Siapakah
yang telah membangkitkan kami dari tempat
tidur kami?” Inilah apa
yang telah dijanjikan Tuhan Yang Maha Pemurah, dan benarlah
rasul-rasul itu. (Yā Sīn [36]:52-53).
Kata-kata, “nafiri akan ditiup,” di samping yang dimaksud
ialah “peniupan terompet” pada Hari Pembalasan, dapat pula berarti
kedatangan seorang Mushlih Rabbani
yakni Rasul Allah, yang karena “seruan da’wahnya” mereka yang secara ruhani telah mati itu bangkit dari kuburan (keadaan kematian ruhani) mereka dan segera mendengarkan dan menyambut panggilan Ilahi (QS.3:131-135).
Bila
pada Hari Kiamat orang-orang akan dibangkitkan dan kepada orang-orang kafir akan dihadapkan perbuatan-perbuatan jahat mereka, dan azab
Ilahi akan mengancam
mereka, mereka akan dicekam rasa
putus-asa dan akan menjerit dalam kegemparan: یٰوَیۡلَنَا مَنۡۢ بَعَثَنَا
مِنۡ مَّرۡقَدِنَا -- “Aduh celaka kami! Siapakah yang telah membangkitkan kami
dari tempat tidur kami?”
Tetapi untuk melanjutkan kiasan ayat sebelum ini, ayat ini mengisyaratkan kepada orang-orang yang pada saat seorang nabi Allah datang
tetapi mereka tidak mau mendengar seruan Ilahi dan lebih menyukai tetap tinggal dalam keadaan mati ruhani atau “tidur lelap” itu, ketika mendengar seruan Ilahi yang dikemukakan Rasul Allah itu mereka menyahut dengan
penuh kemarahan:
"Mengapakah dia harus mengganggu
jalan hidup kami yang tenang, dan menimbulkan keributan dan kegelisahan di
antara kami dengan mengajak kami mengikuti dia dan menganut cara hidup baru?”
Demikian pula tuduhan yang dikemukakan para pemuka
kaum-kaum purbakala mulai dari pemuka kaum Nabi Adam a.s. – yang dalam
Al-Quran disebut iblis (QS.2:31-40; QS.7:12-26; QS.15:27-45;
QS.17:62-66; QS.18:51; QS.20:117-123; QS.38:72-86) -- sampai dengan
tuduhan para pemuka
kaum Quraisy Mekkah pimpinan Abu
Jahal terhadap pendakwaan Nabi
Besar Muhammad saw., yakni mereka telah menuduh para Rasul Allah sebagai penyebab terjadinya perpecahan kaum atau perpecahan
umat, karena menurut para pemuka
kaum tersebut sebelum kedatangan para Rasul Allah tersebut “kaum mereka”
itu merupakan “satu umat”, firman-Nya:
کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ
مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ ۪ وَ
اَنۡزَلَ مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ
لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ
فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا
فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ
یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی
صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Manusia
dahulunya merupakan satu umat, lalu
Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan haq supaya Dia menghakimi di antara manusia
dalam hal-hal yang mereka perselisihkan,
dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkan-nya255 kecuali orang-orang yang dibe-ri Alkitab
itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Lalu Allāh
dengan izin-Nya telah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada
kebenaran yang mere-ka perselisihkan itu, dan Allāh mem-beri petunjuk kepada
siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. (Al-Baqarah
[2]:214)
Makna
ayat: کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً
وَّاحِدَۃً
-- “Manusia dahulunya merupakan
satu umat,” yaitu sebelum kedatangan
seorang nabi Allah semua orang adalah
laksana satu umat (kaum), dalam arti
bahwa mereka semua orang-orang kafir.
Tetapi bila seorang nabi Allah muncul,
mereka itu walau pun satu sama lain berbeda
mereka merupakan satu barisan dalam
melakukan perlawanan kepada msi suci Rasul Allah tersebut.
Ungkapan “umat
manusia adalah satu umat” atau kata-kata yang serupa dipakai pada tujuh tempat
dalam Al-Quran selain dalam ayat ini. Dalam
QS.10:20, QS.21:93 dan QS.23:53 ungkapan itu berarti “kesatuan nasional”, dan dalam QS.5:49;
QS.16:94; QS.42:9; QS.43:34 dan dalam ayat ini berarti “mempunyai identitas yang sama
dalam pikiran.”
“Perselisihan” yang tersebut dalam ayat ini
pada dua tempat terpisah menunjukkan dua macam ketidaksepahaman yang
berlain-lainan. Sebelum kedatangan seorang nabi Allah, orang-orang berselisih di antara mereka sendiri mengenai perbuatan musyrik mereka: وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ
الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا
فِیۡہِ -- “dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab
dengan haq supaya Dia menghakimi di
antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan.”
Tetapi sesudah nabi Allah itu muncul mereka mulai berselisih mengenai dakwahnya: وَ مَا
اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ
الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ -- “dan sekali-kali tidak ada yang
memperselisihkannya kecuali
orang-orang yang dibe-ri Alkitab itu sesudah Tanda-tanda yang nyata
datang kepada mereka, karena kedengkian
di antara mereka.“
Nabi Allah itu tidak menimbulkan perselisihan dan bukan pula menjadi penyebab terjadinya “perselisihan umat” sebagaimana tuduhan keji para pemuka kaum -- termasuk di Akhir Zaman ini terhadap Rasul
Akhir Zaman -- karena sebenarnya perselisihan tersebut telah ada di kalangan mereka hanya saja sesudah kedatangan rasul Allah perselisihan
di kalangan mereka itu mengambil
bentuk baru.
Sebelum seorang nabi Allah datang, orang-orang meskipun berselisih paham antara satu
sama lain tetapi mereka nampaknya
seperti satu kaum, tetapi ketika rasul Allah diutus memutuskan perselisihan di kalangan mereka maka mereka mulai terpisah menjadi dua blok
yang sangat berbeda — yakni menjadi blok orang-orang yang beriman kepada rasul
Allah dan blok orang-orang kafir yang
menentang rasul Allah.
Dipandang secara kolektif ayat
ini menggambarkan lima tingkat berlainan yang telah dilalui umat
manusia.Mula-mula ada kesatuan di antara manusia semuanya merupakan satu umat.
Dengan bertambahnya penduduk dan meluasnya kepentingan mereka dan kian ruwetnya
masalah-masalah yang dihadapi mereka, mereka mulai berselisih antara satu sama
lain. Kemudian, Allah Swt. membangkitkan
nabi-nabi dan mewahyukan kehendak-Nya.
Setiap wahyu-baru dijadikan sebab
kekacauan dan pertikaian, terutama oleh kaum yang kepadanya Amanat Ilahi dialamatkan. Allah Swt.
akhirnya membangkitkan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Kitab-Nya yang terakhir beserta ajaran
yang universal, berseru kepada seluruh umat manusia untuk berkumpul di sekitar
panjinya. Dengan demikian lingkaran telah bertemu dan dunia yang mulai dengan
kesatuan ditakdirkan untuk berakhir dalam kesatuan.
Empat Tugas Mulia Nabi Besar
Muhammad Saw. & Pengutusan Kedua
Kali Beliau Saw. di Akhir Zaman
Jadi, kembali kepada masalah “pencabutan ruh” Al-Quran yang bersifat sementara selama 1000
tahun -- setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad -- tersebut
(QS.17:86-89; QS.32:6), umat Islam mengalami
puncak “kelelapan tidurnya” atau
mengelami puncak kemunduran dalam berbagai bidang kehidupannya pada abad
14 Hijriyah.
Pada abad 14
Hijriyah itu pulalah Allah Swt. mengembalikan “ruh” Al-Quran yang dicabut-Nya dengan perantaraan pengutusan Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-5). Dengan demikian genap pulalah nubuatan Al-Quran mengenai kedatangan
kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir
Zaman ini dari kalangan umat Islam “golongan akhir” di dalam
wujud Al-Masih Mau’ud a.s.,
firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ
فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan
kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah
walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ -- Itulah karunia
Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Dan Allah
mempunyai karunia yang besar.” (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Ayat 3
mengisyaratkan kepada empat macam tugas
suci Nabi Besar Muhammad saw. meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini. Tugas
agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab untuk
kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang
Arab buta huruf itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s., telah
memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika -- dengan disertai putranya, Nabi Isma’il
a.s -- Nabi Ibrahim a.s. mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130).
Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu
dapat benar-benar berhasil dalam misinya
bila ia tidak menyiapkan dengan contoh
mulia dan quat-qudsiahnya (daya
pensuciannya), suatu jemaat yang
pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang
mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu ( mula-mula mengajarkan
cita-cita dan asas-asas ajarannya
serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas
ajarannya itu, kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa
lain.
Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para
pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. menciptakan di
dalam diri mereka kesucian hati.
Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat 3: یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ -- “yang membacakan
kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada me-reka Kitab dan Hikmah
walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata.“
Pengutusan Kedua Kali Nabi Besar Muhammad Saw. di Akhir Zaman
Makna ayat selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,” bahwa ajaran Nabi Besar Muhammad saw. ditujukan
bukan hanya kepada bangsa Arab belaka -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw.,
melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang
hingga Hari Kiamat.
Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan dibangkitkan lagi di antara kaum Muslim yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw..
Isyarat di dalam ayat ini dan di da-lam hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang
termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau saw. untuk kedua kali dalam wujud Masih
Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini.
Sehubungan dengan ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,” Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami
sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw. ketika Surah
Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah
yang diisyaratkan oleh kata-kata Dan
Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan
mereka?” – Salman al-Farsi
(Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah
saw. meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila
iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti
akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Besar Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan
kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.
Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih
Mau’ud a.s. -- pendiri Jemaat Ahmadiyah -- adalah dari keturunan Parsi. Hadits Nabi Besar
Muhammad saw. lainnya
menyebutkan kedatangan Al-Masih pada
saat ketika “Tidak ada yang tertinggal di
dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam
selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan
hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi
Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini dalam wujud Masih
Mau’ud a.s..
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 20 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar