Sabtu, 16 Juli 2016

Penelantaran Para Penentang Rasul Allah Oleh Syaitan & Nabi Besar Muhammad Saw. Adalah "Ciptaan" Allah Swt. yang Paling Tinggi (Sempurna) dan Syaitan yang Paling Rendah (Hina)



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


PENELANTARAN PARA PENENTANG RASUL ALLAH OLEH     SYAITAN     &  NABI BESAR MUHAMMAD SAW. ADALAH CIPTAAN ALLAH SWT. YANG PALING TINGGI (SEMPURNA) DAN SYAITAN YANG PALING RENDAH (HINA)

Bab 85  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai   dua macam jawaban Allah Swt. mengenai tuntutan orang-orang kafir berkenaan turunnya para malaikat dalam  firman-Nya:
 وَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا ؕ لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ عَمَلٍ فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا ﴿﴾ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا ﴿﴾
Dan berkata orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami: لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ    اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا  --  “Mengapa para malaikat  tidak diturunkan kepada kami? Atau  mengapakah kami tidak melihat Rabb (Tuhan) kami?” لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا کَبِیۡرًا  -- Sesungguhnya mereka terlalu sombong mengenai diri mereka dan mereka telah terlampau jauh dalam kedurhakaan. یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ   --  Pada hari  ketika mereka melihat malaikat-malaikat, tidak ada kabar suka pada hari itu bagi orang-orang yang berdosa, وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا  --  dan mereka berkata: Semoga ada dinding penghalang yang kuat!” وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ عَمَلٍ فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا  --  Dan  akan Kami  hadapi segala pekerjaan yang  mereka kerjakan lalu Kami akan menjadikannya zarrah-zarrah debu yang berhamburanاَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا --   Pada hari itu para penghuni surga  tempat tinggalnya  lebih baik  dan  tempat istirahatnya lebih indah. (Al-Furqan [25]:22-25).

Turunnya Malaikat Azab

     Atas tuntutan pertama yang lancang, orang-orang kafir seperti tersebut dalam ayat sebelumnya diberitahu bahwa malaikat-malaikat pasti akan turun, tetapi mereka – malaikat-malaikat pemberi hukuman itu – ketika mereka itu datang,  orang-orang kafir akan membenci di kala nampak kepada mereka malaikat-malaikat itu, lalu akan mendoa agar suatu penghalang yang kuat hendaknya ditegakkan di antara mereka dengan malaikat-malaikat itu.
     Ada pun terhadap  tuntutan mereka yang kedua (yaitu “mengapakah kami tidak melihat Tuhan kami?” dalam ayat 22): اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا     -- “Atau mengapa para malaikat  tidak diturunkan kepada kami?” Tuntutan takabbur mereia   akan dibalas dengan melenyapkan segala pekerjaan mereka dan hancur-luluhnya mereka seperti zarrah-zarrah debu.
    Pendek kata, bahwa   baik kepada orang-orang yang beriman mau pun kepada orang-orang kafir Allah Swt. bersama para malaikat  benar-benar “mendatangi” mereka tetapi dalam perlakuan yang berbeda, yakni  berupa rahmat dan berupa azab, termasuk di Akhir Zaman ini  firman-Nya:
 وَ یَوۡمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِالۡغَمَامِ وَ نُزِّلَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾  اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾ یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًالَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾   وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan pada hari   ketika langit akan terpecah-belah dengan awan-awan  dan malaikat-malaikat akan diturunkan   bergelombang-gelombangاَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ  --   Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا  --  dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras. وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ   --  Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya  یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا --  lalu berkata:  ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا           -- Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ    --   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- Dan syaitan selalu menelantarkan manusia. وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا   --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا  --    Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah  Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong.  (Al-Furqān [25]:26-32).
   Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa mengenai ayat 26-30 dapat tertuju kepada  Hari Badar sungguh-sungguh merupakan suatu hari yang penuh dengan kesedihan bagi orang-orang kafir Mekkah. Pada hari itulah dasar-dasar Islam diletakkan dengan teguhnya, dan kaum kafir Quraisy telah menyadari kehinaan dan kekalahan pahit yang mereka derita.

Penelantaran oleh Syaitan

  Berkenaan dengan  sikap syaitan dalam ayat selanjutnya: یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا    -- Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ    --   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- dan syaitan selalu menelantarkan manusia”,  sikap syaitan  itu   sesuai dengan firman-Nya:   
وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ   اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata:  اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ     -- “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ    -- dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ   --  dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ   --  Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  -- Aku sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ  --  Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya,  اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ  -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).
   Dengan demikian benarlah yang disabdakan Masih Mau’ud a.s.  berkenaan dengan  syaitan dalam Bab 59:
     “…Hal itu tidak benar adanya. Mereka seharusnya mengetahui bahwa Al-Quran tidak ada mengajarkan kalau syaitan itu memiliki kekuatan memaksa untuk menyesatkan manusia. Begitu juga tidak ada ajaran yang menyatakan bahwa syaitan ditugaskan dengan tujuan menarik manusia kepada dosa. Yang diajarkan adalah bahwa hal itu merupakan cobaan dan ujian.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 80-85, London, 1984).

Fungsi Syaitan dan Para Malaikat

     Selanjutnya mengenai peran atau fungsi syaitan dan para malaikat  bagi manusia, Masih  Mau’ud a.s. bersabda:
   “Beberapa orang bodoh mengemukakan keberatan atas eksistensi (keberadaan) syaitan, sepertinya Tuhan Sendiri menginginkan manusia menjadi sesat. Tidak demikian keadaannya. Setiap orang yang berfikir bisa memahami bahwa setiap manusia memiliki dua fitrat, yaitu yang satu disebut sebagai sentuhan syaitan dan yang lainnya sentuhan malaikat.
   Dengan kata lain, fitrat manusia  memperlihatkan bahwa tanpa diketahui penyebabnya  terkadang muncul fikiran baik dalam kalbunya yang membawanya kepada perbuatan-perbuatan bermanfaat, tetapi juga terkadang muncul fikiran buruk yang menyeretnya kepada perbuatan keji dan dosa. Kekuatan yang menjadi sumber fikiran jahat menurut ajaran Al-Quran disebut sebagai syaitan dan kekuatan yang menjadi sumber fikiran baik adalah malaikat.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  435, London, 1984).
     Itulah makna bahwa syaitan senantiasa “meninggalkan dan menelantarkan” orang-orang kafir yang berhasil diperdayainya:   یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا        -- “Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ    --   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- dan syaitan selalu menelantarkan manusia. (Al-Furqān [25]:29-30). 
      Sedangkan ayat:  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا   --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا  --    Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah  Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong.  (Al-Furqān [25]:31-32).
       Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan  pada masa  Akhir Zaman saat mengenai orang-orang  yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan.
      Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.  Sebabnya adalah karena “ruh” Al-Quran  -- yakni ilmu Al-Quran  --  yang hakiki telah dicabut kembali oleh Allah Swt. akibat kelakuan buruk umat Islam sendiri  setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6), firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [32]:6).
      Ada sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad saw.    yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.

