Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. PEMILIK BERBAGAI KESEMPURNAAN AKHLAK DAN RUHANI LEBIH LAYAK DIPERTUHAN”
DARIPADA PARA RASUL ALLAH YANG DIPERTUHAN PARA PENYEMBAHNYA
Bab 81
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai “pelanggaran” yang dilakukan “Adam dan istrinya” --
akibat kekeliruan beliau menafsirkan “bujukan” manusia syaitan yang penuh
“tipu-daya” -- peristiwa tersebut sama sekali tidak mengakibatkan terjadinya “dosa warisan” yang memerlukan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. di tiang salib.
Terlebih lagi kesaksian Al-Quran
dan Bible, serta kesaksian sejarah
dan hasil penyelidikan “kain kafan
Turin” yang pernah dipakai mengkafani tubuh Nabi Isa Ibnu Maryam a a.s. setelah beliau diturunkan dari tiang salib, membuktikan bahwa beliau -- sekali pun sempat
mengalami penyaliban selama 3 jam -- tetapi tidak sampai wafat seperti yang diharapkan
para pemuka Yahudi sesuai makar buruk mereka (QS.3:53-57; QS.4:158-159;
QS.5:117-119).
Mengapa demikian? Sebab sebagai “penggembala
yang baik” beliau harus mencari 10 suku (domba-domba) Israil yang tercerai-berai
di luar Palestina (Yahya 10:10-14), sehingga akhirnya beliau sampai di Kasymir (QS.23:51) dan wafat di sana dalam usia 120 tahun,
karena terbukti bahwa bangsa Afghanistan
dan bangsa Kasymir adalah keturunan
10 suku Bani Israil yang hilang,
firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ
اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی
رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami
melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir. (Al-Mu’minūn [23]:51).
Makna Lain Masih (Masaha)
Masalah kematian Yesus seperti
pula kelahirannya telah menjadi
masalah yang banyak dipertentangkan karena kemisteriusannya, sehingga menjadi sumber munculnya berbagai fitnah
yang menyesatkan berkenaan dengan
beliau, antara lain berupa munculnya
faham Trinitas dan “penebusan dosa warisan” yang merupakan
bagian paling berbahaya dari “fitnah Dajjal.”
Beberapa kekacauan pendapat dan keraguan
masih tetap ada mengenai bagaimana
dan di mana beliau melampaukan hari-hari terakhir dalam kehidupan
beliau yang padat karya itu, dan oleh
karena persoalan cara menemui ajal
beliau pun merupakan persoalan yang sangat penting bagi agama
Kristen maka pada tempatnya diberikan catatan yang agak lengkap mengenai persoalan yang penting tapi rumit ini.
Al-Quran dan Bible
-- dikuatkan oleh
kenyayaan-kenyataan sejarah yang telah diakui sahnya -- memberi dukungan kuat kepada pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) tidak
wafat di atas salib melainkan beliau wafat
secara wajar dan penuh kehormatan
akibat usia lanjut setelah menyelesaikan
seluruh tugas beliau sebagai Al-Masih
(QS.3:56; QS.4:158-159;QS.5:117-119).
Salah satu
makna kata Masih dalam bahasa Arab – masaha -- adalah orang yang banyak melakukan perjalanan. Tugas Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. untuk mencari 10 suku
Bani Israil yang tercerai-berai di luar Palestina mendukung makna kata
gelar Masih (masaha) tersebut.
Dalam Yohanes 10:1-18 beliau
mengaku ditugaskan Allah Swt. sebagai
“penggembala” suku-suku atau domba-domba Bani Israil yang tercerai-berai di luar Palestina
akibat penghukuman Allah Swt. yang
pertama kepada menimpa mereka --
sebagai kutukan Nabi Daud a.s.
(QS.2:260; QS.5:79-81; QS.17:5-9) -- dan bahkan di antara mereka ada yang telah
memeluk kepercayaan lain yang dianut penduduk setempat dimana mereka berada.
Dalil-dalil
dan keteranggan-keterangan berikut menunjang dan mendukung pernyataan itu:
(1) Dalam
bukunya "The Unknown Life of
Yesus". Nicholas Notovitch. seorang pengembara bangsa Rus yang
pernah melawat ke Timur Jauh pada kira-kira tahun 1877 menceriterakan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pemah
datang ke Kasymir dan Afghanistan. Sir Francis Younghusband
yang pada waktu Nicholas Notovitch mengunjungi Kasymir adalah seorang penduduk berkebangsaan Inggris di istana Maharaja Kasymir, bertemu dengan dia di
dekat Zojila Pass.
Penyelidikan
terbaru mengenai perjalanan-perjalanan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di
Timur memberikan dukungan kuat kepada buku Notovitch. Profesor Nicholus Roerich
dalam bukunya "Heart of Asia"
mengatakan:
"Di Srinagar kami mula-mula menemukan hikayat
yang aneh sekitar kunjungan Yesus ke tempat itu. Kemudian kami melihat betapa
tersebar-luasnya di India, di Laddakh, dan di Asia Tengah hikayat mengenai kunjungan Yesus ke berbagai-bagai
daerah itu. Di seluruh Asia Tengah, di
Kasymir, di Laddakh, dan di Tibet, dan bahkan lebih ke utara lagi masih
terdapat kepercayaan yang kuat bahwa Yesus
atau Isa berkeliling di daerah itu ("Glimpses
of World History" oleh Yawaharlal
Nehru).
Upaya Menyembunyikan Kenyataan
Beberapa
sarjana telah berlindung di belakang beberapa
bagian yang samar pada buku Notovitch, untuk menyebutkan bahwa Yesus
datang ke Timur sebelum dan bukan sesudah beliau mendapat tugas sebagai nabi Allah. Tetapi seorang anak yang
berumur baru 13 tahun atau 14 tahun seperti usia Yesus ketika datang ke India,
tidak mungkin mempunyai gagasan melaksanakan suatu perjalanan panjang dan sulit
ke tempat yang begitu jauh, dan dengan demikian menantang bahaya maut di tengah
perjalanan.
Gerangan
tarikan apa atau tujuan apakah yang mendorong Yesus pada usia yang semuda
itu, datang ke India? Dan seandainya beliau sungguh datang ke India pada masa
itu, kepentingan apakah yang mendorong orang-orang India dan Kasymir untuk
memelihara catatan mengenai kegiatan-kegiatan dan pengembaraan-pengembaraan
seorang anak yang berusia 13 atau 14 tahun?
Kenyataan berdasarkan pada catatan-catatan sejarah yaitu bahwa sesudah beliau ditolak oleh orang-orang Yahudi dan jiwa beliau dalam keadaan bahaya di Palestina, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. meninggalkan
negeri itu guna mencari — untuk memenuhi nubuatan-nubuatan
lama dalam Bible. — "Sepuluh suku
Bani Israil yang hilang" dan menempuh perjalanan jauh serta berbahaya ke India dan Kasymir dan
menjalani suatu kehidupan yang penuh peristiwa-peristiwa sampai mencapai usia yang amat tua yaitu 120
tahun (Kanz al-Ummal, Jilid 6).
Saat itulah catatan-catatan mengenai kegiatan-kegiatan
beliau mulai disimpan. "Sepuluh suku
Bani Israil yang hilang” itu, sesudah mereka dicerai-beraikan oleh bangsa-banasa Assiria dan Babilonia,
dan telah menetap di Irak dan Iran, dan kemudian ketika orang-orang
Iran di bawah Darius dan Cyrus meluaskan daerah jajahannya lebih
jauh lagi ke timur yaitu ke Afghanistan
dan India (Hindustan) maka suku-suku itu berhijrah bersama-sama
dengan mereka ke negeri-negeri tersebut.
(2) Orang-orang Kasymir
dan Afghan adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil sang Hilang”
itu. Kenyataan ini nampak jelas dari riwayat,
sejarah, dan catatan tertulis mengenai kedua kaum tersebut. Nama kota-kota dan kabilah-kabilah mereka, bentuk tubuh
mereka dan sebagainya, semuanya menyerupai orang-orang Yahudi.
Barang-barang pusaka mereka dan prasasti-prasasti kuno
mereka menyokong pandangan itu. Ceritera-ceritera rakyatnva penuh dengan
kisah-kisah yang berbau Yahudi. Nama Kasymir
sendiri sebenarnya Kasyir yang
berarti "seperti Siria" (atau nampaknya nama Kasyir itu diambil dari Kasyi
atau Kusy, seorang cucu Nabi Nuh a.s.. Semua kenyataan memberi kepastian kepada pandangan bahwa bangsa Afghan dan Kasymir sebagian besar adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang."
(3) Bukti-bukti tersebut cukup menjadi saksi untuk
menunjukkan kenyataan, bahwa Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. sungguh-sungguh
datang ke Kasymir dan orang-orang Kasymir adalah keturunan
"Sepuluh Suku Bani Israil yang
Hilang”. Tetapi bukti terbesar dan paling terang mengenai kedatangan beliau
ke Kasymir dan telah tinggal dan wafat di sana adalah adanya kuburan beliau di kampung Khanyar, Srinagar, Kasymir. Kuburan yang disebut Rauzabal itu. dikenal dengan berbagai
sebutan, yaitu: kuburan Yus Asaf, kuburan Nabi Sahib (Baginda Nabi), kuburan Syahzadah Nabi (Nabi Pangeran), dan
bahkan kuburan Isa Sahib (Baginda
Isa).
Buku "Masih Hindustan Mein"
(Al-Masih di Hindustan)
Menurut
penuturan sejarah yang telah terbukti sahnya, Yus Asaf datang ke Kasymir lebih dari
1900 tahun lampau dan mengajar dengan memakai tamsil dan mempergunakan banyak tamsil-tamsil
yang tercantum dalam Injil. Dalam sebagian buku sejarah tertentu beliau
digambarkan sebagai seorang nabi.
Tambahan pula Yus Asaf itu suatu nama dalam Bible, yang berarti
"Yasu” yaitu ”pengumpul" yang merupakan salah
satu nama sifat Yesus, sebab
tugas beliau adalah mengumpulkan suku-suku Bani Israil yang telah hilang ke pangkuan Majikannya, sebagaimana beliau sendiri
katakana
"Ada lagi padaKu domba lain yang bukan masuk kandang domba ini, maka
sekalian itu juga wajib Aku bawa, dan domba-domba itu kelak mendengar akan
seruanku, lalu akan menjadi sekawan, dan
gembala seorang sahaja" (Injil Yahya
10:16).
Kutipan-kutipan
yang bernilai sejarah seperti berikut memberi juga sedikit penjelasan mengenai
masalah ini:
"Makam
itu pada umumnya dikenal sebagai makam seorang nabi. Beliau seorang pangeran
yang datang ke Kasymir dari sebuah negeri asing dan giat dalam mengajar
orang-orang Kasymir, Namanya Yus Asaf (Tarikh
A'zhami, hlm. 82-85).
"Yus Asaf
mengembara di beberapa negeri hingga
beliau tiba di sebuah negeri yang
disebut Kasymir. Beliau menjelajah seluruh negeri tersebut dan tinggal di sana
hingga beliau wafat" (Ikmal-ad-Din,
hlm. 258-359).
"Hikayat
Kasymir itu — demikian diberitahukan kepada sava — menyebutkan seorang nabi yang tinggal di sana dan memberikan pelajaran
seperti dilakukan oleh Yesus dengan tamsil-tamsil dan kisah-kisah pendek, yang
sampai saat ini dituturkan orang di Kasymir” (John
Noel's Article in Asia. Oct. 1930).
"Oleh sebab
itu kepergian Isa a.s. ke India
dan wafat di Srinagar tidak bertentangan dengan kebenaran, baik dari segi akal
atau sejarah" (Tafsir al-Manar,
jilid 6).
Tetapi kupasan yang lebih baik dan lebih lengkap
mengenai masalah ini lihat buku "Masih
Hindustan Mein" ditulis oleh Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah. Lihat pula buku terkenal bernama "Nazarene
Gospel Restored ” yang pengarangnya berpendapat bahwa sekalipun secara
resmi disalibkan pada tahun 30 Masehi
namun Yesus masih hidup selama 20 tahun sesudah kebangkitannya kembali.
Tidak mungkin ada lukisan lebih bagus mengenai tempat
di mana sesudah beliau terhindar dari
kematian terkutuk di atas salib,
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunda
beliau tinggal dengan aman-sentausa dan pulang ke Rahmatullāh
(wafat), daripada yang dikemukakan oleh Al-Quran dalam kata-kata "dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber
air yang mengalir" yang merupakan lukisan yang sangat tepat
mengenai Lembah Kasymir yang indah itu. Nicholas Notovitch menamakan Kasymir "Lembah Kebahagiaan
Abadi", firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ
اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی
رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami
melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir. (Al-Mu’minūn [23]:51).
Dengan demikian jelaslah, bahwa sama sekali tidak ada landasan apa pun untuk mempertuhankan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
mau pun ibunda beliau, sesuai dengan pengakuan beliau sendiri (QS.5:117-119).
Nabi Besar Muhammad Saw. Paling
Pantas “Dipertuhan”
Kembali kepada kisah monumental “Adam – Malaikat –
Iblis”, Allah Swt. berfirman
berkenaan persamaan asal penciptaan
Adam a.s. dengan Isa Ibnu Maryam a.s., sehingga tidak ada alasan untuk membedakan
keduanya dari para nabi Allah lainnya untuk
kemudian dipertuhankan, firman-Nya:
اِنَّ مَثَلَ عِیۡسٰی عِنۡدَ اللّٰہِ کَمَثَلِ اٰدَمَ ؕ خَلَقَہٗ مِنۡ
تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ
﴿﴾
Sesungguhnya
misal penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti misal penciptaan Adam. خَلَقَہٗ مِنۡ تُرَابٍ -- Dia menjadikannya
dari debu ثُمَّ قَالَ لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ -- kemudian Dia berfirman kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia (Ali ‘Imran [3]:60).
Kata Adam utamanya berarti orang laki-laki, yakni anak-cucu Nabi Adam a.s. seumumnya.
Dengan demikian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dinyatakan seperti makhluk lainnya tunduk
kepada hukum mati dan semuanya
dijadikan dari debu (QS.40:68),
karena itu tiada sifat Ketuhanan
melekat pada diri beliau, sebagaimana pengakuan
beliau sendiri (QS.4:172-173; QS.5:73-74
& 117-119; QS.19:37)
Tetapi jika kata Adam diartikan menunjuk kepada leluhur umat manusia, maka ayat itu harus diartikan mengisyaratkan
kepada persamaan antara Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. dan Adam dalam hal adanya
telah dilahirkan tanpa perantaraan seorang ayah. Kenyataan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. itu mempunyai ibu, tidak mempengaruhi persamaan itu, dan seperti dinyatakan di
atas bahwa persamaan itu tidak seharusnya lengkap
dalam segala hal.
Di
tempat lain dinyatakan bahwa manusia dijadikan dari thīn -- "tanah liat" (QS.6:3).
Perbedaan yang hendak dikemukakan
penggunaan kata “debu” dan “tanah liat” adalah, bila dipakai kata “debu” (turab) wawasan
mengenai wahyu (air ruhani) tidak dimasukkan, tetapi kalau “tanah liat” (thin) yang dipakai maka
wawasan wahyu juga termasuk di dalamnya.
Jadi, kalau ada manusia – karena kekhususan penciptaannya --
pantas “dipertuhankan” maka Adam
yang lebih layak, bukan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. yang punya ibu. Tetapi kalau
kriterianya adalah kesempurnaan akhlak dan ruhani serta kesuksesan
dalam melaksanakan misi kerasulan, maka hanya Nabi Besar Muhammad saw. sajalah yang
paling layak untuk “dipertuhankan” -- na’ūdzubillāhi min dzālik -- sebagaimana firman Allah Swt. kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا
اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ سُبۡحٰنَ رَبِّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ فَذَرۡہُمۡ
یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
"Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah
mempunyai seorang anak, فَاَنَا
اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ --maka akulah
yang pertama di antara para penyembah."
سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ
الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ -- Maha Suci Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi,
Tuhan ‘Arasy, jauh dari apa
yang mereka sifatkan. فَذَرۡہُمۡ یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا -- Maka biarkanlah mereka bercakap kosong
dan bermain-main حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ
الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ -- sampai mereka bertemu dengan Hari
mereka yang telah dijanjikan. (Az-Zukhruf [43]:82-84).
Kesempurnaan Martabat Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.
Kata 'abid
dalam ayat: قُلۡ اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ
وَلَدٌ ٭ۖ -- “Katakanlah:
"Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah
mempunyai seorang anak, فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ -- maka akulah
yang pertama di antara para penyembah”
adalah isim fa'il dari 'abada, yang berarti: ia menyembah; dan dari 'abida,
yang berarti: ia marah; ia menolak; bersedih karena telah berlaku lalai; ia
bersikap menghinakan (Lexicon Lane).
Dengan demikian ayat tersebut berarti:
(a) “Bila Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, maka akulah
orangnya yang pertama-tama menyembahnya (anak itu) sebab sebagai abdi Allah yang paling taat dan patuh aku niscaya tidak akan
lalai dalam kewajibanku
terhadapnya (anak itu)”.
(b) “Bila mungkin Tuhan Yang
Maha Pemurah mempunyai seorang anak,
maka akulah yang paling berhak memperoleh
kedudukan itu, sebab akulah yang
paling banyak menyembah Tuhan dan yang
paling banyak pula berbakti kepada-Nya.
(c) “Tuhan Yang Maha Pemurah
pasti tidak mempunyai seorang anak -- ("in" berarti,
"tidak") -- dan akulah
yang pertama-tama menjadi saksi
atas kenyataan ini”, sebab kata 'abidin berarti syahidin, yaitu saksi-saksi.
(d) “Tuhan Yang
Maha Pemurah tidak
mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan benci akan pernyataan bahwa Dia
memiliki anak.”
“Perpaduan”
sempurna sifat-sifat Nabi Besar Muhammad saw. dengan Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt.
digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini, firman-Nya:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ وَ
النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی مَا ضَلَّ
صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾ وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ
الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ
شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا
فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾ عِنۡدَہَا جَنَّۃُ
الۡمَاۡوٰی ﴿ؕ﴾ اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ
الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی ﴿﴾ لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi
bintang apabila
jatuh. مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی -- Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya, اِنۡ ہُوَ
اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی
-- perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang
diwahyukan. عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- Tuhan Yang
Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik
Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- dan Dia
mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk
tertinggi. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati
Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali dari
dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی -- Lalu Dia
mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی -- Maka apakah
kamu membantahnya mengenai apa yang
telah dia lihat? وَ لَقَدۡ
رَاٰہُ نَزۡلَۃً اُخۡرٰی -- Dan
sungguhnya dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ
سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی
-- dekat pohon
Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی -- yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal. اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- Ketika pohon
Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang
menyelubungi, مَا زَاغَ
الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی -- penglihatannya
sekali-kali tidak menyimpang dan tidak
pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ
الۡکُبۡرٰی -- Sungguh ia
benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya).
(An-Najm [53]:1-19).
Gambaran “Perpaduan”
Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt.
Ungkapan istawā
‘alā asy-syai-i berkenaan Nabi Besar Muhammad saw. berarti bahwa
ia memperoleh atau memiliki hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu. Jika diterapkan kepada beliau saw. ungkapan itu akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau saw. telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya, sehingga beliau benar-benar siap untuk
mengemban amanat syariat terakhir dan
tersempurna -- yaitu agama Islam (QS.5:4) -- sebagaimana dinubuatkan Nabi Musa s a.s. dan Nabi Isa Ibnu Mayam a.s. dalam
Bible (Ulangan 18:15-19; Matius 23:37-39; Yohanes 16:12-13).
Makna ayat: عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ
بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- dan Dia
mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk
tertinggi” bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai batas tertinggi dalam mikraj
(kenaikan ruhani) beliau saw., ketika Allah Swt. menampakkan Wujud-Nya kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempur-na.
Atau, ayat tersebut dapat
berarti bahwa cahaya Islam
ditempatkan pada suatu tempat yang amat
tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari
seluruh dunia. Kata pengganti huwa dalam ayat وَ ہُوَ
بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- dan Dia
mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk
tertinggi” dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw..
Makna ayat selanjutnya: ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah,
mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.” Dalla al-dalwa berarti: ia menurunkan
ember ke dalam perigi; ia menarik ember
ke atas atau keluar dari perigi, Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu
merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-ul-‘Arab).
Ayat tersebut berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mendekati Allah Swt. dan Allah Swt. mendekat kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt. dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia.
Ayat tersebut berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mendekati Allah Swt. dan Allah Swt. mendekat kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt. dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia.
Qāb berarti: (1) bagian busur antara
bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan; (2) dari satu
ujung busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab
berkata bainahumā qāba qausaini, yakni di antara mereka
berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka
sangat akrab.
Peribahasa Arab yang mengatakan ramaunā
‘an qausin wāhidin, yakni
“mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh
karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab dan Zamakhsyari).
Apa pun kandungan arti
kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa Nabi Besar Muhammad saw. terus
menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj dan menghampiri
Allah Swt. sehingga jarak antara
keduanya hilang sirna dan Nabi Besar Muhammad saw. . seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur: فَکَانَ قَابَ
قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali dari
dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”
Ikatan “Persahabatan” di Kalangan Bangsa Arab
Peribahasa tersebut mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan
orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh
kuat mereka biasa menyatu-padukan
busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak
seperti satu dan kemudian mereka
melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan
terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
Bila kata tadalla dianggap
mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. naik
secara ruhani menuju Allah Swt. dan Allah Swt. turun kepada beliau saw.,
sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
Ungkapan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan
halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi Besar Muhammad saw. menjadi
sama sekali fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Sendiri, maka di pihak
lain beliau turun kembali kepada umat
manusia dan menjadi begitu penuh
cinta dan dengan rasa kasih serta
merasa prihatin akan mereka
(QS.9:128), sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan
menjadi terpadu dalam diri beliau
saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat
tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan.
Kata-kata “atau lebih
dekat lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan
antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt, menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran: فَکَانَ قَابَ
قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali dari
dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”
Itulah sebabnya mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. dalam Bible
digambarkan sebagai “kedatangan Tuhan”
sendiri (Matius 23:37-39), yang secara sengaja telah disalah-tafsirkan tertuju kepada Yesus.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 3 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar