Minggu, 27 Maret 2016

Makna "Bahasa Binatang" yang Dimengerti Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. & Cara "Membaca Bahasa Kiasan" Kisah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



   Makna ”Bahasa Binatang”  yang Dimengerti Nabi Daud a.s dan Nabi Sulaiman a.s. &  Cara "Membaca  Bahasa Kiasan" Kisah   Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.

Bab 7


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai   kegagalan  makar buruk  “Gerakan Rahasia” Orang-orang Yahudi terhadap Nabi Besar Muhammad Saw. yang dikemukakan firman Allah Swt.:
وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ  وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ  وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ  بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ  اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ  اَنۡفُسَہُمۡ  ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka mengikuti apa yang diikuti  oleh syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa  kerajaan Sulaimanوَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا  -- dan bukan Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan  itulah yang kafir, یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ  -- mereka mengajarkan sihir kepada manusia.  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ  وَ مَارُوۡتَ  -- Tetapi mereka itu mengaku  mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua  malaikat, Harut dan Marut  di Babil.  وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ  -- Dan keduanya tidaklah mengajar seorang pun hingga  mereka mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan dari Tuhan, karena itu janganlah kamu kafir.” فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ  وَ زَوۡجِہٖ   --  Lalu  orang-orang belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pemisahan di antara laki-laki dan istrinya, وَ مَا ہُمۡ  بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ  اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ  -- dan mereka sekali-kali tidak mendatangkan mudarat kepada seorang pun dengan itu kecuali dengan seizin Allah, وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  -- sedangkan  mereka ini  belajar hal yang mendatangkan mudarat kepada diri mereka dan tidak bermanfaat   baginya. وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ  -- Dan sungguh mereka benar-benar mengetahui bahwa barangsiapa berniaga dengan cara ini  tidak ada baginya suatu bagian keuntungan di akhirat, وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ  اَنۡفُسَہُمۡ  ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ  -- dan benar-benar sangat buruk hal yang untuk itu mereka menjual dirinya, sean-dainya mereka mengetahui. (Al-Baqarah [2]:103).
     Ayat itu berarti bahwa orang-orang Yahudi pada masa Nabi Besar Muhammad saw.  ikut-ikutan dalam rencana dan perbuatan jahat yang sama, seperti halnya yang menjadi ciri nenek-moyang mereka di zaman Nabi Sulaiman a.s.  – yang disebut  syayāthīn (setan-setan)  yang mengajarkan “sihir.
     Dikatakan selanjutnya bahwa perusuh-perusuh di zaman Nabi Sulaiman a.s. adalah pemberontak-pemberontak yang menuduh beliau sebagai orang kafir. Ayat ini membersihkan Nabi Sulaiman a.s. dari tuduhan kafir mereka itu. Ditambahkannya bahwa pemberontak-pemberontak di zaman Nabi Sulaiman a.s. itu mengajarkan kepada rekan-rekan mereka sandi-sandi (lambang-lambang rahasia) yang mengandung  arti yang sama sekali berbeda dari arti yang umumnya dipahami, dengan tujuan menipu orang dan menyembunyikan maksud sebenarnya.

Dua Macam “Gerakan Rahasia”  yang  Hasilnya Berbeda

    Ayat ini mengisyaratkan kepada sekongkol rahasia yang dilancarkan para penentang Nabi Sulaiman a.s. terhadap beliau. Dengan jalan itu mereka berusaha menghancurkan kerajaannya. Hal itu mengandung arti bahwa orang-orang Yahudi Medinah  juga  mempergunakan pula siasat kotor yang sama terhadap  Nabi Besar Muhammad saw.,  tetapi mereka tidak akan berhasil dalam rencana-rencana jahatnya itu.
      Ketika orang-orang Yahudi menyaksikan kekuasaan Islam terus-menerus meluas dan perlawanan terhadap Islam di tanah Arab telah dihancurkan sepenuhnya oleh Nabi Besar Muhammad saw., sehingga mereka tidak dapat menghentikan atau memperlambat kemajuannya, lalu mereka mulai menghasut orang-orang luar melawan Islam. Dan karena ditindas dan dizalimi  oleh penguasa-penguasa kerajaan Kristen, mereka mencari perlindungan di Persia serta memindahkan pusat agama mereka dari Yehuda ke Babil (Hutchison’s of Nation’s, halaman 550).
       Berangsur-angsur mereka mulai memasukkan pengaruh besarnya ke dalam istana raja-raja Persia dan mulai membuat komplotan terhadap Islam. Ketika Khusru II menerima surat dari  Nabi Besar Muhammad saw.  mengajaknya agar menerima Islam, orang-orang Yahudi di sana  berhasil menghasutnya supaya mengirimkan perintah kepada Badhan, Gubernur Yaman, yang pada masa itu merupakan propinsi Persia, agar menangkap dan mengirimkan Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai tawanan dengan dirantai ke istana Persia. Kepada komplotan-komplotan dan sekongkol orang-orang Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  itulah ayat (QS.2:103) ini menunjuk.
    Perhatian mereka ditarik kepada kenyataan bahwa pertama nenek-moyang mereka pun  telah melancarkan komplotan  terhadap Nabi Sulaiman a.s.   ketika beberapa anggota masyarakatnya telah mendirikan perkumpulan-perkumpulan rahasia melawan beliau. Di dalam perkumpulan-perkumpulan rahasia itu diajarkan lambang-lambang dan sandi-sandi  (I Raja-raja 11:29-32; I  Raja-raja 11:14, 23, 26; II Tawarikh 10:2-4).
      Kejadian kedua ketika mereka menghidupkan kembali perkumpulan-perkumpulan rahasia ialah pada waktu mereka masih dalam tawanan di Babil pada zaman Raja Nebukadnezar.  Dan orang-orang suci yang disinggung dalam ayat ini ialah Nabi Hijai, dan Zakaria bin Ido (Ezra 5:1).
      Orang-orang suci – yang disebut  dua malaikat: Harut dan Marut  -- itu membatasi keanggotaannya pada kaum pria, dan menerangkan kepada para anggota baru pada waktu upacara pelantikan bahwa mereka itu semacam cobaan dari Tuhan, dan bahwa oleh karena itu kaum Bani Israil hendaknya jangan mengingkari apa-apa yang dikatakan mereka.
      Ketika kekuasaan Cyrus — raja Media dan Persia — bangkit, orang-orang Bani Israil di pembuangan mengadakan perjanjian rahasia dengan beliau. Hal demikian sangat mempermudah untuk mengalahkan kerajaan  Babil. Sebagai imbalan atas jasa (kerjasama rahasia) itu, Cyrus bukan saja mengizinkan mereka kembali ke Yeruzalem, tetapi membantu mereka pula dalam pembangunan kembali Rumah Peribadatan Nabi Sulaiman a.s. (Historians’ History of the World, ii 126). 
     Ayat ini mengisyaratkan bahwa upaya-upaya kaum Yahudi pada dua peristiwa yang telah lewat itu telah membawa hasil-hasil berlainan. Pada peristiwa pertama, komplotan mereka bertujuan untuk melawan Nabi Sulaiman a.s. dan disudahi dengan kehilangan seluruh kewibawaan dan akhirnya mereka dibuang ke Babil ketika Yerusalem diserbu oleh Nebukadnezar dari Babilonia. Pada peristiwa kedua mereka mengambil cara-cara yang sama, di bawah pimpinan dua wujud yang mendapat wahyu  -- yang disebut “dua malaikat”  -- dan mereka berhasil gilang-gemilang.
      Untuk menegaskan bahwa  apakah kegiatan rahasia  (makar buruk)  kaum Yahudi terhadap Nabi Besar Muhammad saw. akan menemui kegagalan seperti dialami mereka di masa Nabi Sulaiman a.s.,  ataukah akan berhasil seperti di Babil, maka Al-Quran menyatakan: وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  -- “sedangkan  mereka ini  belajar hal yang mendatangkan mudarat kepada diri mereka dan tidak bermanfaat   baginya” mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan berhasil seperti keberhasilan nenek-moyang mereka di Babil.

Makna “Bahasa Binatang

   Begitu juga dalam dunia binatang  pun terdapat sarana komunikasi  di antara mereka  yang   disebut “bahasa binatang”,  dan manusia dapat mempelajari  serta dapat memanfaatkanbahasa binatang” tersebut untuk berbagai  kepentingan, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s. dan  Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
وَ وَرِثَ سُلَیۡمٰنُ دَاوٗدَ وَ قَالَ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ عُلِّمۡنَا مَنۡطِقَ الطَّیۡرِ وَ اُوۡتِیۡنَا مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud,  وَ قَالَ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ عُلِّمۡنَا مَنۡطِقَ الطَّیۡرِ -- dan ia berkata: “Hai manusia, kami telah diajari bahasa burung, وَ اُوۡتِیۡنَا مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ  -- dan kami telah diberi segala sesuatu, اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡمُبِیۡنُ -- sesungguhnya ini benar-benar karunia yang nyata.” (An-Naml [27]:17).
      Manthiq  (bahasa) berasal dari kata nathaqa yang berarti: ia berbicara dengan suara (lisan) dan tulisan, yang membuat maksudnya menjadi jelas. Oleh karena itu nathiq dipergunakan untuk pembicaraan yang terang maupun tidak terang, dan juga untuk keadaan sesuatu yang sama artinya dengan pembicaraan yang terang.
     Secara lahiriah   nathiq merupakan kata-kata yang dituturkan, dan secara batiniah adalah  pengertian. Kata itu pun dipergunakan berkenaan dengan binatang dan burung, bila penggunaannya secara kiasan (Al-Mufradat), karena burung-burung dan serangga-serangga pun mempunyai sarana sendiri untuk berkomunikasi.
     Burung-burung yang biasa berpindah tempat, terbang dari satu wilayah ke wilayah lain menurut perubahan iklim. Mereka terbang berkawan-kawan dan terbang teratur. Demikian juga semut hidup bermasyarakat, dan lebah mempunyi tata pemerintahan yang teratur. Hal ini tidak mungkin jika tidak ada suatu cara mengadakan perhubungan antara mereka.  Cara perhubungan ini dapat disebut bahasa mereka.
      Nabi Daud a.s.  dan Nabi Sulaiman a.s.  dinyatakan di sini diajari bahasa burung, yang dapat dianggap berarti  bahwa beliau-beliau telah mempelajari bagaimana memanfaatkan burung-burung. Seni mempergunakan burung-burung untuk membawa berita-berita dari satu tempat ke tempat lain sangat banyak digunakan oleh Nabi Sulaiman a.s.   dan cara itu berkali-kali dan berulang-ulang dipergunakan dalam mengemudikan kerajaan Bani Israil di bawah kekuasaan beliau yang sangat luas.
     Jadi, tidak benar anggapan bahwa Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. benar-benar secara harfiah  keduanya dapat bercakap-cakap dengan burung atau pun  dengan semut.

Hakikat Dua Siasat   Berbeda yang Dilakukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.  
       Berikut adalah firman Allah Swt. mengenai “gerakan militer” Nabi Sulaiman a.s. ke wilayah kerajaan Saba  karena  pasukannya telah melakukan  infiltrasi ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s., yang diumpamakan sebagai  kambing-kambing” milik kaum  lain yang  berkeliaran di  ladang” (QS.21:79-83), firman-Nya:
  وَ دَاوٗدَ  وَ سُلَیۡمٰنَ  اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی الۡحَرۡثِ  اِذۡ  نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ  الۡقَوۡمِ ۚ وَ کُنَّا  لِحُکۡمِہِمۡ  شٰہِدِیۡنَ﴿٭ۙ﴾  فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ کُلًّا  اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا ۫ وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾  وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ ﴿﴾  وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan ingatlah Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan keputusan mengenai suatu ladang,  ketika kambing-kambing suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka.   Maka Kami memberikan pengertian  kepada Sulaiman, dan kepada masing-masing  Kami  berikan kebijaksanaan dan ilmu.  Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud,  dan Kami Yang mengerja-kannya.    Dan Kami mengajarinya  membuat baju besi  bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu, maka apakah kamu mau bersyukur?    Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin itu bertiup atas perintahnya ke arah daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.   Dan  kalangan   syaitan-syaitan  ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan  pekerjaan lain selain itu, dan Kami-lah yang menjaga  mereka. (Al-Anbiya [21]:79-83).
     Dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya telah dipergunakan bahasa kiasan untuk menambah indahnya ungkapan. Al-harts (ladang) dapat menunjuk kepada negeri  Nabi Sulaiman a.s.,    dan kata ghanam al-qaum (kambing-kambing milik kaum) kepada kabilah-kabilah tetangga yang buas dan suka merampok serta mengadakan serbuan-serbuan ke negeri Nabi Sulaiman a.s..
     Isyarat  dalam ayat tersebut   tertuju kepada pembelaaan Allah Swt. terhadap benarnya kedua   macam  siasat berbeda yang dilakukan  oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. untuk  menanggulangi   -- yakni menangkis dan mengalahkan  --  perampokan kabilah-kabilah biadab tersebut.
       Kedua macam  siasat yang berbeda tersebut    menjadi sasaran kritikan  pihak-pihak yang menentang dan tidak menyukai dinasti Nabi Daud a.s.,  dimana mereka bukan hanya sekedar menyebar berbagai fitnah keji berkenaan dengan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. – sebagaimana dikemukakan dalam Bible – bahkan  mereka  secara diam-diam berusaha  untuk membunuh  Nabi Daud a.s. dengan  cara memanjat dinding mihrab  beliau  namun gagal dilakukan karena Nabi Daud a.s. dalam keadaan waspada (QS.38:22-27).

Makna Burung dan Gunung Menyanjung Kesucian Allah Swt. Bersama Nabi Daud a.s.

      Nabi Daud a.s.,  bukan hanya seorang nabi Allah, tetapi juga seorang raja terbesar di kalangan raja-raja Bani Israil karena beliau    seorang ahli perang ulung, dan oleh karena itu  dalam menghadapi para  penyerang  --  yang digambarkan “ghanam al-qaum” (kambing-kambing milik kaum)   dan  dalam Surah Al-Baqarah  disebut sebagai “Jalut dan bala tentaranya” yang berhasil dibunuh oleh Nabi Daud a.s.  (QS.2:247-253).
      Jadi, Nabi Daud a.s. telah menjalankan siasat keras dan terbukti siasat yang beliau lakukan  sangat berhasil karena siasat keras yang Nabi Daud a.s.  lakukan mendapat dukungan Allah Swt. sebagaimana diisyaratkan dalam ayat: وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ  -- “Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud,  dan Kami Yang mengerjakannya.  وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ     -- Dan Kami mengajarinya  membuat baju besi  bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu, فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ --  maka apakah kamu mau bersyukur?” (Al-Anbiya [21]:80).
      Pengembangan industri militer  yang dilakukan di zaman pemerintahan Nabi Daud a.s. – yang diisyaratkan dalam ayat: وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ     -- Dan Kami mengajarinya  membuat baju besi  bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu”   -- dalam Surah lain digambarkan sebagai “dilunakkan-Nya besi” bagi Nabi Daud a.s., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ  مِنَّا فَضۡلًا ؕ یٰجِبَالُ اَوِّبِیۡ  مَعَہٗ  وَ الطَّیۡرَ ۚ وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ ﴿ۙ﴾  اَنِ اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ وَ اعۡمَلُوۡا صَالِحًا ؕ اِنِّیۡ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ  ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan karunia dari Kami kepada Daud  dan berfirman:   ”Hai  gunung-gunung  dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama dia.”   Dan Kami menjadikan besi lunak baginya. Berfirman: “Buatlah baju rantai yang  cukup panjang serta ukurlah cincin-cincinnya secara tepat, dan berbuatlah amal saleh, sesungguhnya Aku melihat   apa pun yang kamu kerjakan.” (As-Sabā [34]:11-12). 
      Kata-kata, Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud telah diberi arti harfiah yaitu bahwa gunung-gunung dan burung-burung berada di bawah kekuasaan Nabi Daud a.s.  dan ketika beliau mendendangkan sanjungan-sanjungan kepada Allah Swt.   mereka  itu benar-benar ikut-serta dengan beliau dalam amal saleh itu.
      Penafsiran seperti itu keliru  yaitu akibat   ketidak-mampuan “membaca bahasa  Kitab suci” (Al-Quran),  karena kata-kata itu sesungguhnya hanya berarti bahwa orang-orang besar (aljibal) dan ruhaniawan-ruhaniawan yang bermartabat tinggi (ath-thair), memuliakan Allah Swt. dan mendendangkan sanjungan-sanjungan Ilahi bersama-sama dengan Nabi Daud a.s,  karena beliau selain seorang raja besar di kalangan Bani Israil  juga seorang  Rasul Allah
     Di beberapa tempat dalam Al-Quran  bukan saja gunung-gunung dan burung-burung, tetapi juga bahkan semua benda di seluruh langit dan bumi, seperti matahari, bulan, bintang-kemintang, siang dan malam, margasatwa, unggas, sungai-sungai, angin, gumpalan-gumpalan awan dan sebagainya, disebutkan seolah-olah telah diciptakan untuk mengkhidmati makhluk manusia (2:165; 7:55; 22:38 & 45:13-14).
     Kata jibāl (gunung) dapat pula berarti, “orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan,” sebab adakalanya nama suatu tempat dipakai juga untuk orang yang mendiaminya (QS.12:83). Jadi  bahwa “gunung” ditundukkan untuk berkhidmat kepada Nabi Daud a.s.  dapat mengandung arti  bahwa beliau menaklukkan dan menguasai kabilah-kabilah liar serta biadab yang mendiami daerah pegunungan.  
     Nabi Daud a.s.  adalah seorang penakluk agung dan pengendali suku-suku bangsa pegunungan yang buas itu, yang  disebut “ganam al-qaum – kambing-kambing liar milik kaum” (QS.21:79) atau “Jalut dan bala tentaranya” (QS.2:247-253). Bible pun menunjuk kepada penaklukkan suku-suku pegunungan oleh Nabi Daud a.s.  (Samuel, bab 5).
      Demikian pula penyanjungan puji-pujian kepada  Allah Swt. yang dilakukan oleh burung-burung tidak perlu menimbulkan keheranan. Di tempat lain dalam Al-Quran kita baca bahwa semua benda, baik yang hidup atau yang mati, para malaikat, margasatwa, unggas, seluruh langit dan bumi, bahkan kekuatan-kekuatan alam menyanjung dengan puji-pujian kepada Allah Swt.; hanya manusia tidak dapat mengerti sanjungan-sanjungan mereka itu (QS.13:14; QS.7:45; QS.21:20-21; QS.24:42; QS.59:2; QS.61:2; & QS.64:2).
     Yakni  mereka itu melaksanakan tugas-tugas yang telah diberikan kepada mereka oleh Allah Swt.,  dan dengan demikian bertasbihnya mereka itu menampakkan bahwa Allah Swt.  itu Mahasempurna dan sama sekali bebas dari segala kekurangan, kegagalan, dan kelemahan; dan begitu pulalah hasil karya-Nya (seluruh ciptaan-Nya).

Makna  Nabi Daud a.s. “Membunuh  Jalut dan  Bala-tentaranya” 

      Jadi, yang diisyaratkan dalam  Surah As-Sabā ayat 11-12 mengenai makna “besi dilunakkan” bagi Nabi Daud a.s. dan membuat pakaian besi   maksudnya adalah    kekuatan militer Nabi Daud a.s. dan tentang keahlian beliau yang besar dalam membuat alat-alat perang dan baju-baju besi.
     Nabi Daud a.s. menemukan serta mengembangkan berbagai macam alat  senjata yang dengan mempergunakan alat-alat itu beliau memperoleh kemenangan-kemenangan besar. Di masa pemerintahan beliau kerajaan Bani Israil mencapai puncak kekuasaannya. Masa itu merupakan zaman keemasan dalam sejarah kerajaan Bani Israil.
  Jadi, ungkapan وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ -- “Dan Kami menjadikan besi lunak baginya,” menunjukkan  bahwa teknik pembuatan alat-alat perang dari besi sudah sangat dikembangkan oleh Nabi Daud a.s. dan beliau dengan mudah dapat memfaedahkannya untuk membuat baju-baju rantai  atau baju besi (zirah), sehingga Nabi Daud a.s.  mampu “membunuh jalut dan bala-tentaranya”, dimana sebelumnya Thalut (Gideon) hanya   berhasil “mengalahkan Jalut dan bala tentaranya”, firman-Nya:
فَہَزَمُوۡہُمۡ  بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Maka mereka mengalahkan  mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ -- dan Dawud membunuh Jalut, وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ -- Allah memberinya kerajaan dan kebijaksanaan dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. Dan  seandainya Allah tidak menyingkirkan kejahatan seba-gian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan,  tetapi Allah memiliki karunia atas seluruh alam. (Al-Baqarah [2]:252).
       Thalut atau Gideon berhasil mengalahkan Jalut atau kaum Midian, tetapi kekalahan besar yang disebut dalam ayat ini dengan terbunuhnya Jalut terjadi di zaman Nabi Dawud a.s., kira-kira 200 tahun kemudian. Menurut Bible orang yang dikalahkan oleh Nabi Dawud a.s.  adalah Goliat (I Samuel 17:4), yang cocok dengan Jalut. Mungkin nama sifat yang diberikan oleh Al-Quran kepada kaum itu pun disandang oleh pemimpin mereka di zaman Nabi Dawud a.s..

Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

     Tetapi orang-orang kafir di kalangan Bani Israil yang tidak menyukai Nabi Daud a.s. mereka terus menerus  menyebarkan berbagai fitnah   terhadap Nabi Daud a.s.  (II Samuel 11:1-27) serta terhadap kebijaksanaan  pemerintahan beliau  dalam  mensikapi  qabilah-qabilah   yang  liar dan biadab   dengan sikap tegas (keras), dan bahkan  mereka berusaha membunuh beliau tetapi  gagal karena Nabi Daud a.s. dalam keadaan waspada  lalu  keduanya berpura-pura mengadukan persoalan yang dihadapinya mengenai domba (QS.38:22-27; II Samuel 12:25), sehingga atas berulang-ulangnya kedurhakaan mereka maka Nabi Daud a.s. mengutuk mereka, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.  Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan.  Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ --   yaitu bahwa Allah murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal (Al-Māidah [5]:79-81).
       Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong paling menderita di tangan orang-orang Yahudi. Penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s.  dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu  tercermin di dalam Mazmur  beliau yang sangat merawankan hati, sehingga dari lubuk hati yang penuh kepedihan Nabi Daud a.s. mengutuk mereka.  Demikian pula kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. terhadap mereka karena kezaliman yang dilakukan orang-orang Yahudi terhadap  beliau yang  mencapai puncaknya  ketika mereka berusaha membunuh beliau  dengan cara dipakukan pada  kayu salib (QS.4:158-159).
      Kutukan Nabi Daud a.s.  mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum oleh Nebukadnezar, yang menghancurluluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil ke Babil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi (QS.2:260), sedangkan akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus dari kerajaan Romawi   menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu (QS.17:5-10).
       Salah satu di antara dosa-dosa besar yang membangkitkan amarah  Allah Swt. atas kaum Yahudi ialah mereka tidak melarang satu sama lain  terhadap kejahatan yang sangat  merajalela di tengah-tengah mereka: تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- “Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ  --  dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ --   yaitu bahwa Allah murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal (Al-Māidah [5]:81).

Benarnya Kedua Macam Siasat yang Dilakukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.

     Pendek  kata, siasat keras  yang dilakukan Nabi Daud a.s. dalam menghentikan  secara total serbuan-serbuan qabilah-qabilah asing yang biadab yang tinggal di daerah pegunungan tersebut  sesuai dengan Kehendak  Allah Swt., demikian juga siasat yang lebih lunak   yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s.  pun sesuai dengan kehendak Allah Swt., firman-Nya: 
  وَ دَاوٗدَ  وَ سُلَیۡمٰنَ  اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی الۡحَرۡثِ  اِذۡ  نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ  الۡقَوۡمِ ۚ وَ کُنَّا  لِحُکۡمِہِمۡ  شٰہِدِیۡنَ﴿٭ۙ﴾  فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ کُلًّا  اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا ۫ وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾  وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ ﴿﴾  وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan ingatlah Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan keputusan mengenai suatu ladang,  ketika kambing-kambing suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka.   Maka Kami memberikan pengertian  kepada Sulaiman, dan kepada masing-masing  Kami  berikan kebijaksanaan dan ilmu.  Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud,  dan Kami Yang mengerja-kannya.    Dan Kami mengajarinya  membuat baju besi  bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu, maka apakah kamu mau bersyukur? وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ --   Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin itu bertiup atas perintahnya ke arah daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ --  Dan  kalangan   syaitan-syaitan  ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan  pekerjaan lain selain itu, dan Kami-lah yang menjaga  mereka. (Al-Anbiya [21]:79-83).
      Siasat lebih lunak yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. dalam menundukkan kabilah-kabilah  penghuni wilayah pegunungan itu dengan jalan mengadakan perjanjian-perjanjian persahabatan dengan mereka, firman-Nya:  وَ کُنَّا  لِحُکۡمِہِمۡ  شٰہِدِیۡنَ  -- dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka. فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ --  Maka Kami memberikan pengertian  kepada Sulaiman, وَ کُلًّا  اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا --  dan kepada masing-masing  Kami  berikan kebijaksanaan dan ilmu.”  
      Kata-kata itu mengandung arti  bahwa siasat lunak dan cari damai yang dijalankan oleh  Nabi Sulaiman a.s.  itu memang tepat dalam keadaan-keadaan pada saat itu, dan bahwa tuduhan yang dilancarkan terhadap beliau oleh beberapa pengarang Yahudi, bahwa beliau mengikuti suatu siasat lemah yang mendatangkan keruntuhan wangsa beliau sekali-kali tidak mempunyai dasar yang sehat. Tetapi pembelaan untuk Nabi Sulaiman a.s.  tidak boleh diberi arti bahwa siasat keras yang dijalankan oleh Nabi Daud a.s.  dalam masa beliau sendiri  salah.
      Suatu kesalah-pahaman yang menjurus kepada kesimpulan ini telah dihilangkan oleh anak kalimat dan kepada masing-masing dari mereka Kami beri  kebijaksanaan dan ilmu. Anak kalimat itu memperjelas bahwa siasat-siasat yang dijalankan, baik oleh Daud a.s. maupun oleh Sulaiman a.s., itulah yang terbaik dalam keadaan itu dan paling cocok pada peristiwa yang khas itu.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 24 Maret  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar