Minggu, 03 Juli 2016

"Hijrah" Sementara Nabi Adam a.s. dan "Jamaahnya" dari "Jannah" (Mesopotamia) ke Wilayah Lain di Timur Tengah & Perumpamaan Orang-orang yang "Diusir" dari "Surga Keridhaaan Ilahi" di Dunia


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


    HIJRAH  SEMENTARA NABI ADAM A.S. DAN JAMAAHNYA  DARI “JANNAH” (MESOPOTAMIA) KE WILAYAH LAIN DI TIMUR TENGAH & PERUMPAMAAN ORANG-ORANG YANG DIUSIR DARI  SURGA KERIDHAAN ILAHI DI DUNIA

Bab 79

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  mengenai   nubuatan  merebaknya wabah pes (tha’un)  dalam buku Masih Mau’ud a.s.   – Kisyti Nuh (Bahtera Nuh) --  antara lain beliau menjelaskan mengenai Tanda-tanda  kebenaran pendakwaan sebagai seorang yang datang  dari Tuhan   yakni sebagai Rasul Akhir Zaman (QS.61:10). Beliau menulis:
    “Sebagai tanda bahwa aku datang dari Tuhan ialah bahwa orang-orang  mukhlis yang tinggal di dalam tembok rumah saya akan tetap terpelihara dari kematian akibat penyakit ini. Dan warga Jemaatku seutuhnya – secara relatif dan secara komparatif --  akan tetap terpelihara dari serangan wabah  pes. Dan kesejahteraan yang terdapat di dalam Jemaat ini pasti tidak terdapat tara bandingannya pada golongan lain. Dan kegemparan wabah  pes  yang membinasakan itu tidak akan melanda Qadian, kecuali sedikit atau jarang-jarang.
    Alangkah baiknya jika hati orang-orang itu lurus dan takut kepada Tuhan, supaya mereka benar-benar akan diselamatkan, karena siksaan (azab) tidak turun kepada seseorang di alam dunia ini disebabkan  perbedaan agama, karena mengenai itu pertanggung-jawabannya akan diminta nanti pada Hari Kiamat.
   Di dunia ini siksaan turun hanya akibat kenakalan, keangkuhan, dan terlampau banyak dosa. Dan perlu diingat pula bahwa di dalam Quran Syarif – dan bahkan juga di dalam beberapa bagian Taurat– terdapat kabar bahwa di masa Masih Mau’ud akan berjangkit wabah  pes. Bahkan Hadhrat Masih a.s. pun mengabarkan mengenai itu di dalam Injil. Dan tidaklah mungkin kalau nubuwatan-nubuwatan para nabi akan meleset.
      Hendaknya juga diingat, bahwa adalah wajib bagi kita untuk menjauhi  upaya-upaya ciptaan manusia karena sudah ada janji Tuhan, agar orang-orang yang anti jangan sampai mengaitkan Tanda Ilahi itu kepada hal-hal lain. Akan tetapi apabila disamping itu Allah Ta’ala Sendiri  dengan perantaraan Kalam-Nya (firman-Nya) menunjukkan sesuatu upaya atau memberitahukan sesuatu obat, maka upaya atau obat serupa itu tidak menjadi halangan bagi Tanda itu, sebab upaya atau obat tersebut datang dari Tuhan Yang dari-Nya juga Tanda itu datang.
     Hendaknya jangan ada yang mempunyai dugaan, bahwa kalau kadangkala seseorang di dalam Jemaat kita mati akibat wabah pes lantas nilai serta martabat Tanda itu akan berkurang. Sebab pada zaman dahulu Musa a.s. dan Yesaya a.s. dan pada akhirnya Nabi kita saw. mendapat perintah bahwa untuk barangsiapa yang telah mengangkat pedang dan membunuh ratusan jiwa, mereka itu boleh dibunuh dengan pedang pula.
     Dan ini merupakan suatu Tanda dari para nabi tersebut, yang sesudah itu mereka mendapat kemenangan besar. Padahal dalam bentrokan (perang) itu dari pihak para pengikut kebenaran terdapat juga yang tewas oleh pedang pihak lawan  akan tetapi sangat sedikit, dan kerugian sebesar itu tidak berarti apa-apa bagi Tanda tersebut.
   Jadi, demikianlah, apabila ada beberapa orang dalam Jemaat kita telah terkena wabah   pes karena sebab-sebab tersebut di atas, peristiwa itu pasti tidak menodai sedikit pun Tanda Ilahi tersebut. Tidakkah ini merupakan suatu Tanda agung  – seperti telah berkali-kali aku kemukakan – bahwa Allah Ta’ala akan menampakkan nubuwatan itu sedemikian rupa, sehingga setiap pencari kebenaran tidak akan ragu-ragu?
      Dan mereka akan mengerti  bahwa Allah Ta’ala telah memperlakukan Jemaat ini bagaikan mukjizat, bahkan bagai Tanda Ilahi, akibatnya ialah Jemaat ini akan berkembang dalam jumlahnya dengan perantaraan wabah  pes, dan akan maju secara luar biasa pesatnya. Kemajuan tersebut  akan disaksikan dengan takjub, sedangkan lawan terus menerus menderita kekalahan pada setiap kesempatan, sebagaimana telah aku tulis dalam kitab Nuzulul Masih (Turunnya Al-Masih).”

Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah “Bahtera Nuh” Akhir Zaman

      Demikianlah penjelasan Masih Mau’ud a.s.  mengenai merebaknya wabah tha’un (pes) yang terjadi pada zaman beliau  sebagai peringatan Allah Swt. kepada orang-orang yang mendustakan berbagai macam Tanda-tanda Allah yang mendukung kebenaran pendakwaan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37; QS.61:10; QS.62:3-5).
    Ada pun yang dimaksud dengan perintah pembuatan  “bahtera” yang dikemukakan dalam ayat-ayat Al-Quran yang diwahyukan kembali Allah Swt. kepada Masih Mau’ud a.s. adalah pembentukan Jemaat Muslim Ahmadiyah, karena di Akhir Zaman ini akan berfungsi   seperti “bahtera” (perahu) yang telah dibuat oleh Nabi Nuh a.s..
      Perbedaannya adalah bahwa “bahtera” yang dibuat Nabi  Nuh a.s.  adalah   sebuah perahu yang dibuat  dari  papan kayu  dan paku (QS.54:10-17), sedang “bahtera” yang dibuat Masih Mau’ud a.s.   atas perintah  Allah Swt. di Akhir Zaman ini adalah sebuah “organisasi ruhani”, guna membedakan dari  berbagai organisasi  agama lainnya yang ada di Akhir Zaman ini:
وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ
Buatlah bahtera dengan pengawasan petunjuk wahyu Kami. Barangsiapa yang baiat kepada engkau, sesungguhnya mereka baiat kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka.”
    Sehubungan dengan pembuatan “bahtera”  yang dibuat oleh Nabi Nuh a.s. tersebut Allah Swt. berfirman:
کَذَّبَتۡ قَبۡلَہُمۡ  قَوۡمُ نُوۡحٍ  فَکَذَّبُوۡا عَبۡدَنَا وَ  قَالُوۡا  مَجۡنُوۡنٌ  وَّ ازۡدُجِرَ ﴿﴾  فَدَعَا رَبَّہٗۤ  اَنِّیۡ  مَغۡلُوۡبٌ  فَانۡتَصِرۡ ﴿﴾  فَفَتَحۡنَاۤ  اَبۡوَابَ السَّمَآءِ  بِمَآءٍ  مُّنۡہَمِرٍ ﴿۫ۖ﴾  وَّ فَجَّرۡنَا الۡاَرۡضَ عُیُوۡنًا فَالۡتَقَی الۡمَآءُ عَلٰۤی  اَمۡرٍ  قَدۡ  قُدِرَ ﴿ۚ﴾  وَ  حَمَلۡنٰہُ  عَلٰی ذَاتِ اَلۡوَاحٍ  وَّ دُسُرٍ ﴿ۙ﴾  تَجۡرِیۡ  بِاَعۡیُنِنَا ۚ جَزَآءً  لِّمَنۡ کَانَ کُفِرَ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ  تَّرَکۡنٰہَاۤ  اٰیَۃً  فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ ﴿﴾  فَکَیۡفَ کَانَ عَذَابِیۡ  وَ  نُذُرِ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ یَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ  لِلذِّکۡرِ  فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ ﴿﴾
Sebelum mereka pun kaum Nuh  telah  mendustakan,  lalu mereka mendustakan hamba Kami dan mereka berkata: “Ia  orang gila dan terusir.” فَدَعَا رَبَّہٗۤ  اَنِّیۡ  مَغۡلُوۡبٌ  فَانۡتَصِرۡ  -- Maka ia berdoa kepada Rabb-nya (Tuhan-nya): “Sesungguhnya aku dikalahkan maka  tolonglah aku.” فَفَتَحۡنَاۤ  اَبۡوَابَ السَّمَآءِ  بِمَآءٍ  مُّنۡہَمِرٍ -- Maka Kami membukakan pintu-pintu awan dengan air yang tercurah deras. وَّ فَجَّرۡنَا الۡاَرۡضَ عُیُوۡنًا فَالۡتَقَی الۡمَآءُ عَلٰۤی  اَمۡرٍ  قَدۡ  قُدِرَ -- Dan Kami memancarkan  sumber-sumber air di bumi lalu kedua air itu  bertemu untuk suatu perintah yang telah ditentukan.  وَ  حَمَلۡنٰہُ  عَلٰی ذَاتِ اَلۡوَاحٍ  وَّ دُسُرٍ -- Dan  Kami mengangkut dia di atas sesuatu yang terbuat dari papan dan paku,  تَجۡرِیۡ  بِاَعۡیُنِنَا ۚ جَزَآءً  لِّمَنۡ کَانَ کُفِرَ  -- yang berlayar di bawah  pengawasan Kami sebagai ganjaran bagi orang yang senantiasa diingkari. وَ لَقَدۡ  تَّرَکۡنٰہَاۤ  اٰیَۃً  فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ --  Dan  sungguh  Kami benar-benar telah meninggalkan peristiwa itu sebagai Tanda, maka apakah ada yang mengambil peringatan?  فَکَیۡفَ کَانَ عَذَابِیۡ  وَ  نُذُرِ --  Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku!  وَ لَقَدۡ یَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ  لِلذِّکۡرِ     --  Dan sesungguhnya Kami telah mempermudah Al-Quran untuk diingat, فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِر --  maka apakah ada orang yang mengambil peringatan? (Al-Qamar [54]:10-18).

Pentingnya  Berpakaian “Takwa yang Sempurna

       Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut sesuai   dengan firman Allah Swt.: وَ  اِذَا  وَقَعَ  الۡقَوۡلُ عَلَیۡہِمۡ   -- Dan apabila keputusan-Ku telah jatuh  atas mereka, اَخۡرَجۡنَا لَہُمۡ  دَآبَّۃً  مِّنَ الۡاَرۡضِ تُکَلِّمُہُمۡ --  Kami akan mengeluarkan bagi mereka binatang  dari bumi yang akan melukai mereka, اَنَّ النَّاسَ  کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا  لَا  یُوۡقِنُوۡنَ -- sesungguhnya manusia tidak yakin atas Tanda-tanda Kami  (An-Naml [27]:83).
        Kata-kata, waqa’a al-qaulu ‘alaihim   dalam ayat: وَ  اِذَا  وَقَعَ  الۡقَوۡلُ عَلَیۡہِمۡ   -- Dan apabila keputusan-Ku telah jatuh  atas mereka, اَخۡرَجۡنَا لَہُمۡ  دَآبَّۃً  مِّنَ الۡاَرۡضِ تُکَلِّمُہُمۡ --  Kami akan mengeluarkan bagi mereka binatang  dari bumi yang akan melukai mereka, اَنَّ النَّاسَ  کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا  لَا  یُوۡقِنُوۡنَ -- sesungguhnya manusia tidak yakin atas Tanda-tanda Kami berarti:  kalimat atau keputusan itu jadi pantas terhadap mereka atau telah terjadi; mereka membuat diri mereka layak menerima keputusan atau ketetapan Tuhan (Aqrab-al-Mawarid).
        Firman Allah Swt. dalam ayat tersebut merupakan   nubuatan berkenaan dengan timbulnya wabah penyakit berbahaya di Akhir Zaman, sebagaimana salah satu dari sekian banyak bukti kebenaran pendakwaan Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-5).  Ayat tersebut  diterangkan demikian oleh  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri.
        Ada pun yang dimaksud dengan dabbah ialah bakteri dari pes  (tha’un) yang akan zahir pada Akhir Zaman. Bakteri itu akan menyerang tubuh  dan orang itu akan mati.  Berdasarkan hadits  Nabi Besar Muhammad saw.   yang menerangkan mengenai Akhir Zaman, bahwa akan timbul dabbatul ardh, yakni binatang-binatang bumi, (Ibnu Katsir dan Fathul Bayan hlm. 231, Surah An-Naml).
        Di dalam hadits Muslim ada dijelaskan bahwa akan timbul suatu penyakit naghaf yakni penyakit yang ada pada  unta di  Akhir Zaman. Kalau kedua hadits —kita cocokkan maka kita akan mendapat suatu kabar gaib (nubuatan) bahwa di Akhir Zaman penyakit pes (tha’un)   akan menyebar di seluruh dunia.  Penyebab penyakit pes  disebabkan oleh bakteri yang tersembunyi.
      Dalam tulisannya tersebut Masih Mau’ud a.s. --  dalam rangka terbuktinya mukjizat beliau tersebut -- sangat menekankan masalah ketakwaan kepada para pengikut beliau, dan  agar tidak menjadi “batu sandungan” bagi pihak lain mereka sebaiknya  mengikuti anjuran pemerintah untuk disuntik vaksin.

Pakaian Takwa” Penutup “Aurat” Jama’ah Nabi Adam a.s.  

  Jadi, kembali kepada  firman Allah Swt. mengenai  masalah “pakaian   penutup aurat” yakni auraq (waraq - QS.7:23; QS.20:122) --  yakni pakaian takwa  -- sebagaimana dikemukakan dalam lanjutan  kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis” (QS.7:12-28),   dengan  “pakaian  takwa” itulah Nabi Adam a.s dan  “istrinya” (jamaahnya)  menutupi “aurat” – yakni kelemahan jamaah beliau  --  yang “terbuka”  berupa timbulnya perselisihan dan pertentangan di kalangan anggota jama’ah beliau  di  dalam “kebun”, firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  قَدۡ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ  لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  لَعَلَّہُمۡ  یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ  اَبَوَیۡکُمۡ  مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ  لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam,  sungguh  Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan sebagai  perhiasan, وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی -- dan pakaian takwa  itulah yang terbaik, yang demikian itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah, supaya  mereka mendapat nasihat.  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ  اَبَوَیۡکُمۡ  مِّنَ الۡجَنَّۃِ  --  Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali membiarkan syaitan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang-tua kamu dari kebun,  یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا -- ia menanggalkan pakaian keduanya itu untuk  menampakkan kepada keduanya  aurat mereka, اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ   -- sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihat kamu dari tempat yang kamu tidak dapat melihat merekaاِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ  لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ --   Sesungguhnya  Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu  sahabat-sahabat bagi orang-orang yang tidak beriman   (Al-A’rāf [7]:28). 
   Dikarenakan situasi di wilayah tempat tinggal Nabi Adam a.s. dan para pengikut beliau  -- yang  karena kesuburannya disebut “jannah” (kebun) atau “Taman Eden”  -- akibat “tipu-daya syaitan” sudah tidak lagi kondusif bagi  beliau dan jemaat beliau, maka Allah Swt. memerintahkan Nabi Adam a.s. untuk sementara waktu untuk keluar atau hijrah dari jannah, itulah makna kata perintah ihbithu (pergilah kalian – QS.2:39; QS.7:25; QS.20:134), firman-Nya:
قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی ﴿﴾
Dia berfirman: اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا --  “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ --  sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی -- Maka apabila datang kepada kamu petunjuk dari­-Ku, فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی -- lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.” (Thā Hā [20]:124).

Bukan “Pengusiran dari Surga” Melainkan  Perintah  Melakukan  “Hijrah” dari Wilayah Subur yang Disebut “Jannah

 Perkataan "kamu berdua" maksudnya ialah dua golongan manusia, yaitu para pengikut Nabi Adam a.s. dan murid-murid syaitan. Kata kum (kamu) dan jami’ (semua) juga menunjukkan bahwa saat itu tidak ditujukan kepada dua orang melainkan kepada dua golongan manusia atau dua partai.  Hal itu jelas pula dari QS.7:25, di tempat itu telah dipakai kata jamak ihbithā  (pergilah kamu semua) dan bukan ihbitha (pergilah kamu berdua).
   Ringkasnya, Nabi Adam a.s. berhijrah dari Irak   --  yakni Mesopotamia   --tanah air beliau,  ke suatu negeri tetangga. Rupanya hijrah itu hanya untuk sementara waktu saja  dan besar kemungkinan tidak lama kemudian beliau kembali ke tanah air beliau. Kata-kata “dan bekal hidup sampai suatu masa tertentu” (QS.7:25) mengandung isyarat bahwa hijrah itu dimaksudkan hanya untuk sementara waktu, firman-Nya: 
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ  لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ  وَّ مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ ﴿﴾  قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ ﴿٪﴾
Keduanya berkata:   ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami,  dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi.”  قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ  لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  -- Dia berfirman:  Pergilah kamu semua  dari sini,  sebagian kamu adalah musuh bagi sebagian lain,  وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ  وَّ مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ     -- dan bagi kamu di bumi ini terdapat tempat tinggal  dan bekal hidup sampai masa tertentu.” قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ --  Dia berfirman:  Di dalamnya  kamu  akan hidup dan di dalamnya  kamu akan mati, dan darinya kamu akan dikeluarkan.” (Al-A’rāf [7]:24-26).
  Jadi, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya maksud ayat: قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ  لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  --  Dia berfirman:  Pergilah kamu semua  dari sini,  sebagian kamu adalah musuh bagi sebagian lain,  وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ       -- dan bagi kamu di bumi ini terdapat tempat tinggal وَّ مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ  --  dan bekal hidup sampai masa tertentu,” telah keliru ditafsirkan  sebagai pengusiran Nabi Adam a.s. dan istrinya  dari “surga” ke dunia,  padahal maksud ayat tersebut mengisyaratkan kepada perintah Allah Swt. kepada beliau dan para pengikutnya untuk  hijrah   dari tanah tumpah darah beliau  yaitu wilayah Mesopotamia   -- yang karena sangat subur telah disebut “jannah” atau “taman Eden”   --  ke negeri yang berdekatan.
   Ada pun alasan utama  perintah melakukan hijrah tersebut – sebagaimana tekah dikemukakan --  karena keadaan dalam “jannah”  tidak kondusif lagi bagi Nabi Adam a.s. dan kaumnya karena  akibat “tipu-daya” manusia-manusia syaitan,   di wilayah tersebut telah timbul ketidak-harmonisan hidup sebagaimana dikemukakan dalam ayat:   قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ  لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  --  Dia berfirman:  Pergilah kamu semua  dari sini,  sebagian kamu adalah musuh bagi sebagian lain”. 

Orang-orang  yang Diusir Dari “Surga Keridhaan” Allah Swt. di Dunia & Bileam bin Beor

  Hijrah yang dilakukan Nabi Adam a.s. dan para pengikutnya tersebut  bersifat sementara dan beliau agaknya telah kembali lagi ke negeri tempat asal, tidak lama sesudah itu, sebagaimana diisyaratkan secara halus  dalam ayat: مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ    --  “bekal hidup sampai suatu masa tertentu. Dalam ayat tersebut Nabi  Adam a.s.  diperingatkan   agar berhati-hati di masa depan, sebab  di tanah air sendirilah beliau harus tinggal untuk selama-lamanya.
   Jadi penggunaan kata ihbithu   tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan “pengusiran” Adam a.s. dan “istrinya” dari surga, sebagaimana  umumnya telah keliru difaham,  karena orang-orang yang telah berada dalam surga tidak bisa dikeluarkan atau keluar lagi dari dalam surga yang hakiki, tapi  mereka bisa terlepas dari “suasana surgawi” yang sebelumnya mereka nikmati, sebagaimana yang  terjadi dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis”  atau seperti   yang terjadi pada diri Bal’am bin Baura atau Bileam bin Beor  karena berlaku takabbur terhadap Nabi Musa a.s., sebagaimana   firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesatوَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ --   Dan seandainya  Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi  dan mengikuti hawa nafsunya,  فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ  -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ  -- dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   li-dahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ   --  Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami,  فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ -- maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا   --  Sangat buruk misal  orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ  --  dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [176-178).
  Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt.   memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang nabi Allah tapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).
    Ayat 177   telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s.   dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran di setiap zaman pengutusan Rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS,7:35-37), termasuk di Akhir Zaman ini.
Makna ayat  وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ  -- “akan tetapi ia cenderung ke bumi, dan mengikuti hawa nafsunya” maksudnya hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan akan uang. Selanjutnya berfirman: فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ  -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya”.
  Yalhats   -- dari lahatsa   -- yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya  adalah  baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 29  Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar