Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
NUBUATAN
MEREBAKNYA WABAH THA’UN (PES) DI AKHIR
ZAMAN DALAM BUKU KISYTI NUH (BAHTERA NUH) KARYA MIRZA
GHULAM AHMAD A.S.
Bab 78
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai
nubuatan merebaknya
wabah pes (tha’un) di Akhir Zaman, sehubungan dengan
firman-Nya:. وَ اِذَا وَقَعَ
الۡقَوۡلُ عَلَیۡہِمۡ -- Dan apabila keputusan-Ku telah jatuh atas mereka, اَخۡرَجۡنَا لَہُمۡ دَآبَّۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ تُکَلِّمُہُمۡ -- Kami akan mengeluarkan
bagi mereka binatang dari bumi yang akan melukai mereka, اَنَّ
النَّاسَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا لَا
یُوۡقِنُوۡنَ -- sesungguhnya manusia tidak yakin atas Tanda-tanda Kami (An-Naml [27]:83).
Kata-kata,
waqa’a al-qaulu ‘alaihim dalam
ayat: وَ
اِذَا وَقَعَ الۡقَوۡلُ عَلَیۡہِمۡ -- Dan apabila keputusan-Ku telah jatuh atas mereka, اَخۡرَجۡنَا لَہُمۡ دَآبَّۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ تُکَلِّمُہُمۡ -- Kami akan mengeluarkan
bagi mereka binatang dari bumi yang akan melukai mereka, اَنَّ
النَّاسَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا لَا
یُوۡقِنُوۡنَ -- sesungguhnya manusia tidak yakin atas Tanda-tanda Kami” berarti: kalimat
atau keputusan itu jadi pantas terhadap mereka atau telah terjadi;
mereka membuat diri mereka layak menerima
keputusan atau ketetapan Tuhan (Aqrab-al-Mawarid).
Firman
Allah Swt. dalam ayat tersebut merupakan nubuatan berkenaan dengan timbulnya wabah penyakit berbahaya di Akhir
Zaman, sebagaimana salah satu dari sekian banyak bukti kebenaran pendakwaan Rasul
Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-5). Ayat tersebut diterangkan demikian oleh Nabi Besar Muhammad saw. sendiri.
Ada pun yang dimaksud dengan dabbah ialah bakteri dari pes (tha’un) yang akan zahir pada Akhir Zaman. Bakteri itu akan menyerang tubuh
dan orang itu akan mati. Berdasarkan hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang menerangkan mengenai Akhir Zaman, bahwa akan timbul dabbatul
ardh, yakni binatang-binatang bumi, (Ibnu
Katsir dan Fathul
Bayan hlm. 231, Surah An-Naml).
Di dalam hadits Muslim ada dijelaskan bahwa akan timbul suatu penyakit naghaf yakni
penyakit yang ada pada unta di Akhir
Zaman. Kalau kedua hadis —kita cocokkan maka kita akan mendapat suatu kabar gaib (nubuatan) bahwa di Akhir Zaman penyakit pes (tha’un) akan menyebar
di seluruh dunia. Penyebab penyakit pes disebabkan oleh bakteri yang tersembunyi.
Mengenai
akan merebaknya penyakit pes (tha’un) -- terutama di wilayah Punjab, Hindustan, yang membinasakan ratusan ribu orang -- Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih
Mau’ud a.s. – secara khusus
beliau telah menulis dalam salah satu buku beliau, Kisyti Nuh (Bahtera Nuh):
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Kisyti Nuh
(BAHTERA NUH)
JUDUL KEDUA
Da’watul Iman
(DAKWAH
KEIMANAN)
JUDUL KETIGA
Taqwiyatul Iman
(PENGUKUH KEIMANAN)
وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا
اِنَّ الَّذِیۡنَ
یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ
اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ
“Buatlah bahtera dengan pengawasan petunjuk wahyu
Kami. Barangsiapa yang baiat kepada engkau, sesungguhnya mereka baiat kepada
Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka.”
Ayat-ayat itu wahyu Ilahi dalam Quran Syarif yang turun kepadaku.
Risalah ini merupakan seperti suntikan samawi yang dipersiapkan bagi
Jemaatku berkaitan dengan wabah tha’un (pes).
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا
“Mengapa Allah akan menyiksa kamu
jika kamu bersyukur dan beriman? Sesungguhnya
Allah adalah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui” (QS. An-Nisaa [4]:148).
ارۡکَبُوۡا
فِیۡہَا بِسۡمِ اللّٰہِ مَجۡؔرٖىہَا وَ مُرۡسٰىہَا
لَا
عَاصِمَ الۡیَوۡمَ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ
اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ
“Naiklah kamu
sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan
berlabuhnya. Tiada yang dapat melindungi hari ini dari perintah Allah kecuali
orang yang Dia mengasihaninya”
Qadian, 5 Oktober 1902
RISALAH
BAHTERA NUH
Taqwiyatul
Iman
(PENGUKUH
KEIMANAN)
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Nahmaduhu
wa nushalli ‘alā Rasūlihil- karim wa ‘alā Masihil mau’ūd
SUNTIKAN
THA’UN
لَّنۡ یُّصِیۡبَنَاۤ اِلَّا مَا
کَتَبَ اللّٰہُ لَنَا ۚ ہُوَ مَوۡلٰىنَا ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ
“Tidak akan pernah menimpa musibah kepada kami kecuali
apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dia Pelindung kami dan hanya kepada
Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal” (At Taubah, 51).
|
Patut bersyukur,
bahwa karena rasa kasihan kepada
rakyatnya, dalam rangka usaha membasmi wabah tha’un (pes), pemerintah
Inggris[1]
telah merencanakan gerakan suntikan untuk kedua kalinya. Dan demi
kesejahteraan umat Tuhan pemerintah
telah memikul sejumlah biaya yang meliputi beratus-ratus ribu rupees.
|
Sesungguhnya tiap warganegara yang bijaksana
berkewajiban untuk menyambut gerakan itu dengan rasa terima kasih. Dan mereka yang berprasangka
terhadap gerakan suntikan itu sungguh amat bodoh dan sebenarnya memusuhi
dirinya sendiri. Sebab telah berkali-kali terbukti di dalam pengalaman, bahwa pemerintah sangat
berhati-hati, tidak mau melancarkan suatu cara pengobatan yang
berbahaya, bahkan pemerintah selamanya
memperkenalkan suatu usaha yang terbukti benar-benar berfaedah, apabila sudah
mengadakan banyak kali eksperimen di dalam usaha-usaha seperti itu.
Adalah suatu sikap yang jauh dari kewajaran dan peri kemanusiaan jika orang mengadakan penilaian terhadap tindakan pemerintah -- yang dengan tulus ikhlas telah mengeluarkan beratus-ratus
ribu rupees untuk tujuan itu -- sebagai tindakan yang mempunyai latar-belakang tujuan tertentu untuk
kepentingan sendiri. Alangkah malang nasib mereka yang mempunyai sangka-buruk
sejauh itu.
Sedikit pun tidak diragukan, bahwa sampai
sekarang upaya setinggi-tingginya dan semaksimal-maksimalnya yang dapat
dilakukan oleh pemerintah di alam serba kebendaan ini ialah upaya kebendaan
itulah, yakni melancarkan gerakan suntikan. Bagaimana pun tidak dapat
orang ingkari, bahwa upaya itu terbukti bermanfaat. Oleh karena itu wajib
bagi semua warganegara untuk
memperhatikan sarana itu dan membantu melepaskan beban pemerintah yang bermaksud
hendak menyelamatkan jiwa rakyat.
Semata-mata
Mentaati Perintah Allah Ta’ala & Kehebatan
Daya Binasa Wabah Pes
Akan tetapi
dengan segala hormat, kami ingin
mengatakan kepada pemerintah yang baik hati itu, bahwa seandainya tidak ada
rintangan samawi (langit),[2]
maka kamilah yang pertama-tama di antara semua warganegara yang akan minta disuntik. Rintangan samawi
(langit) itu ialah karena Tuhan menghendaki untuk memperlihatkan suatu Tanda
kasih-sayang dari langit di zaman ini kepada umat manusia.
