Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
HUBUNGAN PENENTANGAN DAN TIPU-DAYA IBLIS DAN SYAITAN TERHADAP ADAM
(KHALIFAH ALLAH) DENGAN SURAH AL-FATIHAH, AL-FALAQ DAN SURAH AN-N-NĀS & BERBEDA
DENGAN PARA MALAIKAT, KEBERADAAN IBLIS DAN SYAITAN HANYA DI DUNIA
Bab 84
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai
pentingnya berlindung kepada
Allah Swt. dari kedengkian para Pendengki dan pembisik kewaswasan, sehubungan larangan
Allah Swt. melakukan hubungan persahabatan dengan mengesampingkan sesama
Muslim, firman-Nya:
ہٰۤاَنۡتُمۡ اُولَآءِ تُحِبُّوۡنَہُمۡ وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ وَ
تُؤۡمِنُوۡنَ
بِالۡکِتٰبِ کُلِّہٖ ۚ وَ اِذَا لَقُوۡکُمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚ٭ۖ وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ ؕ قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ
الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Ingat, kamu itulah orang-orang
yang mencintai mereka, padahal mereka
sekali-kali tidak mencintai kamu, dan kamu beriman kepada Al-Kitab
seluruhnya. Dan apabila mereka bertemu dengan kamu
mereka berkata: “Kami pun telah
beriman”, وَ اِذَا
خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ الۡاَنَامِلَ
مِنَ الۡغَیۡظِ -- tetapi apabila mereka menyendiri, mereka menggigit-gigit jari karena sangat marah terhadap kamu. قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ -- Katakanlah: “Matilah kamu karena kemarahan
kamu.” اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada. (Ali
‘Imran [3]:120).
Kata-kata: قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ -- “Matilah
oleh kemarahan kamu” ditujukan kepada orang-orang
Yahudi yang memusuhi dan berusaha
membinasakan Islam -- bandingkan dengan kemarahan dan kedengkian Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah- QS.7:12-19). Lebih jauh Allah Swt. memberitahukan kedengkian hati mereka kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam, firman-Nya:
اِنۡ
تَمۡسَسۡکُمۡ حَسَنَۃٌ تَسُؤۡہُمۡ ۫ وَ اِنۡ تُصِبۡکُمۡ
سَیِّئَۃٌ یَّفۡرَحُوۡا بِہَا ؕ وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ
تَتَّقُوۡا لَا یَضُرُّکُمۡ
کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا ؕ اِنَّ
اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ ﴿﴾٪
Jika kamu mendapat kebaikan mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat kesusahan mereka bergembira berkenaan dengannya. وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا -- Tetapi
jika kamu bersabar dan bertakwa لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا -- tipu muslihat mereka tidak akan dapat memudaratkan kamu sedikit
pun. اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ -- Sesungguhnya Allah meliputi apa pun yang
mereka kerjakan. (Ali
‘Imran [3]:119-121).
Makna ayat:
اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ -- Sesungguhnya Allah meliputi apa pun yang
mereka kerjakan”
Allah Swt. akan
meniadakan segala apa yang diperbuat mereka, dan Dia akan membinasakan mereka. Oleh karena itu
orang-orang Islam hendaknya tidak perlu takut kepada mereka. Segala tipu daya musuh-musuh Islam diketahui Allah Swt. dan Dia akan menggagalkan upaya mereka.
Doa Mohon Perlindungan Allah Swt. Dalam Surah Al-Falaq dan An-Nās
Jadi, Betapa penuh hikmahnya doa meminta perlindungan kepada Allah Swt. yang dikemukakan dalam Surah Al-Falaq dan Surah An-Nās sehubungan dengan kedengkian Iblis terhadap Adam
(Khalifah Allah) dan dari tipu-daya syaitan terutama fitnah Dajjal yang sangat berbahaya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾ مِنۡ شَرِّ
مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ
غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ
شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ
حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb
(Tuhan) Yang Memiliki fajar, dari keburukan
makhluk yang Dia ciptakan, dan dari keburukan
kegelapan malam apabila meliputi, dan dari keburukan
orang-orang yang meniupkan ke dalam
buhul, dan dari keburukan orang yang dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
Firman-Nya lagi:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾ مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾ اِلٰہِ النَّاسِ ۙ﴿﴾ مِنۡ
شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ الۡخَنَّاسِ
۪ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ ۙ﴿﴾ مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb
(Tuhan) manusia, Raja
manusia, Sembahan manusia, dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi, yang membisikkan
ke dalam hati manusia, dari jin dan manusia. (An-Nās
[113]:1-6).
Jadi, betapa betapa pentingnya
memahami kedua surah penutup Al-Quran tersebut, yang pada hakikatnya merupakan penjagaan
diri dari akibat yang ditimbulkan berpegang pada Tauhid Ilahi yang dikemukakan surah Al-Ikhlash yang merupakan
misi utama pengutusan seluruh Rasul Allah -- khususnya Nabi Besar Muhammad saw. -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ
الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).
Demikianlah hakikat dua Kisah
Monumental dalam Al-Quran yang
senantiasa akan kembali terulang -- yakni kisah
monumental “Adam -- Malaikat -- Iblis” dan kisah monumental “Kebencian
di kalangan dua anak Adam”— yang diabadikan
dalam Surah Al-Fatihah yaitu (a)
orang-orang yang mendapat nikmat Allah
Swt. (QS.1:6-7; QS.4:70-71) dan (b) maghdhub
dan dhāllīn (QS.1:7) yang merupakan
penjelmaaan iblis dan syaitan yang menentang
dan menipu Adam (Khalifah Allah (QS.7:12-19).
Keberadaan Syaitan
Hanya di Dunia, Sedangkan Malaikat terus Berlanjut di Akhirat
Kembali kepada penjelasan Masih
Mau’ud a.s. tentang malaikat, walau
pun para malaikat dan syaitan merupakan instrument
pelaksana kehendak Allah Swt. – yang
bagi pelaksanaan tugasnya tidak akan
memperoleh pahala mau hukuman
dari Allah Saw. -- namun demikian keberadaan serta fungsi dan tugas para malaikat
berlanjut di alam akhirat,
sedangkan keberadaan syaitan tidak berlanjut di alam akhirat, firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ
ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ
اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ کُنۡتُم
ۡ تُوۡعَدُوۡنَ﴿﴾ نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ
اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka
teguh, تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ
اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ -- kepada mereka turun malaikat-malaikat seraya
berkata: ”Janganlah kamu
takut, dan jangan pula bersedih,
dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan
kepadamu. نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ
-- ”Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- Dan
bagi kamu di dalamnya apa yang diinginkan
dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa
yang kamu minta. نُزُلًا
مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ -- Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā Mim – As-Sajdah
[41]:31-33).
Firman-Nya lagi:
اِنَّ الَّذِیۡنَ تَوَفّٰہُمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ ظَالِمِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ قَالُوۡا فِیۡمَ کُنۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا
کُنَّا مُسۡتَضۡعَفِیۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ قَالُوۡۤا اَلَمۡ تَکُنۡ اَرۡضُ اللّٰہِ
وَاسِعَۃً فَتُہَاجِرُوۡا فِیۡہَا ؕ فَاُولٰٓئِکَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ
سَآءَتۡ مَصِیۡرًا ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang para malaikat
mewafatkan mereka dalam keadaan zalim
terhadap dirinya, mereka yakni
para malaikat berkata: “Bagaimana keadaan kamu dahulu?” Mereka
menjawab: “Kami dahulu dipandang lemah
di muka bumi.” Mereka yakni para
malaikat berkata: “Tidakkah
bumi Allah itu luas untuk kamu berhijrah di dalamnya?” Maka mereka inilah yang tempat tinggalnya
Jahannam dan sangat buruk tempat
kembali itu. (An-Nisa [4]:98). Lihat pula QS.16:29-30; QS.66:7.
Firman-Nya
lagi:
وَ الَّذِیۡنَ صَبَرُوا ابۡتِغَآءَ وَجۡہِ
رَبِّہِمۡ وَ اَقَامُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اَنۡفَقُوۡا
مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ سِرًّا وَّ
عَلَانِیَۃً وَّ یَدۡرَءُوۡنَ بِالۡحَسَنَۃِ السَّیِّئَۃَ اُولٰٓئِکَ
لَہُمۡ عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ۙ﴾ جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا وَ مَنۡ
صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ وَ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ ﴿ۚ﴾ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ؕ﴾
Dan orang-orang yang bersabar mencari keridhaan
Rabb-nya (Tuhan-nya), mendirikan shalat dan membelanjakan sebagian dari apa yang telah
Kami rezekikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan, اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
عُقۡبَی الدَّارِ -- mereka
itulah yang akan mendapat ganjaran
tempat tinggal yang terbaik, جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا -- kebun-kebun yang abadi, mereka akan
masuk ke dalamnya, وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ
ذُرِّیّٰتِہِمۡ -- dan begitupun barangsiapa yang saleh dari antara bapak-bapak mereka, istri-istri
mereka dan keturunan mereka. وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ
یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ -- Dan malaikat-malaikat
akan masuk kepada mereka dari setiap
pintu seraya berkata: سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ
فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ -- ”Selamat sejahtera atas kamu, sebab kamu telah bersabar; maka lihatlah betapa bagusnya ganjaran tem-pat tinggal itu!” (Ar-Rā’d
[13]:23-25).
“Keluarga Surgawi” di Dunia dan di Akhirat & Turunnya Para Malaikat Azab Kepada Orang-orang Berdosa
Ayat: وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ
اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ
-- “dan
begitupun barangsiapa yang saleh
dari antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka”, ayat ini
mengemukakan suatu asas yang tinggi
nilainya. Tiap-tiap amal saleh yang
dikerjakan orang, dilakukan berkat adanya bantuan
atau kerja sama dari sanak-saudaranya dan kaum kerabatnya dengan sengaja atau tidak,
maka mereka itu semua dibuat ikut serta
menurut besarnya sumbangan mereka dalam menikmati
keuntungan yang ia peroleh.
Makna ayat: وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ
عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ -- “Dan
malaikat-malaikat akan masuk kepada
mereka dari setiap pintu” bahwa berbagai
jenis amal saleh orang-orang beriman
itu di akhirat akan diperlihatkan
sebagai sekian banyak pintu gerbang
ke surga.
Pendek kata, bahwa pada hakikatnya para malaikat sesuai dengan ketentuan Allah Swt. mereka
itu “turun” kepada semua manusia
– baik kepada orang-orang yang beriman
mau pun kepada orang-orang kafir,
bahkan kepada orang-orang yang tidak
percaya kepada keberadaan Tuhan (Atheis) sekali pun -- tetapi bentuk “turunnya” para malaikat tersebut sangat berbeda, yakni kepada orang-orang
beriman mereka “turun” sebagai “malaikat rahmat” sedangkan kepada orang-orang kafir sebagai “malaikat azab”, firman-Nya:
ہَلۡ
یَنۡظُرُوۡنَ اِلَّاۤ اَنۡ یَّاۡتِیَہُمُ اللّٰہُ فِیۡ ظُلَلٍ مِّنَ
الۡغَمَامِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ قُضِیَ الۡاَمۡرُ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾٪
Apakah yang mereka tunggu-tunggu kecuali bahwa
Allah datang kepada mereka dalam naungan awan bersama malaikat-malaikat
dan agar perkara itu diputuskan? Dan kepada
Allah segala perkara dikembalikan. (Al-Baqarah [2]:211). Lihat pula
QS.6:159; QS.16:34; QS.89:23.
Perkataan “kedatangan
Allah” dipakai oleh Al-Quran di tempat lain juga berkenaan
kedatangan azab Ilahi dari arah
yang tidak duga oleh orang-orang kafir (QS.16:27; QS.59:3), dengan
demikian “kedatangan Allah” berarti kedatangan siksaan Allah Swt. yang bersifat final.
Kata al-ghamām (awan) telah dipakai
oleh Al-Quran untuk menyatakan rahmat
(QS.7:161) dan azab (QS.25:26). Ada
pun yang diisyaratkan ayat ini ialah perang Badar ketika Allah Swt. menolong
orang-orang beriman dengan
menurunkan awan dan hujan (Bukhari) seperti dijanjikan
kepada mereka (QS.25:26), dan pula menurunkan
para malaikat (QS.8:10) yang mengobarkan keberanian orang-orang
beriman dan memenuhi hati orang-orang kafir dengan ketakutan (QS.8:13).
Beberapa orang
kafir menurut riwayat benar-benar menyaksikan
malaikat-malaikat pada hari itu (Zurqani), firman-Nya:
قَدۡ مَکَرَ الَّذِیۡنَ مِنۡ
قَبۡلِہِمۡ فَاَتَی اللّٰہُ بُنۡیَانَہُمۡ مِّنَ الۡقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَیۡہِمُ
السَّقۡفُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ اَتٰىہُمُ الۡعَذَابُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یُخۡزِیۡہِمۡ وَ یَقُوۡلُ اَیۡنَ
شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ کُنۡتُمۡ تُشَآقُّوۡنَ فِیۡہِمۡ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ
اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اِنَّ الۡخِزۡیَ
الۡیَوۡمَ وَ السُّوۡٓءَ عَلَی
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah
membuat makar lalu Allah
mendatangi landasan-landasan bangunannya maka atap
dari atas mereka runtuh menimpa mereka, dan kepada
mereka datang azab dari arah yang
tidak mereka ketahui. ثُمَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یُخۡزِیۡہِم -- Kemudian pada
Hari Kiamat Dia akan menghinakan mereka وَ یَقُوۡلُ اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ
الَّذِیۡنَ کُنۡتُمۡ تُشَآقُّوۡنَ فِیۡہِم -- dan Dia
akan berfirman: ”Di
manakah sekutu-sekutu-Ku itu
yang senantiasa kamu gunakan untuk menentang rasul-rasul-Ku?” قَالَ الَّذِیۡنَ
اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اِنَّ الۡخِزۡیَ
الۡیَوۡمَ وَ السُّوۡٓءَ عَلَی
الۡکٰفِرِیۡنَ -- Orang-orang
yang telah diberi ilmu akan berkata:
“Sesungguhnya ini hari kehinaan dan musibah atas orang-orang
kafir” (An-Nahl [16]:27-28).
Tuntutan Orang-orang Takabbur Dijawab dengan Azab Mengerikan
Kemudian dalam surah berikut ini Allah Swt. menjelaskan mengenai ketakaburan
para penentang Rasul Allah, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ
عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا ؕ لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ
اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا
بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ عَمَلٍ
فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا ﴿﴾ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ
مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا ﴿﴾
Dan berkata orang-orang yang tidak mengharapkan
pertemuan dengan Kami: لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ
عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا -- “Mengapa para
malaikat tidak diturunkan kepada kami?
Atau mengapakah kami tidak melihat Rabb (Tuhan) kami?” لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا
کَبِیۡرًا -- Sesungguhnya
mereka terlalu sombong mengenai diri
mereka dan mereka telah terlampau
jauh dalam kedurhakaan. یَوۡمَ یَرَوۡنَ
الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Pada hari
ketika mereka melihat
malaikat-malaikat, tidak ada kabar
suka pada hari itu bagi orang-orang
yang berdosa, وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا -- dan mereka berkata: “Semoga ada dinding penghalang yang kuat!”
وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ
عَمَلٍ فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا -- Dan akan Kami
hadapi segala pekerjaan yang
mereka kerjakan lalu Kami
akan menjadikannya zarrah-zarrah debu yang berhamburan. اَصۡحٰبُ
الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا -- Pada hari
itu para penghuni surga tempat tinggalnya lebih baik dan tempat istirahatnya lebih indah. (Al-Furqan
[25]:22-25).
Yang diisyaratkan ayat: یَوۡمَ
یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Pada hari
ketika mereka melihat
malaikat-malaikat, tidak ada kabar
suka pada hari itu bagi orang-orang
yang berdosa” adalah perang Badar ketika Allah Swt. menolong
orang-orang beriman dengan menurunkan awan dan hujan (Bukhari) seperti dijanjikan kepada mereka (QS.25:26), dan
pula menurunkan para malaikat (QS.8:10) yang mengobarkan keberanian orang-orang beriman
dan memenuhi hati orang-orang
kafir dengan ketakutan (QS.8:13).
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa beberapa orang kafir menurut riwayat benar-benar menyaksikan malaikat-malaikat pada hari perang Badar itu (Zurqani).
Seorang-orang Arab akan mempergunakan
kata-kata hijran mahjūran bila ia dihadapkan kepada suatu hal yang ia
tidak sukai, maksudnya: “biarlah ia tetap
jauh dariku agar aku jangan menderita
karenanya” (Lexicon Lane
& Mufradat): وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا -- dan
mereka berkata: “Semoga ada
dinding penghalang yang kuat!”
Dua Macam Jawaban Allah
Swt.
Jadi, sebagai jawaban atas tuntutan pertama yang lancang, orang-orang
kafir seperti tersebut dalam ayat sebelumnya diberitahu bahwa malaikat-malaikat pasti akan turun, tetapi mereka – malaikat-malaikat pemberi hukuman itu – ketika mereka itu datang, orang-orang
kafir akan membenci di kala
nampak kepada mereka malaikat-malaikat
itu, lalu akan mendoa agar suatu penghalang yang kuat hendaknya ditegakkan di antara mereka dengan malaikat-malaikat itu.
Ada pun terhadap tuntutan mereka yang kedua (yaitu “mengapakah
kami tidak melihat Tuhan kami?” dalam ayat 22): اَوۡ
نَرٰی رَبَّنَا --
“Atau mengapa para malaikat tidak diturunkan kepada kami?” Tuntutan takabbur mereia akan
dibalas dengan melenyapkan segala pekerjaan mereka dan hancur-luluhnya mereka seperti zarrah-zarrah debu.
Pendek kata, bahwa baik kepada orang-orang yang beriman
mau pun kepada orang-orang kafir
Allah Swt. bersama para malaikat benar-benar “mendatangi” mereka tetapi dalam
perlakuan yang berbeda, yakni berupa rahmat dan berupa azab, termasuk di Akhir Zaman
ini firman-Nya:
وَ یَوۡمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِالۡغَمَامِ
وَ نُزِّلَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾
اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی
الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ
یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ
الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾ یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا
خَلِیۡلًالَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ
الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾ وَ
قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan pada hari ketika langit akan terpecah-belah dengan awan-awan dan malaikat-malaikat akan di-turunkan bergelombang-gelombang. اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ --
Kerajaan yang haq
pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ
عَسِیۡرًا -- dan azab
pada hari itu atas orang-orang
kafir sangat keras. وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ -- Dan pada
hari itu orang zalim akan menggigit-gigit
kedua tangannya یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ
الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا -- lalu berkata: ”Wahai alangkah baiknya jika aku
mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا -- Wahai celakalah aku, alangkah
baiknya seandainya aku tidak menjadikan si fulan itu sahabat. لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ -- Sungguh ia
benar-benar telah melalaikanku dari mengingat
kepada Allah sesudah ia datang
kepadaku.” وَ کَانَ
الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- Dan syaitan
selalu menelantarkan manusia. وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا -- Dan Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah
menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb
(Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan
penolong. (Al-Furqān [25]:26-32).
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya bahwa mengenai ayat 26-30 dapat tertuju kepada Hari
Badar sungguh-sungguh merupakan suatu
hari yang penuh dengan kesedihan bagi orang-orang
kafir Mekkah. Pada hari itulah dasar-dasar
Islam diletakkan dengan teguhnya, dan kaum
kafir Quraisy telah menyadari kehinaan
dan kekalahan pahit yang mereka
derita.
Penelantaran oleh Syaitan
Berkenaan
dengan sikap syaitan dalam ayat selanjutnya: یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا -- Wahai celakalah
aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak
menjadikan si fulan itu sahabat. لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ -- Sungguh ia
benar-benar telah melalaikanku dari mengingat
kepada Allah sesudah ia datang
kepadaku.” وَ کَانَ
الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- dan syaitan
selalu menelantarkan manusia”, sikap
syaitan itu
sesuai dengan firman-Nya:
وَ قَالَ الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ
وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ
سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ
فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ
بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata: اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ
الۡحَقِّ --
“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan
kepada kamu suatu janji yang benar, وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ -- dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ
سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ -- dan aku
sekali-kali tidak
memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا
اَنۡفُسَکُمۡ -- Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri. مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ
وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ -- Aku sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ
قَبۡلُ -- Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya,
اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ
عَذَابٌ اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya
orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim
[14]:23).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 9 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar