Senin, 21 Maret 2016

Al-Quran Diwahyukan Allah Swt. Melalui "Ruuh-ul-Amiin" (Malaikat Jibril a.s.) Kepada "Al-Amiin" (Nabi Besar Muhammad Saw.) & Nubuatan "Pewahyuan" Kembali "Ruh" Al-Quran Kepada Seorang 'Ajami (Bukan Bangsa Arab) yang Sangat "Fasih" Berbahasa Arab


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



   Al-Quran Diwahyukan Allah Swt. Melalui   Rūh-ul- Amīn  (Malaikat Jibril a.s.) Kepada Al-Amīn (Nabi Besar Muhammad Saw.)    & Nubuatan “Pewahyuan” Kembali  "Ruh" Al-Quran Kepada Seorang ‘Ajami (Bukan Bangsa Arab) yang Sangat Fasih Berbahasa Arab

Bab 3


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai berbagai fakta  mengapa bahasa Arab lebih unggul  dari seluruh bahasa lainnya dalam bukuMinar-ur-Rahmaankarya Masih Mau’ud a.s., antara lain beliau bersabda:
        “…. Berbeda dengan perkataan dalam bahasa Arab, kata-kata dari bahasa-bahasa yang disebutkan itu terdengar lemah, cacat, buta, tuli, buruk rupa dan sama sekali tidak mengandung pola alamiah. Kosa-kata bahasa-bahasa tersebut miskin akarnya dan tidak memenuhi syarat sebagai bahasa yang sempurna.
      Jika ada dari kaum Arya atau para lawan lainnya yang tidak meyakini hasil penelitian ini, berikut kami sampaikan rincian pertimbangan yang menjadikan bahasa Arab lebih superior, sempurna dan unggul dibanding [bahasa-bahasa]  yang lainnya:
1.  Akar kata bahasa Arab memiliki pola yang sempurna
2.     Bahasa Arab mempunyai konotasi intelektual yang amat tinggi.
3.     Sistem dari kata-kata dasar dalam bahasa Arab amat lengkap dan sempurna.
4.     Dalam idiom bahasa Arab, beberapa kata saja bisa memiliki pengertian yang ekstensif
5.  Bahasa Arab memiliki kemampuan penuh untuk pengungkapan semua perasaan dan fikiran manusia.
     Setelah penerbitan buku kami itu, setiap orang dipersilakan, kalau mampu, membuktikan bahwa sifat-sifat itu juga terdapat dalam bahasa Sanskerta atau pun bahasa lainnya.” (Dhiaul Haqq, Qadian, Ziaul Islam Press, 1895; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm. 320-321, London, 1984).
      Erat hubungannya dengan sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman mengapa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) diwahyukan   kepada Nabi Besar Muhammad saw.   --   yang berkebangsaan Arab  --  dalam bahasa Arab, firman-Nya:
وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ ؕ  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya  Al-Quran dalam bahasa asing  niscaya mereka berkata:  لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ  -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.” Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh.  (Hā MīmAs-Sajdah [41]:45).

“Rūh-ul-Amīn” (Malaikat Jibril a.s.) Pembawa Wahyu Al-Quran Kepada “Al-Amīn” (Nabi Besar Muhammad  Saw.)

        Makna kalimat: لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ  -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan?”   bahwa – sebagaimana penjelasan Masih Mau’ud a.s.   -- dari seluruh bahasa yang ada di dunia ini   bahasa Arab adalah yang paling lengkap dan sempurna dalam segala sesuatunya, termasuk kelengkapan makna-makna  akar-katanya,  sebagaimana firman-Nya:
وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ  نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ  عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾  بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ  وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ؕ  کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam. نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ   --  Telah turun dengannya  Ruh yang terpercaya عَلٰی قَلۡبِکَ   لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ  -- atas kalbu engkau,  supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan. بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ  --  Dengan bahasa Arab yang jelas.  وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ   -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  -- Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ  --   Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ  --  lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ --  Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati  orang-orang yang berdosa. (Asy-Syu’arā [26]:193-201).
        Dalam ayat 194     malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut rūhul-amīn yaitu Ruh yang terpercaya. Di tempat lain disebut Ruhul-qudus (ruh suci QS.16:103). Rūhul-qudus merupakan nama kehormatan terakhir dipergunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan Al-Quran yang kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan atau noda; sedangkan penggunaan nama kehormatan    Rūhul-Amīn mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya mau pun makna-maknanya yang hakiki (QS.15:10).
      Nama kehormatan Rūhul-Amīn ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya dimana kata-kata dalam kitab-kitab suci  sebelum Al-Quran itu    karena berlalunya masa telah menderita campur tangan manusia dan perubahan.
        Sungguh mengherankan, bahwa di Mekkah  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri dikenal  di kalangan  kaum beliau sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibril a.s. kepada seorang amīn (terpercaya), yakni Nabi  Besar Muhammad saw..
      Kata-kata  عَلٰی قَلۡبِکَ   -- “atas kalbu engkau” telah dibubuhkan untuk mengatakan  bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan   gagasan yang dicetuskan Nabi Besar Muhammad saw.  dengan perkataan beliau sendiri, melainkan benar-benar Kalam Allah Swt.   Sendiri, yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibrail a.s. (QS.2:98; QS.53:1-8).
       Makna ayat: وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ   -- “Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu” bahwa hal diutus-Nya  Nabi Besar Muhammad saw.  dan hal  diwahyukan-Nya  Al-Quran, kedua-duanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.

Sangat Dikenal Bagaikan Mengenali Anak-anak Sendiri

      Makna ayat selanjutnya: اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  -- Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya?   bahwa  kabar-kabar gaib (nubuatan-nubuatan)  tentang Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw. didapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible — yang merupakan kitab suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya  konon merupakan rekan sejawat yaitu sebagai kitab syariat — mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14.
      Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa pengetahuan para ulama Bani Israil mengenai keberadaan nubuatan-nubuatan mengenai  Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu Al-Quran tersebut bagaikan mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ؔ اَلۡحَقُّ  مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾٪
Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya  sebagaimana mereka mengenal   anak-anaknya, dan sesungguhnya segolongan dari mereka benar-benar  menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui. Kebenaran ini dari Rabb (Tuhan) engkau, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah [2]:147-148). Lihat pula QS.6:21.
       Kata ganti “nya” (atau dia) dalam kalimat یَعۡرِفُوۡنَہٗ  -- “mereka mengenalnya” dapat dianggap menunjuk kepada perubahan kiblat atau kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat sebelumnya. Jadi anak kalimat “mereka mengenalnya  sebagaimana mereka mengenal   anak-anaknya”   berarti bahwa para Ahlul Kitab mengetahui atas dasar nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Kitab-kitab suci mereka bahwa seorang nabi Allah  akan muncul di tengah-tengah orang Arab yang akan mempunyai hubungan istimewa dengan Ka’bah (Baitullah)
      Ya’rifuna-hu berasal dari ‘arafa yang berarti ia mengetahui atau mengenal atau melihat sesuatu. Meskipun kata itu dipakai pula mengenai ilmu yang diperoleh melalui pancaindra jasmani, kata itu terutama dipakai mengenai ilmu yang diperoleh lewat renungan dan tafakur (Al-Mufradat).

Kebiasaan Buruk  Mendustakan Pendakwaan Para Rasul Allah

        Kemudian makna ayat selanjutnya: وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ  --   Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ  --  lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ --   Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati  orang-orang yang berdosa. (Asy-Syu’arā [26]:199-201).
       Pernyataan Allah Swt. tersebut  mengisyaratkan kepada kebiasaan buruk orang-orang kafir  yang  berakar dalam hati mereka sendiri, dan kebiasaan buruk itu lahir akibat mereka telah bergelimang dalam dosa dan keburukan, dan bukanlah datang dari luar.
     Sekali pun Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang bangsa Arab  dan juga orang yang butahuruf  --- bahkan kaum beliau saw.  sendiri yang menyebut beliau sebagai al-amīn (orang yang jujur)   -- tetapi Abu Jahal dan para pemuka kaum kafir Quraisy lainnya tetap mendustakan kerasulan beliau saw. dan mendustakan  Al-Quran yang diwahyukan Allah Swt. kepada beliau saw., firman-Nya:
وَ  اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ  اٰیَاتُنَا بَیِّنٰتٍ ۙ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا ائۡتِ بِقُرۡاٰنٍ غَیۡرِ  ہٰذَاۤ  اَوۡ بَدِّلۡہُ ؕ قُلۡ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اُبَدِّلَہٗ  مِنۡ تِلۡقَآیِٔ  نَفۡسِیۡ ۚ اِنۡ  اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ ۚ اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اِنۡ عَصَیۡتُ رَبِّیۡ  عَذَابَ  یَوۡمٍ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾  قُلۡ لَّوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ  وَ لَاۤ اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ ۫ۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ  قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾   فَمَنۡ  اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat (Tanda-tanda)  Kami yang nyata,  قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا ائۡتِ بِقُرۡاٰنٍ غَیۡرِ  ہٰذَاۤ  اَوۡ بَدِّلۡہُ --    orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata:  Datangkanlah yang bukan Al-Quran ini, اَوۡ بَدِّلۡہُ -- atau ubahlah dia.” قُلۡ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اُبَدِّلَہٗ  مِنۡ تِلۡقَآیِٔ  نَفۡسِیۡ  --  Katakanlah: “Sekali-kali tidak patut bagiku untuk mengubahnya dari pihak dirikuاِنۡ  اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ --  tidaklah aku  kecuali hanya  mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku,  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اِنۡ عَصَیۡتُ رَبِّیۡ  عَذَابَ  یَوۡمٍ  عَظِیۡمٍ -- sesungguhnya aku takut pada azab Hari yang  besar  jika aku mendurhakai Rabb (Tuhan-ku).”  قُلۡ لَّوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ  وَ لَاۤ اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ   --   Katakanlah: “Seandainya  Allah menghendaki,  aku sama sekali tidak akan  membacakannya kepada kamu dan tidak pula Dia akan memberitahukan mengenainya kepada kamu. فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ  قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ -- Maka sungguh sebelum ini aku telah tinggal bersama kamu dalam masa yang panjang, tidakkah kamu mempergunakan akal?” فَمَنۡ  اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ  --    Maka  siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya?  اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Sesungguhnya orang-orang berdosa  tidak akan berhasil.” (Yunus [10]:16-18).
     Makna “Azab Hari yang besar”  pada ayat “sesungguhnya aku takut pada azab Hari yang  besar  jika aku mendurhakai Rabb (Tuhan-ku)  mengandung arti malapetaka nasional.

Mengingkari Kesaksian Sendiri

        Ayat 17:  فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ  قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ --  “Maka sungguh sebelum ini aku telah tinggal bersama kamu dalam masa yang panjang, tidakkah kamu mempergunakan akal?”  ayat tersebut   mengandung batu ujian yang amat jitu untuk menguji kebenaran seseorang yang mengaku dirinya seorang nabi Allah. Bila kehidupan seorang nabi Allah  sebelum dakwa kenabiannya menampakkan kejujuran dan ketulusan hati yang bertaraf luar biasa tingginya, dan di antara masa itu dengan dakwa kenabiannya tidak ada masa-antara yang dapat memberikan kesan  bahwa beliau telah jatuh dari keutamaan akhlak yang tinggi tarafnya itu, maka dakwa kenabiannya harus diterima sebagai dakwa orang yang tinggi akhlaknya, orang jujur, dan benar.
     Mengapa demikian? Sebab seseorang yang terbiasa kepada suatu sikap atau tingkah-laku tertentu disebabkan adat-kebiasaannya atau tabiatnya, akan memerlukan waktu yang lama untuk mengadakan perubahan besar dalam dirinya untuk menjadi orang baik atau orang buruk, karena itu bagaimana mungkin Nabi Besar Muhammad saw.  – yang  mereka sendiri memberi gelar “al-Amīn” (si jujur) kepada beliau saw. --   tiba-tiba dapat berubah menjadi seorang penipu, padahal sepanjang kehidupan beliau  saw. sebelum dakwa kenabian, beliau adalah orang yang tidak ada taranya dalam kejujuran dan kelurusan?
       Ayat selanjutnya: فَمَنۡ  اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya orang-orang berdosa  tidak akan berhasil.”  Ayat  ini menjelaskan dua kebenaran yang kekal:
      (a) Orang-orang yang mengada-adakan dusta mengenai Allah Swt.  dan orang-orang yang menolak dan menentang utusan-utusan-Nya sama sekali tidak akan luput dari hukuman Tuhan;
      (b) Pendusta-pendusta dan nabi-nabi palsu tidak dapat berhasil dalam tujuannya.
    Jadi, kembali kepada ayat: وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ  --   Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ  --  lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ --   Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati  orang-orang yang berdosa. (Asy-Syu’arā [26]:199-201).   
      Sesungguhnya ayat ini menyatakan hakikat umum, bahwa  bila seseorang bergelimang dalam dosa kata maka hatinya menjadi tumpul, malahan dengan berlalunya waktu  tumbuh rasa suka dalam dirinya kepada dosa itu. Dengan cara demikianlah dosa menimbulkan karat dan kerusakan dalam hati orang-orang yang berdosa, sebagaimana firman-Nya: 
وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡنَ یُکَذِّبُوۡنَ بِیَوۡمِ الدِّیۡنِ ﴿ؕ﴾  وَ مَا یُکَذِّبُ بِہٖۤ  اِلَّا کُلُّ مُعۡتَدٍ اَثِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ   ٰیٰتُنَا قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ  یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,   yaitu orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan.   Dan sekali-kali tidak ada yang mendusta-kannya kecuali setiap pelanggar batas lagi sangat berdosa, اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ   ٰیٰتُنَا قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ  --    apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya  ia berkata: “Ini-lah dongeng orang-orang dahulu!” کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ --  Sekali-kali tidak, bahkan  apa yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka. کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ  یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ --     Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya pada hari itu mereka benar-benar terhalang dari melihat  Rabb (Tuhan) mereka.   (Al-Muthaffifīn [83]:11-16).

Nubuatan Pewahyuan Ulang  Hakikat “Al-Quran” di Akhir Zaman  Kepada Masih Mau’ud a.s.

      Pernyataan Allah Swt. dalam ayat:  وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ  --   Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ  --  lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.” (Asy-Syu’arā [26]:199-200),  bukan sekedar “pengandaian” belaka   mengandung  nubuatan.
     Nubuatan tersebut adalah bahwa  ketika Allah Swt. menarik kembali “ruh” Al-Quran dari kalangan umat Islam secara bertahap selama 1000 tahun setelah mereka mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad (QS.32:6), maka di Akhir Zaman    ini  Allah Swt.   telah  “menurunkan” kembali “ruhAl-Quran tersebut kepada “putra ruhani”  terbesar Nabi Besar Muhammad saw.,  dimana  beliau  bukan saja  tidak lahir di wilayah Arabia  bahkan juga beliau tidak sepenuhnya  berbangsa (berdarah) Arab, walau pun berdasarkan  sabda Nabi Besar Muhammad saw.  beliau termasuk  keturunan (Ahli Bait) Nabi Besar Muhammad saw.,  melalui silsilah Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a., dan  wujud yang dijanjikan Allah Swt.  tersebut tersebut adalah Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s., firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
        Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa umat Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
    Nabi Besar Muhammad saw.   diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
      Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
       Dalam hadits lain  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa “Iman akan terbang ke Bintang Suraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi” (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir Surah Al-Jumu’ah). Dengan kedatangan  Masih Mau’ud a.s.  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotannya telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk  Masih yang dijanjikan (Masih Mu’ud a.s.), sebab di zaman beliau   -- yakni di Akhir Zaman ini   -- semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 19 Maret  2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar