Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Nubuatan Munculnya Berbagai “Organisasi
Nasional” dan “Bahasa Sandinya” & Dua “Gerakan
Rahasia” di Kalangan Bani Israil
Bab 6
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai sabda Masih Mau’ud a.s. dalam buku beliau “Minan-ur-Rahmaan” mengenai
kesempurnaan bahasa Arab sebagai wahana diwahyukan-Nya Al-Quran yang merupakan syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) sehubungan dengan firman-Nya:
وَ لَوۡ
جَعَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا
لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ
اٰیٰتُہٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ
ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa asing niscaya mereka berkata: لَوۡ
لَا فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ
شِفَآءٌ -- Apakah
patut Al-Quran dalam bahasa asing
sedang rasulnya orang Arab?”
Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang
yang beriman sebagai petunjuk
dan penyembuh.” وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ
فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی -- Dan
orang-orang yang tidak beriman dalam
telinga mereka ada sumbatan, dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. اُولٰٓئِکَ
یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Mereka
akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh. (Hā Mīm – As-Sajdah [41]:45).
Keselarasan Perkembangan Manusia
dengan Bahasa yang Dipergunakannya
Makna kalimat: لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan?” bahwa dari seluruh bahasa yang ada di dunia ini bahasa
Arab adalah yang paling lengkap
dan sempurna dalam segala sesuatunya,
termasuk kelengkapan makna-makna akar-katanya, sejalan dengan perkembangan manusia dari sepasang laki-laki dan perempuan menjadi
berbagai bangsa dan suku-suku bangsa yang kemudian menghasilkan aneka ragam bahasa yang merupakan
cabang-cabang dan ranting dari bahasa Arab sebagai “induk
bahasa-bahasa”, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ
اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ
وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ
اِنَّ اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ
﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami
telah menciptakan kamu dari laki-laki
dan perempuan, وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا -- dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku لِتَعَارَفُوۡا -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ اَکۡرَمَکُمۡ
عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha
Waspada. (Al-Hujurat [49]:14).
Syu’ub itu jamak
dari sya’b, yang berarti: suku bangsa besar, induk suku-suku bangsa
disebut qabilah, tempat mereka berasal dan yang meliputi mereka; suku
bangsa (Lexicon Lane). Karena manusia
merupakan makhluk sosial maka guna berinteraksi
satu sama lain maka manusia memerlukan sarana
komunikasi, salah satunya adalah bahasa,
sehingga manusia dapat mewujudkan
lita’ārafu (supaya saling mengenal), yakni saling
mengambil manfaat dari kelebihan masing-masing. Mengisyaratkan
kepada lita’ārafu (supaya saling mengenal) itu pulalah sabda Nabi
Besar Muhammad saw mengenai hikmah:
“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang
beriman. Di mana saja ia menemukannya maka ambillah.”
(HR. Tirmidzi).
Berbagai Makna “Bahasa” dan “Membaca”
& Genapnya Nubuatan Al-Quran
Kembali kepada pentingnya keberadaan
berbagai bahasa, makna
“bahasa” -- sebagai sarana berkomunikasi -- sangat
luas, sebab “bahasa” tidak hanya dengan terkait dengan suara ucapan melalui mulut, tetapi juga melingkupi berbagai
bentuk isyarat – misalnya -- melalui
gerakan tubuh dan lain-lain, sehingga muncul istilah “bahasa tubuh” (body language) dan
“bahasa wajah” atau mimik. Contohnya sarana
komunikasi di kalangan orang-orang yang tuna-rungu yang dapat melihat adalah menggunakan gerakan-gerakan
tangan serta dan bahasa wajah (mimik).
Cara manusia melakukan komunikasi dengan sesamanya dilakukan secara lisan
(verbal), yang disebut “bahasa lisan” dan secara tulisan atau “bahasa tulisan” dimana untuk melakukannya kedua belah pihak yang berkomunikasi memerlukan kemampuan membaca dan menulis.
Di Akhir
Zaman ini berbagai cara dan sarana untuk melakukan komunikasi tersebut benar-benar
sangat mutakhir (canggih),
sehingga umat manusia yang tersebar di berbagai pelosok dunia pun seakan-akan
berada dalam satu ruangan, dengan
demikian nubuatan dalam Al-Quran menjadi genap
(sempurna), firman-Nya:
وَ اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ
۪ۙ﴿﴾
“Dan apabila orang-orang dikumpulkan” (At-Takwīr [81]:8).
Kemajuan pesat dalam pembuatan sarana-sarana
pengangkutan (transportasi) dan komunikasi
berkembang pesat sedemikian rupa, sehingga hubungan
antar bangsa yang mendiami negeri-negeri
jauh menjadi demikian mudah dan lancar yang membuat mereka bersatu menjadi “satu bangsa”.
Ayat ini mengandung pula arti bahwa
orang-orang yang mempunyai pandangan-pandangan
sama mengenai sosial (kemasyarakatan),
politik mau pun ekonomi
akan menggabungkan diri dalam wadah partai-partai dan sebagainya, sehingga menggenapi nubuatan Al-Quran lainnya,
firman-Nya:
یَوۡمَئِذٍ
یَّصۡدُرُ النَّاسُ اَشۡتَاتًا ۬ۙ
لِّیُرَوۡا اَعۡمَالَہُمۡ ؕ﴿﴾ فَمَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ خَیۡرًا یَّرَہٗ
ؕ﴿﴾ وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ
ذَرَّۃٍ شَرًّا یَّرَہٗ ٪﴿﴾
“Pada hari itu manusia akan kekuar dalam golongan-golongan terpisah supaya
kepada mereka dapat diperlihatkan amal mereka. Maka barangsiapa berbuat kebaikan seberat atom sekali pun ia akan melihat hasil-nya,
dan barangsiapa berbuat keburukan seberat atom sekali pun ia akan melihat hasilnya. (Al-Zilzal [90]:7-9).
Ayat
tersebut bukan hanya mengisyaratkan
kepada gambaran keadaan pada “Hari
Pembalasan” di akhirat saja, tetapi juga
mengandung berbagai nubuatan
yang akan terjadi di Akhir Zaman ini, yakni untuk memelihara
dan menjaga kepentingan politik, sosial, dan ekonomi
mereka, di Akhir Zaman ini orang-orang menggabungkan
diri dalam partai-partai, perhimpunan-perhimpunan, dan golongan-golongan
atas dasar politik dan ekonomi; dan serikat-serikat sekerja dalam bentuk
koperasi, PT., CV., atau gilda-gilda, kartel-kartel, dan sindikat-sindikat
perkasa.
Munculnya Berbagai Organisasi
Internasional dan Berbagai “Bahasanya” & “Bahasa Sandi” (Bahasa Isyarat)
Pendek kata, perorangan-perorangan
akan menghimpun sumber-sumber daya
mereka dan usaha-usaha bersama akan
mengambil alih usaha-usaha perorangan
dengan tujuan supaya bobot pengaruh mereka dapat dirasakan,
dan supaya upaya dan jerih-payah mereka dapat meraih hasil baik.
Bahkan bukan hanya orang perorang, tetapi juga bangsa-bangsa (negara-negara) di dunia
ini pun telah berhimpun dalam
berbagai bentuk “perkumpulan” yang
berlandaskan ekonomi dan politik dan militer,
seperti: 1. ASEAN (Association of South East Asian Nations); 2. AFTA
(ASEAN Free Trade
Area); 3. APEC (Asia Pacific Economic Coorperation); 4. Masyarakat
Ekonomi Eropa (MEE) atau European
Economic Community (EEC); 5. Prganization
of Petroleum Exporting Countries (OPEC) ; 6. Liga Arab; 7. Pasar Tunggal Eropa (PTE); 8. Islamic Development Bank (IDB); 8. North Atlantic Treaty Organization
(NATO); 9. Konfrensi Asia Afrika
(KAA), dll.
Makna ayat selanjutnya: فَمَنۡ یَّعۡمَلۡ
مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ خَیۡرًا یَّرَہٗ -- Maka barangsiapa
berbuat kebaikan seberat atom sekali
pun ia akan melihat hasilnya,
وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ
شَرًّا یَّرَہٗ --
“dan barangsiapa berbuat keburukan
seberat atom sekali pun ia
akan melihat hasilnya.” (Al-Zilzal
[90]:8-9).
Dengan melihat kenyataan
tersebut maka makna “bahasa” pun
menjadi berkembang yaitu “bahasa ekonomi”,
“bahasa politik” “bahasa militer” dan lain-lain,
selain “bahasa agama”. Jenis “bahasa” lainnya yang dipergunakan di
kalangan militer
adalah “bahasa intelijen” atau “bahasa sandi”. Semua jenis “bahasa”
tersebut memiliki kekhususan
masing-masing dalam cara “membacanya” serta dalam “memaknainya.”
Mengenai “bahasa
sandi” dalam dunia intelijen, di dalam Al-Quran Allah Swt. berfirman
sehubungan dengan Bani Israil ketika mereka
berada di tempat pembuangan mereka di
Babil selama 100 tahun (QS.2:260), sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. atas kedurhakaan
mereka (QS.5:79-80).
Gerakan Rahasia Orang-orang
Yahudi Menentang Nabi Besar Muhammad
Saw.
Gerakan rahasia dan “bahasa
sandi” tersebut digunakan pula oleh para pemuka kaum Yahudi di
zaman Nabi Besar Muhammad saw.,
yaitu dalam rangka melakukan pendustaan dan penentangan terhadap kerasulan
beliau saw., padahal nubuatan mengenai beliau saw. terdapat dalam Kitab-kitab suci mereka (QS.2:147;
QS.6:21), firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ
لِّمَا مَعَہُمۡ نَبَذَ فَرِیۡقٌ مِّنَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ ٭ۙ کِتٰبَ
اللّٰہِ وَرَآءَ ظُہُوۡرِہِمۡ
کَاَنَّہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾۫ وَ
اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ
سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا
یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ
بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ
مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا
تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا
بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا
لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ
ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala
datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah, مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ -- menggenapi
apa yang ada pada mereka, نَبَذَ فَرِیۡقٌ مِّنَ الَّذِیۡنَ
اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ -- segolongan dari orang-orang yang diberi
Alkitab کِتٰبَ
اللّٰہِ وَرَآءَ ظُہُوۡرِہِمۡ
کَاَنَّہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- membuang
Kitab Allah ke belakang punggungnya, seolah-olah mereka tidak
mengetahui. وَ اتَّبَعُوۡا
مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ -- Dan
mereka mengikuti apa yang diikuti
oleh syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa kerajaan
Sulaiman, وَ مَا کَفَرَ
سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا -- dan bukan
Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan itulah yang kafir, یُعَلِّمُوۡنَ
النَّاسَ السِّحۡرَ -- mereka
mengajarkan sihir kepada
manusia. وَ مَاۤ اُنۡزِلَ
عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ
وَ مَارُوۡتَ -- Tetapi
mereka itu mengaku mengikuti apa yang telah diturunkan
kepada dua malaikat, Harut dan Marut di Babil. وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ
اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ -- Dan keduanya
tidaklah me-ngajar seorang pun hingga
mereka mengatakan: “Sesungguhnya
kami hanya cobaan dari Tuhan, karena
itu janganlah kamu kafir.” فَیَتَعَلَّمُوۡنَ
مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِہٖ -- Lalu orang-orang belajar dari keduanya hal
yang dengan itu mereka membuat pe-misahan
di antara laki-laki dan istrinya, وَ مَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- dan mereka
sekali-kali tidak mendatangkan mudarat kepada se-orang pun dengan itu kecuali
dengan seizin Allah, وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا
یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ -- sedangkan mereka
ini belajar hal yang mendatangkan
mudarat kepada diri mereka dan tidak
bermanfaat baginya.
وَ
لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ -- Dan sungguh mereka benar-benar mengetahui
bahwa barangsiapa berniaga dengan cara
ini tidak ada baginya suatu bagian keuntungan di akhirat, وَ لَبِئۡسَ مَا
شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ -- dan benar-benar sangat buruk hal yang untuk itu
mereka menjual dirinya, sean-dainya mereka
mengetahui. (Al-Baqarah [2]:102-103).
Ayat 102
mengisyaratkan kepada perbuatan licik para pemuka
agama Yahudi yang menyembunyikan
atau mensalah-tafsirkan berbagai nubuatan dalam Kitab-kitab suci mereka berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran, yang mengenai keberadaaan nubuatan-nubuatan tersebut mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal
anak-anak mereka sendiri (QS.2:147;
QS.6:21).
Makna “Setan-setan” yang Melakukan Makar
Buruk Terhadap Nabi Sulaiman a.s. Dengan “Sihirnya”
Ayat
103 termasuk ayat Al-Quran yang mutasyabihāt
(samar – QS.3:8) karena itu memerlukan keahlian
khusus cara “membacanya”
dan “memaknainya”, karena
sebagaimana peringatan Allah Swt. dalam QS.3:8 orang-orang yang dalam hatinya
ada kebengkokan mereka akan menafsirkannya
secara keliru.
Perlu diketahui, bahwa yang dikemukakan dalam
ayat 103 menceritakan tentang gerakan-gerakan rahasia yang dilakukan
oleh orang-orang Yahudi pada kesempatan yang berbeda
serta dengan tujuan yang berbeda pula,
yakni:
(1) Gerakan rahasia yang terjadi
pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s.
yang dilakukan oleh para pembangkang yang melakukan berbagai bentuk fitnah
dan makar buruk – bahkan upaya pembunuhan – sejak zaman pemerintahan Nabi Daud a.s. (QS.38:18-27) sampai
dengan masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s..
Gerakan rahasia
di masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s. tersebut menggunakan “bahasa sandi” yang maknanya
hanya difahami di antara para pemimpin mereka, karena itu
Al-Quran menyebut mereka itu mengajarkan sihir karena
bertujuan melakukan makar buruk
terhadap pemerintahan Nabi Sulaiman a.s., sehingga dalam ayat ini Allah
Swt. menyebut mereka sebagai syayāthīn
(setan-setan): وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا
الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ -- Dan
mereka mengikuti apa yang diikuti
oleh syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa kerajaan
Sulaiman, وَ مَا کَفَرَ
سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا -- dan bukan
Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan itulah yang kafir, یُعَلِّمُوۡنَ
النَّاسَ السِّحۡرَ -- mereka
mengajarkan sihir kepada
manusia.”
Sihr
berarti: akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu
dalam bentuk kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka
lain dari kenyataannya (Lexicon Lane). Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik
yang dimaksudkan untuk menyembunyikan tujuan
sebenarnya dari penglihatan
orang, adalah termasuk sihir juga.
Sedangkan
dalam QS.34:13-15 para pelaku gerakan rahasia yang
dilakukan “setan-setan” – yakni para pembangkang
-- itu disebut “rayap bumi” yang “memakan tongkat” Nabi Sulaiman a.s.,
firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ اِلَّا دَآبَّۃُ الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا
خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا
لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Maka tatkala Kami menentukan kematiannya,
sekali-kali tidak ada yang menunjukkan kematiannya kepada
mereka selain rayap bumi yang memakan
tongkatnya. Lalu tatkala tongkat itu
jatuh, jin-jin mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib, mereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan. (Sabā
[34]:15).
Makna “tongkat” dalam ayat tersebut mengisyaratkan kepada kerajaan atau kekuasaan Nabi Sulaiman a.s.,
dan golongan jin – yang bangsa-bangsa asing yang ditaklukkan oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. –
yang berada jauh dari pusat kerajaan
Nabi Sulaiman a.s.. bahwa mereka itu baru menyadari kewafatan
Nabi Sulaiman a.s. setelah mereka menyaksikan bahwa di kalangan kerajaan Bani Israil telah terjadi kekacauan, sehingga akhirnya mereka pun
dapat membebaskan diri mereka, itulah
makna ucapan mereka: فَلَمَّا خَرَّ
تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا
فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ -- “Lalu tatkala
tongkat itu jatuh, jin-jin
mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib, mereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan.”
Putra
yang sia-sia sebagai penerus Nabi
Sulaiman a.s. yakni Rehoboam; di bawah pemerintahannya yang lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang
tadinya besar dan berkuasa telah menjadi berantakan (I Raja-raja, fatsal 12, 13, 14 & Jewish Encyclopaedia di bawah
“Rehoboam”).
“Jasad Tanpa Ruh” di Atas Singgasana Nabi Sulaiman a.s.
Kehancuran dan keterpecahbelahan kerajaan Nabi Sulaiman a.s. mulai
berlaku pada masa pemerintahan Rehoboam,
yang dalam Al-Quran digambarkan sebagai “jasad
tak bernyawa yang duduk di singgasana” Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ فَتَنَّا سُلَیۡمٰنَ وَ
اَلۡقَیۡنَا عَلٰی کُرۡسِیِّہٖ جَسَدًا
ثُمَّ اَنَابَ ﴿﴾ قَالَ
رَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ وَ ہَبۡ لِیۡ مُلۡکًا لَّا یَنۡۢبَغِیۡ لِاَحَدٍ مِّنۡۢ
بَعۡدِیۡ ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menguji Sulaiman
serta Kami menempatkan di atas
singgasananya suatu tubuh belaka, kemudian ia
kembali kepada Tuhan-nya. Ia
berkata: “Wahai Rabb-ku (Tuhan-ku), ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku suatu kerajaan yang tidak layak diwarisi oleh seseorang sesudahku. Sesungguhnya Engkau be-nar-benar Maha Pemberi anugerah.” (Shād [38]:35-36).
Dalam QS.34:15 ungkapan yang dipakai ialah, “rayap
bumi,” yang dapat mengisyaratkan kepada putra
dan ahli waris Nabi Sulaiman a.s.,
aitu Rehoboam, seorang pewaris kerajaan yang tidak berharga, atau kepada Jeroboam, oknum yang mengibarkan panji pemberontakan terhadap bangsa Nabi
Daud a.s.. (I Raja-raja 12:28).
Nabi Sulaiman a.s. telah menyadari bahwa sesudah beliau wafat, kerajaan beliau tak akan dapat mempertahankan keutuhannya di bawah para penerus
beliau yang tak cakap lagi tanpa berkemampuan itu. Oleh karena itu
beliau menghadap dan mendoa ke hadirat Allah Swt.
Doa tersebut dicantumkan
dalam ayat berikutnya: قَالَ رَبِّ
اغۡفِرۡ لِیۡ وَ ہَبۡ لِیۡ مُلۡکًا لَّا یَنۡۢبَغِیۡ لِاَحَدٍ مِّنۡۢ بَعۡدِیۡ ۚ
اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ -- “Ia berkata: “Wahai Rabb-ku (Tuhan-ku), ampunilah aku dan anugerahkanlah
kepadaku suatu kerajaan yang tidak
layak diwarisi oleh seseorang
sesudahku. Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah.”
Seperti
nampak dari ayat sebelum ini Nabi Sulaiman a.s. telah mempunyai firasat bahwa kerajaan
duniawi beliau akan menjadi terpecah-belah
sesudah beliau wafat, disebabkan oleh
kelemahan mental putra beliau yang tolol dan tidak berharga itu; maka beliau mendoa
supaya kerajaan ruhani yang telah
dianugerahkan Tuhan kepada keturunannya
dapat berjalan terus.
Bila kata-kata “suatu kerajaan yang tidak layak diwarisi
oleh seseorang sesudahku,” diartikan secara harfiah, maka doa Nabi Sulaiman
a.s. akan dipahami sudah terkabul dalam artian bahwa sesudah wafat beliau tidak akan ada raja di antara kaum Bani Israil yang memiliki kekuasaan
dan pamor seperti beliau sendiri.
Jadi, mengisyaratkan kepada gerakan makar
buruk yang dilakukan para penentang
di zaman pemerintahan Nabi Daud a.s.
dan Nabi Sulaiman a.s. itulah yang
diisyaratkan dalam firman-Nya: وَ اتَّبَعُوۡا
مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ -- Dan
mereka mengikuti apa yang diikuti
oleh syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa kerajaan
Sulaiman, وَ مَا کَفَرَ
سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا -- dan bukan
Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan itulah yang kafir”. (Al-Baqarah
[2]:103).
Dua “Malaikat” Harut
dan Marut di Babil
(2) Gerakan rahasia kedua terjadi pada masa pembuangan
orang-orang Yahudi di Babilonia,
yakni mereka mengadakan persekutuan
rahasia dengan Cyrus (Koresy), Raja kerajaan Fersia
dan Media, dalam mengalahkan kerajaan Babilonia, yang dalam pelaksanaannya dipimpin oleh dua orang suci di kalangan Bani Israil yang dalam ayat itu disebut dua malaikat yaitu Harut dan Marut, firman-Nya: وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی
الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ وَ مَارُوۡتَ -- Tetapi mereka itu
mengaku mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua malaikat, Harut dan Marut di Babil.
وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی
یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ -- Dan keduanya
tidaklah mengajar seorang pun hingga
mereka mengatakan: “Sesungguhnya
kami hanya cobaan dari Tuhan, karena
itu janganlah kamu kafir.” فَیَتَعَلَّمُوۡنَ
مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِہٖ -- Lalu orang-orang belajar dari keduanya hal
yang dengan itu mereka membuat pemisahan
di antara laki-laki dan istrinya, وَ مَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- dan mereka
sekali-kali tidak mendatangkan mudarat kepada seorang pun dengan itu kecuali
dengan seizin Allah, وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا
یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ -- sedangkan mereka
ini belajar hal yang mendatangkan
mudarat kepada diri mereka dan tidak
bermanfaat baginya.
وَ
لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ -- Dan sungguh mereka benar-benar mengetahui
bahwa barangsiapa berniaga dengan cara
ini tidak ada baginya suatu bagian keuntungan di akhirat, وَ لَبِئۡسَ مَا
شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ -- dan benar-benar sangat buruk hal yang untuk itu
mereka menjual dirinya, sean-dainya mereka
mengetahui. (Al-Baqarah [2]:103).
Kata “dua malaikat” di sini maksudnya dua orang suci (QS.12:32), sebab kedua malaikat itu di sini diterangkan sebagai
mengajar sesuatu kepada orang banyak, padahal malaikat itu tidak pernah tinggal bersama manusia dan tidak bergaul
bebas dengan mereka (QS.17:95; QS.21:8).
Harūt
dan Marūt itu keduanya nama sifat, yang pertama berasal dari harata
(yakni merobek — Al-Aqrab-ul-Mawarid)
berarti “orang merobek”, dan yang kedua berasal dari marata (artinya:
ia memecahkan) berarti orang yang memecahkan.
Nama-nama itu mengandung arti bahwa tujuan munculnya orang-orang suci itu adalah untuk “merobek”
dan “memecahkan” kemegahan dan
kekuasaan kerajaan musuh-musuh kaum Bani Israil, yakni raja Nebukadnezar yang
menghancurkan kota Yerusalem
dan mengangkut mereka dari Palestina
Ke Babilonia (QS.2:260).
Orang-orang suci ini pada waktu upacara pelantikan menerangkan kepada anggota-anggota baru bahwa mereka itu semacam percobaan dari Allah Swt. untuk maksud memisahkan
antara yang baik dan yang buruk. Mereka membatasi keanggotaan
perkumpulan mereka hanya pada kaum pria.
Kegagalan Makar Buruk “Gerakan Rahasia” Orang-orang Yahudi Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw.
Ayat itu berarti bahwa orang-orang Yahudi pada masa Nabi Besar
Muhammad saw. ikut-ikutan dalam rencana dan perbuatan jahat
yang sama, seperti halnya yang menjadi ciri
nenek-moyang mereka di zaman Nabi Sulaiman a.s. – yang disebut syayāthīn
(setan-setan) yang mengajarkan “sihir.”
Dikatakan selanjutnya bahwa perusuh-perusuh di zaman Nabi Sulaiman
a.s. adalah pemberontak-pemberontak
yang menuduh beliau sebagai orang kafir.
Ayat ini membersihkan Nabi Sulaiman a.s. dari tuduhan kafir mereka itu. Ditambahkannya bahwa pemberontak-pemberontak di zaman Nabi Sulaiman a.s. itu
mengajarkan kepada rekan-rekan mereka
sandi-sandi (lambang-lambang rahasia)
yang mengandung arti yang sama sekali berbeda
dari arti yang umumnya dipahami, dengan tujuan menipu orang dan menyembunyikan maksud sebenarnya.
Ayat ini mengisyaratkan kepada sekongkol rahasia yang dilancarkan para penentang Nabi Sulaiman a.s. terhadap
beliau. Dengan jalan itu mereka berusaha menghancurkan
kerajaannya. Hal itu mengandung arti bahwa orang-orang Yahudi Medinah juga mempergunakan pula siasat kotor yang sama terhadap Nabi Besar Muhammad saw., tetapi mereka tidak akan berhasil dalam rencana-rencana
jahatnya itu.
Ketika
orang-orang Yahudi menyaksikan kekuasaan
Islam terus-menerus meluas dan perlawanan
terhadap Islam di tanah Arab telah dihancurkan sepenuhnya oleh Nabi Besar
Muhammad saw., sehingga mereka tidak dapat menghentikan
atau memperlambat kemajuannya, lalu mereka
mulai menghasut orang-orang luar
melawan Islam. Dan karena ditindas dan dizalimi
oleh penguasa-penguasa kerajaan Kristen, mereka mencari perlindungan di Persia serta memindahkan pusat agama mereka dari Yehuda ke Babil (Hutchison’s of
Nation’s, halaman 550).
Berangsur-angsur mereka mulai memasukkan pengaruh besarnya ke dalam istana
raja-raja Persia dan mulai membuat komplotan
terhadap Islam. Ketika Khusru II
menerima surat dari Nabi Besar Muhammad saw. mengajaknya agar menerima Islam, orang-orang Yahudi di sana berhasil menghasutnya
supaya mengirimkan perintah kepada Badhan, Gubernur Yaman, yang pada masa
itu merupakan propinsi Persia, agar menangkap
dan mengirimkan Nabi Besar Muhammad saw.
sebagai tawanan dengan dirantai
ke istana Persia. Kepada komplotan-komplotan dan sekongkol orang-orang Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.
itulah ayat (QS.2:103) ini menunjuk.
Perhatian mereka ditarik kepada
kenyataan bahwa pertama nenek-moyang
mereka pun telah melancarkan komplotan terhadap Nabi
Sulaiman a.s. ketika
beberapa anggota masyarakatnya telah
mendirikan perkumpulan-perkumpulan
rahasia melawan beliau. Di dalam perkumpulan-perkumpulan
rahasia itu diajarkan lambang-lambang
dan sandi-sandi (I Raja-raja 11:29-32; I Raja-raja 11:14, 23, 26; II Tawarikh
10:2-4).
Kejadian kedua ketika mereka menghidupkan
kembali perkumpulan-perkumpulan rahasia ialah
pada waktu mereka masih dalam tawanan
di Babil pada zaman Raja Nebukadnezar. Dan orang-orang
suci yang disinggung dalam ayat ini ialah Nabi Hijai, dan Zakaria bin
Ido (Ezra 5:1).
Orang-orang suci – yang disebut dua malaikat:
Harut dan Marut -- itu membatasi keanggotaannya pada kaum pria, dan menerangkan kepada para anggota baru pada waktu upacara
pelantikan bahwa mereka itu semacam cobaan
dari Tuhan, dan bahwa oleh karena itu kaum
Bani Israil hendaknya jangan mengingkari
apa-apa yang dikatakan mereka.
Ketika kekuasaan Cyrus — raja
Media dan Persia — bangkit, orang-orang Bani
Israil di pembuangan mengadakan perjanjian
rahasia dengan beliau. Hal demikian sangat mempermudah untuk mengalahkan kerajaan Babil.
Sebagai imbalan atas jasa (kerjasama rahasia) itu, Cyrus bukan saja mengizinkan mereka kembali ke Yeruzalem,
tetapi membantu mereka pula dalam pembangunan kembali Rumah Peribadatan Nabi Sulaiman a.s. (Historians’ History of the World, ii 126).
Dua Macam “Gerakan Rahasia”
Tetapi Hasilnya Berbeda
Ayat ini mengisyaratkan bahwa upaya-upaya kaum Yahudi pada dua
peristiwa yang telah lewat itu telah membawa hasil-hasil berlainan. Pada peristiwa pertama, komplotan mereka bertujuan untuk melawan Nabi Sulaiman a.s. dan disudahi dengan kehilangan seluruh kewibawaan dan
akhirnya mereka dibuang ke Babil
ketika Yerusalem diserbu oleh Nebukadnezar dari Babilonia. Pada peristiwa kedua
mereka mengambil cara-cara yang sama,
di bawah pimpinan dua wujud yang
mendapat wahyu -- yang disebut “dua malaikat” -- dan mereka berhasil gilang-gemilang.
Untuk menegaskan bahwa apakah kegiatan
rahasia (makar buruk) kaum Yahudi
terhadap Nabi Besar Muhammad saw. akan menemui kegagalan seperti dialami mereka di masa Nabi Sulaiman a.s., ataukah
akan berhasil seperti di Babil, maka Al-Quran menyatakan: وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ
مَا یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ -- “sedangkan mereka ini belajar hal yang mendatangkan mudarat
kepada diri mereka dan tidak
bermanfaat baginya” mengisyaratkan
bahwa mereka tidak akan berhasil
seperti keberhasilan nenek-moyang
mereka di Babil.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 23 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar