Jumat, 25 Maret 2016

Nubuatan Munculnya Berbagai "Organisasi Rahasia" dan "Bahasa Sandinya" & Dua "Gerakan Rahasia" di Kalangan Bani Israil



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



Nubuatan Munculnya  Berbagai  “Organisasi Nasional” dan “Bahasa Sandinya” &  Dua “Gerakan Rahasia” di Kalangan Bani Israil   

Bab 6


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  sabda Masih Mau’ud a.s. dalam buku beliau “Minan-ur-Rahmaan” mengenai kesempurnaan bahasa Arab sebagai wahana diwahyukan-Nya Al-Quran yang merupakan syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) sehubungan dengan firman-Nya:
وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ ؕ  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya  Al-Quran dalam bahasa asing  niscaya mereka berkata:  لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ  -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ  -- Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.” وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی  --  Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh.  (Hā MīmAs-Sajdah [41]:45).

Keselarasan Perkembangan  Manusia dengan Bahasa  yang Dipergunakannya

       Makna kalimat: لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ  -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan?”   bahwa dari seluruh bahasa yang ada di dunia ini   bahasa Arab adalah yang paling lengkap dan sempurna dalam segala sesuatunya, termasuk  kelengkapan makna-makna  akar-katanya, sejalan dengan perkembangan manusia  dari sepasang laki-laki dan perempuan menjadi  berbagai bangsa dan suku-suku bangsa  yang kemudian menghasilkan aneka ragam bahasa  yang merupakan  cabang-cabang dan ranting dari bahasa Arab sebagai “induk bahasa-bahasa”, firman-Nya:
 یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ  مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuanوَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا -- dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku لِتَعَارَفُوۡا -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ  --  Sesungguhnya  yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ --  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurat [49]:14).
  Syu’ub itu jamak dari sya’b, yang berarti: suku bangsa besar, induk suku-suku bangsa disebut qabilah, tempat mereka berasal dan yang meliputi mereka; suku bangsa (Lexicon Lane).  Karena manusia merupakan makhluk sosial  maka guna berinteraksi satu sama lain  maka manusia memerlukan sarana komunikasi, salah satunya adalah bahasa, sehingga manusia  dapat    mewujudkan lita’ārafu  (supaya saling mengenal), yakni saling mengambil manfaat dari kelebihan  masing-masing.   Mengisyaratkan kepada lita’ārafu  (supaya saling mengenal) itu pulalah sabda   Nabi Besar Muhammad saw mengenai hikmah:
Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang beriman. Di mana saja ia menemukannya  maka ambillah.” (HR. Tirmidzi).

Berbagai Makna “Bahasa”  dan “Membaca”  & Genapnya Nubuatan Al-Quran

       Kembali kepada pentingnya  keberadaan berbagai   bahasa,     makna “bahasa”  -- sebagai sarana berkomunikasi   -- sangat luas,  sebab “bahasa” tidak hanya dengan terkait dengan suara ucapan  melalui mulut,  tetapi  juga melingkupi   berbagai bentuk  isyarat – misalnya --   melalui  gerakan tubuh dan lain-lain,  sehingga muncul istilah “bahasa tubuh” (body language) dan   “bahasa wajah” atau  mimik. Contohnya   sarana   komunikasi di kalangan orang-orang yang tuna-rungu  yang dapat melihat adalah menggunakan  gerakan-gerakan tangan serta   dan bahasa wajah  (mimik).
       Cara manusia  melakukan  komunikasi   dengan sesamanya dilakukan  secara lisan (verbal),  yang disebut “bahasa lisan” dan secara tulisan atau “bahasa tulisan” dimana  untuk melakukannya  kedua belah pihak yang berkomunikasi memerlukan kemampuan membaca dan menulis.
       Di Akhir Zaman ini  berbagai cara dan  sarana  untuk melakukan komunikasi tersebut benar-benar sangat mutakhir (canggih), sehingga  umat manusia yang tersebar  di berbagai pelosok dunia pun seakan-akan berada dalam satu ruangan, dengan demikian    nubuatan dalam Al-Quran menjadi genap (sempurna), firman-Nya:
وَ  اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ ۪ۙ﴿﴾
“Dan apabila orang-orang dikumpulkan” (At-Takwīr [81]:8).
     Kemajuan pesat dalam pembuatan  sarana-sarana pengangkutan (transportasi) dan komunikasi   berkembang pesat sedemikian rupa,  sehingga  hubungan antar bangsa yang mendiami negeri-negeri jauh  menjadi demikian mudah dan lancar yang  membuat mereka bersatu menjadi “satu bangsa”.
      Ayat ini mengandung pula arti bahwa orang-orang yang mempunyai pandangan-pandangan sama mengenai sosial (kemasyarakatan),   politik  mau pun ekonomi akan menggabungkan diri dalam wadah partai-partai dan sebagainya,  sehingga menggenapi nubuatan  Al-Quran lainnya, firman-Nya:
یَوۡمَئِذٍ یَّصۡدُرُ  النَّاسُ اَشۡتَاتًا ۬ۙ لِّیُرَوۡا اَعۡمَالَہُمۡ ؕ﴿﴾ فَمَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ خَیۡرًا یَّرَہٗ ؕ﴿﴾   وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ  شَرًّا یَّرَہٗ ٪﴿﴾
“Pada hari itu manusia akan kekuar dalam golongan-golongan terpisah supaya kepada mereka dapat diperlihatkan amal mereka.    Maka barangsiapa berbuat kebaikan seberat atom  sekali pun ia akan melihat hasil-nya,   dan barangsiapa berbuat keburukan seberat atom sekali pun ia akan melihat hasilnya.  (Al-Zilzal [90]:7-9).
  Ayat tersebut bukan hanya mengisyaratkan  kepada gambaran keadaan pada “Hari Pembalasan”  di akhirat saja, tetapi juga  mengandung berbagai nubuatan yang akan terjadi  di Akhir Zaman ini, yakni  untuk memelihara dan menjaga kepentingan politik, sosial, dan ekonomi mereka, di Akhir Zaman ini orang-orang menggabungkan diri dalam partai-partai, perhimpunan-perhimpunan, dan golongan-golongan atas dasar politik dan ekonomi; dan serikat-serikat sekerja dalam bentuk koperasi, PT., CV., atau gilda-gilda, kartel-kartel, dan sindikat-sindikat perkasa.

Munculnya Berbagai  Organisasi Internasional  dan   Berbagai “Bahasanya”   & “Bahasa Sandi” (Bahasa Isyarat)

  Pendek kata,  perorangan-perorangan akan menghimpun sumber-sumber daya mereka dan usaha-usaha bersama akan mengambil alih usaha-usaha perorangan dengan tujuan supaya bobot pengaruh mereka dapat dirasakan, dan supaya upaya dan jerih-payah mereka dapat meraih hasil baik.
 Bahkan  bukan hanya orang perorang, tetapi juga  bangsa-bangsa (negara-negara) di dunia ini pun telah berhimpun dalam berbagai bentuk “perkumpulan” yang berlandaskan ekonomi dan politik dan  militer, seperti: 1. ASEAN   (Association of South East Asian Nations); 2. AFTA   (ASEAN Free Trade Area); 3. APEC   (Asia Pacific Economic Coorperation); 4. Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) atau European Economic Community (EEC); 5. Prganization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) ; 6. Liga Arab;  7. Pasar Tunggal Eropa (PTE); 8. Islamic Development Bank (IDB); 8. North Atlantic Treaty Organization (NATO); 9. Konfrensi Asia Afrika (KAA), dll.
 Makna ayat selanjutnya: فَمَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ خَیۡرًا یَّرَہٗ   -- Maka barangsiapa berbuat kebaikan seberat atom  sekali pun ia akan melihat hasilnyaوَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ  شَرًّا یَّرَہٗ    -- “dan barangsiapa berbuat keburukan seberat atom sekali pun ia akan melihat hasilnya.” (Al-Zilzal [90]:8-9).
  Dengan melihat kenyataan tersebut maka makna “bahasa” pun menjadi berkembang yaitu “bahasa ekonomi”, “bahasa politik” “bahasa militer” dan lain-lain, selain  “bahasa agama”.  Jenis “bahasa” lainnya yang dipergunakan di kalangan  militer  adalah  “bahasa intelijen”  atau  “bahasa sandi”. Semua jenis “bahasa” tersebut memiliki kekhususan masing-masing dalam cara  “membacanya” serta dalam “memaknainya.
  Mengenai  “bahasa sandi” dalam dunia intelijen,  di dalam Al-Quran Allah Swt. berfirman sehubungan dengan   Bani Israil  ketika mereka berada di tempat pembuangan mereka di Babil selama 100 tahun (QS.2:260), sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. atas kedurhakaan mereka (QS.5:79-80).

Gerakan Rahasia   Orang-orang Yahudi Menentang Nabi Besar Muhammad Saw.

  Gerakan rahasia dan “bahasa sandi” tersebut digunakan pula oleh para pemuka kaum Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.,  yaitu  dalam rangka melakukan pendustaan dan penentangan terhadap kerasulan beliau saw., padahal nubuatan  mengenai beliau saw. terdapat dalam Kitab-kitab suci mereka (QS.2:147; QS.6:21), firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ  رَسُوۡلٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ نَبَذَ فَرِیۡقٌ مِّنَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ ٭ۙ کِتٰبَ اللّٰہِ وَرَآءَ  ظُہُوۡرِہِمۡ کَاَنَّہُمۡ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾۫ وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ  وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ  وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ  بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ  اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ  اَنۡفُسَہُمۡ  ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  tatkala datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah, مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  -- menggenapi apa yang ada pada mereka,  نَبَذَ فَرِیۡقٌ مِّنَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  -- segolongan dari orang-orang yang diberi Alkitab کِتٰبَ اللّٰہِ وَرَآءَ  ظُہُوۡرِہِمۡ کَاَنَّہُمۡ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ -- membuang Kitab Allah ke belakang punggungnya,   seolah-olah mereka tidak mengetahui.  وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ  --  Dan mereka mengikuti apa yang diikuti  oleh syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa  kerajaan Sulaimanوَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا  -- dan bukan Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan  itulah yang kafir, یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ  -- mereka mengajarkan sihir kepada manusia.  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ  وَ مَارُوۡتَ  -- Tetapi mereka itu mengaku  mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua  malaikat, Harut dan Marut  di Babil.  وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ  -- Dan keduanya tidaklah me-ngajar seorang pun hingga  mereka mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan dari Tuhan, karena itu janganlah kamu kafir.” فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ  وَ زَوۡجِہٖ   --  Lalu  orang-orang belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pe-misahan di antara laki-laki dan istrinya, وَ مَا ہُمۡ  بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ  اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ  -- dan mereka sekali-kali tidak mendatangkan mudarat kepada se-orang pun dengan itu kecuali dengan seizin Allah, وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  -- sedangkan  mereka ini  belajar hal yang mendatangkan mudarat kepada diri mereka dan tidak bermanfaat   baginya. وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ  -- Dan sungguh mereka benar-benar mengetahui bahwa barangsiapa berniaga dengan cara ini  tidak ada baginya suatu bagian keuntungan di akhirat, وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ  اَنۡفُسَہُمۡ  ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ  -- dan benar-benar sangat buruk hal yang untuk itu mereka menjual dirinya, sean-dainya mereka mengetahui. (Al-Baqarah [2]:102-103).
   Ayat 102  mengisyaratkan kepada perbuatan licik  para pemuka agama Yahudi yang menyembunyikan atau mensalah-tafsirkan berbagai nubuatan dalam Kitab-kitab suci mereka berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran, yang mengenai keberadaaan nubuatan-nubuatan tersebut mereka mengenalnya sebagaimana  mereka mengenal anak-anak mereka  sendiri (QS.2:147; QS.6:21).

Makna “Setan-setan” yang Melakukan Makar Buruk Terhadap Nabi Sulaiman a.s. Dengan “Sihirnya”

  Ayat 103 termasuk ayat Al-Quran yang mutasyabihāt (samar – QS.3:8)  karena itu memerlukan keahlian  khusus  cara “membacanya” dan “memaknainya”,  karena sebagaimana  peringatan Allah Swt. dalam QS.3:8 orang-orang yang  dalam hatinya ada kebengkokan mereka akan menafsirkannya secara keliru.
 Perlu diketahui, bahwa yang dikemukakan dalam ayat 103 menceritakan  tentang gerakan-gerakan rahasia yang dilakukan oleh orang-orang  Yahudi pada kesempatan yang berbeda serta  dengan tujuan yang berbeda pula, yakni:
  (1) Gerakan rahasia yang   terjadi pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s.   yang dilakukan oleh para pembangkang yang melakukan berbagai bentuk  fitnah dan makar  buruk – bahkan upaya pembunuhan   – sejak zaman pemerintahan Nabi Daud a.s. (QS.38:18-27) sampai dengan masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s..
  Gerakan rahasia  di masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s. tersebut menggunakan “bahasa sandi”   yang maknanya hanya difahami di antara  para pemimpin mereka, karena itu    Al-Quran  menyebut mereka itu mengajarkan sihir karena bertujuan melakukan makar buruk terhadap pemerintahan Nabi  Sulaiman a.s., sehingga dalam ayat ini Allah Swt. menyebut mereka sebagai syayāthīn (setan-setan): وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ  --  Dan mereka mengikuti apa yang diikuti  oleh syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa  kerajaan Sulaimanوَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا  -- dan bukan Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan  itulah yang kafir, یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ  -- mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” 
      Sihr berarti: akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu dalam bentuk kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka lain dari kenyataannya (Lexicon Lane). Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik yang dimaksudkan untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari penglihatan orang, adalah termasuk sihir juga.
  Sedangkan  dalam QS.34:13-15  para pelaku gerakan rahasia  yang dilakukan “setan-setan” – yakni para pembangkang -- itu disebut “rayap bumi” yang “memakan tongkat” Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ  الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ  اِلَّا دَآبَّۃُ  الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Maka tatkala Kami menentukan kematiannya, sekali-kali tidak ada  yang menunjukkan kematiannya kepada mereka selain rayap bumi  yang memakan tongkatnya. Lalu tatkala tongkat itu jatuh, jin-jin  mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib,  mereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan.  (Sabā [34]:15).
       Makna “tongkat” dalam ayat tersebut mengisyaratkan kepada kerajaan atau kekuasaan Nabi Sulaiman a.s.,  dan golongan jin – yang bangsa-bangsa asing  yang ditaklukkan   oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. –  yang berada jauh dari pusat kerajaan Nabi Sulaiman a.s.. bahwa mereka itu baru menyadari  kewafatan Nabi Sulaiman a.s. setelah mereka menyaksikan bahwa di kalangan kerajaan Bani Israil telah terjadi kekacauan, sehingga akhirnya mereka pun dapat membebaskan diri mereka, itulah makna ucapan mereka:  فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ  -- “Lalu tatkala tongkat itu jatuh, jin-jin  mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib,  mereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan.”
      Putra yang sia-sia sebagai penerus Nabi Sulaiman a.s. yakni  Rehoboam; di bawah pemerintahannya yang lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang tadinya besar dan berkuasa telah menjadi berantakan (I  Raja-raja, fatsal 12, 13, 14 & Jewish Encyclopaedia di bawah “Rehoboam”).

“Jasad  Tanpa Ruh”   di Atas Singgasana Nabi Sulaiman a.s.

     Kehancuran dan keterpecahbelahan kerajaan Nabi Sulaiman a.s. mulai berlaku pada masa pemerintahan Rehoboam, yang dalam Al-Quran digambarkan sebagai “jasad tak bernyawa yang duduk di singgasana” Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ فَتَنَّا سُلَیۡمٰنَ وَ اَلۡقَیۡنَا عَلٰی کُرۡسِیِّہٖ  جَسَدًا ثُمَّ  اَنَابَ ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ وَ ہَبۡ لِیۡ مُلۡکًا لَّا یَنۡۢبَغِیۡ لِاَحَدٍ مِّنۡۢ بَعۡدِیۡ ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ  ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menguji Sulaiman serta Kami menempatkan di atas singgasananya suatu tubuh belaka,  kemudian ia kembali kepada Tuhan-nya. Ia berkata: “Wahai Rabb-ku (Tuhan-ku), ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku suatu kerajaan yang tidak layak diwarisi oleh seseorang sesudahku. Sesungguhnya Engkau be-nar-benar Maha Pemberi anugerah.” (Shād [38]:35-36).
   Dalam QS.34:15 ungkapan yang dipakai ialah, “rayap bumi,” yang dapat mengisyaratkan kepada putra dan ahli waris Nabi Sulaiman a.s., aitu Rehoboam, seorang pewaris kerajaan  yang tidak berharga, atau kepada Jeroboam, oknum yang mengibarkan panji pemberontakan terhadap bangsa Nabi Daud a.s..  (I Raja-raja 12:28).
     Nabi Sulaiman a.s.  telah menyadari bahwa sesudah beliau wafat, kerajaan beliau tak akan dapat mempertahankan keutuhannya di bawah para penerus beliau yang tak cakap lagi tanpa berkemampuan itu. Oleh karena itu beliau menghadap dan mendoa ke hadirat Allah Swt.
      Doa tersebut  dicantumkan dalam ayat berikutnya: قَالَ رَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ وَ ہَبۡ لِیۡ مُلۡکًا لَّا یَنۡۢبَغِیۡ لِاَحَدٍ مِّنۡۢ بَعۡدِیۡ ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ -- “Ia berkata: “Wahai Rabb-ku (Tuhan-ku), ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku suatu kerajaan yang tidak layak diwarisi oleh seseorang sesudahku.  Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah.”
       Seperti nampak dari ayat sebelum ini Nabi Sulaiman a.s.    telah mempunyai firasat bahwa kerajaan duniawi beliau akan menjadi terpecah-belah sesudah beliau wafat, disebabkan oleh kelemahan mental putra beliau yang tolol dan tidak berharga itu; maka beliau mendoa supaya kerajaan ruhani yang telah dianugerahkan Tuhan kepada keturunannya dapat berjalan terus.
Bila kata-kata  “suatu kerajaan yang tidak layak diwarisi oleh seseorang sesudahku,” diartikan secara harfiah, maka doa Nabi Sulaiman a.s. akan dipahami sudah terkabul dalam artian bahwa sesudah wafat beliau tidak akan ada raja di antara kaum Bani Israil yang memiliki kekuasaan dan pamor seperti beliau sendiri.
   Jadi, mengisyaratkan kepada   gerakan makar buruk  yang dilakukan para penentang di zaman pemerintahan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. itulah yang diisyaratkan dalam firman-Nya:     وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ  --  Dan mereka mengikuti apa yang diikuti  oleh syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa kerajaan Sulaimanوَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا  -- dan bukan Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan  itulah yang kafir”.  (Al-Baqarah [2]:103).

Dua “Malaikat” Harut dan Marut  di Babil

 (2) Gerakan rahasia  kedua terjadi  pada masa pembuangan orang-orang Yahudi di Babilonia, yakni mereka mengadakan persekutuan rahasia  dengan Cyrus (Koresy), Raja kerajaan Fersia dan Media, dalam mengalahkan kerajaan Babilonia, yang dalam  pelaksanaannya dipimpin oleh dua orang suci  di kalangan Bani Israil yang dalam ayat  itu disebut dua  malaikat yaitu Harut dan Marut, firman-Nya:  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ  وَ مَارُوۡتَ  -- Tetapi mereka itu mengaku  mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua  malaikat, Harut dan Marut  di Babil.  وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ  -- Dan keduanya tidaklah mengajar seorang pun hingga  mereka mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan dari Tuhan, karena itu janganlah kamu kafir.” فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ  وَ زَوۡجِہٖ   --  Lalu  orang-orang belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pemisahan di antara laki-laki dan istrinya, وَ مَا ہُمۡ  بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ  اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ  -- dan mereka sekali-kali tidak mendatangkan mudarat kepada seorang pun dengan itu kecuali dengan seizin Allah, وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  -- sedangkan  mereka ini  belajar hal yang mendatangkan mudarat kepada diri mereka dan tidak bermanfaat   baginya. وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ  -- Dan sungguh mereka benar-benar mengetahui bahwa barangsiapa berniaga dengan cara ini  tidak ada baginya suatu bagian keuntungan di akhirat, وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ  اَنۡفُسَہُمۡ  ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ  -- dan benar-benar sangat buruk hal yang untuk itu mereka menjual dirinya, sean-dainya mereka mengetahui. (Al-Baqarah [2]:103).
      Kata “dua malaikat” di sini maksudnya dua orang suci (QS.12:32), sebab kedua malaikat itu di sini diterangkan sebagai mengajar sesuatu kepada orang banyak, padahal malaikat itu tidak pernah tinggal bersama manusia dan tidak bergaul bebas dengan mereka (QS.17:95; QS.21:8).
      Harūt dan Marūt itu keduanya nama sifat, yang pertama berasal dari harata (yakni merobek — Al-Aqrab-ul-Mawarid) berarti  “orang merobek”, dan yang kedua berasal dari marata (artinya: ia memecahkan) berarti orang yang memecahkan.
      Nama-nama itu mengandung arti bahwa tujuan munculnya orang-orang suci itu adalah  untuk “merobek” dan “memecahkan” kemegahan dan kekuasaan kerajaan musuh-musuh kaum Bani Israil, yakni raja Nebukadnezar yang  menghancurkan kota Yerusalem dan mengangkut mereka dari Palestina Ke Babilonia  (QS.2:260).
     Orang-orang suci ini pada waktu upacara pelantikan menerangkan kepada anggota-anggota baru  bahwa mereka itu semacam percobaan dari Allah Swt. untuk maksud memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Mereka membatasi keanggotaan perkumpulan mereka hanya pada kaum pria.

Kegagalan  Makar Buruk  “Gerakan Rahasia” Orang-orang Yahudi Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw.

     Ayat itu berarti bahwa orang-orang Yahudi pada masa Nabi Besar Muhammad saw.  ikut-ikutan dalam rencana dan perbuatan jahat yang sama, seperti halnya yang menjadi ciri nenek-moyang mereka di zaman Nabi Sulaiman a.s.  – yang disebut  syayāthīn (setan-setan)  yang mengajarkan “sihir.
      Dikatakan selanjutnya bahwa perusuh-perusuh di zaman Nabi Sulaiman a.s. adalah pemberontak-pemberontak yang menuduh beliau sebagai orang kafir. Ayat ini membersihkan Nabi Sulaiman a.s. dari tuduhan kafir mereka itu. Ditambahkannya bahwa pemberontak-pemberontak di zaman Nabi Sulaiman a.s. itu mengajarkan kepada rekan-rekan mereka sandi-sandi (lambang-lambang rahasia) yang mengandung  arti yang sama sekali berbeda dari arti yang umumnya dipahami, dengan tujuan menipu orang dan menyembunyikan maksud sebenarnya.
     Ayat ini mengisyaratkan kepada sekongkol rahasia yang dilancarkan para penentang Nabi Sulaiman a.s. terhadap beliau. Dengan jalan itu mereka berusaha menghancurkan kerajaannya. Hal itu mengandung arti bahwa orang-orang Yahudi Medinah  juga  mempergunakan pula siasat kotor yang sama terhadap  Nabi Besar Muhammad saw.,  tetapi mereka tidak akan berhasil dalam rencana-rencana jahatnya itu.
       Ketika orang-orang Yahudi menyaksikan kekuasaan Islam terus-menerus meluas dan perlawanan terhadap Islam di tanah Arab telah dihancurkan sepenuhnya oleh Nabi Besar Muhammad saw., sehingga mereka tidak dapat menghentikan atau memperlambat kemajuannya, lalu mereka mulai menghasut orang-orang luar melawan Islam. Dan karena ditindas dan dizalimi  oleh penguasa-penguasa kerajaan Kristen, mereka mencari perlindungan di Persia serta memindahkan pusat agama mereka dari Yehuda ke Babil (Hutchison’s of Nation’s, halaman 550).
     Berangsur-angsur mereka mulai memasukkan pengaruh besarnya ke dalam istana raja-raja Persia dan mulai membuat komplotan terhadap Islam. Ketika Khusru II menerima surat dari  Nabi Besar Muhammad saw.  mengajaknya agar menerima Islam, orang-orang Yahudi di sana  berhasil menghasutnya supaya mengirimkan perintah kepada Badhan, Gubernur Yaman, yang pada masa itu merupakan propinsi Persia, agar menangkap dan mengirimkan Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai tawanan dengan dirantai ke istana Persia. Kepada komplotan-komplotan dan sekongkol orang-orang Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  itulah ayat (QS.2:103) ini menunjuk.
      Perhatian mereka ditarik kepada kenyataan bahwa pertama nenek-moyang mereka pun  telah melancarkan komplotan  terhadap Nabi Sulaiman a.s.   ketika beberapa anggota masyarakatnya telah mendirikan perkumpulan-perkumpulan rahasia melawan beliau. Di dalam perkumpulan-perkumpulan rahasia itu diajarkan lambang-lambang dan sandi-sandi  (I Raja-raja 11:29-32; I  Raja-raja 11:14, 23, 26; II Tawarikh 10:2-4).
      Kejadian kedua ketika mereka menghidupkan kembali perkumpulan-perkumpulan rahasia ialah pada waktu mereka masih dalam tawanan di Babil pada zaman Raja Nebukadnezar.  Dan orang-orang suci yang disinggung dalam ayat ini ialah Nabi Hijai, dan Zakaria bin Ido (Ezra 5:1).
     Orang-orang suci – yang disebut  dua malaikat: Harut dan Marut  -- itu membatasi keanggotaannya pada kaum pria, dan menerangkan kepada para anggota baru pada waktu upacara pelantikan bahwa mereka itu semacam cobaan dari Tuhan, dan bahwa oleh karena itu kaum Bani Israil hendaknya jangan mengingkari apa-apa yang dikatakan mereka.
       Ketika kekuasaan Cyrus — raja Media dan Persia — bangkit, orang-orang Bani Israil di pembuangan mengadakan perjanjian rahasia dengan beliau. Hal demikian sangat mempermudah untuk mengalahkan kerajaan  Babil. Sebagai imbalan atas jasa (kerjasama rahasia) itu, Cyrus bukan saja mengizinkan mereka kembali ke Yeruzalem, tetapi membantu mereka pula dalam pembangunan kembali Rumah Peribadatan Nabi Sulaiman a.s. (Historians’ History of the World, ii 126).

Dua Macam “Gerakan Rahasia” Tetapi  Hasilnya    Berbeda

     Ayat ini mengisyaratkan bahwa upaya-upaya kaum Yahudi pada dua peristiwa yang telah lewat itu telah membawa hasil-hasil berlainan. Pada peristiwa pertama, komplotan mereka bertujuan untuk melawan Nabi Sulaiman a.s. dan disudahi dengan kehilangan seluruh kewibawaan dan akhirnya mereka dibuang ke Babil ketika Yerusalem diserbu oleh Nebukadnezar dari Babilonia. Pada peristiwa kedua mereka mengambil cara-cara yang sama, di bawah pimpinan dua wujud yang mendapat wahyu  -- yang disebut “dua malaikat”  -- dan mereka berhasil gilang-gemilang.
     Untuk menegaskan bahwa  apakah kegiatan rahasia  (makar buruk)  kaum Yahudi terhadap Nabi Besar Muhammad saw. akan menemui kegagalan seperti dialami mereka di masa Nabi Sulaiman a.s.,  ataukah akan berhasil seperti di Babil, maka Al-Quran menyatakan: وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  -- “sedangkan  mereka ini  belajar hal yang mendatangkan mudarat kepada diri mereka dan tidak bermanfaat   baginya” mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan berhasil seperti keberhasilan nenek-moyang mereka di Babil.
    
(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 23 Maret  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar