Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
TIDAK ADA MANUSIA SECARA ALAMI BISA HIDUP DI LANGIT & ORANG-ORANG YANG “TERSESAT”
DALAM MEMAHAMI SIFAT-SIFAT SEMPURNA ALLAH SWT.
Bab 80
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai penggunaan kata ihbithu bahwa sama sekali tidak ada hubungannya dengan “pengusiran” Adam a.s. dan “istrinya”
dari surga, sebagaimana umumnya telah keliru difaham, karena
orang-orang yang telah berada dalam surga tidak bisa dikeluarkan atau keluar
lagi dari dalam surga yang hakiki,
tapi mereka bisa terlepas dari “suasana surgawi” yang sebelumnya mereka nikmati, sebagaimana yang terjadi dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis” atau seperti
yang terjadi pada diri Bal’am bin
Baura atau Bileam bin Beor karena berlaku takabbur terhadap Nabi Musa a.s., sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اتۡلُ
عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ
اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ
اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ
یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ
فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka berita
orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ
لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ -- Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan
itu, akan tetapi ia cenderung ke
bumi dan mengikuti hawa nafsunya, فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang
kehausan, jika engkau menghalaunya
ia menjulurkan lidahnya اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ -- dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan li-dahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ
الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ -- Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ
یَتَفَکَّرُوۡنَ -- maka kisahkanlah
kisah ini supaya mereka
merenungkannya. سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَا -- Sangat
buruk misal orang-orang
yang mendustakan Tanda-tanda Kami,
وَ
اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ -- dan
kepada diri mereka sendirilah mereka
berbuat zalim. (Al-A’rāf [176-178).
Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt. memperlihatkan Tanda-tanda melalui
seorang nabi Allah tapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu
terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).
Ayat
177 telah dikenakan secara khusus kepada seorang
yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang
menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan.
Ayat itu dapat
juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat
pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran
di setiap zaman pengutusan Rasul Allah
dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37),
termasuk di Akhir Zaman ini
(QS.25:1-32; QS.36:31-33; QS.61:10; QS.62:3-5).
Makna ayat وَ لٰکِنَّہٗۤ
اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ
-- “akan tetapi ia cenderung ke
bumi, dan mengikuti hawa nafsunya”
maksudnya hal-hal yang bersifat kebendaan,
pada khususnya kecintaan akan uang. Selanjutnya berfirman: فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ -- maka keadaannya
seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya”.
Yalhats -- dari
lahatsa -- yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya
adalah baik diminta ataupun tidak
untuk berkorban pada jalan agama,
orang semacam itu nampaknya terengah-engah
seperti seekor anjing kehausan,
seakan-akan beban pemberian pengorbanan
yang terus menerus bertambah membuatnya amat
penat sekali.
Tidak Ada Manusia dari Bumi yang Dapat Hidup di Langit
Kembali
kepada firman Allah Swt. mengenai perintah-Nya kepada Nabi Adam a.s. dan “jamaah” beliau
untuk “hijrah” sementara dari “jannah”, firman-Nya:
قَالَا
رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ اَنۡفُسَنَا ٜ
وَ اِنۡ
لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ
مُسۡتَقَرٌّ وَّ مَتَاعٌ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ
مِنۡہَا تُخۡرَجُوۡنَ ﴿٪﴾
Keduanya berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami
telah berlaku zalim terhadap diri kami, dan jika
Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi
kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang rugi.” قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ
-- Dia berfirman: ”Pergilah kamu semua
dari sini, sebagian
kamu adalah musuh bagi sebagian lain, وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ وَّ مَتَاعٌ اِلٰی حِیۡنٍ -- dan bagi kamu di bumi ini terdapat tempat tinggal dan bekal
hidup sampai masa tertentu.” قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا
تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا تُخۡرَجُوۡنَ -- Dia berfirman: ”Di dalamnya kamu akan hidup dan di dalamnya kamu akan mati,
dan darinya kamu akan dikeluarkan.”
(Al-A’rāf [7]:24-26).
Jika
diartikan secara umum ayat قَالَ فِیۡہَا
تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا
تُخۡرَجُوۡنَ -- Dia berfirman: ”Di dalamnya kamu akan hidup dan di dalamnya kamu akan mati,
dan darinya kamu akan dikeluarkan”
mengisyaratkan bahwa tidak ada manusia dapat naik ke langit
dengan tubuh kasarnya – termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- karena Allah Swt. telah menentukan bahwa manusia harus hidup dan mati di bumi ini juga, sebab tanpa dukungan berbagai
macam sarana perlengkapan
yang memadai guna menunjang kehidupan manusia maka
tidak ada seorang manusia pun yang dapat hidup di luar angkasa atau
di langit.
Itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman
mengenai persyaratan untuk dapat menembus atau mengarungi
ruang-angkasa di luar planet bumi:
یٰمَعۡشَرَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ
اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾
Hai golongan jin dan ins (manusia)! اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ
اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا -- Jika kamu memiliki
kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, لَا تَنۡفُذُوۡنَ
اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ -- namun kamu tidak dapat menembusnya
kecuali dengan kekuatan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ
نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ -- Akan dikirimkan
kepada kamu berdua nyala api dan leburan
tembaga, lalu kamu berdua
tidak akan dapat menolong diri sendiri. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu berdua dustakan? (Al-Rahmān
[55]:34-37).
Makna Lain “An-Nās”
(Manusia)
Ayat 34 telah
diberi bermacam-macam penafsiran.
Menurut suatu penafsiran, para ilmuwan
dan para ahli filsafat penganut agama Kristen
dari Barat -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) -- yang membanggakan diri mengenai kemajuan besar yang telah dicapai mereka
dalam bidang ilmu duniawi, mereka telah diberitahu bahwa kendati pun betapa besarnya kemajuan yang mungkin telah dicapai
mereka dalam pengetahuan dan teknologi, tetapi mereka tidak
akan dapat memahami semua hukum alam yang mengatur alam semesta iciptaan Allah Swt. ini
dengan sepenuhnya. Betapa pun mereka
berusaha, mereka tidak akan berhasil
dalam pencarian mereka (QS.18:108;
QS.31:28; QS.67:1-5).
Menurut penafsiran lain, ayat ini memperingatkan orang-orang berdosa: “Biarkanlah mereka memberanikan diri menembus
batas-batas langit dan bumi, mereka tidak akan mampu menentang hukum-hukum
Ilahi tanpa mendapat hukuman, dan mereka tidak akan dapat meloloskan diri dari
azab Ilahi.”
Ayat 34 surah Ar-Rahmān tersebut dapat
juga mengisyaratkan kepada pembuatan roket-roket, sputnik-sputnik, dan
sebagainya; dengan alat-alat tersebut orang-orang Rusia dan Amerika Serikat
berusaha mencapai benda-benda langit. Mereka diberitahu, bahwa paling-paling
mereka hanya akan dapat mencapai beberapa planet
terdekat dari bumi, tetapi jagat-jagat raya kepunyaan Allah Swt. tidak
mungkin dapat dijelajahi
seluruhnya.
Ayat
36 menunjuk kepada azab paling dahsyat lagi menakutkan, yang akan menimpa kedua blok yang bermusuhan itu. Dunia rupa-rupanya berdiri di tepi jurang api yang berkobar-kobar dengan dahsyatnya dan nyala apinya mengancam
akan menghanguskan seluruh peradaban
manusia.
Kenyataan tersebut membuktikan kebenaran
pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa pada akhirnya tempat tinggal “orang-orang kafir” adalah “neraka
jahannam” (QS.7:180) seperti halnya iblis dan syaitan (QS.7:14-19; QS.15:29-45;
QS.38:72-86), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ
لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ
بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ
﴿﴾ وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا ۪ وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ
مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ
بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ یَعۡدِلُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menjadikan untuk penghuni Jahannam
banyak di antara jin dan ins (manusia), mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya, mereka
memiliki mata tetapi mereka tidak
melihat dengannya, mereka memiliki
telinga tetapi mereka tidak mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ
اَضَلُّ -- mereka
itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡغٰفِلُوۡنَ -- Mereka itulah orang-orang yang lalai. وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا -- Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik, maka serulah
Dia dengan nama-nama itu, وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ اَسۡمَآئِہٖ -- dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang
dalam memahami
nama-nama-Nya, سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ -- mereka segera akan mendapat balasan terhadap apa yang senantiasa mereka kerjakan. وَ مِمَّنۡ
خَلَقۡنَاۤ اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ یَعۡدِلُوۡنَ -- Dan
di antara manusia yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan
haq dan dengan itu pula mereka menegakkan
keadilan. (Al-A’rāf [7]:180-182).
Huruf lam (lā) dalam ayat 180 adalah lam
‘aqibat yang menyatakan kesudahan
atau akibat. Dengan demikian ayat ini
tidak ada hubungannya dengan tujuan
kejadian manusia (QS.51:57), melainkan
hanya menyebutkan kesudahan yang
patut disesalkan mengenai kehidupan
kebanyakan ins (manusia) dan jin.
Mereka yang Menyimpang
Memahami Sifat-sifat Allah Swt.
Kata jin itu juga mempunyai arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar, sedang ins mengisyaratkan kepada masyarakat
awam. Dari cara mereka menjalani hidup mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan
nampak seolah-olah mereka telah diciptakan
untuk masuk neraka. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ لَقَدۡ
ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ
لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ
بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا ۪ وَ ذَرُوا
الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ
مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik, maka serulah
Dia dengan nama-nama itu,
dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dalam memahami nama-nama-Nya, mereka segera akan mendapat balasan terhadap apa yang senantiasa mereka kerjakan. (Al-A’rāf [7]:181).
Nama Tuhan ialah Allah, semua sebutan lainnya sebenarnya adalah hanya Sifat-sifat-Nya. Pada waktu berdoa kita harus memanggil Sifat-sifat Allah Swt. yang
langsung berkaitan dengan maksud doa
itu: وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا -- “Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik,
maka serulah Dia dengan nama-nama
itu.”
Makna ayat selanjutnya: وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ – “tinggalkanlah
orang-orang yang menyimpang dalam memahami nama-nama-Nya, mereka segera akan mendapat balasan terhadap apa yang senantiasa mereka kerjakan,” jika menyimpang dari jalan yang benar berkenaan dengan Sifat-sifat Allah Swt. dapat
diartikan, bahwa karena Allah Swt. adalah
Pemilik segala Sifat terbaik -- al-Asmā-ul-Husna (QS.7:181; QS.59:25) yang tersebut dalam Al-Quran
dan Hadits, karena itu tidak boleh memberikan kepada-Nya sifat-sifat lain yang tidak
sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya, dan Kasih Sayang-Nya yang meliputi segala-gala.
Sifat-sifat utama Tasybihiyah dan Tanzihiyah Allah Swt. telah dikemukakan Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah -- yang mereupakan surah pembuka Al-Quran -- dan dalam 3 surah penutup Al-Quran, yaitu surah Al-Ikhlash serta surah Al-Falaq dan An-Nās yang sedang dibahas.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ
بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ یَعۡدِلُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan di
antara manusia yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan haq dan dengan itu pula mereka menegakkan keadilan.
(Al-A’rāf
[7]:183).
Karena Nabi
Besar Muhammad saw. adalah Rasul Allah pembawa
wahyu syariat yang terakhir dan
tersempurna berupa wahyu Al-Quran
(QS.5:4), maka dalam rangka agar Nabi Besar Muhammad saw. tidak melakukan kealfaan yang atau kesalahan-tafsir yang pernah
dilakukan oleh Nabi Adam a.s. berkenaan “bujukan” manusia-manusia syaitan yang sangat meyakinkan – tetapi penuh dengan tipu-daya -- Allah Swt. berfirman kepada beliau saw.:
وَ کَذٰلِکَ
اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ
صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ یُحۡدِثُ
لَہُمۡ ذِکۡرًا ﴿﴾ فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ
قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمًا ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ
فَنَسِیَ وَ لَمۡ
نَجِدۡ لَہٗ عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan demikianlah Kami
telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa
Arab dan Kami telah menerangkan
berulang-ulang di dalamnya berbagai
macam ancaman supaya mereka bertakwa
atau supaya perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ -- Maka Mahatinggi
Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ
بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ
-- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau,
وَ قُلۡ
رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah
kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thā Hā
[20]:114-115).
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda: "Carilah ilmu pengetahuan sekalipun mungkin
ditemukannya jauh di rantau Cina" (Shagir, jilid I). Di tempat lain dalam Al-Quran telah dilukiskan sebagai "karunia Allah yang sangat besar" (QS.2:270 & QS.4:114). Ilmu itu ada dua macam:
1.
ilmu yang
dianugerahkan kepada manusia dengan perantaraan wahyu dan yang telah mencapai kesempurnaan
dalam wujud Al-Quran (QS.42:52-54;
QS.72:27-29).
2.
ilmu yang
didapatkan oleh manusia dengan usaha
dan jerih-payahnya sendiri.
Ilmu jenis yang kedua --
karena diberikan secara umum sesuai dengan sifat Rahmaniyat Allah Swt.
-- sering kali menimbulkan ketakaburan pada pemiliknya, seperti
yang terjadi pada Qarun dan kaum-kaum
purbakala (QS.28:77-83; QS.39:50-53).
Dalam rangka menegaskan pentingnya melaksanakan perintah Allah Swt. – agar tidak keliru dalam menafsirkan Al-Quran --
kemudian Allah Swt. mengingatkan Nabi
Besar Muhammad saw. mengenai kealfaan yang dilakukan Nabi Adam a.s.
ketika salah-menafsirkan “bujukan”
manusia syaitan yang sangat meyakinkan
tetapi penuh tipu-daya firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ وَ
لَمۡ نَجِدۡ لَہٗ
عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan sungguh
Kami benar-benar telah membuat
perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak
mendapatkan padanya tekad untuk berbuat
dosa (Thā Hā [20]:116).
Tidak Ada “Dosa
Warisan” Akibat Pelanggaran Adam
dan Istrinya & Perlindungan Nabi Isa Ibnu Mryam a.s. dan Ibunya di
Kasymir
Dengan demikian jelaslah bahwa “pelanggaran”
yang dilakukan “Adam dan istrinya” --
akibat kekeliruan beliau menafsirkan “bujukan” manusia syaitan yang penuh
“tipu-daya” -- sama sekali tidak
mengakibatkan terjadinya “dosa warisan”
yang memerlukan “penebusan dosa”
melalui kematian terkutuk Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. di tiang salib.
Terlebih
lagi kesaksian Al-Quran
dan Bible, serta kesaksian sejarah
dan hasil penyelidikan “kain kafan
Turin” yang pernah dipakai mengkafani tubuh Nabi Isa Ibnu Maryam a a.s. setelah beliau diturunkan dari tiang salib, membuktikan bahwa beliau sekali pun sempat mengalami penyaliban selama 3 jam tetapi
tidak sampai wafat seperti
yang diharapkan para pemuka Yahudi (QS.5:158-159).
Mengapa demikian? Sebab sebagai “penggembala
yang baik” beliau harus mencari 10 suku (domba-domba) Israil yang tercerai-berai
di luar Palestina (Yahya 10:10-14), sehingga akhirnya beliau sampai di Kasymir (QS.23:51) dan wafat di sana dalam usia 120 tahun,
karena terbukti bahwa bangsa Afghanistan
dan bangsa Kasymir adalah keturunan
10 suku Bani Israil yang hilang,
firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ
اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی
رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami
melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir. (Al-Mu’minūn [23]:51).
Masalah kematian
Yesus seperti pula kelahirannya telah menjadi masalah yang
banyak dipertentangkan karena
kemisteriusannya, sehingga menjadi sumber munculnya berbagai fitnah
yang menyesatkan berkenaan dengan
beliau, antara lain berupa munculnya faham Trinitas dan “penebusan dosa warisan” yang merupakan bagian paling berbahaya dari
“fitnah Dajjal.”
Beberapa kekacauan pendapat dan keraguan
masih tetap ada mengenai bagaimana
dan di mana beliau melampaukan hari-hari terakhir dalam kehidupan
beliau yang padat karya itu, dan oleh
karena persoalan cara menemui ajal
beliau pun merupakan persoalan yang sangat penting bagi agama
Kristen maka pada tempatnya diberikan catatan yang agak lengkap mengenai persoalan yang penting tapi rumit ini.
Al-Quran dan Bible dikuatkan oleh kenyayaan-kenyataan
sejarah yang telah diakui sahnya, memberi dukungan kuat kepada pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) tidak
wafat di atas salib melainkan beliau wafat
secara wajar dan penuh kehormatan
akibat usia lanjut setelah menyelesaikan
seluruh tugas beliau sebagai Al-Masih
(QS.3:56; QS.4:158-159;QS.5:117-119).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 1 Juli
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar