Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Makna ”Bahasa Binatang” yang Dimengerti Nabi Daud a.s dan Nabi
Sulaiman a.s. & Cara "Membaca Bahasa Kiasan" Kisah Nabi Daud
a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.
Bab 7
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai kegagalan makar buruk “Gerakan Rahasia” Orang-orang Yahudi terhadap Nabi Besar Muhammad Saw. yang
dikemukakan firman Allah Swt.:
وَ اتَّبَعُوۡا
مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ
وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ
اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ
حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ
مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا
بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا
لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ
ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka mengikuti apa yang diikuti oleh syaithan-syaitan
yakni para pemberontak di masa
kerajaan Sulaiman, وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ
الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا --
dan bukan Sulaiman yang kafir
melainkan syaitan-syaitan itulah yang kafir, یُعَلِّمُوۡنَ
النَّاسَ السِّحۡرَ -- mereka
mengajarkan sihir kepada
manusia. وَ مَاۤ اُنۡزِلَ
عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ
وَ مَارُوۡتَ -- Tetapi
mereka itu mengaku mengikuti apa yang telah diturunkan kepada
dua malaikat, Harut dan Marut di Babil. وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی
یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ -- Dan keduanya
tidaklah mengajar seorang pun hingga
mereka mengatakan: “Sesungguhnya
kami hanya cobaan dari Tuhan, karena
itu janganlah kamu kafir.” فَیَتَعَلَّمُوۡنَ
مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِہٖ -- Lalu orang-orang belajar dari keduanya hal
yang dengan itu mereka membuat pemisahan
di antara laki-laki dan istrinya, وَ مَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- dan mereka
sekali-kali tidak mendatangkan mudarat kepada seorang pun dengan itu kecuali
dengan seizin Allah, وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا
یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ -- sedangkan mereka
ini belajar hal yang mendatangkan
mudarat kepada diri mereka dan tidak
bermanfaat baginya.
وَ
لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ -- Dan sungguh mereka benar-benar mengetahui
bahwa barangsiapa berniaga dengan cara
ini tidak ada baginya suatu bagian keuntungan di akhirat, وَ لَبِئۡسَ مَا
شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ -- dan benar-benar sangat buruk hal yang untuk itu
mereka menjual dirinya, sean-dainya mereka
mengetahui. (Al-Baqarah [2]:103).
Ayat itu berarti bahwa orang-orang Yahudi pada masa Nabi Besar
Muhammad saw. ikut-ikutan dalam rencana dan perbuatan jahat
yang sama, seperti halnya yang menjadi ciri
nenek-moyang mereka di zaman Nabi Sulaiman a.s. – yang disebut syayāthīn
(setan-setan) yang mengajarkan “sihir.”
Dikatakan selanjutnya bahwa perusuh-perusuh di zaman Nabi Sulaiman
a.s. adalah pemberontak-pemberontak
yang menuduh beliau sebagai orang kafir.
Ayat ini membersihkan Nabi Sulaiman
a.s. dari tuduhan kafir
mereka itu. Ditambahkannya bahwa pemberontak-pemberontak
di zaman Nabi Sulaiman a.s. itu mengajarkan
kepada rekan-rekan mereka sandi-sandi (lambang-lambang rahasia)
yang mengandung arti yang sama sekali berbeda
dari arti yang umumnya dipahami, dengan tujuan menipu orang dan menyembunyikan maksud sebenarnya.
Dua Macam “Gerakan Rahasia”
yang Hasilnya
Berbeda
Ayat ini mengisyaratkan kepada sekongkol rahasia yang dilancarkan para penentang Nabi Sulaiman a.s. terhadap
beliau. Dengan jalan itu mereka berusaha menghancurkan
kerajaannya. Hal itu mengandung arti bahwa orang-orang Yahudi Medinah juga mempergunakan pula siasat kotor yang sama terhadap Nabi Besar Muhammad saw., tetapi mereka tidak akan berhasil dalam rencana-rencana
jahatnya itu.
Ketika
orang-orang Yahudi menyaksikan kekuasaan
Islam terus-menerus meluas dan perlawanan
terhadap Islam di tanah Arab telah dihancurkan sepenuhnya oleh Nabi Besar
Muhammad saw., sehingga mereka tidak dapat menghentikan
atau memperlambat kemajuannya, lalu mereka
mulai menghasut orang-orang luar
melawan Islam. Dan karena ditindas
dan dizalimi oleh penguasa-penguasa kerajaan Kristen, mereka mencari perlindungan di Persia serta memindahkan pusat agama mereka dari Yehuda ke Babil (Hutchison’s of
Nation’s, halaman 550).
Berangsur-angsur mereka mulai memasukkan pengaruh besarnya ke dalam istana
raja-raja Persia dan mulai membuat komplotan
terhadap Islam. Ketika Khusru II
menerima surat dari Nabi Besar Muhammad saw. mengajaknya agar menerima Islam, orang-orang Yahudi di sana berhasil menghasutnya
supaya mengirimkan perintah kepada Badhan, Gubernur Yaman, yang pada masa
itu merupakan propinsi Persia, agar menangkap
dan mengirimkan Nabi Besar Muhammad saw.
sebagai tawanan dengan dirantai
ke istana Persia. Kepada komplotan-komplotan dan sekongkol orang-orang Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.
itulah ayat (QS.2:103) ini menunjuk.
Perhatian mereka ditarik kepada
kenyataan bahwa pertama nenek-moyang
mereka pun telah melancarkan komplotan terhadap Nabi
Sulaiman a.s. ketika
beberapa anggota masyarakatnya telah
mendirikan perkumpulan-perkumpulan
rahasia melawan beliau. Di dalam perkumpulan-perkumpulan
rahasia itu diajarkan lambang-lambang
dan sandi-sandi (I Raja-raja 11:29-32; I Raja-raja 11:14, 23, 26; II Tawarikh
10:2-4).
Kejadian kedua ketika mereka menghidupkan
kembali perkumpulan-perkumpulan rahasia ialah
pada waktu mereka masih dalam tawanan
di Babil pada zaman Raja Nebukadnezar. Dan orang-orang
suci yang disinggung dalam ayat ini ialah Nabi Hijai, dan Zakaria bin
Ido (Ezra 5:1).
Orang-orang suci – yang disebut dua malaikat:
Harut dan Marut -- itu membatasi keanggotaannya pada kaum pria, dan menerangkan kepada para anggota baru pada waktu upacara
pelantikan bahwa mereka itu semacam cobaan
dari Tuhan, dan bahwa oleh karena itu kaum
Bani Israil hendaknya jangan mengingkari
apa-apa yang dikatakan mereka.
Ketika kekuasaan Cyrus — raja
Media dan Persia — bangkit, orang-orang Bani
Israil di pembuangan mengadakan perjanjian
rahasia dengan beliau. Hal demikian sangat mempermudah untuk mengalahkan kerajaan Babil.
Sebagai imbalan atas jasa (kerjasama rahasia) itu, Cyrus bukan saja mengizinkan mereka kembali ke Yeruzalem,
tetapi membantu mereka pula dalam pembangunan kembali Rumah Peribadatan Nabi Sulaiman a.s. (Historians’ History of the World, ii 126).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa upaya-upaya kaum Yahudi pada dua
peristiwa yang telah lewat itu telah membawa hasil-hasil berlainan. Pada peristiwa pertama, komplotan mereka bertujuan untuk melawan Nabi Sulaiman a.s. dan disudahi dengan kehilangan seluruh kewibawaan dan
akhirnya mereka dibuang ke Babil
ketika Yerusalem diserbu oleh Nebukadnezar dari Babilonia. Pada peristiwa kedua
mereka mengambil cara-cara yang sama,
di bawah pimpinan dua wujud yang
mendapat wahyu -- yang disebut “dua malaikat” -- dan mereka berhasil gilang-gemilang.
Untuk menegaskan bahwa apakah kegiatan rahasia (makar buruk) kaum Yahudi
terhadap Nabi Besar Muhammad saw. akan menemui kegagalan seperti dialami mereka di masa Nabi Sulaiman a.s., ataukah
akan berhasil seperti di Babil, maka Al-Quran menyatakan: وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ
مَا یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ -- “sedangkan mereka ini belajar hal yang mendatangkan mudarat
kepada diri mereka dan tidak
bermanfaat baginya” mengisyaratkan
bahwa mereka tidak akan berhasil
seperti keberhasilan nenek-moyang
mereka di Babil.
Makna “Bahasa
Binatang”
Begitu juga dalam dunia binatang pun terdapat sarana komunikasi di antara
mereka yang disebut “bahasa
binatang”, dan manusia dapat mempelajari serta dapat memanfaatkan “bahasa binatang”
tersebut untuk berbagai kepentingan, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.,
firman-Nya:
وَ وَرِثَ سُلَیۡمٰنُ دَاوٗدَ وَ قَالَ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ عُلِّمۡنَا
مَنۡطِقَ الطَّیۡرِ وَ اُوۡتِیۡنَا مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ
الۡفَضۡلُ الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, وَ قَالَ
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ عُلِّمۡنَا مَنۡطِقَ الطَّیۡرِ -- dan ia
berkata: “Hai manusia, kami telah diajari bahasa burung, وَ اُوۡتِیۡنَا مِنۡ
کُلِّ شَیۡءٍ -- dan
kami telah diberi segala sesuatu, اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ
الۡفَضۡلُ الۡمُبِیۡنُ -- sesungguhnya
ini benar-benar karunia yang nyata.” (An-Naml [27]:17).
Manthiq
(bahasa) berasal dari kata nathaqa
yang berarti: ia berbicara dengan suara (lisan) dan tulisan, yang membuat maksudnya
menjadi jelas. Oleh karena itu nathiq
dipergunakan untuk pembicaraan yang terang maupun tidak terang, dan juga untuk keadaan
sesuatu yang sama artinya dengan pembicaraan yang terang.
Secara lahiriah nathiq
merupakan kata-kata yang dituturkan, dan secara batiniah adalah pengertian.
Kata itu pun dipergunakan berkenaan dengan binatang
dan burung, bila penggunaannya secara
kiasan (Al-Mufradat), karena burung-burung
dan serangga-serangga pun mempunyai sarana sendiri untuk berkomunikasi.
Burung-burung yang biasa
berpindah tempat, terbang dari satu wilayah ke wilayah lain menurut perubahan iklim. Mereka terbang
berkawan-kawan dan terbang teratur. Demikian juga semut hidup bermasyarakat,
dan lebah mempunyi tata pemerintahan yang teratur. Hal ini tidak mungkin jika
tidak ada suatu cara mengadakan perhubungan antara mereka. Cara perhubungan
ini dapat disebut bahasa mereka.
Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. dinyatakan di sini diajari bahasa burung, yang dapat dianggap
berarti bahwa beliau-beliau telah mempelajari bagaimana memanfaatkan burung-burung. Seni
mempergunakan burung-burung untuk membawa berita-berita dari satu tempat
ke tempat lain sangat banyak digunakan oleh Nabi Sulaiman a.s. dan
cara itu berkali-kali dan berulang-ulang dipergunakan dalam mengemudikan kerajaan Bani Israil di bawah kekuasaan beliau
yang sangat luas.
Jadi, tidak benar anggapan bahwa Nabi Daud a.s. dan Nabi
Sulaiman a.s. benar-benar secara harfiah
keduanya dapat bercakap-cakap dengan burung
atau pun dengan semut.
Hakikat Dua Siasat Berbeda yang Dilakukan Nabi Daud a.s. dan Nabi
Sulaiman a.s.
Berikut adalah firman Allah Swt.
mengenai “gerakan militer” Nabi
Sulaiman a.s. ke wilayah kerajaan Saba karena
pasukannya telah
melakukan infiltrasi ke wilayah kekuasaan
Nabi Sulaiman a.s., yang diumpamakan sebagai
“kambing-kambing” milik
kaum lain yang “berkeliaran
di ladang” (QS.21:79-83),
firman-Nya:
وَ دَاوٗدَ
وَ سُلَیۡمٰنَ اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی
الۡحَرۡثِ اِذۡ نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ الۡقَوۡمِ ۚ وَ کُنَّا لِحُکۡمِہِمۡ
شٰہِدِیۡنَ﴿٭ۙ﴾ فَفَہَّمۡنٰہَا
سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ کُلًّا اٰتَیۡنَا حُکۡمًا
وَّ عِلۡمًا ۫ وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ
وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾ وَ عَلَّمۡنٰہُ صَنۡعَۃَ
لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ
شٰکِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ
بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ
بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ
شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ
یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan ingatlah
Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan
keputusan mengenai suatu ladang, ketika kambing-kambing
suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami
menjadi saksi atas benarnya keputusan
mereka. Maka Kami
memberikan pengertian kepada
Sulaiman, dan kepada
masing-masing Kami berikan kebijaksanaan dan ilmu. Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih
bersama Daud, dan Kami
Yang mengerja-kannya. Dan Kami
mengajarinya membuat baju besi bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu, maka apakah kamu mau bersyukur? Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin
itu bertiup atas perintahnya ke arah
daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan kalangan syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan pekerjaan lain selain itu, dan Kami-lah yang menjaga mereka. (Al-Anbiya [21]:79-83).
Dalam ayat ini dan dalam
beberapa ayat berikutnya telah dipergunakan bahasa
kiasan untuk menambah indahnya
ungkapan. Al-harts (ladang) dapat menunjuk kepada negeri Nabi Sulaiman a.s., dan
kata ghanam al-qaum (kambing-kambing milik kaum) kepada kabilah-kabilah tetangga yang buas dan suka merampok serta mengadakan serbuan-serbuan
ke negeri Nabi Sulaiman a.s..
Isyarat dalam ayat tersebut tertuju kepada pembelaaan Allah Swt. terhadap
benarnya kedua macam siasat
berbeda yang dilakukan oleh Nabi Daud
a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. untuk menanggulangi -- yakni menangkis dan mengalahkan -- perampokan kabilah-kabilah biadab
tersebut.
Kedua macam siasat yang berbeda tersebut
menjadi sasaran kritikan pihak-pihak yang menentang dan tidak menyukai
dinasti Nabi Daud a.s., dimana mereka bukan hanya sekedar menyebar
berbagai fitnah keji berkenaan dengan
Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. – sebagaimana
dikemukakan dalam Bible – bahkan mereka
secara diam-diam berusaha untuk membunuh
Nabi Daud a.s. dengan cara
memanjat dinding mihrab beliau namun gagal dilakukan karena Nabi Daud a.s.
dalam keadaan waspada (QS.38:22-27).
Makna Burung dan Gunung Menyanjung Kesucian Allah Swt. Bersama Nabi Daud a.s.
Nabi Daud a.s., bukan hanya
seorang nabi Allah, tetapi juga
seorang raja terbesar di kalangan raja-raja Bani Israil karena beliau
seorang
ahli perang ulung, dan oleh karena
itu dalam menghadapi para penyerang
-- yang digambarkan “ghanam
al-qaum” (kambing-kambing milik kaum) dan
dalam Surah Al-Baqarah disebut sebagai “Jalut dan bala tentaranya”
yang berhasil dibunuh oleh Nabi Daud
a.s. (QS.2:247-253).
Jadi, Nabi Daud a.s. telah menjalankan siasat keras dan terbukti siasat
yang beliau lakukan sangat berhasil karena siasat keras yang Nabi Daud a.s.
lakukan mendapat dukungan
Allah Swt. sebagaimana diisyaratkan dalam ayat: وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ
کُنَّا فٰعِلِیۡنَ -- “Dan
Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud, dan Kami Yang mengerjakannya.
وَ
عَلَّمۡنٰہُ صَنۡعَۃَ لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ
بَاۡسِکُمۡ ۚ -- Dan Kami mengajarinya membuat baju besi bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu, فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ -- maka apakah
kamu mau bersyukur?” (Al-Anbiya [21]:80).
Pengembangan industri militer yang dilakukan di zaman pemerintahan Nabi
Daud a.s. – yang diisyaratkan dalam ayat: وَ عَلَّمۡنٰہُ صَنۡعَۃَ
لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ -- Dan Kami mengajarinya membuat baju besi bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu” -- dalam Surah lain digambarkan sebagai “dilunakkan-Nya besi” bagi Nabi Daud
a.s., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضۡلًا ؕ
یٰجِبَالُ اَوِّبِیۡ مَعَہٗ وَ الطَّیۡرَ ۚ وَ اَلَنَّا لَہُ الۡحَدِیۡدَ ﴿ۙ﴾ اَنِ اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ وَ
اعۡمَلُوۡا صَالِحًا ؕ اِنِّیۡ بِمَا
تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan
karunia dari Kami kepada Daud
dan berfirman: ”Hai
gunung-gunung dan burung-burung,
bertasbihlah berulang-ulang bersama dia.” Dan
Kami menjadikan besi lunak baginya.
Berfirman: “Buatlah baju rantai yang cukup
panjang serta ukurlah
cincin-cincinnya secara tepat,
dan berbuatlah amal saleh,
sesungguhnya Aku melihat apa pun yang kamu kerjakan.” (As-Sabā
[34]:11-12).
Kata-kata, Kami tundukkan gunung-gunung dan
burung-burung untuk bertasbih bersama Daud telah diberi arti harfiah yaitu bahwa gunung-gunung dan burung-burung
berada di bawah kekuasaan Nabi Daud a.s. dan ketika beliau mendendangkan sanjungan-sanjungan kepada Allah Swt. mereka
itu benar-benar ikut-serta dengan beliau dalam amal
saleh itu.
Penafsiran
seperti itu keliru yaitu akibat ketidak-mampuan
“membaca bahasa Kitab suci” (Al-Quran), karena kata-kata itu sesungguhnya hanya
berarti bahwa orang-orang besar (aljibal)
dan ruhaniawan-ruhaniawan yang bermartabat tinggi (ath-thair), memuliakan Allah Swt. dan mendendangkan
sanjungan-sanjungan Ilahi bersama-sama dengan Nabi Daud a.s, karena beliau selain seorang raja besar di kalangan Bani Israil juga seorang
Rasul Allah.
Di beberapa tempat dalam
Al-Quran bukan saja gunung-gunung dan burung-burung,
tetapi juga bahkan semua benda di
seluruh langit dan bumi, seperti matahari, bulan, bintang-kemintang, siang dan
malam, margasatwa, unggas, sungai-sungai, angin, gumpalan-gumpalan awan dan
sebagainya, disebutkan seolah-olah telah diciptakan untuk mengkhidmati makhluk manusia (2:165; 7:55; 22:38 & 45:13-14).
Kata jibāl (gunung) dapat
pula berarti, “orang-orang yang tinggal
di daerah pegunungan,” sebab adakalanya nama
suatu tempat dipakai juga untuk orang
yang mendiaminya (QS.12:83).
Jadi bahwa “gunung” ditundukkan untuk berkhidmat kepada Nabi Daud a.s. dapat mengandung arti bahwa beliau menaklukkan dan menguasai
kabilah-kabilah liar serta biadab yang mendiami daerah pegunungan.
Nabi Daud a.s. adalah seorang penakluk agung dan pengendali suku-suku bangsa
pegunungan yang buas itu,
yang disebut “ganam al-qaum – kambing-kambing liar milik kaum” (QS.21:79) atau “Jalut dan bala tentaranya” (QS.2:247-253).
Bible pun menunjuk kepada penaklukkan suku-suku pegunungan oleh
Nabi Daud a.s. (Samuel,
bab 5).
Demikian pula penyanjungan
puji-pujian kepada Allah Swt. yang
dilakukan oleh burung-burung tidak
perlu menimbulkan keheranan. Di tempat lain dalam Al-Quran kita baca bahwa semua benda, baik yang hidup atau yang
mati, para malaikat, margasatwa, unggas, seluruh langit dan bumi, bahkan kekuatan-kekuatan alam menyanjung dengan
puji-pujian kepada Allah Swt.; hanya manusia tidak dapat mengerti sanjungan-sanjungan mereka itu
(QS.13:14; QS.7:45; QS.21:20-21; QS.24:42; QS.59:2; QS.61:2; & QS.64:2).
Yakni mereka itu melaksanakan
tugas-tugas yang telah diberikan kepada mereka oleh Allah Swt., dan dengan demikian bertasbihnya mereka itu menampakkan bahwa Allah Swt. itu Mahasempurna dan sama sekali bebas dari segala kekurangan, kegagalan,
dan kelemahan; dan begitu pulalah
hasil karya-Nya (seluruh
ciptaan-Nya).
Makna Nabi Daud a.s. “Membunuh
Jalut dan Bala-tentaranya”
Jadi, yang diisyaratkan
dalam Surah As-Sabā ayat 11-12
mengenai makna “besi dilunakkan” bagi
Nabi Daud a.s. dan membuat pakaian besi maksudnya adalah kekuatan militer Nabi Daud a.s. dan
tentang keahlian beliau yang besar
dalam membuat alat-alat perang dan baju-baju besi.
Nabi Daud a.s. menemukan serta mengembangkan berbagai macam alat
senjata yang dengan mempergunakan alat-alat itu beliau memperoleh kemenangan-kemenangan
besar. Di masa pemerintahan beliau kerajaan
Bani Israil mencapai puncak kekuasaannya. Masa itu merupakan zaman keemasan dalam sejarah kerajaan Bani Israil.
Jadi, ungkapan وَ اَلَنَّا لَہُ الۡحَدِیۡدَ -- “Dan Kami menjadikan besi lunak baginya,” menunjukkan
bahwa teknik pembuatan alat-alat perang dari besi sudah sangat dikembangkan oleh Nabi Daud a.s. dan
beliau dengan mudah dapat memfaedahkannya untuk membuat baju-baju rantai atau baju
besi (zirah), sehingga Nabi Daud a.s. mampu “membunuh
jalut dan bala-tentaranya”, dimana sebelumnya Thalut (Gideon) hanya
berhasil “mengalahkan Jalut dan bala tentaranya”, firman-Nya:
فَہَزَمُوۡہُمۡ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ
جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ
النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ
فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Maka mereka mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala
tentaranya dengan izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ
جَالُوۡتَ -- dan Dawud
membunuh Jalut, وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ وَ
الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ -- Allah memberinya kerajaan dan kebijaksanaan dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. Dan seandainya
Allah tidak menyingkirkan kejahatan seba-gian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan, tetapi Allah
memiliki karunia atas seluruh alam. (Al-Baqarah [2]:252).
Thalut
atau Gideon berhasil mengalahkan Jalut atau kaum Midian,
tetapi kekalahan besar yang disebut
dalam ayat ini dengan terbunuhnya Jalut
terjadi di zaman Nabi Dawud a.s.,
kira-kira 200 tahun kemudian. Menurut Bible
orang yang dikalahkan oleh Nabi Dawud a.s.
adalah Goliat (I Samuel 17:4), yang cocok dengan Jalut. Mungkin nama sifat yang diberikan oleh Al-Quran kepada kaum itu pun disandang oleh pemimpin
mereka di zaman Nabi Dawud a.s..
Kutukan Nabi Daud a.s.
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Tetapi orang-orang kafir di kalangan Bani
Israil yang tidak menyukai Nabi
Daud a.s. mereka terus menerus
menyebarkan berbagai fitnah terhadap Nabi Daud a.s. (II Samuel
11:1-27) serta terhadap kebijaksanaan pemerintahan beliau dalam
mensikapi qabilah-qabilah yang liar dan biadab dengan sikap tegas (keras), dan bahkan mereka berusaha membunuh beliau tetapi gagal karena Nabi Daud a.s. dalam
keadaan waspada lalu
keduanya berpura-pura
mengadukan persoalan yang dihadapinya
mengenai domba (QS.38:22-27; II Samuel 12:25), sehingga atas
berulang-ulangnya kedurhakaan mereka
maka Nabi Daud a.s. mengutuk mereka,
firman-Nya:
لُعِنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا
یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ
ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari kalangan
Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,
hal demikian itu karena mereka
senantiasa durhaka dan melampaui
batas. Mereka tidak pernah saling
mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya,
benar-benar sangat buruk apa yang senantiasa mereka kerjakan. Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai
pelindung, dan benar-benar
sangat buruk apa yang telah mereka
dahulukan bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- yaitu bahwa Allah murka kepada mereka, dan di
dalam azab inilah mereka akan kekal (Al-Māidah [5]:79-81).
Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong paling menderita di tangan orang-orang
Yahudi. Penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s. dari kaum
yang tak mengenal terima kasih itu tercermin di dalam Mazmur beliau yang
sangat merawankan hati, sehingga dari lubuk
hati yang penuh kepedihan Nabi
Daud a.s. mengutuk mereka.
Demikian pula kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. terhadap mereka karena kezaliman
yang dilakukan orang-orang Yahudi
terhadap beliau yang mencapai puncaknya ketika mereka berusaha membunuh beliau dengan cara dipakukan pada kayu salib
(QS.4:158-159).
Kutukan Nabi Daud a.s. mengakibatkan
orang-orang Bani Israil dihukum oleh Nebukadnezar, yang menghancurluluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil ke Babil sebagai tawanan
pada tahun 556 sebelum Masehi (QS.2:260), sedangkan akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus dari kerajaan Romawi menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70
Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan
menyembelih babi — binatang yang
sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu (QS.17:5-10).
Salah
satu di antara dosa-dosa besar yang
membangkitkan amarah Allah Swt. atas kaum Yahudi ialah mereka tidak melarang satu sama lain terhadap kejahatan
yang sangat merajalela di tengah-tengah mereka: تَرٰی کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- “Engkau
melihat kebanyakan dari mereka
menjadikan orang-orang kafir
sebagai pelindung, لَبِئۡسَ مَا
قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ -- dan
benar-benar sangat buruk apa yang
telah mereka dahulukan bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- yaitu bahwa Allah murka kepada mereka, dan di
dalam azab inilah mereka akan kekal (Al-Māidah [5]:81).
Benarnya Kedua Macam Siasat
yang Dilakukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.
Pendek kata, siasat
keras yang dilakukan Nabi Daud a.s. dalam menghentikan secara total serbuan-serbuan qabilah-qabilah asing yang biadab yang tinggal di daerah pegunungan
tersebut sesuai dengan Kehendak Allah Swt., demikian juga siasat yang lebih lunak yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. pun sesuai
dengan kehendak Allah Swt.,
firman-Nya:
وَ دَاوٗدَ
وَ سُلَیۡمٰنَ اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی
الۡحَرۡثِ اِذۡ نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ الۡقَوۡمِ ۚ وَ کُنَّا لِحُکۡمِہِمۡ
شٰہِدِیۡنَ﴿٭ۙ﴾ فَفَہَّمۡنٰہَا
سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ کُلًّا اٰتَیۡنَا حُکۡمًا
وَّ عِلۡمًا ۫ وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ
وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾ وَ عَلَّمۡنٰہُ صَنۡعَۃَ
لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ
شٰکِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ
بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ
بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ
شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ
یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan ingatlah
Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan
keputusan mengenai suatu ladang, ketika kambing-kambing
suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami
menjadi saksi atas benarnya keputusan
mereka. Maka Kami
memberikan pengertian kepada
Sulaiman, dan kepada
masing-masing Kami berikan kebijaksanaan dan ilmu. Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih
bersama Daud, dan Kami
Yang mengerja-kannya. Dan Kami
mengajarinya membuat baju besi bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu, maka apakah kamu mau bersyukur? وَ
لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ
وَ کُنَّا بِکُلِّ شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ -- Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin
itu bertiup atas perintahnya ke arah
daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا
دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ -- Dan kalangan
syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan pekerjaan lain selain itu, dan Kami-lah yang menjaga mereka. (Al-Anbiya [21]:79-83).
Siasat
lebih lunak yang dilakukan Nabi
Sulaiman a.s. dalam menundukkan kabilah-kabilah
penghuni wilayah pegunungan itu dengan jalan mengadakan perjanjian-perjanjian persahabatan dengan mereka, firman-Nya: وَ کُنَّا لِحُکۡمِہِمۡ
شٰہِدِیۡنَ -- dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka. فَفَہَّمۡنٰہَا
سُلَیۡمٰنَ ۚ -- Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman, وَ کُلًّا اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا -- dan kepada
masing-masing Kami berikan kebijaksanaan dan ilmu.”
Kata-kata itu mengandung arti
bahwa siasat lunak dan cari damai yang dijalankan oleh Nabi Sulaiman a.s. itu memang tepat dalam keadaan-keadaan
pada saat itu, dan bahwa tuduhan yang
dilancarkan terhadap beliau oleh beberapa pengarang
Yahudi, bahwa beliau mengikuti suatu siasat
lemah yang mendatangkan keruntuhan
wangsa beliau sekali-kali tidak mempunyai dasar yang sehat. Tetapi pembelaan untuk Nabi Sulaiman a.s. tidak boleh diberi arti bahwa siasat keras yang dijalankan oleh Nabi
Daud a.s. dalam masa beliau
sendiri salah.
Suatu kesalah-pahaman yang menjurus kepada kesimpulan ini telah dihilangkan oleh anak kalimat dan kepada
masing-masing dari mereka Kami beri
kebijaksanaan dan ilmu. Anak kalimat itu memperjelas bahwa siasat-siasat yang dijalankan, baik oleh
Daud a.s. maupun oleh Sulaiman a.s., itulah yang terbaik dalam keadaan itu dan paling
cocok pada peristiwa yang khas itu.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 24 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar