Sabtu, 19 Maret 2016

Allah Swt. Yang Mengajarkan "Bahasa" Kepada Manusia & Makna Perintah "Bacalah" dan Pentingnya Memiliki Kemampuan "Membaca"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA


    Allah Swt. Yang Mengajarkan Bahasa  Kepada Manusia & Makna Perintah "Bacalah"  dan  Pentingnya Memiliki  Kemampuan "Membaca"  

Bab 1


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
Iriwayatkan oleh Ibnnu ‘Abbas r.a. bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  telah bersabda: “Cintailah bangsa Arab karena aku adalah bangsa Arab, Al-Quran dalam bahasa Arab dan bahasa penghuni surga adalah bahasa Arab” (HR.Hakim; Thabrani;    Baihaqi).
       Terlepas adanya perbedaan pendapat  mengenai keabsahan hadits tersebut, tetapi sabda Nabi Besar Muhammad saw.  berkenaan bahasa Arab tersebut mengandung makna yang sangat dalam  karena selaras dengan  firman Allah Swt. dalam berbagai Surah Al-Quran, antara lain Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  الٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ الۡمُبِیۡنِ ۟﴿﴾  اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡءٰنًا عَرَبِیًّا لَّعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha PenyayangAku Allah Yang Maha Melihat  Itulah ayat-ayat Kitab yang terang.  Sesungguhnya  Kami telah menurunkannya yakni Al-Quran  dalam bahasa Arab supaya kamu memahami.    (Yusuf [12]:1-3).
      Makna mubīn (terang) dalam ayat      "Itulah ayat-ayat Kitab yang terang"  sebagai ism fa’il (bentuk pelaku) dari abana, yang dapat digunakan berpelengkap (transitif) maupun tidak berpelengkap (intransitif) kedua-duanya berarti: (1) apa yang keadaannya sendiri jelas dan nyata; (2) apa yang menjadikan hal-hal itu jelas dan (3) apa yang memutuskan sesuatu benda dari yang lain serta  menjadikannya beda-kentara dan terpisah dari yang lain itu (Lexicon Lane).
    Kata mubīn itu seperti diperlihatkan oleh artinya menunjuk kepada tiga sifat Al-Quran yang menonjol, yaitu:
   (1) bahwa Al-Quran bukan saja menyatakan dengan jelas fakta-fakta dan nubuatan-nubuatan, serta menetapkan hukum-hukum dan peraturan-peraturan, tetapi juga mendukung dan membuktikan   apa yang dikatakannya  dan didakwa-kannya dengan dalil-dalil yang kuat dan alasan-alasan yang sehat;
     (2) bahwa  Al-Quran  bukan saja keadaannya sendiri terang serta jelas, tetapi menghilangkan pula kesamaran-kesamaran dan keraguan-keraguan yang terdapat dalam kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya;  
      (3) bahwa segala sesuatu yang perlu untuk mencapai qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan) dan yang berhubungan dengan hukum syariat, budi pekerti (akhlak) dan dengan perkara-perkara keimanan, telah dibuat jelas sekali dalam Al-Quran, hal mana sama sekali tidak dimiliki oleh semua kitab suci lainnya.
      Semua kitab lainnya hanya bersifat mustabīn (jelas tentang dirinya sendiri), tetapi Al-Quran bukan saja mustabīn  melainkan juga mubīn (menghilangkan kesamaran-kesa-maran yang terdapat dalam kitab-kitab lain). Apa yang lebih menambah keindahan Al-Quran sebagai “kitab yang jelas dan terang” ialah bahwa segala ajarannya serasi dan sesuai sepenuhnya dengan fitrat manusia dan juga dengan hukum alam.

Kesempurnaan Bahasa Arab  dan Al-Quran

      Makna kata ‘arabiy  dalam ayat selanjutnya:    "Sesungguhnya  Kami telah menurunkannya yakni Al-Quran  dalam bahasa Arab supaya kamu memahami,”    asalnya dari 'ariba atau ‘aruba. Ungkapan kalimat  ‘Aribat al-bi’ru  berarti “sumur itu mengandung banyak air”.  Kalimat ‘Aruba ar-rajulu berarti  “orang itu mulai bicara jelas, terang, dan nyata, sedang sebelumnya ia bicara dengan kasar”; “ia adalah atau ia menjadi cekatan atau lincah”. Jadi ungkapan qur’ānan ‘arabiyan,  berarti (1) sebuah kitab yang dibaca orang dengan sangat luas dan dawam, dan (2) yang dapat melahirkan maksudnya dengan bahasa yang jelas, lancar, dan mudah dipahami (Lexicon Lane).
     Kata ‘arabiy mengandung arti: penuh, limpah-ruah, dan jelas; bahasa Arab itu disebut demikian karena masdar-masdarnya (akar-akar katanya) tak terhitung banyaknya  serta penuh dengan arti, dan karena bahasa Arab itu sangat tegas, fasih, dan mudah dipahami.   
      Bahasa Arab mempunyai kata-kata dan kalimat-kalimat yang cocok dan tepat untuk mengungkapkan sepenuhnya segala macam pikiran dan aneka  macam arti. Masalah apa pun dapat dibahas dalam bahasa ini dengan tepat dan mendalam, hal itu tidak dapat ditandingi oleh bahasa-bahasa lain mana pun.   Sarjana-sarjana Eropa terpaksa mengakui bahwa bahasa Arab itu lengkap dalam masdar-masdarnya (akar-akar katanya).  Bahasa Arab terdiri dari ratusan ribu akar kata, yang penuh dengan berbagai  arti yang amat luas.
       Ibn Jinni, seorang tokoh ahli bahasa telah menyatakan dengan menukil pendapat seorang ahli bahasa yang sangat terkemuka lainnya, Abu Ali, bahwa huruf-hurufnya pun mempunyai arti yang jelas dan pasti. Umpamanya, ia menerangkan bahwa huruf-huruf mim, lam, dan kaf dalam gabungan atau kombinasi apa pun melukiskan “kekuasaan”, hal mana terdapat hampir pada semua kata yang terbentuk oleh huruf-huruf itu atau berasal dari akar kata itu.
       Dalam ayat yang mendahuluinya Al-Quran disebut “Alkitab”:      “Itulah ayat-ayat Kitab yang terang”,  yang mengandung suatu nubuatan  bahwa ia senantiasa akan terpelihara dalam bentuk sebuah kitab. Dalam ayat selanjutnya  ia disebut “Al-Quran”:    Sesungguhnya  Kami telah menurunkannya yakni Al-Quran  dalam bahasa Arab supaya kamu memahami”    hal itu  merupakan kabar gaib (nubuatan)  bahwa kitab itu akan dibaca dan dipelajari dengan sangat luas:
Memang ini merupakan kenyataan, bahwa tidak ada musuh Islam dapat menyangkal dengan alasan yang kuat, bahwa tidak ada kitab lainnya yang begitu luas dan sering dibaca seperti Al-Quran. Profesor Noldeke mengatakan:
Oleh karena penggunaan Al-Quran dalam salat-salat berjamaah, di madrasah-madrasah dan lain-lain, jauh lebih luas dari-pada umpamanya, pembacaan Bible di sebagian negeri-negeri Kristen, maka patutlah ia dianggap sebagai kitab yang paling luas dibaca di antara buku-buku bacaan yang ada” (Encyclopaedia Britannica, 9 th. Edition).

Bahasa    Bukan Ciptaan Manusia Melainkan  Berasal dari Allah Swt

     Sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa “bahasa Arab adalah bahasa para penghuni surga” mengandung  berbagai makna  serta hikmah  yang sangat dalam, karena itu   sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  jangan   diartikan secara harfiah.
       Salah satu hikmahnya adalah bahwa karena  bahasa Arab merupakan induk semua bahasa yang ada di dunia, karena itu  bahasa Arab adalah  bahasa yang diwahyukan Allah Swt.,  yang perkembangannya  menuju puncak  kesempurnaan dalam segala seginya seiring  dengan diciptakan-Nya  manusia  serta sejalan dengan perkembangan ruhaninya,   yang mencapai puncaknya pada  masa diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai Rasul Allah untuk seluruh umat manusia  (QS.7:159; QS.21:108)  yang mengemban syariat terakhir dan tersempurna  (QS.5:4) berupa wahyu Al-Quran dalam bahasa Arab.
       Sehubungan dengan hal tersebut   Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  -- Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s.   -- menjelaskan:
      “Tidak benar jika dikatakan bahwa bahasa adalah hasil ciptaan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penemu dan pencipta bahasa manusia adalah Allah Yang Maha Kuasa, Yang juga telah menciptakan manusia berdasarkan kekuasaan-Nya Yang Maha Sempurna dimana ia (manusia) telah diberi  lidah untuk dapat berbicara.
        Jika benar bahwa bahasa adalah hasil ciptaan manusia maka tidak perlu lagi bayi manusia diajarkan mengenai hal ini,  karena dengan sendirinya ia akan bisa berbicara. Ia akan mencipta sendiri perkataannya sambil ia tumbuh dewasa.
       Nyatanya jika bayi tidak diajar bahasa maka sudah pasti juga ia tidak akan mampu berbicara. Terlepas dari apakah ia dibesarkan di hutan-hutan tanah Yunani, di kepulauan Inggris atau pun di  khatulistiwa, tetap saja seorang bayi harus diajar bahasa karena tanpa pelatihan demikian ia tidak akan mampu berbicara.
      Pandangan yang mengatakan bahwa bahasa mengalami perubahan karena pengaruh manusia sebenarnya adalah suatu ilusi atau khayalan. Perubahan-perubahan yang terjadi bukan karena upaya manusia secara sengaja, serta tidak ada suatu ketentuan atau prinsip yang mengatur bagaimana manusia akan melakukan perubahan dalam bahasa dan kapan  saatnya.
     Perenungan yang mendalam menunjukkan bahwa perubahan linguistik juga terjadi di bawah pengaturan Sang Penyebab dari segala Sebab atau Kausa segala Kausa (Causa Causens),  sama seperti perubahan yang terjadi di langit dan di bumi. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa pada suatu saat tertentu seluruh umat manusia secara kolektif atau pun bagian darinya telah menemukan atau menciptakan berbagai bahasa yang digunakan di dunia.
     Mungkin ada yang membantah dan mengatakan,  misalnya, bahwa sejak awal adanya manusia  bahasa mungkin sudah ada tanpa harus diajarkan Tuhan melalui wahyu. Jawaban untuk itu ialah pada saat awal itu Tuhan  menciptakan segala sesuatu semata-mata hanya berdasar kekuatan-Nya.
     Renungan mengenai langit, bumi, matahari, bulan atau fitrat manusia sendiri mengungkapkan,  bahwa awal dan asal dari segala hal adalah berkat kinerja kekuasaan Ilahi dimana tidak ada digunakan sarana fisik. Apa pun yang diciptakan Tuhan merupakan manifestasi (perwujudan) dari kekuasaan-Nya yang Maha Agung,  yang berada di luar kemampuan pemikiran manusia.
      Keadaan pada hari ini tidak bisa dijadikan preseden  (ibarat/rujukan) dari bagaimana permulaan atau awal dari penciptaan alam. Sebagai contoh, sekarang ini tidak ada anak yang dilahirkan tanpa perantaraan orang-tuanya, tetapi jika di awal hal ini juga berlaku maka tidak akan ada manusia yang bisa mewujud.
        Lagi pula terdapat perbedaan yang besar sekali dalam pengertian tentang perubahan yang terjadi secara alamiah dalam bahasa dengan kelahiran bahasa itu sendiri dari suatu kehampaan sebelumnya. Kedua konsep itu sama sekali berbeda.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, vol. IV, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 358-404, London, 1984).
   Sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai asal-muasal dan  sumber bahasa serta perkembangannya tersebut selaras dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 2:   “Segala  puji hanya bagi  Allah,  Rabb (Tuhan) seluruh alam”.   
   Kata kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan dengan cara setingkat demi setingkat atau secara bertahap (Al-Mufradat dan Lexicon Lane).  

Allah Swt.  Wujud yang Mengajar Manusia  Membaca dan Menulis

   Semua yang ada di alam semesta ini termasuk manusia dan kemampuan berbicara  atau  berbahasa serta kemampuan menulis dan membaca   berada dalam penguasaan Sifat Rabubiyat Allah Swt., firman-Nya:
اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ ۚ﴿﴾  خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ ۚ﴿﴾  اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ ۙ﴿﴾  عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ  یَعۡلَمۡ ؕ﴿﴾
Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau Yang  menciptakan,   menciptakan manusia dari  segumpal darah.   Bacalah, dan Rabb (Tuhan) engkau   Maha Mulia,  Yang mengajar dengan pena,   mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.  (Al-A’laq [96]:2-5).
   Kata iqra’ berarti: bacalah, tilawatkanlah, sampaikanlah, umumkanlah atau kumpulkanlah, dan ayat itu mengandung arti bahwa Al-Quran dimaksudkan supaya dibaca dan diumumkan, dikumpulkan dan disusun dan kemudian disampaikan ke seluruh dunia.
  Sebutan sifat Rabb (Pengasuh, Pemelihara dan Pengembang, yang memupuk manusia melalui segala tingkat perkembangannya) menunjukkan, bahwa perkembangan akhlak manusia akan bertahap hingga perkembangan itu mencapai kesempurnaan penuh dalam wujud insanul-kamil (manusia sempurna) yaitu Nabi Besar Muhammad saw..
   Itulah sebabnya dalam Surah Al-Fatihah ayat 2 Allah Swt. berfirman:      segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam.” Kata kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan  segala sesuatu di alam semesta ini  dengan cara setingkat demi setingkat (Al-Mufradat dan Lexicon Lane).  
  Ayat:  خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ  - “menciptakan manusia dari  segumpal darah” ini berarti  bahwa kecintaan kepada Allah Swt. telah terpatri di dalam fitrat manusia (QS.7:173-175), dan bahwa memang sudah sewajarnyalah ada seseorang yang dalam dirinya dorongan naluri itu harus mencapai pengejawantahannya yang sempurna.
    Wujud itu adalah  Nabi Besar Muhammad saw., yang mencintai Al-Khāliq, Sang Pencipta-nya, dengan segenap pikiran, hati, dan jiwanya. Insan dalam ayat ini kecuali arti yang diberikan dalam teks, berarti pula insanul-kamil (manusia sempurna) yakni Nabi Besar Muhammad saw..
  Makna ayat:  اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ -- “Bacalah, dan Rabb (Tuhan) engkau   Maha Mulia,”  semakin sering Al-Quran dibaca dan didakwahkan ke seluruh dunia, akan semakin tambah jua kekudusan Allah Swt.  dan kehormatan manusia diakui dan dihargai.
  Ayat: الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ  -- “Yang mengajar dengan pena”,   ini nampaknya mengandung suatu nubuatan bahwa pena  akan memainkan suatu peranan sangat penting dalam pengalihan Al-Quran ke dalam bentuk tulisan dan dalam pemeliharaan serta penjagaan dari bahaya hilang atau dari gangguan campur-tangan manusia.
  Lebih lanjut makna ayat:  عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ  یَعۡلَمۡ  -- “mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya,”    menunjuk kepada   sumbangan besar yang akan diberikan oleh pena kepada penyebaran dan penyiaran ilmu-ilmu ruhani dan rahasia-rahasia Ilahi dengan perantaraan Al-Quran, dan juga penyebaran ilmu-ilmu duniawi, yang dengan mempelajari Al-Quran mendapat dorongan besar ke arah upaya itu.
 Sungguh bermakna sekali bahwa pena disebut dengan kerapnya dalam sebuah Kitab yang telah diwahyukan Allah Swt. ditengah-tengah suatu bangsa yang sedikit pun tidak menghargai pena dan yang jarang mempergunakannya, dan yang diwahyukan kepada orang yang tidak dapat membaca dan menulis, yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.7:158-159; QS.62:3).

Makna Lain Perintah “Membaca”   &  Tanda-tanda  “Orang-orang yang Berakal

  Penyebutan “iqra” (bacalah) sebelum “qalam”  (pena) dalam ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pada manusia  kemampuanmembaca”   mendahului kemampuan “menulis,” sebab  berulang kalinya Malaikat  Jibril a.s.  di gua Hira mengatakan “Iqra  -- bacalah” kepada Nabi Besar Muhammad saw., yang  dijawab oleh beliau saw.,  “Aku tidak bisa membaca”. Tetapi malaikat Jibril a.s. terus mengatakan  “Iqra  -- bacalah” sambil mendekap beliau saw.. Akhirnya Nabi Besar Muhammad saw. mengerti maksud kata “iqra – bacalah” tersebut dan beliau saw. mengikuti ucapan Malaikat Jibril a.s.  yang membacakan  wahyu Al-Quran  yang pertama tersebut.
 Jadi peristiwa yang terjadi antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan malaikat Jibril a.s. di gua Hira tersebut mengisyaratkan bahwa makna  “membaca”  itu  tidak  hanya  berarti  membaca tulisan  saja, tetapi juga “membaca”  hal-hal lainnya pula yang bukan berupa tulisan, misalnya  “membaca Tanda-tanda Allah Swt.” yang terkandung di alam semesta  atau “membaca  tanda-tanda  alam” dan “tanda-tanda zaman”   sebagaimana dikemukakan   beberapa  firman Allah Swt. berikut ini:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta pertukaran malam dan siang لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ --  benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, ۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --   yaitu   orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  seraya berkata: رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا --  “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ --  Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia   maka peliharalah kami dari azab Api.” رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ --  dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا  -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman. رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,  dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan. رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Eng-kau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195). Lihat pula  QS.2:165; QS.45:4-7.   
        Betapa  luar-biasanya kesimpulan yang diperoleh “orang-orang berakal” (ulul-albab) yang dengan  “kecerdasan akalnnya”  mereka telah mampu “membaca Tanda-tanda Allah” yang terkandung di alam semesta ini  sehingga   akhirnya mereka beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  kepada mereka  guna mengajar keimanan kepada Allah  yang hakiki (QS.7:35-37).

Tanda-tanda Allah Dalam Diri Manusia

 Kemudian  mengenai pentingnya “membaca tanda-tanda Allah”  yang terkandung dalam diri manusia   Dia  berfirman:
 وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ  اَنۡ خَلَقَکُمۡ  مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَاۤ   اَنۡتُمۡ  بَشَرٌ  تَنۡتَشِرُوۡنَ ﴿﴾  وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ  اَنۡ خَلَقَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡکُنُوۡۤا اِلَیۡہَا وَ جَعَلَ بَیۡنَکُمۡ  مَّوَدَّۃً  وَّ رَحۡمَۃً ؕ اِنَّ  فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ  ﴿﴾  وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖ خَلۡقُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافُ اَلۡسِنَتِکُمۡ وَ اَلۡوَانِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّلۡعٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖ مَنَامُکُمۡ بِالَّیۡلِ وَ النَّہَارِ وَ ابۡتِغَآؤُکُمۡ  مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ اِنَّ فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ  یَّسۡمَعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مِنۡ  اٰیٰتِہٖ  یُرِیۡکُمُ الۡبَرۡقَ خَوۡفًا وَّ طَمَعًا وَّ  یُنَزِّلُ مِنَ السَّمَآءِ  مَآءً  فَیُحۡیٖ بِہِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ اِنَّ فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ  اَنۡ  تَقُوۡمَ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ بِاَمۡرِہٖ ؕ ثُمَّ  اِذَا دَعَاکُمۡ دَعۡوَۃً ٭ۖ مِّنَ  الۡاَرۡضِ ٭ۖ اِذَاۤ  اَنۡتُمۡ تَخۡرُجُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَہٗ مَنۡ فِی  السَّمٰوٰتِ  وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلٌّ لَّہٗ   قٰنِتُوۡنَ ﴿﴾  وَ ہُوَ الَّذِیۡ  یَبۡدَؤُا  الۡخَلۡقَ ثُمَّ  یُعِیۡدُہٗ وَ ہُوَ اَہۡوَنُ عَلَیۡہِ ؕ وَ لَہُ  الۡمَثَلُ  الۡاَعۡلٰی فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dan dari antara Tanda-tanda-Nya ialah bahwa Dia menciptakan kamu dari debu kemudian  tiba-tiba kamu menjadi manusia yang bertebaran.  di muka bumi.   Dan dari antara Tanda-tanda-Nya  ialah bahwa  Dia telah menciptakan bagi kamu jodoh-jodoh dari jenismu sendiri supaya kamu memperoleh ketenteraman padanya, dan Dia telah menjadikan di antara kamu kecintaan dan kasih-sayang.  Sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.    Dan dari antara Tanda-tanda-Nya adalah penciptaan seluruh langit dan bumi serta perbedaan bahasa kamu dan warna kulit kamu. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi mereka yang berilmu.   Dan dari antara Tanda-tanda-Nya ialah tidur kamu pada malam hari dan siang hari dan usaha kamu mencari karunia-Nya, sesungguhnya dalam yang demikian itu ada  Tanda-tanda bagi kaum yang mau mendengar.   Dan dari antara Tanda-tanda-Nya ialah  Dia memperlihatkan kepada kamu kilat yang menimbulkan ketakutan dan ketentraman,  dan  Dia menurunkan air dari awan dan dengan air itu Dia menghidupkan bumi sesudah matinya, sesungguhnya  dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang berakal.    Dan dari antara Tanda-tanda-Nya ialah  bahwa berdirinya langit dan bumi dengan perintah-Nya.  Kemudian apabila ketika Dia memanggil kamu dengan satu panggilan saja untuk keluar dari bumi tiba-tiba kamu akan keluar.  Dan kepunyaan Dia-lah siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, semuanya patuh kepada-Nya. Dan Dia-lah Yang memulai penciptaan kemudian Dia mengulanginya dan hal itu sangat mudah bagi-Nya. Dan kepunyaan Dia-lah sifat yang ter-tinggi di seluruh langit dan  bumi, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   (Ar-Rūm [30]:21-28).
      Kemudian mengenai  adanya keselarasan antara kebangkitan jasmani dengan kebangkitan ruhani manusia Allah Swt. berfirman:
وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ  اَنَّکَ تَرَی الۡاَرۡضَ خَاشِعَۃً فَاِذَاۤ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡہَا الۡمَآءَ  اہۡتَزَّتۡ وَ رَبَتۡ ؕ اِنَّ  الَّذِیۡۤ  اَحۡیَاہَا  لَمُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ اِنَّہٗ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِنَا لَا یَخۡفَوۡنَ عَلَیۡنَا ؕ اَفَمَنۡ یُّلۡقٰی فِی النَّارِ خَیۡرٌ  اَمۡ مَّنۡ یَّاۡتِیۡۤ  اٰمِنًا یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِعۡمَلُوۡا مَا شِئۡتُمۡ ۙ اِنَّہٗ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِالذِّکۡرِ  لَمَّا جَآءَہُمۡ ۚ وَ  اِنَّہٗ   لَکِتٰبٌ عَزِیۡزٌ ﴿ۙ﴾  لَّا یَاۡتِیۡہِ  الۡبَاطِلُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ لَا مِنۡ خَلۡفِہٖ ؕ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ حَکِیۡمٍ حَمِیۡدٍ ﴿﴾
Dan dari antara Tanda-tanda-Nya ialah engkau melihat bumi  gersang,  lalu apabila Kami menurunkan air ke atasnya ia bergerak dan berkembang, اِنَّ  الَّذِیۡۤ  اَحۡیَاہَا  لَمُحۡیِ الۡمَوۡتٰی  -- sesungguhnya Dia Yang  menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati, اِنَّہٗ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ  -- sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu. اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِنَا لَا یَخۡفَوۡنَ عَلَیۡنَا --   Sesungguhnya orang-orang yang menyimpangkan dari   Ayat-ayat (Tanda-tanda)  Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. اَفَمَنۡ یُّلۡقٰی فِی النَّارِ خَیۡرٌ  اَمۡ مَّنۡ یَّاۡتِیۡۤ  اٰمِنًا یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ --  Apakah  orang yang dilemparkan ke dalam Api itu lebih baik, ataukah orang yang datang kepada Kami dengan aman pada Hari Kiamat? اِعۡمَلُوۡا مَا شِئۡتُمۡ ۙ اِنَّہٗ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ  -- Berbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu lakukan. اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِالذِّکۡرِ  لَمَّا جَآءَہُمۡ ۚ وَ  اِنَّہٗ   لَکِتٰبٌ عَزِیۡزٌ --  Sesungguhnya rugilah orang-orang yang ingkar kepada Peringatan, yakni Al-Quran, tatkala ketika ia datang kepada mereka, وَ  اِنَّہٗ   لَکِتٰبٌ عَزِیۡزٌ -- dan sesungguhnya ia benar-benar Kitab yang mulia. لَّا یَاۡتِیۡہِ  الۡبَاطِلُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ لَا مِنۡ خَلۡفِہٖ --   Kebatilan tidak dapat mendekatinya, baik dari depannya maupun dari belakangnya. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ حَکِیۡمٍ حَمِیۡدٍ --  Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, Maha Terpuji.   (Ha MimAs-Sajdah [41] 40-43).
      Kemudian Allah Swt. berfirman lagi mengenai akan  diperlihatkan-Nya  berbagai Tanda-tanda kebenaran Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw.  di berbagai ‘ufuq (wilayah) dan juga  pada  diri orang-orang kafir, firman-Nya:
قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ  مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ  ثُمَّ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ مَنۡ  اَضَلُّ  مِمَّنۡ ہُوَ  فِیۡ  شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ سَنُرِیۡہِمۡ  اٰیٰتِنَا فِی الۡاٰفَاقِ  وَ فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ حَتّٰی یَتَبَیَّنَ  لَہُمۡ  اَنَّہُ  الۡحَقُّ ؕ اَوَ لَمۡ یَکۡفِ بِرَبِّکَ  اَنَّہٗ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اَلَاۤ  اِنَّہُمۡ  فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡ  لِّقَآءِ  رَبِّہِمۡ ؕ اَلَاۤ  اِنَّہٗ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ  مُّحِیۡطٌ ﴿﴾
Katakanlah: ”Bagaimana pendapat kamu jika Al-Quran ini   dari Allah  kemudian kamu kafir terhadapnya, siapakah yang lebih sesat daripada orang yang telah melantur jauh dari kebenaran?” سَنُرِیۡہِمۡ  اٰیٰتِنَا فِی الۡاٰفَاقِ  وَ فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ --  Segera Kami akan memperlihatkan kepada mereka Tanda-tanda Kami di wilayah-wilayah  dunia ini dan di dalam diri mereka sendiri, حَتّٰی یَتَبَیَّنَ  لَہُمۡ  اَنَّہُ  الۡحَقُّ  -- sehingga akan  nyata kepada mereka  bahwasanya Al-Quran itu benar.  اَوَ لَمۡ یَکۡفِ بِرَبِّکَ  اَنَّہٗ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ  -- Tidak cukupkah dengan  Rabb (Tuhan) engkau bahwa Dia sebagai Saksi atas segala sesuatu? اَلَاۤ  اِنَّہُمۡ  فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡ  لِّقَآءِ  رَبِّہِمۡ ؕ --  Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu ada dalam keragu-raguan  mengenai pertemuan dengan Rabb (Tuhan) me-reka. اَلَاۤ  اِنَّہٗ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ  مُّحِیۡطٌ  -- Ketahuilah,  sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu. (Ha MimAs-Sajdah [41]: 53-55).

(Bersambung)

 Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 15 Maret  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar