Jumat, 03 Juni 2016

Hubungan Sifat "Rahmaaniyat" (Maha Pemurah) Allah Swt. Dengan Kesuksesan Duniawi Orang-orang Kafir & Fungsi "Ruhul-Kudus" (Malaikat) dan Syaitan



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


HUBUNGAN  SIFAT RAHMĀNIYAT (MAHA PEMURAH) ALLAH SWT.  DENGAN KESUKSESAN DUNIAWI ORANG-ORANG KAFIR  &  FUNGSI RUHUL-KUDUS (MALAIKAT) DAN SYAITAN


Bab 59

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   mengenai sabda Masih Mau’ud a.s. tentang hubungan upaya yang dilakukan manusia dengan kinerja para malaikat:
     “Ada yang bertanya, kalau benar para malaikat menjadi regulator (pengatur) dan distributor (penyalur) dari segala hal, lalu mengapa tujuan kita bisa berhasil dengan upaya sesuai dengan rancangan dan perencanaan kita sendiri? Jawaban untuk itu ialah bahwa semua proyek dan perencanaan kita tidak terlepas dari mediasi, sugesti dan pengungkapan atau wahyu para malaikat. Fungsi yang diemban para malaikat sejalan dengan perintah Tuhan, dilaksanakan melalui manusia yang mempunyai kecenderungan menerima sugesti para malaikat.
      Sebagai contoh, jika malaikat bermaksud menurunkan hujan di atas sebuah ladang, desa atau negeri atas perintah Tuhan, mereka sendiri tidak bisa lalu berubah menjadi air atau pun membuat api untuk melaksanakan fungsi air. Caranya adalah mereka membimbing awan ke sasaran bersangkutan, dan sebagai regulator  menyebabkan hujan turun sebanyak dan sampai dengan batas yang telah ditentukan.
        Awan itu sendiri memiliki semua kemampuan tersebut dalam karakter unsur-unsurnya sebagai suatu benda tak bernyawa yang tidak memiliki hasrat atau akal.   Adalah fungsi malaikat untuk bertindak selaku distributor dan regulator.
      Sugesti dan penampakan atau wahyu yang dikomunikasikan para malaikat sejalan dengan fitrat manusia bersangkutan. Wahyu yang mereka komunikasikan kepada para hamba pilihan Tuhan tidak akan dikomunikasikan kepada yang lainnya, malah mereka tidak mempedulikan yang lain sama sekali. Setiap manusia menerima rahmat sugesti dari para malaikat sepadan  dengan kapasitas diri mereka. Bantuan malaikat diterima dalam segala hal yang menjadi kecenderungan manusia seperti ilmu atau pun seni.
     Sebagai contoh, jika memang merupakan takdir Ilahi bahwa sembelit seseorang harus diatasi dengan pengobatan, maka ada malaikat yang memberikan sugesti kepada dokter untuk memberikan obat apa. Dokter itu meresepkan obatnya dan dengan bantuan malaikat maka diciptakan sistem reaksi dalam tubuh pasien untuk menerima obat tersebut dan benda tak diingini yang ada dalam tubuh bisa dibuang dengan perkenan (izin) Tuhan.
    Berdasarkan keluasan Kebijakan dan Kekuatan-Nya, Allah Yang Maha Kuasa tidak akan membiarkan sistem seni dan pengetahuan eksternal menjadi sia-sia,  dan juga   Dia tidak   melepaskan kendali dan kepemilikan-Nya atas segala hal. Jika Tuhan tidak mempunyai kendali terinci  atas segala kondisi makhluk ciptaan-Nya atas kelanjutan hidup dan kehancuran mereka, maka Dia tidak bisa disebut sebagai Tuhan dan Ketauhidan-Nya juga tidak bisa ditegakkan.
      Hanya saja benar adanya  bahwa Tuhan tidak menginginkan semua misteri ini menjadi nyata dan kasat mata bagi umat manusia, karena jika semuanya nyata maka tidak ada nilainya lagi bagi keimanan manusia.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 185-188, London, 1984).
   Dengan demikian   jelaslah bahwa mengapa  beriman kepada para  malaikat  merupakan bagian keimanan yang ditetapkan dalam Rukun Iman dalam ajaran Islam (Al-Quran),  firman-Nya:
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ   بِہِ  اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ   لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾ اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya   Allah akan menghisabmu mengenainya,  maka Dia akan mengampuni siapa yang  Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.   Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman,  semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya,  mereka berkata: c”Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”, dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat.  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.” (Al-Baqarah [2]:285:286).
      Kata bihī dalam ayat:  وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ  اللّٰہُ  -- “dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya  Allah akan menghisabmu mengenainya” berarti: (a) dengan jalan atau atas dasar itu; (b) untuk atau karena itu; dan anak kalimat itu akan berarti “Allah akan menuntut kamu atas dasar itu atau karena itu,” yakni  tidak ada pikiran atau perbuatan manusia – yang telah “dicatat” oleh para malaikat    -- akan lepas dari tuntutan (pertangungjawaban), bagaimana pun tersembunyinya perbuatan itu, dan akan dihukum atau dimaafkan menurut kehendak Ilahi.
      Ungkapan بِہِ  اللّٰہُ  -- “kehendak Allah” agaknya menunjukkan adanya hukum alam (QS.7:157), akan tetapi karena kehendak Allah-lah yang menjadi hukum-Nya   -- yang pelaksanaannya dilakukan oleh para malaikat -- maka Al-Quran telah mempergunakan ungkapan itu untuk menunjukkan bahwa: (1) Allah Swt. itu Pemegang wewenang terakhir di alam semesta; dan (2) kehendak-Nya itu hukum, dan (3) kehendak-Nya dizahirkan dengan cara yang adil serta murah hati, sebab Dia Pemilik Sifat-sifat yang sempurna (QS.17:111).
       Makna ayat: اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  -- “Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman,  semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya.” Memang benar bahwa amal-amal baik memang merupakan cara utama untuk mencapai kesucian ruhani, tetapi amal-amal baik itu bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai hanya dengan berpegang pada itikad-itikad yang benar.
      Sehubungan dengan hal tersebut ayat ini merinci dasar-dasar kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu  beriman kepada Allah Swt., para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya menurut urutan atau tertib yang wajar, selain beriman kepada   Hari Kiamat (akhirat) dan  beriman kepada takdir yang baik dan buruk.

Sifat Rahmāniyat  (Maha Pemurah) Allah Swt. Berlaku Umum

       Dari empat  utama Tasybihiyah Allah Swt.  dalam Surah Al-Fatihah diantaranya adalah Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah) dan Al-Rahīm (Maha Penyayang). Sifat Al-Rahmān  Allah Swt. berlaku secara umum bagi seluruh makhluk yang bernyawa, termasuk orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Swt., sebagaimana jawaban Allah Swt. terhadap doa Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:127), sedangkan Sifat Al-Rahīm (Maha Pemurah) hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. karena erat hubungannya dengan kehidupan akhirat.
      Oleh karena itu jika dalam kenyataaan kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah  sangat membanggakan keberhasilan  mereka dalam bidang kekuasaan dan kekayaan duniawi  -- termasuk Qarun (QS. [28]:77-79; QS.39:50) -- karena upaya duniawi mereka sesuai dengan ketetapan  Sifat Rahmāniyat Allah Swt. yang berlaku secara umum.
     Namun  demikian, jika mereka dalam kesuksesan duniawinya semakin durhaka kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān), maka  akhir kehidupan orang-orang atau kaum-kaum yang membangga-banggakan  kesuksesan duniawinya tersebut  benar-benar sangat tragis dan hina, firman-Nya:
اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ کَانُوۡۤا  اَکۡثَرَ  مِنۡہُمۡ وَ اَشَدَّ قُوَّۃً وَّ اٰثَارًا فِی الۡاَرۡضِ فَمَاۤ  اَغۡنٰی عَنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُہُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ فَرِحُوۡا بِمَا عِنۡدَہُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ  وَ  حَاقَ بِہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا رَاَوۡا  بَاۡسَنَا  قَالُوۡۤا  اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَحۡدَہٗ  وَ کَفَرۡنَا بِمَا کُنَّا بِہٖ مُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمۡ یَکُ یَنۡفَعُہُمۡ  اِیۡمَانُہُمۡ  لَمَّا رَاَوۡا بَاۡسَنَا ؕ سُنَّتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ قَدۡ خَلَتۡ فِیۡ عِبَادِہٖ ۚ وَ خَسِرَ ہُنَالِکَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Apakah mereka  tidak melakukan perjalanan di bumi lalu mereka dapat melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Mereka itu lebih banyak daripada mereka dan lebih hebat kekuatannya dan lebih hebat bekas-bekas  mereka di bumi, maka tidak berguna kepada mereka  apa pun  yang telah mereka usahakan.   Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan Tanda-tanda yang nyata, فَرِحُوۡا بِمَا عِنۡدَہُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ    -- mereka merasa senang dengan  ilmu  yang ada pada mereka,  وَ  حَاقَ بِہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ -- dan  mereka   dikepung  oleh apa  yakni azab  yang  selalu mereka perolok-olokkan.    Maka tatkala  mereka melihat azab Kami mereka berkata: “Kami beriman kepada Allah Yang Esa dan kami mengingkari apa yang pernah kami persekutukan dengan Dia.”  فَلَمۡ یَکُ یَنۡفَعُہُمۡ  اِیۡمَانُہُمۡ  لَمَّا رَاَوۡا بَاۡسَنَا --    Maka tidak bermanfaat bagi mereka iman mereka tatkala  mereka melihat azab Kami.  سُنَّتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ قَدۡ خَلَتۡ فِیۡ عِبَادِہٖ  --  Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya, وَ خَسِرَ ہُنَالِکَ  الۡکٰفِرُوۡنَ  --  dan binasalah ketika itu orang-orang kafir. (Al-Mu’min [40]:83-86)
       Jadi, jika kejahatan orang-orang kafir sudah melampaui batas, dan takdir Ilahi — yang memutuskan bahwa mereka itu harus diazab — mulai berlaku, maka pengakuan iman mereka tidak akan berguna lagi, dan taubat pun pada saat itu terlambatlah sudah.
   Terbukti bahwa kekuasaan dan kekayaan duniawi mereka tidak mampu memberikan perlindungan kepada mereka dari azab  Ilahi, benar-benar keadaannya sangat lemah bagaikan   sarang laba-laba, firman-Nya:
وَ قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ ۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ  مُّوۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾  فَکُلًّا  اَخَذۡنَا بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ  مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ  الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ  اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ  وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ  لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami  membinasakan   Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan  sungguh  Musa benar-benar telah da-tang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata  tetapi mereka berlaku sombong di bumi dan mereka se-kali-kali tidak dapat melepaskan diri dari azab Kami.  Maka setiap orang dari mereka Kami tangkap karena dosanya,  di antara mereka ada yang Kami kirim kepadanya badai pasir, di antara mereka ada yang disambar oleh petir,  di antara mereka ada  yang Kami benamkan  di bumi, di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ  وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ --    dan Allah sekali-kali tidak berbuat zalim terhadap mereka, tetapi mereka  menzalimi  diri mereka sendiri.  مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا  -- Perumpamaan orang-orang yang mengambil  penolong-penolong selain Allah adalah seperti perumpa-maan laba-laba yang membuat rumah,  وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ  لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ --  dan sesungguhnya selemah-lemah rumah pasti rumah laba-laba, seandai-nya mereka itu mengetahui. (Al-Ankabūt [29]:40-42).

Fungsi Ruhul Kudus dan Syaitan

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjawab pertanyaan atau kritikan yang diajukan berkenaan dengan peran  syaitan  dan para malaikat sehubungan dengan manusia:   
       “Salah satu pertanyaan yang dikemukakan ialah: Jika memang sudah ada Ruhul Kudus yang ditugaskan untuk menahan manusia melakukan tindakan buruk, lalu mengapa manusia masih melakukan dosa dan kenapa ia menjadi kafir dan durhaka?’
      Jawabannya ialah,  karena Tuhan dengan maksud menguji manusia, telah menetapkan 2 bentuk penyeru keruhanian, yang satu menyeru kepada kebaikan dan namanya adalah Ruhul Kudus, sedangkan yang lainnya menyeru kepada kejahatan dan namanya adalah syaitan atau iblis. Kedua penyeru ini hanya mengajak kepada kebaikan atau kejahatan tetapi mereka tidak bisa  memaksakan kepada manusia sebagaimana diindikasikan ayat:
فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا
“Dia mengilhamkan kepadanya jalan-jalan kejahatan dan jalan-jalan ketakwaan” (Asy-Syams [91]:9).
   Sarana untuk mengungkapkan segala yang buruk adalah syaitan yang memberikan sugesti-sugesti jahat, sedangkan sarana guna mengungkapkan kebaikan adalah Ruhul Kudus yang menyesapkan fikiran-fikiran suci ke dalam kalbu manusia.
   Mengingat Tuhan adalah Kausa (Sebab) dari segala kausa maka Dia mengatribusikan (menisbahkan) kedua bentuk ilham tersebut kepada Diri-Nya Sendiri,  karena semua sistem ditegakkan oleh-Nya. Jika tidak demikian halnya apa kekuatan syaitan untuk memberikan pengaruh buruk ke hati manusia, dan kekuatan apa yang dimiliki Ruhul Kudus guna membimbing orang di jalan ketakwaan?
     Para lawan kita dari   golongan   Arya, Brahma dan umat Kristen karena kecupatan pandangan, mengajukan keberatan terhadap ajaran Al-Quran, karena dikatakan bahwa Tuhan Sendiri Yang melepaskan syaitan di antara manusia dan dengan demikian secara sengaja telah menyesatkan umat manusia.
     Hal itu tidak benar adanya. Mereka seharusnya mengetahui bahwa Al-Quran tidak ada mengajarkan kalau syaitan itu memiliki kekuatan memaksa untuk menyesatkan manusia. Begitu juga tidak ada ajaran yang menyatakan bahwa syaitan ditugaskan dengan tujuan menarik manusia kepada dosa. Yang diajarkan adalah bahwa hal itu merupakan cobaan dan ujian.    
      Manusia pada dasarnya diberkati -- baik dengan sentuhan malaikat mau pun dengan sentuhan syaitan -- dimana di satu sisi membawanya kepada kebaikan dan sisi lain mengajak kepada dosa, dan melalui sarana ini manusia diuji dan dari sana memperoleh nilai lebih yang luhur atau malah akan mendapat hukuman.

Fungsi Rintangan Dalam Perlombaan

   Jika hanya satu pengaruh saja yang disediakan -- misalnya semua emosi eksternal dan internal manusia hanya tertarik kepada kebaikan semata,  atau fitratnya hanya mampu melakukan hal-hal yang baik saja --  maka tidak ada gunanya ia diberikan derajat kedekatan kepada Tuhan sebagai hasil dari amalan baiknya,  mengingat dari awal ia memang tidak memiliki nafsu buruk melakukan kejahatan.
      Bila demikian keadaannya, apa gunanya yang bersangkutan diberi nilai lebih karena telah berhasil mengatasi godaan dosa? Sebagai contoh, misal ada seorang yang sejak awal tidak mempunyai gairah seks dan tidak menyukai wanita, kemudian ia mengatakan bahwa dirinya pernah bersama-sama dengan seorang wanita muda yang cantik tetapi karena kesalehan dirinya dan takut kepada Tuhan  ia tidak memandang atau pun menyentuh wanita itu  maka tidak diragukan jika ia akan jadi bahan tertawaan orang. Mereka akan mempertanyakan apa hebatnya yang bersangkutan jika sejak awal diketahui ia tidak memiliki kekuatan gairah seks yang perlu dikendalikan.
    Kita perlu menyadari kalau dalam tahapan awal dan menengah, harapan seorang pencari kebenaran memperoleh pahala adalah melalui penekanan nafsu dan emosi negatif. Jika dalam tahapan seperti itu, ia memang tidak bisa  melakukan dosa  maka tidak sepantasnya ia mendapat penghargaan demikian.
       Sebagai contoh, sistem tubuh manusia tidak bisa mengeluarkan racun seperti halnya kalajengking atau ular. Karena itu kita tidak bisa mengharapkan pahala dari Tuhan bahwa kita telah menahan diri tidak menimbulkan kemudharatan sebagai akibat menyengat orang.

Penyebab Diberikan-Nya Pahala

     Berarti bahwa keberhasilan menekan emosi-emosi negatif yang menarik orang ke arah dosa akan merupakan pahala bagi yang bersangkutan. Kalau karena takut kepada Tuhan  lalu ia menekan emosi-emosi seperti itu  barulah ia termasuk ke dalam mereka yang patut mendapat perhatian Tuhan dan memperoleh ridha-Nya.
       Dengan cara itu ia mencapai titik ekstrim kebaikan yang bebas sama sekali dari segala emosi negatif, seolah-olah syaitannya telah menjadi Muslim, dan patut baginya pahala,  karena ia telah melewati tahapan ujian dengan keberanian luar biasa. Seorang bertakwa yang sejak mudanya telah menghasilkan kinerja akbar  akan tetap meraih pahalanya sampai di usia tuanya.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 80-85, London, 1984).
         Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai  syaitan (setan)  sebelumnya: “…Hal itu tidak benar adanya. Mereka seharusnya mengetahui bahwa Al-Quran tidak ada mengajarkan kalau syaitan itu memiliki kekuatan memaksa untuk menyesatkan manusia. Begitu juga tidak ada ajaran yang menyatakan bahwa syaitan ditugaskan dengan tujuan menarik manusia kepada dosa. Yang diajarkan adalah bahwa hal itu merupakan cobaan dan ujian.”
      Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai ketidak-berdayaan syaitan  seandainya manusia tidak merespon godaannya, firman-Nya:
وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ   --  dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ   --  Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecam-lah dirimu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  -- Aku sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ  --  Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan dengan-ku sebelumnya,  اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ  -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23). Lihat pula QS.15:43;  QS.16:99-101; QS.17:64-66.
       Masih sehubungan peran atau fungsi syaitan dan para malaikat  bagi manusia,  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Beberapa orang bodoh mengemukakan keberatan atas eksistensi (keberadaan) syaitan, sepertinya Tuhan Sendiri menginginkan manusia menjadi sesat. Tidak demikian keadaannya. Setiap orang yang berfikir bisa memahami bahwa setiap manusia memiliki dua fitrat, yaitu yang satu disebut sebagai sentuhan syaitan dan yang lainnya sentuhan malaikat.
   Dengan kata lain, fitrat manusia  memperlihatkan bahwa tanpa diketahui penyebabnya  terkadang muncul fikiran baik dalam kalbunya yang membawanya kepada perbuatan-perbuatan bermanfaat, tetapi juga terkadang muncul fikiran buruk yang menyeretnya kepada perbuatan keji dan dosa. Kekuatan yang menjadi sumber fikiran jahat menurut ajaran Al-Quran disebut sebagai syaitan dan kekuatan yang menjadi sumber fikiran baik adalah malaikat.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  435, London, 1984).

Tidak Ada Paksaan Dalam Agama dan Beragama

      Sehubungan dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾   فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾   قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Dan demi jiwa dan penyempurnaannya,  maka Dia mengilhamkan kepa-danya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya.   Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya,    dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya.   (Asy-Syams [91]:8-11).
  Allah Swt.  telah menanamkan  dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik.
 Dengan kata lain Allah Swt. telah memberi kebebasan memilih kepada manusia untuk menentukan pilihan bagi jalan hidupnya, namun demikian manusa tidak akan dapat membebaskan diri  dari akibat baik atau akibat buruk dari pilihannya tersebut, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟ فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ  فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ  مُرۡتَفَقًا ﴿﴾  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا  لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا ﴿ۚ﴾  اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ   یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ مُّتَّکِئِیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ ؕ نِعۡمَ الثَّوَابُ ؕ وَ حَسُنَتۡ  مُرۡتَفَقًا ﴿٪﴾
Dan katakanlah:  ”Inilah haq dari Rabb (Tuhan) kamu karena itu فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ  فَلۡیَکۡفُرۡ  --  barang­siapa menghendaki  maka beriman­lah, dan barangsiapa menghendaki  maka kafirlah”,  اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا   --    sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zalim itu api yang dinding-dindingnya me­ngepung mereka, وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ  -- dan jika mereka berteriak meminta tolong, mereka akan ditolong dengan air seperti lebur-an timah, yang akan menghanguskan wajah-wajah, بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ  مُرۡتَفَقًا  --  sangat buruk minum­an itu dan sangat buruk tempat tinggal itu!  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا  لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا  --  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sesungguhnya  Kami tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang mengerjakan amal  baik. اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ   --  Mereka itulah orang-orang yang bagi mereka ada kebun-kebun abadi yang di bawahnya mengalir su-ngai­-sungai. یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ  --  Mereka di dalamnya akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian dari sutera halus berwarna hijau dan sutera tebal,  مُّتَّکِئِیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ -- mereka di dalamnya  duduk bersandar pada dipan-dipan yang indah,  نِعۡمَ الثَّوَابُ ؕ وَ حَسُنَتۡ  مُرۡتَفَقًا --   Itulah ganjaran yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.  (Al-Kahf [18]:30-32).
   Oleh karena "gelang-gelang emas"  merupakan lambang kerajaan, maka ayat  یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ  --  “Mereka di dalamnya akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian dari sutera halus berwarna hijau dan sutera tebal,”   dapat berarti  bahwa orang-orang Islam akan menjadi penguasa kerajaan-kerajaan yang luas dan kuat, serta akan menikmati kekuasaan, kehormatan, dan kemuliaan besar; dan bahwa perempuan-perempuan mereka akan mengenakan pakaian terbuat dari sutera halus dan kain sutera tebal terjalin dengan tenunan benang emas.
  Nubuatan dalam ayat ini menjadi sempurna ketika khazanah-­khazanah dari kerajaan Parsi dan kerajaan Romawi telah diletakkan pada kaki orang-orang Arab ummi (buta huruf) yang biasanya mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit-kulit kasar dan dari bulu-bulu binatang.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 1 Juni    2016

Rabu, 01 Juni 2016

Tanda Orang-orang yang Mendustakan "Ad-Diin" (Agama/Pembalasan) & Hubungan Memahami Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Saw. Dengan Khasiat Shalat



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


  TANDA ORANG-ORANG YANG MENDUSTAKAN AD-DIIN (AGAMA/PEMBALASAN) & HUBUNGAN MEMAHAMI AL-QURAN DAN SUNNAH NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DENGAN KHASIAT SHALAT   


Bab 58

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   mengenai makna  pengulangan ayat  کَلَّا  سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ --  “Sekali-kali tidak, segera kamu akan mengetahui”  dalam Surah At-Takatsur, yang bertujuan menambahkan tekanan pada dan membuat lebih ampuh peringatan yang terkandung di dalam Surah At-Takatsur tersebut. 
        Surah  At-Takatsur ini dapat pula ditujukan kepada pembalasan yang akan datang di belakang kesibukan manusia, yang secara membabi-buta berusaha memperoleh barang-barang duniawi di dalam kehidupan ini.   Makna ayat: کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ  الۡیَقِیۡنِ   --   Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin. لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ  --     niscaya kamu akan melihat Jahannam”,  bahwa seandainya manusia mempergunakan akal sehatnya dan mempergunakan ilmu yang dimilikinya, niscaya  ia akan melihat neraka Jahannam sungguh-sungguh menganga di hadapan matanya sendiri di dunia ini juga, yaitu ia akan mengetahui bahwa kesibukannya dalam mengejar kebesaran, kemegahan, dan keuntungan kebendaan dalam kehidupan  di dunia yang  sementara ini menyebabkan kehancuran total akhlaknya.

Tiga Tingkatan Yaqin

  Surah At-Takatsur ayat-ayat 5-8 tidak meninggalkan syak sekelumit pun mengenai awal kehidupan neraka  di dalam dunia ini juga, sedangkan neraka di akhirat itu sebenamya disediakan di dunia ini, yang tersembunyi dari mata manusia tetapi dapat dikenal, dengan perantaraan ‘ilmulyaqin  oleh mereka yang merenungkannya:
  Jadi, ayat-ayat  tersebut menggambarkan tiga tingkat keyakinan manusia bertalian dengan neraka, yaitu:
 (1) ’ilmulyaqin atau keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu dengan mengambil kesimpulan;
 (2) ‘ainulyaqin yaitu keyakinan dengan perantaraan atau berdasarkan penglihatan;  
   (3) haqqulyaqin, yaitu keyakinan berdasarkan pengalaman sendiri.
   ‘Ilmulyaqin dapat diperoleh di dunia ini juga, dengan mengambil kesimpulan oleh mereka yang merenungkan dan menekuni hakikat kejahatan (QS.3:191-193), namun sesudah mati ia akan melihat neraka dengan mata kepala sendiri, sedang pada Hari Kebangkitan ia akan menghayati sepenuhnya haqqulyaqin dengan benar-benar mengalami setelah masuk ke dalam neraka: ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ  --  “Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya  mengenai kenikmatan.”
          Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya manusia  untuk bekerja-keras dalam melaksanakan kehidupannya dan berusaha  menempuh pendakian yang terjal, yakni dalam rangka melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. (QS.51:57-59),  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  لَاۤ  اُقۡسِمُ  بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾   وَ اَنۡتَ حِلٌّۢ بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾  وَ  وَالِدٍ وَّ  مَا وَلَدَ ۙ﴿﴾   لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ  کَبَدٍ ؕ﴿﴾   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  اَحَدٌ  ۘ﴿﴾  یَقُوۡلُ  اَہۡلَکۡتُ مَالًا  لُّبَدًا ؕ﴿﴾   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّمۡ  یَرَہٗۤ   اَحَدٌ ؕ﴿﴾  اَلَمۡ  نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ ۙ﴿﴾   وَ  لِسَانًا وَّ  شَفَتَیۡنِ ۙ﴿﴾   وَ ہَدَیۡنٰہُ  النَّجۡدَیۡنِ ﴿ۚ﴾  فَلَا  اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ ﴿۫ۖ﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ ﴿ؕ﴾ فَکُّ رَقَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   اَوۡ  اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ ﴿ؕ﴾   اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ ﴿ؕ﴾   وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ ﴿ؕ﴾ عَلَیۡہِمۡ  نَارٌ  مُّؤۡصَدَۃٌ ﴿٪﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Tidak demikian,  Aku bersumpah dengan kota ini,  dan engkau akan singgah  di kota ini. Dan demi ayah dan anak.  لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ  کَبَدٍ  -- Sungguh Kami benar-benar telah menciptakan manusia  supaya bekerja keras.   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  اَحَدٌ    -- Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun berkuasa atasnya? یَقُوۡلُ  اَہۡلَکۡتُ مَالًا  لُّبَدًا  --   Ia berkata: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّمۡ  یَرَہٗۤ   اَحَدٌ  -- Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun melihatnya? اَلَمۡ  نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ  --  Tidakkah Kami menjadikan baginya sepasang mata? وَ  لِسَانًا وَّ  شَفَتَیۡنِ --  Dan sebuah lidah serta dua buah bibir? وَ ہَدَیۡنٰہُ  النَّجۡدَیۡنِ  --    Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.  فَلَا  اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ -- Tetapi ia tidak  mendaki pendakian terjal. وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ  --   Dan apakah yang engkau ketahui apa pendakian terjal itu? فَکُّ رَقَبَۃٍ  --  Yaitu memerdekakan budak, اَوۡ  اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ      --  atau memberi makan pada hari kelaparan, یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ --  kepada anak yatim kerabat,  اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ --  atau kepada orang miskin yang terbaring di debu.  ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ   --     Kemudian dia menjadi di antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya bersabar dan mengajak satu sama lain berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ  -- Mereka ini  golongan kanan.  وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ  --  Dan orang-orang yang kafir kepada  Tanda-tanda Kami mereka itu  golongan kiri. عَلَیۡہِمۡ  نَارٌ  مُّؤۡصَدَۃٌ  --  Atas mereka akan ada Api yang  tertutup.  (Al-Balad [90]:1-21).

Orang-orang yang Mendustakan Ad-Dīn  & Khasiat Shalat

       Senada  makna menempuh  “pendakian terjal”  dalam Surah tersebut, dalam Surah berikut ini Allah Swt. berfirman mengenai orang yang  tidak mau  menempuh  “pendakian terjal” sehingga  Allah Swt. menyebutnya sebagai orang-orang yang mendustakan ad-dīn:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾   فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾  وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾  فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ ۙ﴿﴾   الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Apakah engkau melihat orang yang mendustakan  agama? Maka itulah orang yang mengusir anak yatim,  dan  tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari  shalatnya,   yaitu orang-orang yang berbuat  pamer, dan   mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil  kepada orang-orang miskin. (Al-Mā’ūn [107]:1-8).
      Menurut berbagai  kamus bahasa Arab  kata ad-dīn memiliki banyak arti, yaitu:  (1) pembalasan, (2) perhitungan, (3) keputusan, (4) kepatuhan,  (5) ketundukan, (6) sikap berserah diri (islm), (7) kerendahan, (8) wara’, (9) adat atau kebiasaan, (10) keadaan, (11) tingkah laku, (12) kekuasaan, (13) pemaksaan, (14) cara atau jalan, (15) peraturan, (16) hukum, (17) syariah, (18) akidah, dan (19) agama (millah).
 Makna ayat:  اَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ  -- “Apakah engkau melihat orang yang mendustakan  agama?” Sungguh amat buruk dia yang tidak percaya kepada pembalasan Ilahi, atau, yang tidak percaya kepada dīn (agama) – sumber dan dasar semua akhlak.
 Makna ayat selanjutnya: فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ  --  “Maka itulah orang yang mengusir anak yatim” وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ   --  “Dan  tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”  Kedua ayat tersebut membicarakan dua macam penyakit masyarakat yang sangat berbahaya, dan bila tidak mengadakan penjagaan seksama terhadap kedua penyakit itu dapat dipastikan akan mendatangkan kemunduran dan perpecahan total di dalam masyarakat.
 Kegagalan memelihara anak-anak yatim dengan cara sebaik-baiknya akan membunuh jiwa pengorbanan di dalam suatu bangsa; sedangkan mengabaikan orang-orang miskin dan fakir akan menjauhkan satu bagian masyarakat yang berguna dari segala prakarsa dan kemauan memperbaiki nasib mereka, sebab mereka tidak mendapat kesempatan  dan tidak memiliki sarana  untuk melakukan hal tersebut.
 Orang-orang yang mengaku beragama – terutama agama Islam  -- dan melaksanakan berbagai ritual peribadahan  tetapi dalam dirinya tidak timbul akhlak yang baik  -- sebagaimana yang terkandung dalam pelaksanaan shalat secara benar (QS.29:46) mereka itu  itu disebut:  الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ   -- yaitu orang-orang yang lalai dari  shalatnya.”
    Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman dalam surah berikut ini mengenai khasiat shalat:
اُتۡلُ مَاۤ  اُوۡحِیَ  اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ ﴿﴾
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu, وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ -- dan dirikanlah shalat اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ  الۡمُنۡکَرِ    -- sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran. لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ وَ -- Dan  me-ngingat Allah benar-benar pekerjaan yang lebih besar,  وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ --  dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabūt [29]:46).
      Tiga hal telah disebut dalam ayat ini, yaitu (1) menablighkan dan membacakan Al-Quran, (2) mendirikan shalat, dan (3) dzikir Ilahi. Tujuan ketiga hal itu ialah menyelamatkan manusia dari cengkeraman dosa dan membantu manusia untuk bangkit dan membuat kemajuan dalam akhlak dan keruhanian.

Cara  Mewujudkan  Berbagai Khasiat Shalat

      Makna  perintah:  اُتۡلُ مَاۤ  اُوۡحِیَ  اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ -- “Bacakanlah apa yang di-wahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu”. Arti kata utlu berarti: mengumumkan; menablighkan; membaca; mengutarakan; memperdengarkan, mengikuti (Lexicon Lane).
     Dari seluruh Kitab suci yang diwahyukan Allah Swt. yang paling sempurna dalam hal informasi mengenai  pelaksanaan  haququlLāh (hablun- minalLāh) dan haququl ibād (hablun-minan-nās) adalah Kitab suci Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad  saw., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]:22).
      Adapun makna ayat selanjutnya: وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ -- dan dirikanlah shalat”  bahwa keimanan yang hidup kepada Dzat Yang Mahaluhur yakni Allah Swt., adalah asas pokok bagi semua agama yang diwahyukan, sebab keimanan inilah yang dapat memegang peranan sebagai suatu hambatan yang kuat lagi ampuh terhadap kecenderungan-kecenderungan dan perbuatan-perbuatan buruk manusia, yang merupakan salah satu dari sekian banyak khasiat shalat yang telah ditetapkan Allah Swt.
    Itulah sebabnya mengapa Al-Quran berulang kali kembali kepada masalah keimanan kepada adanya Tuhan   -- walau pun  Allah Swt. senantiasa  dalam keadaan gaib  -- dan membicarakan kekuasaan, keagungan, dan kecintaan-Nya yang besar, lalu memberi tekanan keras pada kepentingan dzikir Ilahi dalam bentuk shalat secara Islam,  yang bila dikerjakan dengan memenuhi segala syarat yang diperlukan, maka kebersihan pikiran dan perbuatan, merupakan hasilnya yang pasti. Itulah makna ayat:  وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ --  “dan dirikanlah shalat” اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ  الۡمُنۡکَرِ    -- “sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran.”
      Kemudian makna ayat berikutnya: لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ وَ -- Dan  mengingat Allah benar-benar pekerjaan yang lebih besar,”  Allah Swt. menyebut Al-Quran sebagai adz-Dzikir (QS.15:1), dengan demikian makna yang hakiki dari dzikir Ilahi  adalah memahami  dan mengamalkan semua petunjuk Al-Quran (Adz Dzikr) sebagaimana yang dipahami dan diamalkan atau dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad  saw..         Itulah  yang dimaksud dengan ayat: وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا  -- “bagi yang banyak mengingat Allah”  dalam firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]:22).

Orang-orang yang Mendustakan “Din”

     Jadi, kembali kepada firman Allah Swt. dalam Surah Al-Mā’ūn makna ayat  selanjutnya: فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ  -- “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat.”  Shalat merupakan tugas dan kewajiban yang harus  dilaksanakan  orang-orang beriman karena Allah, tetapi   shalat orang-orang munafik yang tidak menunaikan kewajiban terhadap sesama makhluk Allah itu     tidak lebih daripada sebuah jasad tanpa ruh, atau kulit tanpa isi.
  Menurut ayat tersebut orang-orang munafik hanya memperagakan perbuatan-perbuatan baik dan sedekah sekedarnya tetapi tidak mengandung jiwa karena sekedar untuk pamer:  الَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ  --    “yaitu orang-orang yang berbuat  pamer, وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ  --  dan   mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil  kepada orang-orang miskin.”
  Al-mā’ūn berarti: barang-barang kecil; perabot rumah tangga biasa; seperti, kapak, panci masak, dan sebagainya; suatu tindak kebaikan; sesuatu yang berguna; zakat (Aqrab-ul-Mawarid).
   Dengan demikian jelaslah bahwa tanpa memahami dan mengamalkan Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad  saw. maka semua belum ritual peribadahan  yang dilakukan oleh umat Islam tidak akan mampu membuat umat Islam sebagai “khayru ummah” (umat yang terbaik – QS.2:144; QS.3:111), sebagaimana yang diperagakan oleh para sahabah di masa kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. yang penuh keberkatan dimana mereka itu  benar-benar  merupakan umat terbaik yang memberikan manfaat bagi umat manusia, firman-Nya:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ ؕ وَ لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ  الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia, kamu menyuruh ber-buat makruf, melarang dari berbuat munkar, dan beriman kepada Allah. Dan seandainya Ahlul Kitab beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman tetapi kebanyakan mereka orang-orang fasik. (Ali ‘Imran [3]:111).
       Ayat ini bukan saja mencanangkan bahwa kaum Muslimin itu kaum  yang terbaik — sungguh suatu proklamasi besar — melainkan menyebutkan pula sebab-sebabnya:
           (1) Mereka telah dibangkitkan untuk kepentingan umat manusia seluruhnya;
     (2) telah menjadi kewajiban mereka menganjurkan berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan serta beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. 
       Kemuliaan kaum Muslimin bergantung pada dan ditentukan oleh kedua syarat itu.
Keadaan berimannya umat Islam  kepada Allah Swt. di masa Nabi Besar Muhammad saw. sedemikian rupa keadaaanya, sehingga keteguhan  mereka yang luar biasa kepada Tauhid Ilahi  -- bagaimana pun hebatnya ujian-ujian keimanan yang  harus mereka hadapi  --  telah menyebabkan para malaikat  menyertai kehidupan mereka, dan bahkan menjadikan mereka sebagai “manusia-manusia malaikat”, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾   نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguh,  تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ --   kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: ”Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  --  ”Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  --  Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta.  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ  -- Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā Mim – As-Sajdah [41]:31-33).
  Dalam kehidupan di dunia ini malaikat-malaikat turun kepada orang yang beriman untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat di jalan Allah Swt..
 Firman Allah Swt. berikutnya mengemukakan salah satu ciri umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw. mereka itu  benar-benar merupakan “umat yang terbaik” yang dibangkitkan untuk kemanfaatan seluruh umat manusia, firman-Nya:
 وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾   وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ  اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾  وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾ 
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya daripada orang yang me-ngajak manusia kepada Allah dan beramal saleh serta berkata:  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri.” وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ   -- Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ  --   Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya  maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia.    وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ  -- Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sa-bar, dan sekali-kali tidak dianugerahi   itu kecuali orang yang memiliki  bagi-an besar dalam kebaikan. (Hā Mim – As-Sajdah [41]:34-36).
   Karena anjuran kepada kebenaran – yakni Tauhid Ilahi yang hakiki -- sudah pasti diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi penganjurnya, ayat ini menasihatkan kepada si penganjur supaya bersabar dan bertabah hati menanggung segala kesulitan, dan malahan supaya membalas keburukan  --   yang diterima dari penganiaya-penganiaya   -- dengan kebaikan.

Malaikat Mengatur Pergerakan  Sesuai Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.

    Kembali kepada penjelasan Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, berkenaan dengan malaikat  -- dan “turunnya” para malaikat  -- selanjutnya beliau menjelaskan:
     “Ada yang bertanya, kalau benar para malaikat menjadi regulator (pengatur) dan distributor (penyalur) dari segala hal, lalu mengapa tujuan kita bisa berhasil dengan upaya sesuai dengan rancangan dan perencanaan kita sendiri? Jawaban untuk itu ialah bahwa semua proyek dan perencanaan kita tidak terlepas dari mediasi, sugesti dan pengungkapan atau wahyu para malaikat. Fungsi yang diemban para malaikat sejalan dengan perintah Tuhan, dilaksanakan melalui manusia yang mempunyai kecenderungan menerima sugesti para malaikat.
      Sebagai contoh, jika malaikat bermaksud menurunkan hujan di atas sebuah ladang, desa atau negeri atas perintah Tuhan, mereka sendiri tidak bisa lalu berubah menjadi air atau pun membuat api untuk melaksanakan fungsi air. Caranya adalah mereka membimbing awan ke sasaran bersangkutan, dan sebagai regulator  menyebabkan hujan turun sebanyak dan sampai dengan batas yang telah ditentukan.
        Awan itu sendiri memiliki semua kemampuan tersebut dalam karakter unsur-unsurnya sebagai suatu benda tak bernyawa yang tidak memiliki hasrat atau akal.   Adalah fungsi malaikat untuk bertindak selaku distributor dan regulator.
      Sugesti dan penampakan atau wahyu yang dikomunikasikan para malaikat sejalan dengan fitrat manusia bersangkutan. Wahyu yang mereka komunikasikan kepada para hamba pilihan Tuhan tidak akan dikomunikasikan kepada yang lainnya, malah mereka tidak mempedulikan yang lain sama sekali. Setiap manusia menerima rahmat sugesti dari para malaikat sepadan  dengan kapasitas diri mereka. Bantuan malaikat diterima dalam segala hal yang menjadi kecenderungan manusia seperti ilmu atau pun seni.
     Sebagai contoh, jika memang merupakan takdir Ilahi bahwa sembelit seseorang harus diatasi dengan pengobatan, maka ada malaikat yang memberikan sugesti kepada dokter untuk memberikan obat apa. Dokter itu meresepkan obatnya dan dengan bantuan malaikat maka diciptakan sistem reaksi dalam tubuh pasien untuk menerima obat tersebut dan benda tak diingini yang ada dalam tubuh bisa dibuang dengan perkenan (izin) Tuhan.
    Berdasarkan keluasan Kebijakan dan Kekuatan-Nya, Allah Yang Maha Kuasa tidak akan membiarkan sistem seni dan pengetahuan eksternal menjadi sia-sia,  dan juga   Dia tidak   melepaskan kendali dan kepemilikan-Nya atas segala hal. Jika Tuhan tidak mempunyai kendali terinci  atas segala kondisi makhluk ciptaan-Nya atas kelanjutan hidup dan kehancuran mereka, maka Dia tidak bisa disebut sebagai Tuhan dan Ketauhidan-Nya juga tidak bisa ditegakkan.
      Hanya saja benar adanya,  bahwa Tuhan tidak menginginkan semua misteri ini menjadi nyata dan kasat mata bagi umat manusia, karena jika semuanya nyata maka tidak ada nilainya lagi bagi keimanan manusia.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 185-188, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 30 Mei    2016