Jumat, 15 Juli 2016

Hubungan Penentangan &Tipu-daya "Iblis" dan "Syaitan" Terhadap Adam (Khalifah Allah) Dengan Surah Al-Fatihah, Al-Falaq, dan An-Naas & Berbeda dengan Para "Malaikat", Keberadaan "Iblis" dan "Syaitan" Hanya di Dunia


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


HUBUNGAN   PENENTANGAN DAN  TIPU-DAYA  IBLIS DAN SYAITAN  TERHADAP ADAM (KHALIFAH ALLAH) DENGAN  SURAH AL-FATIHAH, AL-FALAQ DAN SURAH AN-N-NĀS  &  BERBEDA DENGAN PARA MALAIKAT, KEBERADAAN IBLIS DAN SYAITAN HANYA DI DUNIA

Bab 84

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai  pentingnya berlindung kepada Allah Swt. dari kedengkian para Pendengki  dan pembisik kewaswasan, sehubungan larangan Allah Swt. melakukan hubungan persahabatan dengan mengesampingkan sesama Muslim, firman-Nya:
ہٰۤاَنۡتُمۡ اُولَآءِ تُحِبُّوۡنَہُمۡ وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ کُلِّہٖ ۚ وَ اِذَا لَقُوۡکُمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚ٭ۖ  وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ  الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ ؕ قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Ingat,  kamu itulah  orang-orang yang mencintai mereka, padahal mereka sekali-kali tidak mencintai kamu dan kamu beriman kepada Al-Kitab  seluruhnya. Dan apabila mereka bertemu dengan kamu mereka berkata: “Kami pun telah beriman”,  وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ  الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ -- tetapi apabila mereka menyendiri, mereka menggigit-gigit jari karena sangat marah terhadap kamu.  قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ  -- Katakanlah: “Matilah kamu karena kemarahan kamu.” اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada. (Ali ‘Imran [3]:120). 
  Kata-kata: قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ   --  “Matilah oleh kemarahan kamu” ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang memusuhi dan berusaha membinasakan Islam  -- bandingkan dengan kemarahan  dan kedengkian  Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah- QS.7:12-19).  Lebih jauh Allah Swt. memberitahukan kedengkian hati mereka kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam, firman-Nya:
اِنۡ تَمۡسَسۡکُمۡ حَسَنَۃٌ تَسُؤۡہُمۡ ۫ وَ اِنۡ تُصِبۡکُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّفۡرَحُوۡا بِہَا ؕ وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ ﴿﴾٪
Jika kamu mendapat kebaikan mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat kesusahan mereka bergembira berkenaan dengannya. وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا  -- Tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا --  tipu muslihat mereka tidak akan dapat memudaratkan kamu sedikit pun. اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ  -- Sesungguhnya Allah  meliputi  apa pun yang  mereka kerjakan.  (Ali ‘Imran [3]:119-121).
  Makna ayat:  اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ  -- Sesungguhnya Allah  meliputi  apa pun yang  mereka kerjakan   Allah  Swt.     akan meniadakan segala apa yang diperbuat mereka, dan Dia akan membinasakan mereka. Oleh karena itu orang-orang Islam  hendaknya tidak perlu takut kepada mereka. Segala tipu daya musuh-musuh Islam diketahui Allah Swt.  dan Dia akan menggagalkan upaya mereka.

Doa Mohon Perlindungan Allah Swt. Dalam Surah Al-Falaq dan An-Nās

  Jadi,  Betapa penuh hikmahnya  doa meminta perlindungan kepada Allah Swt. yang dikemukakan dalam Surah Al-Falaq dan Surah An-Nās  sehubungan dengan kedengkian Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah) dan dari  tipu-daya syaitan terutama fitnah Dajjal yang sangat berbahaya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾  مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar,  dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan,  dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,  dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
Firman-Nya lagi:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ قُلۡ  اَعُوۡذُ  بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾   مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  اِلٰہِ  النَّاسِ ۙ﴿﴾   مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) manusiaRaja manusia,   Sembahan manusia,    dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi,     yang membisikkan ke dalam hati manusia,   dari jin dan manusia.  (An-Nās [113]:1-6).
    Jadi, betapa betapa  pentingnya   memahami kedua surah penutup  Al-Quran tersebut,  yang pada hakikatnya  merupakan penjagaan diri dari  akibat yang ditimbulkan berpegang pada Tauhid Ilahi yang dikemukakan surah Al-Ikhlash yang merupakan misi utama pengutusan seluruh Rasul Allah  -- khususnya Nabi Besar Muhammad saw. --  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.  Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.  Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,  dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).
       Demikianlah hakikat dua  Kisah Monumental  dalam Al-Quran yang senantiasa akan kembali terulang  -- yakni  kisah monumental “Adam -- Malaikat -- Iblis” dan kisah monumental  “Kebencian di kalangan dua anak Adam”—   yang diabadikan dalam Surah Al-Fatihah yaitu  (a) orang-orang yang mendapat nikmat Allah Swt. (QS.1:6-7; QS.4:70-71) dan (b) maghdhub dan dhāllīn (QS.1:7) yang merupakan penjelmaaan iblis dan syaitan  yang menentang dan menipu Adam (Khalifah Allah (QS.7:12-19).

Keberadaan Syaitan Hanya di Dunia, Sedangkan Malaikat terus Berlanjut di Akhirat

      Kembali kepada penjelasan  Masih Mau’ud a.s. tentang malaikat, walau pun   para malaikat dan syaitan  merupakan instrument  pelaksana kehendak Allah Swt.   – yang bagi pelaksanaan tugasnya tidak akan memperoleh pahala mau  hukuman dari Allah Saw.  --   namun demikian keberadaan serta  fungsi dan tugas para malaikat berlanjut di alam akhirat, sedangkan   keberadaan  syaitan  tidak berlanjut di alam akhirat, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُم   ۡ تُوۡعَدُوۡنَ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾   نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguhتَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ --   kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  --  ”Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  -- Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu mintaنُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ  -- Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā MimAs-Sajdah [41]:31-33).
Firman-Nya lagi:
اِنَّ الَّذِیۡنَ تَوَفّٰہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ظَالِمِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ قَالُوۡا فِیۡمَ کُنۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا کُنَّا مُسۡتَضۡعَفِیۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ قَالُوۡۤا اَلَمۡ تَکُنۡ اَرۡضُ اللّٰہِ وَاسِعَۃً فَتُہَاجِرُوۡا فِیۡہَا ؕ فَاُولٰٓئِکَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ سَآءَتۡ مَصِیۡرًا ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya  orang-orang yang  para malaikat mewafatkan mereka dalam keadaan zalim terhadap dirinya, mereka yakni  para malaikat berkata:  “Bagaimana keadaan kamu dahulu?” Mereka menjawab: “Kami dahulu dipandang lemah di muka bumi.”  Mereka yakni para malaikat berkata:Tidakkah bumi Allah itu luas untuk kamu berhijrah di dalamnya?” Maka mereka inilah yang tempat tinggalnya Jahannam dan sangat buruk tempat kembali itu. (An-Nisa [4]:98). Lihat pula QS.16:29-30; QS.66:7.
Firman-Nya lagi:
وَ الَّذِیۡنَ صَبَرُوا ابۡتِغَآءَ  وَجۡہِ  رَبِّہِمۡ  وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ  وَ  اَنۡفَقُوۡا  مِمَّا  رَزَقۡنٰہُمۡ سِرًّا وَّ عَلَانِیَۃً وَّ یَدۡرَءُوۡنَ بِالۡحَسَنَۃِ السَّیِّئَۃَ  اُولٰٓئِکَ  لَہُمۡ  عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ۙ﴾   جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ   وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ ﴿ۚ﴾  سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ؕ﴾        
Dan orang-orang yang bersabar mencari keridhaan Rabb-nya (Tuhan-nya), mendirikan shalat dan membelanjakan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka  secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan, اُولٰٓئِکَ  لَہُمۡ  عُقۡبَی الدَّارِ  --  mereka itulah yang akan mendapat ganjaran tempat tinggal yang terbaik, جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا  --     kebun-kebun yang abadi, mereka akan masuk ke dalamnya, وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ     --   dan begitupun barangsiapa yang saleh dari antara bapak-bapak merekaistri-istri mereka dan keturunan mereka. وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ  --   Dan malaikat-malaikat akan masuk kepada mereka dari setiap pintu seraya berkata:  سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ --    Selamat sejahtera atas kamu, sebab kamu telah bersabar; maka lihatlah betapa bagusnya ganjaran tem-pat tinggal itu!” (Ar-Rā’d [13]:23-25).

“Keluarga Surgawi” di Dunia dan di Akhirat  & Turunnya Para Malaikat Azab Kepada Orang-orang Berdosa

       Ayat:   وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ     --   “dan begitupun barangsiapa yang saleh dari antara bapak-bapak merekaistri-istri mereka dan keturunan mereka”,  ayat  ini mengemukakan suatu asas yang tinggi nilainya. Tiap-tiap amal saleh yang dikerjakan orang, dilakukan berkat adanya bantuan atau kerja sama dari sanak-saudaranya dan kaum kerabatnya dengan sengaja atau tidak, maka mereka itu semua dibuat ikut serta menurut besarnya sumbangan mereka dalam menikmati keuntungan yang ia peroleh.
       Makna ayat:  وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ  --   “Dan malaikat-malaikat akan masuk kepada mereka dari setiap pintu”  bahwa berbagai jenis amal saleh orang-orang beriman itu di akhirat akan diperlihatkan sebagai sekian banyak pintu gerbang ke surga.
     Pendek kata,  bahwa pada hakikatnya para malaikat  sesuai dengan ketentuan Allah Swt.  mereka  itu “turun” kepada semua manusia – baik kepada orang-orang yang beriman mau pun kepada orang-orang kafir, bahkan kepada orang-orang yang tidak percaya kepada  keberadaan Tuhan (Atheis) sekali pun  --  tetapi bentuk  “turunnya” para malaikat tersebut sangat berbeda, yakni kepada orang-orang beriman  mereka “turun” sebagai “malaikat rahmat” sedangkan kepada orang-orang kafir sebagai “malaikat azab”, firman-Nya:
ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ یَّاۡتِیَہُمُ اللّٰہُ فِیۡ ظُلَلٍ مِّنَ الۡغَمَامِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ قُضِیَ الۡاَمۡرُ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾٪
Apakah yang mereka tunggu-tunggu kecuali bahwa Allah datang  kepada mereka dalam naungan awan  bersama malaikat-malaikat  dan agar perkara itu diputuskan? Dan kepada Allah segala perkara dikembalikan. (Al-Baqarah [2]:211). Lihat pula QS.6:159; QS.16:34; QS.89:23.  
    Perkataan  “kedatangan Allah” dipakai oleh Al-Quran di tempat lain juga berkenaan  kedatangan azab Ilahi  dari arah yang tidak  duga  oleh orang-orang kafir (QS.16:27; QS.59:3), dengan demikian “kedatangan Allah” berarti  kedatangan siksaan  Allah Swt. yang bersifat final.
      Kata al-ghamām (awan) telah dipakai oleh Al-Quran untuk menyatakan rahmat (QS.7:161) dan azab (QS.25:26). Ada pun yang diisyaratkan ayat ini  ialah perang Badar ketika Allah Swt.   menolong orang-orang beriman  dengan menurunkan awan dan hujan (Bukhari) seperti dijanjikan kepada mereka (QS.25:26), dan pula menurunkan para malaikat (QS.8:10) yang mengobarkan keberanian orang-orang beriman  dan memenuhi hati orang-orang kafir dengan ketakutan (QS.8:13).
     Beberapa orang kafir menurut riwayat benar-benar menyaksikan malaikat-malaikat pada hari itu (Zurqani), firman-Nya:
قَدۡ مَکَرَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَاَتَی اللّٰہُ بُنۡیَانَہُمۡ مِّنَ الۡقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَیۡہِمُ السَّقۡفُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ اَتٰىہُمُ الۡعَذَابُ مِنۡ  حَیۡثُ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یُخۡزِیۡہِمۡ وَ یَقُوۡلُ اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ  کُنۡتُمۡ  تُشَآقُّوۡنَ فِیۡہِمۡ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ  اِنَّ الۡخِزۡیَ الۡیَوۡمَ  وَ السُّوۡٓءَ  عَلَی  الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah membuat makar   lalu  Allah mendatangi landasan-landasan bangunannya maka  atap dari atas mereka runtuh menimpa mereka,   dan kepada mereka datang azab dari arah yang tidak mereka ketahui. ثُمَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یُخۡزِیۡہِم  --   Kemudian pada Hari Kiamat Dia akan menghinakan mereka وَ یَقُوۡلُ اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ  کُنۡتُمۡ  تُشَآقُّوۡنَ فِیۡہِم -- dan Dia akan berfirman:  ”Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu yang  senantiasa kamu gunakan untuk menentang rasul-rasul-Ku?” قَالَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ  اِنَّ الۡخِزۡیَ الۡیَوۡمَ  وَ السُّوۡٓءَ  عَلَی  الۡکٰفِرِیۡنَ --  Orang-orang yang telah diberi ilmu akan berkata: “Sesungguhnya ini hari kehinaan dan musibah atas orang-orang kafir”  (An-Nahl [16]:27-28).

Tuntutan Orang-orang Takabbur Dijawab dengan Azab Mengerikan

       Kemudian dalam surah berikut ini Allah Swt.  menjelaskan mengenai  ketakaburan para penentang Rasul Allah, firman-Nya:
 وَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا ؕ لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ عَمَلٍ فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا ﴿﴾ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا ﴿﴾
Dan berkata orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami: لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ    اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا  --  “Mengapa para malaikat  tidak diturunkan kepada kami? Atau  mengapakah kami tidak melihat Rabb (Tuhan) kami?” لَقَدِ اسۡتَکۡبَرُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ وَ عَتَوۡ عُتُوًّا کَبِیۡرًا  -- Sesungguhnya mereka terlalu sombong mengenai diri mereka dan mereka telah terlampau jauh dalam kedurhakaan. یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ   --  Pada hari  ketika mereka melihat malaikat-malaikat, tidak ada kabar suka pada hari itu bagi orang-orang yang berdosa, وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا  --  dan mereka berkata: Semoga ada dinding penghalang yang kuat!” وَ قَدِمۡنَاۤ اِلٰی مَا عَمِلُوۡا مِنۡ عَمَلٍ فَجَعَلۡنٰہُ ہَبَآءً مَّنۡثُوۡرًا  --  Dan  akan Kami  hadapi segala pekerjaan yang  mereka kerjakan lalu Kami akan menjadikannya zarrah-zarrah debu yang berhamburanاَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ یَوۡمَئِذٍ خَیۡرٌ مُّسۡتَقَرًّا وَّ اَحۡسَنُ مَقِیۡلًا --   Pada hari itu para penghuni surga  tempat tinggalnya  lebih baik  dan  tempat istirahatnya lebih indah. (Al-Furqan [25]:22-25).
      Yang diisyaratkan  ayat:  یَوۡمَ یَرَوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ لَا بُشۡرٰی یَوۡمَئِذٍ لِّلۡمُجۡرِمِیۡنَ   --  Pada hari  ketika mereka melihat malaikat-malaikat, tidak ada kabar suka pada hari itu bagi orang-orang yang berdosa”  adalah perang Badar ketika Allah Swt.  menolong orang-orang beriman  dengan menurunkan awan dan hujan (Bukhari) seperti dijanjikan kepada mereka (QS.25:26), dan pula menurunkan para malaikat (QS.8:10) yang mengobarkan keberanian orang-orang beriman  dan memenuhi hati orang-orang kafir dengan ketakutan (QS.8:13). Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa beberapa orang kafir menurut riwayat benar-benar menyaksikan malaikat-malaikat pada hari perang Badar itu (Zurqani). 
    Seorang-orang Arab akan mempergunakan kata-kata hijran mahjūran bila ia dihadapkan kepada suatu hal yang ia tidak sukai, maksudnya: “biarlah ia tetap jauh dariku  agar aku jangan menderita karenanya” (Lexicon Lane & Mufradat): وَ یَقُوۡلُوۡنَ حِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا  --  dan mereka berkata: Semoga ada dinding penghalang yang kuat!”

Dua Macam Jawaban Allah Swt.

    Jadi, sebagai jawaban atas tuntutan pertama yang lancang, orang-orang kafir seperti tersebut dalam ayat sebelumnya diberitahu bahwa malaikat-malaikat pasti akan turun, tetapi mereka – malaikat-malaikat pemberi hukuman itu – ketika mereka itu datang,  orang-orang kafir akan membenci di kala nampak kepada mereka malaikat-malaikat itu, lalu akan mendoa agar suatu penghalang yang kuat hendaknya ditegakkan di antara mereka dengan malaikat-malaikat itu.
      Ada pun terhadap  tuntutan mereka yang kedua (yaitu “mengapakah kami tidak melihat Tuhan kami?” dalam ayat 22): اَوۡ نَرٰی رَبَّنَا     -- “Atau mengapa para malaikat  tidak diturunkan kepada kami?” Tuntutan takabbur mereia   akan dibalas dengan melenyapkan segala pekerjaan mereka dan hancur-luluhnya mereka seperti zarrah-zarrah debu.
     Pendek kata, bahwa   baik kepada orang-orang yang beriman mau pun kepada orang-orang kafir Allah Swt. bersama para malaikat  benar-benar “mendatangi” mereka tetapi dalam perlakuan yang berbeda, yakni  berupa rahmat dan berupa azab, termasuk di Akhir Zaman ini  firman-Nya:
 وَ یَوۡمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِالۡغَمَامِ وَ نُزِّلَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾  اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾ یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًالَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾   وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan pada hari   ketika langit akan terpecah-belah dengan awan-awan  dan malaikat-malaikat akan di-turunkan   bergelombang-gelombangاَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ  --   Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا  --  dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras. وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ   --  Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya  یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا --  lalu berkata:  ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا           -- Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ    --   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- Dan syaitan selalu menelantarkan manusia. وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا   --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا  --    Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah  Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong.  (Al-Furqān [25]:26-32).
   Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa mengenai ayat 26-30 dapat tertuju kepada  Hari Badar sungguh-sungguh merupakan suatu hari yang penuh dengan kesedihan bagi orang-orang kafir Mekkah. Pada hari itulah dasar-dasar Islam diletakkan dengan teguhnya, dan kaum kafir Quraisy telah menyadari kehinaan dan kekalahan pahit yang mereka derita.

Penelantaran oleh Syaitan

   Berkenaan dengan  sikap syaitan dalam ayat selanjutnya: یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا    -- Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ    --   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- dan syaitan selalu menelantarkan manusia”,  sikap syaitan  itu   sesuai dengan firman-Nya:   
وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ   اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata:  اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ     -- “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ    -- dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ   --  dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ   --  Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  -- Aku sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ  --  Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya,  اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ  -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 9  Juli   2016



Rabu, 13 Juli 2016

Makna "Pohon Terlarang" dan "Pohon Terkutuk" Dalam Al-Quran


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


MAKNA “POHON TERLARANG” DAN “POHON TERKUTUK” DALAM AL-QURAN

Bab 83

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab  sebelumnya   telah dikemukakan  mengenai  kasyaf yang dilihat Nabi Besar Muhammad saw.  -- yakni  beliau saw. mengimami shalat berjamaah bersama para nabi Allah  --    yang  mengandung arti bahwa pada suatu ketika di masa yang akan datang, para pengikut nabi-nabi tersebut akan masuk ke haribaan Islam.
       Inilah yang dimaksud oleh kata-kata  اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ  -- “sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung dengan menakdirkan kebinasaan umat ini”. Penyebaran Islam secara meluas akan datang sesudah terjadi bencana-bencana yang akan melanda seluruh dunia seperti telah disinggung dalam  ayat 57 dalam firman-Nya berikut ini:
 وَ اِنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اِلَّا نَحۡنُ  مُہۡلِکُوۡہَا قَبۡلَ یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ  اَوۡ مُعَذِّبُوۡہَا عَذَابًا شَدِیۡدًا ؕ کَانَ  ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿﴾  وَ مَا مَنَعَنَاۤ  اَنۡ  نُّرۡسِلَ بِالۡاٰیٰتِ اِلَّاۤ  اَنۡ  کَذَّبَ بِہَا الۡاَوَّلُوۡنَ ؕ وَ اٰتَیۡنَا ثَمُوۡدَ النَّاقَۃَ  مُبۡصِرَۃً  فَظَلَمُوۡا بِہَا ؕ وَ مَا نُرۡسِلُ  بِالۡاٰیٰتِ  اِلَّا  تَخۡوِیۡفًا ﴿﴾    وَ اِذۡ قُلۡنَا  لَکَ  اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا الَّتِیۡۤ  اَرَیۡنٰکَ اِلَّا فِتۡنَۃً  لِّلنَّاسِ وَ الشَّجَرَۃَ  الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ  اِلَّا  طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Dan tidak ada suatu negeri pun melainkan Kami menghancurkannya sebelum Hari Kiamat atau mengazabnya dengan azab yang sangat keras,  yang demikian itu telah tertulis dalam Kitab.   Dan sekali-kali tidak ada yang dapat menghalangi Kami untuk mengirimkan Tanda-tanda melainkan bahwa orang-orang dahulu telah mendustakannya, dan Kami memberikan kepada Tsamud unta betina se-bagai suatu Tanda yang nyata, tetapi mereka mengzaliminya.  Dan Kami tidak mengirimkan Tanda-tanda melainkan untuk menakuti. وَ اِذۡ قُلۡنَا  لَکَ  اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ  --  Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada engkau: “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung orang-orang ini dengan kebina-saan. وَ مَا جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا الَّتِیۡۤ  اَرَیۡنٰکَ اِلَّا فِتۡنَۃً  لِّلنَّاسِ  --   Dan tidaklah Kami menjadikan rukya yang telah Kami perli-hatkan kepada engkau melainkan sebagai cobaan  bagi manusia,  وَ الشَّجَرَۃَ  الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ -- dan juga pohon terkutuk  dalam Al-Quran. وَ نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ  اِلَّا  طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا  --  Dan Kami menakut-nakuti mereka tetapi itu tidak menambah kepada mereka kecuali kedurhakaan amat besar   (Bani Israil [17]:59-61).

Peringatan Allah Swt. Kepada Umat Islam

       Agaknya “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi yang telah berulang kali disebut dalam Al-Quran dikutuk oleh Allah Swt.    (QS.2:88-89; QS.5:14, 61, 65, 79). Kutukan Allah Swt. telah mengejar-ngejar kaum yang malang ini semenjak Nabi Daud a.s. mengutuk mereka sampai di Akhir Zaman  ini.
       Penafsiran mengenai ungkapan  “pohon terkutuk” tersebut  ditunjang oleh kenyataan bahwa Surah ini secara istimewa membahas hal ihwal kaum Bani Israil, seperti diisyaratkan oleh nama Surah ini sendiri, yaitu Bani Israil atau Surah Al-Isra sebagaimana dikemukakan dalam ayat 2 mengenai peristiwa ruhani  isra Nabi Besar Muhammad saw..  
       Kenyataan bahwa ayat ini mulai dengan menyebut kasyaf Nabi Besar Muhammad saw.,  dan di dalam kasyaf itu  melihat diri beliau saw. di “Masjidil-Aqsha” di Yerusalem shalat mengimami nabi-nabi Bani Israil   — pusat agama Yahudi — memberi dukungan lebih lanjut kepada anggapan, bahwa yang dimaksud oleh “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi.
       Kata   syajarah mengandung pula arti suku bangsa. Ayat ini membahas kasyaf itu, dan juga membahas kaum Yahudi (pohon terkutuk) yang oleh kasyaf ini disinggung secara khusus sebagai “cobaan bagi manusia.” Orang-orang Yahudi pada tiap kurun zaman telah menjadi sumber kesengsaraan dan penderitaan bagi umat manusia, terutama bagi umat Islam.
      Jadi, pada hakikatnya peringatan Allah Swt. kepada “Adam dan istrinya”  --  untuk menjauhi “pohon terlarang” -- itu pulalah peringatan Allah Swt. kepada umat Islam dalam firman-Nya  berikut ini:
لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman, dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan Allah sedikit pun, اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً  -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya.  وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ  -- Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya,  --  dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali ‘Imran [3]:29). Lihat pula QS.3:119; QS.4:140-141.
 
Pentingnya Kewaspadaan Dalam Masalah Hubungan Internasional

    Dengan diperolehnya kekuatan politik oleh Islam  -- seperti dijanjikan dalam ayat-ayat sebelumnya (QS.3:27-28)  -- maka bagi negara Islam mengadakan persekutuan-persekutuan politik itu menjadi sangat perlu. Berikut  firman Allah Swt.  mengenai   kekuatan politik yang akan diperoleh umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan seterusnya,  setelah  sekian lama   -- baik ketika di Mekkah mau pun di Madinah – beliau saw. dan umat Islam mengalami berbagai kezaliman  dari berbagai pihak yang mendustakan dan menentang beliau saw.    -- firman-Nya:
قُلِ اللّٰہُمَّ مٰلِکَ الۡمُلۡکِ تُؤۡتِی الۡمُلۡکَ مَنۡ تَشَآءُ وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ ۫ وَ تُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَ تُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ ؕ بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾   تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ ۫ وَ تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ ۫ وَ تَرۡزُقُ مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ  حِسَابٍ ﴿﴾
Katakanlah: “Wahai  Allah, Pemilik kedaulatan, تُؤۡتِی الۡمُلۡکَ مَنۡ تَشَآءُ وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ  -- Engkau  memberikan kedaulatan kepada siapa yang Engkau kehendaki, وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ -- dan Engkau  mencabut kedaulatan dari siapa yang Engkau kehendaki, وَ تُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَ تُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ  -- Engkau  memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau  menghinakan siapa yang Engkau kehendaki,  بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- di tangan Engkau-lah segala kebaikan, sesungguhnya  Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ  -- Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan Engkau  memasukkan siang ke dalam malam. وَ تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ – dan  Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau mengeluarkan yang mati dari yang hidup, وَ تَرۡزُقُ مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ  حِسَابٍ -- dan  Engkau memberi rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.”  (Ali ‘Imran [3]:27-28).
       Kata “siang”   menggambarkan kesejahteraan dan kekuasaan suatu kaum dan kata “ malam” melukiskan kemunduran dan kemerosotan mereka.  Ayat 28   dan yang mendahuluinya mengisyaratkan kepada hukum Ilahi yang tak berubah, bahwa bangsa-bangsa bangkit atau jatuh  karena mereka menyesuaikan diri dengan atau menentang kehendak Ilahi yang merupakan sumber segala kekuasaan dan kebesaran (QS.8:55; QS.13:12).
       Demikian juga keadaannya dengan kebangkitan dan kejatuhan umat Islam pun tidak lepas dari Sunnatullah tersebut, karena itu dalam ayat selanjutnya Allah Swt.  memperingatkan umat Islam agar  “masa siang” (kejayaan) mereka  berlangsung lama jangan mengambil sahabat (pelindung) dari luar kalangan mereka dan  dengan mengenyampingkan sesama Muslim, firman-Nya:
لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman, dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan Allah sedikit pun, اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً  -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka  dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya. وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ -- Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah  (Ali ‘Imran [3]:29). Lihat pula QS.3:119; QS.4:140-141. 

Mendahulukan Kepentingan Sesama Muslim

   Ayat yang sedang dibahas ini berisikan pedoman asasi bahwa tidak boleh  ada negara Islam  yang  mengadakan perjanjian atau persekutuan dengan negara bukan-Islam yang sama sekali akan merugikan atau mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan-kepentingan negara-negara Islam lainnya, karena kepentingan-kepentingan Islam harus berada di atas kepentingan-kepentingan lainnya.
  Makna ayat: اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً  -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka  dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya”  kaum Muslimin diperingatkan supaya berhati-hati terhadap hasutan-hasutan dan tipu muslihat kaum kafir. Ungkapan kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka, mengacu bukan kepada kekuasaan musuh melainkan kepada kelicikannya yang kaum Muslimin senantiasa harus berjaga-jaga (waspada). Lebih lanjut Allah Swt. berfirman: وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ -- dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ --  dan kamu akan kembali kepada Allah.”
   Alasan lain mengenai  pelarangan tersebut  dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡا بِطَانَۃً مِّنۡ دُوۡنِکُمۡ لَا یَاۡلُوۡنَکُمۡ خَبَالًا ؕ وَدُّوۡا مَا عَنِتُّمۡ ۚ قَدۡ بَدَتِ الۡبَغۡضَآءُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ۚۖ وَ مَا تُخۡفِیۡ صُدُوۡرُہُمۡ اَکۡبَرُ ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ 
Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu sekali-kali menjadikan teman kepercayaan selain  golongan kamu, لَا یَاۡلُوۡنَکُمۡ خَبَالًا --  mereka itu tidak akan berhenti menimbulkan kemudaratan  bagi kamu. وَدُّوۡا مَا عَنِتُّمۡ  --  Mereka  sangat menginginkan melihat kamu  dalam kesusahan. قَدۡ بَدَتِ الۡبَغۡضَآءُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ     -- Sungguh kebencian telah tampak dari mulut mereka,    وَ مَا تُخۡفِیۡ صُدُوۡرُہُمۡ اَکۡبَرُ -- sedangkan  apa yang disembunyikan dada mereka lebih besar lagi. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan kepadamu Ayat-ayat Kami, jika kamu menggunakan akal. (Ali ‘Imran [3]:119).
  Khabal  dalam ayat:   لَا یَاۡلُوۡنَکُمۡ خَبَالًا -- “mereka itu tidak akan berhenti menimbulkan kemudaratan  bagi kamu” berarti: (1) kerusakan baik yang berkenaan dengan badan atau pikiran atau pun perbuatan; (2) kerugian atau kemerosotan; (3) kehancuran atau kebinasaan; (4) racun yang mematikan (Aqrab-ul-Mawarid).

Keabadian Kedengkian Kain terhadap Habel

    Makna ayat: وَدُّوۡا مَا عَنِتُّمۡ --  Mereka sangat menginginkan melihat kamu  dalam kesusahan.” (1) Mereka berkeinginan melihat kamu ditimpa malapetaka atau kemalangan;   binasa atau menjadi lemah dan tak berdaya; atau (2) mereka menginginkan sekali melihat kamu tersesat dari jalan ketakwaan dan menempuh jalan durhaka.
Selanjutnya Allah Swt. mengemukakan alasan lain dari melarang menjadikan mereka sebagai “sahabat karib” dengan mengenyampingkan sesama kaum Muslimin, firman-Nya:
ہٰۤاَنۡتُمۡ اُولَآءِ تُحِبُّوۡنَہُمۡ وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ کُلِّہٖ ۚ وَ اِذَا لَقُوۡکُمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚ٭ۖ  وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ  الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ ؕ قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Ingat,  kamu itulah  orang-orang yang mencintai mereka, padahal mereka sekali-kali tidak mencintai kamu dan kamu beriman kepada Al-Kitab  seluruhnya. Dan apabila mereka bertemu dengan kamu mereka berkata: “Kami pun telah beriman”, tetapi apabila mereka menyendiri, mereka menggigit-gigit jari karena sangat marah terhadap kamu. Katakanlah: “Matilah kamu karena kemarahan kamu.”  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada. (Ali ‘Imran [3]:120). 
     Makna ayat: ہٰۤاَنۡتُمۡ اُولَآءِ تُحِبُّوۡنَہُمۡ وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ   -- “Ingat,  kamu itulah  orang-orang yang mencintai mereka,” karena memang Nabi Besar Muhammad saw. adalah Rasul Allah  yang membawa rahmat  untuk seluruh alam (QS.21:108) dan umat Islam  dibangkitkan sebagai “umat terbaik” bagi manfaat seluruh umat manusia   (QS.2:144; QS.3:111), sedangkan mereka:  وَ لَا یُحِبُّوۡنَکُمۡ  -- “padahal mereka sekali-kali tidak mencintai kamu.
   Alasan lainnya mengapa umat Islam mencintai golongan Ahli-Kitab adalah: وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ کُلِّہٖ   -- “dan kamu beriman kepada Al-Kitab  seluruhnya”, sebab beriman kepada Kitab-kitab  suci  yang  diwahyukan Allah Swt.  sebelum Al-Quran serta beriman kepada para Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. merupakan bagian dari keimanan umat Islam dalam Rukun Iman (QS.2:286), sedangkan mereka tidak percaya kepada Kitab seluruhnya.”  
   Makna ayat:  وَ اِذَا لَقُوۡکُمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا -- “Dan apabila mereka bertemu dengan kamu mereka berkata: “Kami pun telah beriman”  hanyalah    kemunafikan  mereka agar  mendapat keuntungan  duniawi  atau tidak mengalami  kerugian duniawi, karena keadaan hati  mereka  yang sesungguhnya adalah: وَ اِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَیۡکُمُ  الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَیۡظِ -- “tetapi apabila mereka menyendiri, mereka menggigit-gigit jari karena sangat marah terhadap kamu.”

Berlindung Kepada Allah Swt. dari Kedengkian Para Pendengki  dan Pembisik Kewaswasan

  Kata-kata: قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَیۡظِکُمۡ   --  “Matilah oleh kemarahan kamu” ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang memusuhi dan berusaha membinasakan Islam  -- bandingkan dengan kemarahan  dan kedengkian  Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah- QS.7:12-19).  Lebih jauh Allah Swt. memberitahukan kedengkian hati mereka kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam, firman-Nya:
اِنۡ تَمۡسَسۡکُمۡ حَسَنَۃٌ تَسُؤۡہُمۡ ۫ وَ اِنۡ تُصِبۡکُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّفۡرَحُوۡا بِہَا ؕ وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ ﴿﴾٪
Jika kamu mendapat kebaikan mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat kesusahan mereka bergembira berkenaan dengannya. وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا  -- Tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا --  tipu muslihat mereka tidak akan dapat memudaratkan kamu sedikit pun. اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ  -- Sesungguhnya Allah  meliputi  apa pun yang  mereka kerjakan.  (Ali ‘Imran [3]:119-121).
  Makna ayat:  اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ  -- Sesungguhnya Allah  meliputi  apa pun yang  mereka kerjakan   Allah  Swt.     akan meniadakan segala apa yang diperbuat mereka, dan Dia akan membinasakan mereka. Oleh karena itu orang-orang Islam  hendaknya tidak perlu takut kepada mereka. Segala tipu daya musuh-musuh Islam diketahui Allah Swt.  dan Dia akan menggagalkan upaya mereka.
   Betapa penuh hikmahnya  doa meminta perlindungan kepada Allah Swt. yang dikemukakan dalam Surah Al-Falaq dan Surah An-Nās  sehubungan dengan kedengkian Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah) dan dari  tipu-daya syaitan terutama fitnah Dajjal yang sangat berbahaya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾  مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar,  dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan,  dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,  dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
Firman-Nya lagi:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ قُلۡ  اَعُوۡذُ  بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾   مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  اِلٰہِ  النَّاسِ ۙ﴿﴾   مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ یُوَسۡوِسُ فِیۡ صُدُوۡرِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) manusiaRaja manusia,   Sembahan manusia,    dari keburukan bisikan-bisikan syaitan yang tersembunyi,     yang membisikkan ke dalam hati manusia,   dari jin dan manusia.  (An-Nās [113]:1-6).
      Jadi, betapa   pentingnya   memahami kedua surah penutup  Al-Quran tersebut,  yang pada hakikatnya  merupakan penjagaan diri dari  akibat yang ditimbulkan berpegang pada Tauhid Ilahi yang dikemukakan surah Al-Ikhlash yang merupakan misi utama pengutusan seluruh Rasul Allah, khususnya Nabi Besar Muhammad saw, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.  Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,  dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [112]:1-5).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 7  Juli   2016