Oleh karena itu Dia berfirman kepadaku bahwa Dia
akan menyelamatkanku dari wabah
pes beserta semua orang
yang tinggal di dalam tembok rumahku,
yaitu orang-orang yang melupakan diri dan menyatukan
diri dengan diriku seraya patuh dan taat secara sempurna
disertai ketakwaan yang setulus-tulusnya. Dan ini akan menjadi Tanda
Ilahi di zaman mutakhir ini, yang dengannya Dia memperlihatkan perbedaan
di antara suatu kaum dengan kaum
yang lain.
Akan
tetapi orang yang tidak mematuhi secara
sempurna mereka itu bukan dariku, mereka itu tidak usah dihiraukan. Demikianlah perintah
Ilahi. Oleh sebab itu, bagi diriku
dan bagi semua orang yang tinggal di dalam tembok rumahku tidak perlu
suntikan, karena sebagaimana tadi telah aku
terangkan, Tuhan Yang memiliki langit dan bumi, semenjak dahulu telah
menurunkan wahyu kepadaku, bahwa Dia akan menyelamatkan dari kematian
karena wabah pes, setiap orang yang tinggal di dalam tembok rumahku.
Tetapi dengan syarat, bahwa mereka melepaskan
semua kehendak untuk melawan, lalu masuk ke dalam lingkungan orang-orang
yang baiat dengan penuh keikhlasan, ketaatan, dan kerendahan
diri. Lagi dengan syarat bahwa mereka dengan cara apa pun tidak
bersikap takabbur, melawan, sombong, lalai, congkak, dan tinggi hati di
hadapan perintah-perintah Ilahi dan Utusan-Nya (Rasul-Nya), dan
akan bertingkah-laku sesuai dengan ajaran-Nya.
Tuhan berfirman kepadaku bahwa pada
umumnya wabah pes yang menghancur-luluhkan itu
– dan karenanya orang-orang akan mati
terhampar bagaikan anjing, dan karena derita kesedihan dan kebingungan
orang-orang menjadi gila -- tidak
akan melanda Qadian. Lagi pada umumnya
semua orang dalam Jemaatku
– betapa pun banyak bilangannya – dibandingkan dengan orang-orang yang menentangku, akan terpelihara dari wabah pes.
Namun demikian, wabah
pes dapat menjangkiti di antara
mereka yang tidak menepati janji mereka dengan sepenuh-penuhnya, atau
karena sebab lain yang tersembunyi tentang mereka, dan hanya Allah yang
mengetahui. Akan tetapi pada akhirnya orang akan mengakui dengan pandangan
takjub bahwa -- secara relatif
dan komparatif -- pertolongan
Tuhan ada di samping golongan ini. Dan demikian rupa Dia telah menyelamatkan
mereka itu dengan rahmat-Nya yang istimewa sehingga tidak ada tara
bandingannya.
Mengenai hal ini sebagian orang yang bodoh
akan tercengang, dan sebagian lagi akan menertawakan, sedangkan sebagian lagi
akan menyebutku orang gila. Sebagian lagi akan merasa heran bahwa apakah ada Tuhan
serupa itu, Yang tanpa menggunakan sarana-sarana kebendaan pun dapat
menurunkan rahmat-Nya?
Keajaiban
Kekuasaan Sempurna Allah Ta’ala
Jawabannya ialah, tidak diragukan lagi bahwa Tuhan Yang Maha
Kuasa serupa itu ada. Seandainya Tuhan serupa itu tidak ada, maka
orang-orang yang mempunyai ikatan silaturahmi (perhubungan khusus)
dengan Dia pasti akan binasa di dalam kehidupan ini. Wujud
Yang Maha Kuasa itu ajaib
(menakjubkan), dan kekuasaan-kekuasaan-Nya yang qudus pun ajaib pula. Pada satu pihak Dia
membiarkan orang-orang yang menentang leluasa menggagahi teman-teman-Nya
bagaikan terhadap anjing-anjing, sedang pada pihak lain Dia memperintahkan para
malaikat untuk mengkhidmati
mereka itu.
Demikian
pula apabila kegusaran-Nya bangkit dan
bersimaharajalela di seluruh dunia,
dan kemurkaan-Nya bergejolak terhadap orang-orang aniaya, maka
mata-Nya memberikan perlindungan kepada orang-orang-Nya yang
tertentu. Jika tidak demikian keadaan-Nya maka tugas orang-orang suci akan
menjadi kacau-balau, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengenal-Nya.
Kekuasaan-kekuasaan-Nya tidak terbatas, akan tetapi kekuasaan-kekuasaan
tersebut tampak kepada orang-orang menurut kadar keyakinan mereka
masing-masing. Terhadap mereka yang dianugerahi keyakinan serta kecintaan,
dan yang memutuskan segala hubungan kecuali dengan Dia, dan yang dijauhkan
dari kebiasaan-kebiasaan memanjakan hawa-nafsu mereka, kekuasaan-kekuasaan
tersebut nampak secara luar biasa.
Tuhan
berbuat apa yang Dia kehendaki. Akan tetapi kehendak untuk
memperlihatkan kekuasaan-kekuasaan-Nya secara luar biasa itu,
hanya bagi mereka yang mau merobek-robek kebiasaan-kebiasaan mereka demi mementingkan
Dia. Pada zaman ini sangat sedikit orang-orang yang mengenal Dia dan
percaya kepada kekuasaan-Nya yang ajaib itu. Kebalikannya, terdapat
banyak orang yang sama sekali tidak percaya kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa, Yang Suara-Nya didengar oleh segala sesuatu, Yang bagi-Nya tiada
sesuatu yang mustahil.
Hendaknya
diingat, bahwa walaupun tidak berdosa berobat untuk melawan penyakit pes
dan penyakit lainnya, bahkan tercantum dalam sebuah Hadits, bahwa tidak
ada sesuatu penyakit pun melainkan bagi penyakit tersebut Tuhan telah
menciptakan obatnya. Akan tetapi, aku menganggap diriku berdosa jika aku meragukan Tanda
Tuhan -- apabila melakukan suntikan
-- yang Dia ingin tampakkan kepada kita dengan sejelas-jelasnya di atas muka bumi ini.
Aku tidak
ingin mencemari kehormatan Tanda-tanda-Nya yang benar dan janji-Nya
yang benar dengan mengambil
faedah dari suntikan. Jika aku berbuat demikian niscaya aku patut dituntut karena dosa itu, sebab
aku tidak mempercayai janji Tuhan yang
telah diberikan kepadaku. Dan seandainya demikian maka semestinya aku berterimakasih
kepada sang dokter yang telah menemukan
serum suntikan ini, dan bukan bersyukur kepada Tuhan Yang telah berjanji
kepadaku, bahwa tiap-tiap orang yang tinggal
di dalam rumahku akan
diselamatkan oleh Dia.
Nubuwatan Dalam
Buku Barāhin-i-Ahmadiyya
Aku berkata berdasarkan penglihatan
ruhani bahwa janji-janji Tuhan Yang Maha Kuasa itu benar, dan aku
menyaksikan saat-saat yang akan datang demikian jelasnya, sehingga
seakan-akan telah tiba layaknya. Aku pun mengetahui bahwa tujuan pemerintah
yang sebenarnya ialah menyelamatkan orang-orang dari wabah pes dengan
jalan apapun, dan jika di masa yang akan datang pemerintah menemukan suatu sarana
yang lebih mujarab daripada suntikan, untuk menyelamatkan rakyat
dari bahaya pes, maka pemerintah
dengan senang hati akan menerimanya.
Dalam keadaan demikian, jelaslah bahwa
cara yang telah direstui Tuhan untuk ditempuh olehku tidak bertentangan
dengan tujuan pemerintah. Dan 20 tahun yang lalu tercantum di dalam kitab saya Barāhīn
Ahmadiyyah berupa nubuwatan (kabar gaib) mengenai wabah
pes yang sangat dahsyat itu, dan juga tercantum mengenai janji limpahan berkat istimewa bagi Jemaat ini. Lihatlah Barāhīn Ahmadiyyah, halaman 518 dan
519.
Kemudian, kecuali itu ada nubuwatan
yang tegas dari Tuhan, bahwa orang-orang
mukhlis yang tinggal di dalam batas-batas
rumahku,
yang tidak bersikap takabur (sombong) di hadapan Allah dan Utusan-Nya
(Rasul-Nya) akan diselamatkan dari malapetaka
pes, dan secara relatif maupun secara komfaratif karunia Tuhan
yang istimewa akan tetap menyertai Jemaat ini, walaupun adakalanya – oleh
karena kelemahan iman atau oleh
karena cela dalam amal, atau oleh
karena ajal (jangka-waktu) yang telah
jadi suratan takdir, atau oleh karena suatu sebab lain yang diketahui Allah -- peristiwa semacam itu
terjadi juga di dalam Jemaat ini, namun peristiwa
yang langka itu boleh dikatakan tidak ada.
Biasa pada waktu mengadakan perbandingan,
yang orang perhatikan ialah jumlah angka. Sebagaimana telah dibuktikan oleh
pemerintah dalam pengalaman, bahwa jumlah kematian di antara orang-orang
yang telah mendapat suntikan anti pes jika dibandingkan dengan jumlah
kematian di antara orang-orang yang tidak mendapat suntikan adalah
sangat sedikit.
Jadi, seperti halnya peristiwa kematian
yang jarang terjadi tidak dapat mengurangi pentingnya arti suntikan,
demikian pula mengenai Tanda ini
jika di Qadian peristiwa pes terjadi – yang secara komparatif sangat
kurang atau kadangkala ada juga seorang orang
di dalam Jemaat ini meninggal akibat penyakit itu – maka nilai Tanda pasti
tidak akan berkurang.
Nubuwatan
itu ditulis sesuai dengan kata-kata yang diucapkan oleh Kalam suci
Tuhan. Adalah tidak layak bagi seorang bijak kalau ia dari semula
memperolok-olokan Kalam samawi, sebab ini adalah Kalam Ilahi
(firman Tuhan) dan bukan ucapan seorang ahli nujum. Ini adalah cahaya
yang ditangkap indera penglihatan yang nyata, dan bukan patgulipat permainan
kegelapan. Ini adalah Kalam Ilahi (firman Tuhan) Yang telah membangkitkan wabah pes, dan Dia-lah Yang dapat
melenyapkannya.
Pemerintah pasti akan menghargai nubuwatan
ini kelak, apabila pemerintah akan menyaksikan betapa mengherankannya orang-orang
ini tetap sehat wal-afiat dibandingkan dengan orang-orang yang mendapat
suntikan. Dan aku berkata dengan
sejujur-jujurnya, bahwa apabila tidak terjadi keadaan yang sesuai dengan
nubuwatan yang telah
dikumandangkan semenjak 20 atau 22 tahun
yang lalu, maka aku bukanlah dari
Tuhan.
Tanda-tanda Kebenaran Pendakwaan
“Datang dari Tuhan”
Sebagai tanda
bahwa aku datang dari Tuhan ialah bahwa orang-orang mukhlis yang tinggal
di dalam tembok rumah saya akan tetap terpelihara dari kematian akibat penyakit
ini. Dan warga Jemaatku seutuhnya –
secara relatif dan secara komparatif --
akan tetap terpelihara dari serangan wabah pes. Dan kesejahteraan yang terdapat di dalam Jemaat ini pasti tidak
terdapat tara bandingannya pada golongan lain. Dan kegemparan wabah pes
yang membinasakan itu tidak akan melanda Qadian, kecuali sedikit atau
jarang-jarang.
Alangkah baiknya jika hati orang-orang itu lurus dan takut kepada Tuhan, supaya mereka benar-benar akan diselamatkan, karena siksaan
(azab) tidak turun kepada seseorang di alam dunia
ini disebabkan perbedaan agama,
karena mengenai itu pertanggung-jawabannya akan diminta nanti pada Hari
Kiamat.
Di dunia ini siksaan turun hanya akibat kenakalan, keangkuhan, dan
terlampau banyak dosa. Dan perlu diingat pula bahwa di dalam Quran
Syarif – dan bahkan juga di dalam beberapa bagaian Taurat[3]
– terdapat kabar bahwa di masa Masih Mau’ud akan berjangkit wabah pes. Bahkan Hadhrat Masih a.s. pun
mengabarkan mengenai itu di dalam Injil.
Dan tidaklah mungkin kalau nubuwatan-nubuwatan para nabi akan meleset.
Hendaknya
juga diingat, bahwa adalah wajib bagi kita untuk menjauhi upaya-upaya ciptaan manusia karena
sudah ada janji Tuhan, agar orang-orang yang anti jangan sampai mengaitkan Tanda Ilahi itu kepada hal-hal
lain. Akan tetapi apabila disamping itu Allah Ta’ala Sendiri dengan perantaraan Kalam-Nya (firman-Nya)
menunjukkan sesuatu upaya atau memberitahukan sesuatu obat, maka upaya atau obat serupa itu tidak menjadi halangan bagi Tanda itu, sebab
upaya atau obat tersebut datang dari Tuhan
Yang dari-Nya juga Tanda itu datang.
Hendaknya jangan ada yang mempunyai dugaan,
bahwa kalau kadangkala seseorang di dalam Jemaat kita mati akibat wabah pes
lantas nilai serta martabat Tanda itu akan berkurang. Sebab pada zaman
dahulu Musa a.s. dan Yesaya a.s. dan pada akhirnya Nabi kita saw. mendapat
perintah bahwa untuk barangsiapa yang telah mengangkat pedang dan membunuh ratusan jiwa, mereka itu boleh dibunuh dengan pedang pula. Dan ini merupakan suatu Tanda dari para nabi tersebut, yang sesudah itu mereka
mendapat kemenangan besar. Padahal
dalam bentrokan (perang) itu dari pihak para pengikut kebenaran terdapat
juga yang tewas oleh pedang pihak lawan akan tetapi sangat sedikit, dan kerugian
sebesar itu tidak berarti apa-apa bagi Tanda tersebut.
Jadi, demikianlah apabila ada beberapa
orang dalam Jemaat kita telah terkena wabah
pes karena
sebab-sebab tersebut di atas, peristiwa itu pasti tidak menodai sedikit pun Tanda Ilahi tersebut. Tidakkah ini
merupakan suatu Tanda agung –
seperti telah berkali-kali aku kemukakan – bahwa Allah Ta’ala akan menampakkan nubuwatan
itu sedemikian rupa sehingga setiap pencari kebenaran tidak akan
ragu-ragu?
Dan mereka akan mengerti bahwa
Allah Ta’ala telah memperlakukan Jemaat ini bagaikan mukjizat, bahkan
bagai Tanda Ilahi, akibatnya ialah Jemaat ini akan berkembang dalam
jumlahnya dengan perantaraan wabah
pes, dan akan maju secara luar biasa pesatnya. Kemajuan
tersebut akan disaksikan dengan takjub,
sedangkan lawan terus menerus menderita
kekalahan pada setiap kesempatan, sebagaimana telah aku tulis dalam kitab Nuzulul
Masih (Turunnya Al-Masih).”
Jemaat Muslim
Ahmadiyah adalah “Bahtera
Nuh” Akhir Zaman
Demikianlah penjelasan Masih Mau’ud
a.s. mengenai merebaknya wabah tha’un (pes) yang terjadi pada zaman beliau sebagai peringatan
Allah Swt. kepada orang-orang yang mendustakan
berbagai macam Tanda-tanda Allah yang
mendukung kebenaran pendakwaan rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan kepada
mereka (QS.7:35-37; QS.61:10; QS.62:3-5).
Ada pun yang dimaksud dengan perintah
pembuatan “bahtera” yang dikemukakan dalam ayat-ayat Al-Quran yang diwahyukan kembali Allah Swt. kepada Masih Mau’ud a.s. adalah pembentukan Jemaat Muslim Ahmadiyah, karena di Akhir
Zaman ini akan berfungsi seperti “bahtera”
(perahu) yang telah dibuat oleh Nabi Nuh a.s..
Perbedaannya adalah bahwa “bahtera” yang dibuat Nabi Nuh a.s.
adalah sebuah perahu yang dibuat dari papan kayu dan paku
(QS.54:10-17), sedang “bahtera”
yang dibuat Masih Mau’ud a.s. di Akhir
Zaman ini adalah sebuah “organisasi
ruhani” guna membedakan dari
berbagai organisasi agama lainnya yang ada di Akhir Zaman ini:
وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا
اِنَّ الَّذِیۡنَ
یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ
اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ
“Buatlah bahtera
dengan pengawasan petunjuk wahyu Kami. Barangsiapa yang baiat kepada engkau,
sesungguhnya mereka baiat kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan
mereka.”
Firman-Nya:
کَذَّبَتۡ
قَبۡلَہُمۡ قَوۡمُ نُوۡحٍ فَکَذَّبُوۡا عَبۡدَنَا وَ قَالُوۡا
مَجۡنُوۡنٌ وَّ ازۡدُجِرَ ﴿﴾ فَدَعَا رَبَّہٗۤ
اَنِّیۡ مَغۡلُوۡبٌ فَانۡتَصِرۡ ﴿﴾ فَفَتَحۡنَاۤ
اَبۡوَابَ السَّمَآءِ
بِمَآءٍ مُّنۡہَمِرٍ ﴿۫ۖ﴾ وَّ فَجَّرۡنَا الۡاَرۡضَ عُیُوۡنًا فَالۡتَقَی
الۡمَآءُ عَلٰۤی اَمۡرٍ قَدۡ
قُدِرَ ﴿ۚ﴾ وَ حَمَلۡنٰہُ
عَلٰی ذَاتِ اَلۡوَاحٍ وَّ دُسُرٍ
﴿ۙ﴾ تَجۡرِیۡ
بِاَعۡیُنِنَا ۚ جَزَآءً لِّمَنۡ
کَانَ کُفِرَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
تَّرَکۡنٰہَاۤ اٰیَۃً فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ ﴿﴾ فَکَیۡفَ کَانَ عَذَابِیۡ وَ
نُذُرِ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
یَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ لِلذِّکۡرِ فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ ﴿﴾
Sebelum
mereka pun kaum Nuh telah mendustakan, lalu mereka
mendustakan hamba Kami dan mereka berkata: “Ia orang
gila dan terusir.” فَدَعَا
رَبَّہٗۤ اَنِّیۡ مَغۡلُوۡبٌ
فَانۡتَصِرۡ -- Maka ia
berdoa kepada Rabb-nya (Tuhan-nya): “Sesungguhnya aku dikalahkan maka tolonglah
aku.” فَفَتَحۡنَاۤ اَبۡوَابَ
السَّمَآءِ بِمَآءٍ مُّنۡہَمِرٍ -- Maka Kami membukakan pintu-pintu awan dengan air yang tercurah deras. وَّ فَجَّرۡنَا الۡاَرۡضَ عُیُوۡنًا
فَالۡتَقَی الۡمَآءُ عَلٰۤی اَمۡرٍ قَدۡ
قُدِرَ -- Dan
Kami memancarkan sumber-sumber air di bumi lalu kedua air itu bertemu untuk suatu perintah yang telah ditentukan. وَ
حَمَلۡنٰہُ عَلٰی ذَاتِ
اَلۡوَاحٍ وَّ دُسُرٍ -- Dan Kami
mengangkut dia di atas sesuatu yang terbuat dari papan dan paku, تَجۡرِیۡ
بِاَعۡیُنِنَا ۚ جَزَآءً لِّمَنۡ
کَانَ کُفِرَ -- yang berlayar di bawah pengawasan Kami sebagai ganjaran bagi orang yang senantiasa diingkari. وَ لَقَدۡ تَّرَکۡنٰہَاۤ
اٰیَۃً فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِرٍ -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah meninggalkan peristiwa itu sebagai Tanda, maka apakah ada yang
mengambil peringatan? فَکَیۡفَ کَانَ
عَذَابِیۡ وَ نُذُرِ -- Maka betapa
dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku! وَ لَقَدۡ یَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ لِلذِّکۡرِ
-- Dan sesungguhnya Kami telah emempermudah
Al-Quran untuk diingat, فَہَلۡ مِنۡ مُّدَّکِر -- maka
apakah ada orang yang mengambil
peringatan? (Al-Qamar [54]:10-18).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 27 Juni 2016
[1]
Pada waktu risalah ini ditulis India
masih dijajah oleh Inggris (Pent.)
[2] Samawi (langit) dalam makna
kiasan mengisyaratkan hal-hal yang berhubungan dengan masalah Ketuhanan atau masalah keruhanian, bukan berarti bahwa Allah Ta’ala berada
di langit (Pent.)
[3] Kabar tentang berjangkitnya wabah pes di
zaman Masih Mau’ud dalam kitab-kitab Bible
tercantum pada Zakaria 14:12, Injil Matius 24:8, dan Wahyu-wahyu
22:8 (Pen.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar