Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
MAKNA “SIDRATUL-MUNTAHA”
& DUA “KALIMAH SYAHADAT” DALAM RUKUN ISLAM MENANGKAL PENYEMBAHAN
TERHADAP NABI BESAR MUHAMMAD SAW.”
Bab 82
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya
telah dikemukakan pembahasan surah An-Najm
ayat 1-19 mengenai ayat: ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah,
mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”
Dalla al-dalwa berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi; ia menarik ember ke atas atau keluar dari
perigi, Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia
menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-ul-‘Arab).
Ayat tersebut berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mendekati
Allah Swt. dan Allah Swt. mendekat kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga
berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya
kepada Allah Swt. dan setelah
minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata
air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau saw. turun
kembali dan memberikan ilmu kepada
segenap umat manusia.
Qāb berarti: (1) bagian busur antara
bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan; (2) dari satu
ujung busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab
berkata bainahumā qāba qausaini, yakni di antara mereka
berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka
sangat akrab.
Peribahasa Arab yang mengatakan ramaunā
‘an qausin wāhidin, yakni
“mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh
karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab dan Zamakhsyari).
Apa pun kandungan arti
kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa Nabi Besar Muhammad saw. terus menaiki jenjang-jenjang
ketinggian mikraj dan menghampiri Allah Swt. sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan Nabi Besar Muhammad saw. . seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur: فَکَانَ قَابَ
قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali dari
dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”
Itulah sebabnya mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. dalam Bible
digambarkan sebagai “kedatangan Tuhan”
sendiri (Matius 23:37-39), yang secara sengaja telah disalah-tafsirkan tertuju kepada Yesus.
Ikatan “Persahabatan” di Kalangan Bangsa Arab & Mikraj Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.
Peribahasa tersebut mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan
orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh
kuat mereka biasa menyatu-padukan
busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu
dan kemudian mereka melepaskan anak panah
dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan
telah menjadi satu wujud, dan bahwa
suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang
lainnya juga.
Bila kata tadalla dianggap
mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. naik secara ruhani menuju Allah Swt. dan Allah Swt. turun kepada beliau saw.,
sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
Ungkapan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan
halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi Besar Muhammad saw. menjadi sama sekali fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Sendiri, maka di pihak
lain beliau turun kembali kepada umat
manusia dan menjadi begitu penuh
cinta dan dengan rasa kasih serta
merasa prihatin akan mereka
(QS.9:128), sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan
menjadi terpadu dalam diri beliau
saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat
tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan.
Kata-kata “atau lebih
dekat lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan
antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt, menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran: فَکَانَ قَابَ
قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali dari
dua buah busur, atau lebih dekat lagi.”
Ayat-ayat 8 sampai 18 surah
An-Najm menggambarkan mikraj Nabi
Besar Muhammad saw. ketika
beliau saw. secara ruhani dibawa ke langit Ketuhanan
dan dianugerahi pemandangan suatu penjelmaan
ruhani Allah Swt. , dan secara ruhani beliau naik sampai dekat sekali
kepada Khāliq-nya.
Pada hakikatnya, mikraj
merupakan dua pengalaman ruhani yaitu
kenaikan
ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dan turunnya tajalli (penampakan
kebesaran) Allah Swt. kepada beliau saw.
– yang Nabi Musa a.s. tidak sanggup untuk menyaksikan tajalli Ilahi yang paling sempurna tersebut sehingga beliau pingsan (QS.7:143).
Mā dalam ayat selanjutnya: فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی -- “lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan”, kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, ketakjuban, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-ul-Mawarid).
Ayat ini mengandung arti bahwa “Allah Swt. menurunkan
wahyu Al-Quran kepada hamba-Nya,
dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!”
Penjelmaan Ilahi Paling Sempurna & Makna “Sidratul-Muntaha”
Kemudian makna ayat selanjutnya: مَا کَذَبَ
الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی -- “Hati
Rasulullah sekali-kali tidak
berdusta apa yang dia lihat” bahwa. Pada hakikatnya ialah apa yang telah dilihat oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah
pengalaman hakiki, dan pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan
khayal beliau saw..
Bahkan kasyaf (pengalaman ruhani)
Nabi Besar Muhammad saw. itu suatu pengalaman ruhani berganda: وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی -- Dan
sungguhnya dia benar-benar melihat-Nya kedua kali.” Lebih jauh Allah Swt.
menjelaskan: عِنۡدَ
سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- dekat pohon
Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی -- yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal. اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی -- penglihatannya
sekali-kali tidak menyimpang dan tidak
pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ
الۡکُبۡرٰی --
Sungguh ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya.”
Pada waktu mikraj, Nabi Besar Muhammad
saw. telah
mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi,
sehingga sungguh berada di luar jangkauan
otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan
beliau saw. samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi, hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran
abadi.
Sadir yang diambil
dari akar kata yang sama dari kata Sidratul-Muntaha berarti bahwa makrifat
Ilahi yang dilimpahkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. – dalam wujud wahyu Al-Quran -- akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan
dan naungan kepada para musafir ruhani (para salik) yang merasa kakinya letih dan
payah.
Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan
mayat dari proses pembusukan,
ayat ini dapat berarti bahwa ajaran Al-Quran
yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan
karena mendapat jaminan pemeliharaan
Allah Swt. (QS.15:10), melainkan juga sangat baik guna menolong
dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan akidah mengenai Tauhid Ilahi,
akhlak dan ruhani.
Kata-kata “yang menutupi” dalam ayat: اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- “Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi”, maknanya
ialah penjelmaan Ilahi (Tajalli
Ilahi) paling sempurna yang diperagakan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. karena dalam pribadi beliau saw. terhimpun keistimewaan-keistimewaan para rasul
Allah sebelumnya, bahkan dalam kuantitas
dan kualitasnya yang paling sempurna
(QS.33:22), itulah sebabnya Allah Swt. telah menganugerahi Nabi Besar
Muhammad saw. gelar “Khātaman
Nabiyyīn”, firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ
مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ -- dan meterai sekalian nabi, dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Ahzāb
[33]:41).
Dua Kalimah Syahadat Menangkal Penyembahan Terhadap Nabi Besar Muhammad
Saw.
Kenyataan itulah yang diabadikan Allah Swt.
dalam bentuk Dua Kalimah Syahadat,
sehingga sampai Hari Kiamat pun tidak akan ada umat
Islam yang akan “mempertuhankan”
Nabi Besar Muhammad saw., sebab Allah
Swt. telah menetapkan kedudukan
beliau saw. sebagai Rasul Allah dan
sebagai hamba-Nya dalam dua Kalimah Syahadat yang merupakan Rukun Islam yang pertama:
“Saya
bersaksi bahwa tiada Tuhan yang
berhak disembah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan)
Allah.”
Hanya agama Islam yang memiliki Dua
Kalimah Syahadat sedangkan agama-agama yang diwahyukan Allah Swt. sebelum pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw. tidak memiliki Kalimah Syahadat sebab keadaan agama-agama
tersebut belum mencapai kesempurnaan,
sehingga misinya bersifat sementara
dan hanya untuk kaum tertentu saja,
contohnya Taurat dan Injil
hanya untuk kalangan Bani Israil saja
(QS.61:6-7).
Oleh karena itu jika di kalangan umat
beragama sebelum Islam (Al-Quran) kemundian muncul kemusyrikan berupa penyembahan
terhadap para rasul Allah dan penyembahan terhadap berbagai hal,
karena Allah Swt. tidak lagi memelihara
agama-agama yang misinya bersifat sementara dan hanya untuk kaum-kaum tertentu tersebut, sebagaimana janji pemeliharaan-Nya
terhadap agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ
وَ اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ
﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah
pemeliharanya (Al-Hijr
[15]:10).
Menurut Allah Swt., pada hakikatnya akibat tipu-daya syaitan yang
muncul dari kalangan manusia itulah
munculnya berbagai bentuk kemusyrikan
di kalangan umat beragama yang
sebelumnya mempercayai Tauhid Ilahi yang diajarkan
oleh para rasul
Allah pembawa agama-agama
tersebut (QS.30:31-33), firman-Nya:
وَ مَنۡ
یَّعۡشُ عَنۡ ذِکۡرِ الرَّحۡمٰنِ نُقَیِّضۡ لَہٗ
شَیۡطٰنًا فَہُوَ لَہٗ
قَرِیۡنٌ ﴿﴾ وَ اِنَّہُمۡ لَیَصُدُّوۡنَہُمۡ عَنِ السَّبِیۡلِ وَ
یَحۡسَبُوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی اِذَا
جَآءَنَا قَالَ یٰلَیۡتَ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکَ بُعۡدَ الۡمَشۡرِقَیۡنِ فَبِئۡسَ
الۡقَرِیۡنُ ﴿﴾ وَ لَنۡ یَّنۡفَعَکُمُ الۡیَوۡمَ اِذۡ ظَّلَمۡتُمۡ
اَنَّکُمۡ فِی الۡعَذَابِ مُشۡتَرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pemurah, نُقَیِّضۡ لَہٗ
شَیۡطٰنًا فَہُوَ لَہٗ
قَرِیۡنٌ -- Kami
menetapkan baginya syaitan
maka ia menjadi teman baginya. وَ اِنَّہُمۡ لَیَصُدُّوۡنَہُمۡ عَنِ السَّبِیۡلِ -- Dan sesungguhnya mereka syaitan-syaitan, niscaya menghalang-halangi
mereka dari jalan lurus,
وَ یَحۡسَبُوۡنَ اَنَّہُمۡ
مُّہۡتَدُوۡنَ -- dan mereka menyangka bahwasanya mereka
mendapat petunjuk. حَتّٰۤی اِذَا جَآءَنَا -- Hingga apabila orang itu datang kepada Kami قَالَ یٰلَیۡتَ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکَ
بُعۡدَ الۡمَشۡرِقَیۡنِ -- ia berkata: "Alangkah baiknya jika di
antara aku dan engkau ada jarak
sejauh timur dan barat!" فَبِئۡسَ الۡقَرِیۡنُ -- Maka ia, syaitan, seburuk-buruk teman. وَ لَنۡ یَّنۡفَعَکُمُ الۡیَوۡمَ اِذۡ
ظَّلَمۡتُمۡ اَنَّکُمۡ فِی الۡعَذَابِ مُشۡتَرِکُوۡنَ -- Dan pada hari itu tidak akan pernah
bermanfaat bagi kamu ketika kamu
berbuat zalim, sesungguhnya kamu
bersekutu dalam azab itu." (Az-Zukhruf [43]:37-40).
Syaitan dari Kalangan Manusia
Makna
ayat حَتّٰۤی اِذَا جَآءَنَا -- Hingga apabila orang itu datang kepada Kami قَالَ
یٰلَیۡتَ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکَ بُعۡدَ الۡمَشۡرِقَیۡنِ فَبِئۡسَ الۡقَرِیۡنُ -- ia berkata: "Alangkah baiknya jika di
antara aku dan engkau ada jarak sejauh timur dan barat!"
Jika seseorang dihadapkan kepada akibat-akibat buruk perbuatan-perbuatan
buruknya, ia berusaha menghindari dan
menjauhi sahabat-sahabat lamanya, ia
seolah-olah tidak pernah mengenal
mereka (QS.7:39-40; QS.14:22-23; QS.25:26-32; QS.28:64-67; QS.33:67-69; QS.34:32-36; QS.40:48-51).
Sehubungan dengan kenyataan tersebut Allah
Swt. telah memberikan peringatan kepada Bani Adam, firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ اَبَوَیۡکُمۡ
مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا
سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ
ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ
لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, janganlah
sekali-kali membiarkan syaitan
menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang-tua kamu dari kebun,
یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا
لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا -- ia menanggalkan
pakaian keduanya itu untuk menampakkan kepada keduanya aurat mereka, اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ
ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ -- sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihat
kamu dari tempat yang kamu tidak
dapat melihat mereka. اِنَّا جَعَلۡنَا
الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ لِلَّذِیۡنَ
لَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- Sesungguhnya Kami
telah menjadikan syaitan-syaitan itu
sahabat-sahabat bagi orang-orang yang tidak beriman (Al-A’rāf [7]:28).
Makhluk yang
dikemukakan oleh Al-Quran telah menolak
sujud
kepada Adam a.s. disebut iblis, sedang makhluk
yang menggodanya disebut syaitan
(QS.7:12-16). Perbedaan ini tidak hanya nampak dalam ayat yang sedang
ditafsirkan, tetapi juga dalam semua
ayat yang berhubungan dengan masalah itu dalam seluruh Al-Quran. Ini
menunjukkan bahwa sejauh hal yang menyangkut kisah ini syaitan dan iblis
adalah dua pribadi yang berlainan. Lihat perbedaan permohonan perlindungan kepada Allah Swt. dalam surah Al-Falaq
dan surah An-Nās.
“Pohon Terlarang” Dalam
“Jannah”
Pada hakikatnya kata syaitan tidak hanya digunakan
terhadap ruh-ruh jahat saja, tetapi
juga terhadap manusia yang disebabkan
oleh watak jahat dan amal-amal buruk mereka seolah-olah
menjadi penjelmaan syaitan. Dan syaitan
yang menipu Adam a.s. dan menyebabkan beliau tergelincir itu bukan ruh jahat yang tidak nampak, melainkan manusia yang berdaging dan berdarah,
bersifat jahat, yaitu syaitan dari kalangan manusia, penjelmaan syaitan dan tangan-tangan iblis
(QS.6:112-114; QS.22:53-54).
Ia termasuk anggota keluarga
yang mengenainya Adam a.s. telah diperintahkan Allah Swt. supaya
menghindar darinya. Nabi Besar Muhammad
saw. diriwayatkan pernah
bersabda bahwa nama orang itu Harits
(Tirmidzi, bab tafsir), hal itu merupakan satu bukti
lagi bahwa syaitan yang menipu Adam dan istrinya (jama’ahnya) adalah
seorang manusia dan bukan ruh jahat.
Demikian pula halnya dengan “pohon
terlarang” dalam “jannah” yang diperingatkan
Allah Swt. kepada Adam dan “istrinya”
adalah suatu kaum (bangsa) yang
karena berulang kali melakukan kedurhakaan
kepada Allah Swt. dan para Rasul Allah
(QS.QS.2:88:90) maka Allah Swt. menyebut mereka sebagai “syajarah mal’unah” (pohon terkutuk)
-- khususnya dikutuk oleh Nabi
Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-91) -- firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لَکَ
اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا
الَّتِیۡۤ اَرَیۡنٰکَ اِلَّا
فِتۡنَۃً لِّلنَّاسِ وَ الشَّجَرَۃَ الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ
نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ
اِلَّا طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Dan ingatlah ketika
Kami berfirman kepada engkau: “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung
orang-orang ini dengan kebinasaan.” Dan tidaklah Kami menjadikan rukya yang telah Kami perlihatkan kepada engkau melainkan sebagai fitnah (ujian) bagi manusia,
وَ
الشَّجَرَۃَ الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی
الۡقُرۡاٰنِ -- dan juga pohon terkutuk dalam Al-Quran.
وَ
نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ
اِلَّا طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا -- Dan Kami
menakut-nakuti mereka tetapi itu tidak
menambah kepada mereka kecuali kedurhakaan
amat besar (Bani Israil [17]:61).
“Pohon Terkutuk”
dari Kalangan Manusia
Isyarat dalam ayat tersebut tertuju kepada kasyaf yang disebut dalam ayat kedua dalam Surah ini. Dalam kasyaf itu Nabi Besar Muhammad saw. melihat diri beliau mengimami semua nabi Allah
lainnya dalam shalat yang dilakukan
di Baitul-Muqadas di Yerusalem, yang
merupakan kiblat orang-orang Yahudi.
Kasyaf
itu mengandung arti bahwa pada suatu ketika di masa yang akan datang, para
pengikut nabi-nabi tersebut akan masuk ke haribaan Islam. Inilah yang dimaksud
oleh kata-kata اِنَّ رَبَّکَ
اَحَاطَ بِالنَّاسِ -- “sesungguhnya
Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung dengan menakdirkan kebinasaan umat ini”. Penyebaran
Islam secara meluas akan datang sesudah terjadi bencana-bencana yang akan melanda seluruh dunia seperti telah
disinggung dalam QS.17:59.
Agaknya “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi yang telah berulang kali
disebut dalam Al-Quran dikutuk oleh
Allah Swt. (QS.2:88-89; QS.5:14, 61, 65, 79). Kutukan Allah Swt. telah mengejar-ngejar
kaum yang malang ini semenjak Nabi Daud a.s. sampai zaman kita ini. Penafsiran
mengenai ungkapan ini ditunjang oleh kenyataan bahwa Surah ini secara istimewa
membahas hal ihwal kaum Bani Israil, seperti diisyaratkan oleh nama Surah ini
sendiri, yaitu Bani Israil.
Kenyataan bahwa ayat ini mulai dengan
menyebut kasyaf Nabi Besar Muhammad
saw., dan di dalam kasyaf itu beliau lihat diri beliau saw. mengimami nabi-nabi Bani Israil dalam shalat di
Yerusalem — pusat agama Yahudi — memberi dukungan lebih lanjut kepada anggapan,
bahwa yang dimaksud oleh “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi.
Kata syajarah
mengandung pula arti suku bangsa.
Ayat ini membahas kasyaf itu, dan
juga membahas kaum Yahudi (pohon
terkutuk) yang oleh kasyaf ini
disinggung secara khusus sebagai “cobaan bagi manusia.” Orang-orang
Yahudi pada tiap kurun zaman telah menjadi sumber
kesengsaraan dan penderitaan bagi
umat manusia, terutama bagi umat Islam.
Jadi, mengisyaratkan kepada peringatan
Allah Swt. kepada “Adam dan istrinya” untuk menjauhi “pohon terlarang” itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini kepada umat Islam:
لَا
یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ
یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman,
dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubung-annya dengan Allah sedikit pun, اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ
تُقٰىۃً -- kecuali
bila kamu menjaga diri dari mereka dengan
suatu penjagaan yang sebaik-baiknya.
وَ
یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ -- Dan Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, -- dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali
‘Imran [3]:29). Lihat pula QS.3:119; QS.4:140-141.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 5 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar