Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
HIJRAH SEMENTARA NABI
ADAM A.S. DAN JAMAAHNYA DARI “JANNAH”
(MESOPOTAMIA) KE WILAYAH LAIN DI
TIMUR TENGAH & PERUMPAMAAN ORANG-ORANG YANG DIUSIR
DARI SURGA
KERIDHAAN ILAHI DI DUNIA
Bab 79
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya
telah dikemukakan mengenai
nubuatan merebaknya
wabah pes (tha’un) dalam buku Masih
Mau’ud a.s. – Kisyti Nuh (Bahtera Nuh)
-- antara lain beliau menjelaskan
mengenai Tanda-tanda kebenaran pendakwaan sebagai seorang yang datang dari Tuhan yakni sebagai Rasul Akhir Zaman (QS.61:10). Beliau menulis:
“Sebagai tanda
bahwa aku datang dari Tuhan ialah bahwa orang-orang mukhlis yang tinggal
di dalam tembok rumah saya akan tetap terpelihara dari kematian akibat penyakit
ini. Dan warga Jemaatku seutuhnya – secara
relatif dan secara komparatif -- akan
tetap terpelihara dari serangan wabah pes. Dan kesejahteraan yang terdapat di dalam Jemaat ini pasti tidak
terdapat tara bandingannya pada golongan lain. Dan kegemparan wabah pes
yang membinasakan itu tidak akan melanda Qadian, kecuali sedikit atau
jarang-jarang.
Alangkah baiknya jika hati orang-orang itu lurus dan takut kepada Tuhan, supaya mereka
benar-benar akan diselamatkan, karena siksaan
(azab) tidak turun kepada seseorang di alam dunia ini disebabkan perbedaan agama, karena mengenai itu pertanggung-jawabannya
akan diminta nanti pada Hari Kiamat.
Di
dunia ini siksaan turun hanya akibat kenakalan,
keangkuhan, dan terlampau banyak dosa. Dan perlu diingat pula
bahwa di dalam Quran Syarif – dan bahkan juga di dalam beberapa bagian Taurat3 –
terdapat kabar bahwa di masa Masih Mau’ud
akan berjangkit wabah pes. Bahkan
Hadhrat Masih a.s. pun mengabarkan mengenai itu di dalam Injil. Dan tidaklah
mungkin kalau nubuwatan-nubuwatan para nabi akan meleset.
Hendaknya
juga diingat, bahwa adalah wajib bagi kita untuk
menjauhi upaya-upaya ciptaan manusia
karena sudah ada janji Tuhan, agar orang-orang yang anti jangan sampai mengaitkan Tanda Ilahi itu kepada hal-hal
lain. Akan tetapi apabila disamping itu Allah Ta’ala Sendiri dengan perantaraan Kalam-Nya (firman-Nya)
menunjukkan sesuatu upaya atau memberitahukan sesuatu obat, maka upaya atau obat serupa itu tidak menjadi halangan bagi Tanda itu, sebab
upaya atau obat tersebut datang dari Tuhan
Yang dari-Nya juga Tanda itu datang.
Hendaknya jangan ada yang mempunyai dugaan, bahwa kalau kadangkala seseorang
di dalam Jemaat kita mati akibat wabah pes lantas nilai serta martabat Tanda
itu akan berkurang. Sebab pada zaman dahulu Musa a.s. dan Yesaya a.s. dan pada
akhirnya Nabi kita saw. mendapat perintah bahwa untuk barangsiapa yang telah mengangkat pedang dan membunuh ratusan jiwa,
mereka itu boleh dibunuh dengan pedang pula.
Dan ini merupakan suatu Tanda dari
para nabi tersebut, yang sesudah itu
mereka mendapat kemenangan besar.
Padahal dalam bentrokan (perang) itu dari pihak para pengikut kebenaran terdapat
juga yang tewas oleh pedang pihak
lawan akan tetapi sangat sedikit, dan
kerugian sebesar itu tidak berarti apa-apa bagi Tanda tersebut.
Jadi, demikianlah, apabila ada beberapa
orang dalam Jemaat kita telah terkena wabah
pes karena
sebab-sebab tersebut di atas, peristiwa itu pasti tidak menodai sedikit pun Tanda
Ilahi tersebut. Tidakkah ini merupakan suatu Tanda agung – seperti telah berkali-kali aku kemukakan –
bahwa Allah Ta’ala akan menampakkan nubuwatan itu sedemikian rupa,
sehingga setiap pencari kebenaran tidak akan ragu-ragu?
Dan mereka akan mengerti bahwa
Allah Ta’ala telah memperlakukan Jemaat ini bagaikan mukjizat, bahkan
bagai Tanda Ilahi, akibatnya ialah Jemaat ini akan berkembang dalam
jumlahnya dengan perantaraan wabah
pes, dan akan maju secara luar biasa pesatnya. Kemajuan
tersebut akan disaksikan dengan takjub,
sedangkan lawan terus menerus menderita
kekalahan pada setiap kesempatan, sebagaimana telah aku tulis dalam kitab Nuzulul
Masih (Turunnya Al-Masih).”
Jemaat Muslim
Ahmadiyah adalah “Bahtera
Nuh” Akhir Zaman
Demikianlah penjelasan Masih Mau’ud
a.s. mengenai merebaknya wabah tha’un (pes) yang terjadi pada zaman beliau sebagai peringatan
Allah Swt. kepada orang-orang yang mendustakan
berbagai macam Tanda-tanda Allah yang
mendukung kebenaran pendakwaan rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan kepada
mereka (QS.7:35-37; QS.61:10; QS.62:3-5).
Ada pun yang dimaksud dengan perintah
pembuatan “bahtera” yang dikemukakan dalam ayat-ayat Al-Quran yang diwahyukan kembali Allah Swt. kepada Masih Mau’ud a.s. adalah pembentukan Jemaat Muslim Ahmadiyah, karena di Akhir
Zaman ini akan berfungsi seperti “bahtera”
(perahu) yang telah dibuat oleh Nabi Nuh a.s..
Perbedaannya adalah bahwa “bahtera” yang dibuat Nabi Nuh a.s.
adalah sebuah perahu yang dibuat dari papan kayu dan paku
(QS.54:10-17), sedang “bahtera”
yang dibuat Masih Mau’ud a.s. atas perintah Allah Swt. di Akhir Zaman ini adalah sebuah “organisasi
ruhani”, guna membedakan dari
berbagai organisasi agama lainnya yang ada di Akhir Zaman ini:
وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا
اِنَّ الَّذِیۡنَ
یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ
اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ
“Buatlah bahtera
dengan pengawasan petunjuk wahyu Kami. Barangsiapa yang baiat kepada engkau,
sesungguhnya mereka baiat kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan
mereka.”
Sehubungan dengan pembuatan
“bahtera” yang dibuat oleh Nabi Nuh a.s.
tersebut Allah Swt. berfirman:
کَذَّبَتۡ
قَبۡلَہُمۡ قَوۡمُ نُوۡحٍ فَکَذَّبُوۡا عَبۡدَنَا وَ قَالُوۡا
مَجۡنُوۡنٌ وَّ ازۡدُجِرَ ﴿﴾ فَدَعَا رَبَّہٗۤ
اَنِّیۡ مَغۡلُوۡبٌ فَانۡتَصِرۡ ﴿﴾ فَفَتَحۡنَاۤ
اَبۡوَابَ السَّمَآءِ
بِمَآءٍ مُّنۡہَمِرٍ ﴿۫ۖ﴾ وَّ فَجَّرۡنَا الۡاَرۡضَ عُیُوۡنًا فَالۡتَقَی
الۡمَآءُ عَلٰۤی اَمۡرٍ قَدۡ
قُدِرَ ﴿ۚ﴾ وَ حَمَلۡنٰہُ
عَلٰی ذَاتِ اَلۡوَاحٍ وَّ دُسُرٍ
﴿ۙ﴾ تَجۡرِیۡ
بِاَعۡیُنِنَا ۚ جَزَآءً لِّمَنۡ
کَانَ کُفِرَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
تَّرَکۡنٰہَاۤ اٰیَۃً فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ ﴿﴾ فَکَیۡفَ کَانَ عَذَابِیۡ وَ
نُذُرِ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
یَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ لِلذِّکۡرِ فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ ﴿﴾
Sebelum
mereka pun kaum Nuh telah mendustakan, lalu mereka
mendustakan hamba Kami dan mereka berkata: “Ia orang
gila dan terusir.” فَدَعَا
رَبَّہٗۤ اَنِّیۡ مَغۡلُوۡبٌ
فَانۡتَصِرۡ -- Maka ia
berdoa kepada Rabb-nya (Tuhan-nya): “Sesungguhnya aku dikalahkan maka tolonglah
aku.” فَفَتَحۡنَاۤ اَبۡوَابَ
السَّمَآءِ بِمَآءٍ مُّنۡہَمِرٍ -- Maka Kami membukakan pintu-pintu awan dengan air yang tercurah deras. وَّ فَجَّرۡنَا الۡاَرۡضَ عُیُوۡنًا
فَالۡتَقَی الۡمَآءُ عَلٰۤی اَمۡرٍ قَدۡ
قُدِرَ -- Dan
Kami memancarkan sumber-sumber air di bumi lalu kedua air itu bertemu untuk suatu perintah yang telah ditentukan. وَ
حَمَلۡنٰہُ عَلٰی ذَاتِ
اَلۡوَاحٍ وَّ دُسُرٍ -- Dan Kami
mengangkut dia di atas sesuatu yang terbuat dari papan dan paku, تَجۡرِیۡ
بِاَعۡیُنِنَا ۚ جَزَآءً لِّمَنۡ
کَانَ کُفِرَ -- yang berlayar di bawah pengawasan Kami sebagai ganjaran bagi orang yang senantiasa diingkari. وَ لَقَدۡ تَّرَکۡنٰہَاۤ
اٰیَۃً فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah meninggalkan peristiwa itu sebagai Tanda, maka apakah ada yang
mengambil peringatan? فَکَیۡفَ کَانَ
عَذَابِیۡ وَ نُذُرِ -- Maka betapa
dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku! وَ لَقَدۡ یَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ لِلذِّکۡرِ
-- Dan sesungguhnya Kami telah mempermudah Al-Quran untuk diingat, فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِر -- maka
apakah ada orang yang mengambil
peringatan? (Al-Qamar [54]:10-18).
Pentingnya Berpakaian “Takwa” yang Sempurna
Penjelasan Masih Mau’ud a.s.
tersebut sesuai dengan firman Allah
Swt.: وَ اِذَا وَقَعَ
الۡقَوۡلُ عَلَیۡہِمۡ -- Dan apabila keputusan-Ku telah jatuh atas mereka, اَخۡرَجۡنَا لَہُمۡ دَآبَّۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ تُکَلِّمُہُمۡ -- Kami akan mengeluarkan
bagi mereka binatang dari bumi yang akan melukai mereka, اَنَّ
النَّاسَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا لَا
یُوۡقِنُوۡنَ -- sesungguhnya manusia tidak yakin atas Tanda-tanda Kami (An-Naml [27]:83).
Kata-kata, waqa’a al-qaulu ‘alaihim dalam ayat: وَ اِذَا وَقَعَ
الۡقَوۡلُ عَلَیۡہِمۡ -- Dan apabila keputusan-Ku telah jatuh atas mereka, اَخۡرَجۡنَا لَہُمۡ دَآبَّۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ تُکَلِّمُہُمۡ -- Kami akan mengeluarkan
bagi mereka binatang dari bumi yang akan melukai mereka, اَنَّ
النَّاسَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا لَا
یُوۡقِنُوۡنَ -- sesungguhnya manusia tidak yakin atas Tanda-tanda Kami” berarti: kalimat
atau keputusan itu jadi pantas terhadap mereka atau telah terjadi;
mereka membuat diri mereka layak menerima
keputusan atau ketetapan Tuhan (Aqrab-al-Mawarid).
Firman
Allah Swt. dalam ayat tersebut merupakan nubuatan berkenaan dengan timbulnya wabah penyakit berbahaya di Akhir
Zaman, sebagaimana salah satu dari sekian banyak bukti kebenaran pendakwaan Rasul
Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-5). Ayat tersebut diterangkan demikian oleh Nabi Besar Muhammad saw. sendiri.
Ada pun yang dimaksud dengan dabbah ialah bakteri dari pes (tha’un) yang akan zahir pada Akhir Zaman. Bakteri itu akan menyerang tubuh
dan orang itu akan mati. Berdasarkan hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang menerangkan mengenai Akhir Zaman, bahwa akan timbul dabbatul
ardh, yakni binatang-binatang bumi, (Ibnu
Katsir dan Fathul
Bayan hlm. 231, Surah An-Naml).
Di dalam hadits Muslim ada dijelaskan bahwa akan timbul suatu penyakit naghaf yakni
penyakit yang ada pada unta di Akhir
Zaman. Kalau kedua hadits —kita cocokkan maka kita akan mendapat suatu kabar gaib (nubuatan) bahwa di Akhir Zaman penyakit pes (tha’un) akan
menyebar di seluruh dunia. Penyebab
penyakit pes disebabkan oleh bakteri yang tersembunyi.
Dalam tulisannya tersebut Masih Mau’ud a.s. -- dalam
rangka terbuktinya mukjizat beliau
tersebut -- sangat menekankan masalah ketakwaan
kepada para pengikut beliau, dan agar
tidak menjadi “batu sandungan” bagi
pihak lain mereka sebaiknya mengikuti
anjuran pemerintah untuk disuntik vaksin.
“Pakaian Takwa”
Penutup “Aurat” Jama’ah Nabi Adam
a.s.
Jadi,
kembali kepada firman Allah Swt.
mengenai masalah “pakaian penutup
aurat” yakni auraq (waraq -
QS.7:23; QS.20:122) -- yakni pakaian takwa -- sebagaimana dikemukakan dalam
lanjutan kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis” (QS.7:12-28), dengan “pakaian
takwa” itulah Nabi Adam a.s dan “istrinya” (jamaahnya) menutupi “aurat”
– yakni kelemahan jamaah beliau -- yang “terbuka”
berupa timbulnya perselisihan dan pertentangan
di kalangan anggota jama’ah
beliau di dalam
“kebun”, firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ
وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ
یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ
الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ
اَبَوَیۡکُمۡ مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ
عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ
قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ
اَوۡلِیَآءَ لِلَّذِیۡنَ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, sungguh Kami
telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan sebagai perhiasan,
وَ لِبَاسُ
التَّقۡوٰی -- dan pakaian takwa itulah yang terbaik, yang demikian itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah,
supaya mereka mendapat nasihat. یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ اَبَوَیۡکُمۡ
مِّنَ الۡجَنَّۃِ -- Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali
membiarkan syaitan menggoda kamu
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang-tua kamu dari kebun, یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا
لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا -- ia menanggalkan
pakaian keduanya itu untuk menampakkan kepada keduanya aurat mereka, اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ
ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ -- sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihat
kamu dari tempat yang kamu tidak
dapat melihat mereka. اِنَّا جَعَلۡنَا
الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ لِلَّذِیۡنَ
لَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- Sesungguhnya Kami
telah menjadikan syaitan-syaitan itu
sahabat-sahabat bagi orang-orang yang tidak beriman (Al-A’rāf [7]:28).
Dikarenakan situasi di wilayah tempat tinggal Nabi
Adam a.s. dan para pengikut beliau
-- yang karena kesuburannya disebut “jannah” (kebun) atau “Taman Eden” -- akibat “tipu-daya syaitan” sudah tidak lagi kondusif bagi beliau dan jemaat beliau, maka Allah Swt. memerintahkan Nabi Adam a.s. untuk
sementara waktu untuk keluar atau hijrah dari jannah, itulah makna kata perintah ihbithu (pergilah kalian – QS.2:39; QS.7:25; QS.20:134),
firman-Nya:
قَالَ
اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا
یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی ﴿﴾
Dia
berfirman: اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا -- “Pergilah kamu berdua semuanya dari
sini, بَعۡضُکُمۡ
لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ -- sebagian kamu musuh bagi sebagian
yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی -- Maka apabila datang kepada kamu petunjuk dari-Ku, فَمَنِ اتَّبَعَ
ہُدَایَ فَلَا یَضِلُّ
وَ لَا یَشۡقٰی -- lalu barangsiapa
mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak
akan sesat dan tidak pula ia akan
menderita kesusahan.” (Thā Hā [20]:124).
Bukan “Pengusiran
dari Surga” Melainkan Perintah
Melakukan “Hijrah” dari Wilayah Subur
yang Disebut “Jannah”
Perkataan
"kamu berdua" maksudnya ialah dua golongan manusia, yaitu para pengikut Nabi Adam a.s. dan murid-murid syaitan. Kata kum (kamu) dan jami’ (semua) juga
menunjukkan bahwa saat itu tidak
ditujukan kepada dua orang melainkan
kepada dua golongan manusia atau dua
partai. Hal itu jelas pula dari QS.7:25,
di tempat itu telah dipakai kata jamak ihbithā (pergilah kamu semua) dan bukan ihbitha
(pergilah kamu berdua).
Ringkasnya, Nabi Adam a.s. berhijrah dari Irak -- yakni Mesopotamia --tanah air beliau, ke suatu negeri
tetangga. Rupanya hijrah itu
hanya untuk sementara waktu saja dan besar kemungkinan tidak lama kemudian
beliau kembali ke tanah air beliau.
Kata-kata “dan bekal hidup sampai suatu
masa tertentu” (QS.7:25) mengandung isyarat bahwa hijrah itu dimaksudkan hanya untuk sementara waktu, firman-Nya:
قَالَا
رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ اَنۡفُسَنَا ٜ
وَ اِنۡ
لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ
مُسۡتَقَرٌّ وَّ مَتَاعٌ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ
مِنۡہَا تُخۡرَجُوۡنَ ﴿٪﴾
Keduanya berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami
telah berlaku zalim terhadap diri kami, dan jika
Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi
kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang rugi.” قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ
-- Dia berfirman: ”Pergilah kamu semua
dari sini, sebagian
kamu adalah musuh bagi sebagian lain, وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ وَّ مَتَاعٌ اِلٰی حِیۡنٍ -- dan bagi kamu di bumi ini terdapat tempat tinggal dan bekal
hidup sampai masa tertentu.” قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا
تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا تُخۡرَجُوۡنَ -- Dia berfirman: ”Di dalamnya kamu akan hidup dan di dalamnya kamu akan mati,
dan darinya kamu akan dikeluarkan.”
(Al-A’rāf [7]:24-26).
Jadi, sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya maksud ayat: قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ
لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ -- Dia berfirman: ”Pergilah kamu semua
dari sini, sebagian
kamu adalah musuh bagi sebagian lain, وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ -- dan bagi kamu di bumi ini terdapat tempat tinggal وَّ مَتَاعٌ
اِلٰی حِیۡنٍ
-- dan bekal hidup sampai masa tertentu,” telah keliru
ditafsirkan sebagai pengusiran
Nabi Adam a.s. dan istrinya dari “surga”
ke dunia, padahal maksud ayat tersebut
mengisyaratkan kepada perintah Allah
Swt. kepada beliau dan para pengikutnya untuk
hijrah dari tanah
tumpah darah beliau yaitu wilayah Mesopotamia -- yang karena sangat subur telah disebut “jannah”
atau “taman Eden” -- ke
negeri yang berdekatan.
Ada pun alasan utama perintah
melakukan hijrah tersebut –
sebagaimana tekah dikemukakan -- karena
keadaan dalam “jannah” tidak kondusif lagi bagi Nabi Adam a.s.
dan kaumnya karena akibat “tipu-daya” manusia-manusia syaitan, di
wilayah tersebut telah timbul ketidak-harmonisan
hidup sebagaimana dikemukakan dalam ayat:
قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ
لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ -- Dia berfirman: ”Pergilah kamu semua
dari sini, sebagian
kamu adalah musuh bagi sebagian lain”.
Orang-orang yang Diusir
Dari “Surga Keridhaan” Allah Swt. di Dunia & Bileam bin Beor
Hijrah
yang dilakukan Nabi Adam a.s. dan para pengikutnya
tersebut bersifat sementara dan beliau agaknya telah kembali lagi ke negeri tempat asal, tidak lama sesudah itu,
sebagaimana diisyaratkan secara halus dalam
ayat: مَتَاعٌ
اِلٰی حِیۡنٍ -- “bekal
hidup sampai suatu masa tertentu.” Dalam ayat tersebut Nabi Adam a.s. diperingatkan
agar berhati-hati di masa depan, sebab di tanah
air sendirilah beliau harus tinggal untuk selama-lamanya.
Jadi penggunaan kata ihbithu tersebut sama
sekali tidak ada hubungannya dengan “pengusiran”
Adam a.s. dan “istrinya” dari surga, sebagaimana
umumnya telah keliru difaham, karena
orang-orang yang telah berada dalam surga tidak bisa dikeluarkan atau keluar
lagi dari dalam surga yang hakiki,
tapi mereka bisa terlepas dari “suasana surgawi” yang sebelumnya mereka nikmati, sebagaimana yang terjadi dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis” atau seperti
yang terjadi pada diri Bal’am bin
Baura atau Bileam bin Beor karena berlaku takabbur terhadap Nabi Musa
a.s., sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اتۡلُ
عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ
اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ
اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ
یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ
فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka berita
orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ
لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ -- Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan
itu, akan tetapi ia cenderung ke
bumi dan mengikuti hawa nafsunya, فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang
kehausan, jika engkau menghalaunya
ia menjulurkan lidahnya اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ -- dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan li-dahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ
الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ -- Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ
یَتَفَکَّرُوۡنَ -- maka kisahkanlah
kisah ini supaya mereka
merenungkannya. سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَا -- Sangat
buruk misal orang-orang
yang mendustakan Tanda-tanda Kami,
وَ
اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ -- dan
kepada diri mereka sendirilah mereka
berbuat zalim. (Al-A’rāf [176-178).
Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt. memperlihatkan Tanda-tanda melalui
seorang nabi Allah tapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu
terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).
Ayat 177 telah
dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi
Musa a.s. dan konon
dahulunya ia seorang wali Allah.
Kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan
kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat
pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran di setiap zaman pengutusan Rasul Allah
dari kalangan Bani Adam (QS,7:35-37), termasuk di Akhir Zaman ini.
Makna ayat وَ لٰکِنَّہٗۤ
اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ
-- “akan tetapi ia cenderung ke
bumi, dan mengikuti hawa nafsunya”
maksudnya hal-hal yang bersifat kebendaan,
pada khususnya kecintaan akan uang. Selanjutnya berfirman: فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ -- maka keadaannya
seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya”.
Yalhats -- dari
lahatsa -- yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya
adalah baik diminta ataupun tidak
untuk berkorban pada jalan agama,
orang semacam itu nampaknya terengah-engah
seperti seekor anjing kehausan,
seakan-akan beban pemberian pengorbanan
yang terus menerus bertambah membuatnya amat
penat sekali.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 29 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar