Jumat, 01 Juli 2016

Kedatangan "Rasul Akhir Zaman" Meredam Merebaknya "Fitnah Dajjal" & Tiga Tanda "Hari Kiamat": "Matahari Terbit dari Barat", "Munculnya Dajja"; dan Keluarnya "Dabbatul-Ardhi" (Rayap Bumi)


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


KEDATANGAN RASUL AKHIR ZAMAN    MEREDAM  MEREBAKNYA  FITNAH  DAJJAL & TIGA TANDA  “HARI KIAMAT”:   MATAHARI TERBIT DARI BARAT, MUNCULNYA DAJJAL, DAN KELUARNYA  DABBATUL-ARDHI (RAYAP BUMI)

Bab 77

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kemunculan  Dajjal, di antaranya:
      Dari `Imran bin Husain   radhiallāhu `anhuma berkata, saya mendengar Rasulullah sallallāhu `alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada perkara sejak kejadian Adam sallallāhu `alaihi wasallam hingga Hari Kiamat lebih besar daripada perkara mengenai Dajjal” (HR Muslim).
       Dari Abu Hurairah  radhiallāhu `anhu, dari Nabi sallallāhu `alaihi wasallam  beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah.” (HR. Muslim).

Makna Kata Dajjal  & Penghukuman Iblis

     Menurut beberapa keterangam, kata Ad-Dajjal   diambil dari perkataan mereka: "dajala Al-ba'iira idzā  thalāhu bi Al-qathiran waghaththā bihi"   -- ”seseorang itu mendajjal unta bila melumurinya dengan ter (aspal) dan menutupnya dengannya" (Lisanul Arab 11: 236, dan Tartibul Qamus 2: 152).
  Asal makna "dajjal" ialah "al-khalath" (mencampur, mengacaukan, membingungkan). Dikatakan bahwa "seseorang itu berbuat dajjal bila ia menyamarkan dan memanipulasi." dan "Ad-Dajjal" ialah manipulator dan pembohong yang luar biasa. Lafaz ini termasuk bentuk mubalaghah (menyangatkan/intensitas) mengikuti wazan "fa'al", artinya banyak menelurkan kebohongan dan kepalsuan.  (An-Nihayah Fi Gharibil Hadist 2: 102).
        "Dajjal" itu dinamakan "dajjal" kerana ia menutup kebenaran dengan kebatilan atau karena ia menutupi kekafirannya terhadap orang lain dengan kebohongan, kepalsuan  dan penipuannya ke atas mereka. Dan ada yang mengatakan karena ia menutupi bumi dengan banyaknya kelompoknya. (Lisanul Arab 11: 236-237, dan Tartibul Qamus 2: 152).
       Keterangan “ia menutupi bumi dengan banyaknya kelompoknya” sesuai dengan keterangan Bible berkenaan pelepasan kembali  iblis dan satan (syaitan) – yakni si ular tua – dari   pemenjaraannya selama 1000 tahun:
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,  Iblis akan dilepaskan    dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa   pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. 20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang,   yaitu tempat binatang    dan nabi palsu   itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya. Wahyu 20:7-10).

Adanya Para Pendakwa yang Palsu Membuktikan Keberadaan Pendakwa  yang Asli & Dajjal  Nama Lain dari Ya’juj dan Ma’juj

  Merupakan ketentuan umum bahwa munculnya barang-barang palsu mengindikasikan keberadaan  barang yang asli,  demikian pula hanya  berkenaan dengan  kedatangan Rasul Akhir Zaman  dari kalangan Bani Adam  (QS.7:35-37; QS.61:10; QS.62:3-4) pun pasti akan muncul para pendakwa palsu  --  yang merupakan bagian dari hadangan Iblis dan tipu-daya syaitan  di “jalan Allah”, sebagaimana yang  diancamkan iblis   kepada Allah Swt. berkenaan dengan Adam (Khalifah Allah)   dan para pengikutnya (QS.7:12-19; QS.15:29-45;  QS.17:62-66; QS.38:72-86), firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ مِنۡ رَّسُوۡلٍ وَّ لَا نَبِیٍّ  اِلَّاۤ  اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ ۚ فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ ؕ وَ  اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿ۙ﴾
Dan Kami tidak pernah mengirim seorang rasul dan tidak pula seorang nabi اِلَّاۤ  اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ   -- melainkan apabila ia menginginkan sesuatu maka syaitan meletakkan hambatan pada keinginannya, فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ ؕ  -- tetapi Allah melenyapkan hambatan yang diletakkan oleh syaitanوَ  اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ -- dan Allah  Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.  (Al-Hajj [22]:53). Lihat pula QS.6:112-114; QS.25:31-32; QS.36:31; QS.51:53-54).
      Memang benar bahwa dalam Al-Quran tidak ada tercantum sebutan “Dajjal” secara jelas --  yang ada adalah  sebutan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.18:84-99; QS.21:96-101)  -- tetapi sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan dengan “Dajjal” tersebut pasti rujukannya adalah Al-Quran, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Dajjal adalah  sebutan lain dari bangsa-bangsa yang disebut Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog), firman-Nya:
لَخَلۡقُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اَکۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ النَّاسِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Niscaya penciptaan seluruh langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia,  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Mu’min [40]:58).
   Menurut ‘alim ‘ulama dan mufassirin, seperti Baghwi, Ibnu Hajar dan lain-lain,  kata an-nās dalam ayat tersebut  berarti Dajjal. Penafsiran itu mendapat dukungan hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang terkenal  yaitu:
Sejak Adam diciptakan hingga Hari Kiamat tidak pernah ada   makhluk lebih besar daripada Dajjal (Bukhari).
  Hadits ini mengisyaratkan kepada keperkasaan Dajjal, dan karena ia seorang penipu dan pendusta besar, maka Allah Swt. memperingatkan  umat Islam agar senantiasa berjaga-jaga terhadap bahaya tertipu atau terpesona oleh semarak dan kebesaran duniawinya yang disebut fitnah Dajjal.

Memahami Surah Al-Kahf  Dapat Menyelamatkan dari Fitnah Dajjal

  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda bahwa pembacaan – yakni  memahami    -- sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Al-Kahf  menjamin keselamatan seseorang terhadap serangan-serangan ruhani dari Dajjal. Hal itu menunjukkan bahwa Dajjal dan Ya’juj-Ma’juj (Gog-Magog) adalah bangsa itu-itu juga, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari barat.
Kata Dajjal menggambarkan propaganda keagamanan mereka yang membawa kemudaratan kepada Islam. sedang Ya’juj-Ma’juj (Gog-Magog) menggambarkan kekuatan dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan dan politik, firman-Nya: 
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَاۤ  اَنَّہُمۡ لَا  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali.  Hingga apabila dibukakan pin-tu pemenjaraan  Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian.  Sudah mendekat  janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak   mata orang-orang   kafir, mereka  berseru, Aduhai, celaka kami! Sungguh kami dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!” (An-Anbiya [21]:96-98).
    Jika ayat mengenai Ya’juj dan Ma’juj dibaca bersama-sama dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat ini ialah bahwa hukum alam bekerja demikian rupa, sehingga sekali bila suatu hukum — sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya — mengalami kebinasaan dan kehancuran mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang itu.
     Demikian pula Ya’juj dan Ma’juj pun dengan kejayaan dan kemuliaan besar dalam kebendaan (duniawi) tidak dapat mengelakkan diri dari hukum alam tersebut. Mereka akan jatuh dan tidak akan bangkit kembali untuk selama-lamanya.
Ya’juj dan Ma’juj atau bangsa-bangsa Kristen barat telah mencapai segala puncak kekuasaan politik dan telah menyebar ke seluruh dunia. Ungkapan Al-Quran: حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ  -- “Hingga apabila dibukakan pin-tu pemenjaraan  Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian”  berarti, bahwa mereka akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan duniawi dan  mereka akan menguasai seluruh dunia.
      Ayat selanjutnya  berisi nubuatan bahwa  kekuasaan  duniawi Ya’juj dan Ma’juj akan diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang membawa bencana besar di dunia   -- termasuk terjadinya dua kali Perang Dunia --  yang akhirnya akan menyebabkan kejayaan  dan kemenangan Islam (QS.61:10) dan menjadi sebab kekuatan-kekuatan kepalsuan dan kebendaan yang menjelma dalam wujud Ya’juj dan Ma’juj   -- yang disebut fitnah Dajjal   -- itu musnah.
     Bila sesudah kehancuran Ya’juj-Ma’juj secara mutlak, Islam akan memperoleh kembali kejayaan dan kemuliaannya seperti sediakala, dan mereka yang telah berputus-asa mengenai kebangkitan kembali mata kepala mereka sendiri hampir-hampir tidak dapat mempercayainya:     وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ -- “Sudah mendekat  janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak   mata orang-orang   kafir, mereka  berseru,  یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ -- Aduhai, celaka kami! Sungguh kami dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!””

Rasul Akhir Zaman Peredam “Fitnah Dajjal

  Jadi,  kesimpulan yang dapat diambil dari ayat-ayat tersebut bahwa bahwa kekuatan-kekuatan kegelapan    -- yang  di Akhir Zaman ini di antaranya Dajjal adalah wakilnya terbesar  --  bahwa betapa pun perkasa dan berkuasanya, tetapi mereka tidak akan mampu menahan kemajuan Islam yang perjuangkan oleh Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-4), dan bahwa kekuatan-kekuatan itu pada akhirnya akan ditaklukkan oleh Islam, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
  Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.
      Kembali kepada firman-Nya:   لَخَلۡقُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اَکۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ النَّاسِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- “Niscaya penciptaan seluruh langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia,  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Mu’min [40]:58),   dapat berarti pula bahwa meskipun manusia sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan jagat raya yang diciptakan oleh Allah Swt., tetapi  manusia dalam kesombongan dan kecongkakannya menolak menyambut seruan Ilahi melalui pengutusan rasul Allah,   terutama   Dajjal    -- si pendusta besar  yang matanya buta sebelah –  yang telah menyebarkan faham ketuhanan  yang bertentangan dengan Tauhid Ilahi, sebagaimana firman-Nya dalam ayat selanjutnya: 
وَ مَا یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ وَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ لَا الۡمُسِیۡٓءُ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ السَّاعَۃَ  لَاٰتِیَۃٌ  لَّا رَیۡبَ فِیۡہَا وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak sama orang buta dan orang melihat, dan tidak pula  orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat keburukan. Sedikit  sekali  kamu  mendapat nasihat.   اِنَّ السَّاعَۃَ  لَاٰتِیَۃٌ  لَّا رَیۡبَ فِیۡہَا وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یُؤۡمِنُوۡن --  Sesungguhnya Kiamat itu pasti akan datang, tidak ada keraguan di dalamnya  tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Al-Mu’min [40]:59-60).

Tiga Tanda Terjadinya Kiamat  atau Akhir Zaman: (1) Matahari Terbit dari Barat, (2) Dajjal, (3) Munculnya Binatang dari Bumi

      Banyak sekali dalam Al-Quran mengenai tanda-tanda Akhir Zaman atau tanda-tanda telah dekatnya Kiamat  (QS.54:1-9; QS.75:1-16; QS.77:1-20; QS.81:1-15), demikian juga sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits, di antaranya tentang munculnya “Dajjal”:
      Imam Muslim dan at-Tirmidzi   meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallāhu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ada tiga hal yang jika keluar  maka tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau (belum) berusaha berbuat kebaikan dengan imannya itu:  terbitnya matahari dari barat, Dajjal, dan binatang bumi.” 
        Salah satu makna dari  “terbitnya matahari dari barat” menggambarkan  hal yang bertentangan dengan ketentuan Allah Swt., sebab sejak awal penciptaan alam semesta terbitnya matahari di lingkungan tatasurya kita senantiasa  dari timur. Karena itu jika dihubungkan dengan dua tanda kiamat berikutnya – berupa munculnya Dajjal dan  binatang bumi --  maka makna dari “terbitnya matahari dari barat” adalah merebaknya kepercayaan sesat mengenai “Tuhan” yang disebarkan Dajjal, yang bertentangan dengan ajaran utama seluruh para Rasul Allah sejak Adam hingga Nabi Besar Muhammad saw. yaitu Tauhid Ilahi sebagaimana dikemukakan dalam surah Al-Ikhlash, firman-Nya: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: “Dia-lah  Allah   Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nyaلَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ  --   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ --    Dan tidak ada sesuatu pun yang setara3469  dengan-Nya”(Al-Ikhlash [114]:1-5).
       Kemudian mengenai  munculnya “binatang bumi” atau “dabbatul-ardhi” Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّکَ لَا تُسۡمِعُ الۡمَوۡتٰی وَ لَا  تُسۡمِعُ  الصُّمَّ الدُّعَآءَ   اِذَا  وَلَّوۡا  مُدۡبِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَاۤ   اَنۡتَ بِہٰدِی  الۡعُمۡیِ عَنۡ  ضَلٰلَتِہِمۡ ؕ اِنۡ تُسۡمِعُ  اِلَّا مَنۡ  یُّؤۡمِنُ بِاٰیٰتِنَا  فَہُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ  اِذَا  وَقَعَ  الۡقَوۡلُ عَلَیۡہِمۡ اَخۡرَجۡنَا لَہُمۡ  دَآبَّۃً  مِّنَ الۡاَرۡضِ تُکَلِّمُہُمۡ ۙ اَنَّ النَّاسَ  کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا  لَا  یُوۡقِنُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya engkau tidak dapat membuat orang-orang mati mendengar, dan tidak dapat pula engkau membuat orang-orang tuli mendengar seruan, apabila  mereka mundur sambil membalikkan punggungnya.  Dan engkau sekali-kali tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang-orang buta dari kesesatan mereka. Engkau hanya dapat membuat mendengar orang-orang yang beriman  kepada Ayat-ayat Kami, maka merekalah  orang-orang yang berserah diri.  وَ  اِذَا  وَقَعَ  الۡقَوۡلُ عَلَیۡہِمۡ   -- Dan apabila keputusan-Ku telah jatuh  atas mereka, اَخۡرَجۡنَا لَہُمۡ  دَآبَّۃً  مِّنَ الۡاَرۡضِ تُکَلِّمُہُمۡ -- Kami akan mengeluarkan bagi mereka binatang  dari bumi yang akan melukai mereka, اَنَّ النَّاسَ  کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا  لَا  یُوۡقِنُوۡنَ -- sesungguhnya manusia tidak yakin atas Tanda-tanda Kami  (An-Naml [27]:81-83).
      Kata-kata  ketika mereka mundur sambil membalikkan punggung, membuat hal itu jelas, bahwa “orang-orang mati” tersebut di sini adalah “mati ruhani” seperti halnya “orang-orang buta” dalam teks ayat berikut ini berarti “buta ruhani, firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی  وَ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini maka di akhirat  pun  ia akan buta juga  dan bahkan   lebih tersesat dari jalan.(Bani Israil [17]:73). Lihat pula QS.20:125-129.
      Mereka yang tidak mempergunakan mata ruhani mereka dengan cara yang wajar di dunia ini akan tetap  luput dari penglihatan ruhani di alam   akhirat. Al-Quran menyebut mereka yang tidak merenungkan Tanda-tanda Allah (QS.3:191-195). serta tidak memperoleh manfaat darinya  “buta.” Orang-orang seperti itu di alam akhirat pun akan tetap dalam keadaan buta.

Merebaknya Wabah Pes (Tha’un) di Akhir Zaman

     Kata-kata, waqa’a al-qaulu ‘alaihim   dalam ayat: وَ  اِذَا  وَقَعَ  الۡقَوۡلُ عَلَیۡہِمۡ   -- Dan apabila keputusan-Ku telah jatuh  atas mereka, اَخۡرَجۡنَا لَہُمۡ  دَآبَّۃً  مِّنَ الۡاَرۡضِ تُکَلِّمُہُمۡ --  Kami akan mengeluarkan bagi mereka binatang  dari bumi yang akan melukai mereka, اَنَّ النَّاسَ  کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا  لَا  یُوۡقِنُوۡنَ -- sesungguhnya manusia tidak yakin atas Tanda-tanda Kami berarti:  kalimat atau keputusan itu jadi pantas terhadap mereka atau telah terjadi; mereka membuat diri mereka layak menerima keputusan atau ketetapan Tuhan (Aqrab-al-Mawarid).
      Firman Allah Swt. dalam ayat tersebut merupakan   nubuatan berkenaan dengan timbulnya wabah penyakit berbahaya di Akhir Zaman, sebagaimana salah satu dari sekian banyak bukti kebenaran pendakwaan Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-5).  Ayat tersebut  diterangkan demikian oleh  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri.
       Ada pun yang dimaksud dengan dabbah ialah bakteri dari pes  (tha’un) yang akan zahir pada Akhir Zaman. Bakteri itu akan menyerang tubuh  dan orang itu akan mati.  Berdasarkan hadits  Nabi Besar Muhammad saw.   yang menerangkan mengenai Akhir Zaman, bahwa akan timbul dabbatul ardh, yakni binatang-binatang bumi, (Ibnu Katsir dan Fathul Bayan hlm. 231, Surah An-Naml).
      Di dalam hadits Muslim ada dijelaskan bahwa akan timbul suatu penyakit naghaf yakni penyakit yang ada pada  unta di  Akhir Zaman. Kalau kedua hadis —kita cocokkan maka kita akan mendapat suatu kabar gaib (nubuatan) bahwa di Akhir Zaman penyakit pes (tha’un)   akan menyebar di seluruh dunia.  Penyebab penyakit pes  disebabkan oleh bakteri yang tersembunyi.
      Mengenai  akan merebaknya  penyakit pes (tha’un)   -- terutama di wilayah Punjab, Hindustan,  yang membinasakan  ratusan ribu orang  -- Pendiri Jemaat Muslim    Ahmadiyah  -- Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s.  – secara khusus beliau telah menulis dalam salah satu buku beliau, Kisyti Nuh  (Bahtera Nuh).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 25  Juni    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar