Sabtu, 09 Juli 2016

Nabi Besar Muhammad Saw. Pemilik Berbagai Kesempurnaan Akhlak dan Ruhani Lebih Layak "Dipertuhan" Daripada Para Rasul Allah yang "Dipertuhan" Para Penyembahnya


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  PEMILIK BERBAGAI KESEMPURNAAN AKHLAK DAN RUHANI LEBIH LAYAK  DIPERTUHAN” DARIPADA  PARA RASUL ALLAH YANG   DIPERTUHAN PARA PENYEMBAHNYA


Bab 81

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai   “pelanggaran”   yang dilakukan “Adam dan istrinya”   -- akibat kekeliruan beliau menafsirkan “bujukan” manusia syaitan yang penuh “tipu-daya”  --  peristiwa tersebut sama sekali tidak mengakibatkan terjadinya “dosa warisan” yang memerlukan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. di tiang salib.
      Terlebih lagi kesaksian   Al-Quran dan Bible, serta kesaksian  sejarah dan hasil penyelidikan “kain kafan Turin” yang pernah dipakai mengkafani  tubuh Nabi Isa Ibnu Maryam a a.s.  setelah beliau diturunkan dari tiang salib,  membuktikan bahwa beliau -- sekali pun sempat mengalami penyaliban selama 3 jam  -- tetapi tidak sampai wafat   seperti yang diharapkan para pemuka Yahudi  sesuai  makar buruk mereka (QS.3:53-57; QS.4:158-159; QS.5:117-119).
     Mengapa demikian? Sebab  sebagai “penggembala yang baik” beliau harus mencari 10  suku (domba-domba) Israil yang tercerai-berai di luar Palestina (Yahya 10:10-14),  sehingga akhirnya beliau sampai di Kasymir (QS.23:51) dan wafat di sana dalam usia 120 tahun, karena terbukti bahwa bangsa Afghanistan dan bangsa Kasymir adalah keturunan 10 suku Bani Israil yang hilang, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan    sumber-sumber mata air yang  mengalir. (Al-Mu’minūn [23]:51).

Makna Lain Masih (Masaha)

     Masalah    kematian Yesus seperti pula kelahirannya telah menjadi masalah yang banyak dipertentangkan   karena kemisteriusannya,  sehingga menjadi sumber munculnya berbagai fitnah yang menyesatkan berkenaan dengan beliau,     antara lain berupa munculnya faham Trinitas dan “penebusan dosa warisan” yang merupakan bagian paling berbahaya dari “fitnah Dajjal.”   
   Beberapa kekacauan pendapat dan keraguan masih tetap ada mengenai bagaimana dan di mana beliau melampaukan hari-hari terakhir dalam kehidupan beliau yang padat karya itu, dan oleh karena persoalan cara menemui ajal beliau pun merupakan persoalan yang sangat penting  bagi agama Kristen maka pada tempatnya diberikan catatan yang  agak lengkap mengenai persoalan yang penting tapi rumit ini.
 Al-Quran dan Bible  --  dikuatkan oleh kenyayaan-kenyataan sejarah yang telah diakui sahnya -- memberi dukungan kuat kepada pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.)  tidak wafat di atas salib melainkan beliau wafat secara wajar dan penuh kehormatan akibat usia lanjut  setelah menyelesaikan seluruh tugas beliau sebagai Al-Masih (QS.3:56; QS.4:158-159;QS.5:117-119).
    Salah satu makna kata Masih dalam bahasa Arab – masaha  -- adalah orang yang  banyak melakukan perjalanan. Tugas Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk mencari 10 suku Bani Israil yang tercerai-berai di luar Palestina mendukung makna  kata  gelar Masih (masaha) tersebut.
 Dalam Yohanes 10:1-18   beliau mengaku ditugaskan Allah Swt. sebagai “penggembala”  suku-suku atau domba-domba   Bani Israil yang tercerai-berai di luar Palestina akibat penghukuman Allah Swt. yang pertama kepada menimpa mereka   -- sebagai kutukan Nabi Daud a.s. (QS.2:260; QS.5:79-81; QS.17:5-9) -- dan bahkan di antara mereka ada yang telah memeluk kepercayaan lain yang dianut penduduk setempat dimana mereka berada.
 Dalil-dalil dan keteranggan-keterangan berikut menunjang dan mendukung pernyataan itu:
   (1) Dalam bukunya "The Unknown Life of Yesus". Nicholas Notovitch. seorang pengembara bangsa Rus yang pernah melawat ke Timur Jauh pada kira-­kira tahun 1877 menceriterakan bahwa   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   pemah datang ke Kasymir dan Afghanistan. Sir Francis Younghusband yang pada waktu Nicholas Notovitch mengunjungi Kasymir adalah seorang penduduk berkebangsaan Inggris di istana Maharaja Kasymir, bertemu dengan dia di dekat Zojila Pass.
  Penyelidikan terbaru mengenai perjalanan-perjalanan   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    di Timur memberikan dukungan kuat kepada buku Notovitch. Profesor Nicholus Roerich dalam bukunya "Heart of Asia" mengatakan:
"Di Srinagar kami mula-mula menemukan hikayat yang  aneh sekitar kunjungan Yesus ke tempat itu. Kemudian kami melihat betapa tersebar-luasnya di India, di Laddakh, dan di Asia Tengah hikayat mengenai kunjungan Yesus ke berbagai-bagai daerah itu.  Di seluruh Asia Tengah, di Kasymir, di Laddakh, dan di Tibet, dan bahkan lebih ke utara lagi masih terdapat kepercayaan yang kuat bahwa Yesus atau Isa berkeliling di daerah itu  ("Glimpses of World History" oleh Yawaharlal Nehru).

Upaya Menyembunyikan Kenyataan

  Beberapa sarjana telah berlindung di belakang beberapa bagian yang samar pada buku Notovitch, untuk menyebutkan bahwa Yesus datang ke Timur sebelum dan bukan sesudah beliau mendapat tugas sebagai nabi Allah. Tetapi seorang anak yang berumur baru 13 tahun atau 14 tahun seperti usia Yesus ketika datang ke India, tidak mungkin mempunyai gagasan melaksanakan suatu perjalanan panjang dan sulit ke tempat yang begitu jauh, dan dengan demikian menantang bahaya maut di tengah perjalanan.
 Gerangan tarikan apa atau tujuan apakah yang mendorong Yesus pada usia yang  semuda itu, datang ke India? Dan seandainya beliau sungguh datang ke India pada masa itu, kepentingan apakah yang mendorong orang-orang India dan Kasymir untuk memelihara catatan mengenai kegiatan-kegiatan dan pengembaraan-pengembaraan seorang anak yang berusia 13 atau 14 tahun?
Kenyataan berdasarkan pada catatan-­catatan sejarah yaitu bahwa sesudah beliau ditolak  oleh orang-orang Yahudi dan  jiwa beliau dalam keadaan bahaya di Palestina,  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. meninggalkan negeri itu guna mencari — untuk memenuhi nubuatan-nubuatan lama dalam Bible. — "Sepuluh suku Bani Israil yang hilang" dan menempuh perjalanan jauh serta berbahaya ke India dan Kasymir dan menjalani suatu kehidupan yang penuh peristiwa-peristiwa  sampai mencapai usia yang amat tua yaitu 120 tahun (Kanz al-Ummal,  Jilid 6).
Saat itulah catatan-catatan mengenai kegiatan-kegiatan beliau mulai disimpan. "Sepuluh suku Bani Israil  yang hilang”  itu, sesudah mereka dicerai-beraikan oleh bangsa-banasa Assiria dan Babilonia, dan telah menetap di Irak dan Iran, dan kemudian ketika orang-orang Iran di bawah Darius dan Cyrus meluaskan daerah jajahannya lebih jauh lagi ke timur yaitu ke Afghanistan dan India (Hindustan) maka suku-suku itu berhijrah  bersama-sama dengan mereka ke negeri-negeri  tersebut.
(2) Orang-orang Kasymir dan Afghan adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil sang Hilang” itu. Kenyataan ini nampak jelas dari riwayat, sejarah, dan catatan tertulis mengenai kedua kaum tersebut. Nama kota-kota dan kabilah­-kabilah mereka, bentuk tubuh  mereka  dan sebagainya, semuanya menyerupai orang-orang Yahudi.
Barang-barang pusaka mereka dan prasasti-prasasti kuno mereka menyokong pandangan itu. Ceritera-ceritera rakyatnva penuh dengan kisah-kisah yang berbau Yahudi. Nama Kasymir sendiri sebenarnya Kasyir yang berarti "seperti Siria"  (atau nampaknya nama Kasyir itu diambil dari Kasyi atau Kusy, seorang cucu Nabi Nuh  a.s.. Semua kenyataan memberi kepastian kepada pandangan bahwa bangsa Afghan dan Kasymir sebagian besar adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang." 
(3) Bukti-bukti tersebut cukup menjadi saksi untuk menunjukkan kenyataan, bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sungguh-sungguh datang ke Kasymir dan orang-orang Kasymir adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang”. Tetapi bukti terbesar dan paling terang mengenai kedatangan beliau ke Kasymir dan telah tinggal dan wafat di sana adalah adanya kuburan beliau di kampung Khanyar, Srinagar, Kasymir. Kuburan yang disebut Rauzabal itu. dikenal dengan berbagai sebutan, yaitu: kuburan Yus Asaf, kuburan Nabi Sahib (Baginda Nabi), kuburan Syahzadah Nabi (Nabi Pangeran), dan bahkan kuburan Isa Sahib (Baginda Isa).

Buku "Masih Hindustan Mein" (Al-Masih di Hindustan)

      Menurut penuturan sejarah  yang telah terbukti sahnya, Yus Asaf datang ke Kasymir lebih dari 1900 tahun lampau dan mengajar dengan memakai tamsil dan mempergunakan banyak tamsil-tamsil yang tercantum dalam Injil.  Dalam sebagian buku sejarah tertentu  beliau digambarkan sebagai seorang nabi.
       Tambahan pula Yus Asaf  itu suatu nama dalam Bible, yang berarti "Yasu” yaitu ”pengumpul" yang merupakan salah satu nama sifat Yesus, sebab tugas  beliau adalah mengumpulkan suku-suku Bani Israil yang telah hilang ke pangkuan Majikannya, sebagaimana beliau sendiri katakana
"Ada lagi padaKu domba lain yang bukan masuk kandang domba ini, maka sekalian itu juga wajib Aku bawa, dan domba-domba itu kelak mendengar akan seruanku,  lalu akan menjadi sekawan, dan gembala seorang sahaja" (Injil Yahya 10:16).
  Kutipan-kutipan yang bernilai sejarah seperti berikut memberi juga sedikit penjelasan mengenai masalah ini:
     "Makam itu pada umumnya dikenal sebagai makam seorang nabi. Beliau seorang pangeran yang datang ke Kasymir dari sebuah negeri asing dan giat dalam mengajar orang-orang Kasymir, Namanya Yus Asaf (Tarikh A'zhami, hlm.  82-85).      
"Yus Asaf mengembara di beberapa negeri  hingga beliau tiba di sebuah negeri  yang disebut Kasymir. Beliau menjelajah seluruh negeri tersebut dan tinggal di sana hingga beliau wafat" (Ikmal-ad-Din, hlm. 258-359).
"Hikayat Kasymir itu — demikian diberitahukan kepada sava — menyebut­kan seorang  nabi  yang tinggal di sana dan memberikan pelajaran seperti dilakukan oleh Yesus dengan tamsil-tamsil dan kisah-kisah pendek, yang sampai saat ini dituturkan orang di Kasymir”  (John Noel's Article in Asia. Oct. 1930).
"Oleh sebab itu kepergian Isa a.s.  ke India dan wafat di Srinagar tidak bertentangan dengan kebenaran, baik dari segi akal atau sejarah" (Tafsir al­-Manar, jilid 6).
Tetapi kupasan yang lebih baik dan lebih lengkap mengenai masalah ini  lihat buku "Masih Hindustan Mein" ditulis oleh  Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah.   Lihat pula buku terkenal bernama "Nazarene Gospel Restored ” yang pengarangnya berpendapat bahwa sekalipun secara resmi disalibkan pada tahun 30 Masehi namun Yesus masih hidup selama 20 tahun sesudah kebangkitannya kembali.
Tidak mungkin ada lukisan lebih bagus mengenai tempat di mana sesudah beliau terhindar dari kematian terkutuk di atas salib, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunda beliau  tinggal  dengan aman-sentausa dan pulang ke Rahmatullāh (wafat), daripada yang dikemukakan oleh Al-Quran  dalam kata-kata "dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir" yang merupakan lukisan yang sangat tepat mengenai  Lembah Kasymir yang indah itu. Nicholas Notovitch menamakan Kasymir "Lembah Kebahagiaan Abadi", firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan    sumber-sumber mata air yang  mengalir. (Al-Mu’minūn [23]:51).
       Dengan demikian jelaslah,  bahwa sama sekali tidak ada landasan apa pun untuk mempertuhankan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mau pun ibunda beliau, sesuai dengan pengakuan beliau sendiri (QS.5:117-119).

Nabi Besar Muhammad Saw.   Paling Pantas “Dipertuhan

    Kembali kepada kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis”,  Allah Swt. berfirman berkenaan  persamaan asal penciptaan Adam a.s. dengan Isa Ibnu Maryam a.s., sehingga tidak ada alasan untuk membedakan keduanya dari para  nabi Allah  lainnya untuk kemudian dipertuhankan, firman-Nya:
اِنَّ مَثَلَ عِیۡسٰی عِنۡدَ اللّٰہِ کَمَثَلِ اٰدَمَ ؕ خَلَقَہٗ مِنۡ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَہٗ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿﴾
Sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti misal penciptaan Adam. خَلَقَہٗ مِنۡ تُرَابٍ  --   Dia menjadikannya dari debu  ثُمَّ قَالَ لَہٗ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ --    kemudian Dia berfirman kepadanya: “Jadilah!”  maka  terjadilah ia  (Ali ‘Imran [3]:60).
     Kata Adam utamanya berarti orang laki-laki, yakni anak-cucu Nabi Adam a.s. seumumnya. Dengan demikian Nabi  Isa Ibnu Maryam a.s.  dinyatakan seperti makhluk lainnya tunduk kepada hukum mati dan semuanya dijadikan dari debu (QS.40:68), karena itu tiada sifat Ketuhanan melekat pada diri beliau, sebagaimana pengakuan beliau sendiri (QS.4:172-173;  QS.5:73-74 & 117-119;  QS.19:37)
     Tetapi jika kata  Adam  diartikan menunjuk kepada leluhur umat manusia, maka ayat itu harus diartikan mengisyaratkan kepada persamaan antara Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Adam dalam hal adanya telah dilahirkan tanpa perantaraan seorang ayah. Kenyataan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. itu mempunyai ibu, tidak mempengaruhi persamaan itu, dan seperti dinyatakan di atas bahwa  persamaan itu tidak seharusnya lengkap dalam segala hal.
     Di tempat lain dinyatakan bahwa manusia dijadikan dari  thīn   -- "tanah liat" (QS.6:3). Perbedaan yang hendak dikemukakan  penggunaan kata “debu” dan “tanah liat” adalah,    bila dipakai kata “debu” (turab)  wawasan mengenai wahyu (air ruhani) tidak dimasukkan, tetapi kalau “tanah liat” (thin) yang dipakai maka wawasan wahyu juga termasuk di dalamnya.
   Jadi, kalau ada manusia – karena kekhususan penciptaannya   --  pantas “dipertuhankan” maka   Adam  yang lebih layak, bukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang punya ibu. Tetapi kalau  kriterianya adalah kesempurnaan akhlak dan ruhani  serta kesuksesan dalam melaksanakan  misi kerasulan, maka  hanya Nabi Besar Muhammad saw. sajalah yang paling  layak untuk “dipertuhankan”  --  na’ūdzubillāhi min dzālik  -- sebagaimana firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾  سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾  فَذَرۡہُمۡ  یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ  الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾   
Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak,  فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ --maka akulah yang pertama di antara para penyembah." سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ  --  Maha Suci Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi, Tuhan ‘Arasy, jauh dari apa yang mereka sifatkan.  فَذَرۡہُمۡ  یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا    --  Maka biarkanlah mereka bercakap kosong  dan bermain-main حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ  الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ  -- sampai mereka bertemu dengan Hari mereka yang telah dijanjikan.  (Az-Zukhruf [43]:82-84).

Kesempurnaan Martabat Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.   

   Kata  'abid dalam ayat: قُلۡ  اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ  -- “Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ  -- maka akulah yang pertama di antara para penyembah” adalah isim fa'il dari 'abada, yang berarti: ia menyembah; dan dari 'abida, yang berarti: ia marah; ia menolak; bersedih karena telah berlaku lalai; ia bersikap menghinakan (Lexicon Lane). Dengan demikian  ayat tersebut  berarti:
 (a) “Bila Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, maka akulah orangnya yang pertama-tama menyembahnya (anak itu) sebab sebagai abdi Allah yang paling taat dan patuh aku niscaya tidak akan lalai dalam kewajibanku terhadapnya (anak itu)”.
 (b) “Bila mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, maka akulah yang paling berhak memperoleh kedudukan itu, sebab akulah yang paling banyak menyembah Tuhan dan yang paling banyak pula berbakti kepada-Nya.
 (c)Tuhan Yang Maha Pemurah pasti tidak mempunyai seorang anak      -- ("in" berarti, "tidak")  --  dan akulah yang pertama-tama menjadi saksi atas kenyataan ini”, sebab kata 'abidin berarti syahidin, yaitu saksi-saksi.
 (d) “Tuhan Yang Maha Pemurah tidak mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan benci akan pernyataan bahwa Dia memiliki  anak.”
“Perpaduan” sempurna  sifat-sifat Nabi Besar Muhammad saw. dengan Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt.  digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾   فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی  ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾ اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang apabila  jatuh. مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی --  Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  --    Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya, اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  --  perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  --  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,   ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  --    Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy,            وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,       فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    --  Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی    --   Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی    --     Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  --   Dan  sungguhnya  dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی   -- dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  -- yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal. اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  --  Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungiمَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی --  penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی  -- Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya).  (An-Najm [53]:1-19).

Gambaran “Perpaduan” Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt.

   Ungkapan istawā ‘alā asy-syai-i berkenaan Nabi Besar Muhammad saw. berarti  bahwa  ia memperoleh atau memiliki  hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu. Jika diterapkan kepada beliau saw.  ungkapan itu akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau saw. telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya, sehingga beliau benar-benar siap untuk mengemban amanat syariat terakhir dan tersempurna -- yaitu agama Islam (QS.5:4)   -- sebagaimana dinubuatkan Nabi Musa s a.s. dan Nabi Isa Ibnu Mayam a.s. dalam Bible (Ulangan 18:15-19; Matius 23:37-39; Yohanes 16:12-13).
  Makna ayat:  عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  --  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,   ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  --    Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy,  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi” bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai batas tertinggi dalam mikraj (kenaikan ruhani) beliau saw., ketika Allah Swt. menampakkan Wujud-Nya kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempur-na.
   Atau, ayat tersebut dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa  dalam ayat  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi”  dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw..    
    Makna ayat selanjutnya: ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”   Dalla al-dalwa berarti:  ia menurunkan ember ke dalam perigi;  ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi, Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-ul-‘Arab).
       Ayat tersebut  berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    mendekati Allah Swt. dan Allah Swt.  mendekat  kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt.  dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia.
   Qāb berarti: (1) bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan; (2) dari satu ujung busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab berkata  bainahumā  qāba qausaini, yakni di antara mereka berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab.
  Peribahasa Arab yang mengatakan  ramaunā  ‘an qausin wāhidin, yakni  “mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu  bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab dan Zamakhsyari).
  Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj  dan menghampiri Allah Swt. sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan  Nabi Besar Muhammad saw.  . seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur: فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”    

Ikatan “Persahabatan” di Kalangan Bangsa Arab

Peribahasa tersebut  mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
 Bila kata tadalla dianggap mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.     naik secara ruhani menuju Allah Swt.  dan Allah Swt. turun kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
 Ungkapan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak  Nabi Besar Muhammad saw.     menjadi sama sekali  fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Sendiri, maka di pihak lain beliau turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka (QS.9:128), sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan.
  Kata-kata “atau lebih dekat lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan antara Nabi Besar Muhammad saw.  dengan Allah Swt, menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran: فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”    
   Itulah sebabnya mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.  dalam Bible digambarkan sebagai “kedatangan Tuhan” sendiri (Matius 23:37-39), yang secara sengaja telah disalah-tafsirkan tertuju kepada Yesus.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 3  Juli    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar