Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
PENELANTARAN
PARA PENENTANG RASUL ALLAH OLEH SYAITAN & NABI BESAR MUHAMMAD SAW. ADALAH CIPTAAN ALLAH SWT. YANG PALING TINGGI (SEMPURNA) DAN SYAITAN YANG PALING RENDAH (HINA)
Bab 85
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai
dua macam jawaban Allah Swt. mengenai tuntutan orang-orang kafir berkenaan turunnya para malaikat dalam firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ
عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا ؕ لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ
اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا
بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ عَمَلٍ
فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا ﴿﴾ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ
مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا ﴿﴾
Dan berkata orang-orang yang tidak mengharapkan
pertemuan dengan Kami: لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ
عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا -- “Mengapa para
malaikat tidak diturunkan kepada kami?
Atau mengapakah kami tidak melihat Rabb (Tuhan) kami?” لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا
کَبِیۡرًا -- Sesungguhnya
mereka terlalu sombong mengenai diri
mereka dan mereka telah terlampau
jauh dalam kedurhakaan. یَوۡمَ یَرَوۡنَ
الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Pada hari
ketika mereka melihat
malaikat-malaikat, tidak ada kabar
suka pada hari itu bagi orang-orang
yang berdosa, وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا -- dan mereka berkata: “Semoga ada dinding penghalang yang kuat!”
وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ
عَمَلٍ فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا -- Dan akan Kami
hadapi segala pekerjaan yang
mereka kerjakan lalu Kami
akan menjadikannya zarrah-zarrah debu yang berhamburan. اَصۡحٰبُ
الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا -- Pada hari
itu para penghuni surga tempat tinggalnya lebih baik dan tempat istirahatnya lebih indah. (Al-Furqan
[25]:22-25).
Turunnya
Malaikat Azab
Atas tuntutan pertama yang lancang, orang-orang kafir seperti tersebut dalam
ayat sebelumnya diberitahu bahwa malaikat-malaikat
pasti akan turun, tetapi mereka – malaikat-malaikat pemberi hukuman itu – ketika mereka itu datang, orang-orang
kafir akan membenci di kala
nampak kepada mereka malaikat-malaikat
itu, lalu akan mendoa agar suatu penghalang yang kuat hendaknya ditegakkan di antara mereka dengan malaikat-malaikat itu.
Ada pun terhadap tuntutan mereka yang kedua (yaitu “mengapakah
kami tidak melihat Tuhan kami?” dalam ayat 22): اَوۡ
نَرٰی رَبَّنَا --
“Atau mengapa para malaikat tidak diturunkan kepada kami?” Tuntutan takabbur mereia akan
dibalas dengan melenyapkan segala pekerjaan mereka dan hancur-luluhnya mereka seperti zarrah-zarrah debu.
Pendek kata, bahwa baik kepada orang-orang yang beriman
mau pun kepada orang-orang kafir
Allah Swt. bersama para malaikat benar-benar “mendatangi” mereka tetapi dalam
perlakuan yang berbeda, yakni berupa rahmat dan berupa azab, termasuk di Akhir Zaman
ini firman-Nya:
وَ یَوۡمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِالۡغَمَامِ وَ
نُزِّلَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾
اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی
الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ
یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ
الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾ یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا
خَلِیۡلًالَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ
الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾ وَ
قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan pada hari ketika langit akan terpecah-belah dengan awan-awan dan malaikat-malaikat akan diturunkan bergelombang-gelombang. اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ --
Kerajaan yang haq
pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ
عَسِیۡرًا -- dan azab
pada hari itu atas orang-orang
kafir sangat keras. وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ -- Dan pada
hari itu orang zalim akan menggigit-gigit
kedua tangannya یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ
الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا -- lalu berkata: ”Wahai alangkah baiknya jika aku
mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا -- Wahai celakalah aku, alangkah
baiknya seandainya aku tidak menjadikan si fulan itu sahabat. لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ -- Sungguh ia
benar-benar telah melalaikanku dari mengingat
kepada Allah sesudah ia datang
kepadaku.” وَ کَانَ
الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- Dan syaitan
selalu menelantarkan manusia. وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا
-- Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ
عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb
(Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan
penolong. (Al-Furqān [25]:26-32).
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya bahwa mengenai ayat 26-30 dapat tertuju kepada Hari Badar
sungguh-sungguh merupakan suatu hari yang
penuh dengan kesedihan bagi orang-orang
kafir Mekkah. Pada hari itulah dasar-dasar
Islam diletakkan dengan teguhnya, dan kaum
kafir Quraisy telah menyadari kehinaan
dan kekalahan pahit yang mereka
derita.
Penelantaran oleh Syaitan
Berkenaan
dengan sikap syaitan dalam ayat selanjutnya: یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا -- Wahai celakalah
aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak
menjadikan si fulan itu sahabat. لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ -- Sungguh ia
benar-benar telah melalaikanku dari mengingat
kepada Allah sesudah ia datang
kepadaku.” وَ کَانَ
الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- dan syaitan
selalu menelantarkan manusia”, sikap
syaitan itu
sesuai dengan firman-Nya:
وَ قَالَ الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ
وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ
سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا
تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ
بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata: اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ
الۡحَقِّ --
“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan
kepada kamu suatu janji yang benar, وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ -- dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ
سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ -- dan aku
sekali-kali tidak
memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا
اَنۡفُسَکُمۡ -- Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri. مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ
وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ -- Aku sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ
قَبۡلُ -- Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya,
اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ
عَذَابٌ اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya
orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim
[14]:23).
Dengan demikian benarlah yang disabdakan Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan syaitan
dalam Bab 59:
“…Hal itu tidak
benar adanya. Mereka seharusnya mengetahui bahwa Al-Quran tidak ada mengajarkan kalau syaitan itu memiliki kekuatan
memaksa untuk menyesatkan manusia.
Begitu juga tidak ada ajaran yang
menyatakan bahwa syaitan ditugaskan dengan tujuan menarik manusia kepada dosa. Yang diajarkan adalah bahwa hal
itu merupakan cobaan dan ujian.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 80-85, London, 1984).
Fungsi Syaitan dan
Para Malaikat
Selanjutnya
mengenai peran atau fungsi syaitan dan para malaikat
bagi manusia, Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Beberapa
orang bodoh mengemukakan keberatan atas eksistensi (keberadaan) syaitan,
sepertinya Tuhan Sendiri
menginginkan manusia menjadi sesat. Tidak demikian keadaannya.
Setiap orang yang berfikir bisa memahami bahwa setiap manusia memiliki dua
fitrat, yaitu yang satu disebut sebagai sentuhan syaitan dan yang lainnya sentuhan malaikat.
Dengan kata
lain, fitrat manusia memperlihatkan bahwa tanpa diketahui penyebabnya
terkadang muncul fikiran baik
dalam kalbunya yang membawanya kepada perbuatan-perbuatan bermanfaat, tetapi juga terkadang muncul fikiran
buruk yang menyeretnya kepada perbuatan keji dan dosa. Kekuatan yang
menjadi sumber fikiran jahat menurut
ajaran Al-Quran disebut sebagai syaitan dan kekuatan yang menjadi sumber
fikiran baik adalah malaikat.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 435, London, 1984).
Itulah makna bahwa syaitan senantiasa “meninggalkan
dan menelantarkan” orang-orang kafir yang berhasil diperdayainya: یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا -- “Wahai celakalah aku, alangkah
baiknya seandainya aku tidak menjadikan si fulan itu sahabat. لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ -- Sungguh
ia benar-benar telah melalaikanku
dari mengingat kepada Allah sesudah
ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- dan syaitan
selalu menelantarkan manusia. (Al-Furqān [25]:29-30).
Sedangkan
ayat: وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا
-- Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ
عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb
(Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan
penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
Ayat ini dengan sangat tepat
sekali dapat dikenakan pada masa Akhir
Zaman saat mengenai orang-orang yang
menamakan diri orang-orang Muslim
tetapi telah menyampingkan Al-Quran
dan telah melemparkannya ke belakang
sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan.
Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang
Muslim seperti dewasa ini. Sebabnya
adalah karena “ruh” Al-Quran -- yakni ilmu
Al-Quran -- yang hakiki telah dicabut kembali oleh Allah Swt. akibat kelakuan buruk umat Islam sendiri
setelah mengalami masa kejayaan
yang pertama selama 3 abad
(QS.32:6), firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [32]:6).
Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari
Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh
masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.
Ciptaan Tuhan yang Tertinggi dan Terendah
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kedudukan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai makhluk yang paling sempurna dari
seluruh ciptaan (makhluk) Allah
Swt.:
“Kami
telah mengemukakan, bahwa yang termasuk paling sempurna yang wujudnya berada di titik tertinggi garis ciptaan adalah Hadhrat Rasulullah Saw., sedangkan berbanding terbalik dengan beliau yang dianggap sebagai wujud paling buruk dan ditempatkan di
ujung paling rendah adalah syaitan.
Wujud syaitan ini tidak kasat mata dan tidak
bisa diraba, tetapi dengan
memperhatikan sistem garis ciptaan
tersebut, kita harus mengakui bahwa
yang patut di berada di titik tertinggi
keluhuran ini adalah wujud yang
merupakan personifikasi kebaikan dan
muncul di dunia sebagai pembimbing kepada kebaikan, sebaliknya yang patut
berada di titik terendah adalah wujud
yang mengajak dan menarik manusia kepada keburukan. Karena itulah di kalbu setiap manusia secara internal terdapat pengaruh dari kedua wujud
tersebut.
Pengaruh suci dari Hadhrat Muhammad Saw. -- yang disebut juga sebagai Ruh Nur dan [Ruh] Kebenaran, -- menggamit setiap kalbu
kepada kebaikan melalui niat suci dan dorongan batin. Berapa tingginya derajat kedekatan dan kecintaan
yang bersangkutan kepada beliau maka sepadan itu pula yang bersangkutan
mencapai tingkat keimanan dan luasnya nur yang merebak di dalam hatinya,
sehingga dapat dikatakan ia telah
menyerupai warna dan mendapat
refleksi (pantulan) dari segala keluhuran yang menjadi ciri beliau.
Adapun pengaruh dari wujud yang bernama syaitan
yang mengajak manusia kepada dosa
dan menarik kalbu manusia yang tertarik kepadanya ke arah syirik bertempat di titik terendah. Seberapa jauh kedekatan manusia kepadanya, sepadan
itu pula fikirannya akan berpaling kepada kekafiran dan kekejian,
sampai pada suatu titik dimana ia menjadi mirip sama sekali dengan syaitan dalam segala hal yang bersifat kekejian.
Para sahabat Sang Rahmān (Maha Pemurah) dan
dan para teman syaitan akan tertarik
ke arah yang berlainan sejalan dengan kadar
hubungan mereka.” (Surma Chasm
Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm. 248-251, London, 1984).
Sehubungan dengan kesempurnaan
ketinggian maqam (martabat) Nabi
Besar Muhammad saw. tersebut, dalam ayat-ayat
berikut ini Allah Swt. berfirman mengenai malaikat pembawa wahyu Al-Quran, firman-Nya kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
وَ اِنَّہٗ
لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ نَزَلَ
بِہِ الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ وَ اِنَّہٗ
لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ اَوَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ
یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb
(Tuhan) seluruh alam. نَزَلَ بِہِ الرُّوۡحُ
الۡاَمِیۡنُ -- Telah
turun dengannya Ruh yang terpercaya عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ -- atas
kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pemberi
peringatan, بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ -- dengan bahasa Arab yang jelas. وَ اِنَّہٗ لَفِیۡ
زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan sesungguhnya Al-Quran
benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.
اَوَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan
tidakkah ini merupakan satu Tanda
bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani
Israil pun mengetahuinya?
(Asy-Syua’ra
[26]:193-198).
Hubungan Rūhul Amīn dan “Al-Amīn”
Makna ayat-ayat ini bermaksud mengatakan bahwa
wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala
baru. Seperti amanat-amanat para nabi
Allah sebelumnya demikian pula amanat
Al-Quran juga telah diwahyukan
oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim kepada kaum masing-masing, sedang Al-Quran
diturunkan untuk seluruh bangsa di
dunia: وَ
اِنَّہٗ لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- sebab “Al-Quran diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
Dalam
ayat بِہِ
الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ -- “telah turun
dengannya Ruh yang terpercaya” ini malaikat
yang membawa wahyu Al-Quran disebut rūhul-amīn,
yaitu Ruh yang terpercaya – yaitu sebutan lain Malaikat
Jibril a.s.. Di tempat lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan terakhir (Rūhul-qudus)
dipergunakan dalam Al-Quran untuk
menunjuk kepada kebebasan yang kekal-abadi dan mutlak Al-Quran dari setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama kehormatan
yang pertama (Rūhul-Amīn) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya (QS.15:10; QS.41:42-43).
Nama kehormatan ini secara khusus
telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu
Al-Quran, sebab janji pemeliharaan
Ilahi yang kekal-abadi tidak
diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya; dan kata-kata dalam kitab suci itu, karena berlalunya masa telah menderita campur tangan manusia dan perubahan.
Sungguh mengherankan, bahwadi
Mekkah Nabi Besar Muhammad saw. sendiri dikenal sebagai Al-Amīn (si
benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan
Ilahi dan betapa besar kesaksian
mengenai keterpercayaan Al-Quran,
karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn
(Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibril a.s. kepada seorang amin!
Kata-kata “atas kalbu engkau” telah dibubuhkan dalam ayat selanjutnya: عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ -- atas
kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pemberi
peringatan” untuk mengatakan bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan hanya gagasan yang dicetuskan Nabi Besar Muhammad saw. dengan
perkataan beliau saw. sendiri
(QS.53:1-6), melainkan benar-benar Kalam
(firman) Allah Swt. Sendiri,
yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. (QS.2:98).
Makna
ayat: وَ اِنَّہٗ
لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di
dalam kitab-kitab terdahulu. اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan
tidakkah ini merupakan satu Tanda
bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani
Israil pun mengetahuinya?
(Asy-Syua’ra
[26]:197-198). Hal diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. dan hal diwahyukan-Nya Al-Quran, kedua-duanya
telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati dalam
Kitab-kitab hampir setiap agama, akan
tetapi Bible —yang merupakan kitab
suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu
sebelum Al-Quran, dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam
kemurniannya konon merupakan rekan
sejawat, kitab syariat— mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya
21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius
21:42-45 dan Yahya 16:12-14.
Turunnya Syaitan dan Wahyu Syaitan
Dalam ayat-ayat berikut ini Allah Swt. berfirman mengenai turunnya syaitan, firman-Nya:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ
عَلٰی مَنۡ تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ اَفَّاکٍ
اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ یُّلۡقُوۡنَ
السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ کٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ؕ وَ الشُّعَرَآءُ
یَتَّبِعُہُمُ الۡغَاوٗنَ ﴿﴾ؕ اَلَمۡ
تَرَ اَنَّہُمۡ فِیۡ کُلِّ وَادٍ یَّہِیۡمُوۡنَ ﴿﴾ۙ وَ
اَنَّہُمۡ یَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا
یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ۙ اِلَّا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللّٰہَ کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
ظُلِمُوۡا ؕ وَ سَیَعۡلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ مُنۡقَلَبٍ
یَّنۡقَلِبُوۡنَ﴿﴾٪
Maukah kamu
Aku beri tahu kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? تَنَزَّلُ
عَلٰی کُلِّ اَفَّاکٍ اَثِیۡمٍ -- Mereka
turun kepada tiap-tiap pendusta yang
berdosa. یُّلۡقُوۡنَ السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ کٰذِبُوۡنَ -- Mereka mengarahkan telinga ke langit dan kebanyakan mereka pendusta. وَ
الشُّعَرَآءُ یَتَّبِعُہُمُ الۡغَاوٗنَ -- Dan penyair-penyair
itu yang mengikuti mereka adalah
orang yang sesat. اَلَمۡ تَرَ اَنَّہُمۡ
فِیۡ کُلِّ وَادٍ یَّہِیۡمُوۡنَ -- Tidakkah engkau
melihat bahwasanya mereka itu berjalan kian-kemari tanpa tujuan di dalam setiap lembah, وَ اَنَّہُمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا یَفۡعَلُوۡنَ -- dan bahwasanya mereka itu mengatakan apa yang tidak mereka
lakukan, اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا
اللّٰہَ کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا -- kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal
saleh serta banyak-banyak mengingat Allah, dan mereka membela diri setelah
mereka dizalimi. وَ سَیَعۡلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا
اَیَّ مُنۡقَلَبٍ یَّنۡقَلِبُوۡنَ -- Dan orang-orang
zalim itu segera akan
mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali (Asy-Syua’ra [26]:222-228).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 11 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar