Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Allah Swt. Yang Mengajarkan Bahasa Kepada Manusia & Makna Perintah "Bacalah" dan Pentingnya Memiliki Kemampuan "Membaca"
Bab 1
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
Iriwayatkan oleh Ibnnu ‘Abbas r.a. bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda: “Cintailah bangsa Arab karena aku adalah bangsa Arab, Al-Quran
dalam bahasa Arab dan bahasa penghuni surga adalah bahasa
Arab” (HR.Hakim; Thabrani; Baihaqi).
Terlepas adanya perbedaan pendapat mengenai keabsahan
hadits tersebut, tetapi sabda Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan bahasa
Arab tersebut mengandung makna
yang sangat dalam karena selaras
dengan firman Allah Swt. dalam berbagai
Surah Al-Quran, antara lain Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ الٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ الۡمُبِیۡنِ ۟﴿﴾ اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡءٰنًا عَرَبِیًّا لَّعَلَّکُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha
Pemurah, Maha Penyayang. Aku
Allah Yang Maha Melihat. Itulah ayat-ayat Kitab yang terang. Sesungguhnya Kami
telah menurunkannya yakni Al-Quran dalam bahasa
Arab supaya kamu memahami.
(Yusuf [12]:1-3).
Makna mubīn (terang)
dalam ayat "Itulah
ayat-ayat Kitab yang terang" sebagai ism fa’il (bentuk pelaku) dari abana,
yang dapat digunakan berpelengkap (transitif) maupun tidak berpelengkap
(intransitif) kedua-duanya berarti: (1) apa yang keadaannya sendiri
jelas dan nyata; (2) apa yang menjadikan hal-hal itu jelas dan (3)
apa yang memutuskan sesuatu benda dari yang lain serta menjadikannya beda-kentara dan terpisah dari
yang lain itu (Lexicon Lane).
Kata mubīn itu seperti diperlihatkan
oleh artinya menunjuk kepada tiga sifat
Al-Quran yang menonjol, yaitu:
(1) bahwa Al-Quran bukan saja menyatakan dengan jelas fakta-fakta dan nubuatan-nubuatan,
serta menetapkan hukum-hukum dan peraturan-peraturan, tetapi juga mendukung dan membuktikan apa yang dikatakannya
dan didakwa-kannya
dengan dalil-dalil yang kuat dan alasan-alasan yang sehat;
(2)
bahwa Al-Quran bukan saja
keadaannya sendiri terang serta jelas, tetapi menghilangkan pula kesamaran-kesamaran
dan keraguan-keraguan yang terdapat
dalam kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya;
(3)
bahwa segala sesuatu yang perlu untuk mencapai qurb Ilahi (kedekatan
kepada Tuhan) dan yang berhubungan
dengan hukum syariat, budi pekerti (akhlak) dan dengan perkara-perkara keimanan, telah dibuat jelas sekali dalam Al-Quran, hal mana sama sekali tidak
dimiliki oleh semua kitab suci
lainnya.
Semua kitab lainnya hanya
bersifat mustabīn (jelas tentang dirinya sendiri), tetapi Al-Quran bukan
saja mustabīn melainkan juga mubīn
(menghilangkan kesamaran-kesa-maran yang terdapat dalam kitab-kitab lain). Apa
yang lebih menambah keindahan Al-Quran sebagai “kitab yang jelas dan terang”
ialah bahwa segala ajarannya serasi dan sesuai sepenuhnya dengan fitrat manusia
dan juga dengan hukum alam.
Kesempurnaan Bahasa Arab dan Al-Quran
Makna kata ‘arabiy dalam ayat selanjutnya: "Sesungguhnya Kami
telah menurunkannya yakni Al-Quran dalam bahasa
Arab supaya kamu memahami,”
asalnya dari 'ariba atau ‘aruba.
Ungkapan kalimat ‘Aribat al-bi’ru berarti “sumur itu mengandung banyak air”. Kalimat ‘Aruba ar-rajulu berarti “orang itu mulai bicara jelas, terang, dan
nyata, sedang sebelumnya ia bicara dengan kasar”; “ia adalah atau ia menjadi
cekatan atau lincah”. Jadi ungkapan qur’ānan ‘arabiyan, berarti (1) sebuah kitab yang dibaca
orang dengan sangat luas dan dawam, dan (2) yang dapat melahirkan
maksudnya dengan bahasa yang jelas, lancar, dan mudah dipahami (Lexicon Lane).
Kata ‘arabiy mengandung
arti: penuh, limpah-ruah, dan jelas;
bahasa Arab itu disebut demikian
karena masdar-masdarnya (akar-akar
katanya) tak terhitung banyaknya serta penuh dengan arti, dan karena bahasa Arab
itu sangat tegas, fasih, dan mudah dipahami.
Bahasa Arab mempunyai kata-kata dan kalimat-kalimat yang cocok dan tepat untuk mengungkapkan sepenuhnya segala macam pikiran dan aneka macam arti. Masalah apa pun dapat dibahas dalam bahasa ini dengan tepat
dan mendalam, hal itu tidak dapat ditandingi oleh bahasa-bahasa lain mana pun. Sarjana-sarjana
Eropa terpaksa mengakui bahwa bahasa
Arab itu lengkap dalam masdar-masdarnya (akar-akar katanya). Bahasa
Arab terdiri dari ratusan ribu akar
kata, yang penuh dengan berbagai arti yang amat luas.
Ibn Jinni, seorang tokoh ahli bahasa telah menyatakan dengan
menukil pendapat seorang ahli bahasa
yang sangat terkemuka lainnya, Abu Ali, bahwa huruf-hurufnya pun mempunyai
arti yang jelas dan pasti. Umpamanya, ia menerangkan bahwa
huruf-huruf mim, lam, dan kaf dalam gabungan atau kombinasi apa
pun melukiskan “kekuasaan”, hal mana terdapat hampir pada semua kata yang terbentuk oleh huruf-huruf
itu atau berasal dari akar kata itu.
Dalam ayat yang mendahuluinya Al-Quran disebut “Alkitab”: “Itulah ayat-ayat Kitab yang terang”,
yang mengandung suatu nubuatan
bahwa ia senantiasa akan terpelihara
dalam bentuk sebuah kitab. Dalam ayat
selanjutnya ia disebut “Al-Quran”: Sesungguhnya Kami
telah menurunkannya yakni Al-Quran dalam bahasa
Arab supaya kamu memahami”
hal itu merupakan kabar
gaib (nubuatan) bahwa kitab
itu akan dibaca dan dipelajari dengan sangat luas:
Memang ini merupakan kenyataan,
bahwa tidak ada musuh Islam dapat menyangkal dengan alasan yang kuat,
bahwa tidak ada kitab lainnya yang
begitu luas dan sering dibaca seperti Al-Quran.
Profesor Noldeke mengatakan:
“Oleh karena penggunaan Al-Quran dalam
salat-salat berjamaah, di madrasah-madrasah dan lain-lain, jauh lebih luas
dari-pada umpamanya, pembacaan Bible di sebagian negeri-negeri Kristen, maka
patutlah ia dianggap sebagai kitab yang paling luas dibaca di antara buku-buku
bacaan yang ada” (Encyclopaedia
Britannica, 9 th. Edition).
Bahasa Bukan Ciptaan Manusia Melainkan Berasal
dari Allah Swt
Sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa “bahasa Arab adalah bahasa para penghuni surga”
mengandung berbagai makna serta hikmah yang sangat dalam, karena itu sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut jangan diartikan secara harfiah.
Salah satu hikmahnya
adalah bahwa karena bahasa Arab merupakan induk
semua bahasa yang ada di dunia, karena itu
bahasa Arab adalah bahasa
yang diwahyukan Allah Swt., yang perkembangannya
menuju puncak kesempurnaan
dalam segala seginya seiring dengan diciptakan-Nya manusia
serta sejalan dengan perkembangan ruhaninya, yang mencapai puncaknya pada masa diutus-Nya
Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul
Allah untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108) yang mengemban syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) berupa wahyu Al-Quran dalam bahasa
Arab.
Sehubungan dengan hal tersebut Pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah -- Mirza
Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s. -- menjelaskan:
“Tidak benar jika dikatakan bahwa bahasa adalah
hasil ciptaan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penemu dan pencipta bahasa manusia adalah Allah
Yang Maha Kuasa, Yang juga telah
menciptakan manusia berdasarkan kekuasaan-Nya Yang Maha Sempurna dimana ia (manusia) telah diberi lidah
untuk dapat berbicara.
Jika benar bahwa bahasa adalah hasil ciptaan
manusia maka tidak perlu lagi bayi manusia diajarkan mengenai hal ini,
karena dengan sendirinya ia akan
bisa berbicara. Ia akan mencipta
sendiri perkataannya sambil ia
tumbuh dewasa.
Nyatanya jika bayi tidak diajar bahasa
maka sudah pasti juga ia tidak akan
mampu berbicara. Terlepas dari apakah ia
dibesarkan di hutan-hutan tanah Yunani, di kepulauan Inggris atau pun di khatulistiwa,
tetap saja seorang bayi harus diajar
bahasa karena tanpa pelatihan
demikian ia tidak akan mampu berbicara.
Pandangan
yang mengatakan bahwa bahasa mengalami
perubahan karena pengaruh manusia
sebenarnya adalah suatu ilusi atau khayalan. Perubahan-perubahan yang
terjadi bukan karena upaya manusia
secara sengaja, serta tidak ada
suatu ketentuan atau prinsip
yang mengatur bagaimana manusia akan
melakukan perubahan dalam bahasa dan kapan saatnya.
Perenungan
yang mendalam menunjukkan bahwa perubahan linguistik juga terjadi di bawah
pengaturan Sang Penyebab dari segala Sebab atau Kausa segala Kausa (Causa
Causens), sama seperti perubahan yang terjadi di langit dan di bumi. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa pada suatu saat tertentu seluruh umat manusia secara
kolektif atau pun bagian darinya telah menemukan atau menciptakan
berbagai bahasa yang digunakan
di dunia.
Mungkin ada yang membantah dan mengatakan, misalnya,
bahwa sejak awal adanya manusia bahasa mungkin sudah ada tanpa harus diajarkan
Tuhan melalui wahyu. Jawaban
untuk itu ialah pada saat awal itu Tuhan
menciptakan segala sesuatu semata-mata hanya berdasar kekuatan-Nya.
Renungan
mengenai langit, bumi, matahari, bulan atau fitrat manusia sendiri mengungkapkan, bahwa awal
dan asal dari segala hal adalah berkat
kinerja kekuasaan Ilahi dimana tidak
ada digunakan sarana fisik. Apa
pun yang diciptakan Tuhan merupakan manifestasi (perwujudan) dari kekuasaan-Nya yang Maha Agung, yang berada di luar kemampuan pemikiran manusia.
Keadaan
pada hari ini tidak bisa dijadikan preseden (ibarat/rujukan) dari bagaimana permulaan atau awal
dari penciptaan alam. Sebagai contoh, sekarang ini tidak ada anak yang dilahirkan tanpa perantaraan orang-tuanya, tetapi jika di awal hal ini juga berlaku maka tidak akan ada manusia yang bisa mewujud.
Lagi pula terdapat perbedaan yang besar sekali dalam pengertian tentang perubahan
yang terjadi secara alamiah dalam bahasa
dengan kelahiran bahasa itu sendiri
dari suatu kehampaan sebelumnya.
Kedua konsep itu sama sekali berbeda.” (Brahin-i- Ahmadiyah,
Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, vol. IV, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal.
358-404, London, 1984).
Sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai asal-muasal dan sumber bahasa
serta perkembangannya tersebut selaras dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 2: “Segala puji hanya bagi Allah, Rabb
(Tuhan) seluruh alam”.
Kata kerja rabba berarti: ia
mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan
melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti:
(a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan;
(c) Wujud Yang menyempurnakan dengan
cara setingkat demi setingkat atau secara bertahap (Al-Mufradat
dan Lexicon Lane).
Allah Swt. Wujud
yang Mengajar Manusia Membaca
dan Menulis
Semua yang ada di alam semesta ini termasuk manusia
dan kemampuan berbicara atau berbahasa serta kemampuan menulis dan membaca berada dalam penguasaan Sifat Rabubiyat Allah Swt., firman-Nya:
اِقۡرَاۡ
بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ ۚ﴿﴾ خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ ۚ﴿﴾ اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ ۙ﴿﴾ عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ ؕ﴿﴾
Bacalah dengan nama Rabb
(Tuhan) engkau Yang menciptakan,
menciptakan
manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Rabb (Tuhan)
engkau Maha
Mulia, Yang mengajar dengan pena, mengajar
manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Al-A’laq [96]:2-5).
Kata iqra’ berarti: bacalah, tilawatkanlah, sampaikanlah,
umumkanlah atau kumpulkanlah, dan ayat itu mengandung arti bahwa Al-Quran dimaksudkan supaya dibaca dan diumumkan, dikumpulkan
dan disusun dan kemudian disampaikan
ke seluruh dunia.
Sebutan sifat Rabb (Pengasuh,
Pemelihara dan Pengembang, yang memupuk manusia melalui segala tingkat
perkembangannya) menunjukkan, bahwa perkembangan
akhlak manusia akan bertahap
hingga perkembangan itu mencapai kesempurnaan penuh dalam wujud insanul-kamil (manusia sempurna) yaitu
Nabi Besar Muhammad saw..
Itulah sebabnya dalam Surah Al-Fatihah ayat 2 Allah Swt.
berfirman: “segala
puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam.” Kata kerja rabba berarti: ia mengelola urusan
itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu;
ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan,
Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c)
Wujud Yang menyempurnakan segala sesuatu di alam semesta ini dengan cara setingkat demi setingkat
(Al-Mufradat dan Lexicon Lane).
Ayat: خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ
مِنۡ عَلَقٍ -
“menciptakan manusia dari
segumpal darah” ini berarti
bahwa kecintaan kepada Allah Swt.
telah terpatri di dalam fitrat manusia (QS.7:173-175), dan bahwa
memang sudah sewajarnyalah ada seseorang yang dalam dirinya dorongan naluri itu harus mencapai pengejawantahannya yang sempurna.
Wujud itu adalah Nabi Besar Muhammad saw., yang mencintai Al-Khāliq, Sang Pencipta-nya, dengan
segenap pikiran, hati, dan jiwanya. Insan dalam ayat ini kecuali arti
yang diberikan dalam teks, berarti pula insanul-kamil
(manusia sempurna) yakni Nabi Besar Muhammad saw..
Makna ayat:
اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ -- “Bacalah, dan Rabb (Tuhan) engkau Maha
Mulia,” semakin sering Al-Quran dibaca dan didakwahkan ke
seluruh dunia, akan semakin tambah jua kekudusan
Allah Swt. dan kehormatan manusia diakui dan dihargai.
Ayat: الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ -- “Yang mengajar
dengan pena”, ini nampaknya mengandung suatu nubuatan bahwa pena akan
memainkan suatu peranan sangat penting dalam pengalihan Al-Quran ke dalam bentuk tulisan dan dalam pemeliharaan
serta penjagaan dari bahaya hilang atau dari gangguan campur-tangan manusia.
Lebih
lanjut makna ayat: عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ
یَعۡلَمۡ -- “mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya,” menunjuk kepada sumbangan
besar yang akan diberikan oleh pena kepada penyebaran dan penyiaran
ilmu-ilmu ruhani dan rahasia-rahasia
Ilahi dengan perantaraan Al-Quran,
dan juga penyebaran ilmu-ilmu duniawi,
yang dengan mempelajari Al-Quran
mendapat dorongan besar ke arah upaya
itu.
Sungguh bermakna sekali bahwa pena
disebut dengan kerapnya dalam sebuah Kitab
yang telah diwahyukan Allah Swt. ditengah-tengah
suatu bangsa yang sedikit pun tidak menghargai pena dan yang jarang
mempergunakannya, dan yang diwahyukan
kepada orang yang tidak dapat membaca dan menulis, yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.7:158-159; QS.62:3).
Makna Lain Perintah “Membaca”
& Tanda-tanda
“Orang-orang yang Berakal”
Penyebutan “iqra” (bacalah) sebelum “qalam” (pena) dalam ayat tersebut mengisyaratkan
bahwa pada manusia kemampuan “membaca” mendahului kemampuan “menulis,” sebab berulang
kalinya Malaikat Jibril a.s. di gua Hira mengatakan “Iqra -- bacalah” kepada Nabi
Besar Muhammad saw., yang dijawab oleh beliau saw., “Aku
tidak bisa membaca”. Tetapi malaikat Jibril a.s. terus mengatakan “Iqra -- bacalah” sambil mendekap beliau saw.. Akhirnya
Nabi Besar Muhammad saw. mengerti maksud kata “iqra – bacalah” tersebut dan beliau saw. mengikuti ucapan Malaikat Jibril a.s. yang membacakan wahyu
Al-Quran yang pertama tersebut.
Jadi peristiwa yang terjadi antara Nabi Besar
Muhammad saw. dengan malaikat Jibril a.s. di gua Hira tersebut mengisyaratkan bahwa makna “membaca” itu
tidak hanya berarti
membaca tulisan saja, tetapi juga “membaca” hal-hal lainnya pula
yang bukan berupa tulisan, misalnya “membaca
Tanda-tanda Allah Swt.” yang terkandung
di alam semesta atau “membaca
tanda-tanda alam” dan “tanda-tanda zaman” sebagaimana
dikemukakan beberapa firman Allah Swt. berikut ini:
اِنَّ فِیۡ
خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ
لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ
الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا
وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ
مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ
اَنۡصَارٍ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ
لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ
فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا
سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ
الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا
مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi
serta pertukaran malam dan siang لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ -- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, ۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ
اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی
جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- yaitu
orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil
berbaring atas rusuk mereka,
dan mereka memikirkan mengenai
penciptaan seluruh langit dan bumi
seraya berkata: رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا -- “Ya Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- Maha
Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah
kami dari azab Api.” رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ
النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami,
sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan
ke dalam Api maka sungguh Engkau
telah menghinakannya, وَ مَا
لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ -- dan sekali-kali
tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ
اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami
telah mendengar seorang Penyeru menyeru
kami kepada keimanan seraya berkata:
"Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah
beriman. رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا
ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami
dosa-dosa kami, dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami, dan wafatkanlah kami
bersama orang-orang yang berbuat
kebajikan. رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا
وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ -- Wahai Rabb (Tuhan)
kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan
rasul-rasul Eng-kau, dan janganlah
Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, اِنَّکَ لَا
تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi
janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195). Lihat pula QS.2:165; QS.45:4-7.
Betapa
luar-biasanya kesimpulan yang
diperoleh “orang-orang berakal” (ulul-albab)
yang dengan “kecerdasan akalnnya” mereka
telah mampu “membaca Tanda-tanda Allah”
yang terkandung di alam semesta ini sehingga akhirnya mereka beriman kepada Rasul Allah
yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka
guna mengajar keimanan kepada Allah yang hakiki
(QS.7:35-37).
Tanda-tanda Allah Dalam Diri
Manusia
Kemudian
mengenai pentingnya “membaca
tanda-tanda Allah” yang terkandung
dalam diri manusia Dia berfirman:
وَ مِنۡ
اٰیٰتِہٖۤ اَنۡ خَلَقَکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَاۤ اَنۡتُمۡ
بَشَرٌ تَنۡتَشِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ
اَنۡ خَلَقَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡکُنُوۡۤا
اِلَیۡہَا وَ جَعَلَ بَیۡنَکُمۡ
مَّوَدَّۃً وَّ رَحۡمَۃً ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ
یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖ خَلۡقُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ
اخۡتِلَافُ اَلۡسِنَتِکُمۡ وَ اَلۡوَانِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ
لِّلۡعٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖ
مَنَامُکُمۡ بِالَّیۡلِ وَ النَّہَارِ وَ ابۡتِغَآؤُکُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ یَّسۡمَعُوۡنَ ﴿﴾ وَ مِنۡ
اٰیٰتِہٖ یُرِیۡکُمُ الۡبَرۡقَ
خَوۡفًا وَّ طَمَعًا وَّ یُنَزِّلُ مِنَ
السَّمَآءِ مَآءً فَیُحۡیٖ بِہِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ
یَّعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ اَنۡ
تَقُوۡمَ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ بِاَمۡرِہٖ ؕ ثُمَّ اِذَا دَعَاکُمۡ دَعۡوَۃً ٭ۖ مِّنَ الۡاَرۡضِ ٭ۖ اِذَاۤ اَنۡتُمۡ تَخۡرُجُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَہٗ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلٌّ
لَّہٗ قٰنِتُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ
یَبۡدَؤُا الۡخَلۡقَ ثُمَّ یُعِیۡدُہٗ وَ ہُوَ اَہۡوَنُ عَلَیۡہِ ؕ وَ
لَہُ الۡمَثَلُ الۡاَعۡلٰی فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dan
dari antara Tanda-tanda-Nya ialah
bahwa Dia menciptakan kamu dari debu
kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia yang bertebaran. di muka bumi. Dan dari antara Tanda-tanda-Nya ialah bahwa
Dia telah menciptakan
bagi kamu jodoh-jodoh dari jenismu sendiri supaya kamu memperoleh ketenteraman padanya, dan Dia telah menjadikan di antara kamu kecintaan dan kasih-sayang. Sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dan dari antara Tanda-tanda-Nya adalah penciptaan seluruh langit dan bumi
serta perbedaan bahasa kamu dan warna kulit kamu. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda
bagi mereka yang berilmu. Dan dari antara Tanda-tanda-Nya ialah tidur kamu pada malam hari dan siang
hari dan usaha kamu mencari
karunia-Nya, sesungguhnya dalam yang
demikian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang mau mendengar. Dan dari antara Tanda-tanda-Nya ialah Dia
memperlihatkan kepada kamu kilat yang menimbulkan ketakutan dan ketentraman, dan Dia
menurunkan air dari awan dan dengan air
itu Dia menghidupkan bumi sesudah matinya, sesungguhnya dalam
yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi kaum
yang berakal. Dan dari antara Tanda-tanda-Nya ialah
bahwa berdirinya langit dan bumi
dengan perintah-Nya. Kemudian apabila
ketika Dia memanggil kamu dengan satu panggilan saja untuk keluar dari bumi tiba-tiba kamu akan keluar. Dan kepunyaan
Dia-lah siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, semuanya patuh
kepada-Nya. Dan Dia-lah
Yang memulai penciptaan kemudian Dia
mengulanginya dan hal itu sangat
mudah bagi-Nya. Dan kepunyaan
Dia-lah sifat yang ter-tinggi di seluruh langit dan bumi,
dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Ar-Rūm [30]:21-28).
Kemudian mengenai adanya keselarasan
antara kebangkitan jasmani dengan kebangkitan ruhani manusia Allah Swt.
berfirman:
وَ مِنۡ
اٰیٰتِہٖۤ اَنَّکَ تَرَی الۡاَرۡضَ
خَاشِعَۃً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡہَا
الۡمَآءَ اہۡتَزَّتۡ وَ رَبَتۡ ؕ
اِنَّ الَّذِیۡۤ اَحۡیَاہَا
لَمُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ اِنَّہٗ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ اِنَّ
الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ
اٰیٰتِنَا لَا یَخۡفَوۡنَ عَلَیۡنَا ؕ اَفَمَنۡ یُّلۡقٰی فِی النَّارِ
خَیۡرٌ اَمۡ مَّنۡ یَّاۡتِیۡۤ اٰمِنًا یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِعۡمَلُوۡا مَا
شِئۡتُمۡ ۙ اِنَّہٗ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ
بَصِیۡرٌ ﴿﴾ اِنَّ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِالذِّکۡرِ
لَمَّا جَآءَہُمۡ ۚ وَ
اِنَّہٗ لَکِتٰبٌ عَزِیۡزٌ ﴿ۙ﴾ لَّا یَاۡتِیۡہِ
الۡبَاطِلُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ لَا مِنۡ خَلۡفِہٖ ؕ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
حَکِیۡمٍ حَمِیۡدٍ ﴿﴾
Dan
dari antara Tanda-tanda-Nya ialah engkau melihat bumi gersang, lalu apabila Kami menurunkan air ke atasnya ia bergerak dan berkembang,
اِنَّ الَّذِیۡۤ
اَحۡیَاہَا لَمُحۡیِ الۡمَوۡتٰی -- sesungguhnya Dia Yang menghidupkannya pasti
dapat menghidupkan yang mati, اِنَّہٗ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
-- sesungguhnya Dia berkuasa atas
segala sesuatu. اِنَّ الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ
فِیۡۤ اٰیٰتِنَا لَا یَخۡفَوۡنَ عَلَیۡنَا -- Sesungguhnya orang-orang yang menyimpangkan dari Ayat-ayat
(Tanda-tanda) Kami, mereka tidak
tersembunyi dari Kami. اَفَمَنۡ یُّلۡقٰی فِی النَّارِ خَیۡرٌ اَمۡ مَّنۡ یَّاۡتِیۡۤ اٰمِنًا یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ -- Apakah orang
yang dilemparkan ke dalam Api itu lebih baik, ataukah orang yang datang kepada Kami dengan aman pada Hari Kiamat? اِعۡمَلُوۡا مَا شِئۡتُمۡ ۙ اِنَّہٗ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ -- Berbuatlah
apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia
Maha Melihat apa yang kamu lakukan. اِنَّ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِالذِّکۡرِ
لَمَّا جَآءَہُمۡ ۚ وَ
اِنَّہٗ لَکِتٰبٌ عَزِیۡزٌ -- Sesungguhnya
rugilah orang-orang yang ingkar
kepada Peringatan, yakni Al-Quran, tatkala ketika ia
datang kepada mereka, وَ
اِنَّہٗ لَکِتٰبٌ عَزِیۡزٌ -- dan sesungguhnya ia benar-benar Kitab yang
mulia. لَّا یَاۡتِیۡہِ الۡبَاطِلُ مِنۡۢ
بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ لَا مِنۡ خَلۡفِہٖ -- Kebatilan tidak dapat mendekatinya,
baik dari depannya maupun dari belakangnya. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
حَکِیۡمٍ حَمِیۡدٍ -- Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, Maha Terpuji. (Ha Mim – As-Sajdah [41]
40-43).
Kemudian Allah Swt. berfirman lagi
mengenai akan diperlihatkan-Nya berbagai Tanda-tanda
kebenaran Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw. di berbagai ‘ufuq (wilayah) dan juga pada diri orang-orang
kafir, firman-Nya:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ
اللّٰہِ ثُمَّ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ مَنۡ
اَضَلُّ مِمَّنۡ ہُوَ فِیۡ
شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ سَنُرِیۡہِمۡ
اٰیٰتِنَا فِی الۡاٰفَاقِ وَ
فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ حَتّٰی
یَتَبَیَّنَ لَہُمۡ اَنَّہُ
الۡحَقُّ ؕ اَوَ لَمۡ یَکۡفِ بِرَبِّکَ
اَنَّہٗ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اَلَاۤ
اِنَّہُمۡ فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡ
لِّقَآءِ رَبِّہِمۡ ؕ اَلَاۤ اِنَّہٗ
بِکُلِّ شَیۡءٍ مُّحِیۡطٌ ﴿﴾
Katakanlah:
”Bagaimana pendapat kamu jika Al-Quran
ini dari Allah kemudian kamu kafir terhadapnya, siapakah yang lebih sesat daripada orang yang telah
melantur jauh dari kebenaran?” سَنُرِیۡہِمۡ اٰیٰتِنَا فِی الۡاٰفَاقِ وَ فِیۡۤ
اَنۡفُسِہِمۡ -- Segera
Kami akan memperlihatkan kepada mereka Tanda-tanda Kami di wilayah-wilayah dunia ini dan di dalam diri mereka sendiri, حَتّٰی یَتَبَیَّنَ لَہُمۡ اَنَّہُ
الۡحَقُّ -- sehingga
akan
nyata kepada mereka bahwasanya Al-Quran itu benar. اَوَ لَمۡ
یَکۡفِ بِرَبِّکَ اَنَّہٗ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ -- Tidak cukupkah dengan Rabb (Tuhan)
engkau bahwa Dia sebagai Saksi atas segala
sesuatu? اَلَاۤ اِنَّہُمۡ
فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡ لِّقَآءِ
رَبِّہِمۡ ؕ -- Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu ada dalam keragu-raguan mengenai pertemuan
dengan Rabb (Tuhan) me-reka. اَلَاۤ اِنَّہٗ
بِکُلِّ شَیۡءٍ مُّحِیۡطٌ -- Ketahuilah, sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu. (Ha Mim – As-Sajdah [41]: 53-55).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 15 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar