Rabu, 13 Juli 2016

Makna "Pohon Terlarang" dan "Pohon Terkutuk" Dalam Al-Quran


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


MAKNA “POHON TERLARANG” DAN “POHON TERKUTUK” DALAM AL-QURAN

Bab 83

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab  sebelumnya   telah dikemukakan  mengenai  kasyaf yang dilihat Nabi Besar Muhammad saw.  -- yakni  beliau saw. mengimami shalat berjamaah bersama para nabi Allah  --    yang  mengandung arti bahwa pada suatu ketika di masa yang akan datang, para pengikut nabi-nabi tersebut akan masuk ke haribaan Islam.
       Inilah yang dimaksud oleh kata-kata  اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ  -- “sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung dengan menakdirkan kebinasaan umat ini”. Penyebaran Islam secara meluas akan datang sesudah terjadi bencana-bencana yang akan melanda seluruh dunia seperti telah disinggung dalam  ayat 57 dalam firman-Nya berikut ini:
 وَ اِنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اِلَّا نَحۡنُ  مُہۡلِکُوۡہَا قَبۡلَ یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ  اَوۡ مُعَذِّبُوۡہَا عَذَابًا شَدِیۡدًا ؕ کَانَ  ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿﴾  وَ مَا مَنَعَنَاۤ  اَنۡ  نُّرۡسِلَ بِالۡاٰیٰتِ اِلَّاۤ  اَنۡ  کَذَّبَ بِہَا الۡاَوَّلُوۡنَ ؕ وَ اٰتَیۡنَا ثَمُوۡدَ النَّاقَۃَ  مُبۡصِرَۃً  فَظَلَمُوۡا بِہَا ؕ وَ مَا نُرۡسِلُ  بِالۡاٰیٰتِ  اِلَّا  تَخۡوِیۡفًا ﴿﴾    وَ اِذۡ قُلۡنَا  لَکَ  اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا الَّتِیۡۤ  اَرَیۡنٰکَ اِلَّا فِتۡنَۃً  لِّلنَّاسِ وَ الشَّجَرَۃَ  الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ  اِلَّا  طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Dan tidak ada suatu negeri pun melainkan Kami menghancurkannya sebelum Hari Kiamat atau mengazabnya dengan azab yang sangat keras,  yang demikian itu telah tertulis dalam Kitab.   Dan sekali-kali tidak ada yang dapat menghalangi Kami untuk mengirimkan Tanda-tanda melainkan bahwa orang-orang dahulu telah mendustakannya, dan Kami memberikan kepada Tsamud unta betina se-bagai suatu Tanda yang nyata, tetapi mereka mengzaliminya.  Dan Kami tidak mengirimkan Tanda-tanda melainkan untuk menakuti. وَ اِذۡ قُلۡنَا  لَکَ  اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ  --  Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada engkau: “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung orang-orang ini dengan kebina-saan. وَ مَا جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا الَّتِیۡۤ  اَرَیۡنٰکَ اِلَّا فِتۡنَۃً  لِّلنَّاسِ  --   Dan tidaklah Kami menjadikan rukya yang telah Kami perli-hatkan kepada engkau melainkan sebagai cobaan  bagi manusia,  وَ الشَّجَرَۃَ  الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ -- dan juga pohon terkutuk  dalam Al-Quran. وَ نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ  اِلَّا  طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا  --  Dan Kami menakut-nakuti mereka tetapi itu tidak menambah kepada mereka kecuali kedurhakaan amat besar   (Bani Israil [17]:59-61).

Peringatan Allah Swt. Kepada Umat Islam

       Agaknya “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi yang telah berulang kali disebut dalam Al-Quran dikutuk oleh Allah Swt.    (QS.2:88-89; QS.5:14, 61, 65, 79). Kutukan Allah Swt. telah mengejar-ngejar kaum yang malang ini semenjak Nabi Daud a.s. mengutuk mereka sampai di Akhir Zaman  ini.
       Penafsiran mengenai ungkapan  “pohon terkutuk” tersebut  ditunjang oleh kenyataan bahwa Surah ini secara istimewa membahas hal ihwal kaum Bani Israil, seperti diisyaratkan oleh nama Surah ini sendiri, yaitu Bani Israil atau Surah Al-Isra sebagaimana dikemukakan dalam ayat 2 mengenai peristiwa ruhani  isra Nabi Besar Muhammad saw..  
       Kenyataan bahwa ayat ini mulai dengan menyebut kasyaf Nabi Besar Muhammad saw.,  dan di dalam kasyaf itu  melihat diri beliau saw. di “Masjidil-Aqsha” di Yerusalem shalat mengimami nabi-nabi Bani Israil   — pusat agama Yahudi — memberi dukungan lebih lanjut kepada anggapan, bahwa yang dimaksud oleh “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi.
       Kata   syajarah mengandung pula arti suku bangsa. Ayat ini membahas kasyaf itu, dan juga membahas kaum Yahudi (pohon terkutuk) yang oleh kasyaf ini disinggung secara khusus sebagai “cobaan bagi manusia.” Orang-orang Yahudi pada tiap kurun zaman telah menjadi sumber kesengsaraan dan penderitaan bagi umat manusia, terutama bagi umat Islam.
      Jadi, pada hakikatnya peringatan Allah Swt. kepada “Adam dan istrinya”  --  untuk menjauhi “pohon terlarang” -- itu pulalah peringatan Allah Swt. kepada umat Islam dalam firman-Nya  berikut ini:
لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman, dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan Allah sedikit pun, اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً  -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya.  وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ  -- Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya,  --  dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali ‘Imran [3]:29). Lihat pula QS.3:119; QS.4:140-141.
 
Pentingnya Kewaspadaan Dalam Masalah Hubungan Internasional

    Dengan diperolehnya kekuatan politik oleh Islam  -- seperti dijanjikan dalam ayat-ayat sebelumnya (QS.3:27-28)  -- maka bagi negara Islam mengadakan persekutuan-persekutuan politik itu menjadi sangat perlu. Berikut  firman Allah Swt.  mengenai   kekuatan politik yang akan diperoleh umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan seterusnya,  setelah  sekian lama   -- baik ketika di Mekkah mau pun di Madinah – beliau saw. dan umat Islam mengalami berbagai kezaliman  dari berbagai pihak yang mendustakan dan menentang beliau saw.    -- firman-Nya:
قُلِ اللّٰہُمَّ مٰلِکَ الۡمُلۡکِ تُؤۡتِی الۡمُلۡکَ مَنۡ تَشَآءُ وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ ۫ وَ تُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَ تُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ ؕ بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾   تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ ۫ وَ تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ ۫ وَ تَرۡزُقُ مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ  حِسَابٍ ﴿﴾
Katakanlah: “Wahai  Allah, Pemilik kedaulatan, تُؤۡتِی الۡمُلۡکَ مَنۡ تَشَآءُ وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ  -- Engkau  memberikan kedaulatan kepada siapa yang Engkau kehendaki, وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ -- dan Engkau  mencabut kedaulatan dari siapa yang Engkau kehendaki, وَ تُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَ تُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ  -- Engkau  memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau  menghinakan siapa yang Engkau kehendaki,  بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- di tangan Engkau-lah segala kebaikan, sesungguhnya  Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ  -- Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan Engkau  memasukkan siang ke dalam malam. وَ تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ – dan  Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau mengeluarkan yang mati dari yang hidup, وَ تَرۡزُقُ مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ  حِسَابٍ -- dan  Engkau memberi rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.”  (Ali ‘Imran [3]:27-28).
       Kata “siang”   menggambarkan kesejahteraan dan kekuasaan suatu kaum dan kata “ malam” melukiskan kemunduran dan kemerosotan mereka.  Ayat 28   dan yang mendahuluinya mengisyaratkan kepada hukum Ilahi yang tak berubah, bahwa bangsa-bangsa bangkit atau jatuh  karena mereka menyesuaikan diri dengan atau menentang kehendak Ilahi yang merupakan sumber segala kekuasaan dan kebesaran (QS.8:55; QS.13:12).
       Demikian juga keadaannya dengan kebangkitan dan kejatuhan umat Islam pun tidak lepas dari Sunnatullah tersebut, karena itu dalam ayat selanjutnya Allah Swt.  memperingatkan umat Islam agar  “masa siang” (kejayaan) mereka  berlangsung lama jangan mengambil sahabat (pelindung) dari luar kalangan mereka dan  dengan mengenyampingkan sesama Muslim, firman-Nya:
لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman, dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan Allah sedikit pun, اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً  -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka  dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya. وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ -- Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah  (Ali ‘Imran [3]:29). Lihat pula QS.3:119; QS.4:140-141. 

Mendahulukan Kepentingan Sesama Muslim

   Ayat yang sedang dibahas ini berisikan pedoman asasi bahwa tidak boleh  ada negara Islam  yang  mengadakan perjanjian atau persekutuan dengan negara bukan-Islam yang sama sekali akan merugikan atau mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan-kepentingan negara-negara Islam lainnya, karena kepentingan-kepentingan Islam harus berada di atas kepentingan-kepentingan lainnya.
  Makna ayat: اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً  -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka  dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya”  kaum Muslimin diperingatkan supaya berhati-hati terhadap hasutan-hasutan dan tipu muslihat kaum kafir. Ungkapan kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka, mengacu bukan kepada kekuasaan musuh melainkan kepada kelicikannya yang kaum Muslimin senantiasa harus berjaga-jaga (waspada). Lebih lanjut Allah Swt. berfirman: وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ -- dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ --  dan kamu akan kembali kepada Allah.”
   Alasan lain mengenai  pelarangan tersebut  dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡا بِطَانَۃً مِّنۡ دُوۡنِکُمۡ لَا یَاۡلُوۡنَکُمۡ خَبَالًا ؕ وَدُّوۡا مَا عَنِتُّمۡ ۚ قَدۡ بَدَتِ الۡبَغۡضَآءُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ۚۖ وَ مَا تُخۡفِیۡ صُدُوۡرُہُمۡ اَکۡبَرُ ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ 
Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu sekali-kali menjadikan teman kepercayaan selain  golongan kamu, لَا یَاۡلُوۡنَکُمۡ خَبَالًا --  mereka itu tidak akan berhenti menimbulkan kemudaratan  bagi kamu. وَدُّوۡا مَا عَنِتُّمۡ  --  Mereka  sangat menginginkan melihat kamu  dalam kesusahan. قَدۡ بَدَتِ الۡبَغۡضَآءُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ     -- Sungguh kebencian telah tampak dari mulut mereka,    وَ مَا تُخۡفِیۡ صُدُوۡرُہُمۡ اَکۡبَرُ -- sedangkan  apa yang disembunyikan dada mereka lebih besar lagi. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan kepadamu Ayat-ayat Kami, jika kamu menggunakan akal. (Ali ‘Imran [3]:119).
  Khabal  dalam ayat:   لَا یَاۡلُوۡنَکُمۡ خَبَالًا -- “mereka itu tidak akan berhenti menimbulkan kemudaratan  bagi kamu” berarti: (1) kerusakan baik yang berkenaan dengan badan atau pikiran atau pun perbuatan; (2) kerugian atau kemerosotan; (3) kehancuran atau kebinasaan; (4) racun yang mematikan (Aqrab-ul-Mawarid).

Keabadian Kedengkian Kain terhadap Habel

    Makna ayat: وَدُّوۡا مَا عَنِتُّمۡ --  Mereka sangat menginginkan melihat kamu  dalam kesusahan.” (1) Mereka berkeinginan melihat kamu ditimpa malapetaka atau kemalangan;   binasa atau menjadi lemah dan tak berdaya; atau (2) mereka menginginkan sekali melihat kamu tersesat dari jalan ketakwaan dan menempuh jalan durhaka.
Selanjutnya Allah Swt. mengemukakan alasan lain dari melarang menjadikan mereka sebagai “sahabat karib” dengan mengenyampingkan sesama kaum Muslimin, firman-Nya:
ہٰۤاَنۡتُمۡ اُولَآءِ تُحِبُّوۡنَہُمۡ وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ کُلِّہٖ ۚ وَ اِذَا لَقُوۡکُمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚ٭ۖ  وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ  الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ ؕ قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Ingat,  kamu itulah  orang-orang yang mencintai mereka, padahal mereka sekali-kali tidak mencintai kamu dan kamu beriman kepada Al-Kitab  seluruhnya. Dan apabila mereka bertemu dengan kamu mereka berkata: “Kami pun telah beriman”, tetapi apabila mereka menyendiri, mereka menggigit-gigit jari karena sangat marah terhadap kamu. Katakanlah: “Matilah kamu karena kemarahan kamu.”  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada. (Ali ‘Imran [3]:120). 
     Makna ayat: ہٰۤاَنۡتُمۡ اُولَآءِ تُحِبُّوۡنَہُمۡ وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ   -- “Ingat,  kamu itulah  orang-orang yang mencintai mereka,” karena memang Nabi Besar Muhammad saw. adalah Rasul Allah  yang membawa rahmat  untuk seluruh alam (QS.21:108) dan umat Islam  dibangkitkan sebagai “umat terbaik” bagi manfaat seluruh umat manusia   (QS.2:144; QS.3:111), sedangkan mereka:  وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ  -- “padahal mereka sekali-kali tidak mencintai kamu.
   Alasan lainnya mengapa umat Islam mencintai golongan Ahli-Kitab adalah: وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ کُلِّہٖ   -- “dan kamu beriman kepada Al-Kitab  seluruhnya”, sebab beriman kepada Kitab-kitab  suci  yang  diwahyukan Allah Swt.  sebelum Al-Quran serta beriman kepada para Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. merupakan bagian dari keimanan umat Islam dalam Rukun Iman (QS.2:286), sedangkan mereka tidak percaya kepada Kitab seluruhnya.”  
   Makna ayat:  وَ اِذَا لَقُوۡکُمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا -- “Dan apabila mereka bertemu dengan kamu mereka berkata: “Kami pun telah beriman”  hanyalah    kemunafikan  mereka agar  mendapat keuntungan  duniawi  atau tidak mengalami  kerugian duniawi, karena keadaan hati  mereka  yang sesungguhnya adalah: وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ  الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ -- “tetapi apabila mereka menyendiri, mereka menggigit-gigit jari karena sangat marah terhadap kamu.”

Berlindung Kepada Allah Swt. dari Kedengkian Para Pendengki  dan Pembisik Kewaswasan

  Kata-kata: قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ   --  “Matilah oleh kemarahan kamu” ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang memusuhi dan berusaha membinasakan Islam  -- bandingkan dengan kemarahan  dan kedengkian  Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah- QS.7:12-19).  Lebih jauh Allah Swt. memberitahukan kedengkian hati mereka kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam, firman-Nya:
اِنۡ تَمۡسَسۡکُمۡ حَسَنَۃٌ تَسُؤۡہُمۡ ۫ وَ اِنۡ تُصِبۡکُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّفۡرَحُوۡا بِہَا ؕ وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ ﴿﴾٪
Jika kamu mendapat kebaikan mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat kesusahan mereka bergembira berkenaan dengannya. وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا  -- Tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا --  tipu muslihat mereka tidak akan dapat memudaratkan kamu sedikit pun. اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ  -- Sesungguhnya Allah  meliputi  apa pun yang  mereka kerjakan.  (Ali ‘Imran [3]:119-121).
  Makna ayat:  اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ  -- Sesungguhnya Allah  meliputi  apa pun yang  mereka kerjakan   Allah  Swt.     akan meniadakan segala apa yang diperbuat mereka, dan Dia akan membinasakan mereka. Oleh karena itu orang-orang Islam  hendaknya tidak perlu takut kepada mereka. Segala tipu daya musuh-musuh Islam diketahui Allah Swt.  dan Dia akan menggagalkan upaya mereka.
   Betapa penuh hikmahnya  doa meminta perlindungan kepada Allah Swt. yang dikemukakan dalam Surah Al-Falaq dan Surah An-Nās  sehubungan dengan kedengkian Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah) dan dari  tipu-daya syaitan terutama fitnah Dajjal yang sangat berbahaya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾  مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar,  dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan,  dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,  dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
Firman-Nya lagi:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ قُلۡ  اَعُوۡذُ  بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾   مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  اِلٰہِ  النَّاسِ ۙ﴿﴾   مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) manusiaRaja manusia,   Sembahan manusia,    dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi,     yang membisikkan ke dalam hati manusia,   dari jin dan manusia.  (An-Nās [113]:1-6).
      Jadi, betapa   pentingnya   memahami kedua surah penutup  Al-Quran tersebut,  yang pada hakikatnya  merupakan penjagaan diri dari  akibat yang ditimbulkan berpegang pada Tauhid Ilahi yang dikemukakan surah Al-Ikhlash yang merupakan misi utama pengutusan seluruh Rasul Allah, khususnya Nabi Besar Muhammad saw, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.  Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,  dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 7  Juli   2016

1 komentar:

  1. Casino Roll Casino RTP 🎖️ Play 100 Free Spins for New Players
    Find all 슬롯나라 the information you need to know 12bet about Casino Roll Casino RTP and find the best bonus. Play top quality 코인갤러리 online slots 바카라 사이트 at Casino Roll for free. 킹스 포커

    BalasHapus