Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Al-Quran Diwahyukan
Allah Swt. Melalui Rūh-ul- Amīn
(Malaikat Jibril a.s.) Kepada Al-Amīn (Nabi Besar Muhammad Saw.) & Nubuatan “Pewahyuan” Kembali "Ruh" Al-Quran Kepada Seorang ‘Ajami (Bukan Bangsa Arab) yang Sangat Fasih
Berbahasa Arab
Bab 3
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai berbagai fakta mengapa bahasa Arab lebih unggul dari seluruh bahasa lainnya dalam buku “Minar-ur-Rahmaan” karya Masih Mau’ud a.s., antara lain beliau
bersabda:
“…. Berbeda dengan perkataan dalam bahasa Arab,
kata-kata dari bahasa-bahasa yang
disebutkan itu terdengar lemah, cacat, buta, tuli, buruk rupa dan sama sekali tidak mengandung pola alamiah. Kosa-kata bahasa-bahasa tersebut miskin akarnya dan tidak memenuhi syarat sebagai bahasa
yang sempurna.
Jika ada dari kaum Arya atau para lawan
lainnya yang tidak meyakini hasil
penelitian ini, berikut kami sampaikan rincian
pertimbangan yang menjadikan bahasa
Arab lebih superior, sempurna dan unggul dibanding [bahasa-bahasa] yang lainnya:
1. Akar kata bahasa Arab memiliki pola
yang sempurna.
2.
Bahasa Arab mempunyai konotasi intelektual yang amat tinggi.
3.
Sistem dari kata-kata dasar dalam bahasa
Arab amat lengkap dan sempurna.
4.
Dalam idiom bahasa
Arab, beberapa kata saja bisa
memiliki pengertian yang ekstensif.
5. Bahasa Arab memiliki kemampuan penuh untuk pengungkapan semua perasaan dan fikiran manusia.
Setelah
penerbitan buku kami itu, setiap
orang dipersilakan, kalau mampu, membuktikan bahwa sifat-sifat itu juga terdapat dalam bahasa Sanskerta atau pun bahasa
lainnya.” (Dhiaul
Haqq, Qadian, Ziaul Islam Press, 1895; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm.
320-321, London, 1984).
Erat
hubungannya dengan sabda Masih Mau’ud
a.s. tersebut Allah Swt. berfirman mengapa syariat terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. --
yang berkebangsaan Arab --
dalam bahasa Arab, firman-Nya:
وَ لَوۡ
جَعَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا
لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ
اٰیٰتُہٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ
ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa asing niscaya mereka berkata: لَوۡ
لَا فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? Apakah patut Al-Quran dalam
bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” Katakanlah: ”Al-Quran itu
bagi orang-orang yang beriman
sebagai petunjuk dan penyembuh.” Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,
dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh. (Hā Mīm – As-Sajdah [41]:45).
“Rūh-ul-Amīn” (Malaikat Jibril
a.s.) Pembawa Wahyu Al-Quran Kepada “Al-Amīn” (Nabi Besar Muhammad Saw.)
Makna kalimat: لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ -- ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan?” bahwa – sebagaimana penjelasan Masih Mau’ud a.s. -- dari seluruh
bahasa yang ada di dunia ini bahasa Arab adalah yang paling lengkap dan sempurna dalam segala sesuatunya, termasuk kelengkapan makna-makna akar-katanya, sebagaimana firman-Nya:
وَ
اِنَّہٗ لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ نَزَلَ بِہِ
الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ وَ اِنَّہٗ
لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ
اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ وَ لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی
بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾ؕ کَذٰلِکَ
سَلَکۡنٰہُ فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ
﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.
نَزَلَ بِہِ
الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ -- Telah turun dengannya Ruh
yang terpercaya عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ -- atas
kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan. بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ -- Dengan bahasa
Arab yang jelas. وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu. اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ
اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun
mengetahuinya? وَ لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ -- Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah
seorang di antara orang yang
bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ -- lalu ia
membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ فِیۡ
قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu
dalam hati orang-orang yang
berdosa. (Asy-Syu’arā [26]:193-201).
Dalam ayat 194 malaikat
yang membawa wahyu Al-Quran disebut rūhul-amīn
yaitu Ruh yang terpercaya. Di tempat lain disebut Ruhul-qudus (ruh suci QS.16:103). Rūhul-qudus
merupakan nama kehormatan terakhir
dipergunakan dalam Al-Quran untuk
menunjuk kepada kebebasan Al-Quran yang
kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan
atau noda; sedangkan penggunaan nama
kehormatan Rūhul-Amīn
mengandung arti, bahwa Al-Quran akan
terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi
terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya mau pun makna-maknanya yang hakiki (QS.15:10).
Nama kehormatan Rūhul-Amīn
ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji
pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi
tidak diberikan kepada kitab-kitab suci
lainnya dimana kata-kata dalam kitab-kitab suci sebelum Al-Quran
itu karena berlalunya masa telah menderita campur tangan manusia dan perubahan.
Sungguh mengherankan, bahwa di Mekkah
Nabi Besar Muhammad saw. sendiri
dikenal di kalangan kaum
beliau sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu
Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat
Jibril a.s. kepada seorang amīn (terpercaya), yakni Nabi Besar
Muhammad saw..
Kata-kata عَلٰی قَلۡبِکَ -- “atas kalbu engkau” telah dibubuhkan untuk
mengatakan bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan gagasan
yang dicetuskan Nabi Besar Muhammad
saw. dengan perkataan beliau sendiri, melainkan
benar-benar Kalam Allah Swt. Sendiri, yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibrail a.s. (QS.2:98;
QS.53:1-8).
Makna
ayat: وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- “Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu”
bahwa hal diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. dan hal diwahyukan-Nya
Al-Quran, kedua-duanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Sangat Dikenal Bagaikan Mengenali
Anak-anak Sendiri
Makna ayat selanjutnya: اَوَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun
mengetahuinya? bahwa kabar-kabar
gaib (nubuatan-nubuatan) tentang Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw. didapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible — yang merupakan kitab
suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya konon merupakan rekan sejawat yaitu sebagai kitab
syariat — mengandung paling banyak jumlah
nubuatan demikian. Lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya
21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius
21:42-45 dan Yahya 16:12-14.
Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran
bahwa pengetahuan para ulama Bani Israil mengenai keberadaan nubuatan-nubuatan mengenai Nabi
Besar Muhammad saw. dan wahyu
Al-Quran tersebut bagaikan mereka mengenal
anak-anak mereka sendiri, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ
یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ
لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ؔ اَلۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ
الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾٪
Orang-orang yang telah Kami beri
kitab, mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya, dan sesungguhnya segolongan dari mereka
benar-benar menyembunyikan
kebenaran padahal mereka mengetahui. Kebenaran
ini dari Rabb (Tuhan) engkau, maka janganlah
engkau termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah [2]:147-148).
Lihat pula QS.6:21.
Kata ganti “nya”
(atau dia) dalam kalimat یَعۡرِفُوۡنَہٗ -- “mereka mengenalnya” dapat dianggap menunjuk kepada perubahan kiblat atau kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana
dijelaskan dalam ayat-ayat sebelumnya. Jadi anak kalimat “mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya” berarti bahwa para Ahlul Kitab mengetahui atas dasar nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Kitab-kitab suci mereka bahwa seorang
nabi Allah akan muncul di
tengah-tengah orang Arab yang akan
mempunyai hubungan istimewa dengan Ka’bah (Baitullah)
Ya’rifuna-hu
berasal dari ‘arafa yang berarti ia mengetahui
atau mengenal atau melihat sesuatu. Meskipun kata itu
dipakai pula mengenai ilmu yang
diperoleh melalui pancaindra jasmani,
kata itu terutama dipakai mengenai ilmu
yang diperoleh lewat renungan dan tafakur (Al-Mufradat).
Kebiasaan Buruk Mendustakan Pendakwaan Para Rasul Allah
Kemudian makna ayat selanjutnya: وَ لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی
بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ
-- Dan seandainya
Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا
کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ -- lalu
ia membacakannya kepada mereka,
mereka sekali-kali tidak akan beriman
kepadanya. کَذٰلِکَ
سَلَکۡنٰہُ فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah
Kami telah memasukkan hal itu dalam hati orang-orang yang berdosa. (Asy-Syu’arā
[26]:199-201).
Pernyataan Allah Swt. tersebut mengisyaratkan kepada kebiasaan buruk orang-orang
kafir yang berakar
dalam hati mereka sendiri, dan kebiasaan buruk itu lahir akibat mereka
telah bergelimang dalam dosa dan keburukan, dan bukanlah datang dari
luar.
Sekali pun Nabi Besar Muhammad
saw. adalah seorang bangsa Arab dan juga orang yang butahuruf --- bahkan kaum
beliau saw. sendiri yang menyebut beliau
sebagai al-amīn (orang yang
jujur) -- tetapi Abu Jahal dan para pemuka
kaum kafir Quraisy lainnya tetap mendustakan
kerasulan beliau saw. dan mendustakan Al-Quran yang diwahyukan Allah Swt. kepada beliau saw., firman-Nya:
وَ
اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ
اٰیَاتُنَا بَیِّنٰتٍ ۙ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا ائۡتِ
بِقُرۡاٰنٍ غَیۡرِ ہٰذَاۤ اَوۡ بَدِّلۡہُ ؕ قُلۡ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ
اُبَدِّلَہٗ مِنۡ تِلۡقَآیِٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنۡ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ ۚ
اِنِّیۡۤ اَخَافُ اِنۡ عَصَیۡتُ
رَبِّیۡ عَذَابَ یَوۡمٍ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾ قُلۡ
لَّوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ
وَ لَاۤ اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ ۫ۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ فَمَنۡ اَظۡلَمُ
مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat
(Tanda-tanda) Kami yang nyata, قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ
لِقَآءَنَا ائۡتِ بِقُرۡاٰنٍ غَیۡرِ
ہٰذَاۤ اَوۡ بَدِّلۡہُ -- orang-orang
yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: ”Datangkanlah yang bukan Al-Quran ini, اَوۡ بَدِّلۡہُ -- atau ubahlah dia.”
قُلۡ
مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اُبَدِّلَہٗ مِنۡ
تِلۡقَآیِٔ نَفۡسِیۡ -- Katakanlah: “Sekali-kali tidak patut bagiku untuk mengubahnya dari pihak diriku, اِنۡ
اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ -- tidaklah
aku kecuali hanya mengikuti
apa yang diwahyukan kepadaku, اِنِّیۡۤ اَخَافُ اِنۡ عَصَیۡتُ رَبِّیۡ عَذَابَ
یَوۡمٍ عَظِیۡمٍ -- sesungguhnya aku
takut pada azab Hari yang besar jika aku
mendurhakai Rabb (Tuhan-ku).” قُلۡ لَّوۡ شَآءَ
اللّٰہُ مَا تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ وَ
لَاۤ اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ -- Katakanlah: “Seandainya Allah menghendaki,
aku sama sekali tidak akan
membacakannya kepada kamu dan tidak
pula Dia akan memberitahukan mengenainya kepada kamu. فَقَدۡ لَبِثۡتُ
فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ ؕ
اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- Maka sungguh sebelum
ini aku telah tinggal bersama kamu dalam masa yang panjang, tidakkah kamu
mempergunakan akal?” فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ -- Maka siapakah
yang lebih zalim daripada orang-orang
yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya? اِنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Sesungguhnya orang-orang
berdosa tidak akan berhasil.” (Yunus
[10]:16-18).
Makna
“Azab Hari yang besar” pada ayat “sesungguhnya
aku takut pada azab Hari yang besar jika aku
mendurhakai Rabb (Tuhan-ku)” mengandung
arti malapetaka nasional.
Mengingkari Kesaksian Sendiri
Ayat 17: فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا
مِّنۡ قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- “Maka sungguh
sebelum ini aku telah tinggal bersama kamu dalam masa yang panjang, tidakkah
kamu mempergunakan akal?” ayat tersebut mengandung batu ujian yang amat jitu untuk menguji
kebenaran seseorang yang mengaku dirinya seorang nabi Allah. Bila kehidupan seorang nabi Allah sebelum dakwa kenabiannya menampakkan kejujuran dan ketulusan hati yang bertaraf luar biasa tingginya, dan di antara masa itu dengan dakwa kenabiannya tidak ada masa-antara
yang dapat memberikan kesan bahwa beliau telah jatuh dari keutamaan akhlak
yang tinggi tarafnya itu, maka dakwa kenabiannya harus diterima sebagai
dakwa orang yang tinggi akhlaknya, orang jujur,
dan benar.
Mengapa demikian? Sebab seseorang yang terbiasa kepada suatu sikap atau tingkah-laku tertentu disebabkan adat-kebiasaannya atau tabiatnya,
akan memerlukan waktu yang lama untuk
mengadakan perubahan besar dalam
dirinya untuk menjadi orang baik atau
orang buruk, karena itu bagaimana
mungkin Nabi Besar Muhammad saw. –
yang mereka sendiri memberi gelar “al-Amīn” (si jujur) kepada beliau saw.
-- tiba-tiba dapat berubah menjadi seorang penipu,
padahal sepanjang kehidupan beliau saw. sebelum
dakwa kenabian, beliau adalah orang
yang tidak ada taranya dalam kejujuran
dan kelurusan?
Ayat selanjutnya: فَمَنۡ اَظۡلَمُ
مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan suatu dusta
terhadap Allah atau mendustakan
Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya orang-orang
berdosa tidak akan berhasil.”
Ayat ini menjelaskan dua kebenaran yang kekal:
(a) Orang-orang yang mengada-adakan dusta mengenai Allah Swt. dan orang-orang yang menolak dan menentang utusan-utusan-Nya
sama sekali tidak akan luput dari hukuman
Tuhan;
(b) Pendusta-pendusta
dan nabi-nabi palsu tidak dapat berhasil dalam tujuannya.
Jadi, kembali kepada ayat: وَ لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی
بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ
-- Dan seandainya
Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا
بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ -- lalu ia
membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ فِیۡ
قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu
dalam hati orang-orang yang
berdosa. (Asy-Syu’arā [26]:199-201).
Sesungguhnya ayat ini menyatakan hakikat umum, bahwa bila seseorang bergelimang dalam dosa kata maka hatinya menjadi tumpul,
malahan dengan berlalunya waktu tumbuh rasa suka dalam dirinya kepada dosa itu. Dengan cara demikianlah dosa menimbulkan karat dan kerusakan dalam hati orang-orang yang berdosa, sebagaimana firman-Nya:
وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ
﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ
یُکَذِّبُوۡنَ بِیَوۡمِ الدِّیۡنِ ﴿ؕ﴾ وَ
مَا یُکَذِّبُ بِہٖۤ اِلَّا کُلُّ
مُعۡتَدٍ اَثِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِ ٰیٰتُنَا قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ کَلَّا بَلۡ ٜ
رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ کَلَّاۤ اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Celakalah pada hari itu bagi orang-orang
yang mendustakan, yaitu orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan
sekali-kali tidak ada yang
mendusta-kannya kecuali setiap
pelanggar batas lagi sangat berdosa,
اِذَا
تُتۡلٰی عَلَیۡہِ ٰیٰتُنَا قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ -- apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya ia berkata: “Ini-lah dongeng orang-orang dahulu!” کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا
کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- Sekali-kali tidak, bahkan apa
yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka. کَلَّاۤ
اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ
لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ -- Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya
pada hari itu mereka benar-benar terhalang dari melihat Rabb
(Tuhan) mereka. (Al-Muthaffifīn
[83]:11-16).
Nubuatan Pewahyuan
Ulang Hakikat “Al-Quran” di Akhir Zaman Kepada Masih
Mau’ud a.s.
Pernyataan Allah Swt. dalam ayat: وَ لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی
بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ -- Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah
seorang di antara orang yang bukan-Arab,
فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ -- lalu
ia membacakannya kepada mereka,
mereka sekali-kali tidak akan beriman
kepadanya.” (Asy-Syu’arā [26]:199-200),
bukan sekedar “pengandaian”
belaka mengandung nubuatan.
Nubuatan
tersebut adalah bahwa ketika Allah Swt. menarik kembali “ruh” Al-Quran dari kalangan umat
Islam secara bertahap selama 1000
tahun setelah mereka mengalami masa kejayaan
Islam yang pertama selama 3 abad
(QS.32:6), maka di Akhir Zaman ini Allah Swt.
telah “menurunkan”
kembali “ruh” Al-Quran tersebut kepada “putra
ruhani” terbesar Nabi Besar Muhammad
saw., dimana beliau bukan saja tidak
lahir di wilayah Arabia bahkan juga beliau tidak sepenuhnya berbangsa
(berdarah) Arab, walau pun berdasarkan
sabda Nabi Besar Muhammad
saw. beliau termasuk keturunan
(Ahli Bait) Nabi Besar Muhammad saw., melalui silsilah Imam Hasan bin Ali bin Abi
Thalib r.a., dan wujud yang dijanjikan Allah Swt.
tersebut tersebut adalah Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih
Mau’ud a.s., firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari,
yang hitungan lamanya seribu tahun
dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa umat Islam dalam perkembangannya yang
penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam mulai
mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada
henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan
dengan kata-kata: ثُمَّ
یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “Kemudian perintah
itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa “Iman akan terbang ke Bintang Suraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi” (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir Surah Al-Jumu’ah). Dengan kedatangan Masih Mau’ud a.s. dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotannya telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai.
(Ash-Shaf
[61]:10).
Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat
ini kena untuk Masih yang dijanjikan (Masih Mu’ud a.s.), sebab di zaman beliau -- yakni di Akhir Zaman ini -- semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama
akan menjadi kepastian.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 19 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar