Minggu, 10 Juli 2016

Makna "Sidratul-Muntaha" & Dua "Kalimah Syahadat" Dalam "Rukun Islam" Menangkal "Penyembahan" Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


MAKNA “SIDRATUL-MUNTAHA” & DUA “KALIMAH SYAHADAT” DALAM RUKUN ISLAM  MENANGKAL PENYEMBAHAN TERHADAP NABI BESAR MUHAMMAD SAW.


Bab 82

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan pembahasan    surah An-Najm ayat 1-19 mengenai   ayat: ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”  
        Dalla al-dalwa berarti:  ia menurunkan ember ke dalam perigi;  ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi, Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-ul-‘Arab).
         Ayat tersebut  berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    mendekati Allah Swt. dan Allah Swt.  mendekat  kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt.  dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia.
   Qāb berarti: (1) bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan; (2) dari satu ujung busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab berkata  bainahumā  qāba qausaini, yakni di antara mereka berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab.
  Peribahasa Arab yang mengatakan  ramaunā  ‘an qausin wāhidin, yakni  “mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu  bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab dan Zamakhsyari).
  Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj  dan menghampiri Allah Swt. sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan  Nabi Besar Muhammad saw.  . seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur: فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”    
   Itulah sebabnya mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.  dalam Bible digambarkan sebagai “kedatangan Tuhan” sendiri (Matius 23:37-39), yang secara sengaja telah disalah-tafsirkan tertuju kepada Yesus.

Ikatan “Persahabatan” di Kalangan Bangsa Arab & Mikraj Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

Peribahasa tersebut  mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
 Bila kata tadalla dianggap mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.     naik secara ruhani menuju Allah Swt.  dan Allah Swt. turun kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
 Ungkapan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak  Nabi Besar Muhammad saw.     menjadi sama sekali  fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Sendiri, maka di pihak lain beliau turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka (QS.9:128), sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan.
  Kata-kata “atau lebih dekat lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan antara  Nabi Besar Muhammad saw.  dengan Allah Swt, menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran: فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”                
   Ayat-ayat 8 sampai 18 surah An-Najm menggambarkan mikraj Nabi Besar Muhammad saw.       ketika beliau saw. secara ruhani dibawa ke langit  Ketuhanan dan dianugerahi pemandangan  suatu penjelmaan   ruhani Allah Swt. , dan secara ruhani beliau naik sampai dekat sekali kepada Khāliq-nya.
 Pada hakikatnya, mikraj merupakan dua pengalaman ruhani yaitu  kenaikan ruhani  Nabi Besar Muhammad saw.  dan turunnya tajalli (penampakan kebesaran) Allah Swt. kepada beliau saw.   – yang Nabi Musa a.s. tidak sanggup untuk menyaksikan tajalli Ilahi  yang paling sempurna tersebut  sehingga beliau pingsan (QS.7:143).
  Mā  dalam ayat selanjutnya:  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    --  “lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan”,  kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, ketakjuban,  atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-ul-Mawarid). Ayat ini mengandung arti bahwa “Allah Swt. menurunkan wahyu Al-Quran kepada hamba-Nya, dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!”

Penjelmaan  Ilahi Paling Sempurna & Makna “Sidratul-Muntaha

  Kemudian makna ayat selanjutnya:  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی    --   “Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat” bahwa.  Pada hakikatnya  ialah apa yang telah dilihat oleh  Nabi Besar Muhammad saw.    adalah pengalaman hakiki,  dan pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw..
 Bahkan kasyaf (pengalaman ruhani)  Nabi Besar Muhammad saw.      itu suatu pengalaman ruhani berganda: وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  --   Dan  sungguhnya  dia benar-benar melihat-Nya kedua kali.” Lebih jauh Allah Swt. menjelaskan:  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی   -- dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  -- yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal. اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  --  Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungiمَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی --  penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی  -- Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya.”
  Pada waktu mikraj, Nabi Besar Muhammad saw.      telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau saw. samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi,  hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi.
Sadir yang diambil dari akar kata yang sama dari kata  Sidratul-Muntaha berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan Allah Swt. kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  – dalam wujud wahyu Al-Quran  --  akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani (para salik) yang merasa kakinya letih dan payah.
  Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat ini dapat berarti  bahwa ajaran Al-Quran yang diwahyukan Allah Swt. kepada  Nabi Besar Muhammad saw.       tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan karena mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10),  melainkan juga sangat baik  guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan akidah mengenai Tauhid Ilahi, akhlak dan ruhani.     
Kata-kata “yang menutupi” dalam ayat: اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  --  “Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi”,   maknanya ialah penjelmaan Ilahi (Tajalli Ilahi) paling sempurna yang  diperagakan Allah Swt. kepada  Nabi Besar Muhammad saw. karena dalam pribadi beliau saw. terhimpun keistimewaan-keistimewaan para rasul Allah sebelumnya, bahkan dalam kuantitas dan kualitasnya yang paling sempurna (QS.33:22), itulah sebabnya Allah Swt. telah menganugerahi Nabi Besar Muhammad  saw.   gelar “Khātaman Nabiyyīn”, firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah  وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ -- dan meterai sekalian nabi,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu  (Al-Ahzāb [33]:41).

Dua Kalimah Syahadat Menangkal Penyembahan Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw.

      Kenyataan itulah yang diabadikan Allah Swt. dalam bentuk Dua Kalimah Syahadat, sehingga  sampai Hari Kiamat pun tidak akan ada umat Islam yang akan “mempertuhankan” Nabi Besar Muhammad saw., sebab  Allah Swt. telah menetapkan kedudukan beliau saw. sebagai Rasul Allah dan sebagai hamba-Nya dalam dua Kalimah Syahadat yang merupakan Rukun Islam yang pertama: 
 Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allahdan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.
    Hanya agama Islam yang memiliki Dua Kalimah Syahadat sedangkan agama-agama yang diwahyukan Allah Swt. sebelum pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  tidak memiliki Kalimah Syahadat sebab keadaan agama-agama tersebut belum mencapai kesempurnaan, sehingga  misinya bersifat sementara dan hanya untuk kaum tertentu saja, contohnya Taurat dan Injil  hanya untuk kalangan Bani Israil saja (QS.61:6-7).
     Oleh karena itu jika di kalangan  umat beragama sebelum Islam (Al-Quran) kemundian muncul kemusyrikan  berupa  penyembahan terhadap para rasul Allah dan penyembahan terhadap berbagai hal, karena Allah Swt. tidak lagi memelihara agama-agama yang misinya  bersifat sementara  dan hanya untuk kaum-kaum tertentu tersebut, sebagaimana janji pemeliharaan-Nya terhadap agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya   (Al-Hijr [15]:10).
   Menurut Allah Swt.,  pada hakikatnya akibat  tipu-daya syaitan  yang muncul dari kalangan manusia itulah munculnya berbagai bentuk kemusyrikan di kalangan umat beragama yang sebelumnya  mempercayai Tauhid Ilahi  yang diajarkan oleh  para  rasul Allah  pembawa  agama-agama tersebut (QS.30:31-33), firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّعۡشُ عَنۡ ذِکۡرِ الرَّحۡمٰنِ نُقَیِّضۡ لَہٗ  شَیۡطٰنًا  فَہُوَ  لَہٗ  قَرِیۡنٌ ﴿﴾  وَ اِنَّہُمۡ  لَیَصُدُّوۡنَہُمۡ عَنِ السَّبِیۡلِ وَ یَحۡسَبُوۡنَ  اَنَّہُمۡ  مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَنَا قَالَ یٰلَیۡتَ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکَ بُعۡدَ الۡمَشۡرِقَیۡنِ فَبِئۡسَ الۡقَرِیۡنُ ﴿﴾  وَ لَنۡ یَّنۡفَعَکُمُ الۡیَوۡمَ اِذۡ  ظَّلَمۡتُمۡ  اَنَّکُمۡ   فِی الۡعَذَابِ  مُشۡتَرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pemurah, نُقَیِّضۡ لَہٗ  شَیۡطٰنًا  فَہُوَ  لَہٗ  قَرِیۡنٌ  --  Kami menetapkan baginya syaitan maka  ia  menjadi teman baginya. وَ اِنَّہُمۡ  لَیَصُدُّوۡنَہُمۡ عَنِ السَّبِیۡلِ  --   Dan sesungguhnya mereka  syaitan-syaitan, niscaya menghalang-halangi  mereka dari jalan lurus,  وَ یَحۡسَبُوۡنَ  اَنَّہُمۡ  مُّہۡتَدُوۡنَ --  dan mereka menyangka bahwasanya mereka mendapat petunjuk. حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَنَا  -- Hingga apabila orang itu datang kepada Kami  قَالَ یٰلَیۡتَ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکَ بُعۡدَ الۡمَشۡرِقَیۡنِ     -- ia berkata:  "Alangkah baiknya jika di antara aku dan engkau ada jarak sejauh timur dan barat!" فَبِئۡسَ الۡقَرِیۡنُ  --   Maka  ia, syaitan, seburuk-buruk teman. وَ لَنۡ یَّنۡفَعَکُمُ الۡیَوۡمَ اِذۡ  ظَّلَمۡتُمۡ  اَنَّکُمۡ   فِی الۡعَذَابِ  مُشۡتَرِکُوۡنَ --  Dan pada hari itu tidak akan pernah  bermanfaat bagi kamu ketika kamu berbuat zalim, sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu." (Az-Zukhruf [43]:37-40).

Syaitan dari Kalangan Manusia

 Makna ayat   حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَنَا       -- Hingga apabila orang itu datang kepada Kami  قَالَ یٰلَیۡتَ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکَ بُعۡدَ الۡمَشۡرِقَیۡنِ فَبِئۡسَ الۡقَرِیۡنُ  --  ia berkata:  "Alangkah baiknya jika di antara aku dan engkau ada jarak sejauh timur dan barat!"   Jika seseorang dihadapkan kepada akibat-akibat buruk perbuatan-perbuatan buruknya, ia berusaha menghindari dan menjauhi sahabat-sahabat lamanya, ia seolah-olah tidak pernah mengenal mereka (QS.7:39-40; QS.14:22-23; QS.25:26-32; QS.28:64-67;  QS.33:67-69; QS.34:32-36; QS.40:48-51).
 Sehubungan dengan kenyataan tersebut Allah Swt. telah memberikan  peringatan kepada Bani Adam, firman-Nya:  
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ  اَبَوَیۡکُمۡ  مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ  لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali membiarkan syaitan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang-tua kamu dari kebun,  یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا -- ia menanggalkan pakaian keduanya itu untuk  menampakkan kepada keduanya  aurat mereka, اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ   -- sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihat kamu dari tempat yang kamu tidak dapat melihat merekaاِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ  لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ --   Sesungguhnya  Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu  sahabat-sahabat bagi orang-orang yang tidak beriman   (Al-A’rāf [7]:28). 
      Makhluk yang dikemukakan oleh Al-Quran telah menolak sujud  kepada Adam a.s. disebut iblis, sedang makhluk yang menggodanya disebut syaitan (QS.7:12-16). Perbedaan ini tidak hanya nampak dalam ayat yang sedang ditafsirkan,  tetapi juga dalam semua ayat yang berhubungan dengan masalah itu dalam seluruh Al-Quran. Ini menunjukkan bahwa sejauh hal yang menyangkut kisah ini syaitan dan iblis adalah dua pribadi yang berlainan.  Lihat perbedaan permohonan perlindungan kepada Allah Swt. dalam surah Al-Falaq  dan surah An-Nās.

“Pohon Terlarang”   Dalam  “Jannah

        Pada hakikatnya  kata syaitan tidak hanya digunakan terhadap ruh-ruh jahat saja, tetapi juga terhadap manusia yang disebabkan oleh watak jahat dan amal-amal buruk mereka seolah-olah menjadi penjelmaan syaitan.   Dan syaitan yang menipu Adam a.s.  dan menyebabkan beliau tergelincir itu bukan ruh jahat yang tidak nampak, melainkan manusia yang berdaging dan berdarah, bersifat  jahat, yaitu syaitan dari kalangan manusia, penjelmaan syaitan dan tangan-tangan iblis (QS.6:112-114; QS.22:53-54).
     Ia termasuk anggota keluarga yang mengenainya Adam a.s. telah diperintahkan Allah Swt. supaya menghindar darinya.  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa nama orang itu Harits (Tirmidzi, bab tafsir), hal itu merupakan satu bukti lagi bahwa syaitan yang menipu Adam dan istrinya (jama’ahnya)  adalah seorang manusia dan bukan ruh jahat.
   Demikian pula halnya dengan “pohon terlarang” dalam “jannah” yang diperingatkan Allah Swt. kepada Adam dan “istrinya” adalah suatu kaum (bangsa) yang karena berulang kali melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para Rasul Allah (QS.QS.2:88:90) maka Allah Swt. menyebut mereka sebagai “syajarah mal’unah” (pohon terkutuk)  -- khususnya dikutuk oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-91)  -- firman-Nya:
  وَ اِذۡ قُلۡنَا  لَکَ  اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا الَّتِیۡۤ  اَرَیۡنٰکَ اِلَّا فِتۡنَۃً  لِّلنَّاسِ وَ الشَّجَرَۃَ  الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ  اِلَّا  طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada engkau: “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung orang-orang ini dengan kebinasaan. Dan tidaklah Kami menjadikan rukya  yang telah Kami perlihatkan kepada engkau melainkan sebagai fitnah (ujian)  bagi manusia, وَ الشَّجَرَۃَ  الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ  -- dan juga pohon terkutuk  dalam Al-Quran. وَ نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ  اِلَّا  طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا  -- Dan Kami menakut-nakuti mereka tetapi itu tidak menambah kepada mereka kecuali kedurhakaan amat besar  (Bani Israil [17]:61).

Pohon Terkutuk” dari Kalangan Manusia

         Isyarat dalam ayat tersebut  tertuju kepada kasyaf yang disebut dalam ayat kedua dalam Surah ini. Dalam kasyaf itu Nabi Besar Muhammad saw.  melihat diri beliau mengimami semua nabi Allah lainnya dalam shalat yang dilakukan di Baitul-Muqadas di Yerusalem, yang merupakan kiblat orang-orang Yahudi.
       Kasyaf itu mengandung arti bahwa pada suatu ketika di masa yang akan datang, para pengikut nabi-nabi tersebut akan masuk ke haribaan Islam. Inilah yang dimaksud oleh kata-kata  اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ  -- “sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung dengan menakdirkan kebinasaan umat ini”. Penyebaran Islam secara meluas akan datang sesudah terjadi bencana-bencana yang akan melanda seluruh dunia seperti telah disinggung dalam QS.17:59.
     Agaknya “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi yang telah berulang kali disebut dalam Al-Quran dikutuk oleh Allah Swt.    (QS.2:88-89; QS.5:14, 61, 65, 79). Kutukan Allah Swt. telah mengejar-ngejar kaum yang malang ini semenjak Nabi Daud a.s.  sampai zaman kita ini. Penafsiran mengenai ungkapan ini ditunjang oleh kenyataan bahwa Surah ini secara istimewa membahas hal ihwal kaum Bani Israil, seperti diisyaratkan oleh nama Surah ini sendiri, yaitu Bani Israil.
       Kenyataan bahwa ayat ini mulai dengan menyebut kasyaf Nabi Besar Muhammad saw.,  dan di dalam kasyaf itu beliau lihat diri beliau saw. mengimami nabi-nabi Bani Israil dalam shalat di Yerusalem — pusat agama Yahudi — memberi dukungan lebih lanjut kepada anggapan, bahwa yang dimaksud oleh “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi.
       Kata   syajarah mengandung pula arti suku bangsa. Ayat ini membahas kasyaf itu, dan juga membahas kaum Yahudi (pohon terkutuk) yang oleh kasyaf ini disinggung secara khusus sebagai “cobaan bagi manusia.” Orang-orang Yahudi pada tiap kurun zaman telah menjadi sumber kesengsaraan dan penderitaan bagi umat manusia, terutama bagi umat Islam.
     Jadi, mengisyaratkan  kepada peringatan Allah Swt. kepada “Adam dan istrinya”   untuk menjauhi “pohon terlarang” itu pulalah firman Allah  Swt. berikut ini kepada umat Islam:
لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman, dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubung-annya dengan Allah sedikit pun, اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً  -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya.  وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ  -- Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya,  --  dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali ‘Imran [3]:29). Lihat pula QS.3:119; QS.4:140-141.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 5 Juli   2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar