Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
MAKNA “POHON TERLARANG” DAN “POHON TERKUTUK” DALAM AL-QURAN
Bab 83
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya
telah dikemukakan mengenai
kasyaf yang dilihat Nabi Besar
Muhammad saw. -- yakni beliau saw. mengimami shalat berjamaah bersama para nabi Allah --
yang mengandung arti bahwa pada
suatu ketika di masa yang akan datang, para pengikut
nabi-nabi tersebut akan masuk ke haribaan
Islam.
Inilah yang dimaksud oleh kata-kata اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ -- “sesungguhnya
Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung dengan menakdirkan kebinasaan umat ini”. Penyebaran
Islam secara meluas akan datang sesudah terjadi bencana-bencana yang akan melanda
seluruh dunia seperti telah disinggung dalam ayat 57 dalam firman-Nya berikut ini:
وَ اِنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اِلَّا نَحۡنُ
مُہۡلِکُوۡہَا قَبۡلَ یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ
اَوۡ مُعَذِّبُوۡہَا عَذَابًا شَدِیۡدًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿﴾ وَ مَا مَنَعَنَاۤ
اَنۡ نُّرۡسِلَ بِالۡاٰیٰتِ
اِلَّاۤ اَنۡ کَذَّبَ بِہَا الۡاَوَّلُوۡنَ ؕ وَ اٰتَیۡنَا
ثَمُوۡدَ النَّاقَۃَ مُبۡصِرَۃً فَظَلَمُوۡا بِہَا ؕ وَ مَا نُرۡسِلُ بِالۡاٰیٰتِ
اِلَّا تَخۡوِیۡفًا ﴿﴾ وَ اِذۡ قُلۡنَا لَکَ
اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا
الَّتِیۡۤ اَرَیۡنٰکَ اِلَّا
فِتۡنَۃً لِّلنَّاسِ وَ الشَّجَرَۃَ الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ
نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ
اِلَّا طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Dan tidak ada suatu negeri pun melainkan Kami menghancurkannya sebelum Hari Kiamat
atau mengazabnya dengan azab yang sangat keras, yang demikian itu telah tertulis dalam Kitab. Dan sekali-kali tidak ada yang dapat menghalangi Kami untuk mengirimkan Tanda-tanda melainkan bahwa orang-orang dahulu telah mendustakannya, dan Kami memberikan kepada Tsamud unta betina
se-bagai suatu Tanda yang nyata,
tetapi mereka mengzaliminya. Dan Kami
tidak mengirimkan Tanda-tanda melainkan untuk menakuti. وَ اِذۡ قُلۡنَا لَکَ
اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ -- Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada engkau: “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung
orang-orang ini dengan kebina-saan.” وَ مَا جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا
الَّتِیۡۤ اَرَیۡنٰکَ اِلَّا
فِتۡنَۃً لِّلنَّاسِ -- Dan tidaklah Kami menjadikan rukya yang telah Kami perli-hatkan kepada engkau melainkan sebagai cobaan bagi manusia, وَ
الشَّجَرَۃَ الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی
الۡقُرۡاٰنِ -- dan juga pohon terkutuk dalam Al-Quran.
وَ نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ اِلَّا
طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا -- Dan
Kami menakut-nakuti mereka tetapi itu tidak menambah kepada mereka
kecuali kedurhakaan amat besar (Bani
Israil [17]:59-61).
Peringatan Allah Swt. Kepada Umat Islam
Agaknya “pohon terkutuk” itu
adalah kaum Yahudi yang telah
berulang kali disebut dalam Al-Quran dikutuk
oleh Allah Swt. (QS.2:88-89; QS.5:14, 61, 65, 79). Kutukan Allah Swt. telah mengejar-ngejar
kaum yang malang ini semenjak Nabi Daud
a.s. mengutuk mereka sampai di Akhir Zaman ini.
Penafsiran mengenai ungkapan “pohon terkutuk” tersebut ditunjang oleh kenyataan bahwa Surah ini
secara istimewa membahas hal ihwal kaum Bani
Israil, seperti diisyaratkan oleh nama Surah ini sendiri, yaitu Bani Israil atau Surah Al-Isra sebagaimana dikemukakan dalam
ayat 2 mengenai peristiwa ruhani isra Nabi Besar Muhammad saw..
Kenyataan bahwa ayat ini mulai dengan
menyebut kasyaf Nabi Besar Muhammad
saw., dan di dalam kasyaf itu melihat diri
beliau saw. di “Masjidil-Aqsha” di Yerusalem
shalat mengimami nabi-nabi Bani Israil — pusat agama Yahudi — memberi dukungan lebih
lanjut kepada anggapan, bahwa yang dimaksud oleh “pohon terkutuk” itu adalah kaum
Yahudi.
Kata syajarah
mengandung pula arti suku bangsa.
Ayat ini membahas kasyaf itu, dan
juga membahas kaum Yahudi (pohon
terkutuk) yang oleh kasyaf ini
disinggung secara khusus sebagai “cobaan bagi manusia.” Orang-orang
Yahudi pada tiap kurun zaman telah menjadi sumber
kesengsaraan dan penderitaan bagi
umat manusia, terutama bagi umat Islam.
Jadi, pada hakikatnya peringatan Allah Swt. kepada “Adam dan istrinya” -- untuk menjauhi “pohon terlarang” -- itu pulalah peringatan
Allah Swt. kepada umat Islam dalam firman-Nya
berikut ini:
لَا
یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ
یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman,
dan barangsiapa berbuat demikian maka
sekali-kali tidak ada hubungannya dengan
Allah sedikit pun, اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka dengan
suatu penjagaan yang sebaik-baiknya.
وَ
یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ -- Dan Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, -- dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali
‘Imran [3]:29). Lihat pula QS.3:119; QS.4:140-141.
Pentingnya Kewaspadaan Dalam Masalah Hubungan
Internasional
Dengan diperolehnya kekuatan politik oleh Islam -- seperti dijanjikan dalam ayat-ayat
sebelumnya (QS.3:27-28) -- maka bagi negara Islam mengadakan persekutuan-persekutuan politik itu
menjadi sangat perlu. Berikut firman
Allah Swt. mengenai kekuatan
politik yang akan diperoleh umat
Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan seterusnya, setelah
sekian lama -- baik ketika di
Mekkah mau pun di Madinah – beliau saw. dan umat Islam mengalami berbagai kezaliman dari berbagai pihak yang mendustakan dan menentang beliau saw. -- firman-Nya:
قُلِ
اللّٰہُمَّ مٰلِکَ الۡمُلۡکِ تُؤۡتِی الۡمُلۡکَ مَنۡ تَشَآءُ وَ تَنۡزِعُ
الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ ۫ وَ تُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَ تُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ
ؕ بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ
تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ ۫ وَ تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ
تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ
مِنَ الۡحَیِّ ۫ وَ تَرۡزُقُ مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ حِسَابٍ ﴿﴾
Katakanlah:
“Wahai Allah, Pemilik kedaulatan, تُؤۡتِی
الۡمُلۡکَ مَنۡ تَشَآءُ وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ -- Engkau memberikan
kedaulatan kepada siapa yang Engkau
kehendaki, وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ
تَشَآءُ -- dan Engkau mencabut
kedaulatan dari siapa yang Engkau
kehendaki, وَ تُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَ
تُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ --
Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau menghinakan
siapa yang Engkau kehendaki, بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- di tangan Engkau-lah
segala kebaikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ -- Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan
Engkau memasukkan siang ke dalam malam. وَ تُخۡرِجُ
الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ – dan Engkau mengeluarkan
yang hidup dari yang mati dan Engkau mengeluarkan
yang mati dari yang hidup, وَ تَرۡزُقُ
مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ حِسَابٍ -- dan Engkau memberi rezeki kepada siapa yang Engkau
kehendaki tanpa hisab.” (Ali ‘Imran [3]:27-28).
Kata “siang”
menggambarkan kesejahteraan dan kekuasaan
suatu kaum dan kata “ malam” melukiskan kemunduran dan kemerosotan
mereka. Ayat 28 dan
yang mendahuluinya mengisyaratkan kepada hukum
Ilahi yang tak berubah, bahwa bangsa-bangsa
bangkit atau jatuh karena mereka menyesuaikan diri dengan atau menentang
kehendak Ilahi yang merupakan sumber
segala kekuasaan dan kebesaran (QS.8:55; QS.13:12).
Demikian juga keadaannya dengan kebangkitan dan kejatuhan umat Islam pun
tidak lepas dari Sunnatullah
tersebut, karena itu dalam ayat selanjutnya Allah Swt. memperingatkan
umat Islam agar “masa siang” (kejayaan) mereka
berlangsung lama jangan mengambil sahabat
(pelindung) dari luar kalangan mereka dan
dengan mengenyampingkan sesama
Muslim, firman-Nya:
لَا
یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ
یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan
orang-orang beriman, dan barangsiapa berbuat
demikian maka sekali-kali tidak ada
hubungannya dengan Allah sedikit
pun, اِلَّاۤ اَنۡ
تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka dengan suatu
penjagaan yang sebaik-baiknya. وَ
یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ -- Dan Allah memperingatkan kamu terhadap
hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah (Ali
‘Imran [3]:29). Lihat pula QS.3:119; QS.4:140-141.
Mendahulukan Kepentingan Sesama Muslim
Ayat yang sedang dibahas ini berisikan pedoman asasi bahwa tidak boleh ada negara Islam yang mengadakan perjanjian
atau persekutuan dengan negara bukan-Islam yang sama sekali akan merugikan atau mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan-kepentingan
negara-negara Islam lainnya, karena kepentingan-kepentingan Islam harus
berada di atas kepentingan-kepentingan
lainnya.
Makna ayat: اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka
dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya” kaum Muslimin diperingatkan supaya berhati-hati
terhadap hasutan-hasutan dan tipu muslihat kaum kafir. Ungkapan kecuali
bila kamu menjaga diri dari mereka, mengacu bukan kepada kekuasaan musuh melainkan kepada kelicikannya yang kaum Muslimin
senantiasa harus berjaga-jaga
(waspada). Lebih lanjut Allah Swt. berfirman: وَ
یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ -- dan Allah
memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, وَ اِلَی
اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ -- dan kamu akan kembali kepada Allah.”
Alasan lain mengenai pelarangan
tersebut dalam surah lain Allah Swt.
berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَتَّخِذُوۡا بِطَانَۃً مِّنۡ دُوۡنِکُمۡ لَا یَاۡلُوۡنَکُمۡ
خَبَالًا ؕ وَدُّوۡا مَا
عَنِتُّمۡ ۚ قَدۡ
بَدَتِ الۡبَغۡضَآءُ مِنۡ
اَفۡوَاہِہِمۡ ۚۖ وَ مَا
تُخۡفِیۡ صُدُوۡرُہُمۡ اَکۡبَرُ ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ
الۡاٰیٰتِ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekali-kali menjadikan teman
kepercayaan selain golongan kamu, لَا یَاۡلُوۡنَکُمۡ
خَبَالًا -- mereka itu tidak akan berhenti menimbulkan kemudaratan bagi kamu.
وَدُّوۡا مَا عَنِتُّمۡ -- Mereka sangat menginginkan melihat kamu dalam kesusahan.
قَدۡ بَدَتِ الۡبَغۡضَآءُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- Sungguh kebencian telah tampak dari
mulut mereka, وَ مَا تُخۡفِیۡ صُدُوۡرُہُمۡ اَکۡبَرُ -- sedangkan apa
yang disembunyikan dada mereka lebih besar lagi. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan kepadamu Ayat-ayat
Kami, jika kamu menggunakan akal.
(Ali
‘Imran [3]:119).
Khabal
dalam ayat: لَا یَاۡلُوۡنَکُمۡ خَبَالًا -- “mereka itu tidak akan berhenti menimbulkan kemudaratan bagi kamu”
berarti: (1) kerusakan baik yang
berkenaan dengan badan atau pikiran atau pun perbuatan; (2) kerugian
atau kemerosotan; (3) kehancuran atau kebinasaan; (4) racun
yang mematikan (Aqrab-ul-Mawarid).
Keabadian
Kedengkian Kain terhadap Habel
Makna
ayat: وَدُّوۡا مَا عَنِتُّمۡ -- Mereka sangat
menginginkan melihat kamu
dalam kesusahan.” (1) Mereka berkeinginan
melihat kamu ditimpa malapetaka atau kemalangan; binasa
atau menjadi lemah dan tak berdaya; atau (2) mereka menginginkan sekali melihat kamu tersesat dari jalan ketakwaan dan menempuh jalan durhaka.
Selanjutnya
Allah Swt. mengemukakan alasan lain
dari melarang menjadikan mereka
sebagai “sahabat karib” dengan mengenyampingkan sesama kaum Muslimin, firman-Nya:
ہٰۤاَنۡتُمۡ اُولَآءِ تُحِبُّوۡنَہُمۡ وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ وَ
تُؤۡمِنُوۡنَ
بِالۡکِتٰبِ کُلِّہٖ ۚ وَ اِذَا لَقُوۡکُمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚ٭ۖ وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ ؕ قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ
الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Ingat, kamu itulah orang-orang
yang mencintai mereka, padahal mereka
sekali-kali tidak mencintai kamu, dan kamu beriman kepada Al-Kitab
seluruhnya. Dan apabila mereka bertemu dengan kamu
mereka berkata: “Kami pun telah
beriman”, tetapi apabila mereka menyendiri, mereka menggigit-gigit jari karena sangat marah
terhadap kamu. Katakanlah: “Matilah
kamu karena kemarahan kamu.”
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada. (Ali
‘Imran [3]:120).
Makna ayat: ہٰۤاَنۡتُمۡ اُولَآءِ تُحِبُّوۡنَہُمۡ وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ -- “Ingat, kamu
itulah orang-orang yang mencintai mereka,” karena memang Nabi Besar Muhammad saw. adalah Rasul Allah yang membawa rahmat untuk seluruh alam (QS.21:108) dan umat Islam dibangkitkan sebagai “umat terbaik” bagi manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144;
QS.3:111), sedangkan mereka: وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ -- “padahal
mereka sekali-kali tidak mencintai kamu.”
Alasan lainnya mengapa umat Islam mencintai golongan Ahli-Kitab adalah: وَ تُؤۡمِنُوۡنَ
بِالۡکِتٰبِ کُلِّہٖ -- “dan kamu
beriman kepada Al-Kitab seluruhnya”, sebab beriman kepada Kitab-kitab suci
yang diwahyukan Allah Swt.
sebelum Al-Quran serta beriman kepada para Rasul Allah yang diutus sebelum
Nabi Besar Muhammad saw. merupakan bagian dari keimanan umat Islam dalam Rukun
Iman (QS.2:286), sedangkan mereka tidak percaya kepada Kitab seluruhnya.”
Makna ayat:
وَ اِذَا لَقُوۡکُمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا -- “Dan apabila mereka bertemu dengan kamu
mereka berkata: “Kami pun telah
beriman” hanyalah
kemunafikan mereka agar
mendapat keuntungan duniawi atau tidak mengalami kerugian
duniawi, karena keadaan hati mereka
yang sesungguhnya adalah: وَ اِذَا
خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ الۡاَنَامِلَ
مِنَ الۡغَیۡظِ -- “tetapi apabila mereka menyendiri, mereka menggigit-gigit jari karena sangat marah terhadap kamu.”
Berlindung
Kepada Allah Swt. dari Kedengkian Para Pendengki dan Pembisik Kewaswasan
Kata-kata: قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ -- “Matilah
oleh kemarahan kamu” ditujukan kepada orang-orang
Yahudi yang memusuhi dan berusaha
membinasakan Islam -- bandingkan dengan kemarahan dan kedengkian Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah- QS.7:12-19). Lebih jauh Allah Swt. memberitahukan kedengkian hati mereka kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam, firman-Nya:
اِنۡ
تَمۡسَسۡکُمۡ حَسَنَۃٌ تَسُؤۡہُمۡ ۫ وَ اِنۡ تُصِبۡکُمۡ
سَیِّئَۃٌ یَّفۡرَحُوۡا بِہَا ؕ وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ
تَتَّقُوۡا لَا یَضُرُّکُمۡ
کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا ؕ اِنَّ
اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ ﴿﴾٪
Jika kamu mendapat kebaikan mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat kesusahan mereka bergembira berkenaan dengannya. وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا -- Tetapi
jika kamu bersabar dan bertakwa لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا -- tipu muslihat mereka tidak akan dapat memudaratkan kamu sedikit
pun. اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ -- Sesungguhnya Allah meliputi apa pun yang
mereka kerjakan. (Ali
‘Imran [3]:119-121).
Makna ayat:
اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ -- Sesungguhnya Allah meliputi apa pun yang
mereka kerjakan”
Allah Swt. akan
meniadakan segala apa yang diperbuat mereka, dan Dia akan membinasakan mereka. Oleh karena itu
orang-orang Islam hendaknya tidak perlu takut kepada mereka. Segala tipu daya musuh-musuh Islam diketahui Allah Swt. dan Dia akan menggagalkan upaya mereka.
Betapa penuh hikmahnya doa meminta perlindungan kepada Allah Swt. yang dikemukakan dalam Surah Al-Falaq dan Surah An-Nās sehubungan dengan kedengkian Iblis terhadap Adam
(Khalifah Allah) dan dari tipu-daya syaitan terutama fitnah Dajjal yang sangat berbahaya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾ مِنۡ شَرِّ
مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ
غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ
شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ شَرِّ
حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb
(Tuhan) Yang Memiliki fajar, dari keburukan
makhluk yang Dia ciptakan, dan dari keburukan
kegelapan malam apabila meliputi, dan dari keburukan
orang-orang yang meniupkan ke dalam
buhul, dan dari keburukan orang yang dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
Firman-Nya lagi:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿۱﴾ قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾ مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾ اِلٰہِ
النَّاسِ ۙ﴿﴾ مِنۡ شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ ۙ﴿﴾ مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb
(Tuhan) manusia, Raja manusia,
Sembahan
manusia, dari keburukan
bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi,
yang membisikkan
ke dalam hati manusia, dari jin dan manusia. (An-Nās
[113]:1-6).
Jadi, betapa pentingnya
memahami kedua surah
penutup Al-Quran tersebut, yang pada hakikatnya merupakan penjagaan
diri dari akibat yang ditimbulkan berpegang pada Tauhid Ilahi yang dikemukakan surah Al-Ikhlash yang merupakan misi
utama pengutusan seluruh Rasul Allah,
khususnya Nabi Besar Muhammad saw, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ
الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 7 Juli 2016
Casino Roll Casino RTP 🎖️ Play 100 Free Spins for New Players
BalasHapusFind all 슬롯나라 the information you need to know 12bet about Casino Roll Casino RTP and find the best bonus. Play top quality 코인갤러리 online slots 바카라 사이트 at Casino Roll for free. 킹스 포커