Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Suku-suku Bangsa Liar Penghuni Wilayah “Kanaan” yang Ditakuti
Bani Israil Penyebab Penolakan Mereka Memasuki “Negeri yang Dijanjikan” Bersama Nabi
Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.
Bab 10
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai
makna kata ’Ifrit dan Tharf
dalam firman-Nya:
قَالَ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَیُّکُمۡ یَاۡتِیۡنِیۡ بِعَرۡشِہَا قَبۡلَ اَنۡ یَّاۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ عِفۡرِیۡتٌ
مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ
اَنۡ تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ
وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ لَقَوِیٌّ اَمِیۡنٌ ﴿﴾ قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ عِلۡمٌ
مِّنَ الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ
بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ
طَرۡفُکَ ؕ فَلَمَّا رَاٰہُ مُسۡتَقِرًّا
عِنۡدَہٗ قَالَ ہٰذَا مِنۡ فَضۡلِ رَبِّیۡ
۟ۖ لِیَبۡلُوَنِیۡۤ ءَاَشۡکُرُ اَمۡ اَکۡفُرُ ؕ وَ مَنۡ شَکَرَ فَاِنَّمَا
یَشۡکُرُ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ کَفَرَ
فَاِنَّ رَبِّیۡ غَنِیٌّ کَرِیۡمٌ
﴿﴾
Ia (Sulaiman) berkata: “Hai para pembesar,
siapakah dari antara kamu akan membawa kepadaku singgasananya sebelum mereka
datang kepadaku ber-serah diri?” Seorang
hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit) dari kalangan
para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau
sebelum engkau berdiri dari tempat
engkau, dan sesungguhnya atas itu
aku memiliki kekuatan lagi terpercaya.”
Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata: “Aku
akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan kembali kepada engkau.” Maka tatkala ia, Sulaiman, melihatnya
telah ada di hadapannya ia berkata:
“Ini adalah dari karunia Rabb-ku (Tuhan-ku)
supaya Dia mengujiku apakah aku bersyukur ataukah tidak bersyukur. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya
ia bersyukur untuk manfaat dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur maka sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Mahacukup,
Mahamulia.” (An-Naml [27]:39-41).
Arti kata ‘ifrit dalam ayat: َالَ
عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ
تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ لَقَوِیٌّ
اَمِیۡنٌ -- “Seorang
hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit) dari kalangan
para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum
engkau berdiri dari tempat engkau,
dan sesungguhnya atas itu aku
memiliki kekuatan lagi terpercaya,”
berasal dari kata ‘afara yang berarti “ia
melemparkan dia ke tanah” atau “ia
menghina dia”, yaitu suatu kata
yang digunakan baik untuk manusia ataupun
untuk jin, dan berarti: (1)
seorang yang kuat dan gagah-perkasa; (2) tajam, gesit, dan efektif dalam
menghadapi sesuatu urusan, melewati batas-batas biasa dalam urusan itu dengan
kecerdasan dan kecerdikan; (3) seorang kepala, dan lain-lain (Lexicon Lane).
Kata-kata itu menunjukkan bahwa ‘ifrit
tersebut adalah seorang pembesar dalam
kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang
sangat tinggi kedudukannya serta
mempunyai wewenang besar, dan karena
itu sangat percaya diri untuk dapat melaksanakan perintah atasannya dengan memuaskan dalam batas waktu
yang diberikan kepadanya.
Kalimat
maqāmika dalam
ayat: اَنَا
اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ -- “Aku
akan membawanya kepada engkau sebelum engkau
berdiri dari tempat engkau”, mengandung arti tempat
Nabi Sulaiman a.s. berkemah dalam perjalanan beliau ke Saba dan beliau sedang menantikan duta beliau kembali dengan membawa jawaban atas surat yang beliau kirim kepada Ratu
Saba.
Kemudian
mengenai makna kata tharf -- sehubungan kesanggupan yang dikemukakan pejabat
yang lain -- dalam ayat selanjutnya:
قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ عِلۡمٌ
مِّنَ الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ
بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ
طَرۡفُکَ -- “Orang
yang memiliki pengetahuan mengenai buku
berkata: “Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan kembali kepada engkau,” tharf berarti: sekilas pandang;
seorang bangsawan; penghasilan pajak pemerintah; seorang utusan dari Yaman (Lexicon Lane).
Ungkapan itu dapat diartikan: (1)
“sebelum duta engkau dari Yaman kembali kepada engkau”; (2) “dalam sekejap mata”;
(3) “sebelum pajak pendapatan pemerintah disetor kepada perbendaharaan negara”.
Dalam arti yang tersebut belakangan (3) ungkapan itu akan berarti: “Aku
tidak perlu lagi uang; uang yang sudah ada dalam khazanah pemerintah sudah
cukup memenuhi perongkosan mendirikan singgasana bagi Sang Ratu.”
Ungkapan “yang mempunyai pengetahuan
mengenai buku,” agaknya menunjuk kepada seseorang pejabat tinggi yang mengetahui seluk-beluk
keuangan. Mungkin juga ia menteri
keuangan Nabi Sulaiman a.s..
Pengerahan SDM (Sumber
Daya Manusia) Untuk Membuat “Singgasana”
Penyambutan Ratu Saba
Dalam ayat dan dalam ayat sebelumnya (An-Naml
[27]:39-41), dua buah penawaran untuk
menyiapkan pengadaan singgasana bagi Nabi Sulaiman a.s. telah
disebutkan, pertama diajukan oleh ifrit yang menyediakan diri untuk menyiapkan singgasana itu sebelum Nabi
Sulaiman a.s. mengemasi kemah dan berangkat kembali; dan yang lainnya oleh “orang yang
mempunyai pengetahuan tentang buku.”
Walau
pun kedua pejabat tersebut sama-sama menawarkan dalam hal “kecepatan kerja” (pelaksanaan
tugas), nampaknya pejabat yang disebut terakhir memberikan penawaran yang lebih baik
untuk menyelesaikan pembuatan singgasana
itu sebelum duta Nabi Sulaiman a.s.
kembali dengan jawaban
atas surat beliau kepada Ratu Saba.
Hubungan kalimat itu menunjukkan, bahwa Nabi
Sulaiman a.s. menerima penawaran yang kedua, sebab beliau
menghendaki agar pembuatan singgasana itu selesai sebelum Ratu Saba datang mengadakan kunjungan kehormatan kepada beliau dan
beliau dapat tinggal di tempat itu sampai Ratu
Saba datang dan seluruh upacara penyambutan selesai.
Ayat An-Naml
[27]:39-41 mengandung arti juga bahwa segala macam orang dipekerjakan oleh Nabi
Sulaiman a.s. — orang-orang yang berilmu-pengetahuan
dan berpengalaman, pekerja-pekerja terampil dan buruh-buruh
kasar, tukang-tukang dan ahli-ahli teknik, sehingga sangat wajar
jika pembuatan singasana untuk
menyambut kedatangan Ratu Saba
tersebut cepat selesai.
Mengisyaratkan kepada pemanfaatan
sepenuhnya seluruh SDM (sumber daya
manusia) dan SDA (sumber daya alam)
yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Daud a.s. dan nabi Sulaiman a.s. itu pulalah firman
Allah Swt. mengenai telah makna “ditundukkan-Nya jin dan syaitan” -- yakni bangsa-bangsa
asing -- oleh Allah Swt. kepada Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s., dimana sebelumnya bangsa-bangsa asing
tersebut senantiasa menyerang Bani Israil tetapi dapat ditaklukkan oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. serta
berbagai keahlian mereka dimanfaatkan oleh kedua raja yang juga rasul Allah
(QS.2:247-253; QS.21:79-82), sebagaimana
firman-Nya:
وَ دَاوٗدَ وَ سُلَیۡمٰنَ
اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی الۡحَرۡثِ اِذۡ نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ الۡقَوۡمِ ۚ وَ کُنَّا لِحُکۡمِہِمۡ
شٰہِدِیۡنَ ﴿٭ۙ﴾ فَفَہَّمۡنٰہَا
سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ کُلًّا اٰتَیۡنَا حُکۡمًا
وَّ عِلۡمًا ۫ وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ
وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾ وَ
عَلَّمۡنٰہُ صَنۡعَۃَ لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ
بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ
وَ کُنَّا بِکُلِّ شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ
مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ
ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan ingatlah
Daud dan Sulaiman ketika mereka berdua memberikan
keputusan mengenai suatu ladang,
ketika kambing-kambing suatu kaum
merusak di dalamnya, dan Kami
menjadi saksi atas benarnya keputusan
mereka. Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman, dan kepada masing-masing Kami berikan kebijaksanaan dan ilmu. وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ
یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ -- Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih
bersama Daud, وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ -- dan Kami-lah Yang mengerjakannya. وَ عَلَّمۡنٰہُ
صَنۡعَۃَ لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ
لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ -- Dan Kami
mengajarinya membuat baju besi bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuran kamu, maka apakah kamu mau bersyukur? وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ
بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ
بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ
شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ -- Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang,
angin itu bertiup atas
perintahnya ke arah daerah yang telah
Kami berkati di dalamnya. Dan Kami
Maha Mengetahui segala sesuatu. وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ
یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ -- Dan
kalangan syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan pekerjaan lain selain itu, وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ -- dan Kami-lah yang menjaga mereka. (Al-Anbiya [21]:79-83). Lihat pula QS.34:13-15; QS.38:37-39.
Dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat
berikutnya telah dipergunakan bahasa
kiasan untuk menambah indahnya
ungkapan. Al-harts dapat menunjuk kepada negeri asal Nabi Sulaiman a.s. dan kata ghanam al-qaum kepada kabilah-kabilah tetangga yang buas dan suka merampok serta mengadakan serbuan-serbuan
ke negeri Nabi Sulaiman a.s.. Itulah makna
ayat: وَ دَاوٗدَ وَ
سُلَیۡمٰنَ اِذۡ یَحۡکُمٰنِ فِی
الۡحَرۡثِ اِذۡ نَفَشَتۡ فِیۡہِ غَنَمُ الۡقَوۡمِ -- “Dan ingatlah Daud dan Sulaiman ketika
mereka berdua memberikan keputusan
mengenai suatu ladang, ketika
kambing-kambing suatu kaum merusak di
dalamnya, dan Kami menjadi saksi
atas benarnya keputusan
mereka.“
Dua Siasat yang Berbeda
yang Dilakukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. Keduanya Mendapat Dukungan Allah Swt.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa isyarat
itu tertuju kepada dua siasat (kebijakan) berbeda yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s.
dan Nabi Sulaiman a.s. dalam
menanggulangi gangguan dari kabilah-kabilah
biadab yang suka melakukan perampokan
tersebut.
Nabi Daud a.s. adalah seorang ahli perang ulung, dan oleh karena itu beliau memilih menjalankan siasat keras, tetapi Nabi Sulaiman a.s. melakukan mengikuti siasat (kebijakan) yang lebih lunak lagi dalam upaya menundukkan kabilah-kabilah itu antara lain dengan cara mengadakan perjanjian-perjanjian persahabatan dengan mereka.
Siasat yang berbeda dari Nabi Daud a.s.
dan Nabi Sulaiman a.s. tersebut mirip dengan perbedaan masalah hukum
antara ajaran Taurat yang
diwahyukan kepada Nabi Musa a.s. yang lebih menekankan kepada “hukum
pembalasan” dengan ajaran Injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang lebih menekankan masalah “pemaafan”
(pengampunan).
Menurut Allah Swt. yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi
Sulaiman a.s. keduanya sesuai
dengan tuntutan situasi dan kondisi
para masa penerintahan keduanya. Jadi, kata-kata: وَ کُنَّا لِحُکۡمِہِمۡ
شٰہِدِیۡنَ -- dan
Kami menjadi saksi atas benarnya keputusan mereka. فَفَہَّمۡنٰہَا سُلَیۡمٰنَ ۚ -- “Maka Kami
memberikan pengertian kepada
Sulaiman,” ayat itu
mengandung arti bahwa siasat lunak dan cari damai yang dijalankan oleh
Nabi Sulaiman a.s. itu
memang tepat dalam keadaan-keadaan pada saat itu, dan bahwa
tuduhan yang dilancarkan terhadap
beliau oleh beberapa pengarang Yahudi,
bahwa Nabi Sulaiman a.s. mengikuti suatu siasat
lemah yang mendatangkan keruntuhan
wangsa beliau sekali-kali tidak mempunyai dasar yang sehat.
Tetapi pembelaan
Allah Swt. mengenai siasat lunak yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. tidak boleh diberi arti bahwa siasat keras yang dijalankan oleh Nabi Daud a.s. dalam masa beliau sendiri adalah salah. Suatu kesalah-pahaman
yang menjurus kepada kesimpulan ini
telah dihilangkan oleh anak kalimat: وَ کُلًّا اٰتَیۡنَا حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا -- dan kepada masing-masing Kami
berikan kebijaksanaan dan ilmu.”
Anak kalimat itu memperjelas bahwa siasat-siasat yang dijalankan, baik oleh
Nabi Daud a.s. maupun oleh Nabi Sulaiman a.s., itulah kebijakan
yang terbaik dalam keadaan itu dan
paling cocok pada peristiwa yang khas itu.
Kata-kata, وَّ سَخَّرۡنَا مَعَ دَاوٗدَ الۡجِبَالَ
یُسَبِّحۡنَ وَ الطَّیۡرَ ؕ وَ کُنَّا فٰعِلِیۡنَ -- “Kami tundukkan
gunung-gunung dan burung-burung
untuk bertasbih bersama Daud” telah diberi arti harfiah, bahwa gunung-gunung dan burung-burung
berada di bawah kekuasaan Nabi Daud a.s.,
dan ketika beliau mendendangkan sanjungan-sanjungan
kepada Allah Swt. mereka benar-benar ikut-serta
dengan beliau dalam amal saleh itu.
Padahal kata-kata
kiasan itu sesungguhnya hanya berarti bahwa orang-orang besar (aljibal)
dan ruhaniawan-ruhaniawan yang
bermartabat tinggi (ath-thair), memuliakan Allah Swt. dan mendendangkan sanjungan-sanjungan Ilahi bersama-sama
dengan Nabi Daud a.s..
Kata jibāl dapat pula
berarti, “orang-orang yang tinggal di
daerah pegunungan,” sebab adakalanya nama suatu tempat dipakai juga untuk orang
yang mendiaminya (QS.12:83). Jadi
bahwa “gunung” ditundukkan
untuk berkhidmat kepada Nabi Daud
a.s. dapat mengandung arti bahwa dengan izin
dan pertolongan Allah Swt. beliau menaklukkan dan menguasai kabilah-kabilah
liar serta biadab yang mendiami daerah pegunungan.
Nabi Daud a.s. adalah seorang penakluk
agung dan pengendali suku-suku bangsa
pegunungan yang buas itu. Bible
pun menunjuk kepada penundukan suku-suku
pegunungan oleh Nabi Daud a.s. (Samuel, bab 5).
Pengembangan Industri Milter
di Zaman Pemerintahan Nabi Daud a.s.
Dalam rangka melaksanakan penaklukan bangsa-bangsa liar di wilayah pengunungan itulah Allah Swt. telah berfirman mengenai Nabi Daud a.s.: وَ عَلَّمۡنٰہُ صَنۡعَۃَ
لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ
شٰکِرُوۡنَ -- “Dan Kami
mengajarinya membuat baju besi bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuran kamu, maka apakah kamu mau bersyukur?” (Al-Anbiya [21]:81). Dalam Surah lain ungkapan
kiasan yang digunakan mengenai industri
militer yang dikembangkan Nabi Daud
a.s. dalam pemerintahannya adalah “besi
dilunakkan” oleh Allah Swt., sehingga memungkinkan Nabi Daud a.s.
mengembangkan industri militer guna
menaklukkan kaum-kaum lainnya yang sebelumnya selalu menyerang suku-suku Bani Israil, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضۡلًا ؕ یٰجِبَالُ اَوِّبِیۡ مَعَہٗ
وَ الطَّیۡرَ ۚ وَ اَلَنَّا لَہُ
الۡحَدِیۡدَ ﴿ۙ﴾ اَنِ
اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ وَ اعۡمَلُوۡا صَالِحًا ؕ
اِنِّیۡ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan
karunia dari Kami kepada Daud dan berfirman: ”Hai
gunung-gunung dan burung-burung,
bertasbihlah berulang-ulang bersama dia.” وَ اَلَنَّا لَہُ
الۡحَدِیۡدَ -- Dan
Kami menjadikan besi lunak baginya.
Berfirman: “Buatlah baju rantai yang cukup
panjang serta ukurlah
cincin-cincinnya secara tepat,
dan berbuatlah amal saleh,
sesungguhnya Aku melihat apa pun yang kamu kerjakan.” (Sabā[34]:11-12).
Ungkapan وَ اَلَنَّا لَہُ
الۡحَدِیۡدَ -- “Dan Kami menjadikan besi lunak baginya,”
menunjukkan, bahwa teknik pembuatan
alat-alat perang dari besi sudah
sangat dikembangkan oleh Nabi Daud a.s. dan beliau dengan mudah dapat
memfaedahkannya untuk membuat baju-baju
rantai (zirah) sebagaimana ditampakkan oleh ayat berikutnya.
Jadi, yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah kekuatan militer Nabi Daud a.s. dan
tentang keahlian beliau yang besar
dalam membuat alat-alat perang dan baju-baju besi. Nabi Daud a.s. menemukan serta mengembangkan berbagai macam, alat senjata yang dengan mempergunakan alat-alat itu beliau memperoleh kemenangan-kemenangan besar atas kaum-kaum liar yang selama itu
menyerang suku-suku Bani Israil. Di
masa pemerintahan beliau kerajaan Bani
Israil mencapai puncak kekuasaannya.
Masa itu merupakan zaman keemasan
dalam sejarah Bani Israil.
Mengisyaratkan kepada suku-suku biadab yang tinggal di daerah pegunungan di wilayah Kanaan -- yakni
al-jibāl (gununggunung) dan jin -- itu pulalah yang ditakuti oleh Bani Israil, ketika mereka menolak perintah Nabi Musa a.s. untuk memasuki negeri Kanaan (Palestina), setelah mereka keluar
dari Mesir dengan menyebrangi lautan,
firman-Nya:
یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ
الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ کَتَبَ اللّٰہُ
لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰۤی
اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا
یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ ٭ۖ وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا
حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا ۚ فَاِنۡ یَّخۡرُجُوۡا
مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ ﴿﴾
Hai kaumku, masukilah Tanah yang disucikan yang telah
ditetapkan Allah bagi kamu, dan janganlah
kamu berbalik ke belakangmu lalu kamu
kembali menjadi orang-orang yang rugi.” قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ -- Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri
itu ada suatu kaum yang kuat lagi kejam, وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا -- dan sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya
hingga mereka keluar sendiri
darinya, فَاِنۡ یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ -- lalu jika
mereka keluar darinya maka kami akan memasukinya.” (Al-Maidah [5]:22-23).
Makna ucapan mereka dalam ayat: قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ -- Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri
itu ada suatu kaum yang kuat lagi kejam,” berarti
bahwa riwayat kaum-kaum itu dikenal oleh bangsa Bani Israil, yakni bangsa Amaliki dan suku-suku bangsa Arab liar menghuni Tanah suci (Kanaan) pada zaman itu dan orang-orang Bani Israil sangat takut kepada mereka. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ
رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی
اللّٰہِ فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ
کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَاۤ
اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ
فَقَاتِلَاۤ اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ لَاۤ
اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ
الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ
یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ
عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Dua orang laki-laki dari antara mereka yang takut kepada Allah dan Allah
telah memberi nikmat kepada keduanya berkata: “Masuklah melalui pintu gerbang mereka, lalu apa-bila
kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya
kamu akan menang. Dan hanya kepada
Allah-lah hendaknya kamu bertawakkal
jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.” قَالُوۡا
یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ
نَّدۡخُلَہَاۤ اَبَدًا مَّا
دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ -- Mereka
berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami
tidak akan pernah memasuki negeri itu selama mereka masih ada di dalamnya, karena
itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan)
engkau, lalu berperanglah engkau berdua,
sesungguhnya kami hendak duduk-duduk
saja di sini!” قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ
لَاۤ اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ
اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ -- Musa berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali terhadap
diriku dan saudara laki-lakiku,
maka bedakanlah antara kami dengan kaum yang fasik itu.” قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً
ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ
الۡفٰسِقِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka sesungguhnya
negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka akan bertualang kebingungan di muka
bumi maka janganlah
engkau bersedih atas kaum yang fasik itu.” (Al-Maidah [5]:24-27).
“Dua Orang Laki-laki” Pemberani di Kalangan Bani Israil &
Pengangkatan Thalut Sebagai Raja
Bani Israil
“Dua
orang laki-laki” yang disebut di sini biasanya diduga adalah Yusak bin Nun dan Kaleb bin Yefuna (Bilangan
14:6). Akan tetapi, dari letak kalimat nampak lebih mendekati kemungkinan bahwa
Nabi Musa a.s. dan Nabi
Harun a.s. yang dipanggil dengan kata-kata “dua orang laki-laki” di sini. Kata rajul (laki-laki)
mencerminkan citra kejantanan dan keberanian.
Bahwa kedua laki-laki yang gagah-berani itu adalah Nabi
Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.
sendiri, dapat pula ditarik kesimpulan dari kenyataan bahwa Nabi Musa a.s. mendoa
bagi beliau sendiri dan bagi saudara beliau, Harun a.s. (QS.5:26). Dalam
ayat tersebut Allah Swt. tidak
menyebut nama-nama beliau melainkan
hanya mengatakan “dua orang laki-laki”
sebagai pujian atas keperwiraan dan keberanian kedua beliau dan dengan sendirinya mencela nyali kecil
(kepengecutan) orang-orang Bani Israil
lainnya yang menyertai Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s..
Ketika
orang-orang Bani Israil bertingkah
bagai orang-orang pengecut, Allah
Swt. menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun agar kehidupan keras
padang pasir akan menempa mereka dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa baru dan akan memperkokoh moral mereka. Dalam masa itu generasi tua boleh dikatakan
telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan yang cukup untuk menaklukkan Tanah Yang Dijanjikan, sebagaimana yang
dikemukakan dalam QS.2:247-252 mengenai perjuangan Thalut.
Mengenai “kaum-kaum” yang dikemukakan dalam ayat: قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ -- “Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri
itu ada suatu kaum yang kuat lagi kejam,” berarti
bahwa riwayat kaum itu dikenal oleh Bani
Israil. Kaum-kaum itu adalah bangsa
Amaliki (Amalek) dan suku-suku bangsa
Arab liar yang menghuni Kanaan
pada zaman itu, yang orang-orang Bani Israil sangat takut kepada mereka. Kaum-kaum
yang liar itulah -- yang digambarkan sebagai Jalut dan balatentaranya
-- pada zaman Thalut (Gideon) dapat dikalahkan, tetapi Nabi Daud a.s. berhasil ditaklukkan sepenuhnya, firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ
اِذۡ قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ
اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا ؕ قَالُوۡا وَ مَا
لَنَاۤ اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا ؕ فَلَمَّا کُتِبَ
عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌۢ بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ قَالَ
لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ
بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا
اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ
مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ اِنَّ اللّٰہَ
اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ
وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ وَ قَالَ لَہُمۡ
نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اٰیَۃَ مُلۡکِہٖۤ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ التَّابُوۡتُ فِیۡہِ
سَکِیۡنَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ بَقِیَّۃٌ
مِّمَّا تَرَکَ اٰلُ مُوۡسٰی وَ اٰلُ ہٰرُوۡنَ تَحۡمِلُہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ
اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾٪ فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوۡتُ
بِالۡجُنُوۡدِ ۙ قَالَ اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ بِنَہَرٍ ۚ
فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ فَاِنَّہٗ
مِنِّیۡۤ اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ غُرۡفَۃًۢ
بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ فَلَمَّا جَاوَزَہٗ
ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۙ
قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ ؕ قَالَ
الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ ۙ کَمۡ
مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً
کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ
قَالُوۡا رَبَّنَاۤ اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا
صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ
انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ؕ فَہَزَمُوۡہُمۡ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ
جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ
بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ
عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ
اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ
اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi
mereka: “Angkatlah bagi kami seorang
raja, supaya kami dapat berperang di
jalan Allah.” قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ
اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا -- Ia berkata: ”Mungkin saja kamu tidak akan berperang jika berperang itu diwajibkan atas kamu?” قَالُوۡا وَ مَا لَنَاۤ اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ
قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا --Mereka berkata: “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah padahal sungguh kami
telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?” فَلَمَّا کُتِبَ
عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ -- Tetapi tatkala
berperang ditetapkan atas mereka,
mereka berpaling kecuali sedikit dari mereka, وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌۢ بِالظّٰلِمِیۡنَ -- dan Allah
Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.
وَ
قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اللّٰہَ
قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا -- Dan nabi mereka berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya Allah telah mengangkat
Thalut menjadi raja
bagi kamu.” قَالُوۡۤا اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ
نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ -- Mereka berkata: “Bagaimana
ia bisa memiliki kedaulatan atas kami,
padahal kami lebih berhak memiliki
kedaulatan daripadanya, karena ia tidak pernah diberi harta yang
berlimpah-ruah?” قَالَ اِنَّ اللّٰہَ
اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ -- Ia
berkata: “Sesungguhnya Allah telah
memilihnya sebagai raja atas
kamu dan melebihkannya dengan
keluasan ilmu dan kekuatan badan.” وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Dan Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada
siapa yang Dia kehendaki, dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. وَ قَالَ لَہُمۡ
نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اٰیَۃَ مُلۡکِہٖۤ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ التَّابُوۡتُ فِیۡہِ
سَکِیۡنَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ بَقِیَّۃٌ
مِّمَّا تَرَکَ اٰلُ مُوۡسٰی وَ اٰلُ ہٰرُوۡنَ تَحۡمِلُہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ
اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ -- Dan nabi mereka berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya tanda kedaulatannya
ialah bahwa akan datang kepada kamu
suatu Tabut, yang di
dalamnya mengandung ketenteraman dari Rabb (Tuhan) kamu dan pusaka
peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dipikul oleh malaikat-malaikat,
sesungguhnya dalam hal ini
benar-benar ada suatu Tanda bagi kamu, jika kamu sungguh orang-orang yang beriman.” فَلَمَّا فَصَلَ
طَالُوۡتُ بِالۡجُنُوۡدِ ۙ قَالَ اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ بِنَہَرٍ ۚ
فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ فَاِنَّہٗ
مِنِّیۡۤ اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ غُرۡفَۃًۢ
بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ --- Maka tatkala
Thalut berangkat dengan balatentaranya ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan mencobai kamu dengan sebuah sungai, lalu barangsiapa
minum darinya maka ia bukan dariku, dan barangsiapa
tidak pernah mencicipinya maka sesungguhnya
ia dariku, kecuali orang yang
menciduk seciduk dengan tangannya.” Tetapi mereka
minum darinya kecuali sedikit
dari mereka, فَلَمَّا جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ
لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ -- lalu tatkala
ia dan orang-orang yang beriman besertanya telah menyeberanginya mereka berkata: “Tidak ada kemampuan pada kami hari ini untuk menghadapi Jalut
dan balatentaranya.” قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ
مُّلٰقُوا اللّٰہِ -- Tetapi
orang-orang
yang meyakini bahwa sesungguhnya
mereka akan menemui Allah berkata: کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ
قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً کَثِیۡرَۃًۢ
بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- “Berapa
banyak golongan yang sedikit telah mengalahkan golongan yang banyak dengan
izin Allah, وَ اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ -- dan Allah
beserta orang-orang yang sabar.” وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ
جُنُوۡدِہٖ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ اَفۡرِغۡ
عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ
اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- Dan tatkala mereka maju untuk menghadapi Jalut dan bala-tentaranya,
mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan)
kami, anugerahkanlah ketabahan atas kami, dan teguhkanlah
langkah-langkah kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.”
فَہَزَمُوۡہُمۡ بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- Maka mereka
mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ
جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ -- dan Dawud
membunuh Jalut, dan Allah memberinya kerajaan dan kebijaksanaan dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ
اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan seandainya Allah tidak
menyingkirkan kejahatan sebagian
manusia oleh sebagian lainnya,
niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan,
tetapi Allah memiliki karunia atas
seluruh alam. تِلۡکَ اٰیٰتُ
اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ
اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ -- Itulah
Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya
kepada engkau dengan haq, dan sesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari antara orang-orang yang diutus. (Al-Baqarah [2]:247-253).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 28 Maret 2016