Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Lafadz Bismillaahirrahmaanirrahiim
Dalam Surat Peringatan Nabi Sulaiman
a.s. Kepada Ratu Saba & Makna Dua Tawaran Kerja Pembuatan “Singgasana” Penyambutan Ratu
Saba
Bab 9
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai laporan pelaksanaan tugas intelijen Jenderal Hud-hud tentang kerajaan Saba dalam firman-Nya:
وَ
تَفَقَّدَ الطَّیۡرَ فَقَالَ مَا لِیَ
لَاۤ اَرَی الۡہُدۡہُدَ ۫ۖ اَمۡ
کَانَ مِنَ الۡغَآئِبِیۡنَ ﴿﴾ لَاُعَذِّبَنَّہٗ عَذَابًا شَدِیۡدًا اَوۡ لَاَاذۡبَحَنَّہٗۤ اَوۡ لَیَاۡتِیَنِّیۡ
بِسُلۡطٰنٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ فَمَکَثَ غَیۡرَ
بَعِیۡدٍ فَقَالَ اَحَطۡتُّ بِمَا لَمۡ تُحِطۡ بِہٖ وَ جِئۡتُکَ مِنۡ سَبَاٍۭ
بِنَبَاٍ یَّقِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ia, Sulaiman,
memeriksa burung-burung itu, kemudian ia berkata:
“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud? Ataukah ia sengaja tidak
hadir? Niscaya aku akan menghukumnya dengan azab yang keras, atau niscaya aku
akan menyembelih-nya, atau ia datang
kepadaku dengan alasan yang jelas.” Maka tidak lama ia menunggu Hud-hud pun datang dan berkata: “Aku telah mengetahui apa yang engkau belum
mengetahuinya, dan aku datang kepada engkau dari negeri ka-um
Saba dengan kabar yang meyakinkan. (An-Naml
[27]:21-23).
Nampak
dari ayat ini, bahwa Hud-hud dikirim
untuk menjalankan tugas kenegaraan
penting, dan ia datang membawa berita
penting dari kerajaan Saba. untuk Nabi Sulaiman a.s., tepat pada saat Nabi
Sulaiman a.s. sedang memeriksa pasukan beliau.
Saba dapat disamakan dengan Syeba dari Bible (I Raja-raja
bab 10).
Saba adalah
sebuah kota di Yaman terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari kota Shana’
dan merupakan pusat pemerintahan Ratu
Saba. Lagi pula Saba adalah cabang terkenal dari kabilah Qahthani. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنِّیۡ
وَجَدۡتُّ امۡرَاَۃً تَمۡلِکُہُمۡ وَ
اُوۡتِیَتۡ مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ لَہَا عَرۡشٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ وَجَدۡتُّہَا وَ قَوۡمَہَا یَسۡجُدُوۡنَ لِلشَّمۡسِ
مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ فَصَدَّہُمۡ عَنِ السَّبِیۡلِ فَہُمۡ
لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اَلَّا یَسۡجُدُوۡا
لِلّٰہِ الَّذِیۡ یُخۡرِجُ الۡخَبۡءَ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ
یَعۡلَمُ مَا تُخۡفُوۡنَ وَ مَا تُعۡلِنُوۡنَ ﴿﴾ اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ
رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ٛ ﴾
“Aku mendapati di sana seorang perempuan
memerintah atas mereka dan ia
telah diberi segala sesuatu dan ia
mempunyai singgasana yang besar. Aku
mendapati dia dan kaumnya bersujud
kepada matahari selain Allah, dan syaitan telah menampakkan indah bagi mereka
amal-amalnya, maka dia menghalangi
mereka dari jalan yang benar sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. Mereka tidak mau bersujud kepada Allah Yang mengeluarkan yang tersembunyi di seluruh langit dan bumi, dan Yang
Mengetahui apa-apa yang kamu sembunyikan dan apa-apa yang kamu zahirkan. Allah,
tidak ada tuhan kecuali Dia, Tuhan ‘Arasy Yang Maha Agung.” (An-Naml
[27]:24-27).
Kesuksesan Ratu Saba Memerintah
Kerajaan
Saba di Yaman
Ayat itersebut
menunjukkan bahwa Ratu Saba memerintah suatu bangsa
yang sangat makmur, yang telah
mencapai suatu taraf peradaban yang
sangat tinggi, dan bahwa ia memiliki segala hal yang telah menjadikannya Ratu yang berkekuasaan besar.
Orang
Saba menyembah matahari dan bintang-bintang, satu kepercayaan yang
mungkin sekali telah didatangkan ke Yaman dari Irak, yang dengan bangsa itu bangsa Yaman pernah berhubungan erat
melalui jalan laut dan Teluk Persia. Orang-orang Saba itu hendaknya jangan diperbaurkan dengan orang-orang Shabi yang tersebut dalam QS.2:63;
QS.5:70; dan QS.22:18, dan digambarkan sebagai (1) bangsa penyembah
bintang, yang hidup di Irak; (2) suatu bangsa yang menganut kepercayaan,
berupa semacam percampuran antara agama-agama Yahudi, Nasrani, dan Zoroaster; (3)
bangsa yang tinggal dekat Mosul di Irak, dan mempercayai keesaan Tuhan, tetapi
syariatnya tidak dikenal dan (4) bangsa yang tinggal di sekitar Irak dan
beriman kepada semua nabi Allah.
Menanggapi laporan dari Jenderal Hud-hud
tersebut kemudian Nabi Sulaiman a.s. –
sambil menguji kebenaran laporan
intelijen dari Jenderal Hud-hud -- memberikan tugas selanjutnya kepada dia untuk mengantarkan surat kepada Ratu Saba, firman-Nya:
قَالَ
سَنَنۡظُرُ اَصَدَقۡتَ اَمۡ کُنۡتَ مِنَ
الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾ اِذۡہَبۡ
بِّکِتٰبِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقِہۡ اِلَیۡہِمۡ
ثُمَّ تَوَلَّ عَنۡہُمۡ فَانۡظُرۡ مَا ذَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman,
berkata, “Kami segera akan melihat
apakah engkau telah berkata benar
ataukah engkau di antara orang-orang yang berdusta.
Pergilah dengan membawa suratku ini lalu sampaikanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka lalu perhatikanlah
apa jawaban mereka.” (An-Naml [27]:28-29). Burung-burung tidak pernah
diketahui orang berbicara tentang kebenaran atau dusta. Ayat ini memberikan suatu bukti lagi, bahwa Hud-hud bukan seekor burung
melainkan seorang pembesar dalam pemerintahan Nabi Sulaiman a.s.. Jadi, betapa sangat telitinya dan cerdasnya
Nabi Sulaiman a.s. dalam memberikan berbagai penugasan dalam gerakan
militer yang beliau lakukan terhadap kerajaan Saba, terutama dalam menanggapi “laporan intelijen” dari Jenderal Hud-hud.
Kewaspadaan
tersebut Nabi Sulaiman a.s. lakukan karena beliau mengetahui bahwa di
lingkungan kerajaan beliau pun -- bahkan sejak pemerintahkan ayahanda
beliau, Nabi Daud a.s. (QS.38:22-27)
-- terdapat orang-orang yang perlu diwaspadai
(QS.2:103). Itulah sebabnya beliau telah menugaskan lagi Jenderal Hud-hud untuk kembali menjadi duta (utusan) beliau kepada Ratu Saba:
قَالَ
سَنَنۡظُرُ اَصَدَقۡتَ اَمۡ کُنۡتَ مِنَ
الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾ اِذۡہَبۡ
بِّکِتٰبِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقِہۡ اِلَیۡہِمۡ
ثُمَّ تَوَلَّ عَنۡہُمۡ فَانۡظُرۡ مَا ذَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman,
berkata, “Kami segera akan melihat
apakah engkau telah berkata benar
ataukah engkau di antara orang-orang yang berdusta.
Pergilah dengan membawa suratku ini lalu sampaikanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka lalu perhatikanlah
apa jawaban mereka.” (An-Naml [27]:28-29).
Lafadz “Bismillāhirrahmānirrahīm” Dalam Surat Nabi Sulaiman a.s. Sesampainya di kerajaan Saba lalu surat kiriman Nabi Sulaiman a.s., sebagaimana layaknya seorang utusan khusus, surat tersebut disampaikan
secara terhormat oleh Jenderal Hud-hud
kepada Ratu Saba -- bukan dijatuhkan
atau dilemparkan sebagaimana arti lain
kata ulqiya -- firman-Nya:
قَالَتۡ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اِنِّیۡۤ اُلۡقِیَ
اِلَیَّ کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾ اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ
مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Ia, Ratu Saba, berkata: “Hai pembesar-pembesar,
sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku
surat yang mulia sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat
itu berbunyi: بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ -- Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ
مُسۡلِمِیۡنَ -- “Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku,
dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.”(An-Naml [27]:30-32).
Jadi, seandainya
pun benar bahwa Nabi
Daud a.s. dan Nabi
Sulaiman a.s. dapat mengerti
bahasa burung, tetapi tidak ada sesuatu dalam Al-Quran yang menunjukkan,
bahwa Ratu Saba juga dapat mengerti bahasa burung, namun demikian
kepada Hud-hud dipercayakan
menyampaikan surat Nabi Sulaiman a.s.
kepada Ratu Saba
dan mengadakan percakapan dengan
beliau atas nama Nabi Sulaiman a.s.
dan sebagai wakil beliau.
Beberapa ahli
ketimuran pihak Kristen,
sebagaimana kebiasaan mereka, telah gagal
dalam usahanya mengingkari fakta bahwa Al-Quran
bersumber dari Allah Swt., dengan
mencoba membuktikan ungkapan Bismillāh telah dipinjam dari kitab-kitab
yang terdahulu.
Wherry dalam buku “Commentary”-nya
mengatakan bahwa kalimat itu telah
dipinjam dari Zend-Avesta. Sale
menyatakan pandangan serupa, sedang Rodwell berpendapat, bahwa bangsa Arab pra-Islam (sebelum sejarah
Islam) meminjamnya dari kaum Yahudi dan selanjutnya kalimat itu
dimasukkan ke dalam Al-Quran oleh Nabi
Besar Muhammad saw..
Mengatakan bahwa karena ungkapan
atau kalimat “Bismillāhirrahmānirrahīm” itu didapati dalam beberapa kitab suci yang terdahulu maka niscaya telah dipinjam oleh Al-Quran
dari salah satu dari kitab-kitab itu,
adalah nyata sekali suatu kesimpulan yang lemah. Bagaimanapun, hal itu hanya
membuktikan bahwa Al-Quran memang berasal
dari Sumber yang sama seperti kitab-kitab lain pun berasal
yakni Allah Swt..
Lagi pula, tidak ada kitab lain mempergunakan ungkapan ini dalam bentuk dan cara yang
telah dilakukan oleh Al-Quran. Begitu juga, orang-orang Arab pra-Islam tidak
pernah mempergunakan ungkapan itu
sebelum ungkapan itu diwah-yukan
dalam Al-Quran. Kebalikannya, mereka
mempunyai keengganan untuk mempergunakan sifat Ilahi Ar-Rahmān (QS.25:61),
yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Bismillāh. Lihat juga QS.1:1.
Surat
Nabi Sulaiman a.s. merupakan contoh yang indah sekali tentang
bagaimana maksud yang besar dan luas dapat diringkaskan dalam beberapa perkataan singkat, sepi dari segala kata muluk-muluk dan panjang lebar tanpa guna. Surat itu sekaligus
merupakan peringatan terhadap kesia-siaan pemberontakan, yang
rupa-rupanya pada waktu itu timbul di beberapa bagian wilayah kerajaan Nabi
Sulaiman a.s. itu (QS.21:79).
Ajakan kepada Ratu
Saba untuk tunduk kepada Nabi
Sulaiman a.s. adalah guna menghindari
pertumpahan darah yang tidak perlu, juga untuk meninggalkan kemusyrikan dan menerima agama yang hakiki, sebab
tugas utama Nabi Sulaiman a.s. sebagai
seorang rasul Allah adalah menyeru Ratu Saba dan kaumnya kepada Tauhid
Ilahi.
Musyawarah Ratu Saba
dengan Para Pembesarnya
Mengutip kembali sabda Nabi Besar
Muhammad saw. mengenai pentingnya
orang-orang mengambil hikmah
di mana pun ia berada:
“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya maka ambillah.”
(HR. Tirmidzi).
Dalam firman Allah Swt. selanjutnya
dikemukakan kebenaran petunjuk
Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai pentingnya melakukan musyawarah
dalam memutuskan berbagai urusan yang
penting (QS.3:160), yang dilakukan juga
oleh Ratu Saba dengan para pembesar kerajaannya, firman-Nya:
قَالَتۡ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَفۡتُوۡنِیۡ فِیۡۤ
اَمۡرِیۡ ۚ مَا کُنۡتُ قَاطِعَۃً
اَمۡرًا حَتّٰی تَشۡہَدُوۡنِ ﴿﴾ قَالُوۡا نَحۡنُ اُولُوۡا قُوَّۃٍ وَّ اُولُوۡا بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ ۬ۙ وَّ
الۡاَمۡرُ اِلَیۡکِ فَانۡظُرِیۡ مَاذَا
تَاۡمُرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَتۡ اِنَّ الۡمُلُوۡکَ اِذَا
دَخَلُوۡا قَرۡیَۃً اَفۡسَدُوۡہَا وَ جَعَلُوۡۤا اَعِزَّۃَ اَہۡلِہَاۤ
اَذِلَّۃً ۚ وَ کَذٰلِکَ
یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنِّیۡ مُرۡسِلَۃٌ اِلَیۡہِمۡ بِہَدِیَّۃٍ فَنٰظِرَۃٌۢ بِمَ یَرۡجِعُ
الۡمُرۡسَلُوۡنَ ﴿﴾
Ia
berkata: “Hai pembesar-pembesar, berikan pendapat
kepadaku mengenai urusanku
ini, karena aku sekali-kali
tidak memutuskan sesuatu perkara
hingga kamu hadir di hadapanku.” Mereka
berkata: “Kita memiliki kekuatan,
dan kita memiliki kebe-ranian yang hebat
dalam peperangan, tetapi memberi
perintah itu ada pada engkau, maka pertimbangkanlah
apa yang engkau akan perintahkan.” Ia, Ratu Saba, berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila mereka memasuki suatu kota mereka merusakkannya dan mereka menjadikan pen-duduknya yang mulia sebagai
orang-orang yang hina, dan demikianlah selalu mereka kerjakan. Tetapi sesungguhnya
aku akan mengirimkan kepada mereka hadiah dan akan menanti jawaban apa yang akan
dibawa kembali oleh para utusan itu. (An-Naml [27]:33-36).
Mengenai pentingnya melakukan musyawarah tersebut Allah Swt.
berfirman kepada Nabi Besar Muhammad
saw.:
فَبِمَا رَحۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ لِنۡتَ
لَہُمۡ ۚ وَ لَوۡ کُنۡتَ فَظًّا غَلِیۡظَ الۡقَلۡبِ لَانۡفَضُّوۡا مِنۡ حَوۡلِکَ ۪
فَاعۡفُ عَنۡہُمۡ وَ اسۡتَغۡفِرۡ لَہُمۡ وَ شَاوِرۡہُمۡ فِی الۡاَمۡرِ ۚ فَاِذَا
عَزَمۡتَ فَتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُتَوَکِّلِیۡنَ
﴿﴾
Maka karena rahmat dari Allah-lah engkau bersikap lemah-lembut terhadap mereka, dan seandainya engkau senantiasa berlaku kasar dan keras hati, niscaya mereka akan bercerai-berai dari sekitar engkau,
karena itu maafkanlah mereka, dan mintalah ampunan dari Allah
untuk mereka, وَ شَاوِرۡہُمۡ فِی الۡاَمۡر -- dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan yang
penting, فَاِذَا
عَزَمۡتَ فَتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ -- dan apabila
engkau telah menetapkan tekad yakni keputusan maka berta-wakkallah kepada Allah, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُتَوَکِّلِیۡنَ -- sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. (Ali
‘Imran [3]:160).
Pentingnya Sikap Kasih-sayang Dalam Musyawarah
Kata-kata فَبِمَا رَحۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ لِنۡتَ لَہُمۡ -- “Maka
karena rahmat dari Allah-lah engkau bersikap lemah-lembut terhadap mereka“ melukiskan keindahan
watak Nabi Besar Muhammad saw. Di
antara perangai yang paling baik lagi menonjol adalah kasih-sayang
beliau saw. yang meliputi segala sesuatu.
Nabi Besar Muhammad saw. penuh
dengan kemesraan cinta-kasih
manusiawi, dan beliau saw. bukan saja berlaku
baik terhadap para sahabat dan
para pengikut beliau saw.,
bahkan penuh kasih-sayang dan belas-kasih
terhadap musuh-musuh beliau saw., yang senantiasa mencari-cari kesempatan untuk menikam
dari belakang (QS.9:128).
Terukir di dalam sejarah bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. tidak mengambil tindakan apa pun terhadap orang-orang munafik yang khianat dan telah meninggalkan beliau saw.
pada waktu Perang Uhud. Bahkan beliau
saw. meminta musyawarah (pendapat)
mereka dalam urusan kenegaraan.
Di
samping hal-hal lain, Islam mempunyai
keistimewaan dalam segi ini
yaitu Islam memasukkan unsur musyawarah ke dalam asas-asas pokoknya. Islam mewajibkan
Kepala negara Islam mengadakan musyawarah dengan orang-orang Muslim dalam segala urusan
kenegaraan yang penting-penting.
Nabi Besar Muhammad saw. biasa bermusyawarah dengan para pengikut
beliau saw. sebelum perang-perang Badar,
Uhud, dan Ahzab, dan pula ketika sebuah tuduhan
palsu dilancarkan terhadap istri mulia beliau, Siti ‘Aisyah r.a.
(QS.24:12-21
Abu Hurairah r.a. mengatakan: “Rasulullah saw. mempunyai hasrat amat besar sekali untuk
meminta musyawarah mengenai segala urusan penting” (Mantsur, II,
90). ‘Umar r.a., Khalifah kedua Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda: “Tiada khilafat tanpa musyawarah” (Izalat al-Khifa ‘an Khilafat al-Khulafa’).
Jadi, mengadakan musyawarah dalam urusan penting
merupakan perintah asasi Islam dan
menjadi suatu keharusan bagi pemimpin-pemimpin ruhani maupun pemimpin-pemimpin duniawi di kalangan umat
Islam. Khalifah atau Kepala negara Islam harus meminta saran dari orang-orang Muslim terkemuka, meskipun putusan terakhir tetap berada di
tangannya.
Syura atau musyawarah, menurut Islam, bukan suatu bentuk Parlemen dalam artian yang dipakai di Barat, karena Kepala negara Islam mempunyai wewenang penuh untuk menolak saran yang diajukan kepadanya. Tetapi ia tidak boleh memakai wewenang itu seenaknya saja dan harus
menghargai saran dari golongan terbanyak.
Pendek kata, musyawarah yang dilakukan oleh Ratu
Saba dengan para pembesarnya dalam Surah An-Naml
[27]:33-36 sesuai
dengan perintah Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw., jadi ayat tersebut
menunjukkan bahwa Ratu Saba itu
seorang Ratu yang sangat besar
kekuasaannya, memiliki sumber-sumber
kekayaan yang besar, lagi pula
dicintai, dibela, dan ditaati dengan ikhlas oleh rakyatnya, dan ia menjadi
pembela nasib mereka.
Alasan Kemarahan
Nabi Sulaiman a.s. Mendapat Kiriman Hadiah dari Ratu Saba
Kekuasaan dan kejayaan kerajaan Saba mencapai puncaknya pada kira-kira 1100 s.M. Masa
kekuasaan Ratu Saba itu berlangsung
sampai 950 s.M., ketika beliau diduga telah tunduk
kepada Nabi Sulaiman a.s.. Dengan tundukknya Ratu Saba maka genaplah nubuatan
Bible, yakni, “Segala raja Syeba dan
Saba pun akan mengantar bingkisan” (Mazmur
72:10).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai keputusan yang dilakukan Ratu
Saba dalam menanggapi surat dari
Nabi Sulaiman a.s. yang disampaikan oleh Jenderal Hud-hud, sambil “membaca
peta kekuatan” Nabi Sulaiman a.s., yang ternyata telah “terbaca” pula “misi” yang dibawa oleh para utusan Ratu Saba yang membawa hadiah berupa “singgasana” yang sangat indah, firman-Nya:
فَلَمَّا
جَآءَ سُلَیۡمٰنَ قَالَ اَتُمِدُّوۡنَنِ
بِمَالٍ ۫ فَمَاۤ اٰتٰىنَِۧ اللّٰہُ
خَیۡرٌ مِّمَّاۤ اٰتٰىکُمۡ
ۚ بَلۡ اَنۡتُمۡ بِہَدِیَّتِکُمۡ تَفۡرَحُوۡنَ ﴿﴾ اِرۡجِعۡ اِلَیۡہِمۡ فَلَنَاۡتِیَنَّہُمۡ بِجُنُوۡدٍ
لَّا قِبَلَ لَہُمۡ بِہَا وَ لَنُخۡرِجَنَّہُمۡ مِّنۡہَاۤ اَذِلَّۃً
وَّ ہُمۡ صٰغِرُوۡنَ ﴿﴾
Maka tatkala ia datang membawa hadiah ke
hadapan Sulaiman, ia (Sulaiman) berkata:
“Apakah kamu membantuku dengan harta? Tetapi apa yang Allah berikan kepadaku itu lebih baik daripada apa yang Dia berikan kepada kamu.
Bahkan kamu merasa sangat bangga
dengan hadiah kamu itu. Kembalilah kepada mereka maka kami pasti akan datang kepada mereka dengan
lasykar-lasykar yang mereka tidak
sanggup menghadapinya, dan niscaya kami akan mengusir mereka
darinya dengan terhina dan mereka menjadi orang nista.” (An-Naml
[27]:37-38).
Nabi
Sulaiman a.s. rupa-rupanya merasa sangat
tersinggung oleh Ratu Saba yang
mengirim hadiah-hadiah kepada beliau.
Beliau menganggap pemberian “hadiah-hadiah”
tersebut sebagai penghinaan, karena dalam surat yang dikirim sebelumnya melalui
Jenderal Hud-hud. beliau telah menuntut agar Ratu Saba menyerah, tetapi malahan beliau dikirimi hadiah-hadiah murah.
Masalahnya adalah, karena sebelumnya orang-orang Saba telah menyerang wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s. atau
telah berusaha menimbulkan kerusuhan
di dalamnya, karena itulah pengiriman hadiah-hadiah
dari Ratu Saba itu sangat menyinggung perasaan dan membangkitkan kemurkaan Nabi Sulaiman a.s..
Kalau dalam keadaan biasa pasti Nabi Sulaiman a.s. akan senang sekali mendapat hadiah-hadiah itu, karena beliau sangat menyukai keindahan yang menurut
beliau barang-barang yang indah tersebut selalu mengingatkan beliau kepada Allah
Swt., Rabb seluruh alam
(QS.38:31-34).
Qibal
dalam ayat: اِرۡجِعۡ
اِلَیۡہِمۡ فَلَنَاۡتِیَنَّہُمۡ بِجُنُوۡدٍ لَّا قِبَلَ لَہُمۡ بِہَا -- “Kembalilah kepada mereka maka kami
pasti akan datang kepada mereka dengan lasykar-lasykar yang mereka tidak sanggup menghadapinya“ berarti:
kekuasaan, kekuatan, wewenang. Mereka berkata, mali bihī qibalun, yakni “aku tidak berdaya melawan dia” (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
“Kunjungan Kehormatan”
Ratu Saba & Pembuatan “Singgasana
Kehormatan”
Nampaknya para utusan (duta) dari kerajaan Saba tersebut sudah menyaksikan
atau sudah “dapat membaca” peta kekuatan yang dimiliki Nabi Sulaiman a.s., yang mustahil
bagi pihak kerajaan Saba untuk
melakukan perlawanan bersenjata. Itulah sebab Ratu Saba mengambil kebijaksanaan untuk melakukan “kunjungan
kehormatan” kepada Nabi Sulaiman a.s. guna menghindari jatuhnya korban dari
pihaknya.
Dalam rangka menyambut “kunjungan
kehormatan” Ratu Saba itulah Allah
Swt. berfirman dalam ayat selanjutnya:
قَالَ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَیُّکُمۡ یَاۡتِیۡنِیۡ بِعَرۡشِہَا قَبۡلَ اَنۡ یَّاۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ عِفۡرِیۡتٌ
مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ
اَنۡ تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ
وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ لَقَوِیٌّ اَمِیۡنٌ ﴿﴾ قَالَ الَّذِیۡ
عِنۡدَہٗ عِلۡمٌ مِّنَ
الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ
اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ طَرۡفُکَ ؕ فَلَمَّا رَاٰہُ مُسۡتَقِرًّا عِنۡدَہٗ قَالَ ہٰذَا مِنۡ فَضۡلِ رَبِّیۡ ۟ۖ
لِیَبۡلُوَنِیۡۤ ءَاَشۡکُرُ اَمۡ اَکۡفُرُ ؕ وَ مَنۡ شَکَرَ فَاِنَّمَا یَشۡکُرُ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ کَفَرَ
فَاِنَّ رَبِّیۡ غَنِیٌّ کَرِیۡمٌ
﴿﴾
Ia (Sulaiman) berkata: “Hai para pembesar,
siapakah dari antara kamu akan membawa kepadaku singgasananya sebelum mereka
datang kepadaku ber-serah diri?” Seorang
hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit) dari kalangan
para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau
sebelum engkau berdiri dari tempat
engkau, dan sesungguhnya atas itu
aku memiliki kekuatan lagi terpercaya.”
Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata: “Aku
akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan kembali kepada engkau.”
Maka tatkala ia, Sulaiman,
melihatnya telah ada di hadapannya ia berkata: “Ini adalah dari karunia Rabb-ku (Tuhan-ku) supaya Dia mengujiku apakah aku bersyukur ataukah tidak
bersyukur. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya
ia ber-syukur untuk manfaat dirinya sendiri, dan barangsiapa
tidak bersyukur maka sesungguhnya Rabb-ku
(Tuhan-ku) Mahacukup, Mahamulia.” (An-Naml [27]:39-41).
Ungkapan بِعَرۡشِہَا (singgasananya) dalam ayat: قَالَ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَیُّکُمۡ یَاۡتِیۡنِیۡ بِعَرۡشِہَا
قَبۡلَ اَنۡ یَّاۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ -- “Ia (Sulaiman)
berkata: “Hai para pembesar, siapakah dari antara kamu akan membawa kepadaku singgasananya sebelum mereka
datang kepadaku berserah diri?” agaknya berarti singgasana yang Nabi Sulaiman a.s. perintahkan
membuatnya untuk menyambut Ratu Saba.
Nampaknya sudah menjadi kebiasaan di zaman itu bahwa bila seorang kepala negara berkunjung kepada kepala
negara lain maka sebuah singgasana dibangun bagi penerimaan tamu agung itu. Nabi Sulaiman a.s. pun memerintahkan
membangun singgasana untuk menyambut Ratu Saba.
Dikatakan بِعَرۡشِہَا -- “singgasananya” sebab singgasana itu khusus dibangun untuk Ratu Saba. Ungkapan بِعَرۡشِہَا itu dapat
juga berarti “seperti singgasananya,” dan kalimat
یَاۡتِیۡنِیۡ (mendatangkannya kepadaku) dapat diartikan “akan menyiapkan bagiku”
yakni membuat singgasana khusus tersebut. Jadi makna ucapan Nabi Sulaiman a.s.: یَاۡتِیۡنِیۡ
(mendatangkannya kepadaku) bukan dalam arti memunculkan singgasana tersebut
seketika itu juga, atau membawa singgasana tersebut secara gaib
dari kerajaan Saba -- sebagaimana yang salah-memaknai ayat-ayat mutasyābihāt
seperti itu (QS.3:8-9) -- melainkan
maknanya adalah membuat atau membangun “singgasana
kehormatan” untuk menyambut kunjungan
kenegaraan Ratu Saba.
Makna
Kata ’Ifrit dan Tharf
Arti kata ‘ifrit dalam ayat: َالَ
عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ
تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ لَقَوِیٌّ
اَمِیۡنٌ -- “Seorang
hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit) dari kalangan
para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau
sebelum engkau berdiri dari tempat
engkau, dan sesungguhnya atas itu
aku memiliki kekuatan lagi terpercaya” berasal dari kata ‘afara yang berarti
“ia melemparkan dia ke tanah” atau “ia menghina
dia”, yaitu suatu kata yang digunakan
baik untuk manusia ataupun untuk jin, dan berarti: (1) seorang
yang kuat dan gagah-perkasa; (2) tajam, gesit, dan efektif dalam menghadapi
sesuatu urusan, melewati batas-batas biasa dalam urusan itu dengan kecerdasan
dan kecerdikan; (3) seorang kepala, dan lain-lain (Lexicon Lane).
Kata-kata itu menunjukkan bahwa ‘ifrit
tersebut adalah seorang pembesar dalam
kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang sangat tinggi
kedudukannya serta mempunyai wewenang
besar, dan karena itu sangat percaya diri
untuk dapat melaksanakan perintah atasannya dengan memuaskan dalam batas waktu
yang diberikan kepadanya.
Kalimat
maqāmika dalam
ayat: اَنَا
اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ -- “Aku
akan membawanya kepada engkau sebelum engkau
berdiri dari tempat engkau”, mengandung arti tempat
Nabi Sulaiman a.s. berkemah dalam perjalanan beliau ke Saba dan beliau sedang menantikan duta beliau kembali dengan membawa jawaban atas surat yang beliau kirim kepada Ratu
Saba.
Kemudian
mengenai makna kata tharf -- sehubungan kesanggupan yang dikemukakan pejabat
yang lain ayat selanjutnya:
قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ عِلۡمٌ
مِّنَ الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ
بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ
طَرۡفُکَ -- “Orang
yang memiliki pengetahuan mengenai buku
berkata: “Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan kembali kepada engkau”
-- berarti: sekilas pandang; seorang bangsawan;
penghasilan pajak pemerintah; seorang utusan dari Yaman (Lexicon Lane).
Ungkapan itu dapat diartikan: (1)
“sebelum duta engkau dari Yaman kembali kepada engkau”; (2) “dalam sekejap mata”;
(3) “sebelum pajak pendapatan pemerintah disetor kepada perbendaharaan negara”.
Dalam arti yang tersebut belakangan (3) ungkapan itu akan berarti: “Aku
tidak perlu lagi uang; uang yang sudah ada dalam khazanah pemerintah sudah
cukup memenuhi perongkosan mendirikan singgasana bagi Sang Ratu.” Ungkapan “yang mempunyai pengetahuan mengenai
buku,” agaknya menunjuk kepada seseorang pejabat tinggi yang mengetahui seluk-beluk
keuangan. Mungkin juga ia menteri
keuangan Nabi Sulaiman a.s..
Dalam ayat ini dan dalam ayat
sebelumnya, dua buah penawaran untuk
menyiapkan pengadaan singgasana bagi Nabi Sulaiman a.s. telah
disebutkan, pertama diajukan oleh ifrit yang menyediakan diri untuk menyiapkan singgasana itu sebelum Nabi
Sulaiman a.s. mengemasi kemah dan berangkat kembali; dan yang lainnya oleh “orang yang
mempunyai pengetahuan tentang buku.” Nampaknya pejabat yang disebut
terakhir memberikan penawaran yang lebih baik untuk menyelesaikan pembuatan singgasana itu sebelum duta Nabi Sulaiman a.s. kembali
dengan jawaban atas surat beliau kepada Ratu Saba.
Hubungan kalimat itu menunjukkan,
bahwa Nabi Sulaiman a.s. menerima
penawaran yang kedua, sebab beliau
menghendaki agar pembuatan singgasana itu selesai sebelum Ratu Saba datang mengadakan kunjungan kehormatan kepada beliau dan
beliau dapat tinggal di tempat itu sampai Ratu
Saba datang dan seluruh upacara penyambutan
selesai.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 26 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar