Jumat, 08 Juli 2016

Tidak Ada Manusia Secara Alami Bisa Hidup di Langit & Orang-orang yang "Tersesat" Memahami Sifat-sifat Sempurna Allah Swt.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


 TIDAK ADA MANUSIA   SECARA ALAMI BISA HIDUP DI LANGIT & ORANG-ORANG YANG  “TERSESAT” DALAM MEMAHAMI  SIFAT-SIFAT SEMPURNA ALLAH SWT.

Bab 80

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  mengenai   penggunaan kata ihbithu bahwa sama sekali tidak ada hubungannya dengan “pengusiran” Adam a.s. dan “istrinya” dari surga, sebagaimana  umumnya telah keliru difaham,  karena orang-orang yang telah berada dalam surga tidak bisa dikeluarkan atau keluar lagi dari dalam surga yang hakiki, tapi  mereka bisa terlepas dari “suasana surgawi” yang sebelumnya mereka nikmati, sebagaimana yang  terjadi dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis”  atau seperti   yang terjadi pada diri Bal’am bin Baura atau Bileam bin Beor  karena berlaku takabbur terhadap Nabi Musa a.s., sebagaimana   firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesatوَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ --   Dan seandainya  Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi  dan mengikuti hawa nafsunya,  فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ  -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ  -- dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   li-dahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ   --  Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami,  فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ -- maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا   --  Sangat buruk misal  orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ  --  dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [176-178).
  Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt.   memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang nabi Allah tapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).
    Ayat 177   telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s.   dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan.
 Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran di setiap zaman pengutusan Rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), termasuk di Akhir Zaman ini (QS.25:1-32; QS.36:31-33; QS.61:10; QS.62:3-5).
Makna ayat  وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ  -- “akan tetapi ia cenderung ke bumi, dan mengikuti hawa nafsunya” maksudnya hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan akan uang. Selanjutnya berfirman: فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ  -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya”.
  Yalhats   -- dari lahatsa   -- yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya  adalah  baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.

Tidak Ada Manusia dari Bumi yang Dapat Hidup di Langit

  Kembali kepada  firman Allah Swt. mengenai perintah-Nya  kepada Nabi Adam a.s. dan “jamaah” beliau untuk “hijrah” sementara dari “jannah”, firman-Nya:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ  لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ  وَّ مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ ﴿﴾  قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ ﴿٪﴾
Keduanya berkata:   ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami,  dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi.”  قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ  لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  --  Dia berfirman:  Pergilah kamu semua  dari sini,  sebagian kamu adalah musuh bagi sebagian lain,  وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ  وَّ مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ     -- dan bagi kamu di bumi ini terdapat tempat tinggal  dan bekal hidup sampai masa tertentu.” قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ --  Dia berfirman:  Di dalamnya  kamu  akan hidup dan di dalamnya  kamu akan mati, dan darinya kamu akan dikeluarkan.” (Al-A’rāf [7]:24-26).
  Jika diartikan secara umum ayat  قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ --  Dia berfirman:  Di dalamnya  kamu  akan hidup dan di dalamnya  kamu akan mati, dan darinya kamu akan dikeluarkan  mengisyaratkan bahwa tidak ada manusia dapat naik ke langit dengan tubuh kasarnya – termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   --   karena Allah Swt. telah menentukan bahwa manusia harus hidup dan mati di bumi ini juga, sebab tanpa dukungan berbagai macam sarana  perlengkapan yang memadai  guna menunjang kehidupan manusia maka  tidak ada seorang manusia pun yang dapat hidup di luar angkasa  atau di langit.
 Itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman mengenai persyaratan untuk dapat menembus   atau mengarungi ruang-angkasa di luar planet bumi:
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Hai golongan jin dan ins (manusia)!  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا -- Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ  -- namun kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?  یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ  --  Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api dan leburan tembaga, lalu kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri.    فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --  Maka   nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? (Al-Rahmān [55]:34-37).

Makna Lain “An-Nās” (Manusia)

  Ayat 34   telah diberi bermacam-macam penafsiran. Menurut suatu penafsiran, para ilmuwan dan para ahli filsafat penganut agama   Kristen dari Barat    -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)   -- yang membanggakan diri mengenai kemajuan besar yang telah dicapai mereka dalam bidang ilmu duniawi, mereka  telah diberitahu  bahwa kendati pun betapa besarnya kemajuan yang mungkin telah dicapai mereka dalam pengetahuan dan teknologi,   tetapi  mereka tidak akan  dapat memahami semua hukum alam yang mengatur alam semesta iciptaan Allah Swt. ini dengan sepenuhnya.  Betapa pun mereka berusaha, mereka tidak akan berhasil dalam pencarian mereka (QS.18:108; QS.31:28; QS.67:1-5).
 Menurut penafsiran lain, ayat ini memperingatkan orang-orang berdosa: “Biarkanlah mereka memberanikan diri menembus batas-batas langit dan bumi, mereka tidak akan mampu menentang hukum-hukum Ilahi tanpa mendapat hukuman, dan mereka tidak akan dapat meloloskan diri dari azab Ilahi.”   
  Ayat 34 surah Ar-Rahmān  tersebut dapat juga mengisyaratkan kepada pembuatan roket-roket, sputnik-sputnik, dan sebagainya; dengan alat-alat tersebut orang-orang Rusia dan Amerika Serikat berusaha mencapai benda-benda langit. Mereka diberitahu, bahwa paling-paling mereka hanya akan dapat mencapai beberapa planet terdekat dari bumi, tetapi jagat-jagat raya kepunyaan Allah Swt.  tidak mungkin dapat dijelajahi seluruhnya.
 Ayat  36   menunjuk kepada azab paling dahsyat lagi menakutkan, yang akan menimpa kedua blok yang bermusuhan itu. Dunia rupa-rupanya berdiri di tepi jurang api yang berkobar-kobar dengan dahsyatnya dan nyala apinya mengancam akan menghanguskan seluruh peradaban manusia.
   Kenyataan tersebut membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa pada akhirnya  tempat tinggal “orang-orang kafir” adalah “neraka jahannam” (QS.7:180) seperti  halnya iblis dan syaitan (QS.7:14-19; QS.15:29-45;  QS.38:72-86), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ  لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا ۪ وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ  اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ  یَعۡدِلُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  menjadikan  untuk penghuni  Jahannam banyak di antara jin dan ins (manusia),   mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya, mereka  memiliki   mata tetapi  mereka tidak melihat dengannya, mereka memiliki telinga  tetapi mereka tidak mendengar dengannya,  اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ --   mereka itu  seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ  -- Mereka itulah orang-orang yang lalai.  وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا   --  Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik,  maka serulah Dia dengan nama-nama itu, وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اَسۡمَآئِہٖ --  dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang  dalam  memahami nama-nama-Nya, سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ --  mereka segera akan mendapat balasan terhadap apa yang senantiasa mereka kerjakan. وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ  اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ  یَعۡدِلُوۡنَ    --  Dan  di antara manusia yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan haq dan dengan itu pula mereka menegakkan keadilan. (Al-A’rāf [7]:180-182).
  Huruf lam (lā) dalam ayat 180   adalah  lam ‘aqibat yang menyatakan kesudahan atau akibat. Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya dengan tujuan kejadian manusia (QS.51:57), melainkan hanya menyebutkan kesudahan yang patut disesalkan mengenai kehidupan kebanyakan ins (manusia) dan jin.

Mereka yang Menyimpang Memahami Sifat-sifat Allah Swt.
  
 Kata jin itu juga mempunyai arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar, sedang ins  mengisyaratkan  kepada masyarakat awam. Dari cara mereka menjalani hidup mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan nampak seolah-olah mereka telah diciptakan untuk masuk neraka.  Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ  لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا ۪ وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik,  maka serulah Dia dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang  dalam  memahami nama-nama-Nya, mereka segera akan mendapat balasan terhadap apa yang senantiasa mereka kerjakan.  (Al-A’rāf [7]:181).  
  Nama Tuhan ialah Allah, semua sebutan lainnya sebenarnya adalah hanya Sifat-sifat-Nya. Pada waktu berdoa kita harus memanggil Sifat-sifat Allah Swt. yang langsung berkaitan dengan maksud doa itu:   وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا  -- “Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik, maka serulah Dia dengan nama-nama itu.
   Makna ayat selanjutnya:  وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ – “tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang  dalam  memahami nama-nama-Nya, mereka segera akan mendapat balasan terhadap apa yang senantiasa mereka kerjakan,” jika menyimpang dari jalan yang benar berkenaan dengan Sifat-sifat Allah Swt. dapat diartikan, bahwa   karena Allah Swt.  adalah  Pemilik segala Sifat terbaik -- al-Asmā-ul-Husna (QS.7:181; QS.59:25) yang tersebut dalam Al-Quran dan Hadits,  karena itu tidak boleh  memberikan kepada-Nya sifat-sifat lain yang tidak sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya, dan Kasih Sayang-Nya yang meliputi segala-gala.
   Sifat-sifat utama Tasybihiyah  dan Tanzihiyah Allah Swt.  telah dikemukakan Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah  -- yang mereupakan surah pembuka Al-Quran  -- dan  dalam 3 surah penutup Al-Quran, yaitu surah Al-Ikhlash serta   surah Al-Falaq dan An-Nās  yang sedang dibahas. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ  اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ  یَعۡدِلُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan  di antara manusia yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan haq dan dengan itu pula mereka menegakkan keadilan. (Al-A’rāf [7]:183).
     Karena Nabi Besar Muhammad saw. adalah Rasul Allah pembawa wahyu syariat yang terakhir dan tersempurna berupa wahyu Al-Quran (QS.5:4), maka dalam rangka agar Nabi Besar Muhammad saw. tidak melakukan kealfaan yang atau kesalahan-tafsir yang pernah  dilakukan oleh Nabi Adam a.s. berkenaan “bujukan”  manusia-manusia syaitan yang  sangat  meyakinkan – tetapi penuh dengan tipu-daya   -- Allah Swt.   berfirman kepada beliau saw.:
وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ    --   Maka  Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ  --  Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau, وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا --  dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”  (Thā Hā [20]:114-115).
   Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda: "Carilah ilmu pengetahuan sekalipun mungkin ditemukannya jauh di rantau Cina" (Shagir, jilid I). Di tempat lain dalam Al-Quran telah dilukiskan sebagai "karunia Allah yang sangat besar" (QS.2:270 & QS.4:114). Ilmu itu ada dua macam:
1.     ilmu yang dianugerahkan kepada manusia dengan perantaraan wahyu dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam wujud Al-Quran (QS.42:52-54; QS.72:27-29).
2.     ilmu yang didapatkan oleh manusia dengan usaha dan jerih-payahnya sendiri.   
     Ilmu jenis yang kedua  --  karena diberikan secara umum sesuai dengan sifat Rahmaniyat Allah Swt.   --  sering kali menimbulkan ketakaburan pada pemiliknya, seperti yang terjadi pada Qarun  dan kaum-kaum purbakala (QS.28:77-83; QS.39:50-53).
       Dalam rangka menegaskan pentingnya melaksanakan perintah Allah Swt.   – agar tidak keliru dalam menafsirkan Al-Quran   -- kemudian Allah Swt. mengingatkan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai  kealfaan yang dilakukan  Nabi Adam a.s.  ketika  salah-menafsirkan     “bujukan” manusia syaitan yang sangat meyakinkan tetapi  penuh tipu-daya firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad  untuk berbuat dosa (Thā Hā [20]:116). 

Tidak Ada “Dosa Warisan” Akibat Pelanggaran Adam dan Istrinya  & Perlindungan  Nabi Isa Ibnu Mryam a.s. dan Ibunya di Kasymir

    Dengan demikian jelaslah bahwa “pelanggaran”   yang dilakukan “Adam dan istrinya”   -- akibat kekeliruan beliau menafsirkan “bujukan” manusia syaitan yang penuh “tipu-daya”  -- sama sekali tidak mengakibatkan terjadinya “dosa warisan” yang memerlukan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. di tiang salib.
    Terlebih lagi kesaksian   Al-Quran dan Bible, serta kesaksian  sejarah dan hasil penyelidikan “kain kafan Turin” yang pernah dipakai mengkafani  tubuh Nabi Isa Ibnu Maryam a a.s.  setelah beliau diturunkan dari tiang salib,  membuktikan bahwa beliau sekali pun sempat mengalami penyaliban selama 3 jam tetapi tidak sampai wafat  seperti yang diharapkan para pemuka Yahudi (QS.5:158-159).
    Mengapa demikian? Sebab  sebagai “penggembala yang baik” beliau harus mencari 10  suku (domba-domba) Israil yang tercerai-berai di luar Palestina (Yahya 10:10-14),  sehingga akhirnya beliau sampai di Kasymir (QS.23:51) dan wafat di sana dalam usia 120 tahun, karena terbukti bahwa bangsa Afghanistan dan bangsa Kasymir adalah keturunan 10 suku Bani Israil yang hilang, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan    sumber-sumber mata air yang  mengalir. (Al-Mu’minūn [23]:51).
  Masalah    kematian Yesus seperti pula kelahirannya telah menjadi masalah yang banyak dipertentangkan   karena kemisteriusannya,  sehingga menjadi sumber munculnya berbagai fitnah yang menyesatkan berkenaan dengan beliau,     antara lain berupa munculnya faham Trinitas dan “penebusan dosa warisan” yang merupakan bagian paling berbahaya dari “fitnah Dajjal.” 
  Beberapa kekacauan pendapat dan keraguan masih tetap ada mengenai bagaimana dan di mana beliau melampaukan hari-hari terakhir dalam kehidupan beliau yang padat karya itu, dan oleh karena persoalan cara menemui ajal beliau pun merupakan persoalan yang sangat penting  bagi agama Kristen maka pada tempatnya diberikan catatan yang  agak lengkap mengenai persoalan yang penting tapi rumit ini.
Al-Quran dan Bible dikuatkan oleh kenyayaan-kenyataan sejarah yang telah diakui sahnya, memberi dukungan kuat kepada pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.)  tidak wafat di atas salib melainkan beliau wafat secara wajar dan penuh kehormatan akibat usia lanjut  setelah menyelesaikan seluruh tugas beliau sebagai Al-Masih (QS.3:56; QS.4:158-159;QS.5:117-119).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 1  Juli    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar