Rabu, 30 Maret 2016

Suku-suku Bangsa Liar Penghuni Wilayah Kanaan yang Ditakuti Bani Israil Penyebab Penolakkan Mereka Memasuki "Negeri yang Dijanjikan" Bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



   Suku-suku Bangsa Liar  Penghuni Wilayah “Kanaan”  yang   Ditakuti Bani Israil  Penyebab Penolakan Mereka Memasuki “Negeri yang Dijanjikan” Bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.    

Bab 10


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai     makna kata    ’Ifrit  dan   Tharf dalam firman-Nya:
قَالَ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَیُّکُمۡ یَاۡتِیۡنِیۡ بِعَرۡشِہَا قَبۡلَ  اَنۡ یَّاۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ  لَقَوِیٌّ  اَمِیۡنٌ ﴿﴾   قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ  عِلۡمٌ  مِّنَ  الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ طَرۡفُکَ ؕ فَلَمَّا رَاٰہُ  مُسۡتَقِرًّا عِنۡدَہٗ  قَالَ ہٰذَا مِنۡ فَضۡلِ رَبِّیۡ ۟ۖ لِیَبۡلُوَنِیۡۤ  ءَاَشۡکُرُ اَمۡ  اَکۡفُرُ ؕ وَ مَنۡ شَکَرَ فَاِنَّمَا یَشۡکُرُ  لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  کَفَرَ  فَاِنَّ رَبِّیۡ غَنِیٌّ  کَرِیۡمٌ ﴿﴾
Ia (Sulaiman) berkata: “Hai para pembesar, siapakah dari antara kamu akan membawa kepadaku singgasananya  sebelum mereka datang kepadaku ber-serah  diri?”   Seorang hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit)  dari kalangan  para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau, dan sesungguhnya atas itu aku memiliki  kekuatan lagi terpercaya.”  Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata:  “Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan kembali kepada engkau.” Maka tatkala ia, Sulaiman, melihatnya telah ada di hadapannya  ia berkata: “Ini adalah dari karunia Rabb-ku (Tuhan-ku) supaya Dia mengujiku apakah aku bersyukur ataukah tidak bersyukur. Dan barangsiapa yang bersyukur  maka sesungguhnya ia bersyukur untuk manfaat dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur maka sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Mahacukup, Mahamulia.”  (An-Naml [27]:39-41).
       Arti kata  ‘ifrit dalam ayat:  َالَ عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ  لَقَوِیٌّ  اَمِیۡنٌ  -- “Seorang hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit)  dari kalangan  para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau, dan sesungguhnya atas itu aku memiliki  kekuatan lagi terpercaya,”   berasal dari kata ‘afara yang berarti  “ia melemparkan dia ke tanah” atau “ia menghina dia”, yaitu suatu kata yang digunakan baik untuk manusia ataupun untuk jin, dan berarti: (1) seorang yang kuat dan gagah-perkasa; (2) tajam, gesit, dan efektif dalam menghadapi sesuatu urusan, melewati batas-batas biasa dalam urusan itu dengan kecerdasan dan kecerdikan; (3) seorang kepala, dan lain-lain (Lexicon Lane).
       Kata-kata itu menunjukkan bahwa ‘ifrit tersebut adalah seorang pembesar dalam kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang sangat tinggi kedudukannya serta mempunyai wewenang besar, dan karena itu sangat percaya   diri  untuk dapat melaksanakan perintah atasannya dengan memuaskan dalam batas waktu yang diberikan kepadanya.
     Kalimat maqāmika dalam ayat:  اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ   --  “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau”,   mengandung arti  tempat Nabi Sulaiman a.s.  berkemah dalam perjalanan beliau ke Saba dan beliau sedang menantikan duta beliau kembali dengan membawa jawaban atas surat yang beliau kirim kepada Ratu Saba.
    Kemudian mengenai  makna kata tharf  -- sehubungan kesanggupan yang dikemukakan pejabat yang lain --  dalam ayat  selanjutnya:  قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ  عِلۡمٌ  مِّنَ  الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ طَرۡفُکَ   -- “Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata:  “Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan   kembali kepada engkau,”   tharf berarti: sekilas pandang; seorang bangsawan; penghasilan pajak pemerintah; seorang utusan dari Yaman (Lexicon Lane).
     Ungkapan itu dapat diartikan: (1) “sebelum duta engkau dari Yaman kembali kepada engkau”; (2) “dalam sekejap mata”; (3) “sebelum pajak pendapatan pemerintah disetor kepada perbendaharaan negara”. Dalam arti yang tersebut belakangan (3) ungkapan itu akan berarti:  “Aku tidak perlu lagi uang; uang yang sudah ada dalam khazanah pemerintah sudah cukup memenuhi perongkosan mendirikan singgasana bagi Sang Ratu.”
      Ungkapan “yang mempunyai pengetahuan mengenai buku,” agaknya menunjuk kepada seseorang pejabat tinggi yang mengetahui seluk-beluk keuangan. Mungkin juga ia menteri keuangan Nabi Sulaiman a.s..

Pengerahan SDM (Sumber Daya Manusia) Untuk Membuat “Singgasana” Penyambutan Ratu Saba

    Dalam ayat  dan dalam ayat sebelumnya (An-Naml [27]:39-41), dua buah penawaran untuk menyiapkan pengadaan  singgasana bagi Nabi Sulaiman a.s. telah disebutkan, pertama diajukan oleh ifrit yang menyediakan diri untuk menyiapkan singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman a.s.   mengemasi kemah dan berangkat kembali; dan yang lainnya oleh “orang yang mempunyai pengetahuan  tentang buku.”  
     Walau pun kedua pejabat tersebut sama-sama menawarkan  dalam hal “kecepatan kerja” (pelaksanaan tugas), nampaknya pejabat yang disebut terakhir memberikan penawaran yang lebih baik untuk menyelesaikan pembuatan singgasana itu sebelum duta Nabi Sulaiman a.s.  kembali dengan jawaban atas surat beliau kepada Ratu Saba.
    Hubungan kalimat itu menunjukkan, bahwa Nabi Sulaiman a.s.  menerima penawaran yang kedua, sebab beliau menghendaki agar pembuatan  singgasana itu selesai sebelum Ratu Saba datang mengadakan kunjungan kehormatan kepada beliau dan beliau dapat tinggal di tempat itu sampai Ratu Saba datang dan seluruh upacara penyambutan selesai.
      Ayat   An-Naml [27]:39-41     mengandung arti juga bahwa segala macam orang dipekerjakan oleh Nabi Sulaiman a.s. — orang-orang yang berilmu-pengetahuan dan berpengalaman, pekerja-pekerja terampil dan buruh-buruh kasar, tukang-tukang dan ahli-ahli teknik, sehingga sangat wajar jika pembuatan singasana untuk menyambut kedatangan Ratu Saba tersebut cepat selesai.
      Mengisyaratkan kepada  pemanfaatan sepenuhnya seluruh SDM (sumber daya manusia) dan SDA (sumber daya alam) yang dianugerahkan  Allah Swt. kepada Nabi Daud a.s. dan nabi Sulaiman a.s.   itu pulalah  firman  Allah Swt. mengenai telah  makna “ditundukkan-Nya jin dan syaitan”  -- yakni bangsa-bangsa asing   -- oleh Allah Swt. kepada Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s., dimana  sebelumnya bangsa-bangsa  asing tersebut senantiasa menyerang Bani Israil  tetapi dapat ditaklukkan oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.  serta  berbagai keahlian mereka  dimanfaatkan   oleh kedua raja yang juga rasul Allah   (QS.2:247-253; QS.21:79-82), sebagaimana firman-Nya:
وَ دَاوٗدَ  وَ سُلَیۡمٰنَ  اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی الۡحَرۡثِ  اِذۡ  نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ  الۡقَوۡمِ ۚ وَ کُنَّا  لِحُکۡمِہِمۡ  شٰہِدِیۡنَ ﴿٭ۙ﴾  فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ کُلًّا  اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا ۫ وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾  وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ ﴿﴾  وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan ingatlah Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan keputusan mengenai suatu ladang, ketika kambing-kambing suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka.  Maka Kami memberikan pengertian  kepada Sulaiman, dan kepada masing-masing  Kami  berikan kebijaksanaan dan ilmu. وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ  --  Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud, وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ --  dan Kami-lah Yang mengerjakannya. وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ  --  Dan Kami mengajarinya  membuat baju besi  bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuran kamu, maka apakah kamu mau bersyukur?  وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ -- Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin itu bertiup atas perintahnya ke arah daerah yang telah Kami berkati di dalamnya.  Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ  --  Dan  kalangan   syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan  pekerjaan lain selain itu,  وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ --  dan Kami-lah yang menjaga  mereka. (Al-Anbiya [21]:79-83). Lihat pula    QS.34:13-15; QS.38:37-39.
      Dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya telah dipergunakan bahasa kiasan untuk menambah indahnya ungkapan. Al-harts dapat menunjuk kepada negeri asal Nabi Sulaiman a.s.  dan kata ghanam al-qaum kepada kabilah-kabilah tetangga yang buas dan suka merampok serta mengadakan serbuan-serbuan ke negeri Nabi Sulaiman a.s.. Itulah makna  ayat: وَ دَاوٗدَ  وَ سُلَیۡمٰنَ  اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی الۡحَرۡثِ  اِذۡ  نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ  الۡقَوۡمِ  -- “Dan ingatlah Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan keputusan mengenai suatu ladang, ketika kambing-kambing suatu kaum merusak di dalamnya, dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka.“

Dua Siasat yang Berbeda yang Dilakukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. Keduanya Mendapat Dukungan Allah Swt.

    Sebagaimana telah dijelaskan  bahwa isyarat itu tertuju kepada dua siasat (kebijakan) berbeda yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s.  dan Nabi Sulaiman a.s. dalam menanggulangi gangguan dari  kabilah-kabilah biadab yang  suka melakukan  perampokan tersebut.
      Nabi Daud a.s.  adalah seorang ahli perang ulung, dan oleh karena itu beliau memilih  menjalankan siasat keras, tetapi Nabi Sulaiman a.s. melakukan mengikuti siasat (kebijakan) yang lebih lunak lagi dalam upaya  menundukkan kabilah-kabilah itu antara lain dengan cara mengadakan perjanjian-perjanjian persahabatan dengan mereka.
      Siasat yang berbeda dari  Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. tersebut mirip dengan perbedaan  masalah hukum antara  ajaran Taurat yang  diwahyukan kepada Nabi Musa a.s. yang lebih menekankan kepada “hukum pembalasan” dengan ajaran Injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa Ibnu  Maryam a.s. yang lebih menekankan masalah “pemaafan” (pengampunan).
     Menurut Allah Swt.  yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. keduanya sesuai dengan  tuntutan situasi dan kondisi para masa penerintahan keduanya. Jadi, kata-kata:  وَ کُنَّا  لِحُکۡمِہِمۡ  شٰہِدِیۡنَ  -- dan Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka.  فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ  --  “Maka Kami memberikan pengertian  kepada Sulaiman,”    ayat itu mengandung arti  bahwa siasat lunak dan cari damai yang dijalankan oleh  Nabi Sulaiman a.s.  itu memang tepat dalam keadaan-keadaan pada saat itu, dan bahwa tuduhan yang dilancarkan terhadap beliau oleh beberapa pengarang Yahudi, bahwa Nabi Sulaiman a.s. mengikuti suatu siasat lemah yang mendatangkan keruntuhan wangsa beliau sekali-kali tidak mempunyai dasar yang sehat.
     Tetapi pembelaan Allah Swt.  mengenai siasat lunak yang dilakukan  Nabi Sulaiman a.s.  tidak boleh diberi arti bahwa siasat keras yang dijalankan oleh Nabi Daud a.s. dalam masa beliau sendiri adalah salah.   Suatu kesalah-pahaman yang menjurus kepada kesimpulan ini telah dihilangkan oleh anak kalimat:   وَ کُلًّا  اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا  -- dan kepada masing-masing  Kami  berikan kebijaksanaan dan ilmu.”   Anak kalimat itu memperjelas bahwa siasat-siasat yang dijalankan, baik oleh Nabi Daud a.s. maupun oleh Nabi Sulaiman a.s., itulah  kebijakan yang terbaik dalam keadaan itu dan paling cocok pada peristiwa yang khas itu.
      Kata-kata, وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ --  “Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud telah diberi arti harfiah, bahwa gunung-gunung dan burung-burung berada di bawah kekuasaan Nabi Daud a.s., dan ketika beliau mendendangkan sanjungan-sanjungan kepada Allah Swt. mereka benar-benar ikut-serta dengan beliau dalam amal saleh itu.
     Padahal kata-kata kiasan itu sesungguhnya hanya berarti bahwa orang-orang besar (aljibal) dan ruhaniawan-ruhaniawan yang bermartabat tinggi (ath-thair), memuliakan Allah Swt. dan mendendangkan sanjungan-sanjungan Ilahi bersama-sama dengan Nabi Daud a.s..
       Kata jibāl dapat pula berarti, “orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan,” sebab adakalanya nama suatu tempat dipakai juga untuk orang yang mendiaminya (QS.12:83). Jadi  bahwa “gunung” ditundukkan untuk berkhidmat kepada Nabi Daud a.s.  dapat mengandung arti  bahwa  dengan izin dan pertolongan Allah Swt. beliau menaklukkan dan menguasai kabilah-kabilah liar serta biadab yang mendiami daerah pegunungan.  Nabi Daud a.s. adalah  seorang penakluk agung dan pengendali suku-suku bangsa pegunungan yang buas itu.  Bible pun menunjuk kepada penundukan suku-suku pegunungan oleh Nabi Daud a.s.  (Samuel, bab 5).

Pengembangan Industri Milter di Zaman Pemerintahan Nabi Daud a.s.

   Dalam rangka melaksanakan penaklukan bangsa-bangsa liar  di wilayah pengunungan itulah   Allah Swt. telah berfirman  mengenai Nabi Daud a.s.:  وَ عَلَّمۡنٰہُ  صَنۡعَۃَ  لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ -- “Dan Kami mengajarinya  membuat baju besi  bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuran kamu, maka apakah kamu mau bersyukur?” (Al-Anbiya [21]:81). Dalam Surah lain ungkapan kiasan yang digunakan  mengenai industri militer  yang dikembangkan Nabi Daud a.s. dalam pemerintahannya adalah “besi dilunakkan” oleh Allah Swt., sehingga memungkinkan Nabi Daud a.s. mengembangkan industri militer guna menaklukkan kaum-kaum lainnya  yang sebelumnya selalu menyerang suku-suku Bani Israil, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ  مِنَّا فَضۡلًا ؕ یٰجِبَالُ اَوِّبِیۡ  مَعَہٗ  وَ الطَّیۡرَ ۚ وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ ﴿ۙ﴾  اَنِ اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ وَ اعۡمَلُوۡا صَالِحًا ؕ اِنِّیۡ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ  ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan karunia dari Kami kepada Daud  dan berfirman:  ”Hai  gunung-gunung  dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama dia.” وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ --    Dan Kami menjadikan besi lunak baginya.   Berfirman: “Buatlah baju rantai yang  cukup panjang serta ukurlah cincin-cincinnya secara tepat, dan berbuatlah amal saleh, sesungguhnya Aku melihat   apa pun yang kamu kerjakan.” (Sabā[34]:11-12).
    Ungkapan وَ اَلَنَّا لَہُ  الۡحَدِیۡدَ  --  “Dan Kami menjadikan besi lunak baginya,” menunjukkan, bahwa teknik pembuatan alat-alat perang dari besi sudah sangat dikembangkan oleh Nabi Daud a.s.  dan beliau dengan mudah dapat memfaedahkannya untuk membuat baju-baju rantai (zirah) sebagaimana ditampakkan oleh ayat berikutnya.  
      Jadi, yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah kekuatan militer Nabi Daud a.s. dan tentang keahlian beliau yang besar dalam membuat alat-alat perang dan baju-baju besi. Nabi Daud a.s. menemukan serta mengembangkan berbagai macam, alat  senjata yang dengan mempergunakan alat-alat itu beliau memperoleh kemenangan-kemenangan besar atas kaum-kaum liar yang selama itu menyerang  suku-suku Bani Israil.  Di masa pemerintahan beliau kerajaan Bani Israil mencapai puncak kekuasaannya. Masa itu merupakan zaman keemasan dalam sejarah Bani Israil.
       Mengisyaratkan kepada suku-suku  biadab yang tinggal di daerah pegunungan di wilayah Kanaan     -- yakni  al-jibāl  (gununggunung) dan jin  --  itu pulalah yang ditakuti oleh Bani Israil,  ketika mereka menolak perintah Nabi Musa a.s. untuk memasuki negeri Kanaan (Palestina),  setelah mereka   keluar dari Mesir dengan menyebrangi lautan, firman-Nya:
یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ  کَتَبَ اللّٰہُ لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ ٭ۖ وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا ۚ فَاِنۡ  یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ ﴿﴾ 
Hai kaumku, masukilah Tanah yang disucikan  yang telah ditetapkan Allah bagi kamu,  dan janganlah kamu berbalik ke belakangmu lalu kamu kembali menjadi orang-orang yang rugi.” قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ  --   Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam, وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا  --   dan sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya  hingga mereka keluar sendiri darinya, فَاِنۡ  یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ --  lalu  jika mereka keluar darinya maka kami   akan memasukinya.”  (Al-Maidah [5]:22-23).
       Makna ucapan mereka dalam ayat:  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ  --   Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam,”  berarti bahwa riwayat kaum-kaum itu dikenal oleh bangsa Bani Israil, yakni bangsa Amaliki dan suku-suku bangsa Arab liar menghuni Tanah suci (Kanaan) pada zaman itu dan orang-orang Bani Israil sangat takut kepada mereka. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ  الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ  فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ  فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Dua orang laki-laki  dari antara mereka yang takut kepada Allah dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya berkata: “Masuklah melalui pintu gerbang mereka,  lalu apa-bila kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu  bertawakkal jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.”  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ --    Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami  tidak akan pernah memasuki negeri itu selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, lalu berperanglah engkau berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!”  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ --   Musa berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali terhadap diriku dan saudara laki-lakiku, maka bedakanlah antara kami dengan  kaum yang fasik itu.” قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka  sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka akan bertualang kebingungan di muka bumi maka janganlah engkau bersedih atas kaum yang fasik itu.” (Al-Maidah [5]:24-27).

“Dua Orang Laki-laki” Pemberani di Kalangan Bani Israil  &  Pengangkatan  Thalut  Sebagai Raja Bani Israil

      “Dua orang laki-laki” yang disebut di sini biasanya diduga adalah Yusak bin Nun dan Kaleb bin Yefuna (Bilangan 14:6). Akan tetapi, dari letak kalimat nampak lebih mendekati kemungkinan bahwa Nabi Musa a.s.   dan Nabi Harun a.s. yang dipanggil dengan kata-kata “dua orang laki-laki” di sini. Kata rajul (laki-laki) mencerminkan citra kejantanan dan keberanian.
    Bahwa kedua laki-laki yang gagah-berani  itu adalah Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sendiri, dapat pula ditarik kesimpulan dari kenyataan bahwa Nabi Musa a.s.   mendoa bagi beliau sendiri dan bagi saudara beliau, Harun a.s. (QS.5:26). Dalam ayat tersebut Allah Swt.  tidak menyebut nama-nama beliau melainkan hanya mengatakan “dua orang laki-laki” sebagai pujian atas keperwiraan dan keberanian kedua beliau dan dengan sendirinya mencela nyali kecil (kepengecutan) orang-orang Bani Israil lainnya yang menyertai Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s..
      Ketika orang-orang Bani Israil bertingkah bagai orang-orang pengecut, Allah Swt. menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun agar kehidupan keras padang pasir akan menempa mereka dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa baru dan akan memperkokoh moral mereka. Dalam masa itu generasi tua boleh dikatakan  telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan yang cukup untuk menaklukkan Tanah Yang Dijanjikan, sebagaimana yang dikemukakan dalam QS.2:247-252 mengenai perjuangan  Thalut.
     Mengenai “kaum-kaum” yang dikemukakan dalam ayat:    قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ -- “Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam,”   berarti bahwa riwayat kaum itu dikenal oleh  Bani Israil. Kaum-kaum itu adalah bangsa Amaliki (Amalek) dan suku-suku bangsa Arab liar yang menghuni  Kanaan  pada zaman itu, yang orang-orang Bani Israil sangat takut kepada mereka. Kaum-kaum yang liar itulah    -- yang   digambarkan sebagai Jalut dan balatentaranya --  pada zaman Thalut (Gideon)  dapat dikalahkan, tetapi Nabi Daud a.s.  berhasil ditaklukkan sepenuhnya, firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ  اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ اِذۡ  قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ  اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا ؕ قَالُوۡا وَ مَا لَنَاۤ  اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا ؕ فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ  بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ  اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا  اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ  اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اٰیَۃَ مُلۡکِہٖۤ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ التَّابُوۡتُ فِیۡہِ سَکِیۡنَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ بَقِیَّۃٌ   مِّمَّا تَرَکَ اٰلُ مُوۡسٰی وَ اٰلُ ہٰرُوۡنَ تَحۡمِلُہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾٪  فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوۡتُ بِالۡجُنُوۡدِ  ۙ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ بِنَہَرٍ ۚ فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ فَاِنَّہٗ مِنِّیۡۤ  اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ غُرۡفَۃًۢ بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ فَلَمَّا جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ  ۙ  کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ  اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ؕ فَہَزَمُوۡہُمۡ  بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak  melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: “Angkatlah bagi kami seorang raja, supaya kami dapat berperang di jalan Allah.” قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ  اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا  -- Ia berkata:  Mungkin saja kamu tidak akan berperang jika berperang itu diwajibkan atas kamu?”  قَالُوۡا وَ مَا لَنَاۤ  اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا  --Mereka berkata: “Mengapa kami tidak akan berperang  di jalan Allah padahal sungguh  kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?” فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ   --  Tetapi tatkala berperang ditetapkan atas mereka,  mereka berpaling  kecuali sedikit  dari mereka, وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ  بِالظّٰلِمِیۡنَ  --  dan Allah Maha Mengetahui orang-orang  yang zalim. وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ  اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا  --   Dan  nabi mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja bagi kamu.” قَالُوۡۤا  اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ   -- Mereka berkata:  “Bagaimana ia bisa memiliki  kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak memiliki kedaulatan  daripadanya, karena ia tidak pernah diberi harta yang berlimpah-ruah?”  قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ  اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ   --  Ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya sebagai raja atas kamu dan melebihkannya dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.”  وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Dan  Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اٰیَۃَ مُلۡکِہٖۤ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ التَّابُوۡتُ فِیۡہِ سَکِیۡنَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ بَقِیَّۃٌ   مِّمَّا تَرَکَ اٰلُ مُوۡسٰی وَ اٰلُ ہٰرُوۡنَ تَحۡمِلُہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ  --  Dan  nabi mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya tanda kedaulatannya ialah bahwa akan datang kepada kamu suatu Tabut, yang di dalamnya mengandung ketenteraman dari Rabb (Tuhan) kamu dan  pusaka  peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dipikul oleh malaikat-malaikat, sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda bagi kamu, jika kamu sungguh orang-orang yang  beriman.” فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوۡتُ بِالۡجُنُوۡدِ  ۙ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ بِنَہَرٍ ۚ فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ فَاِنَّہٗ مِنِّیۡۤ  اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ غُرۡفَۃًۢ بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ   ---  Maka tatkala Thalut berangkat dengan balatentaranya  ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan mencobai kamu dengan sebuah sungai, lalu barangsiapa  minum darinya maka ia bukan dariku, dan  barangsiapa tidak pernah mencicipinya maka sesungguhnya ia dariku, kecuali orang yang menciduk seciduk dengan tangannya.” Tetapi  mereka minum darinya kecuali sedikit dari mereka,  فَلَمَّا جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ -- lalu tatkala ia dan orang-orang yang beriman besertanya telah menyeberanginya mereka berkata: “Tidak ada kemampuan pada kami hari ini untuk menghadapi Jalut dan balatentaranya.” قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ    --  Tetapi  orang-orang yang meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan menemui Allah berkata:   کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ --  “Berapa banyak golongan yang sedikit  telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ  -- dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ  اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ  --   Dan tatkala mereka maju untuk menghadapi Jalut dan bala-tentaranya, mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami,  anugerahkanlah  ketabahan atas kami,  dan teguhkanlah langkah-langkah kami, dan  tolonglah kami terhadap kaum kafir.”  فَہَزَمُوۡہُمۡ  بِاِذۡنِ اللّٰہِ --  Maka mereka mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ  -- dan Dawud membunuh Jalut, dan  Allah memberinya kerajaan dan kebijaksanaan dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki.   وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ  --  Dan seandainya Allah tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan, tetapi Allah memiliki karunia atas seluruh alam.  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ --  Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan sesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari antara orang-orang yang diutus.  (Al-Baqarah [2]:247-253). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 28 Maret  2016

Selasa, 29 Maret 2016

Lafadz "Bismillaahirrahmaanirrahiim" Dalam Surat Peringatan Nabi Sulaiman a.s. Kepada Ratu Saba & Makna Dua Macam "Tawaran Kerja" Pembuatan "Singgasana" Penyambutan Ratu Saba


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA



Lafadz Bismillaahirrahmaanirrahiim Dalam Surat Peringatan Nabi Sulaiman a.s. Kepada Ratu Saba     &   Makna Dua  Tawaran  Kerja Pembuatan “Singgasana”  Penyambutan Ratu Saba

Bab 9


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai   laporan pelaksanaan tugas    intelijen Jenderal   Hud-hud  tentang kerajaan Saba dalam firman-Nya:
وَ تَفَقَّدَ الطَّیۡرَ فَقَالَ مَا لِیَ  لَاۤ  اَرَی الۡہُدۡہُدَ ۫ۖ اَمۡ کَانَ مِنَ الۡغَآئِبِیۡنَ ﴿﴾  لَاُعَذِّبَنَّہٗ  عَذَابًا شَدِیۡدًا  اَوۡ لَاَاذۡبَحَنَّہٗۤ اَوۡ لَیَاۡتِیَنِّیۡ بِسُلۡطٰنٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾  فَمَکَثَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ فَقَالَ اَحَطۡتُّ بِمَا لَمۡ تُحِطۡ بِہٖ وَ جِئۡتُکَ مِنۡ سَبَاٍۭ بِنَبَاٍ یَّقِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ia, Sulaiman, memeriksa  burung-burung itu, kemudian ia berkata: “Mengapa aku tidak melihat  Hud-hud? Ataukah ia sengaja tidak hadir?   Niscaya aku akan menghukumnya dengan azab yang keras, atau niscaya aku akan menyembelih-nya, atau ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.”    Maka tidak lama ia menunggu Hud-hud pun datang dan berkata: “Aku telah mengetahui apa yang engkau belum mengetahuinya, dan aku  datang kepada engkau dari negeri ka-um Saba dengan kabar yang  meyakinkan.  (An-Naml [27]:21-23).
     Nampak dari ayat ini, bahwa Hud-hud dikirim untuk menjalankan tugas kenegaraan penting, dan ia datang membawa berita penting dari kerajaan Saba. untuk Nabi Sulaiman a.s., tepat pada saat Nabi Sulaiman a.s. sedang memeriksa pasukan beliau. Saba dapat disamakan dengan Syeba dari Bible (I Raja-raja bab 10).
Saba adalah sebuah kota di Yaman terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari kota Shana’ dan merupakan pusat pemerintahan Ratu Saba. Lagi pula  Saba adalah cabang terkenal dari kabilah Qahthani. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنِّیۡ وَجَدۡتُّ امۡرَاَۃً  تَمۡلِکُہُمۡ وَ اُوۡتِیَتۡ مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ لَہَا عَرۡشٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾  وَجَدۡتُّہَا وَ قَوۡمَہَا یَسۡجُدُوۡنَ لِلشَّمۡسِ مِنۡ  دُوۡنِ اللّٰہِ  وَ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ  اَعۡمَالَہُمۡ فَصَدَّہُمۡ عَنِ السَّبِیۡلِ  فَہُمۡ   لَا  یَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اَلَّا یَسۡجُدُوۡا  لِلّٰہِ الَّذِیۡ یُخۡرِجُ الۡخَبۡءَ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ یَعۡلَمُ مَا تُخۡفُوۡنَ  وَ مَا  تُعۡلِنُوۡنَ ﴿﴾  اَللّٰہُ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ   رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ٛ ﴾
Aku mendapati di sana seorang perempuan memerintah atas mereka  dan ia telah diberi  segala sesuatu  dan ia mempunyai singgasana yang besar.   Aku mendapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari  selain Allah, dan  syaitan telah menampakkan indah bagi mereka amal-amalnya, maka dia menghalangi mereka dari jalan yang benar sehingga mereka tidak mendapat petunjuk.    Mereka tidak mau bersujud kepada Allah Yang mengeluarkan yang tersembunyi di seluruh langit dan bumi, dan  Yang Mengetahui apa-apa yang kamu sembunyikan dan apa-apa yang kamu zahirkan.    Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia, Tuhan ‘Arasy Yang Maha Agung.” (An-Naml [27]:24-27).

Kesuksesan Ratu Saba Memerintah  Kerajaan Saba di Yaman

      Ayat itersebut  menunjukkan bahwa Ratu Saba memerintah suatu bangsa yang sangat makmur, yang telah mencapai suatu taraf peradaban yang sangat tinggi, dan bahwa ia memiliki segala hal yang telah menjadikannya Ratu yang berkekuasaan besar.
     Orang Saba menyembah matahari dan bintang-bintang, satu kepercayaan yang mungkin sekali telah didatangkan ke Yaman dari Irak, yang dengan bangsa itu bangsa Yaman pernah berhubungan erat melalui jalan laut dan Teluk Persia. Orang-orang Saba itu hendaknya jangan diperbaurkan dengan orang-orang Shabi yang tersebut dalam QS.2:63; QS.5:70; dan QS.22:18, dan digambarkan sebagai (1) bangsa penyembah bintang, yang hidup di Irak; (2) suatu bangsa yang menganut kepercayaan, berupa semacam percampuran antara agama-agama Yahudi, Nasrani, dan Zoroaster; (3) bangsa yang tinggal dekat Mosul di Irak, dan mempercayai keesaan Tuhan, tetapi syariatnya tidak dikenal dan (4) bangsa yang tinggal di sekitar Irak dan beriman kepada semua nabi Allah.
      Menanggapi laporan dari Jenderal Hud-hud tersebut kemudian  Nabi Sulaiman a.s. – sambil menguji kebenaran laporan intelijen dari Jenderal Hud-hud   -- memberikan tugas selanjutnya kepada dia untuk mengantarkan surat kepada Ratu Saba, firman-Nya: 
قَالَ سَنَنۡظُرُ اَصَدَقۡتَ اَمۡ  کُنۡتَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾  اِذۡہَبۡ بِّکِتٰبِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقِہۡ  اِلَیۡہِمۡ ثُمَّ تَوَلَّ عَنۡہُمۡ فَانۡظُرۡ  مَا ذَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman, berkata, “Kami segera akan melihat apakah engkau telah berkata benar ataukah engkau di antara orang-orang yang berdusta.  Pergilah dengan membawa suratku ini lalu sampaikanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka lalu perhatikanlah apa jawaban mereka.” (An-Naml [27]:28-29).                     Burung-burung tidak pernah diketahui orang berbicara tentang kebenaran atau dusta. Ayat ini memberikan suatu bukti lagi, bahwa Hud-hud bukan  seekor burung melainkan seorang pembesar dalam pemerintahan Nabi Sulaiman a.s..  Jadi, betapa sangat telitinya dan cerdasnya Nabi Sulaiman a.s. dalam memberikan berbagai penugasan dalam gerakan militer yang beliau lakukan terhadap kerajaan Saba, terutama dalam menanggapi “laporan intelijen” dari Jenderal Hud-hud.
      Kewaspadaan tersebut Nabi Sulaiman a.s. lakukan karena beliau mengetahui bahwa di lingkungan kerajaan beliau pun -- bahkan sejak pemerintahkan ayahanda beliau,  Nabi Daud a.s.  (QS.38:22-27)  --  terdapat orang-orang yang perlu diwaspadai (QS.2:103). Itulah sebabnya beliau telah menugaskan lagi Jenderal Hud-hud untuk kembali menjadi duta (utusan) beliau kepada Ratu Saba:
قَالَ سَنَنۡظُرُ اَصَدَقۡتَ اَمۡ  کُنۡتَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾  اِذۡہَبۡ بِّکِتٰبِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقِہۡ  اِلَیۡہِمۡ ثُمَّ تَوَلَّ عَنۡہُمۡ فَانۡظُرۡ  مَا ذَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman, berkata, “Kami segera akan melihat apakah engkau telah berkata benar ataukah engkau di antara orang-orang yang berdusta.  Pergilah dengan membawa suratku ini lalu sampaikanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka lalu perhatikanlah apa jawaban mereka.” (An-Naml [27]:28-29). 

Lafadz “Bismillāhirrahmānirrahīm”   Dalam Surat Nabi Sulaiman a.s.                                                                                                                                                                                                        Sesampainya di kerajaan Saba lalu surat kiriman Nabi Sulaiman a.s., sebagaimana layaknya seorang utusan khusus,  surat tersebut  disampaikan secara terhormat oleh Jenderal  Hud-hud kepada Ratu Saba  --   bukan dijatuhkan atau dilemparkan  sebagaimana arti  lain  kata ulqiya   -- firman-Nya:
قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا  اِنِّیۡۤ   اُلۡقِیَ   اِلَیَّ  کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Ia, Ratu Saba, berkata:  “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat yang mulia  sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyiبِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ --   Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ  -- “Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.”(An-Naml [27]:30-32).
        Jadi, seandainya pun  benar   bahwa Nabi Daud a.s.  dan Nabi Sulaiman a.s. dapat mengerti bahasa burung, tetapi tidak  ada sesuatu dalam Al-Quran yang menunjukkan, bahwa Ratu Saba juga dapat mengerti bahasa burung,  namun demikian kepada Hud-hud dipercayakan menyampaikan surat Nabi Sulaiman a.s. kepada  Ratu Saba dan mengadakan percakapan dengan beliau atas nama Nabi Sulaiman a.s.   dan sebagai wakil beliau.
        Beberapa ahli ketimuran pihak Kristen, sebagaimana kebiasaan mereka, telah gagal dalam usahanya mengingkari fakta  bahwa Al-Quran bersumber dari Allah Swt., dengan mencoba membuktikan ungkapan Bismillāh telah dipinjam dari kitab-kitab yang terdahulu.
      Wherry dalam buku “Commentary”-nya mengatakan bahwa kalimat itu telah dipinjam dari Zend-Avesta. Sale menyatakan pandangan serupa, sedang Rodwell berpendapat, bahwa bangsa Arab pra-Islam (sebelum sejarah Islam) meminjamnya dari kaum Yahudi dan selanjutnya kalimat itu dimasukkan ke dalam Al-Quran oleh Nabi Besar Muhammad saw..
      Mengatakan bahwa  karena ungkapan atau kalimat Bismillāhirrahmānirrahīmitu didapati dalam beberapa kitab suci yang terdahulu maka  niscaya telah dipinjam oleh Al-Quran dari salah satu dari kitab-kitab itu, adalah nyata sekali suatu kesimpulan yang lemah. Bagaimanapun, hal itu hanya membuktikan  bahwa Al-Quran memang berasal dari Sumber yang sama seperti kitab-kitab lain pun berasal  yakni Allah Swt..
      Lagi pula, tidak ada kitab lain mempergunakan ungkapan ini dalam bentuk dan cara yang telah dilakukan oleh Al-Quran. Begitu juga, orang-orang Arab pra-Islam tidak pernah mempergunakan  ungkapan itu sebelum ungkapan itu diwah-yukan dalam Al-Quran. Kebalikannya, mereka mempunyai keengganan untuk mempergunakan sifat Ilahi Ar-Rahmān (QS.25:61), yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Bismillāh. Lihat juga QS.1:1.
        Surat Nabi Sulaiman a.s. merupakan contoh yang indah sekali tentang bagaimana maksud yang besar dan luas dapat diringkaskan dalam beberapa perkataan singkat, sepi dari segala kata muluk-muluk dan panjang lebar tanpa guna. Surat itu sekaligus merupakan peringatan terhadap kesia-siaan pemberontakan, yang rupa-rupanya pada waktu itu timbul di beberapa bagian wilayah kerajaan Nabi Sulaiman a.s. itu (QS.21:79).
      Ajakan kepada  Ratu Saba untuk tunduk kepada Nabi Sulaiman a.s. adalah guna menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu, juga untuk meninggalkan kemusyrikan  dan menerima agama yang hakiki, sebab tugas utama  Nabi Sulaiman a.s. sebagai seorang rasul Allah  adalah menyeru Ratu Saba dan kaumnya kepada Tauhid Ilahi.

Musyawarah Ratu Saba dengan Para Pembesarnya 

     Mengutip kembali sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya  orang-orang mengambil hikmah di mana pun ia  berada:
Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya  maka ambillah.” (HR. Tirmidzi).
       Dalam firman Allah Swt. selanjutnya dikemukakan kebenaran  petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran  mengenai pentingnya melakukan  musyawarah dalam  memutuskan berbagai urusan yang penting (QS.3:160), yang   dilakukan juga oleh Ratu Saba dengan para pembesar kerajaannya, firman-Nya:
قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا  اَفۡتُوۡنِیۡ  فِیۡۤ   اَمۡرِیۡ ۚ مَا کُنۡتُ قَاطِعَۃً  اَمۡرًا حَتّٰی تَشۡہَدُوۡنِ ﴿﴾  قَالُوۡا نَحۡنُ اُولُوۡا قُوَّۃٍ  وَّ اُولُوۡا بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ ۬ۙ وَّ الۡاَمۡرُ  اِلَیۡکِ فَانۡظُرِیۡ مَاذَا تَاۡمُرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَتۡ اِنَّ  الۡمُلُوۡکَ اِذَا دَخَلُوۡا قَرۡیَۃً اَفۡسَدُوۡہَا وَ جَعَلُوۡۤا اَعِزَّۃَ  اَہۡلِہَاۤ  اَذِلَّۃً ۚ وَ کَذٰلِکَ  یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنِّیۡ مُرۡسِلَۃٌ  اِلَیۡہِمۡ بِہَدِیَّۃٍ  فَنٰظِرَۃٌۢ بِمَ  یَرۡجِعُ  الۡمُرۡسَلُوۡنَ ﴿﴾
Ia berkata:  “Hai pembesar-pembesar, berikan  pendapat  kepadaku mengenai urusanku ini, karena aku sekali-kali tidak  memutuskan sesuatu perkara hingga kamu hadir di hadapanku.”   Mereka berkata: “Kita memiliki kekuatan, dan kita memiliki kebe-ranian yang hebat dalam peperangan, tetapi memberi perintah itu ada pada engkau, maka pertimbangkanlah apa yang engkau akan perintahkan.”  Ia, Ratu Saba, berkata:   “Sesungguhnya raja-raja  apabila mereka memasuki suatu kota  mereka merusakkannya dan mereka menjadikan pen-duduknya yang mulia sebagai orang-orang yang hina, dan demikianlah selalu mereka kerjakan.   Tetapi sesungguhnya aku akan mengirimkan kepada mereka hadiah dan akan menanti jawaban apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu. (An-Naml [27]:33-36).
     Mengenai pentingnya melakukan musyawarah tersebut Allah Swt. berfirman  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَبِمَا رَحۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ لِنۡتَ لَہُمۡ ۚ وَ لَوۡ کُنۡتَ فَظًّا غَلِیۡظَ الۡقَلۡبِ لَانۡفَضُّوۡا مِنۡ حَوۡلِکَ ۪ فَاعۡفُ عَنۡہُمۡ وَ اسۡتَغۡفِرۡ لَہُمۡ وَ شَاوِرۡہُمۡ فِی الۡاَمۡرِ ۚ فَاِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُتَوَکِّلِیۡنَ ﴿﴾
Maka karena rahmat dari Allah-lah  engkau bersikap lemah-lembut  terhadap mereka, dan seandainya engkau senantiasa berlaku kasar dan keras hati, niscaya mereka akan bercerai-berai dari sekitar engkau, karena itu maafkanlah mereka, dan mintalah ampunan dari Allah untuk mereka, وَ شَاوِرۡہُمۡ فِی الۡاَمۡر --  dan  bermusyawarahlah   dengan mereka dalam urusan yang penting, فَاِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ  -- dan apabila engkau telah menetapkan tekad yakni keputusan maka berta-wakkallah kepada Allah, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُتَوَکِّلِیۡنَ -- sesungguhnya Allah  mencintai orang-orang yang bertawakal. (Ali ‘Imran [3]:160).

Pentingnya  Sikap  Kasih-sayang  Dalam Musyawarah

      Kata-kata فَبِمَا رَحۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ لِنۡتَ لَہُمۡ   --  “Maka karena rahmat dari Allah-lah  engkau bersikap lemah-lembut  terhadap mereka“   melukiskan keindahan watak  Nabi Besar Muhammad saw.   Di antara perangai yang paling baik lagi menonjol adalah kasih-sayang beliau saw. yang meliputi segala sesuatu.
      Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan kemesraan cinta-kasih manusiawi, dan beliau saw. bukan saja berlaku baik terhadap para sahabat dan para pengikut beliau saw., bahkan  penuh kasih-sayang dan belas-kasih terhadap musuh-musuh beliau saw., yang senantiasa mencari-cari kesempatan untuk menikam dari belakang (QS.9:128).
     Terukir di dalam sejarah bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  tidak mengambil tindakan apa pun terhadap orang-orang munafik yang khianat dan telah meninggalkan beliau saw. pada waktu Perang Uhud. Bahkan beliau saw. meminta musyawarah (pendapat) mereka dalam urusan kenegaraan.
      Di samping hal-hal lain, Islam mempunyai keistimewaan dalam segi ini yaitu   Islam memasukkan unsur musyawarah ke dalam asas-asas pokoknya.  Islam mewajibkan Kepala negara Islam mengadakan musyawarah dengan orang-orang Muslim dalam segala urusan kenegaraan yang penting-penting.
      Nabi Besar Muhammad saw.   biasa bermusyawarah dengan para pengikut beliau saw. sebelum perang-perang Badar, Uhud, dan Ahzab, dan pula ketika sebuah tuduhan palsu dilancarkan terhadap istri mulia beliau, Siti ‘Aisyah r.a. (QS.24:12-21  
      Abu Hurairah r.a. mengatakan: “Rasulullah saw.  mempunyai hasrat amat besar sekali untuk meminta musyawarah mengenai segala urusan penting” (Mantsur, II, 90).  ‘Umar r.a., Khalifah kedua  Nabi Besar Muhammad saw.    diriwayatkan pernah bersabda: “Tiada khilafat tanpa musyawarah(Izalat al-Khifa ‘an Khilafat al-Khulafa’).
      Jadi, mengadakan musyawarah dalam urusan penting merupakan perintah asasi Islam dan menjadi suatu keharusan bagi pemimpin-pemimpin ruhani maupun pemimpin-pemimpin duniawi di kalangan umat Islam. Khalifah atau Kepala negara Islam harus meminta saran dari orang-orang Muslim terkemuka, meskipun putusan terakhir tetap berada di tangannya.
       Syura atau musyawarah, menurut Islam, bukan suatu bentuk Parlemen dalam artian yang dipakai di Barat, karena  Kepala negara Islam mempunyai wewenang penuh untuk menolak saran yang diajukan kepadanya. Tetapi ia tidak boleh memakai wewenang itu seenaknya saja dan harus menghargai saran dari golongan terbanyak.
   Pendek kata, musyawarah yang dilakukan oleh Ratu Saba dengan para pembesarnya  dalam   Surah An-Naml [27]:33-36   sesuai dengan perintah Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., jadi  ayat tersebut menunjukkan bahwa Ratu Saba itu seorang Ratu yang sangat besar kekuasaannya, memiliki sumber-sumber kekayaan yang besar,  lagi pula dicintai, dibela, dan ditaati dengan ikhlas oleh rakyatnya, dan ia menjadi pembela nasib mereka.

Alasan Kemarahan Nabi Sulaiman a.s. Mendapat  Kiriman Hadiah dari Ratu Saba

       Kekuasaan dan kejayaan kerajaan Saba mencapai puncaknya pada kira-kira 1100 s.M. Masa kekuasaan Ratu Saba itu berlangsung sampai 950 s.M., ketika beliau diduga telah tunduk kepada Nabi Sulaiman a.s.. Dengan tundukknya Ratu Saba maka genaplah nubuatan Bible, yakni, “Segala raja Syeba dan Saba pun akan mengantar bingkisan” (Mazmur 72:10).
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai keputusan yang dilakukan  Ratu Saba dalam menanggapi surat dari Nabi Sulaiman a.s. yang disampaikan oleh Jenderal Hud-hud, sambil  “membaca  peta kekuatan” Nabi Sulaiman a.s., yang ternyata telah “terbaca” pula “misi”  yang dibawa oleh para utusan Ratu Saba yang membawa hadiah berupa “singgasana” yang sangat indah, firman-Nya:
فَلَمَّا جَآءَ سُلَیۡمٰنَ قَالَ  اَتُمِدُّوۡنَنِ بِمَالٍ  ۫ فَمَاۤ  اٰتٰىنَِۧ اللّٰہُ خَیۡرٌ  مِّمَّاۤ   اٰتٰىکُمۡ  ۚ بَلۡ  اَنۡتُمۡ  بِہَدِیَّتِکُمۡ  تَفۡرَحُوۡنَ ﴿﴾ اِرۡجِعۡ  اِلَیۡہِمۡ فَلَنَاۡتِیَنَّہُمۡ بِجُنُوۡدٍ لَّا قِبَلَ لَہُمۡ بِہَا وَ لَنُخۡرِجَنَّہُمۡ مِّنۡہَاۤ  اَذِلَّۃً  وَّ  ہُمۡ  صٰغِرُوۡنَ ﴿﴾
Maka tatkala ia datang membawa hadiah ke hadapan Sulaiman, ia (Sulaiman) berkata: “Apakah kamu membantuku dengan harta? Tetapi apa yang Allah berikan kepadaku itu lebih baik daripada apa yang Dia berikan kepada kamu. Bahkan kamu merasa sangat bangga dengan hadiah kamu itu. Kembalilah kepada mereka maka kami pasti akan datang kepada mereka dengan lasykar-lasykar yang mereka tidak sanggup menghadapinya,  dan niscaya kami akan  mengusir mereka darinya dengan terhina  dan mereka menjadi orang nista.” (An-Naml [27]:37-38).
       Nabi Sulaiman a.s. rupa-rupanya merasa sangat tersinggung oleh Ratu Saba yang mengirim hadiah-hadiah kepada beliau. Beliau menganggap pemberian “hadiah-hadiah” tersebut sebagai  penghinaan,  karena dalam surat yang dikirim sebelumnya melalui Jenderal Hud-hud.  beliau telah menuntut  agar Ratu Saba    menyerah, tetapi malahan beliau dikirimi hadiah-hadiah murah.
     Masalahnya adalah,  karena sebelumnya orang-orang Saba telah menyerang wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s. atau telah berusaha menimbulkan kerusuhan di dalamnya, karena itulah pengiriman hadiah-hadiah dari Ratu Saba itu sangat menyinggung perasaan dan membangkitkan kemurkaan Nabi Sulaiman a.s..
       Kalau dalam keadaan biasa  pasti Nabi Sulaiman a.s. akan senang sekali mendapat hadiah-hadiah itu, karena beliau  sangat menyukai keindahan  yang menurut beliau  barang-barang yang indah tersebut selalu mengingatkan beliau kepada Allah Swt., Rabb seluruh alam (QS.38:31-34).
      Qibal dalam ayat: اِرۡجِعۡ  اِلَیۡہِمۡ فَلَنَاۡتِیَنَّہُمۡ بِجُنُوۡدٍ لَّا قِبَلَ لَہُمۡ بِہَا  -- “Kembalilah kepada mereka maka kami pasti akan datang kepada mereka dengan lasykar-lasykar yang mereka tidak sanggup menghadapinya“ berarti: kekuasaan, kekuatan, wewenang. Mereka berkata, mali bihī qibalun, yakni  “aku tidak berdaya melawan dia” (Al-Aqrab-ul-Mawarid).

Kunjungan Kehormatan” Ratu Saba & Pembuatan “Singgasana Kehormatan

        Nampaknya para utusan (duta)  dari kerajaan Saba tersebut sudah menyaksikan atau  sudah “dapat membaca”   peta kekuatan yang dimiliki  Nabi Sulaiman a.s.,  yang mustahil bagi pihak kerajaan Saba untuk melakukan perlawanan bersenjata. Itulah sebab Ratu Saba mengambil kebijaksanaan untuk melakukan “kunjungan kehormatan” kepada Nabi Sulaiman a.s. guna menghindari jatuhnya korban   dari pihaknya.
     Dalam rangka menyambut “kunjungan kehormatan” Ratu Saba itulah Allah Swt. berfirman dalam ayat selanjutnya:
قَالَ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَیُّکُمۡ یَاۡتِیۡنِیۡ بِعَرۡشِہَا قَبۡلَ  اَنۡ یَّاۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ  لَقَوِیٌّ  اَمِیۡنٌ ﴿﴾   قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ  عِلۡمٌ  مِّنَ  الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ طَرۡفُکَ ؕ فَلَمَّا رَاٰہُ  مُسۡتَقِرًّا عِنۡدَہٗ  قَالَ ہٰذَا مِنۡ فَضۡلِ رَبِّیۡ ۟ۖ لِیَبۡلُوَنِیۡۤ  ءَاَشۡکُرُ اَمۡ  اَکۡفُرُ ؕ وَ مَنۡ شَکَرَ فَاِنَّمَا یَشۡکُرُ  لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  کَفَرَ  فَاِنَّ رَبِّیۡ غَنِیٌّ  کَرِیۡمٌ ﴿﴾
Ia (Sulaiman) berkata: “Hai para pembesar, siapakah dari antara kamu akan membawa kepadaku singgasananya  sebelum mereka datang kepadaku ber-serah  diri?”   Seorang hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit)  dari kalangan  para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau, dan sesungguhnya atas itu aku memiliki  kekuatan lagi terpercaya.”  Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata:  “Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan   kembali kepada engkau.” Maka tatkala ia, Sulaiman, melihatnya telah ada di hadapannya  ia berkata: “Ini adalah dari karunia Rabb-ku (Tuhan-ku) supaya Dia mengujiku apakah aku bersyukur ataukah tidak bersyukur. Dan barangsiapa yang bersyukur  maka sesungguhnya ia ber-syukur untuk manfaat dirinya sendiri,  dan barangsiapa tidak bersyukur maka sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Mahacukup, Mahamulia.”  (An-Naml [27]:39-41).
       Ungkapan بِعَرۡشِہَا   (singgasananya) dalam  ayat:  قَالَ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَیُّکُمۡ یَاۡتِیۡنِیۡ بِعَرۡشِہَا قَبۡلَ  اَنۡ یَّاۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ -- “Ia (Sulaiman) berkata: “Hai para pembesar, siapakah dari antara kamu akan membawa kepadaku singgasananya  sebelum mereka datang kepadaku berserah  diri?”    agaknya berarti singgasana  yang Nabi Sulaiman a.s. perintahkan membuatnya untuk menyambut Ratu Saba.
      Nampaknya sudah menjadi kebiasaan di zaman itu bahwa bila seorang kepala negara berkunjung kepada kepala negara lain  maka sebuah singgasana dibangun bagi penerimaan tamu agung itu. Nabi Sulaiman a.s.  pun memerintahkan membangun singgasana untuk menyambut Ratu Saba.
      Dikatakan بِعَرۡشِہَا   -- “singgasananya” sebab singgasana itu khusus dibangun untuk Ratu Saba. Ungkapan  بِعَرۡشِہَا  itu dapat juga berarti  “seperti singgasananya,” dan kalimat  یَاۡتِیۡنِیۡ   (mendatangkannya kepadaku) dapat diartikan “akan menyiapkan bagiku”   yakni    membuat singgasana khusus tersebut. Jadi makna ucapan Nabi Sulaiman a.s.:  یَاۡتِیۡنِیۡ   (mendatangkannya kepadaku)    bukan dalam arti memunculkan  singgasana  tersebut  seketika itu juga atau membawa singgasana tersebut secara gaib dari kerajaan Saba   -- sebagaimana yang salah-memaknai ayat-ayat mutasyābihāt seperti itu  (QS.3:8-9) --  melainkan  maknanya  adalah membuat atau membangun  “singgasana kehormatan” untuk menyambut kunjungan kenegaraan   Ratu Saba.

 Makna Kata    ’Ifrit  dan   Tharf

          Arti kata  ‘ifrit dalam ayat:  َالَ عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ  لَقَوِیٌّ  اَمِیۡنٌ  -- “Seorang hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit)  dari kalangan  para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau, dan sesungguhnya atas itu aku memiliki  kekuatan lagi terpercaya  berasal dari kata ‘afara yang berarti  “ia melemparkan dia ke tanah” atau “ia menghina dia”, yaitu suatu kata yang digunakan baik untuk manusia ataupun untuk jin, dan berarti: (1) seorang yang kuat dan gagah-perkasa; (2) tajam, gesit, dan efektif dalam menghadapi sesuatu urusan, melewati batas-batas biasa dalam urusan itu dengan kecerdasan dan kecerdikan; (3) seorang kepala, dan lain-lain (Lexicon Lane).   
        Kata-kata itu menunjukkan bahwa ‘ifrit tersebut adalah seorang pembesar dalam kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang sangat tinggi kedudukannya serta mempunyai wewenang besar, dan karena itu sangat percaya   diri  untuk dapat melaksanakan perintah atasannya dengan memuaskan dalam batas waktu yang diberikan kepadanya.
      Kalimat maqāmika dalam ayat:  اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ   --  “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau”,   mengandung arti  tempat Nabi Sulaiman a.s.  berkemah dalam perjalanan beliau ke Saba dan beliau sedang menantikan duta beliau kembali dengan membawa jawaban atas surat yang beliau kirim kepada Ratu Saba.
  Kemudian mengenai  makna kata tharf  -- sehubungan kesanggupan yang dikemukakan pejabat yang lain  ayat  selanjutnya:  قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ  عِلۡمٌ  مِّنَ  الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ طَرۡفُکَ   -- “Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata:  “Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan   kembali kepada engkau”   --  berarti: sekilas pandang; seorang bangsawan; penghasilan pajak pemerintah; seorang utusan dari Yaman (Lexicon Lane).
      Ungkapan itu dapat diartikan: (1) “sebelum duta engkau dari Yaman kembali kepada engkau”; (2) “dalam sekejap mata”; (3) “sebelum pajak pendapatan pemerintah disetor kepada perbendaharaan negara”. Dalam arti yang tersebut belakangan (3) ungkapan itu akan berarti:  “Aku tidak perlu lagi uang; uang yang sudah ada dalam khazanah pemerintah sudah cukup memenuhi perongkosan mendirikan singgasana bagi Sang Ratu.” Ungkapan  “yang mempunyai pengetahuan mengenai buku,” agaknya menunjuk kepada seseorang pejabat tinggi yang mengetahui seluk-beluk keuangan. Mungkin juga ia menteri keuangan Nabi Sulaiman a.s..
   Dalam ayat ini dan dalam ayat sebelumnya, dua buah penawaran untuk menyiapkan pengadaan  singgasana bagi Nabi Sulaiman a.s. telah disebutkan, pertama diajukan oleh ifrit yang menyediakan diri untuk menyiapkan singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman a.s.   mengemasi kemah dan berangkat   kembali; dan yang lainnya oleh “orang yang mempunyai pengetahuan  tentang buku.” Nampaknya pejabat yang disebut terakhir memberikan penawaran yang lebih baik untuk menyelesaikan pembuatan singgasana itu sebelum duta Nabi Sulaiman a.s.  kembali dengan jawaban atas surat beliau kepada Ratu Saba.
    Hubungan kalimat itu menunjukkan, bahwa Nabi Sulaiman a.s.  menerima penawaran yang kedua, sebab beliau menghendaki agar pembuatan  singgasana itu selesai sebelum Ratu Saba datang mengadakan kunjungan kehormatan kepada beliau dan beliau dapat tinggal di tempat itu sampai Ratu Saba datang dan seluruh upacara penyambutan selesai.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 26 Maret  2016