 Ciptaan Tuhan yang Tertinggi dan Terendah

   Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kedudukan  Nabi Besar Muhammad saw. sebagai makhluk yang paling sempurna dari seluruh ciptaan (makhluk) Allah Swt.: 
     “Kami telah mengemukakan,  bahwa yang termasuk     paling sempurna yang wujudnya berada di titik tertinggi garis ciptaan adalah Hadhrat Rasulullah Saw., sedangkan berbanding terbalik dengan beliau yang dianggap sebagai wujud paling buruk dan ditempatkan di ujung paling rendah adalah syaitan.
   Wujud syaitan ini tidak kasat mata dan tidak bisa diraba, tetapi dengan memperhatikan sistem garis ciptaan tersebut, kita harus mengakui bahwa yang patut di berada di titik tertinggi keluhuran ini adalah wujud yang merupakan personifikasi kebaikan dan muncul di dunia sebagai pembimbing kepada kebaikan, sebaliknya yang patut berada di titik terendah adalah wujud yang mengajak dan menarik manusia kepada keburukan.   Karena itulah di kalbu setiap manusia  secara internal terdapat pengaruh dari kedua wujud tersebut.
     Pengaruh suci dari Hadhrat Muhammad Saw. -- yang disebut juga sebagai Ruh Nur dan [Ruh] Kebenaran, -- menggamit setiap kalbu kepada kebaikan melalui niat suci dan dorongan batin. Berapa tingginya derajat kedekatan dan kecintaan yang bersangkutan kepada beliau maka sepadan itu pula yang bersangkutan mencapai tingkat keimanan dan luasnya nur yang merebak di dalam hatinya, sehingga dapat dikatakan ia telah menyerupai warna dan mendapat refleksi  (pantulan) dari segala keluhuran yang menjadi ciri beliau.
      Adapun pengaruh dari wujud yang bernama syaitan yang mengajak manusia kepada dosa dan menarik kalbu manusia yang tertarik kepadanya ke arah syirik  bertempat di titik terendah. Seberapa jauh kedekatan manusia kepadanya, sepadan itu pula fikirannya akan berpaling kepada kekafiran dan kekejian, sampai pada suatu titik dimana ia menjadi mirip sama sekali dengan syaitan dalam segala hal yang bersifat kekejian.
      Para sahabat Sang Rahmān (Maha Pemurah) dan dan para teman syaitan akan tertarik ke arah yang berlainan sejalan dengan kadar hubungan mereka.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm.  248-251, London, 1984).
  Sehubungan dengan kesempurnaan ketinggian maqam (martabat) Nabi Besar Muhammad saw. tersebut, dalam ayat-ayat  berikut ini Allah Swt. berfirman mengenai malaikat  pembawa wahyu Al-Quran,  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ  نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ  عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾  بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh  Rabb (Tuhan) seluruh alam.   نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ  -- Telah turun dengannya  Ruh yang terpercaya عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ  -- atas kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan, بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ --    dengan bahasa Arab yang jelas. وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu. اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --  Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syua’ra [26]:193-198).

Hubungan Rūhul Amīn dan “Al-Amīn

     Makna ayat-ayat ini bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala baru. Seperti amanat-amanat para nabi  Allah sebelumnya demikian pula  amanat Al-Quran juga telah diwahyukan oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim kepada kaum masing-masing, sedang Al-Quran diturunkan untuk seluruh bangsa di dunia: وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ  --  sebab “Al-Quran  diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.”   
      Dalam ayat  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ  --  “telah turun dengannya  Ruh yang terpercaya” ini  malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut rūhul-amīn, yaitu Ruh yang terpercaya – yaitu sebutan lain Malaikat Jibril a.s.. Di tempat lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan terakhir (Rūhul-qudus) dipergunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan yang kekal-abadi dan mutlak Al-Quran dari setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya (QS.15:10; QS.41:42-43).
     Nama kehormatan ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya; dan kata-kata dalam kitab suci itu,   karena berlalunya masa telah menderita campur tangan manusia dan perubahan.
     Sungguh mengherankan, bahwadi Mekkah  Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri dikenal sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibril  a.s. kepada seorang amin!
       Kata-kata “atas kalbu engkau”    telah dibubuhkan dalam ayat selanjutnya: عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ  --   atas kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan” untuk mengatakan  bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan hanya gagasan yang dicetuskan  Nabi Besar Muhammad saw.      dengan perkataan beliau saw. sendiri (QS.53:1-6), melainkan benar-benar Kalam (firman) Allah Swt.  Sendiri, yang turun kepada hati beliau  saw. dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. (QS.2:98).
       Makna ayat:  وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu. اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --  Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syua’ra [26]:197-198).  Hal diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. dan hal diwahyukan-Nya Al-Quran, kedua-duanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
      Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible —yang merupakan kitab suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya  konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat— mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14.

Turunnya Syaitan dan Wahyu Syaitan

    Dalam ayat-ayat  berikut ini Allah Swt. berfirman mengenai turunnya syaitan, firman-Nya:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ عَلٰی مَنۡ تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ   تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ  اَفَّاکٍ  اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ  یُّلۡقُوۡنَ السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ کٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ؕ  وَ الشُّعَرَآءُ  یَتَّبِعُہُمُ  الۡغَاوٗنَ ﴿﴾ؕ  اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّہُمۡ  فِیۡ کُلِّ وَادٍ  یَّہِیۡمُوۡنَ ﴿﴾ۙ  وَ  اَنَّہُمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ مَا  لَا  یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ۙ  اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللّٰہَ  کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا ؕ وَ سَیَعۡلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ  مُنۡقَلَبٍ  یَّنۡقَلِبُوۡنَ﴿﴾٪
Maukah kamu Aku beri tahu   kepada siapa syaitan-syaitan itu turun?  تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ  اَفَّاکٍ  اَثِیۡمٍ --   Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa. یُّلۡقُوۡنَ السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ کٰذِبُوۡنَ   --  Mereka mengarahkan  telinga ke langit dan kebanyakan mereka pendusta.  وَ الشُّعَرَآءُ  یَتَّبِعُہُمُ  الۡغَاوٗنَ --  Dan penyair-penyair itu yang  mengikuti mereka adalah orang yang sesat.  اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّہُمۡ  فِیۡ کُلِّ وَادٍ  یَّہِیۡمُوۡنَ --  Tidakkah engkau melihat  bahwasanya mereka itu berjalan kian-kemari  tanpa tujuan di dalam setiap lembahوَ  اَنَّہُمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ مَا  لَا  یَفۡعَلُوۡنَ  -- dan bahwasanya mereka itu mengatakan apa yang  tidak mereka  lakukanاِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللّٰہَ  کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا --   kecuali orang-orang yang beriman  dan beramal saleh  serta banyak-banyak mengingat Allah, dan mereka   membela diri setelah mereka dizalimi. وَ سَیَعۡلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ  مُنۡقَلَبٍ  یَّنۡقَلِبُوۡنَ  -- Dan orang-orang zalim itu segera akan  mengetahui  ke tempat mana mereka akan kembali  (Asy-Syua’ra [26]:222-228).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 11  Juli   2016

Jumat, 15 Juli 2016

Hubungan Penentangan &Tipu-daya "Iblis" dan "Syaitan" Terhadap Adam (Khalifah Allah) Dengan Surah Al-Fatihah, Al-Falaq, dan An-Naas & Berbeda dengan Para "Malaikat", Keberadaan "Iblis" dan "Syaitan" Hanya di Dunia


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


HUBUNGAN   PENENTANGAN DAN  TIPU-DAYA  IBLIS DAN SYAITAN  TERHADAP ADAM (KHALIFAH ALLAH) DENGAN  SURAH AL-FATIHAH, AL-FALAQ DAN SURAH AN-N-NĀS  &  BERBEDA DENGAN PARA MALAIKAT, KEBERADAAN IBLIS DAN SYAITAN HANYA DI DUNIA

Bab 84

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai  pentingnya berlindung kepada Allah Swt. dari kedengkian para Pendengki  dan pembisik kewaswasan, sehubungan larangan Allah Swt. melakukan hubungan persahabatan dengan mengesampingkan sesama Muslim, firman-Nya:
ہٰۤاَنۡتُمۡ اُولَآءِ تُحِبُّوۡنَہُمۡ وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ کُلِّہٖ ۚ وَ اِذَا لَقُوۡکُمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚ٭ۖ  وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ  الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ ؕ قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Ingat,  kamu itulah  orang-orang yang mencintai mereka, padahal mereka sekali-kali tidak mencintai kamu dan kamu beriman kepada Al-Kitab  seluruhnya. Dan apabila mereka bertemu dengan kamu mereka berkata: “Kami pun telah beriman”,  وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ  الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ -- tetapi apabila mereka menyendiri, mereka menggigit-gigit jari karena sangat marah terhadap kamu.  قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ  -- Katakanlah: “Matilah kamu karena kemarahan kamu.” اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada. (Ali ‘Imran [3]:120). 
  Kata-kata: قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ   --  “Matilah oleh kemarahan kamu” ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang memusuhi dan berusaha membinasakan Islam  -- bandingkan dengan kemarahan  dan kedengkian  Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah- QS.7:12-19).  Lebih jauh Allah Swt. memberitahukan kedengkian hati mereka kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam, firman-Nya:
اِنۡ تَمۡسَسۡکُمۡ حَسَنَۃٌ تَسُؤۡہُمۡ ۫ وَ اِنۡ تُصِبۡکُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّفۡرَحُوۡا بِہَا ؕ وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ ﴿﴾٪
Jika kamu mendapat kebaikan mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat kesusahan mereka bergembira berkenaan dengannya. وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا  -- Tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا --  tipu muslihat mereka tidak akan dapat memudaratkan kamu sedikit pun. اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ  -- Sesungguhnya Allah  meliputi  apa pun yang  mereka kerjakan.  (Ali ‘Imran [3]:119-121).
  Makna ayat:  اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ  -- Sesungguhnya Allah  meliputi  apa pun yang  mereka kerjakan   Allah  Swt.     akan meniadakan segala apa yang diperbuat mereka, dan Dia akan membinasakan mereka. Oleh karena itu orang-orang Islam  hendaknya tidak perlu takut kepada mereka. Segala tipu daya musuh-musuh Islam diketahui Allah Swt.  dan Dia akan menggagalkan upaya mereka.

Doa Mohon Perlindungan Allah Swt. Dalam Surah Al-Falaq dan An-Nās

  Jadi,  Betapa penuh hikmahnya  doa meminta perlindungan kepada Allah Swt. yang dikemukakan dalam Surah Al-Falaq dan Surah An-Nās  sehubungan dengan kedengkian Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah) dan dari  tipu-daya syaitan terutama fitnah Dajjal yang sangat berbahaya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾  مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar,  dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan,  dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,  dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
Firman-Nya lagi:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قُلۡ  اَعُوۡذُ  بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾   مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  اِلٰہِ  النَّاسِ ۙ﴿﴾   مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) manusiaRaja manusia,   Sembahan manusia,    dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi,     yang membisikkan ke dalam hati manusia,   dari jin dan manusia.  (An-Nās [113]:1-6).
    Jadi, betapa betapa  pentingnya   memahami kedua surah penutup  Al-Quran tersebut,  yang pada hakikatnya  merupakan penjagaan diri dari  akibat yang ditimbulkan berpegang pada Tauhid Ilahi yang dikemukakan surah Al-Ikhlash yang merupakan misi utama pengutusan seluruh Rasul Allah  -- khususnya Nabi Besar Muhammad saw. --  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.  Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.  Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,  dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).
       Demikianlah hakikat dua  Kisah Monumental  dalam Al-Quran yang senantiasa akan kembali terulang  -- yakni  kisah monumental “Adam -- Malaikat -- Iblis” dan kisah monumental  “Kebencian di kalangan dua anak Adam”—   yang diabadikan dalam Surah Al-Fatihah yaitu  (a) orang-orang yang mendapat nikmat Allah Swt. (QS.1:6-7; QS.4:70-71) dan (b) maghdhub dan dhāllīn (QS.1:7) yang merupakan penjelmaaan iblis dan syaitan  yang menentang dan menipu Adam (Khalifah Allah (QS.7:12-19).

Keberadaan Syaitan Hanya di Dunia, Sedangkan Malaikat terus Berlanjut di Akhirat

      Kembali kepada penjelasan  Masih Mau’ud a.s. tentang malaikat, walau pun   para malaikat dan syaitan  merupakan instrument  pelaksana kehendak Allah Swt.   – yang bagi pelaksanaan tugasnya tidak akan memperoleh pahala mau  hukuman dari Allah Saw.  --   namun demikian keberadaan serta  fungsi dan tugas para malaikat berlanjut di alam akhirat, sedangkan   keberadaan  syaitan  tidak berlanjut di alam akhirat, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُم   ۡ تُوۡعَدُوۡنَ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾   نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguhتَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ --   kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  --  ”Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  -- Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu mintaنُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ  -- Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā MimAs-Sajdah [41]:31-33).
Firman-Nya lagi:
اِنَّ الَّذِیۡنَ تَوَفّٰہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ظَالِمِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ قَالُوۡا فِیۡمَ کُنۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا کُنَّا مُسۡتَضۡعَفِیۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ قَالُوۡۤا اَلَمۡ تَکُنۡ اَرۡضُ اللّٰہِ وَاسِعَۃً فَتُہَاجِرُوۡا فِیۡہَا ؕ فَاُولٰٓئِکَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ سَآءَتۡ مَصِیۡرًا ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya  orang-orang yang  para malaikat mewafatkan mereka dalam keadaan zalim terhadap dirinya, mereka yakni  para malaikat berkata:  “Bagaimana keadaan kamu dahulu?” Mereka menjawab: “Kami dahulu dipandang lemah di muka bumi.”  Mereka yakni para malaikat berkata:Tidakkah bumi Allah itu luas untuk kamu berhijrah di dalamnya?” Maka mereka inilah yang tempat tinggalnya Jahannam dan sangat buruk tempat kembali itu. (An-Nisa [4]:98). Lihat pula QS.16:29-30; QS.66:7.
Firman-Nya lagi:
وَ الَّذِیۡنَ صَبَرُوا ابۡتِغَآءَ  وَجۡہِ  رَبِّہِمۡ  وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ  وَ  اَنۡفَقُوۡا  مِمَّا  رَزَقۡنٰہُمۡ سِرًّا وَّ عَلَانِیَۃً وَّ یَدۡرَءُوۡنَ بِالۡحَسَنَۃِ السَّیِّئَۃَ  اُولٰٓئِکَ  لَہُمۡ  عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ۙ﴾   جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ   وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ ﴿ۚ﴾  سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ؕ﴾        
Dan orang-orang yang bersabar mencari keridhaan Rabb-nya (Tuhan-nya), mendirikan shalat dan membelanjakan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka  secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan, اُولٰٓئِکَ  لَہُمۡ  عُقۡبَی الدَّارِ  --  mereka itulah yang akan mendapat ganjaran tempat tinggal yang terbaik, جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا  --     kebun-kebun yang abadi, mereka akan masuk ke dalamnya, وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ     --   dan begitupun barangsiapa yang saleh dari antara bapak-bapak merekaistri-istri mereka dan keturunan mereka. وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ  --   Dan malaikat-malaikat akan masuk kepada mereka dari setiap pintu seraya berkata:  سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ --    Selamat sejahtera atas kamu, sebab kamu telah bersabar; maka lihatlah betapa bagusnya ganjaran tem-pat tinggal itu!” (Ar-Rā’d [13]:23-25).

“Keluarga Surgawi” di Dunia dan di Akhirat  & Turunnya Para Malaikat Azab Kepada Orang-orang Berdosa

       Ayat:   وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ     --   “dan begitupun barangsiapa yang saleh dari antara bapak-bapak merekaistri-istri mereka dan keturunan mereka”,  ayat  ini mengemukakan suatu asas yang tinggi nilainya. Tiap-tiap amal saleh yang dikerjakan orang, dilakukan berkat adanya bantuan atau kerja sama dari sanak-saudaranya dan kaum kerabatnya dengan sengaja atau tidak, maka mereka itu semua dibuat ikut serta menurut besarnya sumbangan mereka dalam menikmati keuntungan yang ia peroleh.
       Makna ayat:  وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ  --   “Dan malaikat-malaikat akan masuk kepada mereka dari setiap pintu”  bahwa berbagai jenis amal saleh orang-orang beriman itu di akhirat akan diperlihatkan sebagai sekian banyak pintu gerbang ke surga.
     Pendek kata,  bahwa pada hakikatnya para malaikat  sesuai dengan ketentuan Allah Swt.  mereka  itu “turun” kepada semua manusia – baik kepada orang-orang yang beriman mau pun kepada orang-orang kafir, bahkan kepada orang-orang yang tidak percaya kepada  keberadaan Tuhan (Atheis) sekali pun  --  tetapi bentuk  “turunnya” para malaikat tersebut sangat berbeda, yakni kepada orang-orang beriman  mereka “turun” sebagai “malaikat rahmat” sedangkan kepada orang-orang kafir sebagai “malaikat azab”, firman-Nya:
ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ یَّاۡتِیَہُمُ اللّٰہُ فِیۡ ظُلَلٍ مِّنَ الۡغَمَامِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ قُضِیَ الۡاَمۡرُ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾٪
Apakah yang mereka tunggu-tunggu kecuali bahwa Allah datang  kepada mereka dalam naungan awan  bersama malaikat-malaikat  dan agar perkara itu diputuskan? Dan kepada Allah segala perkara dikembalikan. (Al-Baqarah [2]:211). Lihat pula QS.6:159; QS.16:34; QS.89:23.  
    Perkataan  “kedatangan Allah” dipakai oleh Al-Quran di tempat lain juga berkenaan  kedatangan azab Ilahi  dari arah yang tidak  duga  oleh orang-orang kafir (QS.16:27; QS.59:3), dengan demikian “kedatangan Allah” berarti  kedatangan siksaan  Allah Swt. yang bersifat final.
      Kata al-ghamām (awan) telah dipakai oleh Al-Quran untuk menyatakan rahmat (QS.7:161) dan azab (QS.25:26). Ada pun yang diisyaratkan ayat ini  ialah perang Badar ketika Allah Swt.   menolong orang-orang beriman  dengan menurunkan awan dan hujan (Bukhari) seperti dijanjikan kepada mereka (QS.25:26), dan pula menurunkan para malaikat (QS.8:10) yang mengobarkan keberanian orang-orang beriman  dan memenuhi hati orang-orang kafir dengan ketakutan (QS.8:13).
     Beberapa orang kafir menurut riwayat benar-benar menyaksikan malaikat-malaikat pada hari itu (Zurqani), firman-Nya:
قَدۡ مَکَرَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَاَتَی اللّٰہُ بُنۡیَانَہُمۡ مِّنَ الۡقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَیۡہِمُ السَّقۡفُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ اَتٰىہُمُ الۡعَذَابُ مِنۡ  حَیۡثُ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یُخۡزِیۡہِمۡ وَ یَقُوۡلُ اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ  کُنۡتُمۡ  تُشَآقُّوۡنَ فِیۡہِمۡ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ  اِنَّ الۡخِزۡیَ الۡیَوۡمَ  وَ السُّوۡٓءَ  عَلَی  الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah membuat makar   lalu  Allah mendatangi landasan-landasan bangunannya maka  atap dari atas mereka runtuh menimpa mereka,   dan kepada mereka datang azab dari arah yang tidak mereka ketahui. ثُمَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یُخۡزِیۡہِم  --   Kemudian pada Hari Kiamat Dia akan menghinakan mereka وَ یَقُوۡلُ اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ  کُنۡتُمۡ  تُشَآقُّوۡنَ فِیۡہِم -- dan Dia akan berfirman:  ”Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu yang  senantiasa kamu gunakan untuk menentang rasul-rasul-Ku?” قَالَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ  اِنَّ الۡخِزۡیَ الۡیَوۡمَ  وَ السُّوۡٓءَ  عَلَی  الۡکٰفِرِیۡنَ --  Orang-orang yang telah diberi ilmu akan berkata: “Sesungguhnya ini hari kehinaan dan musibah atas orang-orang kafir”  (An-Nahl [16]:27-28).

Tuntutan Orang-orang Takabbur Dijawab dengan Azab Mengerikan

       Kemudian dalam surah berikut ini Allah Swt.  menjelaskan mengenai  ketakaburan para penentang Rasul Allah, firman-Nya:
 وَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا ؕ لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ عَمَلٍ فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا ﴿﴾ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا ﴿﴾
Dan berkata orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami: لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ    اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا  --  “Mengapa para malaikat  tidak diturunkan kepada kami? Atau  mengapakah kami tidak melihat Rabb (Tuhan) kami?” لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا کَبِیۡرًا  -- Sesungguhnya mereka terlalu sombong mengenai diri mereka dan mereka telah terlampau jauh dalam kedurhakaan. یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ   --  Pada hari  ketika mereka melihat malaikat-malaikat, tidak ada kabar suka pada hari itu bagi orang-orang yang berdosa, وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا  --  dan mereka berkata: Semoga ada dinding penghalang yang kuat!” وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ عَمَلٍ فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا  --  Dan  akan Kami  hadapi segala pekerjaan yang  mereka kerjakan lalu Kami akan menjadikannya zarrah-zarrah debu yang berhamburanاَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا --   Pada hari itu para penghuni surga  tempat tinggalnya  lebih baik  dan  tempat istirahatnya lebih indah. (Al-Furqan [25]:22-25).
      Yang diisyaratkan  ayat:  یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ   --  Pada hari  ketika mereka melihat malaikat-malaikat, tidak ada kabar suka pada hari itu bagi orang-orang yang berdosa”  adalah perang Badar ketika Allah Swt.  menolong orang-orang beriman  dengan menurunkan awan dan hujan (Bukhari) seperti dijanjikan kepada mereka (QS.25:26), dan pula menurunkan para malaikat (QS.8:10) yang mengobarkan keberanian orang-orang beriman  dan memenuhi hati orang-orang kafir dengan ketakutan (QS.8:13). Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa beberapa orang kafir menurut riwayat benar-benar menyaksikan malaikat-malaikat pada hari perang Badar itu (Zurqani). 
    Seorang-orang Arab akan mempergunakan kata-kata hijran mahjūran bila ia dihadapkan kepada suatu hal yang ia tidak sukai, maksudnya: “biarlah ia tetap jauh dariku  agar aku jangan menderita karenanya” (Lexicon Lane & Mufradat): وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا  --  dan mereka berkata: Semoga ada dinding penghalang yang kuat!”

Dua Macam Jawaban Allah Swt.

    Jadi, sebagai jawaban atas tuntutan pertama yang lancang, orang-orang kafir seperti tersebut dalam ayat sebelumnya diberitahu bahwa malaikat-malaikat pasti akan turun, tetapi mereka – malaikat-malaikat pemberi hukuman itu – ketika mereka itu datang,  orang-orang kafir akan membenci di kala nampak kepada mereka malaikat-malaikat itu, lalu akan mendoa agar suatu penghalang yang kuat hendaknya ditegakkan di antara mereka dengan malaikat-malaikat itu.
      Ada pun terhadap  tuntutan mereka yang kedua (yaitu “mengapakah kami tidak melihat Tuhan kami?” dalam ayat 22): اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا     -- “Atau mengapa para malaikat  tidak diturunkan kepada kami?” Tuntutan takabbur mereia   akan dibalas dengan melenyapkan segala pekerjaan mereka dan hancur-luluhnya mereka seperti zarrah-zarrah debu.
     Pendek kata, bahwa   baik kepada orang-orang yang beriman mau pun kepada orang-orang kafir Allah Swt. bersama para malaikat  benar-benar “mendatangi” mereka tetapi dalam perlakuan yang berbeda, yakni  berupa rahmat dan berupa azab, termasuk di Akhir Zaman ini  firman-Nya:
 وَ یَوۡمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِالۡغَمَامِ وَ نُزِّلَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾  اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾ یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًالَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾   وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan pada hari   ketika langit akan terpecah-belah dengan awan-awan  dan malaikat-malaikat akan di-turunkan   bergelombang-gelombangاَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ  --   Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا  --  dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras. وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ   --  Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya  یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا --  lalu berkata:  ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا           -- Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ    --   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- Dan syaitan selalu menelantarkan manusia. وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا   --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا  --    Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah  Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong.  (Al-Furqān [25]:26-32).
   Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa mengenai ayat 26-30 dapat tertuju kepada  Hari Badar sungguh-sungguh merupakan suatu hari yang penuh dengan kesedihan bagi orang-orang kafir Mekkah. Pada hari itulah dasar-dasar Islam diletakkan dengan teguhnya, dan kaum kafir Quraisy telah menyadari kehinaan dan kekalahan pahit yang mereka derita.

Penelantaran oleh Syaitan

   Berkenaan dengan  sikap syaitan dalam ayat selanjutnya: یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا    -- Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ    --   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- dan syaitan selalu menelantarkan manusia”,  sikap syaitan  itu   sesuai dengan firman-Nya:   
وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ   اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata:  اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ     -- “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ    -- dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ   --  dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ   --  Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  -- Aku sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ  --  Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya,  اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ  -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 9  Juli   2016